Sampul Novel Proposal Cinta Sang Miliarder

Proposal Cinta Sang Miliarder

7.9 / 10.0
Farhan, seorang miliarder muda yang taat beragama, jatuh hati pada kesederhanaan Aisyah, aktivis dakwah yang kerap ditemuinya setiap hari Jumat. Sadar bahwa Aisyah mengutamakan keimanan di atas materi, Farhan memutuskan menyamar dan merahasiakan kekayaannya demi mendekati sang wanita lewat jalan yang diridai. Namun, rintangan berat menghadang saat ia harus memenuhi kriteria ketat dari keluarga Aisyah. Mampukah hubungan mereka bertahan melewati ujian rahasia dan tantangan ini?

Proposal Cinta Sang Miliarder Bab 1

Lampu neon berkedip-kedip, memantulkan warna biru dan merah ke seluruh ruangan yang dipenuhi dentuman musik. Farhan duduk di sofa VIP, sebotol minuman mahal di genggamannya. Asap rokok mengabur pandangan, sementara suara tawa teman-temannya membahana, seolah semua beban dunia lenyap di balik dinding-dinding klub itu. Namun, di balik keriuhan dan kesenangan semu, matanya tampak kosong.

"Bro, lo serius banget sih? Malam ini kita harus hepi, men!" ujar Tio, salah satu temannya, sambil menepuk bahu Farhan dengan gelas di tangan.

Farhan tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi menusuk pikirannya. "Iya, santai aja. Gue cuma lagi capek."

"Capek apa? Duit lo nggak akan habis tujuh turunan, Far. Jangan sok-sokan mellow gitu, deh!" Tio tertawa keras, diikuti yang lain.

Farhan hanya mengangkat bahu, memilih meneguk minumannya. Di sudut matanya, seorang wanita dengan gaun merah menyala berjalan mendekat. Senyum genitnya membuat teman-temannya bersorak.

"Kayaknya dia buat lo, Han," bisik Jefri, yang duduk di sebelahnya. "Lo kan yang paling tajir di sini."

Wanita itu kini berdiri di depan Farhan, tangannya bermain di bahunya. "Halo, aku Rina," katanya lembut, sambil tersenyum menggoda.

Farhan menatapnya, berusaha memasang ekspresi yang santai. Namun, entah kenapa hatinya terasa semakin berat. Ia tahu permainan ini, terlalu sering memainkannya. Tapi malam ini, sesuatu terasa berbeda. Ada kekosongan yang tak mampu ia abaikan.

Rina duduk di sampingnya, semakin mendekat. Teman-temannya bersorak lagi, membuat suasana semakin bising. Farhan hanya diam, bahkan tidak menyadari ketika Tio kembali menuangkan minuman ke gelasnya.

"Farhan!" suara keras dari DJ memecah lamunannya. "Ini buat miliarder kesayangan kita! Hidup Farhan!"

Semua orang di klub berteriak, mengangkat gelas mereka. Farhan hanya tersenyum kaku, merasa seperti boneka yang sedang dipertontonkan. Ia berdiri, mengangkat gelasnya sekadarnya, lalu meneguk isi gelas itu.

Namun, di tengah semua sorak-sorai itu, rasa mual tiba-tiba menyerangnya. Kepalanya berdenyut, dan kakinya terasa lemas. "Gue ke toilet bentar," gumamnya pada Jefri, lalu bergegas meninggalkan sofa.

Di dalam toilet, Farhan memandangi wajahnya di cermin. Matanya merah, rambutnya berantakan. Namun, yang paling mengganggunya adalah bayangan dirinya sendiri. Bayangan seorang pria yang tidak tahu apa yang sedang ia cari.

"Apa yang gue lakuin di sini?" bisiknya pada diri sendiri. Ia memercikkan air ke wajahnya, berharap itu bisa mengusir semua pikiran buruk.

Saat itulah pintu toilet terbuka dengan kasar, dan dua pria masuk sambil berbicara dengan nada tinggi. Mereka tidak menyadari keberadaan Farhan di sudut ruangan.

"Lu tahu nggak? Si anak muda tadi tuh sok banget! Berlagak kaya tapi cuma numpang senang," kata salah satu dari mereka.

"Emang semua miliarder kayak gitu, sih. Duitnya banyak, tapi nggak punya tujuan hidup. Hidupnya cuma buat pesta-pesta doang," sahut yang lain.

Farhan terpaku mendengar percakapan itu. Meski tidak disebutkan namanya, ia tahu mereka berbicara tentang dirinya. Hatinya seperti ditampar. Selama ini, itukah yang orang pikirkan tentang dirinya? Seorang pria kaya yang hidup tanpa arah?

Ia keluar dari toilet tanpa menunggu lebih lama. Langkahnya cepat, meninggalkan klub itu tanpa menoleh ke belakang. Udara malam yang dingin menyambutnya, membuat pikirannya semakin jernih. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa muak dengan hidupnya.

---

Di kamarnya yang luas dan mewah, Farhan duduk di sofa sambil menatap langit-langit. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi. Ia membuka ponselnya, mencari sesuatu untuk mengalihkan pikiran. Namun, semua hal yang ia lihat terasa hampa.

Tiba-tiba, pandangannya jatuh pada sebuah aplikasi Al-Quran yang sudah lama ia unduh tapi hampir tidak pernah dibuka. Ia ragu sejenak, tetapi akhirnya ia mengetuk ikon itu. Layar ponselnya menampilkan ayat-ayat yang terasa asing, tetapi entah bagaimana menenangkan.

Ayat pertama yang terbaca olehnya adalah: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?" (QS Al-Hadid: 16).

Farhan tertegun. Pertanyaan itu seolah ditujukan langsung kepadanya. Hatinya bergetar, dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di klub malam atau pesta mewah manapun-ketenangan.

Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia teringat ibunya, yang dulu selalu mengingatkannya untuk shalat, tetapi selalu ia abaikan. Ia teringat ayahnya, yang pernah berkata bahwa harta adalah ujian, bukan tujuan. Dan sekarang, di malam yang sunyi ini, ia merasa semua pesan itu kembali menghantuinya.

--

Keesokan harinya, Farhan duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kemeja putih sederhana. Tangannya bergetar saat mencoba mengancingkan kemejanya, pikirannya berkecamuk. "Apa yang gue lakuin ini benar?" tanyanya dalam hati. Ia menatap cermin di depannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat lebih tenang daripada malam sebelumnya, tetapi ada sorot ragu di matanya.

Di luar, matahari bersinar cerah. Angin pagi yang segar menghembus lembut, menggugah keberaniannya. Ia akhirnya melangkah keluar rumah, kunci mobil di tangan. Namun, ketika sampai di garasi, ia berhenti sejenak. Mobil sport hitam mengilap itu terasa seperti simbol masa lalunya yang mewah dan hampa. Ia memilih berjalan kaki.

Setiap langkah menuju masjid terasa seperti perjalanan panjang yang tak berujung. Ia melewati jalanan kecil yang sepi, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Apa yang akan orang pikirkan? Bagaimana jika ada yang mengenalnya? Tapi di sela semua itu, ada dorongan kuat dalam hatinya untuk terus maju. Langkah demi langkah, ia akhirnya sampai di depan sebuah masjid kecil yang tampak bersahaja.

Suara adzan dzuhur baru saja berkumandang ketika ia tiba. Masjid itu terlihat tenang, dengan beberapa orang yang berjalan masuk. Pohon mangga besar di halaman masjid memberikan keteduhan, sementara angin semilir membawa aroma khas sandal kayu yang baru dipakai para jamaah. Farhan berdiri di gerbang, merasa sedikit canggung.

"Assalamu'alaikum, Nak," sebuah suara lembut menyambutnya. Seorang pria tua dengan jenggot putih dan sorban kecil di kepalanya berdiri di depan pintu masjid, senyumnya hangat. "Baru pertama kali ke sini?"

Farhan mengangguk, mencoba tersenyum meski gugup. "Wa'alaikumussalam. Iya, Pak. Saya... saya cuma ingin coba."

Pria tua itu tertawa kecil, suaranya penuh kehangatan. "Masya Allah, jangan ragu, Nak. Allah selalu menyambut hamba-Nya yang ingin kembali. Masuklah, mari."

Farhan mengikutinya dengan langkah ragu. Kakinya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya. Namun, begitu melewati pintu masjid, hawa sejuk langsung menyapanya. Suara lantunan adzan yang mengisi ruangan membuat hatinya bergetar. Farhan memandang sekeliling, melihat orang-orang yang duduk bersila dengan wajah tenang, beberapa di antaranya tampak memejamkan mata sambil berdoa.

Hatinya masih ragu, tetapi pria tua itu menepuk bahunya lembut. "Santai saja, Nak. Kita di sini bukan untuk dihakimi. Kita di sini untuk mendekat kepada-Nya," ujarnya, seolah membaca kegelisahan Farhan.

Farhan tersenyum kecil, lalu mengangguk. Ia mengikuti langkah pria itu menuju tempat wudhu. Aliran air dingin yang mengalir dari keran membuatnya merasa segar, seolah ada beban yang perlahan-lahan hilang. Setiap gerakan wudhu yang ia lakukan terasa baru, meski ia pernah mempelajarinya di masa kecil. Ada rasa haru yang ia rasakan ketika menyentuh wajahnya dengan air, seperti membasuh luka yang telah lama ia abaikan.

Selesai berwudhu, Farhan memasuki ruang shalat. Pria tua tadi membimbingnya menuju barisan paling belakang. "Di sini saja, Nak. Ikuti saja gerakannya kalau belum hafal," ujarnya sambil tersenyum.

Farhan mengangguk, hatinya berdebar-debar. Ia berdiri di antara para jamaah, mendengar imam mulai melantunkan takbir. Suaranya merdu, penuh ketenangan. Farhan mencoba mengikuti, meski gerakannya sedikit kaku. Namun, ketika ia bersujud, sesuatu yang berbeda terjadi. Di sana, di atas sajadah, dengan dahi menyentuh lantai, ia merasa kecil-kecil di hadapan kebesaran Allah. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Hatinya terasa ringan, seperti beban yang selama ini menghimpitnya perlahan menghilang.

Selesai shalat, Farhan duduk di sudut masjid, memandangi mihrab yang sederhana namun menenangkan. Ia memejamkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja ia rasakan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa damai. Tidak ada suara musik bising, tidak ada tawa palsu teman-temannya. Hanya ada dirinya dan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Bagaimana rasanya, Nak?" suara lembut pria tua itu memecah keheningan. Ia duduk di sebelah Farhan, membawa aroma kayu gaharu yang samar-samar.

Farhan menoleh, tersenyum kecil. "Tenang, Pak. Entah kenapa, saya merasa lebih baik."

"Itulah janji Allah," jawab pria itu sambil tersenyum. "Hati kita hanya bisa tenang dengan mengingat-Nya. Dunia ini penuh gemerlap, tapi hati yang gelisah tidak akan pernah puas. Allah yang memegang kendali, dan Dia selalu menunggu hamba-Nya kembali."

Farhan mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Saya nggak tahu harus mulai dari mana, Pak. Hidup saya... berantakan," ujarnya lirih.

Pria tua itu menepuk bahunya lagi. "Semua orang punya masa lalu, Nak. Tapi yang penting adalah langkah yang kamu ambil sekarang. Allah Maha Pengampun, selama kita mau berubah. Jangan takut, insya Allah, semuanya akan lebih baik."

Farhan menghela napas panjang, hatinya terasa lebih ringan. Malam tadi, ia merasa kehilangan arah. Namun, pagi ini, di tempat yang sederhana ini, ia merasa seperti menemukan jalan pulang. Meskipun langkah pertamanya berat, ia tahu ini adalah keputusan yang tepat.

Saat ia melangkah keluar masjid, matahari siang menyambutnya dengan hangat. Pohon mangga di halaman bergoyang lembut diterpa angin. Ia berhenti sejenak di bawahnya, menatap langit biru yang terasa lebih cerah dari biasanya. Dalam hatinya, ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Namun, dari kejauhan, suara klakson mobil memecah keheningan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang masjid, dan seseorang yang ia kenal keluar dari dalamnya. Tio. Wajah temannya itu tampak bingung sekaligus marah.

"Farhan! Lo di sini? Lo nggak serius kan?" teriak Tio, berjalan cepat mendekatinya.

Farhan berdiri diam, menatap temannya dengan hati yang mulai bergolak. Apa yang harus ia katakan? Apa yang akan terjadi jika Tio tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di sini?

Angin bertiup lembut, seolah menjadi saksi dari keputusan besar yang harus Farhan ambil.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Proposal Cinta Sang Miliarder

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika yang butuh biaya medis besar dan donor langka, Alya terpaksa menerima tawaran Niko. Pengusaha kaya yang mendambakan keturunan itu mengajukan perjanjian ibu pengganti. Meski awalnya ragu, Alya menyetujuinya demi sang ibu. Tak disangka, benih asmara justru tumbuh di antara mereka hingga memicu pergolakan batin. Ketika sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Rencana kejutan ulang tahunku hancur saat memergoki kekasihku berselingkuh dengan pria kaya. Setelah dihina karena miskin, takdirku berbalik ketika pelayan keluarga terkaya mengungkap bahwa aku adalah pewaris sah Grup Nelson. Kini, berbekal kekayaan tanpa batas, aku siap membalas dendam. Saat mantan kekasihku bersujud memohon maaf, aku mengabaikannya dan melangkah ke dunia mewah. Bagiku, uang melimpah hanyalah deretan angka yang siap kuhabiskan.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED