"Kamu kapan nikahi aku, Mas?"
Amer menatap ragu ke arah Kemuning.
"Aku diomongin terus sama anak-anak di sini loh, katanya kamu gak bakal nikahi aku."
Menarik napas panjang Amer tidak tahu harus menjawab apa.
"Itu semua gak bener kan?!"
Kemuning namanya, seorang gadis berparas ayu dan menawan dengan kedua bola mata sayunya setiap kali menatap, ia hanya gadis Pesisir Pantai yang ditemui oleh Amer dua tahun lalu saat Kapal bersandar.
Bukanlah waktu yang sebentar Kemuning menunggu kedatangan Amer lagi, mengharapkan pertemuan mereka yang tidak pasti, hingga pada akhirnya hari ini pun tiba membawa harapan itu kembali hadir.
"Gak bener dong, aku udah janji bakal nikahi kamu." Pria dewasa itu mengusap lembut kepala Kemuning, lalu mengecup keningnya dengan penuh perasaan.
"Tapi kapan, Mas?" Kemuning mendesak.
"Kalau udah waktunya," jawab Amer tidak pasti.
Wajah Kemuning yang awalnya bersemangat seketika meredup, gadis cantik itu pun menarik diri dari pelukan Amer, kali ini ia benar-benar sangat kecewa. Dua tahun Kemuning menunggu Amer, tetapi sakitnya harapan itu tidak kunjung menjadi kenyataan.
Entah kenapa Amer lagi-lagi mengulur waktu, padahal sejak pertemuan pertama mereka ia sudah berjanji akan menikahi Kemuning, lalu membawanya ke Kota.
"Kamu udah punya pacar ya?" Gadis itu merajuk.
"Punya, pacar aku kan kamu," balas Amer.
Ketika Amer berusaha meraih tangannya Kemuning, dengan cepat gadis itu menghindar, hatinya telanjur sakit dan kecewa, bahkan ia pikir hubungan ini tidak akan berlangsung lama.
"Kalau kamu begini terus, mending kita putus aja," tukas Kemuning sambil memunggungi Amer, ia tahu janji yang diberikan padanya hanyalah omong kosong. "Aku juga pengen nikah, Mas, kalau kamu gak ada kepastian lebih baik aku nikah sama orang sini aja."
Amer sontak menggeleng, ia jelas panik saat melihat Kemuning tegas begini. "Jadi, kamu gak percaya?"
"Aku butuh kepastian juga, Mas, kita udah empat kali ketemu, bahkan janji itu udah kamu berikan dua tahun yang lalu. Tapi apa, sampai sekarang kamu masih gak ngasi kepastian apa-apa kan?!"
"Tapi aku selalu datang untuk kamu," katanya.
Kemuning mendengus dan melipat kedua tangannya di dada, hampir dua tahun ia mengalah, membiarkan semua orang menghinanya dengan berbagai kalimat menyakitkan, bahkan sampai disangka tidak waras karena memilih tinggal di dekat Pantai.
Angin badai, hujan petir, panas kerontang, semuanya Kemuning hadapi selama menunggu kedatangan Amer dengan Kapal Pesiar kebanggaan, dan semua itu ia lakukan demi cinta.
"Aku gak mau berhubungan sama kamu lagi!"
"Kemuning ... Tapi aku cinta kamu," lirih Amer.
"Yang bilang cinta sama aku tuh banyak, Mas, jadi bukan cuma kamu aja!"
"Tapi cintaku beneran tulus, Kemuning, kalau aku gak cinta aku gak bakalan balik ke sini cuma buat nemuin kamu lagi!" Amer masih berusaha meyakinkan gadis cantik di depannya, meskipun Kemuning sudah malas.
Kalau bicara soal kecantikan dan daya tarik Kemuning memang juaranya, tidak ada seorang pria pun yang tidak jatuh hati kepadanya, bahkan Amer sendiri bisa jatuh hati berulang kali di setiap kali mereka bertemu.
"Kemuning ..." Amer maju beberapa langkah ke depan, sehingga berhadapan langsung dengan Kemuning yang masih merajuk. "Aku janji akan nikahi kamu secepatnya, kita akan segera menikah!"
"Kapan kamu datengin orangtuaku?" tanya Kemuning.
"Ya, aku akan menemui mereka sekarang juga!"
Kedua bola mata Kemuning yang sayu seketika berseri-seri, ia menatap wajah tampan Amer yang saat ini menatap ke arahnya juga, lalu gadis itu pun tersenyum lebar.
"Beneran?"
Amer menganggukkan kepalanya, lalu menarik tubuh ramping Kemuning ke dalam pelukannya yang hangat.
***
Kemuning terbangun dari tidurnya yang tidak nyaman, menyibakkan selimut, dengan perasaan hampa gadis malang itu pun bangkit, bahkan masih mendambakan seseorang yang telah berjanji akan datang.
Tetapi hingga detik ini Amer tak kunjung balik.
"Udahlah, lupain aja," kata Nanci yang baru muncul.
"Kamu gak nikah sama dia gak mati juga kan?"
Wanita itu mencebik, lalu menyerahkan secangkir teh hangat kepada Kemuning.
"Tapi aku kepikiran aja, Nan!" balas Kemuning sedih.
"Memikirkan pria gak tahu diri itu?!"
"Nan ..." Kemuning berusaha menghentikan Nanci.
Menyesap teh buatannya, Nanci menatap iba gadis di depannya, entah dengan cara apalagi supaya Kemuning melupakan Amer, padahal pria itu sudah menipu mereka mentah-mentah.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih ngarepin kedatangan Mas Amer."
"Tapi mau sampai kapan?" tanya Nanci.
Tidak ada seorang pun yang percaya kepada Amer, termasuk kedua orangtuanya Kemuning sendiri, hanya Nanci satu-satunya yang tinggal, meskipun tidak menyukai sosok Amer, tetapi setidaknya ia tidak pergi seperti yang lain.
"Gak ada yang bisa diharapkan lagi, Ning," tuturnya.
Kemuning diam, tidak menyahut lagi.
"Mending kamu buka hati buat pria lain," saran Nanci.
Menggeleng gusar Kemuning pun beranjak, tidak ada yang bisa menggantikan Amer di hidupnya, ia merasa hanya pria itulah yang memenangkan hatinya, bahkan jika dibandingkan dengan pria seluruh dunia sekalipun ia tidak sudi memilih salah satunya.
"Kemuning," panggil Nanci seakan lelah.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri," sahutnya malas.
Tanpa alas kaki gadis malang itu berjalan menyusuri Pesisir Pantai, tatapannya yang kosong menatap ke arah ombak, sesekali ia harus menahan napas setiap kali mengingat kenangan yang Amer berikan di hati.
"Ayo, ulurkan tanganmu!" Amer menatap Kemuning, menunggunya mengulurkan tangan, dan bersedia ikut dengannya ke atas kapal.
"Tapi aku takut," aku Kemuning.
"Gak apa-apa, Sayang, kan ada aku."
Perlakuan khusus yang Amer berikan pada Kemuning benar-benar membuatnya jatuh hati, pria itu memiliki tempat di hatinya, sejak pertama kali mereka bertemu, bahkan hingga detik ini.
"Kamu ke mana aja, Mas, aku kangen," lirihnya pilu.
Tidak bisa menahan lagi, akhirnya tangis Kemuning pecah, ia sangat kecewa dan sakit hati dengan Amer, tetapi perasaan rindu itu juga sangat menyiksanya. Kemuning dijanjikan sebuah pernikahan, seharusnya ia tidak membolehkan Amer berlayar sebelum akad dilangsungkan.
"Malam itu kupikir akan menjadi malam yang sempurna, tapi nyatanya kamu pergi lagi, Mas." Mengusap asal air matanya Kemuning berusaha tegar, meskipun rasa sakit semakin menghimpit.
Di kejauhan Nanci berlari ke arah Kemuning, wanita itu tampak heboh dengan wajahnya yang berseri-seri.
"Kemuning ..."
Menolehkan kepalanya Kemuning menatap Nanci, gadis itu mengernyit tidak mengerti, lalu bertanya. "Ada apa Nanci?"
"Pak Tejo mendapat telepon dari kota, Ning, katanya dari Mas Amer," lapor Nanci pada Kemuning yang saat ini menatapnya antusias, bahkan tanpa bertanya lagi gadis itu langsung bergegas pergi.
Satu bulan lamanya Kemuning menunggu, bahkan ia sampai di titik pasrah jika nantinya Amer tidak datang menunaikan janji.
"Apa yang Mas Amer katakan, Pak?" tanya Kemuning berharap cemas, meski ia tahu bapaknya tak pernah setuju, tetapi hatinya sudah mantap.
"Dia akan datang bersama keluarganya hari ini."
Wajah muram Kemuning seketika berubah cerah, dengan tatapan yang bahagia ia memperhatikan wajah datar kedua orangtuanya, lalu tersenyum lebar.
"Ini pilihanmu, Ning, jika nantinya ada masalah dengan pernikahan kalian, maka Ibu dan Bapak gak mau ikut campur!"
Bersambung ...
"Kalau udah nikah nanti, kamu jangan ngelupain aku ya, Ning!"
Kemuning mengangkat wajahnya, saat ini ia tengah dihias oleh Nanci yang kebetulan menguasai bidang itu, dengan sendu ditatapnya wajah Nanci, lalu tidak lama ia tersenyum.
"Gak bakal, Nan, kamu kan sahabat aku," jawabnya.
Hampir 18 tahun hidup berdampingan dengan Nanci, bagi Kemuning wanita itu segalanya, mereka sudah berteman sejak kecil dan menjalin ikatan yang hebat.
"Kalau kamu pindah ke kota, kita gak ketemu lagi." Nanci mengeluh untuk kesekian kali, rasanya berat melepaskan Kemuning menikah, tetapi ia juga tidak bisa mengubah apapun.
"Tenang aja, kita bakal sering ketemu kok," hibur Kemuning diiringi tawa, meskipun sebenarnya ia juga sedih meninggalkan Nanci.
Tetapi yang namanya seorang istri, ke mana pun sang suami pergi ia akan tetap harus ikut.
"Ya, sudah, gak apa-apa. Yang penting kamu senang." Membubuhkan bedak di wajah Kemuning, dengan ahli Nanci mengubahnya menjadi sangat cantik.
Kemuning yang sudah cantik jadi semakin menawan di saat menggunakan make up, Nanci berharap teman kecilnya ini akan hidup bahagia, dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik setelah dinikahi Amer.
"Calon suami kamu pasti akan pangling," goda Nanci.
Mengerlingkan matanya Kemuning jadi salah tingkah, sejak satu jam terakhir mereka memang belum ada bertemu, padahal Amer dan keluarganya sudah tiba di rumah. Kata Nanci pria itu menggunakan kemeja putih dan terlihat sangat tampan.
"Kamu tunggu di sini dulu ya," kata Nanci.
"Aduh, jadi makin deg-degan nih!"
Kemuning sangat gugup, jantungnya berdebar keras menantikan detik-detik pertemuan mereka lagi, ada banyak sekali cerita yang ingin ia sampaikan kepada Amer, harapannya setelah menikah mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan bercerita.
"Udah boleh, Ning, ayok ke luar!" Nanci heboh sendiri memanggil Kemuning, wanita itu pun menggiringnya ke luar untuk bertemu Amer.
Kedua perempuan itu melangkah beriringan, Nanci mengiringinya dengan sebaik mungkin, senyuman Kemuning sontak melebar saat melihat Amer yang saat ini tengah tersenyum.
Keduanya tampak sangat serasi dengan balutan pakaian bewarna putih gading.
"Mas Amer," lirih Kemuning.
"Kemuning," sahutnya begitu khas.
Tanpa membuang waktu lagi Amer dan Kemuning pun langsung berpelukan, kedua anak manusia itu tampak saling melepas rindu, bahkan tidak mempedulikan semua orang yang saat ini menatap ke arah mereka.
"Aku minta maaf agak terlambat datang," kata Amer.
Gadis cantik itu mengangguk, bahkan Kemuning tidak sedikitpun mengecilkan senyumannya. "Gak apa-apa, Mas, yang penting sekarang kamu udah di sini."
Menatap ke arah ibu dan bapaknya Kemuning seakan terharu, ia tidak pernah menyangka akhirnya mendapatkan restu dari orangtua, begitu juga dengan Amer yang berhasil mengajak keluarganya untuk datang ke sini.
"Kemuning, ini adik dari ibu kandungku, dan bapak itu teman dekatnya mendiang ayahku," jelas Amer seraya mengajak Kemuning mendekati keluarganya, yang diangguki oleh ibu dan bapak.
Membungkukkan setengah badannya Kemuning pun mencium punggung tangan kedua orangtua itu, tidak lupa ia juga memberikan senyuman terbaik, dan kesan pertama yang manis.
"Cantik ya," puji wanita yang biasa Amer panggil bibi.
Kemuning hanya tersipu malu, apalagi saat wanita itu menyentuh lembut punggungnya seakan mendukung pilihan sang keponakan, lalu mereka tersenyum lebar.
"Amer orangnya pekerja keras, dan bijaksana," lanjut pria yang berada di sampingnya wanita itu, Kemuning mengerjapkan mata, dan menoleh ke arah Amer yang tertunduk malu.
***
Angin pantai berembus kencang, Amer dan Kemuning berjalan menyusuri pesisir pantai dengan tangan yang bertaut, keduanya tampak menikmati momen-momen yang tidak terlupakan ini.
Menyelipkan anak rambut Kemuning di balik telinga Amer menatap gadis di depannya penuh arti, terlalu naif jika tidak pernah menginginkannya, bahkan pria itu selalu bermimpi dan membayangkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan.
"Besok kita akan menikah," kata Amer begitu dalam.
Kedua matanya menatap wajah Kemuning, sejak awal bertemu Amer memang tidak pernah berdusta jika ia sangat ingin memilikinya, menjadi seorang pria yang paling beruntung karena telah memperistri gadis secantik Kemuning.
"Uhm, ya, aku tahu," balas Kemuning.
Meraih kedua tangan Kemuning yang mungil, dengan penuh perasaan Amer menggenggamnya, lalu berkata lirih. "Aku gak pernah menyangka bisa jatuh cinta hingga sedalam ini, Ning."
"Begitupun denganku, Mas, aku juga gak nyangka bisa jatuh cinta padamu," sahutnya lagi begitu jujur.
Kemuning tersenyum saat Amer mencium punggung tangannya, hal yang selalu ia dapatkan setiap kali mereka bertemu, sepertinya momen seperti ini akan semakin sering ia rasakan.
"Aku berjanji akan selalu mencintaimu," ungkap Amer.
"Ya, aku pun juga begitu, Mas," jawab Kemuning.
Keduanya pun berpelukan lagi, Amer memeluk tubuh ramping Kemuning dengan sangat erat, memberikan jawaban atas prasangkanya selama ini, dan ia berjanji mulai dari sekarang akan lebih mengutamakan dirinya.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku ya," bisiknya.
"Aku gak akan melakukan itu, Mas." Dengan tatapan sendunya Kemuning berusaha meyakinkan, ia terlalu besar mencintai Amer, dan berusaha menjaga hati. "Yang aku takutkan itu kamu, mungkin aja saat di kota atau berlayar nanti kamu mengkhianatiku."
"Gak akan pernah terjadi," tukas Amer langsung.
Mengerjapkan matanya Kemuning sangat tersentuh, sikap dan perkataan Amer selalu membuatnya lebih percaya diri, apalagi setelah hari ini, orang-orang yang tadinya melihat sebelah mata, kini tampak berbeda. Hubungan yang tidak pernah dilihat itu, sekarang telah memberikan bukti, dan kebahagiaan untuk bersama.
"Boleh peluk lagi?" tanya Amer menggoda Kemuning.
Tanpa berpikir panjang Kemuning pun mengangguk.
"Kalau cium boleh?" Kini tatapan Amer mengarah ke bibir Kemuning, dan menunggu jawaban.
Tangan Amer yang kasar menyentuh pipi Kemuning, membelainya penuh perasaan, dengan senyuman yang lebar pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis polos itu, lalu ia pun terkekeh dan melangkah mundur.
"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita nikah," kata Amer diiringi tawa, ia sangat terhibur saat melihat Kemuning salah tingkah, bahkan sampai memerah.
Di tempatnya Amer hanya memperhatikan Kemuning yang berlari-larian sambil menyembunyikan perasaan gugupnya, gadis itu tampak lucu dan menggemaskan sekali di saat tengah tersipu.
Amer tidak menyesal telah jatuh hati pada Kemuning, bahkan ia merasa sangatlah beruntung dipertemukan dengan gadis secantik dirinya.
"Ombak pantai, dengarkanlah, sebentar lagi kita akan menikaaah!" Kemuning berteriak di bibir pantai, gadis itu melakukan hal yang konyol untuk menutupi gugup.
Sore ini sepertinya akan menjadi hari yang paling baik dan sempurna, Kemuning merasa sangat bahagia, ia berjanji tidak akan mengeluh lagi setelah ini, tentunya setelah dinikahi oleh Amer.
"Berhentilah bertingkah konyol, Kemuning!" tegurnya.
Kemuning menoleh, dengan begitu Amer langsung menyambar tubuh mungilnya, dan mengangkatnya tinggi untuk dibawa berlari-larian di sepanjang pantai.
"Mas Ameer!"
Bersambung ...
"Kamu beneran udah yakin sama Mas Amer?"
Kemuning yang tengah mewarnai kukunya sontak menoleh ke arah Nanci, saat ini mereka berada di dalam kamar dan bersiap-siap untuk merayakan hari pernikahan yang paling dinantikan.
"Yakin banget, Nan, kenapa kamu nanya begitu?" Menaruh pewarna kuku yang sejak tadi dipegangnya, Kemuning menatap wajah muram Nanci keheranan.
"Gak apa-apa, aku kepikiran aja sama kamu."
Mengambil napas panjang, dengan lelah Kemuning mengembuskannya, padahal semalam mereka sudah membicarakan hal ini, tetapi sepertinya Nanci masih berat melepaskan.
Tidakkah ia percaya dengan janji yang Kemuning berikan?
Memutuskan menikah bukan berarti memutuskan hubungan dengan teman, Kemuning sangat yakin Amer tidak akan membatasi pergaulannya pada Nanci, karena pria itu pun juga tahu jika mereka dekat.
"Gak ada yang perlu dikhawatirkan, Nan, aku akan baik-baik aja." Dengan tegas Kemuning berkata, sebentar lagi acara pernikahannya akan dimulai, dan ia tidak ingin memikirkan apapun selain kebahagiaan. "Pokoknya setelah nikah pertemanan kita gak ada yang berubah, yakinlah!"
Nanci mengangguk agak lambat, dan memilih untuk mengalah, tetapi ia berjanji akan terus menyelidikinya.
"Kemuning ..." panggil sebuah suara.
Menolehkan kepalanya Kemuning pun tersenyum saat menemukan bibi Rasita, lalu ia melangkah mendekati. "Iya, Bi, ada apa?"
"Ada kado yang ingin Bibi berikan untuk kamu, semoga kamu suka ya," katanya seraya memasangkan gelang emas di tangan Kemuning, wanita itu tersenyum hangat.
"Ya ampun, Bibi Rasita, terima kasih banyak!"
Kemuning menatap gelang berlapiskan emas itu lekat dan dalam, ia sangat tersentuh, bahkan tidak pernah menyangka jika bibinya Amer menyiapkan kado yang seistimewa ini.
"Sama-sama, Sayang, Bibi doakan semoga pernikahan kamu dengan Amer langgeng ya!"
Menganggukkan kepalanya dengan begitu Kemuning memeluk wanita itu erat, mengungkapkan betapa bahagianya ia dipertemukan dengan bibi Rasita, dan menjadi seseorang yang diistimewakan.
"Ya, sudah, ayo kita berangkat ke kapal," ajaknya.
Lagi-lagi Kemuning mengangguk, dengan wajah yang bersinar gadis cantik itu pun melangkah pergi dengan bibi Rasita, keduanya tampak sangat cocok dan akrab.
"Amer beruntung banget bisa nikah sama kamu," puji bibi Rasita untuk kesekian kalinya, sejak tadi malam wanita itu memang suka memujinya.
"Kemuning yang beruntung, Bi," sanggahnya cepat.
Kedua wanita itu pun tertawa, tanpa menyadari Nanci yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka di belakang, dan menerka apa yang sebenarnya mereka direncanakan pada Kemuning.
"Itu teman kamu ya," tunjuk bibi Rasita ke arah Nanci.
"Oh, iya, kemari Nanci!" Kemuning melambai riang.
Menyunggingkan senyumnya Nanci pun mendekati Kemuning, dan bibi Rasita yang mulai tampak curiga. Tadi malam Nanci kepergok oleh wanita itu saat berbicara dengan temannya, yang Amer bilang teman baik mendiang ayahnya.
"Bibi Rasita kenalkan ini Nanci sahabatku," katanya.
"Salam kenal ya, Nanci!" Wanita itu tersenyum ramah, dan tersenyum saat Nanci menjabat tangannya.
Kini ketiga perempuan itu melangkah beriringan menuju Kapal Pesiar, di depan ternyata Amer sudah menunggu kedatangan Kemuning, dengan wajah yang semringah ia langsung menyambutnya, dan mempersilakan bibi Rasita beserta Nanci untuk masuk terlebih dulu.
"Kamu cantik sekali hari ini, Kemuning," puji Amer.
"Kamu juga sangat gagah dan tampan, Mas," balas Kemuning sambil menatap kagum, lalu ia melangkah lebih maju saat Amer menarik pinggangnya.
Tidak menahan lagi Amer langsung mengecup bibir merah Kemuning, hari ini mereka sudah resmi menjadi sepasang pengantin, bahkan di dalam Kapal Pesiar acaranya juga sudah berjalan dengan meriah.
"Aku jadi gak sabar menunggu nanti malam," bisiknya.
***
Amer Djaja Prakasa, seorang Nakhoda Kapal Pesiar, sosoknya yang tampan dan gagah disegani banyak orang, terutama oleh bawahan dan jajaran terendah yang ikut berlayar dengannya.
Orang-orang sangat mengaguminya, Amer menjadi pusat perhatian, tidak sedikit dari mereka yang ikut berbahagia atas pernikahan Sang Nakhoda, semua orang tampak menikmati acara, bahkan bersuka cita.
"Aku jadi malu," aku Kemuning seperti orang yang kehilangan arah, padahal ini acara pernikahannya sendiri.
"Malu kenapa?" Amer menatap Kemuning bingung.
"Semua orang sangat menghormatimu, sepertinya kamu benar-benar orang penting," ungkap Kemuning mulai merasa tidak nyaman, mendengar itu Amer sontak tertawa, lalu memeluk pinggangnya semakin mesra dan intim. "Mas, aku malu!"
"Aku cuma mau yakinin kamu aja, kalau sekarang tuh kamu istrinya seorang Nakhoda." Jelas Amer seraya mengecup pipi Kemuning, dan semua itu disaksikan oleh banyak orang.
"MAS!" Kedua pipi Kemuning bersemu merah.
Tidak sampai di situ Amer pun semakin berinisiatif membuat Kemuning tersipu sekaligus bahagia, dengan langkahnya yang gesit pria itu langsung menarik tangan mungilnya, dan berhenti di tengah lantai dansa.
"Aku gak bisa dansa, Mas," terang Kemuning.
"Gak apa-apa, kamu tinggal ikuti arahanku aja," pinta Amer seraya menaruh kedua tangan Kemuning melingkar di lehernya, sementara tangannya berada di pinggang gadis itu.
Semua orang yang melihat bertepuk tangan dengan meriah, bersorak dan mendukung, di tengah situasi mendebarkan itu Kemuning jelas semakin malu, tetapi Amer justru malah sebaliknya.
"Mereka sangat serasi ya," kata salah satu temannya.
"Istri Nakhoda kita juga sangat cantik dan anggun."
"Keduanya benar-benar pasangan yang sempurna."
Kemuning hanya tersenyum mendengarnya, ia sangat bahagia diterima baik oleh banyak orang, padahal dulu perasaan cemas itu sempat mempengaruhi pikirannya yang selalu merasa minder bersanding dengan Amer.
Karena bagaimanapun tidak semua Nakhoda Kapal seperti Amer, yang mau menerima gadis kampung seperti Kemuning.
"Kamu bahagia?" tanya Amer sambil terus menatap.
Menganggukkan kepalanya Kemuning semakin malu dan minder, lalu gadis itu menyembunyikan wajahnya di leher Amer. "Aku sangat bahagia, Mas."
"Aku pun begitu, rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ungkap Amer seraya menghirup dalam aroma tubuh Kemuning, lalu ia tersenyum. "Kamu menjadi salah satu alasan kenapa aku masih bertahan hidup, dan tinggal di muka bumi ini."
"Entah perasaanku aja hari ini kamu terlalu banyak bicara, Mas," tukas Kemuning menahan tawanya, sikap Amer yang berlebihan membuatnya jadi geli.
"Itu karena aku terlampau bahagia," akunya lagi, lalu mereka pun tertawa bersama.
Amer dan Kemuning hanyut ke dalam kebahagiaan, keduanya masih di lantai dansa berpelukan mesra, dan bergerak seirama dengan musik romantis yang mengiringi syahdu.
Tidak jauh dari sepasang pengantin baru itu Cahyoko dan Rasita memperhatikan, keduanya tampak saling bertukar pikiran diam-diam, mengkhawatirkan dan menyayangkan pilihan Amer yang akan bermasalah.
"Menurut kamu apakah Amer benar-benar serius dengan gadis kampung itu?" tanya Rasita dengan sorot mata yang tajam, sebenarnya ia meragukan ini.
"Entahlah, aku juga gak begitu yakin," balas Cahyoko.
Bersambung ...