Bab 1

"Lanjutkan musiknya dan terus bergoyang sampai pagi!" seru seorang pengunjung pria dari sudut ruangan.

"Bianca Sayang, teruslah menari! Tunjukkan pesona nakal mu!" ujar seorang pria lagi seraya menunjukkan lembaran-lembaran uang kertas di tangannya. "Semua ini akan menjadi milikmu, gadis nakal! Maka tetaplah meliuk-liuk di atas sana."

Bianca, sang biduan seolah tidak mengenal lelah. Tubuh indahnya meliuk-liuk semakin liar.

Saweran para Om-om memenuhi sela-sela gaun mininya. Ia tak lagi menghiraukan angin malam dingin menusuk kulit punggungnya yang terbuka lebar.

Pelayan kafe sangat sibuk bila giliran Bianca yang jadi biduan malam di panggung kafe. Dari malam hingga menjelang pagi, para pengunjung tidak akan pernah sepi

Deretan pria konglomerat juga akan singgah menyaksikan tubuh seksinya yang meliuk indah di atas panggung. Di tambah suaranya yang merdu dan memiliki karakter yang kuat.

"Yeah, aku akan bergoyang sampai pagi untukmu, Sayang," sahut nakal Bianca mengedipkan sebelah matanya menggoda pria tadi. Ia menggoyang tubuhnya hingga pagi.

Bouqet mawar yang di hadiahkan para pria hidung belang memenuhi pinggiran panggung , tak jarang juga para pengunjung naik panggung bergoyang bersamanya. Tatapannya yang nakal mampu menarik perhatian setiap pengunjung untuk lebih mendekatinya.

"Mbak, ambilin minum dong!" titahnya menyudahi panggungnya setelah pagi.

Bianca terduduk kelelahan di sudut panggung dekat Disc Jockey. Wajahnya memerah dengan keringat membanjiri dahinya.

"Ini, mbak Bianca," ucap pelayan kafe memberikan kemasan botol air mineral.

Bianca lantas meneguk habis namun tenggorokannya masih terasa kering dan serak.

"Ambilin yang dingin dong, satu botol lagi," pintanya sesekali menyeka dahi dengan tisu kering.

Pelayan kafe hanya mengangguk menurut dan berlari menuju kulkas di belakang dan lagi memberikannya pada Bianca.

"Terimakasih." Bianca membawanya ke kamar ganti untuk merapikan rambutnya yang acak-acakan juga mengganti bajunya sebelum pulang. Ia tidak mau berpakaian seperti itu di luar kafe, maka itu ia selalu membawa pakaiannya.

"Aku pulang, ya," ucapnya pada Welly pemilik kafe yang sedang sibuk menghitung pendapatan semalam.

"Oke, tapi jam tujuh nanti malam jangan lupa datang tepat waktu, ya. Oiya, aku akan punya lagu terbaik nanti malam untukmu, Sayang."

"Aku gak bisa, suruh Yona aja. Aku tidak butuh lagu baru, aku mau istirahat dulu di rumah."

"Sayang kalau kamu gak datang hari ini khusus kunjungan pria berduit," goda Welly mempermainkan alisnya turun naik.

"Aku manggung nanti tengah malam di kafe lain," sahutnya segera berlalu.

"Hei, tunggu. Ini ada titipan tamu semalam buat kamu," seru Welly menghentikan langkah Bianca yang terburu-buru. "Om siapa aku lupa namanya." Welly memberikan sebuah kotak kecil ke tangannya.

"Thanks ya, aku cabut." Sambil melambaikan tangannya ke arah Welly yang masih penasaran dengan isi kotak tadi.

"Bukain, dong, penasaran dengan isinya," goda Welly lagi.

"Hussh, mau tahu aja."

Bianca terus mengayunkan langkahnya ke pintu keluar kafe. Mobil mungilnya segera meluncur kencang meninggalkan kafe Welly, dan membelah jalanan yang belum begitu padat menuju apartemennya.

Dengan mata terkantuk-kantuk ia menekan tombol lift ke lantai 17. Namun, lift tidak kunjung terbuka. Dengan hati kesal ia menyeret kakinya menggunakan tangga ke lantai 17.

"Aku gak yakin masih bernapas sampai lantai 17," gumamnya terus memaksa menaiki tangga.

Nafasnya ngos-ngosan menahan capek, belum lagi matanya yang mengantuk berat.

Bianca adalah putri tunggal, saat ini hanya hidup berdua dengan ibunya dengan menyewa apartemen. Dulu ketika ayahnya masih hidup dan menjabat sebagai wakil pimpinan di salah satu perusahaan ternama, kehidupan keluarga mereka sangat berkecukupan.

Rumah mewah dan semua harta peninggalan ayahnya terjual untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Namun, sifat ibunya yang semakin menggila dengan belanja barang mewah membuat Bianca putus asa. Ingin rasanya ia meninggalkan ibunya sendirian namun ia tidak ingin melanggar pesan ayahnya.

Terkadang ia juga jenuh dan benci tiap kali melihat ibunya pulang dengan mabuk dan meninggalkan utang dimana-mana.

Beruntung Bianca terlahir dengan wajah yang cantik dan seksi juga bakat suara emasnya.

Setiba di dalam apartemen, gadis itu melihat apartemen kosong.

"Hoamm, Bu ... Ibu," panggilnya namun tidak mendengar sahutan Ibunya. "Syukurlah belum pulang dia," gumamnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dalam hitungan detik suara dengkuran terdengar dari bibirnya.

Awalnya Bianca mencoba jadi seorang biduan di hajatan tetangga atau teman-temannya.

Tanpa sengaja berkenalan seorang pria bernama Welly yang merupakan tamu undangan di sebuah pesta, dimana saat itu Bianca jadi seorang biduan di sana.

Pria itu mengajak Bianca bernyanyi di kafenya.

Welly juga menjanjikan honor yang lumayan besar di banding sebagai biduan di pesta-pesta.

Bianca yang sangat membutuhkan uang untuk membayar hutang ibunya, meski dengan hati yang berat ia terpaksa mengiyakan tawaran Welly. Bianca tidak peduli dengan tubuhnya yang lelah dan setengah remuk, ia langsung menerima setiap tawaran dengan bayaran mahal.

Seorang wanita masuk dan berteriak menghampiri Bianca yang masih tertidur pulas.

"Bianca!" teriak wanita paruh baya, ibunya menarik selimut yang menutupi tubuhnya seraya mengguncang kasar bahunya.

"Mmm, siapa seh?" geram Bianca menepis tangan yang terus mengguncang bahunya.

"Bangun! Enak aja tidur-tiduran di sini! Kau pikir duit bisa datang kalau kau hanya malas-malasan, Bianca!?"

Dengan mata berat Bianca membuka matanya, rasa pusing karena kurang tidur, sekujur tubuhnya juga terasa sangat pegal. Ini bukan yang pertama kali ia rasakan, hampir setiap hari setelah pulang bekerja selalu begitu sambutan Ibunya.

"Iya apaan sih, Bu," rutuknya merasa terganggu dengan ibunya yang mengomel tidak berhenti.

"Minta duit, dong. Ibu mau pergi ke boutique teman," sahutnya menarik tangan Bianca dan memaksanya duduk.

"Kok duit lagi seh, Bu? Kemaren, kan udah Bianca kasih lima juta?" Wajahnya tampak sedikit masam dengan sifat ibunya yang mata duitan. "Aku masih butuh duit untuk keperluan pribadiku."

"Udah habislah, semalam Ibu beli gaun ini," katanya menunjukkan bill pembayaran dan memutar-mutar menunjukkan gaun yang dikenakannya kepada Bianca.

"Hahh !!" Mata Bianca terbelalak melihat bill pembayaran gaun jelek yang dipakai ibunya.

"Empat juta sembilan ratus? Oh my God." Bianca ingin meraung sejadi-jadinya.

"Sesekali Ibu harus berpikir untuk belanja-belanja baju!! Jangan suka-suka hati Ibu aja belanja kemauan Ibu! Sementara sebutir beras di dapur sana tidak ada lagi!" berangnya. Matanya melotot menantang ibunya.

"Belum lagi uang sewa apartemen ini, Bu? Aku udah bilang harus menyimpan uang!"

"Itu mudah saja, Bianca. Jual saja mobilmu itu, perkara selesai!"

"Ibu! Sesekali berpikir waras, ya! Jangan ---"

"Dasar kau anak durhaka !! Kau bisa seperti ini karena siapa? Hahh!" potongnya merampas tas dari tangannya, dan mengambil semua lembaran uang yang ada di dompetnya.

Kemudian Ibunya keluar meninggalkan Bianca yang menangis di tempat tidur.

Untuk kesekian kalinya, Bianca tidak bisa melawan. Hanya bisa pasrah hasil jerih payahnya semalaman ludes dirampas Ibunya.

"Ayah, Bianca udah gak sanggup lagi," isaknya kembali menenggelamkan wajahnya di tumpukan bantal.

***

Bab 2

Bianca melirik jam dinding, ia terkejut melihat hari sudah malam. Mengingat janjinya tampil malam ini di kafe Ifa, iapun terpaksa bangun.

Gegas mengguyur tubuhnya dan merapikan barang-barang pribadinya ke dalam tasnya sebelum keluar dari apartemen. Puluhan panggilan tidak terjawab dari kafe Ifa, ia sambungkan kembali.

"Iya, ini jalan kesana," katanya masuk ke lift menuju basemen parkiran.

Sesaat Bianca sibuk mencari-cari kunci mobilnya di dalam tasnya.

"Duh, ke mana lagi itu?" gusarnya menumpahkan semua isi tasnya di lantai parkiran. Hatinya semakin kesal, kunci mobilnya yang seolah menghilang dari tasnya.

Tiba-tiba teringat ucapan ibunya yang hendak ke boutique temannya. Matanya memandang ke arah parkiran biasa mobilnya parkir.

"Ya, ampun. Ibuuu ...!" jeritnya benar-benar tidak bisa membendung rasa marahnya.

Bianca menjambak-jambak rambutnya dengan air matanya luruh membasahi wajahnya.

Bianca meninggalkan parkiran, ia terpaksa meminta bantuan Ifa untuk menjemputnya.

"Ifa, mobilku tiba-tiba mogok, nih. Bisa jemput gak?"

"Di mana? Kau suruh Anto menjemputmu. Aku lagi sibuk banget," sahut Ifa memberikan ponsel ke Anto, adik lelakinya.

"Di mana dijemput, Bianca?" tanya pria bersuara serak di seberang.

"Di apartemenku. Aku berdiri di depan udahan."

Bianca memasukkan ponselnya ke tas. Dalam hati ia mengutuki sikap Ibunya yang keterlaluan. Berkali-kali ingin meninggalkannya saja, tetapi ia tidak tega dan merasa kasihan dengannya kalau harus hidup sendiri.

Mobil Anto berhenti di depannya, ia langsung membuka pintu dan duduk di samping pria maskulin itu. Wajahnya juga masih tampak masam, rasa kesalnya masih belum hilang.

"Ekhhem, itu makeup nya dibenerin dikit udah kayak nenek sihir," goda Anto, selama ini pria tersebut memang akrab dengannya.

"Emang, tinggal juga bareng nenek sihir!" ketusnya.

Anto menaikkan alisnya. "Ibumu berulah lagi?" tanyanya melirik Bianca tengah merapikan riasan tebal di wajahnya.

"Emm, itu memang sudah kewajibannya," sahutnya menyemprotkan parfum yang seketika aromanya memenuhi seluruh isi mobil.

"Cukup! Itu parfum apaan? Menyengat banget," omel Anto membuka kaca mobil.

"Biarin entar keringatan ilang sendiri juga," ketusnya terus menyemprotkan ke seluruh badannya.

Anto hanya menggeleng-geleng melihat gadis cantik itu. "Turun sana!" usirnya menghentikan mobil di depan kafe Ifa, seraya mengibaskan tangan mengusir aroma menyengat.

Bianca gegas turun, di meja depan Ifa sudah gelisah menunggu kedatangannya.

"Maaf, mbak," ucapnya langsung masuk ke ruang ganti.

Ifa mengikutinya dari belakang membawa tas tenteng berisi gaun mini yang hendak dikenakan Bianca.

"Malam ini pake gaun ini, ya." Ifa memberikan paper bag ke Bianca yang lagi asyik memilih-milih gaun yang tergantung di ruang ganti.

"Baju apaan ini?" tanyanya dengan mata terbelalak.

"Iya, gaun untuk malam inilah. Cepat kenakan dan jangan banyak protes!" sahut Ifa meletakkannya di meja rias, kemudian meninggalkan Bianca yang masih kebingungan.

Bianca tidak berdaya menolak. Karena untuk gaun seksi itu juga ia dibayar mahal malam ini. Meski yang ia kenakan itu lebih pantas disebut bikini renang ketimbang gaun biduan.

Bianca berjalan anggun ke atas panggung, matanya menyapu ruangan kafe yang penuh dengan pengunjung pria bukan kalangan biasanya.

Tepuk tangan dan sorakan meriah terdengar riuh dari meja pengunjung setelah melihat dirinya.

"Bianca, i love you." Terdengar suara dari pengunjung mungkin seseorang pengagum Bianca.

"Lantunkan lagu merdu mu, Sayang. Kita bergoyang sampai pagi."

Tubuh Bianca mulai meliuk indah seirama dengan hentakan musik keras, kedipan nakalnya menggoda pengunjung pria berkantong tebal.

Seketika lembaran uang merah memenuhi sela-sela gaun mininya.

Tatapan liar pria hidung belang.tidak berkedip memandang kemolekan tubuh Bianca yang basah keringat dibalik gaun mininya.

Matanya nakal menggoda pria yang ia inginkan, menariknya ke panggung. Bibir bergincu merah tebal itupun mendarat di pipi sang pria, seraya tangannya menyelip di kantong celana pria tersebut.

"Terimakasih, besok kita bergoyang sampai pagi lagi," seru Bianca mengakhiri panggungnya sebelum menghilangkan diri.

"Sepuluh juta lima ribu rupiah," gumamnya segera menyimpannya ke dalam tasnya.

Menjadi seorang biduan bar dan kafe membuat harga dirinya sudah tidak ada lagi. Siapa yang percaya jika ia masih seorang gadis suci?

Di balik mata nakal dan kelihaiannya meliuk-liuk di atas panggung, hatinya tersimpan luka perih oleh ibunya sendiri.

"Kamu mau pulang?" tanya Ifa memberikan amplop tebal kepadanya.

"Apa ini?" tanyanya dengan dahi mengerut.

"Itu bonus untukmu. Besok malam kamu naik ya."

Sebenarnya Bianca ingin istirahat dulu, tapi di apartemen juga ia tidak akan bisa istirahat. Tentu Ibunya akan mengomelinya dengan kata-kata kasar. Atau mungkin membawa teman-teman prianya ke apartemen.

"Iya, kebetulan aku belum ada job besok malam. Nanti aku kabari lagi," sahut Bianca beranjak. "Apa Anto bisa mengantarku pulang, Mbak?"

"Mmm, bisa seh. Tetapi apa kamu tidak mau berbincang-bincang dengan Om Paris?" tanya Ifa sedikit salah tingkah.

"Aku mau pulang, mungkin lain kali aja."

Entah mengapa setelah turun dari panggung, nyalinya turut menciut berhadapan dengan para pria hidung belang itu.

Ia masih merasakan trauma ketika Ibunya mengajaknya ke acara makan-makan dengan teman sosialitanya. Ibunya dengan sengaja meninggalkannya dikamar hotel bersama seorang pria paruh baya.

Untung pria itu masih memiliki nurani melihat Bianca yang memohon.

"Hei ...!" panggil Ifa menyentakkan lamunannya.

"Maaf, besok saja. Aku mau pulang cepat. Mau bawa mobil ke bengkel," bohongnya segera meninggalkan ruangan ganti.

Namun, baru saja keluar dari kamar ganti, seorang pelayan menghadang langkahnya yang terburu-buru keluar dari kafe.

"Mbak Bianca, dipanggil tuh sama Om yang duduk di meja 25," ucap pelayan tersebut mengikuti jari telunjuk pelayan kafe tersebut.

Namun, tidak melihat pria di meja 25 tersebut seperti ingin bicara dengannya. "Siapa?" tanyanya mengerutkan dahi tanpa menurunkan pandangannya dari pria tua berpostur gemuk dan pendek. Ihh, sebanyak apapun duit pria itu ia pasti akan menolak berkencan dengannya.

"Itu Om yang di meja 25 bukan meja di depannya, Mbak, " tunjuk pelayan kafe melambaikan tangan ke arah pengunjung yang ingin mendekati Bianca.

Menyadari ia salah memperhatikan pria yang ingin bertemu dengannya, kini tatapannya berhenti pada pria dewasa berwajah tampan dan masih terlihat kekar. Meskipun pria itu tampak berusia 40 tahunan.

Entah kenapa saat melihatnya, tiba-tiba saja keberanian Bianca kembali. Ia memberikan senyum nakalnya pada pria itu. Mungkin juga melihat penampilan pria tersebut yang berkelas, tentu memiliki banyak uang yang akan di berikan kepadanya nanti.

Iapun mulai berani menggoda dengan senyum genitnya. Bahkan mengedipkan sebelah matanya tanda ia mengiyakan ajakan pria tampan itu. Melihat pria merespon cepat, dan segera bangkit seperti ingin menghampirinya. Bianca kembali masuk ke ruang ganti. Niat ingin memperbaiki riasan wajahnya yang telah ia hapus tadi.

"Bianca!" panggil pria itu menarik tangan Bianca yang hendak menutup pintu.

Bianca berjengit kaget dan menarik tangannya refleks. Entah kapan pria itu ada di sana.

***

Bab 3

"Iya, Om. Maaf saya mau ke dalam dulu," ucapnya salah tingkah dengan tatapan pria yang sangat tampan itu.

"Oiya, tunggu di mejanya aja, Om. Nanti aku ke sana setelah selesai," pintanya merasa kurang nyaman dengan kehangatan tiba-tiba dari pria yang baru saja dikenalnya itu.

Bianca memiliki dua kepribadian, di atas panggung dia merupakan gadis yang nakal dan menggoda namun dibalik panggung dia seorang wanita yang baik hati, pemalu dan sopan.

Ia menangkap ekspresi wajah pria itu yang menunjukkan kebingungannya. Mungkin melihat sikap Bianca yang sangat berbeda. Namun, pria tersebut sangat tertarik dengan dirinya.

"Iya, aku menunggu di sini saja," sahut pria itu membiarkan Bianca kembali masuk ke ruangan.

Sosok Bianca yang begitu menggoda itu, membuat hati pria tersebut langsung jatuh hati padanya dipandangan pertama tadi. Awalnya tertarik dengan kenakalan gadis itu yang meliuk-liuk indah di atas panggung, tetapi setelah berhadapan langsung dengan Bianca, dia semakin tertarik dengan sifat malu-malunya.

Bianca membuka pintu dan melihat pria tadi masih berdiri menunggu di sana.

"Bianca!"panggilnya seakan tidak percaya melihat gadis yang berdiri di depannya adalah gadis yang sama di panggung tadi.

Wajahnya yang natural itu semakin memikat hatinya saja.

"Iya, kenapa Om?" tanya Bianca bingung melihat pria di depannya tidak berkedip memandangnya sejak tadi.

"Kamu sangat berbeda dengan yang tadi di panggung," sanjung nya tanpa bisa menutupi rasa kagumnya pada gadis belia di hadapannya.

"Iya, tadi terlihat cantik karena riasan bedak Om, sekarang ini wajah aslinya aku," ucapnya sedikit minder.

"Bukan begitu, saya lebih menyukai kamu yang seperti ini."

"Iya, terimakasih," ucapnya tersipu malu-malu.

Pria itu tidak berhenti menatap wajah Bianca yang merona merah tersipu malu dengan pujiannya tadi.

"Ayo, ikut aku," katanya menarik tangan Bianca keluar.

Bianca yang tidak memiliki persiapan, tidak sempat mengelak. Ia menurut saja mengikuti pria itu membawanya masuk ke mobil mewahnya.

"Kita kemana, Om?" tanyanya bingung.

Karena baru kali ini ia meladeni tamu kafe yang mengajaknya berkencan di luar.

"Temani saya istirahat, ya," ucap pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel.

Bianca kelabakan ketika pria itu menarik tangannya memasuki hotel mewar. "Om, aku menunggu di sini saja," ujarnya sangat ketakutan, ia tidak berhenti mengutuki dirinya karena mau saja diajak pria yang baru dikenalnya barusan.

"Aku lelah, jadi kamu cukup menemaniku istirahat saja, kok," kata pria itu seolah ingin meyakinkannya. Kemudian

menggandeng tangan Bianca memasuki hotel.

Anehnya, ia tidak ada perlawanan, seperti kerbau di cucuk hidung saja mengikuti pria itu masuk ke dalam kamar hotel.

Pria itu menuntunnya duduk di sofa, dan kemudian duduk merapat padanya.

"Maaf, Om, aku harus pulang. Kebetulan siang nanti aku ada pekerjaan. Nanti malam juga aku ada jadwal manggung lagi," katanya merasa risih ketika pria itu merangkul mesra pundaknya.

"Apa kamu tidak capek, Bianca?" Disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Saya Alex Rudiart, panggil saja Alex." tambah pria itu mengenalkan diri.

Bianca mengangguk dan membalas dengan senyum kecilnya. Iapun tidak tertarik sebenarnya mengetahui siapa nama pria itu.

"Kamu sampai jam berapa nanti malam manggung?"

"Sampai pagi, Om."

"Hahh !!" pekik Alex kaget mendengarnya.

"Bukannya sudah cukup uang yang kamu dapat semalaman di kafe tadi?" Lagi-lagi disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Emang ada kontrak kerjamu di sana?"

" Gak, Om. Aku cuma dapat gaji 1 juta sebulan per kafe di tambah bonus saweran itu. Lain halnya kalau double malam ke siangnya, biasanya aku dapat bonus."

Tampak Alex mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kamu tidak niat berhenti menjadi biduan panggung itu?"

"Aku tidak tahu nyari uang dimana lagi, Om."

"Apa ayah dan ibumu mengetahui pekerjaan mu seperti ini?" tanyanya tiba-tiba merasa kasihan kepadanya.

"Ayah udah lama meninggal, dan Ibuku sendiri yang memaksaku seorang biduan dari kafe ke kafe." Bianca menelan liurnya berkali-kali sebelum melanjutkan ucapannya.

"Bahkan Ibu pernah menjual aku ke pria paruh baya, saat itu Ibu mengajakku menghadiri undangan makan malam bersama geng sosialitanya," tuturnya, tiba-tiba airmatanya luruh begitu saja di pipinya.

Alex tersentuh dengan nasibnya. Pria itu tidak canggung menyeka air matanya, dan memeluknya erat. Bianca bisa merasakan kehangatan dari pelukan Alex. Entah ia nyaman sebagai pelukan seorang ayah atau seorang pria yang siap mengisi hatinya.

"Apa pria itu menodai mu, Bianca?" tanyanya tidak yakin Bianca gadis suci lagi.

"Gak, Om itu tidak jadi menyentuhku."

Alex menarik nafas lega. Sepertinya dia telah jatuh cinta pada Bianca. Dia bisa merasa sangat cemburu membayangkan Bianca bercumbu dengan pria hidung belang.

"Om, antar aku pulang, ya. Sebentar lagi aku harus persiapan nyanyi di kafe Welly."

Namun, Alex malah menatapnya dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.

"Berapa usiamu?"

"17 tahun, Om."

"Apa ibumu begitu jahat padamu?" tanyanya menyelidiki.

"Maaf, Om. Antarin aku pulang takut keburu sore, entar aku kena omel lagi," mohonnya setengah memelas.

"Mmm." Hanya itu. Lalu, Alex membuka dompetnya dan mengambil kartu ATM dan kartu kredit menyerahkannya pada Bianca.

"Gak, usah Om," ucap Bianca meletakkannya kembali di atas meja.

"Kalau kamu tidak ambil, jangan harap malam ini kamu lepas dari pelukanku," ancamnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca yang tiba-tiba memerah.

"I- iya aku ambil, Om," katanya mengambil kembali kartu di atas meja dan bergegas menuju pintu hotel.

Alex tersenyum manis melihat tingkah Bianca yang polos dan sedikit lugu, tidak seperti yang dia lihat tadi di panggung.

"Kok pintunya terkunci, Om?"

Alex menghampirinya, dan menarik tangan Bianca dengan menyentak kasar. Ia sempat sempoyongan namun tidak sampai terjatuh. Tangannya berpegangan kuat di tangan Alex.

Bianca belum sempat menguasai dirinya, ketika

akhirnya tubuhnya harus terjatuh di dada bidang Alex. Aroma tubuh pria itu seolah menghipnotisnya ingin berlama-lama berada di sana.

'Mmm, begini rasanya di peluk?' batinnya pertama ini di peluk pria.

Tanpa sadar matanya menatap dalam raut wajah Alex. Bahkan ketika pria itu merapatkan bibirnya di bibir Bianca, ia hanya terpaku.

Sementara dalam hati Alex, dia begitu mengagumi daya tarik Bianca. Tidak bisa membohongi hati jika dia sangat mencintainya.

Semakin dalam dia memandang bola mata Bianca di pelukannya itu, semakin terasa getaran cinta bergejolak di hatinya.

"Aku mencintaimu, Bianca," bisiknya tanpa mengingat statusnya lagi.

Dengan lembut melumat bibir merah muda milik Bianca, semakin larut dan terbawa suasana hati yang seolah keduanya memiliki perasaan yang sama.

"Lepaskan, Om," pekik Bianca seperti tersadar, mendorong dada Alex.

Bianca segera menyambar kunci di atas nakas, dan berlari keluar kamar. Ia gegas menuju lift dan menutup pintu liftnya.

Entah perasaan apa yang membawanya bisa sedekat itu dengan pria yang baru dikenalnya.

Saat pintu lift terbuka Alex sudah berdiri di depan menunggu Bianca. Senyuman seringai di wajah pria itu menyambutnya di lantai dasar.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED