Bab 1

Sweet berdiri di samping Oma Ningsih yang terbaring lemah, hati kecilnya bergetar mendengar suara mamanya yang penuh kekhawatiran. "Ma, oma kenapa? Bukannya oma baik-baik saja ya, kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanyanya, menahan air mata yang hampir menetes. Keresahan yang melanda membuat hari itu terasa gelap, seolah semua warna hilang dari dunia mereka.

"Mama juga nggak tau, Sweet. Oma mendadak nggak mau makan, setelah itu pingsan dan-" suara mamanya terputus, menggantung, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

"Kenapa tidak ke rumah sakit aja?" tanya Sweet cepat, memotong kalimat mamanya. Hatinya bergejolak, tidak bisa membayangkan kehilangan sosok yang selama ini menjadi penopang hidupnya.

Namun, hanya mendapatkan gelengan kepala dari mamanya membuat Sweet frustasi. Rasa putus asa menyelimuti hatinya. Apa yang bisa ia lakukan? Dalam keheningan yang menyakitkan, Ethan menghampirinya, menggenggam tangan Oma yang terkulai lemah.

"Kamu sudah siap?" tanyanya datar, tanpa ekspresi, membuat Sweet mengerutkan kening.

"Maksud kamu apa?" tanya Sweet kembali, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ethan menatap kanan dan kiri, memastikan privasi mereka. "Ayo ikut denganku," ajaknya, dan tanpa banyak bertanya, Sweet mengangguk setuju. Kedua remaja itu melangkah keluar ke halaman, menjauh dari kerumunan, menjaga rahasia yang semakin membebani mereka.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Ethan berbicara, "Hari ini kita akan menikah."

Duar! Seperti suara petir di siang bolong, Sweet terperanjat. "Maksud kamu apa, Ethan? Oma sedang sakit, dan kamu mengajak aku kesini hanya untuk bercanda?" Suaranya bergetar, berusaha mengontrol emosi yang mendidih.

"Aku tidak bercanda, Sweet. Ini permintaan Oma. Paling penting, ini adalah wasiat. Aku mau Oma jalan dengan tenang," jawab Ethan tegas, menatap dalam mata Sweet.

"Jadi kamu sudah tahu-"

Ethan mengangguk sambil berkacak pinggang. "Iya, aku sudah tahu. Semua orang juga sudah tahu," jawabnya cepat, membuat Sweet semakin bingung. Dalam hati, ia merutuki janji yang telah diucapkan Oma, untuk tidak membocorkan rahasia yang menyakitkan ini.

Dalam kondisi Oma yang seperti ini, apakah Sweet tega untuk bertanya lebih pada Omanya? Tentu tidak. Rasa frustasi semakin memuncak, dan ia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kalau aku nggak mau nerusin pernikahan ini gimana? Kamu bisakan nikah aja sama Rania," cetus Sweet tanpa terduga.

"Kamu gila ya!" bentak Ethan, wajahnya masam.

"Yes! I'm losing my mind! Aku capek dan kalau bisa, aku udah nggak mau ada hubungan apapun sama kamu!" teriak Sweet, emosi tak tertahankan.

Ethan tersenyum sinis. "Kamu kira aku suka sama kamu? Hmm? Kalau aku bisa memilih, aku mending nikah sama Rania yang jauh lebih baik dari kamu!"

"Iya udah, sana, nikah aja sama Rania."

"Sweet Felicia! Ethan! Oma di dalam itu sedang sakit, kalian malah berantem di sini. Kenapa kalian tidak bisa berpikir lebih dewasa sedikit saja, hah?" suara Mike, papinya Ethan, memecah ketegangan, membuat keduanya terdiam.

"Bukan aku, Pi. Dia yang salah!" tunjuk Ethan pada Sweet, berusaha membela diri.

"Kamu juga sama. Sekarang kalian siap-siap, acara dimulai sebentar lagi. No protes! Titik!" titah Mike, tegas.

Sweet masih ingin melayangkan protes, namun urung melakukannya. Om Mike benar, sekarang mereka harus mentaati wasiat dari almarhum Oppa, melihat kondisi Oma Ningsih yang sepertinya sudah tidak bisa bertahan lebih lama. 

"Om, setelah aku menikah dengan Ethan, apakah kami bisa bercerai?" tiba-tiba Sweet bertanya, suaranya penuh harap dan sedikit bergetar.

Om Mike terdiam sejenak, pandangannya lembut menatap Sweet. "Om mengerti apa yang kamu rasakan, Sweet. Ingat, selama ada Om di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kamu," ujarnya, berusaha menenangkan.

"Tapi om-"

"Sudah, sekarang masuklah. Ganti pakaianmu. Biarkan Oma tenang setelah melihat kalian bersatu," potong Om Mike dengan nada tegas namun penuh kasih.

Saat lafaz ijab selesai, suasana ruangan berubah menjadi sakral. Ethan dan Sweet kini resmi menjadi pasangan suami istri muda, dikelilingi oleh keluarga yang menyaksikan momen bersejarah ini. Namun, di tengah kebahagiaan yang seharusnya dirayakan, ada sesuatu yang mengganjal di hati.

Oma Ningsih, sosok yang penuh kasih, perlahan menutup matanya. Ada kedamaian di wajahnya, seolah seluruh beban sudah terlepas. Wasiat dari Oppa sudah terlaksana, dan kini dia bisa beristirahat. Namun, bukannya tertawa dan bersorak, suara tangisan menggema di ruangan, menandakan kesedihan yang mendalam.

Keluarga berkumpul, saling berpelukan, meratapi kepergian Oma Ningsih yang mendadak. Air mata mengalir, seperti hujan yang tak kunjung reda, menciptakan suasana yang kontras dengan momen bahagia yang seharusnya dirayakan. Sweet berdiri di tengah keramaian itu, hatinya bergetar, merasakan campur aduk antara kehilangan dan harapan yang masih membara.Sweet berdiri di samping Oma Ningsih yang terbaring lemah, hati kecilnya bergetar mendengar suara mamanya yang penuh kekhawatiran. "Ma, oma kenapa? Bukannya oma baik-baik saja ya, kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanyanya, menahan air mata yang hampir menetes. Keresahan yang melanda membuat hari itu terasa gelap, seolah semua warna hilang dari dunia mereka.

"Mama juga nggak tau, Sweet. Oma mendadak nggak mau makan, setelah itu pingsan dan-" suara mamanya terputus, menggantung, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

"Kenapa tidak ke rumah sakit aja?" tanya Sweet cepat, memotong kalimat mamanya. Hatinya bergejolak, tidak bisa membayangkan kehilangan sosok yang selama ini menjadi penopang hidupnya.

Namun, hanya mendapatkan gelengan kepala dari mamanya membuat Sweet frustasi. Rasa putus asa menyelimuti hatinya. Apa yang bisa ia lakukan? Dalam keheningan yang menyakitkan, Ethan menghampirinya, menggenggam tangan Oma yang terkulai lemah.

"Kamu sudah siap?" tanyanya datar, tanpa ekspresi, membuat Sweet mengerutkan kening.

"Maksud kamu apa?" tanya Sweet kembali, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ethan menatap kanan dan kiri, memastikan privasi mereka. "Ayo ikut denganku," ajaknya, dan tanpa banyak bertanya, Sweet mengangguk setuju. Kedua remaja itu melangkah keluar ke halaman, menjauh dari kerumunan, menjaga rahasia yang semakin membebani mereka.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Ethan berbicara, "Hari ini kita akan menikah."

Duar! Seperti suara petir di siang bolong, Sweet terperanjat. "Maksud kamu apa, Ethan? Oma sedang sakit, dan kamu mengajak aku kesini hanya untuk bercanda?" Suaranya bergetar, berusaha mengontrol emosi yang mendidih.

"Aku tidak bercanda, Sweet. Ini permintaan Oma. Paling penting, ini adalah wasiat. Aku mau Oma jalan dengan tenang," jawab Ethan tegas, menatap dalam mata Sweet.

"Jadi kamu sudah tahu-"

Ethan mengangguk sambil berkacak pinggang. "Iya, aku sudah tahu. Semua orang juga sudah tahu," jawabnya cepat, membuat Sweet semakin bingung. Dalam hati, ia merutuki janji yang telah diucapkan Oma, untuk tidak membocorkan rahasia yang menyakitkan ini.

Dalam kondisi Oma yang seperti ini, apakah Sweet tega untuk bertanya lebih pada Omanya? Tentu tidak. Rasa frustasi semakin memuncak, dan ia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kalau aku nggak mau nerusin pernikahan ini gimana? Kamu bisakan nikah aja sama Rania," cetus Sweet tanpa terduga.

"Kamu gila ya!" bentak Ethan, wajahnya masam.

"Yes! I'm losing my mind! Aku capek dan kalau bisa, aku udah nggak mau ada hubungan apapun sama kamu!" teriak Sweet, emosi tak tertahankan.

Ethan tersenyum sinis. "Kamu kira aku suka sama kamu? Hmm? Kalau aku bisa memilih, aku mending nikah sama Rania yang jauh lebih baik dari kamu!"

"Iya udah, sana, nikah aja sama Rania."

"Sweet Felicia! Ethan! Oma di dalam itu sedang sakit, kalian malah berantem di sini. Kenapa kalian tidak bisa berpikir lebih dewasa sedikit saja, hah?" suara Mike, papinya Ethan, memecah ketegangan, membuat keduanya terdiam.

"Bukan aku, Pi. Dia yang salah!" tunjuk Ethan pada Sweet, berusaha membela diri.

"Kamu juga sama. Sekarang kalian siap-siap, acara dimulai sebentar lagi. No protes! Titik!" titah Mike, tegas.

Sweet masih ingin melayangkan protes, namun urung melakukannya. Om Mike benar, sekarang mereka harus mentaati wasiat dari almarhum Oppa, melihat kondisi Oma Ningsih yang sepertinya sudah tidak bisa bertahan lebih lama.

"Om, setelah aku menikah dengan Ethan, apakah kami bisa bercerai?" tiba-tiba Sweet bertanya, suaranya penuh harap dan sedikit bergetar.

Om Mike terdiam sejenak, pandangannya lembut menatap Sweet. "Om mengerti apa yang kamu rasakan, Sweet. Ingat, selama ada Om di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kamu," ujarnya, berusaha menenangkan.

"Tapi om-"

"Sudah, sekarang masuklah. Ganti pakaianmu. Biarkan Oma tenang setelah melihat kalian bersatu," potong Om Mike dengan nada tegas namun penuh kasih.

Saat lafaz ijab selesai, suasana ruangan berubah menjadi sakral. Ethan dan Sweet kini resmi menjadi pasangan suami istri muda, dikelilingi oleh keluarga yang menyaksikan momen bersejarah ini. Namun, di tengah kebahagiaan yang seharusnya dirayakan, ada sesuatu yang mengganjal di hati.

Oma Ningsih, sosok yang penuh kasih, perlahan menutup matanya. Ada kedamaian di wajahnya, seolah seluruh beban sudah terlepas. Wasiat dari Oppa sudah terlaksana, dan kini dia bisa beristirahat. Namun, bukannya tertawa dan bersorak, suara tangisan menggema di ruangan, menandakan kesedihan yang mendalam.

Keluarga berkumpul, saling berpelukan, meratapi kepergian Oma Ningsih yang mendadak. Air mata mengalir, seperti hujan yang tak kunjung reda, menciptakan suasana yang kontras dengan momen bahagia yang seharusnya dirayakan. Sweet berdiri di tengah keramaian itu, hatinya bergetar, merasakan campur aduk antara kehilangan dan harapan yang masih membara.

Bab 2

Setelah 6 purnama.

Pagi yang cerah menyapa New York, dan Sweet bangun dengan semangat baru. Apartemennya terletak di jantung kota, dikelilingi oleh suara bising kota yang tak pernah tidur. Dia merasakan getaran kehidupan metropolitan yang bisa menghanyutkan siapa saja. 

Sebagai seorang pemula dalam dunia modelling, Sweet tahu bahwa hidup di New York bakal penuh tantangan dan peluang. Dia melangkah ke jendela, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang, mobil-mobil yang melaju cepat, dan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. "Apakah mimpiku bisa jadi kenyataan di sini?" gumamnya sambil tersenyum manis, membayangkan semua kemungkinan yang ada di depan matanya.

Setelah menyegarkan diri, Sweet memilih gaun sederhana namun elegan dari koleksinya. Penampilannya adalah hal pertama yang akan menarik perhatian, dan hari ini dia ingin tampil maksimal. Dengan riasan minimalis yang menonjolkan kecantikan alaminya, dia merasa siap menghadapi dunia luar yang menantinya.

Hari itu, dia punya jadwal audisi di sebuah perusahaan yang ternama. Langkahnya mantap saat menyusuri trotoar, merasakan energi kota yang mengalir dalam dirinya. Setiap langkah membawanya lebih dekat pada mimpinya, dan dengan senyum percaya diri, dia berharap bisa mendapatkan tempatnya di dunia glamour ini.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sweet tiba di lokasi audisi. Gedung itu sudah ramai dengan para kontestan yang juga memiliki mimpi yang sama. Saat dia melangkah masuk, suara bisik-bisik dan tawa mengisi udara, menciptakan suasana yang penuh harapan dan ketegangan.

"Audisi kali ini dihadiri tuan muda Johnson, lho. Dia sendiri yang akan memilih model yang akan bekerjasama dengan perusahaan mereka," ucap salah seorang peserta audisi, matanya berbinar-binar penuh antusias.

"Oh ya? Bukankah dia masih kuliah?" tanya yang lain, terlihat penasaran.

"Dia di tahun akhir dan kebetulan magang di perusahaan keluarganya," sahut peserta lain, seakan memberikan informasi berharga.

Sweet mendengarkan percakapan tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. 'Wah, sehebat apa sih tuan muda Johnson itu? Kenapa semua orang terkesan?' batinnya, membayangkan sosok yang membuat semua orang teruja.

Waktu berlalu, dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba saatnya untuk Sweet. Dia bisa merasakan detak jantungnya mulai berdebar saat nomor antriannya dipanggil.

"Nomor 89, Sweet Felicia."

Dia mengangkat tangannya, sedikit gelisah, takut dianggap tidak hadir. Dengan nafas dalam-dalam, dia melangkah maju, siap menghadapi tantangan yang ada di depan.

"Come in."

Sweet melangkah dengan penuh percaya diri, menolak pintu kaca di depannya dengan senyum termanis yang ia miliki. Namun, senyumnya tiba-tiba pudar saat ia bersitatap dengan seorang pria di depannya, yang tampak tidak kalah kaget.

'Kenapa dia ada di sini? Bukankah aku sudah menyembunyikan diri dengan cukup baik selama enam bulan ini?' pikir Sweet, hatinya berdebar.

"Tuan Muda Johnson, apakah sudah boleh dimulai?" tanya salah seorang juri, mengalihkankan perhatian ke arah Ethan.

"Sure!" jawab Ethan, matanya tak bisa lepas dari Sweet, seolah waktu berhenti di antara mereka.

'Astaga! Kenapa aku bisa lupa jika nama panjangnya adalah Ethan Johnson? Apes!' gerutu Sweet dalam hati, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan.

"Oh, ma-maaf, sepertinya aku akan membatalkan penyertaan ini," celetuk Sweet tanpa berpikir panjang, harap-harap cemas.

Kehidupan yang jauh dari konflik adalah hal yang ia inginkan. Di depan mata, peluang sukses terbentang luas, namun Sweet tak ingin mengambilnya. Ia tidak ingin memulai konflik baru.

"Sayangnya, aku tak mengizinkan kamu membatalkan penyertaan ini," ucap Ethan dengan nada tegas, seolah menantang keputusannya.

Sweet memperhatikan Ethan, yang kini terlihat lebih dewasa dan penampilannya pun jauh berbeda dari pria yang pertama kali ia temui di desa Sukawening. Rasa canggung mulai merayap di antara mereka.

"Maaf-"

"Mulai, setelah kamu siap," potong Ethan cepat, seolah tak memberi ruang bagi Sweet untuk mundur.

"Kenapa jadi memaksa?" gerutu Sweet, berusaha mengusir rasa gelisah yang menggerogoti.

Mendadak, ide brilian melintas di benaknya. Di luar, antrean peserta lainnya masih panjang. Mereka pasti lelah menunggu jika ia terus berlama-lama. Dengan tekad, Sweet pun memulai audisi, meski ia tahu tidak akan tampil maksimal. Itu semua direncanakannya.

Apakah Ethan bodoh tidak menyadari itu semua? Tentu tidak. Sebelum Sweet masuk ke dalam ruangan audisi, salah seorang juri sempat mengatakan pada Ethan bahwa ada peserta dengan bakat luar biasa, dan peserta itu adalah Sweet Felicia-istrinya.

Setelah audisi berakhir, Sweet melangkah keluar dari ruangan dengan napas lega. Ia yakin audisi kali ini gagal, dan ia bisa mengincar audisi lain di kemudian hari.

"Sweet..." panggil suara yang ia kenal.

Sweet menoleh, dan terkejut melihat pria paruh baya yang mendekat. "Om Mike!" serunya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

'Loh! Setelah Ethan, sekarang Om Mike. Setelah ini siapa lagi? Apakah Amerika ini terlalu kecil?' pikir Sweet dalam hati, bingung.

"Kamu apa kabar?" tanya Mike, yang tak lain adalah papi mertuanya.

Sweet melangkah ragu, mencium punggung tangan pria paruh baya itu sembari menjawab, "Aku baik-baik saja, Om."

"Kamu ikut audisi di sini?"

"Iya, benar Om."

"Panggil papi saja, Sweet. Kamu tetap istrinya Ethan, menantu papi," kata Mike dengan nada hangat, tapi Sweet merasa canggung. Ia hanya mengangguk kecil, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

"Lupakan tentang audisi ini. Yuk, ikut papi pulang ke rumah," ajak Mike, tersenyum lebar.

Pulang? Ke sana? Sweet merasa jantungnya berdebar. Di rumah, ada tante Lisa yang jelas tidak bisa menerima keberadaannya, ada juga Rania-sepupu yang manipulatif, dan tentu saja, ada Ethan!

"Sweet!" panggil Mike, menyentuh lembut bahu menantunya.

"Oh, sepertinya hari ini tidak bisa, karena aku harus..." Sweet terdiam, berusaha mencari alasan yang tepat. 'Come on, mikir Sweet, cari alasan cepat!' batinnya mendesak.

"Papi tahu kamu cuma beralasan. Ayo lah. Sudah enam bulan kamu di luar sana. Waktunya pulang ke rumah. Ini juga pesan dari tante mu," ucap Mike.

"Tante Lisa?" tanya Sweet, tidak percaya, dan Mike hanya mengangguk.

Jantungnya berdegup kencang. Ia bukan takut, tetapi malas bertemu dengan Rania.

"Stop berpikir panjang, ayo ikut papi," kata om Mike, menatapnya dengan penuh harap.

Merasa tidak enak jika terus menolak ajakan mertuanya, Sweet akhirnya mengangguk. Ia berjanji dalam hati, ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia akan melangkahkan kaki ke sana. Tidak ada kesempatan kedua, apalagi tinggal di tempat itu. Amit-amit.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, berjuang melawan arus kendaraan yang seolah tak ada habisnya, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar. Halaman rumah itu tampak asri, dikelilingi berbagai tanaman hijau yang tumbuh subur, seolah mengundang siapapun untuk masuk.

"Selamat datang! Ini rumah kita," ucap Mike dengan senyum lebar, seakan rumah tersebut adalah hadiah terindah yang pernah ada.

'Rumah kalian, bukan kita,' bisik Sweet dalam hati, menahan kalimat yang hampir terucap.

Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu, dan seketika, Sweet merasa seolah kakinya terpasung di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan suasana terasa sangat canggung.

"Sweet... kamu kenapa masih berdiri di sana?" tanya Tante Lisa dengan nada lembut, seolah menyadari kegugupan yang menyelimuti Sweet.

"Tan... ma-maaf ini bukannya..." suara Sweet tercekat, kata-katanya terputus di tengah jalan. 

Astaga, kenapa ia harus tergagap-gagap seperti ini? Di mana Sweet Felicia yang dulu berani bicara tegas, yang tak ragu mengekspresikan pendapatnya? Keresahan itu menyelubungi dirinya, membuatnya merasa kecil dan terasing di tempat yang seharusnya hangat dan ramah.

Bab 3

Mike memberi kesempatan pada istrinya, Lisa, untuk menghabiskan waktu berdua dengan menantu mereka, Sweet, di dapur. Setelah berpamitan, Mike melangkah cepat menuju ruang kerja pribadinya. Ia meninggalkan keduanya dalam suasana yang lebih akrab.

"Kamu gimana kabarnya? Apakah baik-baik saja?" tanya Lisa sambil menatap Sweet dengan penuh perhatian.

"Aku baik-baik saja, kok, Tan," jawab Sweet jujur, meskipun ada sedikit rasa gugup di dalam hatinya. Ia melirik ke sekeliling, berharap tidak ada yang mengganggu mereka. 'Mungkin Rania masih di kampus,' pikirnya.

Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar suara kulkas yang terbuka. Tante Lisa mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan.

"Kamu suka pasta?" tanya Lisa sambil memeriksa bahan di tangannya.

Sweet tersenyum dan membalas tatapan Lisa. "Nggak terlalu suka, sih, tapi aku makan pastanya."

"Oh, ya? Jadi, kamu biasanya masak apa untuk makan malam?" tanya Lisa dengan antusias.

"Aku masak nasi, Tan," jawab Sweet cepat. Ia merasa aneh, tapi juga senang bisa berbincang lebih dekat dengan Tante Lisa. Biasanya, kehadiran Rania dan Tante Silvi selalu membuatnya merasa terpinggirkan.

"Sama, dong, kita! Berarti Tante harus masak lebih banyak untuk malam ini," ujar Tante Lisa dengan senyum lebar.

Sweet menggoyangkan kedua telapak tangannya. "Gak usah, Tan. Aku cuma mampir sebentar, kok, nggak lama."

"Lo, kok, gitu? Bukannya kamu mau pindah ke sini?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah bingung.

"Oh, eng-enggak ... aku ...." Sweet terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

"Apanya yang enggak? Semua pakaian kamu di apartemen sudah aku pindahkan. Sebentar lagi ada truk yang mengantarkan semuanya ke sini!" Suara Ethan tiba-tiba muncul, membuat Sweet terkejut. Ia ingat suara itu karena tadi mereka sempat bertemu di tempat audisi.

Sweet segera menggeser kursinya dan menoleh ke arah Ethan, suaminya. Wajahnya menunjukkan keheranan. "Kamu tidak bercanda, kan?" tanya Sweet dengan mata yang melebar.

"Aku tidak bercanda," jawab Ethan tegas. Ia melepaskan jas hitamnya dan menggulung kemeja putihnya hingga ke sikut.

Tanpa berpikir panjang, Sweet meraih tas tangannya dan berlari keluar. Ia tampak panik. Ethan segera mengejar dan menghalangi langkahnya.

"Hey! Mau ke mana kamu?" tanya Ethan, berhasil menangkap pergelangan tangan Sweet.

"Aku mau pulang!" Sweet protes. Suaranya agak meninggi.

"Mau pulang ke mana? Rumah kamu di sini!" bentak Ethan. Genggamannya kuat, menambah ketegangan di antara mereka.

Sweet menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia mengembuskan napas pelan, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dalam hatinya, ia berjuang antara ingin pergi dan merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.

Beberapa menit kemudian, truk yang dimaksud oleh Ethan tiba di depan rumah. Pria itu tampak bersemangat, mengarahkan orang-orang untuk mengangkat dan memindahkan barang-barang Sweet ke dalam kamar mereka.

Sweet berdiri di tempat. Wajahnya mencerminkan kekecewaan. "Kenapa, sih? Kenapa kamu nggak diskusi dulu sama aku?" tanyanya. Suaranya mulai meninggi, menandakan ketidakpuasan hatinya.

Ethan menatapnya dengan tatapan tegas sambil berkacak pinggang. "Kalau aku diskusikan dulu sama kamu, apa kamu mau pindah tanpa aku paksa?" balasnya. Nadanya penuh dengan penekanan.

Sweet menggeleng sambil tertawa sinis. "Kamu lupa, Ethan? Dulu kamu pernah bilang kalau rumah ini nggak punya tempat buat orang kayak aku," ucapnya. Ia mengembalikan kata-kata yang pernah dulu Ethan ucapkan. 

Wajah Ethan seketika memerah. Tentu saja kata-kata Sweet mengenai sasaran. "Kenapa sekarang kamu maksa-maksa begini?" tambah Sweet lagi. Matanya menembus tajam ke arah Ethan.

"Jangan lupa, kamu itu istriku, Sweet Felicia!" sahut Ethan dengan suara sedikit meninggi. Ia tak ingin kalah.

Sweet tersenyum sinis, padahal hatinya sedang bergetar. "Tenang saja, aku pasti akan urus perceraian kita secepatnya," desisnya. Tatapan matanya penuh keberanian, meski ada kesedihan di baliknya. 

Tak menggubris ucapan Sweet barusan, Ethan berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Sweet yang masih berdiri terpaku. Bingung dan frustasi terlihat jelas di wajahnya.

"Aku sudah berusaha menghindar dari mereka, sudah bikin rencana untuk bercerai dari Ethan, tapi kenapa semuanya jadi kayak gini, sih?" gerutu nya pelan. Kepalanya tertunduk seolah langit cerah di atasnya terlalu berat untuk ditanggung.

Tak lama kemudian, sebuah mobil sport meluncur masuk ke pekarangan. Rania muncul dari jok pengemudi. Tatapannya langsung tertuju pada Sweet seolah baru saja melihat hantu. "Menambah daftar pening!" gumam Sweet. Ia menengadahkan wajah ke langit biru dengan kedua mata terpejam, mencoba menenangkan diri.

"Oh, kita ketemu lagi!" sapa Rania. Dagunya terangkat tinggi dan satu tangan sedang memasukkan kunci mobil ke dalam tas tangan. Tangan lainnya bersedekap dengan angkuh. 

Sweet memperhatikan Rania dari atas ke bawah. Perubahannya jelas, Rania kini lebih bergaya metropolitan seolah enam bulan terakhir mengubahnya menjadi sosok yang jauh dari kesan lugu.

"Long time no see! Semoga kamu gak capek lihat wajah aku yang mulai detik ini akan tinggal satu atap sama kalian," ucap Sweet. Nada suaranya mencerminkan keputusasaan.

"What?! Jadi, kamu pindah ke sini? Kenapa?" tanya Rania. Nada suaranya menunjukkan ketidakpuasan.

"Yeah! Semua barang-barangku sudah di dalam. Kalau kamu mau tahu alasannya, tanyakan saja sama Om Mike dan Ethan," jelas Sweet panjang kali lebar sambil menunjukkan ke dalam rumah. Harapannya, Rania bisa merayu orang-orang di sekitarnya agar mengusirnya dari rumah itu.

Rania tersenyum sinis. Sebuah senyum yang penuh dengan sindiran. "Kayak kamu dipaksa aja buat pindah ke sini," ujarnya. Nada suaranya pelan, tetap tajam.

"Emang gitu kenyataannya," jawab Sweet cepat. Ia tidak terpengaruh oleh kata-kata tajam Rania yang berusaha memprovokasinya.

"Kenapa Ethan harus paksa kamu pindah? Bukannya kalian mau bercerai?" Rania menantang. Matanya menyorot tajam.

Sweet menggeleng pelan. "Tanyakan sendiri sama dia, jangan tanya sama aku karena aku juga gak punya jawaban," balasnya. Ia menahan napas sejenak, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.

"Fine! Jangan senang dulu. Dulu kamu bisa nge-bully aku, tapi tidak sekarang. Jangan mimpi!" tegas Rania dengan suara yang penuh tantangan. Sweet hanya bisa menggelengkan kepala, merasakan kemarahan mulai membara dalam dirinya.

"Dasar, Manusia Aneh! Kamu merasa di-bully terus, padahal kapan aku bully kamu? Hello, jangan sembarangan bicara, deh. Aku bisa tambah kesal, lo!" Emosi Sweet sudah mulai bergetar. Tanduknya seolah siap keluar.

"Rania ... Sweet! Kenapa mengobrol di luar? Ayo, masuk, Sayang!" Suara Tante Lisa tiba-tiba menginterupsi, menghangatkan suasana yang mulai memanas.

Tanpa menunggu Sweet, Rania melesat masuk ke dalam rumah. Ia langsung melingkarkan tangannya di tubuh Tante Lisa. Ia mencium pipi kiri dan kanan Tante Lisa dengan penuh kasih sayang. Rania jelas-jelas sedang memancing emosi Sweet, seolah menunjukkan bahwa wanita paruh baya itu adalah pelindung terkuatnya di rumah ini.

"Ran, kamu baik-baik saja, kan? Kenapa kamu begini?" tanya Tante Lisa. Wajahnya cemas memperhatikan Rania. Merasa ada yang aneh dari sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu saat ini.

Sweet menahan tawa saat mendengar pertanyaan mertua, alias tantenya itu. "Wah, ini, sih, bukti kalau Rania berlebihan," batin Sweet. Mau ngakak tapi terkesan tidak sopan di depan wanita paruh baya itu.

"Aku cuma kangen sama Tante," jawab Rania dengan nada manja, menampakkan wajahnya yang penuh kepolosan.

'Ck! Semakin ke sini, dia makin mirip ibunya,' Lagi dan lagi, Sweet bicara dalam diam sambil tetap berdiri di belakang, 'Ya ampun, pantas saja! Kan, anaknya,' tambahnya dalam hati.

Tante Lisa melepaskan pelukan Rania dan menarik tangan Sweet sambil berkata, "Ayo, masuk!"

Sweet hanya mengangguk, sementara Rania dengan diam-diam melemparkan tatapan sinis ke arah Sweet. 'Awas saja kamu, Sweet. Nanti aku akan bikin kamu tidak betah berlama-lama di sini,' batin Rania sambil menyunggingkan senyum iblis di bibirnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED