Happy Reading and Enjoy~
Plak...
Bunyi sentuhan kulit dengan kulit itu menggema di langit-langit ruangan, semua yang berada di dalam ruangan itu tertegun. Tidak ada yang berani mengangkat suara, keheningan yang tercipta menambah suasana yang terasa dingin. Semua meringis untuk mengasihani gadis yang terduduk dengan pipi merah yang mungkin sebentar lagi akan membengkak.
Satu persatu yang berada di sana saling bertatapan, tidak ada yang berani menengahi lelaki berbadan besar yang berdiri dengan wajah marah itu, hingga akhirnya seorang wanita tua berjalan menghampiri, memegang pundak lelaki itu lalu dengan ragu-ragu mengelusnya pelan, "Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi, kau juga perlu beristirahat." Tatapan wanita itu beralih pada sang gadis yang bersimpuh di lantai. "Masuk ke kamar, Luna," perintahnya dengan suara lembut.
Gadis itu berdiri, menatap sang lelaki yang tidak lain ayahnya ini dengan pandangan nanar. Wajahnya basah oleh air mata, pipinya yang ditampar juga membengkak. "Apapun yang terjadi aku tetap tidak mau!" teriaknya kuat sebelum berlari pergi sembari memegangi pipinya.
"K-kau! uhuk ... uhuk ..." Yessie kembali menengahi, membimbing lelaki itu memasuki kamarnya untuk beristirahat.
"Luna masih terlalu muda untuk menikah, umurnya bahkan belum genap 20 tahun. Kau harus memikirkannya."
Lelaki itu menatap istrinya sinis, "Jika kita tidak menikahkannya dengan John bisnis yang sudah ku bangun bertahun-tahun akan hancur, hanya John yang bisa mengembalikan semuanya."
"Tapi ..."
"Jangan membelanya lagi! ini jalan yang terbaik." Joan memotong ucapan Yessie lalu merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Yesie hanya menghela napas pelan, bagaimana bisa seorang ayah menjodohkan anaknya dengan mitra bisnisnya yang sudah berumur 60 tahun? Bahkan lebih cocok menjadi ayah bagi anaknya bukan menjadi suami dari anaknya. Menghela napas pelan, Yesie menyelimuti suaminya sebelum beranjak pergi menemui anaknya yang mungkin saat ini menangis di kamarnya.
Bisnis mereka mengalami kerugian besar akibat penipuan yang menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka, barang-berang berharga sudah dijual bahkan mobil-mobil mewah yang mereka miliki juga turut dijual agar bisa menutupi kerugian, tetapi hanya bisa menutupi sebagian kecilnya saja. Perusahaan bangkrut bahkan rumah dan tanah dijual semuanya, Joan jatuh sakit karena depresi.
Beberapa minggu yang lalu John datang, memberi syarat agar mereka mau menikahkan Luna dengannya dan sebagai balasan ia akan membantu kerugian yang mereka alami, membangun kembali perusahaan yang hampir beralih nama itu. Tanpa ragu Joan menyanggupi, pikirannya sudah tertutup dengan mengabaikan usia John yang tahun ini menginjak 60 tahun dengan anaknya menginjak 19 tahun.
Yessie wanita tua itu mengetuk pintu kamar anaknya pelan, mendengar tidak ada sahutan dari dalam ia beucap, "Mommy masuk, ya?"
Ia mendorong pintunya, menatap sendu ke arah Luna yang meringkuk dengan bahu bergetar.
"Mommy tidak setuju dengan pernikahan ini, kan? Mommy aku mohon tolong bujuk Daddy." Luna mengusap air matanya, nadanya merengek dengan memohon agar sang ibu bisa membantunya.
Yessie duduk di ranjang anaknya, mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Luna dengan sayang. "Maaf sayang, mommy tidak bisa banyak membantu. Daddymu terlalu keras, jalan satu-satunya menerimanya. Tidak apa ya, hm?"
"Aku tidak mau! Umurnya 60 tahun, mom! 60 tahun! Aku tidak mau!" Luna meraung, menangis sejadi-jadinya hingga kantung matanya membesar membuat mata indah itu membengkak.
"Kau bisa menolaknya dengan satu cara, yaitu menemui Allard Washington dan memintanya agar menjadi suamimu."
"Allard?" Luna bertanya heran, dahinya mengkerut mencoba mengingat-ingat nama pria yang diucapkan ibunya.
"Allard Washington yang ...." Bibirnya terbuka ketika sudah mengingatnya, menit kemudian wajahnya nampak putus asa.
Allard Washington pria terkaya yang paling banyak diminati para gadis, selain wajahnya yang tampan reputasinya juga buruk. One night stand menjadi kebiasaannya, gosip-gosip model dan juga para bangsawan yang dekat dengannya tidak bisa dihitung dengan jari. Pria itu tidak pernah serius dengan siapapun, menjalin hubungan hanya sebagai partner sex. Bagaimana bisa Luna mengajaknya menikah!?
"Aku tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapapun terlebih dahulu, kebebasan adalah poin utamaku saat ini. Berbeda hal nya dengan wanita yang sesuai dengan keinginanku nantinya, mungkin aku berpikir ulang untuk segera menikah."
Itu perkataan Allard saat diwawancari beberapa bulan yang lalu dalam majalah Story yang rilis dalam setiap bulan. Wanita yang sesuai? Siapakah dirinya jika dibandingkan dengan model-model dan juga artis-arti cantik yang menjalin hubungan dengan Allard? Luna akan menjadi olok-olokkan jika nekat mendekatinya.
Hembusan napas kesal dilontarkannya, menatap ibunya sebelum kembali merengek. Ia benar-benar tidak tau apa yang berada dalam pikiran ayahnya yang tega menikahinya dengan pria tua berumur 60 tahun, ya Tuhan... bahkan dia bisa menjadi ayahnya atau kakeknya. Terlebih lagi jarak umur mereka sangat jauh dan Luna harus mengurusi anak yang umurnya lebih tua darinya.
Ibunya mengangguk. "Ya, Allard Washington pemilik Washington Corp."
"Tapi bagaimana bisa mom? Aku bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa di banggakan." Ia menatap dirinya yang berantakan, dengan rambut kusut dan mata sembab.
Yessie menjulurkan tangannya untuk menyentuh jemari Luna, mencoba menguatkan. "Anak mommy cantik, kau yang tidak menyadarinya. Percaya dirilah, Luna. Minta dia menjadi suamimu dengan suara tegas, berdandanlah secantik mungkin dan se seksi mungkin. Kau harus bisa menjadi wanita yang genit, ketika bertemu dengannya godalah dia."
"Aku tidak mau!" Luna menjerit histeris, bulu kuduknya berdiri ketika membayangkan akan menggoda Allard.
"Apa kau mau menikah dengan John yang berumur 60 tahun itu?"
Dengan putus asa Luna menggeleng, bibirnya mengerucut, air matanya kembali mengalir. "Apa tidak ada jalan lain, Mom? Aku benar-benar tidak ingin menikah. Oh, ya Tuhan bahkan umurku belum genap 20 tahun. Ak-aku baru tamat SMA."
Yessie mengelus rambut putrinya dengan sayang. "Tidak ada yang bisa kita lakukan selain melakukannya, sayang. Daddymu sakit-sakittan karena hal ini dan kaulah jalan satu-satunya untuk mengembalikan apa yang telah hilang."
"Karena hanya aku anak mommy, kan? Mommy berniat ingin menjualku!"
Yessie menghela napas lelah. "Bukan menjual, tetapi lebit tepat jika inilah saatnya kau berbalas budi dengan orang tuamu. Percaya pada mommy bahwa kau bisa melakukannya, Luna. Besok temui Allard dan minta dia menikahimu, jika dia tidak ingin maka minta dia meminjamkan uang kepadamu dalam jumlah yang besar. Lakukan apapun yang bisa menolongmu dari perjodohan ini. Kau bisa kan, sayang?"
Dengan ragu-ragu Luna menganggukkan kepalanya, besok adalah hari yang baru. Hari dimana semuanya akan berubah dalam sekejap mata. Besok seorang Luna Ananta akan menjadi sosok baru yang akan menggoda pria lain.
Bersambung...
Happy Reading and Enjoy~
Sudah lebih dari dua jam Luna hanya berdiam diri di depan meja rias, memperhatikan penampilannya yang jauh dari pribadinya sendiri. Dress merah dengan belahan dada dan punggung yang terbuka, wajahnya bahkan dihias dengan make up tebal. Mencoba menutupi umurnya yang masih 19 tahun, dress itu sendiri di atas lutut dengan bentuk yang melekat pada tubuhnya seolah-olah dress itu lem yang melekat erat. Di ranjangnya tersedia tas selempang yang besar tapi tidak terlalu mencolok.
"Berjalanlah seolah-olah kau berada di karpet merah, goyangkan pinggulmu dan busungkan dadamu. Ingat, kau harus percaya diri saat mengatakan 'dimana ruangan Allard berada? Aku ingin menemuinya, tolong katakan padanya bahwa aku kekasihnya' pada sekretaris Allard nanti. Buat dia mempercayai bahwa kau memang benar-benar kekasih Allard. Nah, setelah masuk ke ruangan Allard kau tunjukkan taringmu, bahkan jika Allard menyuruhmu menari untuk merayunya kau harus melakukannya. Ingat, kau harus melakukannya!"
Pesan mommynya tadi sebelum wanita tua itu pergi mengantarkoan ke dokter seperti biasa.
Sekarang? Apa yang akan dia lakukan? Bagaimana mungkin dirinya bisa bersikap sebagai wanita penggoda seperti itu, oh ya Tuhan bahkan ... bahkan mencium laki-laki saja dia belum pernah. Oh, mungkin pernah sekali, tetapi itu dulu sewaktu dirinya kecil dan seharusnya itu tidak bisa dikatakan sebagai ciuman sebab bibir mereka hanya bersentuhan dengan sentuhan seringan bulu.
"Setelah masuk nanti kau juga harus bersikap layaknya kenalan lama, bersedih ketika dia tidak mengenalimu lalu menyalahkannya. Berjalan ke arahnya dan duduk di pangkuannya, ulurkan telunjukmu ke dagunya dengan sikap mesra lalu ucapkan, aku sedih kau tidak mengenaliku. Dan kau mengucapkannya harus dengan nada yang manja. Buat dia terkesan padamu, Luna. Setelah menyentuh dagunya bersandarlah di dadanya, elus dadanya dengan manja dan katakan kau sangat merindukannya. Untuk hari ini saja buang sikap malu-malu mu itu, buang sikap polosmu. Mommy akan menunggu kehadiranmu dengan membawa berita gembira. Jika kau berhasil ini juga untuk dirimu sendiri, mommy tidak bisa membantu lebih jauh lagi. Ingat itu!"
Luna menghela napas perlahan ketika ucapan mommnya terngiang, kembali ia menatap dirinya di cermin dan seorang wanita yang cantik dan seksi balas menatapnya dari pantulan cermin. Dirinya terlihat berbeda, kembali menghela napas Luna memejamkan matanya. Apapun yang terjadi nanti jangan sampai mereka mengusirmu dengan cara yang tidak hormat. Itu pesan ibunya tadi. Kepercayaan dirimu mengantarkanmu pada kesuksesan.
Luna menatap jam dinding, sudah hampir memasuki waktu makan siang. Kesempatan yang bagus jika ia datang sekarang sebab karyawan lain akan beristirahat. Sebelum itu ia melatih jalannya, menggoyangkan pinggul dengan menggunakan heels tidaklah mudah. Ditambah dengan dressnya yang kekurangan bahan membuatnya tampak tidak percaya diri. Perlan-pelan ia melatih hingga langkahnya semakin mantap. Luna mengangkat dagunya dengan sikap arogan, ah ... ternyata seperti ini wanita-wanita kelas atas itu bersikap.
Meskipun dahulu kehidupannya lumayan tetapi Luna tidak pernah bersikap layaknya anak Ceo. Tidak pernah menggunakan uang yang diberikan Daddy untuk party ataupun berbelanja barang-barang mewah, dan sekarang bolehkah ia merasa menyesal setelah kebangkrutan mencekik keluarganya? tetapi sepertinya tidak perlu menyesali hal yang sudah berlalu.
Luna meraih tas selempangnya, berjalan dengan penuh percaya diri untuk menghentikan taksi. Allard Washington akan menerima kejutan hari ini.
***
Luna berhenti di halaman Washington Corp, menatap gedung pencakar langit itu dengan napas tertahan. Tuhan ... berikanlah ia kekuatan. Dirinya akan menemui pemilik gedung ini, jangan tanyakan apa yang terjadi pada debaran di dadanya yang mendobrak bertalu-talu. Kedua kakinya sudah melemas, tetapi mengingat wajah tua John langkahnya menjadi mantap. Dikenakannya kaca mata berwarna coklat tua miliknya lalu melangkah dengan arogan, tak lupa menaikkan dagunya dengan sikap angkuh.
"Antarkan aku ke ruangan Allard." Berhasil, nada serta sikapnya terlihat angkuh saat berbicara dengan resepsionis wanita yang berada di sana. Luna membuka kaca matanya, mendorong sebagian rambutnya kebelakang.
Resepsionis itu tersenyum ramah. "Bisa saya tahu Anda siapa, Nona?"
Luna melirik arlojinya dengan gaya tidak sabar. "Aku kekasihnya, dia menyuruhku datang. Jangan mempersulit keadaan dan tunjukkan saja diamana ruangannya, jika aku telat karirmu akan berakhir."
Masih dengan senyuman resepsionis itu berkata, "Maaf nona, saya tidak bisa memberitahu Anda ruangan Tuan Allard, karena satu hari ini saja banyak sekali wanita-wanita seperti Anda yang datang dan mengaku sebagai kekasihnya. Jika Anda tidak memberitahu nama Anda maka kami akan menganggap Anda telah berbohong. Dan tentunya kami tidak akan segan-segan menyuruh Anda kembali pulang."
Hah? Kenapa bisa jadi begini. Seharusnya ia tau tidak semudah itu untuk bertemu dengan Allard, tetapi tidak menyangka bahwa akan sesusah ini. Ia pikir dengan berpura-pura menjadi wanita dewasa dan kaya semua akan berjalan lancar. Jika menyebutkan namanya sudah pasti dia akan gagal.
"Luna, aku baru saja pulang dari inggris." Ia menatap resepsionis itu dengan pandangan sinis. "Dan tidak tau apa yang akan dilakukan Allard jika melihat kalian membiarkanku menunggu. Aku baru saja tiba dan bahkan belum makan siang! berani-beraninya kalian membuatku menunggu."
Tidak terpengaruh oleh kata-kata Luna, resepsionis itu mengangkat gagang teleponnya. "Selamat siang dengan Casandra Andira dari meja resepsionis lantai dasar Washington Corporation, saya ingin memberitahu adakah jadwal temu Tuan Allard dengan seorang gadis yang bernama Luna? Gadis ini baru saja tiba di London dan menurut penuturannya Tuan Allard sendiri yang memintanya untuk datang."
Luna merasa seluruh tubuhnya melemah, ujung-ujung kakinya membeku. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Sudah pasti resepsionis itu menelpon sekretaris Allard dan kebohongannya akan terborngkar lalu dia di seret satpam untuk keluar secara tidak hormat. Misinya gagal dan ia akan menikah dengan John berumur 60 tahun. Oh ya Tuhan ... tolonglah kali ini saja.
Wanita itu mendengarkan dengan seksama ucapan yang berada di seberang telepon lalu menoleh ke arah Luna. "Bisa kami tau siapa nama belakang Anda, nona?" tanyanya dengan nada yang masih terdengar ramah, tinggal menunggu waktu kapan nada itu berubah menjadi sinis saat mengetahui Luna berbohong.
Menelan ludah dengan susah payah, Luna menjawab dengan sedikit gemetar. "A-ananta," ujarnya yang dengan susah payah mencoba santai dengan mengucapkan, "Luna Ananta. Namaku Luna Ananta."
Resepsionis itu tersenyum lalu mengangguk ringan, mengucapkan nama Luna ke seseorang yang ditelpon. Tamat lah sudah, wajah resepsionis itu berubah kelam. Sinar lembut dari wajahnya seketika menghilang, meminta maaf dengan sopan karena mengganggu sekretaris Allard, resepsionis yang bernama Casandra itu meletakkan gagang teleponnya. Tersenyum kaku ke arah Luna, berbeda dengan senyuman yang tadi dia tampilkan.
"Maaf nona Luna, Anda tidak bisa menemui Tuan Allard karena nama Anda tidak termasuk dalam list jadwal temu Tuan Allard hari ini. Jika ingin bertemu dengannya buatlah janji terlebih dahulu."
Bersambung...
Happy Reading and Enjoy~
Kini sebaliknya, resepsionis itu yang memandang Luna dengan sinis, "Atau bisa Anda telepon Tuan Allard agar kami percaya bahwa Anda benar-benar kekasihnya."
Luna menatapnya dengan jengkel, ia mengeluarkan ponselnya lalu mengetik nomor Derald sahabatnya sebelum berbicara dengan nada kesal kepada orang diseberang telepon.
"Aku tertahan di meja resepsionis, cepat telpon sekretarismu dan suruh dia kesini untuk menjemputku." Luna menoleh ke arah resepsionis yang memasang wajah datar. "Jangan lupa untuk memotong gajinya karena dia tidak sopan padaku!" sambungnya dingin.
Perkataan Luna memberi sedikit perubahan pada wajah resepsionis bernama Casandra itu, ia mulai berdiri dengan gelisah.
Tanpa mendengarkan jawaban Derald yang sudah pasti akan mengatainya bodoh, Luna mematikan ponselnya. Pandangannya beralih pada resepsionis itu. "Apa kau sudah percaya?"
"Saya akan percaya jika sekretaris Tuan Allard sendiri yang datang menjemput Anda."
"Dan membiarkan gajimu terpotong? atau bahkan pekerjaanmu yang menjadi taruhan?" Luna menyahut sinis.
Kedua kakinya bahkan sudah gemetar sejak tadi, tetapi sebisa mungkin tubuhnya masih berdiri tegak dengan angkuh. Luna melirik arlojinya lalu menghentakkan kakinya dengan kesal. "Lebih baik aku makan siang dari pada menghabiskan waktu disini," ujarnya sinis sembari matanya melirik tajam ke arah resepsionis yang kini mulai terlihat sopan kembali.
Dengan angkuh Luna berjalan menuju halaman Washington Corp hingga langkahnya yang terasa gemetar berhenti pada taman WS Crop, duduk disana dengan lemas. Itu terasa menegangkan, bersyukur ia bisa pergi dengan baik-baik. Oh ya Tuhan ... bagaimana bisa ia menemui Allard?
Ponselnya bergetar dan tidak perlu repot-repot untuk mengetahui siapa yang menelponnya, Luna mengangkat dengan lemah. Jantungnya masih berdetak dan bahkan tenaganya terasa terkuras.
"Kau gila?" sembur si penelepon di sebrang sana ketika Luna mengangkat panggilannya.
"Mungkin," jawabnya lemah.
Derald menghela napas. "Apa yang kau lakukan saat ini?"
Luna menyandarkan tubuhnya pada bangku taman, wajahnya menengadah ke arah langit. "Entahlah, aku juga tidak tau. Yang terpenting aku harus menemui Allard Washington untuk menjadi istrinya atau mungkin simpanannya. Mommy berkata itu jalan satu-satunya agar bisa lolos dari perjodohan konyol ini."
"Kenapa harus Allard? Kau bisa meminta bantuanku, maksudku ... kau bisa menikah denganku untuk menghindari perjodohan ini."
Hening, Luna tertegun, tetapi sesaat kemudian ia tertawa. "Ini bukan perjodohan biasa, Derald. Ini perjodohan bisnis dan aku harus menikah dengan pria tua agar bisa membantu ekonomi keluargaku kembali seperti sedia kala atau setidaknya kembali menjadi yang lebih baik. Aku harus menikah agar memperhalus bahasa bahwa ternyata Daddy menjualku. Memangnya kau bisa membeliku, Derald? Tidak kan? Kita sama-sama lulusan SMA meskipun kau orang kaya, tetapi tetap saja tidak bisa membeliku. Mommymu akan melarangnya."
Luna memejamkan matanya, seandainya bisa kabur dan berlari sudah ia lakukan.
"Aku akan belajar sungguh-sungguh dan mewarisi harta Daddy, Luna. Setelah sukses aku akan menikahimu."
"Itu membutuhkan waktu yang lama, Derald! Tidakkah kau tau bahwa pernikahanku sebentar lagi? Daddy sudah bersikeras dan aku tidak bisa mengelak. Aku akan menjadi istri pria tua berumur 60 tahun. Aku akan menjadi olok-olokkan tetangga, atau bahkan ... bahkan sasaran empuk istri pertamanya dan anak-anaknya."
Hening kembali, tidak ada yang berbicara.
Meskipun sekelilingnya terasa berisik, tetapi Luna tidak bisa mendengar apapun selain helaan napas Derald di ujung telepon dan juga isakannya yang kembali hadir. Takdir sudah ditentukan, sekuat apapun menolak tetap saja tidak ada jalan.
Dengusan kesal terdengar dari arah sebrang, Derald tertawa getir. "Benar-benar tidak ada jalan lain ya? Maaf aku tidak bisa membantu."
"Kehadiranmu di dunia ini sudah membantuku, aku bersyukur mempunyai sahabat sepertimu. Terima kasih, Derald. Jika ... suatu saat nanti kita ditakdirkan bertemu semoga kau masih menganggapku sebagai temanmu, ya." Luna tertunduk, tawa miris terlontar di bibirnya.
"Aku tidak pernah melupakanmu, Luna. Oh sial, tidakkah kau tau bahwa aku ingin menikahimu?"
Luna tertawa. "Aku menghargai niat baikmu."
"Bukan." Derald membantah cepat. "Aku ingin menikahimu bukan karena ingin membantumu, tetapi karena ... karena aku menyukaimu, Luna. Selalu dan sejak dulu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat, aku selalu melihatmu sebagai seorang wanita. Oh sial, aku tidak bisa melihatmu menikah dengan orang lain, Luna!"
Luna merasa jantungnya berdetak dua kali lebih kuat, berdentam hebat sampai ia sendiri bisa mendengar dentamannya diantara banyaknya suara berisik disekitarnya. Ya, dirinya juga memiliki perasaan yang sama terhadap Derald. Perasaan yang dipendam hingga terasa menyakitkan dengan landasan persahabatan konyol yang mereka jalani. Sekarang untuk saling mengungkapkan perasaan satu sama lain juga tidak berguna.
"Derald a-aku ...." ucapannya terhenti ketika melihat resepsionis wanita yang bernama Casandra itu berjalan ke arah taman. Terburu-buru Luna membuka heels nya lalu berlari menjauh, semoga wanita itu tidak melihatnya.
Menoleh kebelakang lalu kembali berlari dengan mengendap-endap. Ia tidak tau ada dimana tetapi sepertinya saat ini ia berada di bagian belakang Washington Corp. Taman itu berhubungan dengan bagian belakang dan juga basement. Mengapa wanita itu ke taman? Seharusnya wanita itu mencari makan siang di luar bukan pergi ke taman.
Dengusan kasar dihembuskannya, menatap kedua kakinya yang terasa panas akibat berlari di atas lantai taman pada siang hari.
"Kau baik-baik saja, Luna?" suara di seberang telepon menyapanya, ia hampir saja melupakan bahwa panggilannya masih terhubung.
"Hampir saja mati," jawabnya asal. "Apa sebaiknya aku mendatangi rumah Allard? Tempat tinggalnya mungkin lebih bebas dari pada di perusahaannya." Dengusan kesal dikeluarkannya.
Kembali dipakainya heels itu, saat ia ingin berjalan kedua matanya terbelalak. Wanita yang bernama Casandra itu juga menuju ke arahnya. Ap-apa dia ketahuan menyamar sehingga wanita itu ingin menangkapnya lalu melaporkannya ke polisi akibat penipuan? Bagaimana ini?
"Nanti ku telpon lagi," ucapnya terburu-buru sebelum mematikan ponselnya.
Luna kembali melepas heelsnya dan berlari semakin masuk kedalam hingga ruangan berubah menjadi gelap seutuhnya, gelap tetapi bukan basement. Ia menoleh dan wanita itu juga berjalan mengikutinya, tidak salah lagi wanita itu memang mengejarnya! Dadanya berdetak bertalu, Luna membuka pintu besi yang berada di sana dan berpuluh-puluh anak tangga terpampang dihadapannya. Ternyata ini tembusan dari tangga darurat.
Tanpa berpikir panjang ia menaiki satu persatu anak tangga itu dan berhenti untuk mengatur napasnya yang terasa habis. Sialnya wanita yang bernama Casandra itu juga mengikutinya masuk ke dalam tangga darurat, tetapi anehnya Casandra hanya berdiri disana tidak turut menaiki anak tangga, wanita itu seperti menunggu seseorang.
Detik kemudian pintu besi itu terbuka dam seorang pria berjas masuk yang langsung memeluk Casandra. Mereka berciuman, cih! Ternyata wanita itu hanya ingin berpacaran bukan mengikuti dirinya. Syukurlah, kakinya saja sudah mati rasa.
Luna memegang perutnya yang berbunyi, oh tidak! Ia lapar. Misi gagal dan sekarang ia juga kelaparan, bagus sekali. Semua keburukan menumpuk menjadi satu pada hari ini.
Bersambung...