Naura Faranisa wanita yang sering dipanggil Naura itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia menangis kencang penuh emosi.
Abdi memeluk erat Naura, menggenggam tangannya dengan kuat. "Kau pasti bisa, Naura. Aku yakin!" bisiknya, kini perasaan Naura hancur ... sehancur-hancurnya. Bagaimana tidak? Dokter memvonis dirinya dengan penyakit yang tak pernah terfikirkan oleh setiap wanita.
"Aku sakit, Mas! Aku sakit!" jerit Naura menatap netra Abdi dengan linangan air mata, Abdi mengeratkan genggaman jemarinya pada Naura. Sambil mengelus lembut punggung istrinya, tanpa bisa menjawab sepatah kata pun.
Abdi membiarkan istrinya menumpahkan semua kesedihan di dalam pelukannya, Dokter yang memvonis Naura pun ikut hanyut dalam kesedihan mereka.
Istri tercinta Abdi itu telah divonis Dokter dengan penyakit yang mengerikan bagi seluruh wanita, yaitu kanker di buah dadanya dengan stadium empat dan harus mengikuti operasi untuk pengangkatan sel-sel kanker yang bersarang di bagian terindah wanita.
Wanita mana yang tidak terpukul mendengarnya? Sedangkan Naura baru saja menikah dengan pria idamannya. Abdi Ravindra Malik, pria tampan dan mapan yang sukses membuat Naura tergila-gila sampai mungkin gila beneran.
Kini Naura meratapi nasip, memegang kedua dadanya. "Haruskah Aku menjadi wanita cacat, di mata suamiku, Tuhan?" batin Naura bergejolak.
Abdi yang sangat tahu perasaan istrinya mencoba untuk menghibur hati Naura. "Kau tau, Sayang? Kau wanita cantik yang pernah, aku temui. Jadi ada atau tidak buah dadamu, aku tidak mempermasalahkan itu." Abdi memeluk Naura yang masih sangat syok dan terpukul.
"Oke Buk, Pak, harap dipertimbangkan dulu saja di rumah. Tetapi saran saya harus secepatnya dilakukan tindakan pengangkatan, karna jika terlambat sel-sel kanker nya akan menyebar lebih luas."
Mendengar perkataan sang dokter hanya membuat Naura semakin sakit hati dan ia bergegas meninggalkan suaminya di dalam ruangan itu.
Naura berjalan tertatih. Inikah nasip yang harus ia jalani? Lalu bagaimana impiannya bersama Abdi untuk mempunyai momongan?
Apakah ia gagal menjadi seorang istri? Kini fikiran Naura sangat kalut. Memikirkan tentang bagaimana hidupnya nanti? Atau malah ia tak akan hidup lebih lama lagi. Keadaan saat ini yang membuatnya bertanya banyak pada dirinya sendiri.
***
Naura yang sampai terlebih dulu di rumah, merasa semakin terpukul. Kini ia membersihkan diri di bawah genangan air shower yang mengucur dari atas, seakan air itu menutupi air matanya yang terus menetes tiada henti.
"Sayang? Apa kau sedang mandi?" tanya Abdi yang baru saja datang. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut istrinya, Abdi yang merasa khawatir dengan keberadaan istrinya. Mencoba untuk membuka pintu toilet dan benar saja dia mendapati istrinya sedang telentang tanpa busana di bawah air yang mengucur.
"Nau? Aku mohon jangan begini. Aku ingin kamu sembuh?" ucap Abdi memeluk Naura.
"Percuma ... Aku sembuh juga, aku tetap menjadi Istri yang cacat!" jawab Naura ketus sambil menatap ke arah langi-langit dengan tatapan kosong.
"Nau, Aku mohon hilangkan perasaan itu. Aku ini sangat mencintaimu." Abdi menggenggam jemari Naura hangat.
Naura beringsut bangun dari posisinya lalu duduk menatap Abdi dalam. Tiba-tiba Naura mencium Abdi, kemudian meletakkan tangan Abdi di dadanya. "Sentuhlah aku, selagi kau bisa menikmatinya, Mas!" bisik Naura di telinga kanan Abdi.
Abdi mencium tengkuk leher istrinya, menciumnya lembut dan penuh kasih sayang. Kini sepasang suami istri berpagut kasih di bawah cucuran air.
"Sayang, sembuhlah untuk, suamimu ini," bisik Abdi, membuat Naura semakin tenang. Tidak lagi menangis, tetapi ... tetap melamun yang Abdi pun tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghibur Naura atau setidaknya mengembalikan senyuman manis istrinya itu.
Naura digendong Abdi ke kasur, menyelimuti tubuhnya dan mematikan Ac kamar agar Naura tak merasa kedinginan.
Abdi memandangi Naura dalam, perasaan tak tega melihatnya terbaring lemah seperti ini. Apa Naura tahu perasaannya? Dia pun juga sangat terpukul. Namun Abdi tahan! Abdi takut Naura akan mengira ia sedang kecewa oleh keadaan.
Air mata Abdi menetes, sebenarnya yang Abdi khawatirkan adalah bagaimana hidup Naura nanti? Dan bagaimana saat Ibunya tahu jika menantunya sakit?
Apakah Ibu akan membenci Naura, karena secara tidak langsung pasti ini akan membuatnya sulit mempunyai cucu. Lalu bagaimana jika nanti pernikahannya akan hancur karna sikap Ibu? Mengingat kembali jika Ibu tak pernah merestui pernikahan mereka.
"AH! Entahlah! Yang jelas Aku akan tetap mempertahankan Naura bersamaku!" ucap Abdi yang tak sengaja mengeluarkan nada keras.
"Mas?" panggil Naura lemah.
"Iya, Sayang?" Abdi menjawab sambil tersenyum manis menoleh ke arah Naura.
"Kamu, bilang apa tadi?"
"Hah? Bilang apa?" jawab Abdi yang berpura-pura terkejut. "Mungkin Kau hanya mimpi!" jawab Abdi mengelak.
"Ah masa? Sayang ... Aku udah siap dioperasi!" ucap Naura mendadak, Abdi tertegun mendengarnya.
"Terima kasih, Sayang ... akhirnya kamu mengerti!" ucap Abdi mengelus anak rambut Naura. "Jangan berfikir apapun ya, jangan takut. Aku selalu mencintaimu sampai kapan pun itu. Aku janji!" sahut Abdi dan Naura hanya tersenyum mendengarnya.
***
Jam di atas nakas menunjukkan pukul 07:00 WIB pagi ....
Naura bersiap-siap untuk segera ke rumah sakit, dengan tubuh yang tidak dibalut apapun. Naura menghadap ke sebuah cermin, memandangi dan meraba dadanya. Hatinya hancur kembali, air matanya tetap menetes meski sebenarnya sudah dikuat-kuatkan dirinya untuk Abdi, suaminya ....
"Jangan menangis lagi, Sayang. Kau tetap cantik dalam keadaan apapun!" bisik Abdi yang tiba-tiba datang memeluk Naura dari belakang.
Naura mengambil kedua tangan Abdi, meletakkan tangan itu ke dadanya. "Kamu akan kehilangan ini, nih!" Naura terkekeh berusaha meledek suaminya, dalam keadaan haru.
"Aku, tak butuh apapun darimu, Sayang. Yang aku butuhkan hanya dirimu di sampingku selamanya. Jadi ... kumohon berusahalah untuk sembuh!" ucap Abdi meyakinkan.
"Aku janji demi keluarga kita." Naura tersenyum manis bak gula jawa kata Abdi.
"Aku, tunggu di bawah ya ...," ucap Abdi sambil mencium pipi kiri Naura.
Naura menyentuh pipinya dia merasa beruntung memiliki suami seperti Abdi. Saat ini hati Naura benar-benar merasa tenang jauh dari sebelumnya. Semua berkat Abdi, Abdi bagi Naura adalah napas, tak ada lagi yang bisa menggantikan Abdi di hidupnya.
Sekarang Naura tahu, bahwa penyakit ini bukanlah hal penting baginya. Yang terpenting adalah bagaimana dia sembuh dan bisa membahagiakan keluarga kecilnya kelak.
Naura mulai turun dari tangga, mata Abdi tak berkedip seolah terpana melihat kecantikan istrinya. Bagaimana tidak? Naura sengaja memakai perhiasan wajah yang tebal dan dress pendek sepaha hanya untuk membuat Abdi kagum oleh kecantikannya.
Naura berfikir ia harus melakukan ini untuk suaminya, agar Abdi melihat Naura berdandan cantik yang terakhir kalinya dengan buah dada yang masih menempel di tubuhnya.
Abdi terbangun dari duduknya, segera menghampiri Naura. "Sayang, kau cantik sekali," ucap Abdi sembari mengulurkan tangannya ke arah Naura.
"Terima kasih," sahut Naura.
Mereka benar-benar seperti sepasang suami istri di film Hollywood, yang dimana jika yang menonton para kaum jomblo akut akan menggigit bibir bawahnya, karena tak kuat melihat adegan romantis mereka.
Setibanya di rumah sakit Abdi menyerahkan semua berkas Naura yang harus ditanda tangani oleh sang suami. Para suster yang membantu Naura pun semuanya dipilih langsung oleh Abdi untuk merawat istri kesayangannya itu.
Semua dokter pria yang melihat Naura tak ada henti-hentinya mencuri pandang ke arah Naura dan Abdi dengan cepat menyadari.
Alih-alih cemburu Abdi malah sengaja membiarkan mereka, agar Naura bisa melihat dirinya masih begitu cantik di mata suaminya maupun orang lain.
"Buk, kita ganti pakaian dulu ya," ucap salah satu suster yang telah menyiapkan kamar rawat inap VVIP untuk Naura.
Naura mengikuti perintah suster, setibanya Naura berganti pakaian pasien. Naura berbisik ke telinga Abdi, "Sayang ... aku masih cantik gak? Pakai pakaian ini?" tanya Naura menggoda.
"Kamu selalu cantik, istriku!" sahut Abdi.
"Ah masa?"
"Gak percaya? Coba kamu liat para dokter itu ... dari tadi ngeliatin kamu terus tuh?" bisik Abdi.
"Iya sih. Kamu gak cemburu?"
"Nggak dong! karna aku tau istriku wanita yang setia," Abdi balik menggoda sembari mengentikkan satu matanya.
Naura tersenyum lebar mendengarnya. "Selalu berjanji untuk setia. Aku mohon," ucap Naura sedikit menekan.
"Aku selalu janji untuk setia, Sayang ... sehidup semati!" seru Abdi yang berhasil meluluhkan hati Naura.
Para suster yang melihat mereka berbisik tetapi sedikit kedengaran itu, membuat mereka iri sekaligus ingin secepatnya menikah.
"Mohon maap nih, Mas, Buk. Di kamar ini kan ada orang lain. Tolong lah, Mas, Buk. Jangan bikin Kami gigit jari!" celetuk salah satu suster di ruangan itu Yang berhasil membuat sepasang suami istri kini tertawa keras.
Kini Naura dan Abdi sedang menjadi perbincang hangat oleh satu rumah sakit mangun kesumo. Mereka bak pasangan yang tak akan terpisahkan, setiap orang yang melihatnya akan di buat mabuk kepayang oleh keharmonisan mereka, apalagi para kaum jomblo yang melihat bisa dipastikan mereka akan pinsan di tempat.
Gruduk ... gruduk ....
Ranjang tidur Naura dibawa ke ruang operasi, sepanjang perjalanan Abdi tetap menggengam erat jemari Naura. "Kau harus kuat Nau, Mas mohon," ucap Abdi seraya mencium jari jemari Istrinya.
Naura tak menjawab, kini tubuhnya teramat sakit. Ntah karena efek obat yang ia minum atau karena memang kini tubuhnya mulai merasakan sakit karena penyakitnya? Naura pun tak tahu yang di fikirannya sekarang ialah berhasil atau tidaknya tindakan operasi ini.
Dan sekarang Naura memasuki ruang operasi, ruangan yang amat sangat dingin. Naura mempertaruhkan nyawa di ruangan ini dengan para dokter dan perawat yang sama sekali ia tak mengenalinya.
Sedangkan Abdi yang menunggu di luar ruangan, hanya bisa berdoa, bibirnya terus menerus merapalkan doa tiada hentinya untuk sang istri. Sesekali Abdi mengusap tetesan Air mata yang tak sengaja terjatuh.
Kegelisahan Abdi disaksikan oleh para suster dan berhasil membuat para suster pun hanyut dalam ke khawatiran akan keselamatan Naura.
Kini Ibu Abdi pun datang menjenguk menantunya, bukan! Bukan untuk berbela sungkawa atas apa yang menimpa menantunya itu. Tetapi untuk memastikan Menantunya sudah mati atau masih Hidup. Jahat bukan?
"Sudahlah Abdi, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Jika Naura mati kau akan Ibu jodohkan dengan Anak Teman Ibu," ucap Ibunya. Sontak membuat orang di sekitar terbelalak mendengarnya. Termasuk para suster yang mengagumi pasangan suami istri itu.
Mereka tak menyangka di balik keharmonisan rumah tangga Abdi dan Naura, ada Mertua yang jahat bak nenek lampir! Para Suster pun bergidik membayangkannya.
"Yah tak kirain hidup Mereka sempurna, suami ganteng, istri cantik. Holang kaya. Romantis pula! Ternyata ada nenek Lampir!" celetuk salah satu suster. Rekan suster yang mendengar perkataan temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Abdi yang sibuk sedari tadi berdoa tak mendengarkan celetukan mereka.
Dan Ibunya yang kesal karena merasa perkataanya tak di hiraukan, menampar Abdi dengan tas mewahnya. "Hey Abdi, ayok Kita pulang!" ajak Ibunya dengan nada sedikit keras.
"Hah pulang? Di dalam ruangan itu Istri Abdi sedang mempertaruhkan nyawanya, Buk! Dan sekarang Ibuk nyuruh Abdi pulang?" Abdi menautkan alisnya seraya mengeluarkan suara keras.
"Untuk apa menunggu di sini Abdi? Buang-buang waktu, tidak ada yang berhasil dalam operasi ini percaya dengan Ibuk. Kita persiapkan saja acara Pemakamannya."
"Huuuuhhh, Buk. Abdi mohon. Tolong jangan berbicara seperti itu." Abdi menarik napas panjang, seraya menangis.
"Pak, tolong bawa ibuk saya keluar ya," perintah Abdi pada security di sana.
"Kau mengusir Ibuk? Hanya karna perempuan yatim piatu itu?" hardiknya dan menghempaskan lengannya dari cengkrama security.
Abdi tak menghiraukan perkataan Ibunya yang ada di benaknya sekarang, ialah Naura, Naura dan Naura! Abdi mengingat kembali pertemuannya dengan Naura saat pertama kali.
Saat itu Abdi adalah ketua BEM di Kampusnya, mereka sedang melakukan bakti sosial ke salah satu Panti asuhan di kotanya.
Abdi mengunjungi panti asuhan nusantara, setibanya di sana Abdi melihat sosok perempuan dengan rambut terurai, wajah yang sama sekali tak memakai makeup, namun anehnya gadis itu sangat terlihat cantik.
Gadis itu duduk di depan jendela melihat ke arah mereka, Abdi tersenyum ke arahnya lalu di balas senyuman itu dengan manis. Sejak saat itulah Abdi jatuh cinta pada gadis yang Abdi pun tak tahu itu siapa.
Ke esokan harinya, Abdi mengunjungi panti asuhan itu lagi. Namun gadis itu tak kunjung terlihat, Abdi memberanikan diri menanyakan ke pengurus panti asuhan Buk Ranti namanya.
"Buk apa ada seorang gadis disini?" tanya Abdi
"Gadis? Hanya ada satu gadis disini. Dia bernama Naura," sahut Buk Ranti keningnya mengerut.
"Naura ... apa aku boleh bertemu Naura, Buk?"
"Tentu saja dong."
Buk Ranti membimbingku berjalan menemui Naura, dari kejauhan Naura sedang duduk melamun di teras belakang. Buk Ranti berkata, Naura adalah gadis yang tertutup. Hidupnya penuh misteri.
Dan benar saja, Abdi yang baru saja bertemu dengannya sudah melihat wajahnya terlalu di tutupi kesedihan. Naura memang tersenyum manis, namun matanya menyeroti kenangan pahit yang akhirnya menyelimuti kepedihan di wajahnya.
Mulai dari hari itu, Abdi mulai menghibur Naura. Menjadi teman Naura dan membuat Naura tertawa sampai hilang kisah sedih di hatinya, meski sebenarnya Abdi pun tak tahu kisah seperti apa dan bagaimana? Yang jelas hal terpenting baginya adalah kepedihan itu sirna dari mata Naura.
Bulan demi bulan berlalu, Abdi semakin cinta dan sangat ingin selalu kehadiran Naura. Akhirnya Abdi memutuskan untuk menikahinya.
Namun sayang restu Mereka terhalang oleh restu Ibu Abdi yang hanya memikirkan harkat martabat dan tahta.
Ibu terlalu egois dan menyampingkan perasaan anaknya, baginya status sosial itu penting. Dan Naura ... Ibu anggap hanyalah benalu yang mempermalukan nama baik keluarga besar mereka.
Abdi tahu, hari demi hari Naura hanya menderita hidup dengannya. Meski bisa di bilang materi mereka lebih dari cukup. Namun bagi Naura selama keberadaannya tidak dianggap di keluarga Abdi, itu sama saja menyiksa hati dan fikirannya.
Dan kini ... Naura harus terbaring lemah di ranjang operasi dengan nyawa di ujung tanduk.
Abdi mengenang kenangan mereka ... lalu menghapus Air matanya.
Apa kali ini ia harus kehilangan wanita kesayangannya? Yang bahkan membayangkan hidup tanpa Naura pun, Abdi sangat takut.
Suster yang melihat Abdi sangat terpukul, menghampiri Abdi. "Maaf Pak jika lancang, Aku yakin Buk Naura baik-baik saja dan akan lekas sembuh."
"Terimakasih." Abdi tahu suster itu hanya menghiburnya.
****
6 jam berlalu ....
Kini Dokter berlalu lalang keluar. Abdi melihat mereka bingung? Dimana Istriku? Apa ia baik-baik saja? Kata-kata itu yang ingin Abdi ucapkan.
Namun, tak bisa, para dokter itu berlari begitu cepat keluar masuk dari dalam Ruangan operasi.
Abdi yang melihatnya menambah kekhawatiran di hatinya, kali ini jantungnya berdegup kencang saat mendengar ucapan salah satu dokter dari dalam ruangan itu. "Cepat-cepat! Pasien kritis." Semua dokter yang baru saja keluar langsung berlari lagi dalam ruangan.
Tubuh Abdi melemas seketika, hatinya tak terlalu kuat untuk menghadapi kenyataan. "Jangan Pergi, Nau ... Mas mohon, Sayang." Abdi lemah
Brugh! Abdi terjatuh pinsan seketika.
Di sisi lain di dalam ruangan, jantung Naura melemah, dengan alat bantu apapun tak merespon. Saat ini Naura bertemu Ibunya, Ayahnya, Adiknya bahkan Kakaknya.
Mereka berkumpul haru saling berpelukan, "Naura kangen kalian, Naura nggak mau lagi pisah dengan kalian," ucap Naura seraya memeluk keluarganya.
"Kami selalu menyayangimu, Nau. Ini belum waktunya kita berkumpul kembali. Suamimu menunggumu, Nau."
"Tapi, Buk, Pak?"
"Terbanglah bebas, Sayangku. Pergilah dari kandang untuk selamanya dan jadilah seseorang yang Ibu tidak akan pernah bisa," sahut Ibu.
Titt ... tittt ....
Monitor jantung kembali normal, kadar oksigen dalam tubuh pun kembali normal. Semua dokter tepuk tangan dengan hasil usaha mereka. Mungkin ini yang dinamakan Mukjizat!
Naura dibawa keluar dalam keadaan belum sadar, "Keluarga Naura?" panggil salah satu perawat.
"Suaminya pinsa, Kak. Noh lagi di UGD. Sini biar saya aja yang bawa ke kamarnya," jawab salah satu suster di ruang tunggu.
Suster mengantar Naura ke kamar dan tak lama Naura sadar dari biusnya. "Mas? Mas?" panggil Naura.
Namun, Abdi tak ada di sekitarnya. Membuat Naura merasa bersedih, Naura mengira suaminya meninggalkan dirinya saat sedang menjalankan operasi.
"Suami Saya pulang ya Mbak." Tanya Naura pada suster jaga.
"Yah Buk, boro-boro untuk pulang. Makan juga kayanya enggak. Selama 6 jam, Buk. Suami Ibuk nungguin Ibuk."
Jawaban suster itu membuat Naura sedikit tersipu sekaligus bingung.
"Terus di mana suami saya?" tanya Naura heran.
"Pinsan, Buk ... masih di UGD"
"Lah kenapa, Sus? Apa suami saya sakit?"
"Nggak, Buk. Tadi Suami Ibuk panik. Sangking paniknya Eh pinsan!" sahut suster itu dan berhasil membuat Naura cekikikan.
Naura meraba dadanya. Kini rata ... terlintas kesedihan di benaknya, rasanya ingin menangis dan menjerit sekencang-kencangnya. Namun semuanya tertahan, Naura ingin Suaminya melihat bahwa Naura baik-baik saja.
"Oke tenang ... tenang ... nggak boleh sedih! Aku ada suami yang sangat mencintaiku. Kurangku apa lagi?" Naura menggerutu menguatkan dirinya sendiri.
Di sisi lain, Abdi terbaring pinsan di UGD. "Pak ... Pak, sudah enakan Pak?" tanya Suster.
"Naura? Ya Tuhan Istriku," rengek Abdi
"Pak, Istri Bapak sudah sadar. Bapak yang dari tadi gak sadar-sadar!" cetus Suster
"Lah apa iya? Alhamdulillah," sahut Abdi sambil menyelonong pergi.
Abdi berjalan setengah berlari, ia tak sabar menemui istri kesayangannya ....
"Nau, Kau baik-baik saja?" tanya Abdi seraya memeluk Naura.
"Arh! Sakit, Mas." Rintih Naura
"Astaga, Nau. Maaf."
Abdi melihat ke arah dada Naura, kini dadanya benar-benar rata. Naura yang menyadari langsung menunduk. "Aku menjijikkan ya, Mas?"
"Ah! Tidak, Nau. Kau malah bertambah seksi!" bisik Abdi.
Naura hanya tersenyum mendengarnya.
"Mas boleh minta tolong? Antarkan Aku ke Toilet." ucap Naura dan Abdi pun membantu membangunkan Naura.
"Hah? Hah! Kenapa ini?" jerit Naura, Abdi terkejut melihat Naura yang tiba-tiba menjerit histeris.
"Kenapa, Nau?" tanya Abdi panik.
"Kakiku, Mas! Nggak bisa digerakin. Aku kenapa Mas?" ucap Naura menangis. Kini Naura benar-benar takut. Mungkin atas penyakitnya Naura bisa menutupi ketakutannya. Tetapi ... kali ini? Apa ia lumpuh? Apa ia tak bisa bangun lagi? Fikiran Naura mengacau. Naura menangis sangat kencang.
Abdi berlari keruangan dokter dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan, sesampainya di dalam ruangan, Abdi yang emosinya masih tersulut menunjuk ke arah dokter spesialis Naura. "Kau apakan istriku? Bukannya sebelum operasi istriku baik-baik saja? Tapi sekarang Istriku tak bisa menggerakkan kakinya!" suara Abdi keras penuh tekanan.
Dokter pun akhirnya menjelaskan bahwa ia lupa memberitahu mereka efek samping saat sesudah melakukan tindakan operasi. Karena waktu itu keadaan Naura memburuk dan histeris setelah mendengar diagnosa penyakitnya.
Seketika Abdi tersungkur duduk di lantai, apa yang harus ia katakan pada Naura? Sedangkan untuk tindakan operasi ini, dirinya lah yang membujuk Naura untuk menyetujuinya. Berharap kesembuhan dengan sedikit usaha.
Namun kini? Naura lumpuh? Abdi meneteskan air matanya. "Dok, apa istriku bisa sembuh?" tanya Abdi nanar, dokter membangunkannya menepuk-nepuk bahu Abdi. "Sabar Pak, fisik Naura kuat! Saya yakin tak butuh waktu lama Naura akan sembuh dalam waktu lebih cepat!" Abdi hanya menunduk, mundur dan melangkah pergi.
Pintu kamar Naura sudah di depan mata, Abdi perlahan masuk. Dengan air mata yang menetes. "Maafkan Mas, Nau. Mas yang memaksamu untuk operasi kan? Dan kata dokter kau lumpuh sementara karna efek operasi ini." Abdi menangis menggengam tangan Naura, perasaan bersalah semakin bergemuruh di dadanya.
Naura hanya mengelus rambut suaminya itu, Naura tahu jika ia menangis semakin membuat suaminya merasakan perasaan bersalah. "Kenapa Mas menangis? Bukannya Mas tak masalah kan dengan bagaimana diriku? Katanya yang terpenting Aku ada bersama Mas." Naura mencoba menenangkan hati suaminya.
Abdi tetap menangis seraya menggenggam jari jemari Naura. "Mas sangat mencintaimu, Nau." Di kecupnya wanita yang kini terbaring lemah lengkap menggunakan baju Pasien berwarna biru, tetapi ... tetap seperti biasa Naura masih saja terlihat Cantik.
****
2 hari berlalu ....
"Ibuk Naura, Buk ... hari ini sudah boleh pulang ya. Bilang suaminya agar segera melakukan berkas pemulangan untuk Ibuk," ucap salah satu suster dan berlalu pergi.
Naura segera mengambil gawai di ponselnya dan tak sengaja gawai itu terjatuh ke lantai. Ia menghela napasnya berat kemudian berusaha mengambil namun Naura terjatuh.
Bragh!!!
"Argh!" Naura mengerang kesakitan ....
"Astaghfirullah, Buk. Ibu nggak apa-apa?" tanya dokter yang baru saja masuk ingin melakukan visit ke pulangan.
Naura tak berani menoleh ke atas, suara itu ia kenal. Suara mantan pacarnya Bram yang dulu Naura tinggalkan begitu saja, saat kematian keluarganya.
Naura tak bermaksut untuk menjauhi Bram, perasaan tak pantaslah yang membuat Naura pergi untuk kebahagiaan Bram.
Bram membantunya, memegang lengan Naura dan menidurkan Naura ke atas ranjang. Saat ini Naura berusaha menyembunyikan wajahnya. Tetapi sepertinya Naura kurang pintar, ia tetap saja ketahuan. "Naura!" panggil Bram, mulutnya ternganga bola matanya membulat seketika.
Sontak ia langsung memegang wajah Naura.
"Bram," sahut Naura pelan, kini Bram memeluk Naura erat.
Argh! Naura mengerang kesakitan lalu Bram membaca map biru di tangannya, setelah itu mata Bram berubah menjadi Nanar.
"Nau-ra ...." Bram terbata-bata, belum sempat Bram melanjutkan pembicaraan-nya. Abdi tiba-tiba masuk.
"Siang, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Abdi yang baru saja datang, mengejutkan ke duanya.
"Istri?" sahut Bram tak percaya.
"Iya, ini istri saya." Abdi mengrenyit.
"Ouhhhh." Bram berusaha menyadarkan dirinya, "Pak ini istri anda sudah diperbolehkan pulang, jangan lupa berkas-berkasnya diurus secepatnya ya, Pak." Bram mengatakan dengan gugup, lalu memeriksa jahitan Naura.
"Cepat sehat ya, Buk," ucap Bram mengusap rambut Naura dan berlalu pergi.
Abdi yang melihat kejadian itu, memutarkan bola matanya ke arah pintu. Lalu menggerutu "Apaan sih dokter itu ngelus-ngelus rambut Kamu!"
Hush huss ... tiup Abdi ke arah rambut Naura, katanya agar bekas dan bau tangan si dokter tidak menempel di rambut Naura! Naura hanya cekikikan melihat tingkah laku suaminya.
"Udah ih, urusin berkasku, Mas. Aku pengen pulang." Rengek Naura.
"Iya Sayang sabar ya ...."
Abdi bergegas keluar, mengurus semua berkas yang harus di tanda tangani. Selesainya Abdi bersiap-siap membawa Naura pulang ke rumah.
****
Sesampainya di rumah, Naura digendong oleh Abdi ke lantai 2 kamar mereka. "Mas, aku berat ya?" tanya Naura pada suaminya yang sedang menaiki tangga, sambil membopong Naura.
"Nggak Sayangkuh."
Setibanya di dalam kamar, Naura dibaringkan lalu Abdi mencium bibir Naura. "Aku kangen, setiap melihatmu di atas ranjang kita, kamu terlihat seksi, Nau ...," bisik Abdi yang memakai jaket hitam kaos putih dan selalu wangi.
"Ah masa?" Naura tersipu malu.
"Iya ... Sayang, kamu udah baikan? Mas kangen ...," desis Abdi pelan ke telinga kanan Naura, hembusan napas suaminya kini terasa panas. Naura yang merasa tubuhnya telah kembali pulih hanya mengangguk.
Abdi yang mendapat respon lampu hijau, segera melakukan adegan bak film vampir. Saat ini tak ada lagi yang lebih penting, selain kehadiran satu sama lainnya.
"Aku mencintaimu, Nau ... sungguh mencintaimu," bisik Abdi dengan keringat yang berjatuhan di atas tubuh Naura.
****
3 bulan berlalu
Tubuh Naura semakin ringkih, tak berdaya sama sekali, sehari-hari hanyalah Abdi yang membantunya mandi, makan, buang air kecil, buang air besar. Semuanya Abdi yang membantunya.
Bukan Abdi tak sanggup menyewakan asisten pribadi untuk Naura, tetapi Abdi tak ingin ruang pribadi miliknya tersentuh oleh orang lain.
Begitulah Abdi terlalu sangat mencintai Naura. Ia tahu hidup Naura bisa kapan saja terhenti dan itulah alasan utama Abdi ingin selalu di samping Naura di setiap menitnya.
Tetapi ... itu dulu sebelum semuanya berubah! Yah semua ini memang salah Naura! Naura lah yang menyebabkan suaminya, menjadi seorang laki-laki yang brengsek! Bejat dan mungkin juga bisa dikatakan Abdi telah berselingkuh! Menghianati Naura dan mengingkari semua janjinya!
Saat itu Naura mendengar suara desahan dari dalam kamar mandi mereka, suara itu sangat pelan hampir tak terdengar.
Lalu, Naura mendengarkan dengan baik dan benar saja itu desahan suaminya.
Hatinya hancur! Sehancur-hancurnya, Naura merasa sama sekali tak berguna menjadi seorang istri. Hanya untuk melayani suaminya pun dirinya tak mampu! Air matanya menetes tertahan, kini suaminya akan keluar dari balik pintu. Naura langsung berpura-pura tidur kembali.
Cupp!
Kening Naura dikecup oleh Abdi dan berkata. "Nau, Aku sangat mencintaimu." Lalu Naura berpura-pura baru bangun dari tidurnya.
Naura melihat ke arah Abdi, kali ini Naura menatap dengan sangat dalam. Tatapan itu membuat Abdi bertanya. "Nau ... kamu kenapa? Ingin sesuatu?"
Naura menggeleng.
"A-aku ingin me ... menyewakan wanita penghibur untukmu, Mas." Naura terbata-bata sedangkan Abdi terkejut mendengarnya.
"Hah! Kau gila, Nau? Jelas sudah Mas nggak mau, Nau!" bentak Abdi, baru kali ini Abdi membentak istrinya.
Naura menangis, Naura merasa sudah benar-benar hanya menjadi beban suaminya.
"Maaf, Nau. Mas nggak bermaksut marah. Mas hanya ingin Nau tau kalo itu nggak mungkin!"
"A-aku mohon, Mas ... anggap saja itu A-aku," ucap Naura memohon.
Abdi tak menjawab apa pun, Abdi keluar meninggalkan Naura. Abdi mengira bahwa Naura hanyalah berbasa-basi saja dan nanti juga akan reda dengan sendirinya.
Namun, beberapa jam setelah Abdi kembali ke kamar, Naura tetap menangis. "Gi-gimana Mas? Sudah dapet wanitanya? Biar aku lega." Rengek Naura.
Abdi tak menjawab, Abdi hanya tak habis fikir dengan fikiran Naura sampai ingin menyewakan dirinya seorang wanita penghibur? Untuk apa? Untuk memuaskan dirinya? Atau untuk menemaninya dirinya di rumah ini? Abdi pun tak tahu.
Memang beberapa akhir ini Abdi merasa sangat kesepian, tetapi itu semua ia tepis dengan hanya melihat istrinya bersih, sehat pun Abdi bahagia.
"Oke, Nau. Maksutmu bagaimana?" tanya Abdi
"Aku ingin menyewakanmu wanita penghibur, Mas. menemanimu sebagai penggantiku. Anggap saja itu hadiah dariku dan anggap saja dia itu aku!" jelas Naura lemah.
Abdi terenyuh mendengar alasan Naura, dengan keadaan seperti ini saja ia tetap memikirkan suaminya.
"Kalo Mas nolak?"
"A-aku sedih. Karna tak bisa menemanimu jika ada dia, Aku senang karna ada penggantiku."
Naura berfikir inilah jalan satu-satunya, dari pada mencari istri lagi? Lebih baik hanya menyewa wanita sebentar saja, setidaknya sampai dirinya kembali pulih, semua itu Naura lakukan agar suaminya tak merasa kesepian lagi.
"Oke, tapi Nau yang milih ya." Abdi mengiyakan.
Degh!
Tiba-tiba hati Naura perih, sangat perih mendengar Abdi mengiyakan permintaannya itu. Aneh? Bukankah dirinyalah yang meminta suaminya menyewakan wanita penghibur sebagai pengganti dirinya.
Namun, saat Abdi mengiyakan, mengapa hati Naura terasa amat sakit?
"Huu-uhhh," Naura menghembuskan napas lalu menggeleng. "Mas aja yang milih. Sekarang ya," sahut Naura.
"Oke," Abdi mengambil jaket dan bergegas keluar.
Air mata Naura menetes, apa keputusan-nya salah? Mengapa dirinya sesedih ini? Rasanya perasaan Naura sangat hancur menerima suaminya sebentar lagi bukan hanya miliknya, tetapi juga milik orang lain.
"Oke ... tenang, tenang Naura ... ini hanya sementara." Naura menenangkan dirinya.
Berjam-jam lamanya akhirnya Abdi kembali, membawa wanita sangat cantik, seksi dan juga bertubuh molek.
"Mas Abdi memang pandai jika harus memilah milih wanita," celetuk Naura di dalam hati.
"Kenalin ini istriku."
Mas Abdi mengenalkanku pada wanita penghibur pilihannya, wanita itu berjalan ke arah Naura.
Dia benar-benar kelihatan sangat cantik, dengan pernak pernik di pakaiannya, rambut sepinggang dan rok ketat hitam pendek hanya sejari dari pinggang.
"Salam kenal, Mbak. Namaku ... Aqila," sapanya dan Naura hanya tersenyum.
"Mas, tinggal dulu ya, Sayang," izin Abdi.
"Mau kemana, Mas? Jangan tinggalin Aku." Rengek Naura yang membuat Abdi bingung.
"Lalu?" tanya Abdi.
"Disini saja." Abdi semakin bingung mendengarnya.
"Aqila nggak malu kan?" tanya Naura.
"Aku ini wanita penghibur, Mbak. Sudah tak ada lagi Malunya."
Sontak perkataan itu membuat Abdi terkejut mendengarnya. Abdi tak bisa membayangkan dirinya harus meniduri wanita lain di depan istrinya.
Naura mengedipkan mata ke arah Aqila, seperti kode yang Abdi pun tak mengerti.
Namun, beda pada Aqila yang sepertinya sudah paham dengan kode tersebut.
Aqila mendorong Abdi ke sudut tembok, kini Abdi di permainkan. Satu persatu bajunya telah dilepaskan oleh Aqila dan Abdi masuk dalam buaian Aqila.
Kini Abdi mulai menunjukkan Aksi itu ke Aqila, Abdi yang buas setelah berbulan-bulan lamanya menahan diri.
Aqila mendesah kuat! Desahan itu membuat hancur Naura! Naura kini seperti boneka di mata mereka, terlihat namun di abaikan.
Air mata Naura yang menetes tak lagi Abdi hiraukan.
Ingin rasanya Naura menghentikan adegan itu, hatinya sudah terlalu sakit menyaksikannya.
"Ya Tuhan! Apa Aku perempuan bodoh? Yang dengan sengaja menyuruh suamiku menyewa wanita penghibur dan menyaksikan mereka bersenggama di depanku?!" Naura menangisi kebodohannya.
****
1jam lamanya, wanita itu kini meringkuk di samping Naura. Jangan tanya lagi bagaimana perasaannya, sangat dan sangat jijik Naura melihat wanita itu!
Emosinya tertahan, mau bagaimana pun ini semua salahnya, Naura menaruh garam di luka hatinya sendiri. Bodohkan?
"Yuk, Aqila. Mas anterin pulang," Ajak Abdi.
"Lututku lemes, Mas ... gendong ke bawah ya." Rengek wanita itu.
Rasanya Naura ingin menjambak rambut wanita itu, kini Naura hanya memegang dadanya. Hatinya sakit sekali harus berbagi suami yang sangat ia cintai.
"Mas berjanjilah untuk selalu mencintaiku." Kata-kata itulah yang ingin Naura ucapkan. Tetapi, bibir ini seakan tak sanggup lagi berbicara.
Air mata Naura menetes, matanya seakan perih melihat Abdi menggendong Aqila. Tanpa menghiraukan Naura apalagi sekedar berpamitan dengannya.
Sekecil itukah perasaan Mas Abdi kepadanya? Hingga baru saja dirinya bermain Api sudah lupa akan Istrinya.
Naura memikirkan memang kali ini dirinya yang salah, dan nanti setelah suaminya kembali, Naura akan melarang Abdi berhubungan dengan Aqila lagi.
"Oke ... tenang, tenang Naura! Ingat Abdi sangat mencintaimu." Naura bergumam.
Tak lama setelah berjam-jam Naura menunggu kedatangan Abdi, Abdi akhirnya pulang juga. Kini Wajahnya persis seperti dulu saat sebelum Naura terbaring sakit. Wajah Abdi terlihat sangat fresh dan sangat bergembira.
Tubuh Abdi merebah di samping Naura, dengan sibuk membalas chatting di ponselnya. Terkadang juga Abdi tertawa kecil lalu tersenyum sendiri.
"Mas? Lagi jatuh cinta dengan siapa? Aqila?" tanya Naura, hatinya seakan meletup-letup karena terbakar api cemburu.
"Ngawur! Ya ndak lah!" sahut Abdi tersungut.
"Bagus deh, kalo gitu besok Mas Abdi jangan ketemu Aqila lagi ya." Rengek Naura lalu menyenderkan kepalanya di bahu Abdi.
"Hah? Mas nggak mau, Nau! Mas ini bukan bonekamu yang bisa kapan saja kau atur-atur!" sahut Abdi penuh penekanan.
Seketika ia bangkit dari tidur lalu melangkah ke arah pintu.
Brag!
Pintu tertutup dengan kencang. Kini Naura hanya menganga syok! Melihat kelakuan suaminya. Bak petir di siang bolong baginya, setelah sekian lama pernikahan mereka baru inilah mereka bertengkar.
Naura menangis terisak, melihat sifat suaminya yang tiba-tiba berubah seketika. Seperti permainan koin yang hanya dilempar saja akan sangat cepat terjatuh, lalu berubah dari sisi kanan ke sisi kiri.
Naura meratapi nasip, penyesalan, air mata yang sekarang sudah tidak ada gunanya lagi!
Dan Naura pun juga tidak akan tahu bahwa sebenarnya ini hanyalah awal dari sedikit kesakitan yang Naura akan rasakan nanti.