Bab.1.
Bergegas kaki gadis kecil berlari menembus hujan salju , tak dipedulikan tubuh mungilnya menggigil kedinginan.
"Tolonggg.. tolongg... Lepaskan aku..."
Makin dekat gadis kecil itu ke rumah kosong berdinding kayu itu makin terdengar jelas teriakan seorang perempuan dari dalam rumah kosong tersebut..
"Tolonggg.. tolongg akuu.."
Gadis kecil itu berhenti di depan rumah kosong , dilepaskan sarung tangannya agar tangannya tidak licin meraih gagang pintu kemudian menekan ke bawah berkali-kali, namun pintu tak kunjung terbuka.
"Pintu tidak mau di buka.."
geram gadis kecil itu dengan aksen anak kecil.
*Hening sejenak*
Butiran-butiran salju yang turun makin banyak dan makin menempel di mantelnya yang usang dan tipis. Gadis kecil itu memiringkan kepalanya, menempelkan daun telinganya pada daun pintu, tapi sudah tak terdengar lagi suara dari dalam rumah padahal tadi sempat kedua telinganya menangkap suara perempuan berteriak minta tolong. Badannya yang kurus mungil makin menggigil kedinginan, butiran-butiran salju menaburi topi rajutan yang bertengger di atas kepalanya. Lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah kosong tersebut...
"Tolong , jangan sakiti aku .!"
Gadis kecil itu menggeser badannya , kedua kakinya berjinjit dan kedua tangannya terulur memegang tepi jendela untuk menjaga keseimbangan badannya agar tidak jatuh, di intipnya ada seorang perempuan perutnya buncit bersimpuh di atas lantai kayu dan di kelilingi tiga orang pria berbadan besar yang berdiri sembari menegak sebotol minuman beralkohol secara bergantian .
"Tolong, lepaskan aku .!. Aku mohon .!"
Perempuan itu menunduk dan berulang kali mengiba namun ketiga pria itu menyeringai menjijikan dan melepaskan sabuk dari celana jeans mereka masing-masing .
*PLAAKK... PLAAKK..*
*PLAAKK...*
*PLAAKK...*
Ketiga pria mabuk itu menampari dan mencambuki perempuan yang bersimpuh dan meringkuk sambil menahan sakit. Membulat dengan sempurna kedua mata gadis kecil itu..
"Aku tidak mau pukuli dan tampari ibu tapi mereka nakal jahat memukuli punggung ibu dengan sabuk dan menampari pipi ibu. Tuhan tolong jangan boleh mereka jahati ibuku.!. Kasihan ibuku .!"
Desis gadis kecil dengan penuh emosi , ia menggeserkan badannya yang kurus mungil ke depan pintu kayu.
*BRUAK.. BRUAAKK..*
Kaki gadis itu menendang kuat-kuat daun pintu yang masih rapat tertutup dengan sempurna.
"BUKA PINTUNYA...!"
Teriak gadis sembari berulang kali menendang pintu yang masih tertutup.
"IBUU....IBUU...."
*BRUAAKK ... BRUAK..*
Kaki tangan gadis kecil itu bergantian memukuli menendangi pintu sembari tiada henti mulutnya terus berteriak . tak dipedulikan rasa panas yang menjalar di area telapak tangan dan kakinya. Ia berusaha keras mendobrak pintu yang tertutup rapat tapi tetap saja nihil, ia kehabisan tenaga dan nafasnya tersengal-sengal kelelahan. Gadis kecil itu kembali mendekati jendela kaca , kedua kakinya berjinjit dan kedua telapak tangannya berpegangan erat di tepi jendela.
"Apa yang mereka lakukan pada ibuku lagi .?"
Guman gadis kecil, dilihatnya dua pria memegangi kedua tangan ibunya yang dalam posisi terlentang di atas lantai kayu berdebu dan seorang pria mengoyak baju ibunya.
"Kenapa orang laki itu membuka celananya dan merobek baju ibuku.?"
Guman gadis kecil, yang masih terus mengintip dari kaca jendela, tampak ibunya meronta-ronta dan menangis tapi pria itu menindih dan menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur. Sungguh polos gadis kecil itu, ia tidak tahu jika itulah yang namanya pemerkosaan , yang ia tahu tiga orang pria dewasa bergantian menyakiti ibunya yang makin meronta-ronta, memberontak ingin melepaskan diri.
"Hentikan.. jangan lakukan ini padaku .!. Aku sedang hamil !."
Pria itu tidak memperdulikan tangisan dari perempuan hamil yang mengiba-iba, yang diperdulikan hanya nafsu sex-nya liarnya.
"Aku sedang hamil, tolong kasihanilah bayi yang kukandung ini. ! Aku mohon hentikan ini.!"
Pinta perempuan hamil itu , tiada habisnya namun tiga pria malah beringas bergiliran memperkosa dengan kasar seperti binatang.
"Ibu menangis terus. Aku punya saputangan tapi tak bisa menghapus air mata ibu .!"
Ucap lirih gadis kecil sembari melirik ujung saputangannya yang tersembul dari saku mantelnya.
"Sakittt...sakitt... Hentikan..!. Aku benar-benar tidak kuat menahan sakitnya ini.!"
Bola mata indah berwarna hazelnut itu berkaca-kaca , melihat ibunya yang sedang hamil mengerang kesakitan tapi tiga pria itu mengabaikan. Setelah selesai memperkosa , langsung ketiga pria itu melanjutkan mencambuki tubuh perempuan hamil yang meringkuk dengan kedua tangan menutupi perutnya yang buncit.
"BUKA MULUTMU .!"
Bentak seorang pria, tapi ibunya gadis kecil menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya bersimbah air mata. Kedua pria menarik kasar rambut perempuan hamil hingga kepalanya terdongak dengan paksa dan pria yang satunya mencengkeram kedua pipi ibunya dengan kasar sampai mulutnya terbuka lebar, pria yang satunya memasukkan penisnya ke dulu mulut perempuan hamil dan .. kencing.
"TELAN..MINUM AIR KENCINGKU .!"
Teriak pria itu , ibu itu menangis dan meronta-ronta tapi dia tidak bisa melepaskan dirinya, dengan tersedak-sedak, air kencing tertelan juga, mereka berdua pun ikut melakukan hal yang sama. Sungguh kebejadan yang luar binasa kelakuan tiga pria tersebut... Menganiaya , memperkosa dan kencing di dalam mulut perempuan hamil. Tiga pria itu menghempaskan tubuh perempuan hamil lalu menendangi punggung , kepala dan sekujur tubuh perempuan hamil itu sampai ia jatuh berguling-guling di lantai.
"Kenapa mereka jahati ibuku , tuhan .?. Ada adikku di dalam perut ibu ."
Ujar gadis kecil itu dengan suara pelan , sepelan tetesan air mata di pipinya . Ingin rasanya ia berontak membela ibunya tapi apalah daya, dia hanya gadis kecil yang masih berusia enam tahun. Ya, dialah .. ABIGAIL gadis melarat dan bodoh yang masih berusia enam tahun.
"Tadi kudengar ada suara anak perempuan kecil di luar , Robert.!"
"Ya, lebih baik kita habisi saja daripada dia cerita ke orang-orang, Antonio.!"
"Kita tembak saja lalu tutupi mayatnya dengan gundukan salju, Arnold.!"
Mendengar percakapan ketiga pria itu , seketika itu juga kedua mata Abigail membulat dengan sempurna, apalagi dengan melihat mereka bertiga mengeluarkan pistol mereka masing-masing dari saku mantel. Pelan-pelan Abigail menjauhkan tubuhnya dari jendela. Kedua telapak tangannya membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara. Dengan berjalan berjinjit ke samping rumah kemudian berjongkok dan menguling-gulingkan tubuhnya ke gundukan salju , ia bersembunyi di bawah gundukan salju. Hatinya berkata..
{Tuhan , tolong sembunyi denganku di bawah gundukan salju ini dan kita berdua jangan bersuara agar tiga orang jahat itu tidak menemukan kita , ya tuhan.!"}
*KLEK..KLEKK..*
Suara seseorang berusaha memutar anak kunci terdengar dari arah dalam, hingga sepersekian detik kemudian tiga sosok pria yang membawa pistol keluar dari rumah berdinding kayu itu. Ketiga pria itu memutari rumah kayu tapi tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.
"ROBERT... ARNOLD... AYO KITA PERGI.!"
"YA , ANTONIO.!"
Sahut dua pria itu secara bersamaan. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak sembari masuk ke dalam mobil yang terparkir di dekat pohon cemara, mobil meluncur dengan kecepatan tinggi. Abigail keluar dari bawah gundukan salju dan berlari masuk ke dalam rumah..
"IBUU... IBUU...!"
Sontak Abigail berhenti berteriak yang sinkron dengan menghentikan larinya.
Bab.2
Abigail menatap nanar, ibunya yang dalam posisi tertidur meringkuk dengan kedua tangan menyilang memegang dua bajunya sendiri. Isak tangis lirih nyaris tak terdengar, bahunya bergetar. Yang terdengar hanyalah..
"Apa salahku , tuhan .?. Mengapa aku diperlakukan sehina dan serendah ini .?"
Abigail menelan ludahnya sendiri, dadanya terasa sesak dan sakit melihat ibunya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dilap air matanya dan ingusnya dengan ujung mantelnya. Setelah merasa tidak ada bekas tangis di wajahnya , mulut mungilnya berucap...
"Ibu..ibu..aku cari ibu..tapi ibu di sini.!"
Perempuan hamil itu terkejut , refleks menoleh ke asal suara..
"Iya ibu di sini, nak.!"
Jawabnya dengan suara parau . Ia berusaha bangkit berdiri walaupun sekujur tubuhnya sakit. Cepat-cepat Abigail berlari mendekati ibunya dan membantu ibunya bangkit berdiri.
"Kok ini lengket-lengket.?. Apa ini , bu .?. Ibu mengompol ya .?"
Pertanyaan polos Abigail membuat ibu itu melihat kedua pahanya sendiri.
"Air ketuban pecah..!"
Desis lirih perempuan hamil itu.
"Ibu mengompol ya, bu.?"
Pertanyaan ulang yang keluar dari mulut Abigail menyadarkan dirinya kalau dia harus cepat ke dokter.
"Abigail tolong bantu ibu ke dokter.!. Sepertinya adik bayimu mau lahir , nak .!"
Pinta ibunya dengan tatapan yang sarat menahan rasa sakit.
"Iya , bu. Kita ke dokter.!"
Ucap Abigail sambil menyambar mantel ibunya yang teronggok di atas lantai kayu.
"Di luar hujan salju, pakailah mantel , bu.!"
Abigail membantu ibunya memakai mantel lalu memeluk pinggang ibunya. Mereka berdua berjalan pelan-pelan keluar dari rumah kayu. Tuhan masih sangat berbaik hati, perlahan-lahan hujan salju mereda namun dinginnya masih terasa sekali. Udara dingin di musim salju ini memberi kekuatan pada perempuan hamil untuk mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhnya , rasa perih di vaginanya tapi tidak mengurangi rasa sakit sedikit pun di hatinya.
"Tidak ada mobil lewat, itu ada rumah. Kita kesana saja yuk , bu.!"
Ajak Abigail pada ibunya yang sudah jalan terseok-seok.
"Iya, kita ke rumah itu saja, nak !"
Ibu dan anak itu berjalan menyeberangi jalan yang tertutup salju , menuju sebuah rumah.
*KNOCK.. KNOCK..*
Abigail mengetuk pintu depan rumah. Sepuluh menit kemudian, seorang wanita membuka pintu dan terkejut melihat Abigail dan ibunya.
"Nyonya.. nyonya.. tolong ibuku. !. Adik bayi mau keluar dari dalam perut ibuku.!"
Ucap Abigail dengan tatapan penuh harapan pada nyonya rumah yang berdiri di depan pintu.
"Nyonya , aku mohon tolonglah aku .!. Air ketubanku sudah pecah .!"
Pinta perempuan hamil sembari menyandarkan tubuhnya ke pintu karena sudah tidak kuat berdiri.
"Ayo cepatlah masuk .!"
Ajak nyonya rumah tersebut sembari memeluk ibunya Abigail, membantu masuk ke dalam rumahnya.
"Berbaringlah dulu di sofa ini.! . Aku telpon dokter .!"
Setelah nyonya rumah membantu perempuan hamil itu berbaring di atas sofa ruang tamunya, ia langsung menelpon dokter agar segera datang.
"Tunggulah.! Sebentar lagi dokter Monica kemari .!"
Ujar nyonya rumah dengan gusar.
"Iya, terima kasih."
Sahut Abigail dan ibunya secara bersamaan.
"Siapa nama kalian .?"
Tanya nyonya rumah sembari meletakkan teh hangat dua gelas di atas meja tamu.
"Aku Abigail dan ibuku ini namanya Tatiana, nyonya.!"
Sahut Abigail sambil melihat dua gelas teh di hadapannya.
"Aku Mariana Sancho. Ayo minumlah teh hangat ini .!"
Pelan-pelan Abigail mengulurkan tangannya mengambil segelas teh lalu di sodorkan ke dekat ibunya..
"Ibu minumlah , bu .!"
Ujarnya dengan lirih tapi Tatiana menggeleng sembari menjawab..
"Tidak , nak. Kamu saja yang minum, Abigail anakku .!"
"Ibu harus minum, ada adik bayi di dalam perut ibu .!"
Abigail memaksa ibunya harus minum walaupun dia sendiri haus ingin minum , dengan terpaksa Tatiana ibunya minum. Abigail langsung menghabiskan sisa minum ibunya lalu gelas itu di lap dengan mantelnya dan di letakkan di atas meja.
"Gelasnya sudah bersih , nyonya .!'
"Tak perlu kamu lap gelas dengan mantelmu, Abigail.!. Ayo sekarang , habiskan teh hangat ini .!"
Nyonya Mariano Sancho tertawa dengan lembut sembari menyodorkan teh segelas yang masih utuh.
"Ayo minumlah , Abigail .! Harus sampai habis ya .!"
Abigail menatap wajah nyonya Mariana Sancho yang tampak sangat ramah. Dengan malu-malu gadis kecil mengambil gelas berisi teh hangat dari atas meja dan meminumnya sampai ludes tak tersisa setetes air teh di dasar gelas.
"Mamaa..."
Seorang perempuan cantik mengenakan seragam putih medis , masuk ke dalam rumah .
"Siapa yang sakit , ma .?"
"Ini nyonya Tatiana hendak melahirkan, air ketubannya sudah pecah."
Sahut nyonya Mariana Sancho yang langsung menghampiri dokter cantik itu dan memperkenalkan..
"Kenalkan, dokter Monica Sancho ini menantuku. Dia yang menolongmu melahirkan, nyonya Tatiana.!"
Dokter Monica tersenyum sembari mengangguk..
"Mari nyonya Tatiana ke tempat praktekku sekarang .!. "
Dokter Monica Sancho dan nyonya Mariana Sancho memapah tubuh nyonya Tatiana keluar rumah .
"Abigail , kamu duduk di depan dekat dokter Monica !. Biar aku dan ibumu duduk di belakang.!"
Perintah nyonya Mariano Sancho pada Abigail .
"Aku tidak tahu bagaimana caranya membuka pintu mobil , nyonya Mariana Sancho.?!"
Jawab Abigail dengan polosnya tanpa rasa malu-malu. Dokter Monica Sancho tersenyum ramah dan membuka pintu mobilnya dan berkata...
"Silahkan masuk, gadis cantik .!"
Abigail mendongakkan kepalanya, melihat wajah dokter Monica Sancho dan berkata...
"Terima kasih , dokter."
Abigail masuk ke dalam mobil dan dokter Monica menutup pintu mobil ia sendiri menyusul masuk ke dalam mobil. Abigail memperhatikan dokter Monica Sancho menghidupkan mesin mobil dan mengemudi dengan anggun.
"Kenapa kamu memperhatikanku , gadis cantik .?. Siapa namamu .?"
"Aku Abigail. Aku belum pernah naik mobil . Ini pertama aku naik mobil dan baru tahu ada dokter cantik mengemudi mobil."
Jawaban jujur Abigail membuat dokter Monica Sancho tersenyum sembari mengedipkan matanya..
"Anggap saja ini mobilmu .!. Ok, Abigail .!"
"Ok, dokter Monica Sancho."
Sahut Abigail sembari tersenyum sambil mengangguk dengan sopan. Lima belas menit kemudian , mobil sudah berhenti di halaman rumah sakit. Seorang perawat membantu nyonya Tatiana keluar dari mobil dan berbaring di atas brankar.
"Langsung ke ruang bersalin , dokter Monica Sancho .?"
Tanya perawat tersebut.
"Ya, suster . air ketuban pasien sudah pecah."
Jawab dokter Monica Sancho dengan ramah. Nyonya Mariana Sancho menggandeng tangan Abigail.
"Ibumu mau melahirkan. Kita duduk sini , Abigail .!"
"Baiklah , nyonya Mariana Sancho."
Abigail dan nyonya Mariana Sancho duduk di bangku panjang di depan ruang bersalin. Abigail meremas jari jemarinya sendiri , berharap mampu sedikit saja memberikan ketenangan pada dirinya menunggu kelahiran adik bayi.
Bab.3
Tiga puluh menit kemudian,
*Oeeekkkk.... Oeekkkk....*
Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin .
"Itu adikku lahir .!"
Ujar Abigail pada nyonya Mariana Sancho , dengan wajah berseri-seri mendengar suara tangis adik bayinya.
"Selamat menjadi kakak ya, Abigail .!"
Nyonya Mariana Sancho menjabat tangan Abigail.
"Ya, nyonya . Terima kasih.".
Sahut Abigail dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan menjadi seorang kakak. Dokter Monica Sancho keluar dari ruang bersalin ..
"Selamat ya, kakak Abigail. Adikmu laki.!"
Ucap dokter Monica Sancho sembari tersenyum ramah.
"Terima kasih, dokter Monica Sancho."
Sahut Abigail sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa aku boleh menemui ibuku dan adik bayi .?"
"Suster masih membersihkan tubuh ibumu dan memandikan adik bayi . Nanti temuilah mereka kalau sudah di pindahkan ke kamar pasien . Sabar ya, kak Abigail."
"Ya , dokter.!"
Jawab Abigail sembari tersenyum bahagia , dokter Monica Sancho mengalihkan pandangannya pada nyonya Mariana Sancho.
"Aku mau bicara dengan mama ."
"Ya, Monica."
Dokter Monica menarik tangan mamanya berdiri menjauh dari Abigail..
"Ma, kutemukan banyak luka legam di sekujur tubuh nyonya Tatiana dan ada bekas sperma yang mengering di pahanya juga di vaginanya. Sepertinya dia korban kekerasan seksual , aku belum sempat menanyakan pada dirinya. Mungkin mama bisa jelaskan padaku tentang nyonya Tatiana."
Terperangah nyonya Mariana Sancho mendengar perkataan menantunya .
"Tadi dia dan anaknya datang ke rumah, minta tolong langsung aku menelponmu . Aku hanya melihat penampilan berantakan tapi aku tidak tahu apa-apa , Monica. Apa tidak sebaiknya kita tanyakan pada Abigail ?."
Saran nyonya Mariana Sancho pada menantu perempuannya yang langsung terdiam sembari mengernyitkan keningnya.
"Aku takut menyinggung Abigail , ma ."
Aura kecemasan dokter Monica tampak jelas saat kedua tangannya mengusap wajah cantiknya.
"Mama bantu tanya pada Abigail , sepertinya dia gadis kecil yang jujur, Monica .!"
"Ya, ma."
Sahut dokter Monica dengan santun. Seorang suster berjalan di koridor rumah sakit.
"Suster mau ke mana .?"
"Mau ke kantin, dokter Monica ."
"Suster, tolong pesankan tiga porsi sup ayam, kentang goreng, egg chicken Sandwich dan coklat susu hangat. Suruh pelayan kantin mengantar ke ruang praktek saya. Terima kasih, suster."
"Sama-sama, dokter Monica."
Jawab suster tersebut sambil mengangguk lalu berjalan meninggalkan dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho yang masih berdiri di koridor rumah sakit.
"Abigail ... Ayo ikut dengan kami .!"
Ajak dokter Monica sembari menggandeng gadis kecil menuju ke ruang prakteknya.
"Ini ruang praktekku, Abigail. Ayo masuklah. !"
Abigail mengikuti dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho masuk ke dalam ruang praktek.
"Bau permen."
Guman Abigail , matanya menyapu seluruh kamar praktek dokter Monica.
*KNOCK.. KNOCK...*
Seorang pelayan kantin rumah sakit berdiri di depan pintu sembari membawa tas plastik .
"Pesanannya , dokter Monica ."
"Silahkan masukkan . Semuanya berapa, pak .?"
"Lima puluh dolar, dokter ."
Dokter Monica langsung memberikan selembar uang pada pelayan kantin yang mengangguk lalu keluar dari ruang praktek.
Abigail melihat semua makanan dan coklat susu hangat yang dikeluarkan dari tas plastik.
"Ayo kita makan dulu .!"
"Apa itu untukku, dokter .?"
Tanya Abigail sambil menelan ludahnya, matanya berkedip-kedip melihat semua yang terhidang di atas meja .
"Ya , ini tiga porsi buat kita bertiga. Abigail cantik harus makan biar tambah sehat dan kuat.!"
Sahut dokter Abigail dengan ramah .
"Aku makan sup ayam dan minum air putih saja , dokter. Kentang goreng , egg chicken Sandwich dan coklat susu hangat buat ibuku dan adik bayi saja.!"
Tatap Abigail dengan penuh pengharapan agar di ijinkan oleh dokter Monica yang langsung tersenyum lebar.
"Ibumu sudah dapat makanan dan susu hangat. Adikmu masih bayi , belum boleh makan minum ini.!"
"Benarkah ibuku dapat makan minum , dokter Monica .?. Siapa yang memberinya .?"
Pertanyaan polos gadis kecil itu menggugah rasa ingin tahu dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho.
"Semua pasien yang opname di rumah sakit pasti mendapatkan makanan minuman dari rumah. Ada suster yang mengantar makanan minuman buat ibumu , Abigail."
Abigail menarik nafas lega , mendengar penjelasan dokter Monica membuat hatinya dan pikirannya tenang.
"Tapi nanti pasti aku memesankan seperti ini untuk ibumu , Abigail .!"
Sontak berbinar-binar mata hazelnut Abigail..
"Terima kasih, dokter Monica. Nanti aku suapi ibuku .!"
"Sekarang kita habiskan makanan minuman ini dulu ya, Abigail.!"
Gadis kecil itu mengangguk lalu melahap semua porsi makanannya dan menghabiskan coklat susu hangat yang di paper glass. Dia mengelap mulutnya dengan tissue. Dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho tersenyum getir.
"Nanti aku pesankan yang sama persis seperti ini buatmu dan ibumu ya , Abigail.!."
"Terima kasih, dokter Monica. Aku dan ibu tidak pernah makan makanan selezat dan sebanyak ini. Kami sehari-hari hanya makan roti gandum."
Celoteh gadis kecil itu dengan polosnya.
"Bagaimana dengan ayahmu , Abigail .?"
Tanya dokter Monica dengan ramah.
Abigail hanya diam membisu, raut wajahnya berubah sedih. Dokter Monica menarik nafas dalam-dalam sembari melihat nyonya Mariana Sancho ibu mertuanya yang tersenyum sembari menangkup wajah Abigail menggunakan kedua telapak tangannya dan berkata dengan lemah lembut..
"Dokter Monica Sancho itu anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal, sedangkan kamu masih mempunyai orang tua yang masih hidup, Abigail."
Abigail menundukkan kepalanya, mulut mungilnya menjawab dengan lirih..
"Ibu melarangku bercerita , nyonya Mariana Sancho.."
"Abigail sekarang sudah menjadi seorang kakak yang kuat dan hebat. Aku dan dokter Monica berjanji mendengarkan semua bicaramu dan kami tidak memberitahu pada siapapun termasuk pada orang tuamu.!"
Tutur nyonya Mariana Sancho dengan lemah lembut. Abigail mendongakkan kepalanya, matanya berkedip-kedip melihat wajah nyonya Mariana Sancho.
"Abigail , tadi kamu dan ibumu datang ke rumahku karena ibumu hendak melahirkan dan aku mempersilahkan kalian berdua masuk ke dalam rumah. Itu sama artinya kubuka hatiku pada kalian berdua. Alangkah baiknya jika kamu ceritakan tentang orang tuamu padaku dan dokter Monica yang selalu siap membantu.!"
"Berjanjilah.. jangan memberitahu pada siapapun, nyonya Mariana Sancho.!"
Ucap Abigail dengan nada suara rendah.
"Ya, aku dan dokter Monica berjanji .!"
bisik nyonya Mariana Sancho seraya merengkuh tubuh mungil Abigail.
"Ayah jarang pulang tapi kalau pulang suka minta uang pada ibu. Jika ibu tidak memberi uang pasti ayah memukuli dan meludahi ibu."
Penuturan jujur Abigail membuat nyonya Mariana Sancho dan dokter Monica saling beradu pandang.
"Apakah kamu juga di pukuli dan di ludahi ayahmu, Abigail .?"
Tanya nyonya Mariana Sancho dengan sikap keibuan. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak pernah, nyonya. Karena ibu suka memegang pisau dan mau menusuk ayah jika ayah mau memukulku. Ibu menyuruhku sembunyi di bawah tempat tidur, aku baru boleh keluar dari bawah tempat tidur kalau ayah sudah pergi.!"
Nyonya Mariana Sancho memejamkan matanya dan mencium pucuk kepala Abigail.