Anna's point a view
"Selamat datang!"
Sambutan ceria si pelayan cantik dan senyum manisnya seketika menambah suasana hangat restoran yang sudah menjadi langgananku selama lima tahun ini.
Masih dengan senyum manisnya, yang seakan-akan tak pernah pudar, si pelayan mengantarkanku ke meja yang sudah aku pesan beberapa hari sebelumnya.
Walaupun sudah lima tahun berlalu, tetapi tempat ini, designnya dan suasana di dalam dan di luar ruangannya masih saja sama seperti dahulu. Dan sama seperti lima tahun yang lalu, meja kedua disudut ruangan dekat jendela inilah yang selalu menjadi favoritku sejak dulu. Alasannya sebenarnya sederhana. Hanya dari tempat duduk inilah, pemandangan taman di luar restoran bisa dilihat dengan lebih jelas. Alhasil, duduk sampai berjam-jam pun, aku bisa tahan di sini.
Sama seperti kebiasaanku yang sudah-sudah, setiap kali datang ke tempat ini, aku selalu melongokkan kepalaku keluar jendela begitu sampai di tempat duduk ini. Angin bertiup kencang menerpa wajah dan rambutku. Kesejukkannya seakan mengangkat semua beban dan rasa khawatirku seketika. Ditambah lagi keharuman bunga mawar yang ikut berhembus ke arahku benar-benar membuatku rileks.
Satu hiburan kecil memang, tapi efeknya selalu membuatku merasa lebih baik. Apalagi, aku tidak harus membayar lebih untuk mendapatkan semua ini. Hanya tinggal melonggokkan kepalaku saja, aku sudah dapat menikmati semua keindahan ini.
"Permisi, mbak! Mau pesan apa?" suara si pelayan seketika mengagetkanku. Tak mau terlihat seperti orang aneh, aku cepat-cepat menjauh dari jendela dan kembali mengubah posisi dudukku.
"Saya masih nunggu teman, mbak. Nanti saja pesannya kalau orangnya sudah datang." Mendengar itu si mbak pelayan mengangguk mengerti dan meninggalkanku dengan sopan.
Setelah si pelayan pergi, tanganku langsung merogoh hand phone dari tasku dan secepat kilat mengetikkan pesan 'supaya cepat datang' pada temanku, yang kemarin berjanji akan datang setengah jam lebih awal tersebut. Dengan wajahnya yang super serius kemarin, dia membuatku percaya kalau kali ini tidak akan sama seperti lima tahun belakangan ini. Kali ini dia yang akan datang lebih dulu dan tidak akan membiarkanku menunggu lagi.
Kenyataanya... cuma aku sendirian di sini. Padahal sudah lima belas menit berlalu dari perjanjian, tapi temanku itu tak kunjung datang juga.
"OTW" pesan balasan yang super singkat itu membuatku tersenyum. Sama seperti tempat ini, kebiasaan temanku yang satu ini juga tidak sedikitpun berubah. Selalu saja terlambat kalau diajak ke tempat ini. Aku juga heran kenapa, padahal dia yang mengenalkanku ke tempat ini dari pertama.
Masih jelas sebenarnya di ingatanku hari itu. Dia berkata akan mentraktir aku ke tempat makan yang enak, murah, dan nyaman tempatnya. Mendengar kata 'traktiran', aku langsung mengiyakan saja. Waktu itu adalah hari seminggu setelah kelulusan kami dari SMA. Untuk merayakannya, aku mengira dia akan mengajakku ke tempat spesial dan membuatku bahagia.
Dia memang membawaku ke tempat yang menyenangkan, tempat seperti yang di janjikannya; enak, murah, dan nyaman tempatnya. Namun betapa tak kusangka di hari pertama itu dia sudah membiarkanku menunggu selama empat puluh lima menit dan berhasil membuatku panik, karena sebenarnya di dompetku saat itu cuma ada uang lima ribu rupiah dan kalau dia benar-benar tidak datang, pastinya aku akan malu karena harus keluar dari tempat ini tanpa membeli apa-apa.
Ingin rasanya mencubit lengannya sampai biru saat dia datang empat puluh lima menit kemudian. Tapi karena begitu datang dia langsung tersenyum dan mengucapkan kata "sorry" berkali-kali, mau tak mau aku akhirnya menelan kemarahanku dan memaafkannya.
Sekarang pun tak ada bedanya, tetap saja dia membiarkanku menunggu. Tapi entah sampai berapa lama kali ini aku harus menunggu.
Kesejukan angin yang berhembus dari luar jendela, membuat kepalaku menoleh ke arah luar restoran. Alunan musik yang mengalun dengan indah pun membuat pikiranku terbang ke masa lalu. Ke masa dimana pertama kali aku bertemu dengan sahabatku itu.
Si tukang telat itu sebenarnya kukenal di SMA, di kelas dua SMA tepatnya. Namanya Alex. Alex Tjandra.
Pertemuan pertamaku dengan Alex sebenarnya bisa di bilang memalukan. Kalau diingat lagi, aku terkadang masih merasa malu. Semua di awali karena 'kebiasaan anehku' hingga jodoh pertemanan kami pun di mulai.
Saat duduk di SMA, aku sebenarnya sudah di masukkan dalam golongan anak-anak aneh di sekolahku. Perpustakaan berjalan adalah sebutanku saat itu. Kebiasaanku yang selalu membawa dan membaca buku kemana-mana, membuatku di anugerahi julukan seperti itu.
Mencintai dan membawa buku kemana-mana sebenarnya bukan suatu dosa atau kesalahan fatal yang tidak bisa diampuni atau bahkan dianggap aneh. Hanya saja kebiasaanku membaca buku tanpa peduli waktu dan tempatlah yang membuatku pantas di sebut seperti ini.
Sebenarnya kebiasaan anehku ini tidaklah muncul begitu saja. Memang sih sejak kecil aku sudah di biasakan membaca buku oleh kedua orang tuaku. Mama papaku yang keduanya berprofesi sebagai dosen sastra Inggris, sebenarnya mempunyai hobi yang sama, yaitu membaca dan mengkoleksi buku, terutama novel-novel klasik.
Saking banyaknya koleksi buku mereka hingga satu ruangan belajar di penuhi buku semua. Kecintaan mereka pada novel klasik pulalah yang membuatku di namai seperti novel kesayangan mereka, Anna Karenina, karangan penulis novel Rusia yang terkenal, Leo Tolstoy.
Mungkin karena terbiasa hidup dengan orang tua pencinta buku, hobi itu akhirnya menular juga padaku, anak semata wayang mereka. Tapi kebiasaanku tetap dalam batas normal dan tidak pernah sampai membuatku mendapat masalah karenanya.
Hanya saja kebiasaan itu berubah menjadi 'aneh' saat aku duduk di bangku SMP. Duniaku yang menyenangkan waktu di Sekolah Dasar seakan sirna dan menjadi seperti hidup di dunia yang tidak aku kenal ketika di SMP.
Sampai saat ini pun aku masih bingung dan tak tahu alasannya tapi entah mengapa saat di SMP aku selalu SENDIRI. Mereka memperlakukanku seperti 'Makhluk Kasat Mata'. Seakan-akan mereka tak melihatku, tak perlu berbicara denganku dan sama sekali tak menganggapku ada.
Diperlakukan seperti itu berbulan-bulan membuatku malu dan minder. Ingin rasanya kabur dan menghindar dari sekolah. Tapi di sisi lain, aku sadar jika sampai orang tuaku tahu, pasti akan menambah beban pikiran mereka. Maka seberapa malu dan sulitnya pun hari-hariku saat itu, aku tetap bertahan.
Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan kesendirianku dan mulai cuek walaupun banyak yang menganggapku aneh dan menggosipkanku sana sini. Aku tak menganggap mereka penting, toh mereka juga tak pernah menganggapku.
Maka di saat aku tak mendapat hiburan dari seorang teman pun, bukulah yang menjadi sahabatku dan juga tamengku, yang dapat mengalihkanku dari apa saja yang terjadi di sekitarku. Penghiburan yang aku dapatkan dari sebuah buku membuatku melupakan kesendirianku dan malah jadi semakin nyaman dengannya.
Hal ini lah yang membuatku terobsesi sampai bisa membuatku panik jika sehari saja tanpa sebuah buku di tanganku. Jadi, walaupun kebiasaan ini dianggap aneh, membuatku makin di jauhin, dan bahkan juga membuatku terkena masalah berkali-kali, aku tetap tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan kebiasaanku tersebut.
Salah masuk kelas, nabrak-nabrak orang karna keasyikan membaca, diomeli orang tua dan guru, hingga salah naik angkot sepulang sekolah dan akhirnya baru sampai di rumah jam tujuh malam, adalah beberapa masalah yang timbul sebagai efek dari kebiasaan membaca tak kenal tempat, tak kenal waktu tersebut.
Tapi lucunya... kebiasaan yang awalnya lahir dari kondisiku di SMP yang tak mempunyai teman, di SMA justru kebiasaan buruk inilah yang membawaku bertemu kedua sahabat yang membuat kehidupan SMA ku berbeda dan jauh lebih menyenangkan.
Sahabat pertama yang aku kenal sebenarnya bukanlah Alex. Sebelum bertemu Alex, suatu hari tanpa di sangka dan tak direncanakan, aku bertemu sahabat istimewaku, Erna Dharmawan.
Hari itu, aku yang biasanya lebih memilih tinggal di kelas sambil membaca novel sewaktu istirahat, tiba-tiba merasa sumpek dan memutuskan untuk beli es di kantin.
Sesampainya di sana, aku langsung memesan es kopyor dan berniat mencari tempat duduk yang sepi agar aku bisa menikmati es kopyorku dan melanjutkan membaca novelku dengan nyaman tanpa gangguan.
Sayangnya... kebetulan siang itu antriannya cukup panjang dan aku terpaksa harus berdiri lama di antrian sebelum mendapatkan pesananku. Sambil terus mengeluh dalam hati karena malas menunggu, aku membuka dan membaca novelku kembali sambil berdiri mengantri.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku lupa dengan perasaan kesalku dan seketika tersihir dengan alur cerita romantis dari novel yang aku baca. Kebetulan bagian yang aku baca adalah bagian di mana si tokoh utama pria dalam cerita tersebut sedang berusaha memeluk dan mengecup kekasihnya.
Tak ayal, setiap kata yang terpapar di bagian itu, yang diisi dengan penuh hasrat dan keromantisan, berhasil membuatku berdebar tak karuan dengan mata yang bagaikan menempel kuat dengan novel yang aku baca. Seakan-akan jika sedetik saja mataku beranjak dari kata-kata yang aku baca, fantasi yang terbentuk di kepalaku bisa buyar. Dan tentunya, aku tidak mau itu terjadi.
Itulah sebabnya, saat pesanan es kopyorku jadi, aku langsung cepat-cepat membayar dan menyambar begitu saja es yang aku pesan dengan mata yang beranjak satu menit saja dari novel di tanganku. Dengan terburu-buru, aku berbalik hendak menuju tempat duduk yang sudah aku incar sebelumnya.
Tapi tak kusangka saat berbalik, aku menubruk cewek yang berdiri mengantri di belakangku dan yang memperparah keadaan adalah es yang aku bawa tumpah dengan tak karuan mengenai kemeja putihnya.
Karena terkejut, aku terdiam dan memandangi korban 'es kopyorku' dengan mulut menganga. Jujur aku tidak tahu harus berkata apa saat itu.
Melihatku diam dan berdiri saja di sana, membuat cewek tersebut menggerutu dan langsung lari begitu saja dari kantin.
Sadar aku sudah berbuat kesalahan lagi, dengan cepat aku meletakkan es kopyorku dan berlari mengejar cewek itu untuk meminta maaf.
***
Setelah mengejarnya beberapa saat, dia terlihat terburu-buru berlari ke arah kamar mandi. Aku pun langsung mengikutinya ke dalam. Dan saat aku masuk, dia terlihat sedang berusaha melap bagian depan kemejanya dengan tisu berkali-kali.
Melihat itu, aku benar-benar merasa bersalah. Karena tampaknya beberapa kali pun dia mencoba membersihkan noda merah bekas es kopyor tadi, noda tersebut tidak sedikit pun berkurang. Parahnya, bekas tumpahan tadi malah terlihat melebar di bandingkan sebelumnya.
"Maaf ya... gara-gara aku seragammu jadi kotor begini," seruku lirih seraya berharap dia tidak terlalu marah padaku.
Tapi... entah karena masih marah atau mungkin tak mendengar ucapanku, cewek itu sama sekali tak merespon. Perhatiannya masih pada bagian depan kemejanya yang penuh noda tersebut.
Aku jadi salah tingkah. Apalagi aku melihat ekspresi yang semula terlihat panik, tiba-tiba berganti menjadi ekspresi orang yang mau menangis.
"Mmm... gini aja. Gimana kalau kamu pakai bajuku saja. Biar aku yang gantian pakai bajumu yang basah." Bingung juga dari mana ide seperti itu bisa mampir ke kepalaku. Yang pasti, aku tak mungkin membiarkannya seharian memakai pakaian kotor dan basah hanya karena kebodohanku.
"Nggak apa-apa. Biarin aja deh gini!" jawabnya dengan nada sedih.
"Kamu kan tak mungkin seharian pakai baju basah dan kotor begini. Lagian nanti pelajaran ke empat aku ada pelajaran olah raga, jadi aku bisa pakai seragam olah ragaku saja nanti sampai pulang sekolah. Nanti di rumah aku cuci dulu bajumu baru aku kembalikan ke kamu."
Setelah mendengar perkataanku, cewek itu masih saja terlihat ragu-ragu.
"Ayolah... aku nggak enak kalau kamu masuk kelas dengan baju kotor seperti ini. Bisa-bisa kena hukum guru BP kamu nanti!" seruku mencoba meyakinkannya.
Dia pun perlahan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Melihat itu, aku akhirnya merasa lega.
"Oh ya? Kamu anak kelas berapa ya? Soalnya besok biar aku saja yang ke kelasmu buat mengembalikan seragammu," tanyaku setelah kami berganti seragam satu sama lain.
"Kelas 2-1. Tanya saja nanti sama temanku kalau nggak ketemu aku di kelas. Namaku Erna Dharmawan."
Setelah pertemuan yang 'tidak menyenangkan' tersebut, sebenarnya kami tidak langsung menjadi dekat. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya kami menjadi sahabat.
Diawali dari saling menyapa, mengobrol singkat, sampai akhirnya kami menemukan kebiasaan yang sama. Sungguh kebetulan, ternyata dia juga sama denganku. Dia juga ternyata suka membaca novel, walaupun memang tidak 'berlebihan' seperti kecintaanku pada buku.
Hal itulah yang membuat kami menjadi dekat dan sering menghabiskan waktu bersama, baik waktu istirahat ataupun sehabis pulang sekolah. Terkadang aku yang mampir ke kelasnya, atau kadang dia yang datang ke kelasku untuk sekedar mengobrol atau mengajakku ke kantin bersama.
Tak jarang pula, aku di ajaknya berburu novel ke toko-toko buku sampai berjam-jam lamanya sepulang sekolah. Alhasil, aku yang selalu sendirian dan tak punya teman, serasa mendapat 'durian runtuh'.
Namun, ternyata kebahagianku tidak berhenti sampai di situ saja. Tuhan ternyata masih ingin menghadiahiku seorang teman lagi dua bulan setelah pertemuanku dengan Erna.
Awal pertemuan kami bukanlah pertemuan yang termasuk kenangan yang indah bagiku. Karna kondisinya saat itu jauh lebih memalukan dari pada waktu bertemu Erna.
Waktu itu... aku sedang tergesa-gesa berlari ke toilet. Tapi karena cerita yang aku baca pas bagian yang seru-serunya. Jadi sambil lari pun pandanganku tak lepas dari novel yang aku baca. Rupanya, setelah kejadian dengan Erna pun, aku masih tidak kapok mengulangi kebiasaan burukku lagi.
Sesampainya di dalam toilet, dengan berat hati, aku akhirnya menutup novelku. Tapi... betapa kagetnya aku. Karena saat aku berpaling dari bukuku, aku mendapati seorang COWOK tiba-tiba saja berdiri di depanku.
Aku membeku.
Dia pun panik melihatku sambil tangannya sibuk menaikkan resleting celananya.
Beberapa detik kemudian aku sadar dan langsung berteriak sekuat tenaga dan dengan reflek melempar novel di tanganku ke wajahnya.
Cowok itu kaget dan tidak sempat menghindar, sehingga ujung sampul novel yang keras mendarat tepat di hidungnya.
Tanpa memperdulikan novel yang aku buang dan si cowok korban lemparanku tadi, aku langsung berlari keluar sambil terus saja berteriak seperti orang kesurupan.
Semua yang mendengar teriakanku langsung menghampiri, termasuk beberapa guru yang kebetulan berada di sekitar situ. Mereka mulai menanyaiku dan aku pun berusaha menjelaskan dengan nafas yang tersengal-sengal sambil menunjuk-nunjuk ke arah toilet. Tapi betapa kagetnya aku ketika toilet yang aku tunjuk bertuliskan... TOILET PRIA.
Aku yang masih tidak mempercayai pengelihatanku, langsung menghampiri toilet tersebut untuk memastikan. Ternyata benar, toilet tersebut memang benar toilet pria dan cowok tadi masih berdiri di situ, sambil meringis memegangi hidungnya yang berdarah akibat lemparanku tadi.
Saat itu...
Aku sungguh-sungguh berharap bumi segera terbelah dua dan menelanku. Atau mungkin... semua orang di situ tiba-tiba mendapat serangan amnesia sehingga kejadian memalukan itu secara otomatis terlupakan.
Tapi sayangnya... tidak satupun harapanku terkabul. Yang terjadi malah semua yang ada di situ mulai menertawaiku, wali kelasku menjewerku dan menyita novel kesayanganku. Tidak hanya itu, aku masih harus mengantar cowok mimisan tersebut ke klinik sekolah dan menemaninya sampai mimisannya berhenti.
Sesampainya di klinik aku langsung meminta maaf. Aku pikir dia bakalan marah-marah dan minta ganti rugi. Aku sempat kuatir kalau itu terjadi. Mau aku bayar pakai apa, uang jajan bulananku waktu itu sudah menipis gara-gara dibelanjain buku-buku dan novel-novel bekas seminggu sebelumnya. Kalau minta dari orang tua, takutnya malah kena marah dan tidak di kasih uang jajan lagi selamanya.
Karena nggak ada jalan keluar lagi, aku langsung memasang jurus pamungkasku yang bernama... 'JURUS MUKA MEMELAS'.
Untungnya, jurus tersebut masih ampuh. Cowok itu nggak jadi marah dan memaafkanku tanpa meminta uang ganti rugi sepeserpun.
"Namaku Alex. Kamu?" katanya tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
"Anna. Namaku Anna..."
Walaupun keduanya berawal dari kesialan, tapi malah membuat aku yang jarang punya teman, karena terlalu sering bergaul dengan buku daripada dengan manusia, akhirnya mempunyai sahabat.
Setelah bersahabat dengan mereka, aku jadi menikmati hari-hariku di sekolah. Tidak pernah sekalipun penyakit 'ingin membolosku' kambuh. Malah kalau bisa jadwal masuk sekolah ditambah jadi setiap hari. Memang kedengaran berlebihan, tapi aku benar-benar menikmati waktu-waktu kebersamaan kami sehingga tidak pernah puas kalau cuma ketemu senin sampai sabtu saja.
Saking seringnya kami bertiga menghabiskan waktu bersama-sama, persahabatan kami pun jadi perhatian teman-teman sekelasku. Banyak dari mereka yang senang dan bahkan memuji persahabatan kami yang selalu terlihat semakin kompak, tapi di lain pihak ada juga yang mengejek kedekatan kami dengan komentar yang menyakitkan.
Mereka sering berkomentar tentang betapa bedanya aku dengan Alex dan Erna. Perbedaannya terlalu mencolok. Bak langit dan bumi, olok mereka suatu hari. Tapi yang paling menyakitkan adalah komentar mereka yang mengumpamakan Alex bagaikan pangeran tampan, Erna bagaikan putri cantik, sedangkan aku malah terlihat bagaikan pembantu jika dibandingkan dengan Alex dan Erna.
Menyebalkan!!!
Kalau saja tatapan bisa membunuh, waktu itu mungkin banyak dari teman-temanku yang sudah rebah tak bernyawa karenanya.
Namun setelah di pikir-pikir, mereka berdua memang berbeda jauh dariku.
Pertama, Alex dan Erna selalu terlihat seperti model dalam kondisi apapun. Tidak pernah sedikitpun terlihat kucel sepertiku. Kedua, mereka berdua tergolong dari keluarga yang kaya raya, yang berangkat dan pulang sekolah naik mobil. Lain denganku yang walaupun juga berangkat dan pulang dengan naik mobil, tapi mobil yang aku naiki bukanlah mobil mewah seperti kepunyaan mereka, melainkan mobil angkot.
Dan yang paling mencolok adalah kemampuan bermusik mereka, yang dalam mimpi pun tidak akan bisa aku samai. Keduanya terkenal pandai bermain musik dan sering mendapat penghargaan karenanya. Erna bersuara merdu dan piawai dalam bermain piano, sedangkan Alex sangat mahir memainkan alat musik gitar dan membuatnya mendapat banyak penggemar cewek di sekolah karenanya.
Sedangkan aku... membaca saja aku terdengar sumbang.
Mungkin hanya satu saja kelebihanku yang diakui aku dan saudara-saudaraku, yaitu... Inner Beauty, alias kecantikan dari dalam.
Menyedihkan memang. Namun perbedaan tersebut tidak pernah sedikitpun mengganggu persahabatan kami. Hari demi hari kami malah jadi semakin dekat, terutama Alex dan Erna. Mereka berdua tampak luuuuuaaar biasa dekat.
Memang sih, awalnya aku berpikir karena mereka mempunyai kegemaran yang sama di bidang musik, jadi mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Namun...
Aku menangkap sinyal-sinyal yang berbeda saat melihat Alex dan Erna bersama-sama.
Tatapan mereka...
Ekspresinya...
Benar-benar seperti mengeluarkan percikan-percikan listrik.
Saat kami mengobrol bertiga pun, aku sering merasa seperti 'penonton' di bandingkan 'peserta'.
Di situlah aku sadar kalau mereka saling tertarik satu sama lain. Oleh karena itu, sebagai sahabat yang baik dan gemar dengan hal-hal yang romantis, aku memutuskan untuk menjadi 'Mak Comblang' buat mereka. Singkat kata, berkat usahaku sebagai 'Mak Comblang' akhirnya mereka berdua berpacaran.
Sungguh lucu dan aneh memang menyaksikan kedua sahabat sendiri memadu kasih. Di mulai dari menyaksikan sikap mereka yang malu-malu, sampai tatapan super romantis, yang seringkali malah membuatku tertawa geli melihatnya.
Walaupun begitu, kebersamaan mereka benar benar indah bagaikan lukisan. Siapa saja yang melihat mereka pasti berpendapat kalau mereka adalah pasangan serasi yang di takdirkan bersama selamanya.
Tapi...
Ternyata takdir yang mengikat kami bertiga tidak bisa di prediksi semudah itu.
Dalam waktu sekejap saja, takdir sudah membawa kami jauh dari apa yang kami rencanakan sebelumnya...
***
Semuanya bermula saat suatu malam Alex tiba-tiba datang ke rumahku dengan raut muka yang terlihat syok dan panik.
Karena khawatir, aku berusaha menenangkannya seraya berkata,"Tidak biasanya kamu datang jam segini, lex? Ada apa?"
Alex tak menjawab.
Dia hanya mengangkat wajahnya lalu memandangiku dengan mata yang berkaca-kaca dan raut wajah yang di penuhi kesedihan mendalam.
Seketika itu juga aku mengerti...
Hanya satu orang saja yang bisa membuatnya bertingkah seperti ini.
"Ada apa dengan Erna, Lex?" tanyaku sambil mendekatinya perlahan.
"Dia... mutusin aku, An." Mata Alex tampak berkaca-kaca dan tangannya yang bergerak terus, menampakkan betapa gelisahnya dia.
Kontan saja setelah mendengar itu, aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa??? Sepulang sekolah, Erna dan Alex masih terlihat sangaaat... mesra. Mana mungkin dalam waktu beberapa jam saja tiba-tiba putus?
Daripada menghabiskan waktu menduga-duga, aku memutuskan menelepon Erna. Tapi sampai beberapa kali pun aku telepon, yang terdengar hanyalah nada sibuk.
Keesokan harinya, aku yang penasaran, segera mendatangi kelas Erna, tapi ternyata dia tidak masuk sekolah. Hal tersebut berlanjut sampai tiga hari setelahnya. Aku yang tidak sabaran menunggu lagi, akhirnya memutuskan menyeret Alex, yang saat itu kelihatan stress berat, kerumah Erna. Aku kuatir jangan-jangan dia sakit atau ada hal yang buruk terjadi padanya.
Namun betapa kagetnya kami sesampainya di sana.
Rumah Erna yang biasanya megah dan indah, saat itu terlihat kotor dan tak berpenghuni. Dan yang paling mengagetkan adalah tulisan besar yang terpampang di depan rumah Erna.
RUMAH INI DI SITA DAN SUDAH MENJADI MILIK BANK
Aneh! Nggak mungkin! Ini pasti halusinasiku saja.
Semenit...
Sepuluh menit...
Hingga lima belas menit berlalu...
Tetap saja tak ada yang berubah. Tulisan besar itu masih saja ada di sana.
Kepanikan dan kebingungan yang lima belas menit lalu kurasakan, perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan. Aku marah karena merasa dibohongi. Tidakkah sebagai sahabat, kita seharusnya saling berbagi satu sama lain. Bagaimana dia bisa menyembunyikan masalah separah itu dariku.
Bodohnya aku lupa.
Aku lupa kalau bukan hanya aku saja yang kecewa. Bukan hanya aku saja yang marah dan sakit hati. Masih ada yang jauh lebih merasa kecewa dan sakit hati.
Aku berbalik perlahan.
Kulihat Alex berdiri mematung dengan raut muka tegang dan terus memandangi tulisan di depan rumah Erna.
Perlahan aku menghampirinya. Tapi semakin aku melangkah mendekat, dia malah mundur menjauh. Dan saat aku mempercepat langkahku, dia tiba-tiba berbalik dan berlari menjauh menuju motor yang di parkirkannya di seberang jalan.
Aku ingin berlari mengikutinya.
Tapi kemudian aku menghentikan langkahku karna aku pikir Alex pasti perlu waktu menenangkan diri dan keberadaanku pasti malah membuat dia tidak nyaman.
Besoknya... Alex juga ikut-ikutan membolos. Tapi mengingat kejadian sehari sebelumnya, aku pikir sahabatku itu mungkin masih perlu waktu lebih untuk menyendiri.
Yang menjadi kekuatiranku adalah Erna. Aku coba lagi mendatangi kelasnya. Siapa tau dia sudah masuk.
Salah!
Benar-benar salah dugaanku!
Aku pikir setelah rumahnya disita bank, Erna cuma akan pindah rumah dan tetap kembali lagi bersekolah seperti biasa. Sehingga ketika diberi tau oleh wali kelasnya kalau Erna sudah berhenti dari sekolah dua hari sebelumnya, kontan saja aku tidak habis pikir. Sahabat yang aku kira kukenal dekat luar dan dalam, tapi ternyata... menyimpan banyak kejutan yang tak pernah aku duga sebelumnya.
Kemarahanku lenyap...
Yang merayap di hati dan pikiranku saat itu adalah rasa kehilangan yang mendalam.
Sahabat yang selama ini selalu menceritakan semua rahasianya padaku, tiba-tiba pergi tanpa memberi penjelasan sedikit pun. Bagaikan orang yang ditelan 'lubang hitam', keberadaan Erna tiba-tiba lenyap dari sisiku.
Tidak ada lagi orang yang akan mendengarkan ceritaku, menertawakan leluconku, dan menasehatiku jika aku mulai membuat masalah.
Benar-benar kejam.
Tidakkah aku berhak mendapatkan penjelasan?! Apakah keberadaanku tidak penting baginya?
Tak terasa aku mulai menangis tersedu-sedu di bangku kelasku. Aku menangis terus sampai mataku terasa perih dan panas seperti terbakar. Sebenarnya, aku benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu dengan menangis saja. Aku ingin pergi mencari Erna, tapi aku bingung harus mencari ke mana.
Saat itulah aku baru terpikir Alex. Dia pasti belum tau tentang keluarnya Erna dari sekolah. Aku harus memberitahunya sepulang sekolah. Dengan begitu, aku bisa bersama-sama dia mulai mencari informasi tentang keberadaan Erna.
Sesampainya di rumah Alex, aku langsung berlari ke kamar Alex di lantai atas. Aku hampir setiap hari main ke rumah Alex, jadi sudah dianggap seperti anggota keluarga yang tak perlu permisi-permisi lagi jika masuk ke dalam.
Sayangnya aku tidak menemukan dia di kamarnya. Aku lantas mencarinya di ruang belajar, ruang musik, dan ruang makan tapi aku tetap tidak menemukannya. Akhirnya aku memutuskan ke dapur untuk bertanya pada pembantu Alex sambil mengambil segelas air untuk menghilangkan rasa hausku akibat mondar-mandir mencari sahabatku itu.
"Halooo... mbak Sari. Apa kabarrr??? Tambah cantik saja," sapaku seperti biasa.
"Lho, Non kok ada di sini?"
"Biasaaa... mbak. Nyariin Alex. Dia dimana sih mbak? Dari tadi dicariin kok nggak nongol-nongol? Pergi ya dia?" cerocosku sambil meneguk air yang baru aku ambil dari lemari pendingin.
"Ya ampun... berarti Non nggak tau to," serunya sambil seketika wajahnya di liputi kesedihan.
"Tau apa mbak?" Perasaanku mulai nggak enak.
"Mas Alex kecelakaan kemaren, Non. Motornya nabrak pembatas jalan. Sekarang masih dirawat di rumah sakit. Lukanya parah lho!"
Aku masih tak bisa mempercayai pendengaranku. Semuanya terjadi terlalu beruntun dan terlalu mengejutkan sehingga terkesan seperti sinetron.
"Sekalian aja Non kesana, soalnya Pak Tino mau kesana juga nganterin baju-baju Nyonya."
Perasaanku benar-benar campuk aduk. Belum lagi hilang keterkejutanku karena perginya Erna, sekarang aku harus dikejutkan lagi dengan berita kecelakaan Alex.
Sahabat macam apa aku ini. Jelas sekali dari hari pertama Alex datang padaku dengan raut wajah yang kalut dan frustasi. Seharusnya, aku tak meninggalkannya sendirian dan hanya larut pada kesedihanku sendiri.
Parahnya lagi, setelah dari rumah Erna kemarin, aku terlalu menyepelekan luka di hati Alex. Aku bahkan tak meneleponnya dan tak menanyakan kabarnya. Aku pikir Alex bisa mengatasi ini sendirian tanpa bantuanku. Nyatanya, bocah itu malah menabrakkan dirinya sendiri dan menambah daftar kekhawatiranku sekarang.
Saat kami sampai di rumah sakit, ketakutan mulai merayap di benakku. Suasana di rumah sakit yang muram dan bau-bau obat-obatan di sana, membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Berlebihan memang... tapi aku benar-benar ketakutan.
Bagaimana jika Alex jadi cacat? Bagaimana pula jika dia meninggal? Bagaimana jika...
Bagaimana jika cacatnya sedemikian parahnya dan membuatnya tak bisa bergerak dan tak bisa menyapanya lagi. Selamanya!
***