Bab 1

“Dengan ini kami meresmikan perceraian antara kedua belah pihak dan mulai saat ini mereka tidak lagi terikat sebagai pasangan suami-istri.”

Bunyi ketukan palu hakim yang mengakhiri sidang perceraian itu menyadarkan Kana dari lamunannya. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya dengan gerakan lemah sementara orang-orang mulai meninggalkan ruangan persidangan tersebut.

Persidangan ini berakhir begitu saja tanpa Kana sadari seperti bagaimana pernikahannya yang hanya berusia satu setengah tahun berakhir dengan mudahnya tanpa ada kenangan apapun yang ia ciptakan bersama Ian, mantan suaminya yang kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum dengan lembut padanya.

Senyuman yang kelihatan terlalu manis untuk bisa Kana dapatkan dari pria yang telah menceraikan dirinya demi kekasih gelapnya.

“Terima kasih untuk semua bantuanmu selama satu setengah tahun ini. Kuharap kau bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih baik setelah bercerai dariku.”

Kana tidak mengerti bagaimana Ian bisa berpikir jika hidup sebagai seorang janda akan lebih baik bagi dirinya. Namun saat ingat jika selama ini dirinya hanya menjadi istri boneka yang dikontrak oleh Ian untuk menutupi hubungan gelapnya dengan Freya, Kana sadar jika perceraian ini akan menghentikan semua rasa sakitnya karena telah meluluh-lantakkan hatinya hingga ia tidak akan pernah merasakan sakit lagi karenanya.

“Aku berharap kau bisa hidup dengan bahagia bersama Freya.” Kana benar-benar tulus mengharapkan kebahagiaan itu untuk Ian meski hal tersebut semakin meremukkan hatinya. “Kalian melalui jalan yang sangat sulit selama ini. Jadi untuk menebus semua waktu itu kalian harus menjalani hidup yang sangat-sangat bahagia selamanya.”

“Kau juga. Bertemulah dengan pria yang baik dan miliki pernikahan yang indah nanti.” Ian masih tersenyum dengan tulus saat mengucapkan hal tersebut tanpa menyadari betapa menyakitkannya hal tersebut bagi Kana. “Aku akan mengirim semua bayaran dan tunjangan perceraianmu nanti. Sekali lagi, aku benar-benar berterima kasih untuk semuanya.”

Ian meninggalkannya setelah itu dan Kana yang sadar jika ini mungkin akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk melihat Ian sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari punggung Ian sampai ia tidak bisa melihatnya lagi.

“Akhirnya benar-benar berakhir,” lirih Kana sambil menundukkan kepalanya, menatap cincin berlian yang sejak satu setengah tahun lalu menghiasi jari manis tangan kirinya sebagai simbol pernikahan antara dirinya dan Ian. Yang membuat setetes air mata jatuh di atas punggung tangannya saat ia menyadari jika ia tidak bisa lagi mengenakan cincin pernikahan ini karena ikatan pernikahannya dengan Ian yang telah terputus.

“Padahal sejak awal kau sudah memperingatkanku untuk tidak jatuh cinta. Tapi kenapa aku sangat bodoh hingga dengan mudahnya membiarkan diriku mencintai pria yang hatinya sudah menjadi milik wanita lain?”

***

Kana sedang melamun di balkon apartemen mewah yang sudah ia tinggali sejak menikah dengan Ian dan kini menjadi miliknya sepenuhnya setelah perceraian mereka saat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Sebuah pemberitahuan dari bank bahwa sejumlah uang bernilai fantastis yang Ian kirimkan padanya telah masuk ke akun rekeningnya.

“Apa ini tidak salah? Dia tidak menjanjikan sebanyak ini padaku,” gumam Kana yang masih tidak percaya dengan nilai uang yang masuk ke rekeningnya. Ia sampai harus memastikan berkali-kali untuk meyakinkan jika dirinya memang tidak salah lihat, namun nyatanya Ian memang mengirimkan jumlah yang jauh lebih banyak dari yang telah dijanjikannya.

“Pasti ada kesalahan,” pikir Kana sambil mencari kontak Ian. “Aku harus memberitahunya karena sepertinya dia sudah salah kirim...”

Kana menghentikan pemikirannya dengan ibu jarinya yang menggantung di udara, tidak jadi menekan tombol panggil pada kontak Ian saat ia menyadari jika dirinya yang sudah‘dilepaskan' karena tidak dibutuhkan lagi oleh Ian hanya akan mengganggu pria itu jika menghubunginya sekarang.

“Untuk apa aku menghubunginya jika dia bahkan sama sekali tidak mengirim pesan apapun lagi padaku?” gumam Kana sambil memandangi foto profil Ian dengan ekspresi sendu. Padahal baru pagi tadi ia bertemu pria itu di pengadilan, namun kini ia sudah merasa sangat merindukannya.

Dan kerinduan itu jadi semakin terasa menyiksa saat Kana sadar jika ia tidak akan pernah bisa memenuhi kerinduan tersebut sebab Ian tidak akan pernah ada lagi dalam hidupnya. Karena seperti yang telah tertera dalam kontrak perjanjian pernikahan mereka, keduanya tidak akan saling mengganggu lagi setelah pengadilan meresmikan perceraian mereka.

“Aku menikah dengan Ian karena uang ini, tapi kenapa sekarang aku malah sedih padahal aku mendapatkan sesuatu yang bahkan jauh lebih banyak dari yang kuharapkan.”

Kana beranjak dari duduknya, tidak ingin menyesali perpisahannya lebih lama karena ia yakin di suatu tempat di luar sana–mungkin di suatu kamar hotel mewah–Ian pasti sedang merayakan perceraian mereka bersama Freya.

“Aku juga harus bersenang-senang. Aku wanita lajang yang sangat kaya sekarang dan tidak akan ada apapun yang bisa menghalangiku untuk bersenang-senang.”

***

“Kau jadi semakin sering datang belakangan ini. Kau mencari wanita lagi?”

“Tidak, aku hanya ingin minum. Siapkan aku minuman yang seperti biasanya.

Sambil menunggu bartender menyiapkan minuman pesannya, Lucas mengedarkan pandangannya ke penjuru salah satu club malam paling mewah di kota itu. Ia hanya memiliki dua alasan untuk pergi ke club malam, yaitu untuk minum atau menikmati kencan satu malam dengan wanita yang tidak dikenalnya. Meski sering kali ia minum sampai mabuk dan berakhir di kamar hotel bersama seorang wanita yang entah siapa.

Namun malam ini tujuan Lucas datang ke club malam ini benar-benar hanya untuk minum. Ia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya hingga tidak memiliki mood untuk menggoda wanita dan hanya ingin menenangkan diri dengan minuman yang akan membuatnya melayang.

Sampai kemudian seseorang yang tiba-tiba muncul dan tanpa izin langsung meminum minuman yang dipesannya membuat ketenangan yang Lucas idamkan itu jadi terganggu.

“Aaaah~” Kana mendesah puas setelah meminum hampir dari separuh gelas minuman milik Lucas. “Buatkan aku yang lebih enak dari ini. Buatkan aku minuman yang paling mahal! Karena uangku saaaaangat banyak, aku akan beli semua yang paling mahal yang ada di tempat ini.”

Lucas menatap Kana yang bicaranya terdengar melantur itu dengan kerutan yang menghiasi keningnya. Meski minuman miliknya memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi, namun sepertinya wanita itu memang sudah mabuk sebelumnya hingga bisa bersikap seperti ini padanya.

Dan semakin lama memperhatikan Kana yang terus meracau dengan suara yang tidak jelas sambil menunggu bartender menyiapkan pesanannya, Lucas sadar jika niatnya datang ke tempat ini perlahan mulai berubah karena wanita yang duduk di sebelahnya ini.

“Kau mau ke mana?”

Lucas mencekal pergelangan tangan Kana, menahan wanita itu agar tidak pergi begitu saja setelah mencicipi minuman pesanannya. Kana menatapnya dengan kedua mata memicing, sepertinya sudah terlalu mabuk hingga ia tidak dapat dengan jelas melihat setampan apa pria yang sedang mengajaknya bicara ini.

“Bukankah kau harus bertanggung jawab setelah meminum minumanku, Nona?” tanya Lucas yang sudah mulai melancarkan aksinya untuk menjadikan Kana sebagai teman kencannya malam ini.

“Ah, kau mau minuman? Pesan saja. Pesan semua yang kau inginkan, yang mahal-mahal. Aku akan membelikannya untukmu,” kata Kana sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Lucas yang sayangnya hal tersebut justru membuat Lucas semakin mengeratkan cekalannya.

“Aku tidak butuh minuman,” kata Lucas sebelum memajukan wajahnya mendekat pada wajah Kana. Mengikis jarak mereka hingga ia bisa merasakan hembusan napas Kana yang menerpa wajahnya.

“Aku menginginkanmu,” sambung Lucas yang mengucapkan keinginannya itu dengan suara berbisik yang seduktif yang langsung ia bisikkan di telinga kanan Kana. “Apa kau mau bersenang-senang denganku malam ini, Nona?”

**To Be Continued**

Bab 2

“Aku menginginkanmu. Apa kau mau bersenang-senang denganku malam ini, Nona?”

Kana mengerjapkan kedua matanya yang terasa berat perlahan sambil berusaha mencerna apa yang baru saja Lucas ucapkan padanya. Ia memang sudah sangat mabuk, namun sedikit kesadarannya yang tersisa membuatnya jadi terkejut saat merasakan sapuan hembusan napas Lucas di garis lehernya bersamaan dengan dirinya yang menyadari maksud dari ucapan pria asing itu.

“Tunggu! Sebentar!” Kana mendorong dada Lucas sesaat sebelum pria itu mendaratkan bibir di atas bahunya, membuat pria itu menatapnya dengan kedua alis terangkat karena kesenangannya telah diganggu.

“Aku sudah menikah. Lihat ini. Ini cincin nikahku,” kata Kana sambil menunjukkan cincin pernikahan yang melingkari jari manisnya.

“Jadi kau sudah menikah?” Lucas bertanya sambil menjauhkan tangan-tangannya dari tubuh Kana. Meski ia bisa bermain dengan wanita mana pun, namun ia tidak pernah mau berurusan dengan wanita milik pria lain.

“Ya...” Kana menyahut sambil menundukkan kepalanya, membuatnya jadi merasa sedih saat tatapannya jatuh pada cincin pernikahan yang masih terpasang di jarinya padahal pernikahannya telah berakhir.

“Tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah diceraikan,” ujar Kana lagi dengan nada sedih yang justru membuat Lucas jadi kembali bersemangat.

“Kau sudah bercerai?” tanya Lucas dengan nada prihatin sementara kedua matanya tampak bersemangat.

“Baru diresmikan tadi pagi. Dia lebih memilih kekasih gelapnya dibandingkan aku,” kata Kana tanpa menyadari jika kesedihannya ini bisa mengundang serigala datang untuk memangsanya.

“Oh, itu buruk sekali. Duduklah. Biar kubelikan minuman untukmu.” Lucas berkata sambil membimbing Kana untuk kembali duduk. “Sekarang kau bisa menceritakan semuanya padaku. Itu akan membuatmu jadi sangat lega saat kau memiliki seseorang untuk mendengarkan semua kesedihanmu.”

***

“Ah... Akhirnya sampai juga.”

Lucas membaringkan tubuh Kana di atas tempat tidur sebelum mundur beberapa langkah untuk mengamatinya. Mengagumi kemolekan tubuh Kana yang tetap terlihat menggoda meski wanita itu mengenakan kemeja dan celana panjang.

Lucas menghabiskan beberapa puluh menit untuk mendengarkan semua curhatan Kana sampai akhirnya wanita itu tidak kuat lagi untuk membuka kedua matanya dan membiarkan kepalany jatuh ke atas meja–yang untungnya ada tangan Lucas yang dengan sigap menahannya hingga dahinya tidak perlu merasakan kerasnya meja bar tersebut.

Lucas lalu menggendong tubuh Kana dan membawanya meninggalkan club malam. Dan di sinilah mereka berakhir sekarang, di dalam suite room hotel dengan Lucas yang sedang membuka satu per satu kancing kemejanya dengan tatapan tajamnya yang tidak pernah lepas dari tubuh Kana layaknya serigala yang sedang mengincar mangsanya.

Lucas menanggalkan kemejanya lalu merangkak naik ke atas tempat tidur, langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Kana yang kesadarannya dibawa terbang entah ke belahan dunia mana oleh minuman-minuman beralkohol yang sejak tadi diminumnya di club.

“Dia kelihatan jauh lebih muda jika dilihat dari dekat seperti ini,” gumam Lucas sambil memandangi wajah Kana yang terlelap. Entah mengapa terhipnotis oleh Kana yang terlihat seperti malaikat yang sangat polos saat sedang terlelap seperti ini.

Padahal biasanya Lucas bukan jenis pria yang terlalu peduli dengan wajah, namun kali ini ia benar-benar membiarkan wajah polos Kana menghipnotisnya hingga membuatnya menghabiskan beberapa saat tanpa melakukan apapun selain hanya memandangi wajah itu.

“Eungh...” Dalam tidurnya, Kana melenguh saat Lucas memulai aksinya dengan menempelkan bibir di lehernya. Lenguhannya menjadi semakin keras saat mulut Lucas menghisap lehernya dengan kuat, namun tubuhnya masih tidak kuat melawan tekanan dari alkohol yang mengambil alih kesadarannya hingga ia tetap tidak bisa membuka kedua matanya meski kini tangan-tangan Lucas telah melucuti pakaiannya sementara bibir pria itu terus menjelajahi tubuhnya.

“Tidak...” Dan Lucas dibuat mematung saat ia melihat sesuatu yang seperti mimpi buruk baginya. Ia sudah menanggalkan atasan Kana, dan kini ia tidak bisa melanjutkan aksinya untuk menelanjangi tubuh Kana saat menyadari ada sesuatu yang terpasang di celana dalam wanita itu.

“Tidak mungkin, kan? Dia tidak sedang datang bulan, kan?” batin Lucas sementara kerutan yang sangat dalam sudah tercipta di keningnya saat melihat sayap dari pembalut Kana yang terpasang di bagian luar celana dalam hitam wanita itu.

“Bagaimana bisa... Bagaimana bisa dia datang bulan sekarang saat aku sedang sangat menginginkannya seperti ini?”

***

“Aaah... Kepalaku...”

Saat terbangun dari tidurnya keesokan harinya, hal pertama yang Kana rasakan adalah sakit kepala luar biasa yang membuatnya tidak bisa berhenti meringis kesakitan. Sebenarnya ia bukan peminum yang baik dan sudah sangat lama sejak terakhir kali ia minum alkohol, namun saat ingat bagaimana semalam dirinya minum dengan membabi buta Kana hanya bisa pasrah menanggung rasa sakit di kepalanya.

“Apa kau mau bersenang-senang denganku malam ini, Nona?”

Kedua mata Kana yang sebelumnya masih terpejam sontak langsung terbuka lebar saat sekelabat ingatan tentang apa yang terjadi semalam muncul di kepalanya. Dan untuk sesaat jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat ia melihat dirinya yang sudah polos dan hanya mengenakan celana dalam saja.

“A-apa yang terjadi?”

Dengan tangannya yang gemetar Kana menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sementara kedua bola matanya bergerak liar ke penjuru kamar hotel mewah itu. Namun ia tidak menemukan siapapun di sana selain hanya pantulan dirinya di cermin yang terlihat sangat panik.

“Apa yang sudah kulakukan? Pria itu...”

Kana memejamkan kedua matanya, berusaha keras untuk mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Namun ia hanya bisa mengingat sepotong-sepotong dari apa yang sudah terjadi pada dirinya saat mabuk semalam.

Ia ingat dirinya yang menari dengan lepas di lantai dansa. Ia ingat dirinya yang minum dengan rakus di depan meja bar bahkan ucapan sombongnya yang ia ucapkan pada bartender yang melayaninya. Lalu ia ingat sepasang mata Lucas yang menatapnya dengan tajam sementara tangan pria itu mencekal pergelangan tangannya.

“Tidak, tidak!” Kana menggelengkan kepalanya berkali-kali saat tidak ada hal lain tentang Lucas yang bisa ia ingat.

“Kami tidak melakukan apa-apa, kan?” pikir Kana sambil meraba-raba dirinya sendiri seolah memeriksa apakah ada sesuatu yang aneh di sana. Yang kemudian membuatnya jadi sangat panik saat ia menemukan bekas ciuman yang cukup pekat di dadanya.

“Pria itu... Apa yang sudah dia lakukan padaku?”

***

Matahari sudah cukup tinggi saat Kana meninggalkan hotel yang menjadi tempatnya bermalam. Ia menyerah berusaha mengingat apa yang sudah Lucas lakukan padanya dan mencoba meyakinkan dirinya jika ia masih belum kehilangan keperawanannya karena Lucas tidak mungkin mau menyentuh dirinya yang sedang datang bulan.

Dan meski ada hal yang tidak terduga terjadi padanya, Kana masih bersyukur karena dirinya tidak perlu melalui sepanjang malam untuk meratapi perceraiannya dengan Ian. Ia bersyukur dirinya cukup mabuk untuk melupakan semua masalahnya–yang sepertinya sampai sekarang pun wanita itu masih belum benar-benar sadar sepenuhnya karena ia melewati begitu saja sepatu pantofel milik Ian yang seharusnya tidak ada di rak sepatu di dalam apartemennya.

“Kau sudah pulang?”

Langkah kaki Kana terhenti di ruang tengah dan wanita yang pulang dengan tubuh sempoyongan yang dipenuhi bau alkohol itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat ia melihat Ian berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan cara yang tidak kalah terkejut dari dirinya karena mendapati mantan istrinya yang ia kenal sebagai seorang wanita polos pulang sesiang ini setelah menghabiskan sepanjang malam untuk bersenang-senang.

**To Be Continued**

Bab 3

Kana yang baru selesai mandi itu keluar dari kamarnya dengan ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin terus bersembunyi di kamarnya karena malu, namun Ian sedang menunggunya di ruang tengah.

Dengan kepala tertunduk, Kana mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Ian. Rasanya ia tidak memiliki keberanian untuk menatap Ian setelah pria itu memergokinya pulang saat hampir siang dalam keadaan mabuk padahal baru kemarin pengadilan meresmikan perceraian mereka.

“Aku datang untuk membereskan barang-barangku. Besok akan ada petugas pindahan yang mengambilnya, jadi bisakah kau ada di rumah untuk menemui mereka?” tanya Ian memulai pembicaraannya dengan Kana. “Atau jika kau sibuk, aku bisa meminta mereka datang–“

“Aku tidak sibuk!” Kana memotong ucapan Ian dengan cepat. Sepertinya khawatir pria itu akan berpikir jika besok dirinya akan pergi ke club lagi hingga tidak bisa menerima petugas pindahan. “Besok aku akan berada di rumah seharian.”

“Ah, aku lega mendengarnya,” ujar Ian sambil tersenyum. Yang kemudian senyumannya jadi memudar saat tatapannya tidak sengaja pada bekas ciuman yang warnanya cukup pekat di sisi kiri leher Kana, yang sepertinya Kana sendiri tidak menyadari jika ada bekas ciuman Ian di sana.

Padahal kemarin Ian merasa agak bersalah pada Kana. Karena tiba-tiba menceraikan Kana dan membuat wanita itu menjadi janda di usianya yang masih sangat muda, Ian pikir Kana pasti akan kesulitan melewati masa-masa setelah perceraian mereka. Namun setelah melihat bagaimana Kana pulang pagi tadi dalam keadaan mabuk dan bekas ciuman di lehernya, Ian sadar jika Kana bisa melalui situasi ini jauh lebih baik dari dugaannya.

“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Ian yang membuat Kana terdiam cukup lama.

Karena sejujurnya, meski sejak awal tahu Kana sudah tahu jika di penghujung pernikahan kontraknya bersama Ian pasti akan ada perceraian, ia sama sekali tidak pernah merencanakan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya setelah resmi menyandang status janda.

“Aku belum merencanakan apa-apa,” jawab Kana dengan jujur. “Aku hanya akan menjalani hidupku seperti biasanya dan lihat nanti ke mana hidup ini akan membawaku.”

“Aku minta maaf karena telah menghambat masa mudamu dengan pernikahan kita. Kuharap sekarang kau bisa menikmati kembali hidupmu seperti saat aku belum ada di dalamnya.”

Perkataan Ian membuat Kana diam-diam tersenyum miris mengingat bagaimana hidupnya dulu sebelum ia mengenal Ian. Ia hanya wanita sebatang kara yang meski telah bekerja di minimarket saat pagi hari dan bekerja di restoran cepat saji saat malam hari namun tidak pernah memiliki cukup uang untuk bersenang-senang. Ia sudah bekerja sejak lulus SMA, terus bekerja hingga tanpa sadar telah berusia 23 tahun tanpa memiliki tabungan atau sesuatu yang berharga meski telah bekerja bertahun-tahun.

Sampai kemudian sebuah keajaiban datang padanya. Saat pertama kali melihat Ian datang ke restoran cepat saji tempatnya bekerja, ia sama sekali tidak memiliki firasat apapun tentang pelanggannya itu. Sampai kemudian Ian yang datang hampir setiap malam di saat dirinya yang bekerja shift malam sedang bertugas mulai menarik perhatian Kana, rasa penasaran wanita itu pada Ian justru mendorongnya jatuh ke dalam jurang tak berdasar bernama cinta.

Hingga suatu malam, Ian yang biasanya hanya akan bicara padanya saat memesan makanan menawarkan sesuatu yang mampu membuat Kana tercengang.

“Apa kau mau menikah denganku? Kau tidak perlu bekerja setiap malam di tempat ini lagi jika menikah denganku.”

Itu benar-benar keajaiban. Bahkan meski Ian yang menawarinya pernikahan karena sangat putus asa dengan orang tuanya yang terus berusaha menjodohkannya berkata jika ini hanya pernikahan kontrak, Kana dengan polosnya masih berharap akan ada keajaiban dalam pernikahan mereka. Karena di semua kisah tentang pernikahan kontrak yang pernah ia baca atau tonton, dua orang yang terlibat kontrak itu pada akhirnya akan benar-benar saling jatuh cinta.

Namun sayangnya yang seperti itu tidak terjadi dalam kisah Ian dan Kana. Ian menikahi Kana sebagai kedok atas hubungannya yang tidak direstui bersama Freya dan itu membuat Kana sadar jika sejak awal dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ian.

Dan bahkan sampai akhir pun, kontrak ini berjalan sebagaimana yang telah mereka sepakati tanpa ada keajaiban lain yang Kana harap bisa membuat pernikahan mereka abadi selamanya. Kecuali di bagian Kana yang tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Ian dan membuatnya jadi menderita sendiri saat kini mereka benar-benar telah berpisah.

“Lalu bagaimana selanjutnya setelah petugas pindahan datang besok?” tanya Kana setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.

“Kau hanya perlu menunjukkan kamarku dan mereka akan menyelesaikan sisanya,” sahut Ian yang sayangnya ia salah tangkap dengan maksud dari pertanyaan yang Kana tanyakan padanya.

“Setelah petugas pindahan itu membawa semua barangmu, lalu bagaimana?” Kana kembali bertanya. Dan saat melihat Ian menatapnya dengan bingung, ia menjelaskan lebih jauh tentang sesuatu yang terasa mengusik hatinya. “Setelah barangmu tidak ada lagi di sini, apa kau tidak akan datang ke sini lagi? Apa kita tidak akan bertemu lagi?”

“Kurasa... Kita tidak punya alasan untuk bertemu lagi,” sahut Ian yang menyadarkan Kana jika sejak awal pria itu memang berencana untuk tidak pernah berurusan lagi dengannya setelah perceraian mereka. “Dan kau bisa melakukan apa saja dengan apartemen ini. Kau bisa terus tinggal atau menjualnya dan pindah ke tempat lain yang kau sukai. Kau tidak perlu merasa sungkan padaku karena apartemen ini sudah menjadi milikmu sepenuhnya.”

Kana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lagi karena semuanya sudah sangat jelas. Dalam hubungannya dengan Ian, hanya dirinya saja yang jatuh cinta dan sekarang pun saat semuanya telah berakhir antara dirinya dan Ian, dirinya menjadi satu-satunya orang yang merasa patah hati karenanya.

“Kalau begitu aku akan pergi sekarang.” Ian berpamitan seraya bangkit dari duduknya, menyadarkan Kana jika sejak tadi ia sama sekali tidak menyuguhkan apapun untuk Ian yang setelah perceraian mereka bersikap seperti tamu di rumah ini.

“Petugasnya mungkin akan datang siang hari,” kata Ian setelah dirinya berada di luar apartemen dengan Kana yang mengantarnya sampai depan pintu.

“Tidak masalah mau jam berapa pun. Aku akan ada di rumah sepanjang hari besok,” sahut Kana.

“Kalau begitu aku akan–“

“Ah, benar yang ini.”

Ian menghentikan kalimatnya saat ada sebuah suara yang menginterupsinya. Ian menolehkan kepalanya ke belakang di mana sudah ada Lucas yang berdiri dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu muda sementara Kana yang melihat kehadiran pria itu–pria yang ingat sebagai seseorang yang telah membuatnya mabuk berat lalu membawanya ke hotel–sudah membelalakkan kedua matanya tak percaya.

“Siapa?” tanya Ian yang membuat Lucas menatapnya. Yang meski tubuh Ian sudah sangat tinggi tapi masih membuat Lucas menundukkan tatapannya pada pria itu karena tubuhnya yang beberapa senti lebih tinggi dari Ian.

“Bukan urusanmu,” sahut Lucas. Ia lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Kana yang masih menatapnya dengan kedua mata membesar. “Sepertinya kau sudah sadar sekarang. Apa kita bisa melanjutkan pembicaraan yang semalam setelah orang ini pergi?”

Ian yang sadar jika ‘orang ini’ yang disebut Lucas itu adalah dirinya itu memilih untuk bersikap peka dengan berkata, “Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal.”

Ian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, mengabaikan rasa penasarannya tentang Lucas yang tiba-tiba muncul di rumah Kana karena ia sadar jika hal tersebut sama sekali bukan urusannya.

Sementara itu, Kana sepertinya masih sangat terkejut dengan kemunculan Lucas di hadapannya hingga tidak sadar jika ‘selamat tinggal’ yang Ian ucapkan padanya mungkin akan menjadi hal terakhir yang ia dengar dari pria itu.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Kana dengan nada waspada. “Bagaimana kau bisa tahu rumahku?”

“Kau tidak ingat kita sudah membicarakan semuanya semalam? Tentang pernikahan kontrakmu yang kacau dan tentang pernikahan kontrak yang kita rencanakan.”

Jawaban Lucas membuat kedua mata Kana kembali terbelalak. Ia benar-benar tidak bisa ingat apa saja yang sudah ia katakan dan lakukan dengan Lucas semalam dan itu membuatnya jadi sangat cemas saat mendengar kalimat terakhir Lucas.

“Pernikahan kontrak kita? Siapa maksudmu?” tanya Kana yang merasa jika dirinya sudah salah tangkap dengan ucapan Lucas sebelumnya.

Namun Lucas justru mengatakan sesuatu yang membuat Kana jadi sangat-sangat menyesali keputusannya untuk pergi ke club malam karena sekarang ia justru melibatkan dirinya dalam masalah lain yang jauh lebih besar.

“Pernikahan kontrak kau dan aku. Kita sudah membicarakannya semalam dan kau juga sudah mengambil jam tanganku untuk uang muka. Itu salah satu jam favoritku yang paling mahal dan karena kau harus membayar denda 10 kali lipat jika ingin membatalkan perjanjian kita, aku tidak yakin apartemen ini saja cukup untuk menggantinya.”

**To Be Continued**

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED