Bab 1

"Astaga, apa lelaki itu benar-benar berniat menemuiku?"

Aku mau tak mau merutuk kesal saat jam sudah menunjukkan sebelas malam, tetapi Ray masih juga tak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Aku bahkan harus ekstra sabar menghadapi beberapa lelaki yang datang merayu, sementara itu Mami Berta sebagai mucikari diam-diam mengawasi sembari sesekali melihat keluar dan memencet telepon.

"Sudahlah, Nona, lebih baik kau temani kami. Kau tau 'kan kami orang berduit juga, tak akan kukecewakan kau dengan bayaran."

Mereka masih berusaha merayu, beberapa di antara mereka bahkan berjanji akan memberikanku perhiasan bila sekali aku berbagi ranjang dengan salah satu di antara mereka, tetapi aku hanya diam, melihat keluar. Perasaan ragu itu bahkan membuatku mendadak bangkit, mendekat pada Mami Berta setelah wanita itu mengisyaratkan padaku untuk maju.

"Ray sepertinya tak akan datang, Nona. Mungkin dia harus menyelesaikan pekerjaannya."

Ia menatap padaku, menjeda sebentar.

"Kau akan menerima satu di antara mereka?"

Harus. Aku akan pulang kampung, dan dalam waktu dekat ini aku membutuhkan banyak uang, jadi kurasa ... kulirik mereka yang kemudian mengedipkan sebelah mata. Dari tatapan-tatapan nakal yang serasa menelanjangi seluruh tubuhku, jelas aku paham, tapi ....

"Nona pilih satu di antara mereka, Mami."

Setelahnya aku menghampiri mereka dan lima orang itu mendadak bangkit seperti ingin menyambut. Aku jadi mundur sambil berdecih.

"Saya pilih yang bisa bayar mahal!"

Aku menjawab tegas dan mereka sama-sama tertawa sambil menatap satu sama lain.

"Berapa permintaanmu, Nona?"

Salah satu di antara mereka langsung bertanya, seolah-olah takut memberi harga yang mungkin terlalu murah untukku. Entahlah, aku sendiri bingung, mereka jelas tahu ini bukan pertama kalinya aku bekerja sebagai wanita penghibur, sudah tentu aku juga tidak perawan lagi, tetapi cara mereka memperebutkanku seolah selalu menjadi yang paling berharga di tempat ini.

Mungkin karena Ray tidak pernah mengizinkanku bersama lelaki lain saat kerja. Rayhan Bagaskara, lelaki itu bahkan tak jarang bersikap overprotektif seolah-olah aku hanya miliknya, anehnya selama ini tak ada yang pernah berani mengalahkan Ray meski ia hanya seorang salesman biasa.

"Di atas 50 juta."

"60 juta?"

"75 juta."

"89 juta."

Mereka masih sibuk bertanding, sementara aku hanya memainkan hp sambil menunggu kesepakatan, tapi di menit-menit berikutnya masih juga tak ada yang menambahi dan aku menjadi paham. Lelaki yang mengucapkan angka 89 itu sendiri kemudian tersenyum puas dan langsung mendekat.

"Akhirnya lo jadi milik gue juga, Nona." Mata nakalnya makin liar disertai tangannya yang seperti ingin merangkul, tetapi belum apa-apa seseorang sudah tiba-tiba menarik tubuhku dari belakang lalu berujar,

"100 juta!"

Deg

Suara itu ....?

Dan tepat setelahnya aku sudah mendapati seseorang menarik tubuhku menjauh disertai seringaian kecil.

"Berani kamu pilih lelaki lain saat aku tak ada, Nona?"

***

Tidak seperti dugaan awalku bahwa semuanya akan menjadi malam-malam yang panjang. Sebelum jam dua pagi Ray bahkan sudah menyudahi pergulatan kami. Ia seperti kelelahan dan tertidur di sampingku.

"Kau mau menikah denganku?" tanyanya setelah pagi buta dia kemudian terbangun.

Aku mengucek mata, menguap lalu menjawab, "Kau ngigo, Ray?"

Ia langsung berdecih. Jelas, Ray pasti kesal dengan tanggapanku itu, tetapi ... yah itulah dia, selamanya aku bahkan tak perlu berpikir tentang jawabannya.

Maknanya tak jauh beda dengan memintaku menjadi istri kedua yang hanya Ray simpan di tempat tertentu. Menemuiku saat butuh dan ... oh ayolah, meski mungkin itu lebih terhormat dari profesiku sebagai Nona Bintang-yang masuk dalam daftar wanita penghibur, tetapi aku tak suka bila harus menyakiti perempuan lain, dan ini bukan pertama kalinya ia mengajakku.

"Biarkan istrimu menjadi lebih baik dulu, Ray, atau biarkan rumah tangga kalian berjalan apa adanya. Setiap orang bisa berubah."

"Dengan apa? Menunggu? Ah!"

Ia melepaskan rangkulanya dariku. Menarik napas berat sampai kesunyian itu menyelimuti. Aku jadi tidak enak, tetapi tak tahu bagaimana membuatnya ceria seperti tadi malam saat ia menggauliku. Untunglah nada tone dari hp-nya kemudian mengalihkan perhatian kami dengan cepat. Ray mendengkus kesal, tetapi setengah malas tetap mengangkat.

"Ya?"

Ia berhenti, wajahnya berubah semringah seketika. Siapa yang meneleponnya?

"Di rumah? Oh ya? Tunggu, aku tadi keluar sebentar."

Ia berhenti lagi, mungkin orang yang diajaknya bicara sedang berbicara.

"Tidak, tadi aku hanya hendak beli makanan saja, bosan makanan di rumah selalu bikin tidak selera. Kau mau dibawakan apa?"

Berhenti lagi, tetapi kali ini bibirnya mengulum senyum.

"Oh ya, baiklah. Tunggu aku."

Ray bangkit, lantas membiarkan tubuhnya yang telanjang itu ke kamar mandi. Dua menit kemudian keluar dan memakai pakaiannya lagi. Lelaki berkulit kuning langsat itu lantas menyambar tasnya dan segera keluar.

Oh, apa dia mau pergi begitu saja? Aku sempat ternganga dan ingin protes, tetapi tertahan tubuh Ray yang kemudian masuk lagi. Tangannya membawa segepok uang yang langsung ia beri padaku.

"Aku pergi, Sayang. Sisanya sudah ku transfer. Makasih malamnya, bye!"

Ia mencium pipiku lalu berbalik dan pergi begitu saja. Tak lebih dan tak kurang, itu saja, pipi dan uang! Tanpa sadar bibir bawahku digigit, rasanya sedikit menyebalkan. Entah sudah berapa ada kata sayang dalam dirinya, lalu siapa yang menghubunginya tadi? Ah, kenapa juga aku harus peduli.

Aku memilih ke kamar mandi dan memunguti pakaianku yang berserakan di lantai. Selalu membawa ketidaksadaran bila aku melayani seorang Rayhan Bagaskara, lelaki salesman biasa yang seharusnya berkantong pas-pasan, tetapi bayarannya entah dari mana selalu memuaskan. Lebih lagi perlakuannya itu, inilah yang mungkin membuatku lebih suka memilihnya dibandingkan yang lain.

Kulirik jam di pergelangan, angka sudah menunjukkan tiga pagi ternyata, masih ada waktu untuk istirahat. Aku kerja sekitar jam tujuh, setidaknya bisa bersantai di indekos lalu menulis sebait topeng-topeng kebohongan itu lagi. Bergegas aku bangkit dan berjalan keluar.

Aroma kopi langsung menguar begitu aku lewat. Itu pasti berasal dari kedai kopi yang berada tepat di sebelah kamar ini. Warung kecil dengan beberapa kursi yang akan tampak ramai bila malam, siapa duga bahwa itu menyimpan kelicikan sekadar menutupi keaslian pekerjaan kami?

Buru-buru aku melambai pada sopir angkot setelah di luar, masuk dan langsung duduk. Hanya ada pak sopir dan putriya, Neila. Mereka duduk di jok paling depan dan aku hanya tersenyum sebelum orang tua itu melajukan angkot. Aku tidak perlu heran mengapa angkot bisa sesepi ini, karena bahkan jelas ini bukan waktu angkot beropasi, tetapi karena suatu keperluan saja pak sopir kemudian sekalian mengizinkanku menumpang.

Keluarga pak sopir tidak memiliki kendaraan lain, sementara Neila bersekolah di tempat jauh, itulah mengapa pagi-pagi buta lelaki tua itu selalu sedia mengantar putrinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Lebih baik menunggu daripada telat, Neng."

Begitu cicitnya tiap kali aku bekomentar tentang waktunya yang menurutku masih terlalu pagi, aku hanya menanggapi dengan senyum, merasa tidak perlu banyak bertanya lagi. Aku merasa beruntung sekaligus karena tak perlu susah-susah mencari tumpangan.

Kupilih menyenderkan kepala pada kursi angkot lalu memejamkan mata, rasanya masih cukup melelahkan meski sudah setahun berjalan.

Dret ... getar hp mengalihkan perhatianku, kuambil. SMS dari Laila ternyata.

[Slamat pgi, Kak, jngan lupa salat subuh, ya. Sehat slalu.]

Hanya itu, tak ada lagi, kubiarkan tanpa membalasnya, hanya dudukku saja yang telah berubah posisi menjadi tegak. Tunggu saja, Lail, kakakmu sedang perjalanan pulang. Dia masih menjelma menjadi Nona Bintang, nanti kalau menjadi Rahma lagi pasti kakak balas.

Bab 2

Apa dia Ray? Mataku melebar mendapati lelaki tinggi atletis tengah membelakangiku sembari menggandeng wanita berkemeja toska. Mereka memasuki bank BRI sambil sesekali bercakap-cakap.

Sepatu hells-ku yang baru saja menginjak lantai mendadak terhenti.

Pakaian lelaki itu kemeja abu-abu dengan lengan pendek dipadukan celana bahan hitam yang senada dengan warna sepatunya.

Aku yakin itu Ray, kulit mulusnya yang berciri khas kuning langsat itu makin membuatku kenal. Yah, itu dia yang selalu bergelut dengan tubuhku tiap malam. Meski yakin, untuk beberapa saat aku hanya berdiri saja sambil menyaksikan mereka.

Tubuhku sendiri sudah berbalut kaus putih dengan bagian luar blazer maroon, sudah tidak lagi memperlihatkan bagian dada, sementara kepalaku tertutupi Hijab Saudia yang cukup aku ikat bagian ujungnya. Ini penampilan yang mungkin tak akan membuat Ray kenal.

Aku memilih berjalan lalu masuk dan duduk di kursi antrean. Sebelum ke tempat kerja, aku ingin mampir dan menabung dulu. Ada banyak orang yang ternyata juga mengantre di sana, dan Ray menjadi salah satunya.

"Lagi ngantri, Teh?"

Wanita yang tadi bersama Ray duduk di sampingku, sementara Ray entah ke mana. Ia memiliki bulu mata lentik dengan hidung bangir, tetapi terlihat kontraks dipadukan bentuk wajahnya yang oval, alisnya tebal dan berbentuk bulan sabit disertai lengkungan kecil. Bibirnya tipis kemerah-merahan, cantik! Sekilas aku malah jadi juri yang menilainya.

"Iya, Teh, baru sampai juga, kok, makanya nunggu. Teteh dari tadi, ya nunggu, makanya juga masih nunggu."

Ia langsung tertawa kecil.

"Hehehe, iya, yang lama saja masih nunggu, apalagi yang baru datang," cicitnya pelan, tawanya terdengar renyah dan menyenangkan, sementara pipinya memperlihatkan cetakan lesung di bagian kiri. Terlihat lebih cantik dan manis, hanya saja ... kenapa perempuan seanggunnya tak bisa membuat Ray bertahan dalam satu ranjang dengannya? Untuk beberapa saat aku biarkan saja pertanyaan itu menggantung sembari bercakap-cakap. Sebisa mungkin hanya percakapan biasa yang mungkin terksesan basa-basi.

"Suamiku lelaki yang baik. Keadaan saja yang mungkin selalu tak berpihak pada kami sampai harus sesekali berjauhan."

Pada akhirnya aku tak bisa menghindari percakapan yang mengarah pada suaminya, lelaki yang aku yakin itu adalah Ray. Wanita ini ternyata bernama Chayra, umurnya baru sembilan belas tahun dan menurutku masih terlampau muda. Berbeda dua tahun denganku yang sudah berumur dua puluh satu. Dia menikah sejak umur delapan belas, dan itu artinya pernikahan mereka baru setahun berjalan?

Entah apa, seperti ada hawa panas yang tiba-tiba saja memenuhi dadaku, menjalar ke seluruh tubuh diikuti tangan yang kemudian terkepal kuat. Aku bahkan perlu menarik napas berkali-kali seolah meredakan emosi. Astagfirullah, jangan katakan bahwa aku sedang kecewa. Aku rasa sudah cukup mengenal Ray, tetapi nyatanya kenapa masih seterkejut ini?

Lima tahun pernikahan, penampilan setengah telanjang, tidak sopan dan suka amukan selain kesibukannya adalah bagian dari ciri khas istri Rayhan Bagaskara, itu yang pernah Ray katakan, tetapi perempuan ini? Bibirku sudah tertarik ke

samping membentuk senyum kecut. Sampai kapan lidah lelaki akan membutakan penglihatanku?

"Mungkin baru dua bulan, syukur alhamdulillah."

Ia memegangi perutnya yang sedikit buncit, Chayra ternyata hamil. Lidahku makin terasa kecut.

"Sudah selesai, Sayang. Ayo pulang!"

Laki-laki yang aku yakin Ray mendekat lalu merangkul tangan Chayra. Mereka saling tersenyum, lalu Ray membiarkan lengan Chayra yang menggandeng lengannya.

"Teh, kami pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Nadaku sedikit mengecil saat tatapan Ray beralih padaku, bola matanya membesar dan bahkan langkahnya terhenti memandangiku. Oh, apa dia baru saja melihat hantu? Tak perlu seterkejut itu, Ray, aku tahu pun juga tak berpengaruh pada keputusanku. Tetap saja tutupi topengmu.

Aku akhirnya memilih mengalihkan pandangan saat sadar Ray yang tak juga mau berhenti menatapku.

"Nona, kau Nona Bintang, 'kan?"

Ray nekat menghampiriku, matanya masih membelalak dan memperhatikanku dari bawah sampai atas. Oh ayolah ... aku paling tak suka diperhatikan saat telah menjadi Ervina Rahma. Kugelengkan kepala.

"Namanya Rahma, Mas."

Chayra yang menjawab, bibirnya tersenyum meski sempat kulihat seperti ada kerutan keheranan dan tatapan curiga. Apa dia wanita sehebat itu? Tak langsung menghakimi kami layaknya istri pencemburu saat mendapati tanda-tanda ada pelakor. Hem ... baiklah, aku makin acungi jempol dengan kebohongan Ray selama ini tentangnya. Kusunggingkan senyum ramah lalu segera ke depan, untung saja sudah giliranku juga.

Aku mengeluarkan uang dari tas. Lumayan banyak, cukup untuk simpanan dan biaya keluarga di kampung.

"Maaf, boleh saya duluan?"

Lelaki berkemeja putih mendahuluiku yang baru saja ke depan setelah mengantre beberapa kali. Apa-apaan ini, ia baru datang dan seharusnya melakukan hal yang sama, bukan? Tak kupedulikan dan tetap menyerahkan ATM dan uang.

"Maaf, Teteh, boleh Aa'-nya yang duluan?"

Bagian teller malah dengan menyebalkannya tersenyum sambil menunjuk lelaki tadi. Ini sudah hampir jam sepuluh dan aku sejak tadi menunggu sampai beberapa jam karena saking penuhnya, ditambah lagi itu menyebabkan dadaku sesak karena mendapati Ray yang ternyata tak jauh beda dengan lelaki lain. Apa ia mau menambahnya? Sepertinya hariku makin melelahkan!

"Tadi Aa'-nya sudah duluan, Teh. Cuma habis ke toilet."

Ia seolah memberi pengertian, aku melirik sekilas pada lelaki yang dimaksudnya. Lelaki itu ternyata sudah dekat sekali dan seperti siap mengganti posisiku sembari menunjukkan nomor antrian, jari-jarinya bahkan sampai mengetuk-ngetuk meja. Oh sepertinya ia sudah tak sabar, aku lekas bangkit dan mundur. Ini menyebalkan!

"Jangan sampai ketuk kursi kali, A'," cicitku yang sempat membuat ia terbelalak. Detik kemudian ia sudah terlihat menoleh kanan kiri, sementara bagian teller masih tersenyum, sesekali seperti berusaha menjelaskan.

"Ada apa sih A'?"

Aku yang berada tepat di belakangnya tak bisa untuk tak bertanya.

"Ini Teh saya ingin tarik tunai 15 juta, tapi kata mbaknya untuk kategori simpedes maksimal 5 juta, jika ingin nambah bisa kembali besok katanya, tapi waktu saya tidak banyak. karena besok saya sudah akan pulang kampung."

"Kan bisa ambil pas udah di desanya, Ak Lagipula apa tidak khawatir bawa uang banyak pas di perjalanan? Kalau kecopetan bagaimana?"

"Astagfirullah Teteh ini, jangan do'ain yang jelek-jelek atuh, Teh. Saya ndak mau ambil di daerah saya karena akan sedikit ribet, harus nyeberang pulau kalau mau ke ATM. Selain itu saya butuh uang lebih untuk keperluan oleh-oleh. Pasti ibu dan orang-orang di rumah sudah menunggu, saya ndak mungkin mengecewakan mereka."

Ia menjelaskan panjang lebar, sementara aku jadi melirik pada uang di dalam tas. Uang ini lebih dari kata cukup.

"Saldo di ATM-nya cukup, kan?"

"Iya atuh, Teh. "

"Ya sudah ikut saya." Aku menyudahi ucapan dengan meminta izin sebentar pada bagian teller.

"Tolong Aak tf ke rekening ini dan ini uangnya."

Aku memperlihatkan nomor ATM-ku setelah menghitung uang sesuai kebutuhan lelaki itu. Dan ia sempat terlihat kebingungan.

"Oh jadi Teteh mau membantu? Terima kasih banyak, Teh, saya ke mesin ATM dulu."

"Loh kok ke mesin ATM? Pakek mobil banking aja Ak, biar cepet."

"Mobil banking itu apa, Teh?"

What...? Aku mendadak terlongo, memandanginya dengan seksama tapi wajahnya terlihat polos dan seperti orang yang benar-benar kebingungan. Aku jadi menggeleng tak jelas lalu tersenyum kecil.

"Bukan apa-apa kok, Ak, ya sudah ke mesin ATM saja," jawabku akhirnya. Bisa-bisa makin lama aku kalau harus menjelaskan.

Tak lama ia datang dan menunjukkan bukti transfer sementara aku mengecek di mutasi, setelahnya langsung kuserahkan dan dia menghitungnya untuk memastikan sekali lagi.

"Syukron, Teh, saya ...."

Ia menjeda kata-katanya lantas seperti orang kebingungan dan mencari-cari sesuatu.

"Ini. Syukron katsiron."

Tasbih kecil berwarna cokelat ia sodorkan, aku mengambilnya ragu setengah menahan kesal. Sudah itu ia langsung pergi. Apa ini? Tasbih, lalu syukron? Oh apa ia sedang tidak tahu tempatnya dan siapa yang diajak bicara?

Meski tahu artinya ia mengucap terima kasih, tetapi bukankah orang akan menyesuaikan perkataan bila sama mereka yang lebih-lebih sudah diyakininya anak pondok? Apa karena jilbabku yang bahkan masih belum syar'i? Lalu pemberiannya? Ini sebagai tanda terima kasih? Keningku sudah sukses aku urut lagi, lantas buru-buru kembali ke ruang sebelumnya. Aku harus cepat, aku sudah terlambat kerja karena lama di sini.

Bab 3

“Lagi-lagi telat. Telat, telat, dan telat. Niat enggak sebenarnya kamu kerja di sini?”

Ibu Helni langsung memarahiku begitu sampai, toko sudah buka, dan bahkan semua barang-barang sudah dikeluarkan. Satu teman karyawanku juga terlihat santai sambil duduk menunggu pembeli. Biasanya bila tidak ada pembeli ia akan mengelap bagian-bagian yang kotor. Rupanya ia sudah selesai pada tugas apa pun.

“Saya mau beli bakso, laper. Ibu mau dipesankan?”

Aku mengeluarkan rayuan mautku, wanita bersanggul dengan urat leher kebiruan itu perlahan melirik padaku lalu menetralkan suaranya, ia mengangguk.

Aku langsung tersenyum dan pergi, aku memang selalu berhasil untuk mengajaknya berdamai. Senyumku jadi sedikit lebar, langkahku makin gontai memasuki warung bakso yang berada tepat di depan toko Ibu Helni. Jaraknya sekitar sepuluh meter dan hanya dipisahkan jalan raya yang sesekali dipenuhi kendaraan berlalu lalang. Tangan aku angkat sekadar memberi isyarat sebelum berjalan, lalu segera melangkah, tetapi ....

“Ikut!”

Entah dari mana seseorang sudah menarikku dan membawa masuk angkot. Aku tergagap dan tak bisa menolak. Semuanya terlalu tiba-tiba, lebih lagi saat mendapati sosok yang menjadi pemilik tangan itu. Lelaki bermanik mata hijau dengan rambut sedikit gondrong, tetapi tetap terlihat tampan dengan kulitnya yang kuning langsat dan bibir bawahnya yang membelah.

“Nona, ini kamu, Kan?”

“Nona siapa? Lepas!”

“Jangan pura-pura!”

Tangannya masih belum lepas menarikku. Hanya ada aku dan dia di angkot ini? Apa ia baru saja merencanakannya dan membuat angkot sesepi mungkin?

“Nama saya Rahma, Anda salah orang! Lepas!”

“Bohong!”

Ray makin mengeraskan tarikannya, bahkan sudah mirip cekalan. Lelaki ini benar-benar kurang ajar, apa ia tak punyak kerjaan sampai harus mengurusi orang lain?

“Anda mau apa? Saya harus kerja. Jangan halangi jalan saya. Minggir!"

Aku masih berusaha tenang, meski tak urung nadaku mulai meninggi. Lengan berkali-kali coba aku hentakkan, tetapi yang ada lenganku makin memanas karena cekalannya.

“Kita baru tadi malam melakukannya. Apa ingatanmu sependek itu sampai melupakannya?”

Aku mendelik, dadaku makin memanas.

“Melakukan apa, hah? Omong kosong! Saya tak kenal Anda!"

Ray tersenyum sinis, tatapannya makin lekat, dapat aku temui keyakinannya melalui senyum itu.

“Apa sebegitu miripkah sampai suaramu juga sama, Nona Bintang?”

“Saya Rahma, harus berapa kali Saya katakan, hah? Anda salah orang!"

“Tidak mungkin! Kau buktikan dulu. Aku akan melepaskan kalau ada bukti.”

Ia tak kalah sengit mengatakannya. Bibirnya setengah tersenyum sinis. Mendadak aku menggigit lalu mendorongnya. Sudah itu aku memilih keluar dari angkot dengan tubuh setengah meloncat. Orang lain bisa memperlakukan apa pun pada tubun Nona Bintang, tetapi tidak dengan Rahma!

****

Napasku sedikit ngos-ngosan, keringat sebesar biji jagung membanjiriku. Ini melelahkan, meski akhirnya Ray tidak mengejarku, tetapi aku lebih memilih lari. Apa pun topengku haruslah tetap menjadi rahasia. Tak ada siapapun yang bisa tahu, meski itu Ray.

“Kau kenapa?”

Airin sedikit menyenggol lenganku dengan kerutan kening, dia teman kerjaku. Sepertinya ia baru saja melayani pelanggan, ia bahkan belum selesai membuang tumpukan sampah yang kurasa berasal dari dalam tas. Ia menuntunku duduk dan mengisyaratkan untuk membuang sampah.

“Pelanggan di club?” Ia sedikit mengecilkan suaranya, mungkin khawatir Ibu Helni mendengarnya. Wanita itu sudah merengut lagi padaku, mungkin karena baksonya gagal aku beli. Aku tidak mau terlalu mengambil risiko, bisa saja Ray menemuiku lagi. Uh, kenapa juga tadi harus bertemu?

“Dia mengejarku. Dia menyakini aku sebagai Nona Bintang.”

Airin terbelalak, mulutnya menganga. Aku mendadak mendengkus sembari sedikit mengibaskan tangan di depannya. Ini bukan pertama kalinya aku cerita, harusnya ia tak perlu seterkejut itu, bukan?

“Kamu itu harusnya berhenti kerja di sana, Ra. Ntar bisa dituduh pelacur lo. Mau kamu dapat titel itu? Ndak keren tau!”

“Ah, kamu selalu itu-itu saja. Bosan aku, Rin.”

Kukibaskan tangan lagi. Gadis ini memang tidak tahu apa pekerjaan asliku. Yang ia tahu aku hanya bekerja di sini dan bekerja sampingan di sebuah club sebagai waiters, tetapi inilah dia, aku memang tak ingin siapapun tahu.

Assalamualaikum cinta sejati ....

Assalamualaikum kekasih hati ....

Nada Assalamualaikum Beijing dari hp androidku mengalihkan perhatian. Aku angkat,  tetapi sebelumnya sudah memilih ke kamar mandi. Dari Ray, tumben dia harus meneleponku. Apa ingin membahas hal tadi? Ah, ini benar-benar melelahkan!

"Kau bisa menemuiku?”

Tanpa basa-basi ia sudah mengajakku. Nadanya sedikit pelan meski masih terdengar ciri khas manjanya. Itu nada yang sama tiap kali ia meminta Nona Bintang melayaninya, tetapi aku Rahma, saatnya menjadi Rahma. Lagipula kenapa harus aku, ada istrinya yang cantik bisa menemaninya. Bukankah mereka sudah berkumpul lagi?

“Na, kamu bisa dengar aku? Please ... aku butuh kamu.”

Suaranya terdengar lebih parau, ada apa dengannya? Apa sikapku yang mengabaikan perkatannya menyinggungnya?

“Aku kerja, kau tau, ‘kan, aku punyak kesibukan sendiri.”

“Na, dunia seperti itu membosankan. Ayolah, kita tidak pernah sehari pun melewatkan waktu bersama selain malam. Aku juga ingin bicara.”

“Bicara apa?”

Aku masih berusaha tegas meski jujur sedikit deg-degan. Ini bahaya, aku tahu Ray. Lelaki itu sedikit banyak bisa sensetif, apa ia hendak melakukan sesuatu karena masih menyakini tentang dugaan tadi? Apa ia akan memaksaku mengaku kalau Rahma dan Nona Bintang adalah orang yang sama? Oh no! Aku saja tak mengakui itu. Bagaimana mungkin ia bisa menghakimi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED