Ruangan itu dipenuhi ketegangan. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya lembut, tetapi suasana tetap terasa berat. Rafael Valdevar duduk di ujung meja panjang, kedua tangannya bertaut di atas meja kayu mahoni. Tatapannya tajam, penuh ketidaksabaran, saat ia menatap pengacara keluarga yang sedang membacakan wasiat sang kakek.
"Sebagaimana tertulis dalam wasiat terakhir Magnus Valdevar," suara pengacara itu terdengar tegas, "seluruh aset keluarga Valdevar, termasuk saham mayoritas dalam Valdevar Group, akan diwariskan kepada ketiga cucunya, dengan syarat utama: mereka harus menikah sesuai urutan kelahiran. Jika syarat ini tidak dipenuhi dalam waktu satu tahun setelah wasiat dibacakan, maka kepemilikan saham akan dialihkan kepada pihak luar."
Sunyi. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Lalu, suara tawa sumbang terdengar dari Caspian Valdevar, anak tengah keluarga. "Jadi, Rafael harus menikah dulu sebelum aku dan Lucian bisa melakukannya?" Ia bersandar ke kursinya dengan ekspresi sinis. "Sungguh, aturan yang konyol."
Lucian Valdevar, si bungsu, menyeringai. "Masalahnya, kalau Rafael tetap keras kepala seperti biasanya, kita berdua harus menunggunya entah sampai kapan."
Tatapan semua orang beralih pada Rafael, tetapi pria itu tetap diam. Wajahnya tetap dingin, tak menunjukkan reaksi apa pun.
"Kalian tahu aku tidak percaya pada pernikahan," kata Rafael akhirnya, suaranya rendah tapi penuh ketegasan. "Aku tidak akan menikah hanya karena wasiat bodoh ini."
Caspian menghela napas. "Bagus. Jadi, kau berniat menyerahkan perusahaan keluarga kita kepada orang asing?"
Rafael menatapnya tajam, tetapi Caspian tidak menghindari pandangan itu. Keduanya memang sering berdebat, tetapi kali ini taruhannya lebih besar dari sebelumnya.
Lucian bersandar ke kursinya dengan santai, tetapi ada kilatan bahaya di matanya. "Mungkin ini saatnya kita turun tangan."
Caspian mengangguk. "Setuju. Kita carikan wanita yang bisa menaklukkan si pria es ini."
Rafael mendengus. "Jangan konyol."
"Terlalu terlambat untuk itu," kata Lucian. "Kami akan menemukan seseorang untukmu, Rafael. Entah kau menyukainya atau tidak."
-
Di sisi lain kota, Elara Vienne tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah.
Ia sedang berdiri di belakang bar kecil yang ia kelola bersama sahabatnya, melayani pelanggan dengan senyuman cerah. Dengan gaun sederhana dan rambut panjang terikat asal-asalan, ia tidak terlihat seperti wanita yang akan masuk ke dalam permainan keluarga kaya raya.
Namun, takdir sudah berjalan.
Caspian dan Lucian sudah menemukan target mereka.
Dan Rafael Valdevar?
Ia tidak tahu bahwa kehidupannya yang sempurna dan terkontrol sebentar lagi akan berubah menjadi kekacauan.
Keesokan harinya, Rafael duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh rak-rak buku dan layar monitor yang menyala. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela besar hanya memberi sedikit kesegaran di tengah ketegangan yang meliputi dirinya. Di meja, tersusun dokumen-dokumen yang berhubungan dengan bisnis, namun matanya tidak fokus pada apa yang tertera. Pikiran Rafael terperangkap pada satu hal-wasiat sang kakek.
Caspian masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. Ia duduk di kursi sebelah Rafael, menyeret kursinya dengan suara kasar. "Kau tahu, aku rasa kau terlalu serius menghadapi masalah ini." Caspian melirik layar di meja Rafael, menyandarkan kaki di meja dengan santai. "Kau harus nikah. Dan kami akan menemukannya untukmu."
Rafael mendengus, melemparkan pena ke atas meja dengan kasar. "Aku tidak butuh pernikahan. Kau tahu betul itu."
Lucian muncul di pintu, wajahnya memancarkan rasa ingin tahu. "Bagaimana hasilnya?" ia bertanya, sementara matanya tertuju pada adiknya, menunggu respons.
"Aku sudah bicara," jawab Caspian, "Dia tetap kekeh tidak ingin menikah."
Lucian menyeringai, mendekati meja dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Caspian. "Tak masalah. Kami akan membuatmu menikah, kak. Kau tidak punya pilihan lain."
Rafael menggertakkan gigi, marah. "Dan jika aku menolaknya? Apa yang akan terjadi pada kalian berdua? Kalian juga akan kehilangan semuanya."
Lucian melambaikan tangan dengan santai. "Kami tidak takut kehilangan. Lagipula, kau tahu kami hanya mengikuti rencana keluarga ini. Satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu adalah pernikahan itu."
Caspian menyeringai, menghadap Rafael dengan ekspresi serius. "Kami sudah memilihkan seseorang untukmu. Dan dia sangat... berbeda."
Rafael memutar kursinya, memandang kedua adiknya dengan kecurigaan. "Siapa?"
"Elara Vienne," jawab Caspian.
Nama itu terdengar asing di telinga Rafael. Elara siapa? Namun, satu hal yang ia ketahui dengan pasti-pernikahan bukanlah sesuatu yang ia inginkan.
-
Sementara itu, di sebuah kafe kecil yang terletak tak jauh dari pusat kota, Elara sedang berbicara dengan sahabatnya, Adira, tentang rencana yang baru saja didengar dari Caspian dan Lucian.
"Apa maksudnya, kamu harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak kamu kenal?" tanya Adira, masih tidak percaya dengan permintaan dari dua pria itu.
Elara tertawa kecil, menanggapi dengan santai. "Kehidupan memang penuh kejutan, kan? Aku memang tidak tahu banyak tentang pria itu, tapi mereka bilang aku bisa mengubah hidupnya."
"Rafael Valdevar, kan? Pemilik Valdevar Group yang terkenal itu?"
"Ya," jawab Elara, mengangkat gelas kopi, "Dan dia sangat tidak tertarik pada pernikahan. Tapi aku rasa aku bisa membuatnya berubah pikiran."
Adira memandangnya dengan kekhawatiran. "Tapi, kamu serius? Ini bukan hal main-main. Kau tahu keluarga itu punya banyak rahasia."
"Yah, semuanya sudah terjadi. Tak ada lagi jalan mundur." Elara menatap keluar jendela, memikirkan langkah besar yang akan diambilnya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku rasa ini akan menjadi petualangan yang menarik."
-
Beberapa hari kemudian, pertemuan pertama antara Rafael dan Elara berlangsung. Rafael menunggu di ruang tamu keluarga Valdevar, suaranya tajam dan penuh ketegangan. Ia tidak tahu apa yang diharapkan dari pertemuan ini, tetapi satu hal yang jelas-ia tidak ingin menikah.
Elara datang dengan langkah ringan, mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua yang menonjolkan kecantikannya yang alami. Rambut panjangnya tergerai bebas, menciptakan kesan yang tidak berlebihan, namun memikat.
Dia tersenyum begitu memasuki ruangan, dan Rafael, yang sudah duduk dengan sikap acuh tak acuh, menatapnya dengan tatapan dingin. "Jadi, kamu orang yang dimaksud?"
Elara mengangguk, tanpa terintimidasi oleh sikap Rafael. "Tepat. Nama saya Elara Vienne. Saya rasa kita harus mulai dari sini-apa yang membuatmu tidak tertarik pada pernikahan?"
Rafael mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Itu bukan urusanmu."
"Tapi itu urusan kita sekarang, bukan?" Elara menatapnya dengan percaya diri, tidak gentar oleh ketidakpedulian Rafael. "Kita harus bekerja sama untuk menjalani ini. Jadi, bisakah kita mulai dengan jujur?"
Rafael tidak mengatakan apa-apa, hanya terdiam, merasakan ketegangan yang menyelimuti udara antara mereka. Tetapi di dalam hatinya, ada perasaan yang mulai muncul-sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, sebuah keraguan akan keputusan yang ia buat.
Elara menatapnya dengan penuh teka-teki, seperti mengetahui sesuatu yang belum bisa dimengerti oleh Rafael.
"Jangan khawatir," katanya sambil tersenyum, "Aku tahu bagaimana membuatmu berubah pikiran."
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Rafael merasakan sebuah rasa penasaran yang tak bisa ia hindari.
Setelah pertemuan pertama yang canggung itu, Rafael tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang Elara. Meskipun ia bersikeras bahwa pernikahan itu hanyalah formalitas dan bukan bagian dari keinginannya, ada sesuatu dalam diri Elara yang membuatnya terpengaruh. Tidak, bukan karena pesonanya atau penampilannya yang memikat-tetapi karena cara dia berani menghadapinya tanpa rasa takut.
Hari itu, Rafael memutuskan untuk mengajak Elara makan siang di sebuah restoran mewah. Ia tahu ini bukan pertemuan yang biasa, namun entah kenapa ia merasa perlu menjaga jarak emosionalnya.
Di sebuah meja makan di sudut yang tenang, Elara duduk dengan santai, mengenakan gaun krem yang sederhana, dan matanya memancarkan antusiasme yang tampak kontras dengan sikap dingin Rafael. Seperti biasa, ia tidak bisa menunjukkan perasaan apa pun, namun ia bisa merasakan bahwa Elara berusaha menembus lapisan dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya.
"Mengapa kamu begitu yakin bisa membuatku menikah?" tanya Rafael dengan nada sinis. Ia mengaduk minumannya, mencoba untuk menahan rasa frustrasi yang tiba-tiba muncul.
Elara tersenyum dengan penuh percaya diri. "Karena, meskipun kamu tidak menginginkannya, kamu tetap harus memenuhi wasiat itu. Jadi kenapa tidak menjadikan pernikahan ini sesuatu yang lebih... menyenangkan?"
Rafael menyeringai, mengangkat alis. "Menyenangkan? Sepertinya kamu punya cara berpikir yang sangat berbeda dari kebanyakan orang."
"Setiap orang punya cara mereka sendiri untuk melihat dunia, bukan?" Elara membalas dengan senyum lebar. "Aku percaya kita bisa menemukan kesepakatan, Rafael. Lagipula, aku tidak akan menikah denganmu jika aku tidak merasa nyaman."
Rafael mengamati Elara dengan seksama, merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang ia ucapkan. Mungkin Elara bukan sekadar wanita yang dipilih untuk menenangkan hati dinginnya, tetapi seseorang yang bisa membuatnya mempertanyakan banyak hal.
Sementara itu, di sisi lain kota, Caspian dan Lucian sedang merencanakan langkah selanjutnya. Mereka merasa bahwa pernikahan antara Rafael dan Elara tidak bisa hanya menjadi soal formalitas. Mereka harus memastikan pernikahan itu menjadi nyata, dengan segala macam cara.
"Rafael tidak akan mudah luluh," kata Caspian, memijat pelipisnya. "Aku tahu dia. Dia lebih keras kepala daripada yang kita duga."
Lucian mengangguk, senyuman tipis terlukis di wajahnya. "Tapi itulah yang membuat semuanya menarik, bukan? Kita lihat saja seberapa jauh Elara bisa bertahan."
"Kita tidak bisa membiarkan ini gagal," Caspian berkata dengan serius. "Jika pernikahan ini gagal, kita semua akan kehilangan segalanya."
"Tenang saja," jawab Lucian dengan ketenangan yang khas. "Semua ini akan berjalan sesuai rencana. Kita hanya perlu sedikit dorongan."
-
Beberapa minggu berlalu, dan pertemuan demi pertemuan antara Rafael dan Elara berlangsung dengan cukup lancar. Meskipun Rafael tidak mengakui perasaan apa pun terhadap Elara, ada suatu ketegangan yang tak bisa diabaikan di antara mereka. Mereka berbicara tentang banyak hal-tentang bisnis, tentang kehidupan, tentang mimpi-mimpi mereka-tetapi selalu ada ruang kosong di antara kata-kata mereka, seolah ada hal yang belum terucap.
Pada suatu malam, Elara memutuskan untuk mengunjungi Rafael di kantor. Ia tahu pria itu akan sibuk, tetapi ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk mendorong pernikahan ini lebih jauh. Saat ia masuk ke ruang kerjanya, Rafael tampak tidak terkejut. Hanya sekilas menoleh sebelum kembali sibuk dengan dokumennya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rafael, suaranya datar.
Elara menyandarkan dirinya pada pintu, senyumnya kembali merekah. "Aku pikir kita perlu berbicara lebih banyak tentang pernikahan kita."
Rafael mengangkat alis, masih tidak mengerti. "Kamu tidak lelah berbicara tentang itu?"
"Tidak," jawab Elara dengan tegas, mendekat dan duduk di kursi yang ada di depan meja Rafael. "Ini bukan hanya tentang wasiat kakekmu, Rafael. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan."
Rafael menatap Elara dengan tatapan tajam, berusaha mencari tahu maksudnya. "Kamu tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak mau terjebak dalam permainan ini."
"Tapi kita sudah terjebak, kan?" Elara membalas, tanpa rasa takut. "Aku tahu kamu tidak ingin menikah. Tapi aku juga tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari itu."
Rafael terdiam. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dirinya bisa mengendalikan semua hal, namun Elara sepertinya mampu menembus pertahanan yang ia bangun.
"Jangan berpikir bahwa aku akan mudah luluh, Elara," kata Rafael akhirnya, dengan nada yang lebih rendah. "Aku bukan pria yang mudah jatuh cinta."
"Siapa yang bilang kita harus jatuh cinta?" Elara menjawab dengan tenang. "Kadang, kita hanya perlu belajar untuk membuka hati."
Rafael merasa kalimat itu menggetarkan jiwanya. Sesuatu di dalam dirinya bergolak, dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari aku, Elara?" tanya Rafael, suara terkejut meluncur keluar tanpa sengaja.
"Kejujuran," jawab Elara dengan sederhana. "Dan kesediaan untuk memberi kesempatan pada perasaan yang mungkin belum kamu sadari."
Rafael hanya bisa diam, terdiam oleh kata-kata Elara yang penuh makna. Mungkin, hanya mungkin, ada lebih banyak yang bisa ia pelajari dari pernikahan ini daripada yang ia kira.