Elena Gunther menangis di sudut flatnya yang minimalis. Di seberangnya, berdiri dengan congkaknya Victor Hubertus, sang kekasih. Elena Gunther dan Victor Hubertus telah menjalin kasih lima tahun lamanya. Mereka tinggal bersama di sebuah flat kecil di pinggir Kota Wina, Austria. Sebuah kota yang tenang, jauh dari kebisingan maupun kemacetan.
Elena Gunther memegangi perutnya yang tampak membesar. Tangis masih terus terdengar dari bibirnya.
“Cukup! Aku sudah bosan hidup denganmu, Elena! Aku akan pergi sekarang juga!” teriak Victor Hubertus pada sang kekasih sembari berkacak pinggang.
“To..tolong, jangan tinggalkan aku dan anak kita, Vic! Kumohon,” ujar Elena Gunther dengan suara memohon.
Victor Hubertus bergeming, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan belas kasih terhadap Elena yang saat itu sedang dalam kondisi hamil tujuh bulan.
“Vic, tolong ingatlah bagaimana aku bersedia hidup susah bersamamu, aku yang mendampingi kamu melewati masa-masa sulitmu. Aku juga yang selama lima tahun ini sabar menantikan janjimu untuk menikahiku. Sekarang, kamu telah sukses, memiliki karier yang cemerlang. Tegakah kamu meninggalkan aku?” ratap Elena dengan bibir bergetar.
“Huh! Aku tidak peduli! Yang jelas aku harus menikahi Nicole!” ujar Victor Hubertus tanpa perasaan.
“Vic, kalau kamu memang sudah tidak mencintai aku lagi, tolong ingat tentang anak dalam perutku ini! Ini adalah anak kamu, Vic!” pekik Elena setengah menjerit sembari bersujud di bawah kaki Victor Hubertus.
“Masa bodoh! Aku tidak mau tahu akan hal itu. Kalau kamu mau, aku bersedia memberimu banyak uang untuk biaya menggugurkan kandunganmu itu. Setelah itu, kamu bisa pergi jauh dan dengan uang itu kamu bisa membuka usaha atau apalah terserah kamu!” kata Victor Hubertus dengan nada sengit.
Elena terpana, seketika tangisnya pun berhenti. Kedua bola mata Elena menatap sang kekasih dengan tatapan nanar. Hati Elena Gunther teramat sakit mendengar perkataan Victor, kekasih yang teramat dicintainya itu.
“Teganya kamu, Vic! Kamu pikir segampang itu menggugurkan kandungan? Apalagi usia kandunganku sudah memasuki bulan ke tujuh. Tapi, lepas dari itu semua, kamu sama sekali tidak punya hati!” rutuk Elena Gunther dengan garang.
“Baiklah, terserah kamu saja. Yang jelas, hari ini juga aku akan meninggalkanmu dan aku akan pindah ke rumah Nicole. Kamu tenang saja, nanti akan aku kirimi kamu uang!” Victor Hubertus beranjak dari hadapan Elena Gunther.
Elene Gunther sama sekali tidak bereaksi. Dia menegakkan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding. Elena Gunther menatap langkah sang kekasih yang menuju ke kamar mereka. Dengan langkah berat, Elena Gunther pun menyeret langkahnya ke sebuah sofa mungil kesayangannya. Dia duduk di sofa itu sambil mengatur napasnya yang mulai berat.
Sementara itu di dalam kamar, Victor Hubertus membuka koper miliknya yang berwarna merah tua. Semua baju dan barang-barang miliknya pun segera dikeluarkan dari dalam lemari dan dipindahkan ke dalam koper. Victor Hubertus menyusun baju-bajunya secara sembarangan di dalam koper. Bagi Victor, yang penting bisa masuk tanpa harus repot-repot merapikannya.
Victor Hubertus melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjuk angka delapan, meskipun sudah pukul delapan malam, namun cuaca masih agak panas bagi Victor. Selesai mengepak semua baju dan barangnya, Victor Hubertus pun segera menarik kopernya ke luar kamar. Di ruang tamu dilihatnya Elena Gunther sedang duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
“Aku pergi! Maafkan aku, Len.” Ucap Victor Hubertus saat berdiri tegak di hadapan Elena Gunther yang masih memejamkan matanya.
“Pergilah, Vic! Tapi, tolong janganlah kamu beri aku uang sedikit pun juga. Biarlah aku hidup dengan anak kita ini tanpa merepotkanmu lagi.” ujar Elena Gunther masih dengan mata terpejam dan punggung bersandar di sofa.
Victor Hubertus tidak menyahut perkataan Elena Gunther. Ditariknya koper merah tua itu dan dibukanya pintu flat. Victor Hubertus menyempatkan memandang wajah sang kekasih sekali lagi sebelum dia menutup pintu flat kembali.
Ketika mendengar pintu menutup, mata Elena Gunther pun terbuka. Perlahan air mata perempuan yang sedang hamil itu pun meleleh membasahi pipinya. Elena Gunther menangis dalam diam. Dalam hati Elena bingung, harus kemanakah dia sekarang? Elena Gunther adalah seorang yatim piatu, dari kecil dia hidup di panti asuhan. Ketika Elena Gunther telah dewasa dan memiliki perkerjaan sendiri, dia bertemu dengan Victor Hubertus. Selama lima tahun Elena Gunther menjalin kasih dengan Victor Hubertus, selama itu pula, Elena bersedia hidup susah bersama kekasihnya itu.
Victor Hubertus yang merupakan anak yatim piatu juga, adalah sosok yang bisa memahami dan mengasihi Elena Gunther, setidaknya itulah yang Elena rasakan dalam lima tahun itu. Tetapi, keadaan sungguh berubah seratus delapan puluh derajat ketika Victor Hubertus mulai bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis ekspor impor.
Karena kecerdasannya, Victor Hubertus pun cepat mendapatkan promosi jabatan di perusahaan tempatnya bekerja. Dia sangat dihormati oleh rekan-rekan kerjanya. Demikian pula dengan anak perempuan sang bos, yang ternyata diam-diam menaruh hati pada Victor Hubertus. Memang tidak dapat dipungkiri, selain cerdas, Victor Hubertus juga gagah, tubuhnya pun terawat dengan baik. Itu semua berkat kedisiplinannya yang tinggi terhadap olahraga. Setiap pagi, rutinitas Victor Hubertus setelah bangun tidur adalah ke tempat gym yang berada dekat flatnya. Victor Hubertus juga sangat memperhatikan pola makannya, sehingga wajar jika dia memiliki tubuh sehat dan gagah.
Victor Hubertus tahu jika Nicole, putri bosnya menaruh hati padanya. Awalnya, Victor Hubertus tidak menanggapi perasaan Nicole karena Victor sudah memiliki Elena. Victor Hubertus sangat mencintai Elena Gunther, lebih-lebih saat itu Elena juga sedang hamil anak Victor. Memang Victor Hubertus pernah berjanji pada Elena Gunther bahwa dia akan menikahi kekasihnya itu ketika nanti kariernya sudah mapan. Namun, siapa yang bisa tahu takdir apa yang akan datang menghampiri kita? Victor Hubertus yang awalnya sama sekali tidak menanggapi Nicole, menjadi berubah. Nicole memang cantik, meskipun tidak secantik Elena Gunther. Namun, dalam diri Nicole, Victor Hubertus bisa melihat adanya sebuah kesempatan untuk hidup sukses dan bergelimang harta tanpa repot-repot. Menyadari kesempatan terbuka lebar, Victor Hubertus pun memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut. Victor Hubertus bahkan tega meninggalkan kekasih yang sudah lima tahun menemaninya.
Elena Gunther berdiri dari duduknya dan menghampiri jendela flatnya yang berada di lantai atas. Melalui jendela itu Elena Gunther dapat melihat Victor Hubertus yang menyeberangi jalan di depan flatnya dan berjalan di trotoar semakin menjauh dari flat mereka.
Elena Gunther menyeka air matanya menggunakan telapak tangan kanannya. Dalam hati Elena berjanji pada diri sendiri, dia akan bangkit dari keterpurukannya ini. Elena tetap akan melahirkan bayi dalam kandungannya dan akan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Elena Gunther akan kembali bekerja demi untuk menghidupi dirinya dan anak yang akan dilahirkannya itu. Bagi Elena Gunther, tidak ada waktu untuk terus meratapi nasibnya.
Sudah dua bulan sejak Victor Hubertus meninggalkan Elena Gunther. Persiapan pernikahan Victor Hubertus dengan Nicole Meinrad sudah beres, tinggal menunggu waktu saja. Hari penikahan mereka akan dilangsungkan dua minggu lagi.
Selama dua bulan itu. Victor Hubertus tidak pernah mendengar kabar tentang Elena Gunther. Ketika satu bulan yang lalu Vinctor Hubertus sengaja mendatangi flat yang dulu ditempatinya bersama Elena, ternyata flat itu sudah berganti penghuni. Saat Victor Hubertus menanyakan pada si pengurus flat, sama sekali tidak ada informasi tentang Elena Gunther yang bisa diberikan oleh pengurus flat itu. Praktis, kini Victor Hubertus telah putus kontak dengan Elene Gunther.
Jika Victor Hubertus telah putus kontak dengan Elena Gunther, namun tidak demikian dengan Nicole Meinrad. Nicole yang mengetahui bahwa calon suaminya telah memiliki kekasih, tentu saja tidak mau tinggal diam. Nicole Meinrad harus memastikan Elena Gunther kelak tidak akan mengganggu rumah tangganya bersama Victor Hubertus. Maka, diam-diam Nicole Meinrad mengupah orang bayaran untuk mencari informasi tentang Elena Gunther.
Hari itu di kantornya, Nicole Meinrad kedatangan tiga tamu. Mereka adalah orang-orang yang dibayar oleh Nicole Meinrad. Kebetulan hari itu Victor Hubertus sedang tidak berada di kantornya, dia sedang menemui rekan bisnis bersama Benedito Meinrad, ayah Nicole sekaligus bosnya. Nicole Meinrad bersedia menerima Matheo Kion, Phineas Fabio, dan Marvin Norbert di kantornya.
“Jadi, apa yang kalian dapatkan?” tanya Nicole Meinrad membuka percakapan.
“Kami mendapatkan informasi mengenai Elena Gunther, Nona. Elena Gunther sekarang tinggal di desa Hallstatt, wilayah Salzkammergut. Dia hidup sendiri dan bekerja di salah satu tempat makan di situ sebagai juru masak,” tutur Matheo Kion memulai laporannya.
Matheo Kion adalah penjahat bengis yang tidak kenal belas kasihan. Dia bersama rekannya, Phineas Fabio merupakan rekan kejahatan yang sudah cukup lama saling kenal. Mereka berdua sering keluar masuk penjara karena kasus-kasus kejahatan yang berbeda-beda. Matheo Kion dan Phineas Fabio tidak akan segan membunuh korbannya. Berbeda dengan kedua rekannya, Marvin Norbert adalah penjahat kelas teri yang masih terhitung baru. Sebenarnya, Marvin Norbert mempunyai pekerjaan di sebuah kantor percetakan kecil. Namun, karena gajinya tidak cukup untuk biaya berobat istrinya, maka dengan terpaksa dia mencari tambahan. Kebetulan Phineas Fabio adalah teman semasa kecil Marvin Norbert, sehingga ketika Marvin Norbert mengeluhkan tentang kesulitannya, tanpa segan Phineas Fabio mengajaknya bergabung. Karena terdesak untuk mendapatkan uang banyak dan secepatnya, maka Marvin Norbert pun bersedia.
“Ada hal yang lebih mengejutkan lagi, Nona!” ujar Phineas Fabio sembari menyunggingkan senyum.
“Apa itu?” tanya Nicole Meinrad penasaran.
“Elena Gunther ternyata sedang hamil besar. Menurut informasi yang kami dapatkan, usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke sembilan, Nona,” ujar Phineas Fabio lagi.
Nicole Meinrad terkejut bukan main mendengar penuturan Phineas Fabio. Nicole Meinrad sama sekali tidak menyangka jika Elena Gunther hamil. Selama ini Victor Hubertus sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu pada dirinya. Nicole Meinrad yakin bahwa anak yang ada dalam kandungan Elena Gunther adalah anak Victor Hubertus, calon suaminya. Ah, Nicole Meinrad tidak mau ada masalah dikemudian hari. Nicole Meinrad juga tidak mau jika kehormatan keluarga besarnya yang selama ini berstatus sosial tinggi akan hancur. Nicole Meinrad tidak mau orang-orang tahu bahwa calon menantu keluarga Meinrad adalah laki-laki yang telah memiliki anak dengan wanita lain.
Nicole Meinrad harus melindungi martabat dan kehormatan keluarganya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Nicole Meinrad pun memperoleh jalan keluarnya.
“Apakah kalian ingin uang yang lebih besar lagi?” tanya Nicole Meinrad dengan tatapan tajam tertuju pada ketiga orang yang duduk di hadapannya itu.
Ketiga orang itu pun saling berpandangan satu sama lain, kemudian mereka pun saling mengangguk.
“Kami mau, Nona. Tugas apa lagi yang harus kami selesaikan untuk anda?” tanya Matheo Kion.
Nicole Meinrad menimbang-nimbang sebentar lalu berkata, “Aku ingin kalian menculik dan membunuh Elena Gunther beserta bayi dalam kandungannya itu!”
Matheo Kion dan Phineas Fabio mengangguk sambil menyeringai memperlihatkan wajah bengis mereka. Namun tidak demikian dengan Marvin Norbert, dia terbelalak mendengar perkataan Nicole Meinrad yang terdengar sangat kejam di telinganya.
“Itu sih mudah, Nona. Yang penting bayarannya cocok, hahaha!” ujar Matheo Kion.
“Tentang bayaran itu sih gampang! Yang penting aku mau pekerjaan kalian bersih, jangan sampai ada yang menghubungkan kematian Elena dengan aku!” ujar Nicole Meinrad serius.
“Siap, Nona!” sahut Matheo Kion dan Phineas Fabio bersamaan.
“Dan satu lagi,” kata Nicole Meinrad.
“Apa itu, Nona?” tanya Matheo Kion heran.
“Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa Elena Gunther dan bayinya sudah tewas!” kata Nicole Meinrad tajam.
“Itu sih beres, Nona. Kami akan atur semua itu. Nanti kalau pekerjaan kami telah berhasil, Nona segera kami kabari,” kata Phineas Fabio meyakinkan.
“Bagus, aku suka semangat kerja kalian! Sebentar, aku tulis cek untuk uang muka dulu.”
Nicole Meinrad beranjak dari sofanya dan melangkah menuju ke meja kerjanya. Nicole Meinrad duduk di kursinya dan mulai mengambil buku ceknya lalu menuliskan sejumlah uang di situ. Nicole Meinrad menyerahkan selembar cek itu pada Matheo Kion yang menerimanya dengan senyum lebar. Metheo Kion dan Phineas Fabio membaca nominal yang tercantum pada cek itu, dan seketika senyum mereka berdua makin lebar.
“Ngomong-ngomong, kapan kami bisa mulai pekerjaan ini, Nona?” Tanya Matheo Kion sembari melipat cek dan memasukkannya ke dompetnya.
“Secepatnya! Aku ingin sebelum hari pernikahanku, pekerjaan kalian sudah beres,” ucap Nicole Meinrad tegas.
“Itu artinya kami hanya punya waktu kurang dari dua minggu. Itu sudah cukup banyak untuk kami, Nona. Ok, kalau begitu kami pamit dulu, Nona.” Matheo Kion berdiri dan menyalami Nicole Meinrad.
Phineas Fabio dan Marvin Norbert pun ikut berdiri dan melakukan hal yang sama pula. Mereka bertiga ke luar dari kantor Nicole Meinrad dengan wajah sumringah, kecuali Marvin Norbert yang masih terlihat takut dan cemas.
“Hei, Marvin, mengapa kamu dari tadi hanya diam?” tegur Phineas Fabio ketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil yang melaju di jalan raya.
“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja melihat nominal dalam cek tadi,” kata Marvin Norbart beralasan.
“Hahaha, itu belum seberapa, Vin. Nanti kalau pekerjaan kita sudah beres, akan lebih banyak lagi uang yang kita dapat. Kamu tidak rugi ‘kan ikut kami? Uang bagianmu nanti bisa kamu gunakan untuk pengobatan istrimu,” kata Phineas Fabio tersenyum lebar.
“Iya, Phin,” kata Marvin Norbert singkat.
Mobil yang mereka tumpangi pun melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Kota Wina yang lengang. Mereka bertiga membicarakan rencana untuk menculik dan membunuh Elena Gunther. Di sela-sela obrolan itu, terkadang tawa mereka pun terdengar. Bagi mereka, melakukan sebuah kejahatan semacam itu bukanlah hal yang menakutkan, justru itu merupakan hal yang menyenangkan.
“Uhh, tolong aku! Lepaskan aku!!!” Elena Gunther meronta dan berteriak ketika dirinya diseret masuk ke dalam sebuah mobil van hitam.
Matheo Kion dan Phineas Fabio berhasil menyeret Elena Gunther ke dalam mobil van.
“Jalan, Vin!” perintah Matheo Kion pada Marvin Norbert yang memegang kemudi.
“Lepaskan!!!” teriak Elena Gunther histeris.
“Bungkam mulutnya!” perintah Matheo Kion pada Phineas Fabio.
Phineas Fabio pun berhasil membungkam mulut Elena Gunther menggunakan kain yang diikat dengan kencang. Setelah itu, Phineas Fabio mengikat tangan Elena Gunther yang dari tadi dipegang oleh Matheo Kion. Phineas Fabio mengikat tangan Elena Gunther ke belakang, sedangkan Matheo Kion bertugas mengikat kaki Elena Gunther. Terakhir, Matheo Kion pun menutup mata Elena Gunther dengan kain yang tebal.
“Diam kamu! Lebih baik kamu diam dan tenang. Tidak ada gunanya kamu berteriak atau meronta!” ujar Matheo Kion dengan nada mengintimidasi.
Elena Gunther diam. Dia memilih menuruti perintah orang yang menculiknya itu. Elena Gunther berharap ada sebuah keajaiban bagi dirinya dan bayi dalam kandungannya. Elena Gunther berharap tidak terjadi apa-apa pada dirinya maupun bayinya.
Elena Gunther tidak tahu berapa lama dia berkendara bersama para penjahat yang menculiknya itu. Elena Gunther sudah merasa pegal di bagian punggungnya karena posisi duduknya yang tidak nyaman dalam mobil van. Ikatan kaki dan tangannya pun sangat kencang sehingga Elena Gunther merasa sakit dan pedih pada tangan dan kakinya.
Elena Gunther merasa perjalanan yang ditempuhnya amat panjang dan melelahkan. Sampai tiba-tiba mobil pun berhenti.
“Turunlah!”
Elena Gunther merasa dirinya didorong dari belakang dan di depannya ada orang yang memegang tangannya untuk menuntunnya turun. Elena Gunther dilepas ikatan kakinya, kemudian dia disuruh berjalan bersama seseorang yang memegang tangannya.
Elena Gunther mendengar suara pintu dibuka dan ditutup. Kemudian orang yang memegangnya mendudukan Elena Gunther di sebuah kursi.
Elena Gunther berusaha menajamkan telinganya. Dia berusaha untuk mendengarkan apa saja yang ada di sekitarnya. Namun, dia tidak mendengar apa-apa selain suara langkah kaki para penculiknya. Kemudian terdengar sebuah langkah mendekatinya, Elena Gunther merasakan hembusan napas orang itu di hadapannya. Tiba-tiba orang tersebut membuka penutup mata Elena Gunther. Seketika itu juga, Elena Gunther mengerjapkan matanya berusaha menyesuiakan dengan keadaan.
Elena Gunther mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan itu. Dirinya mulai memahami tempat itu, sebuah rumah dengan perabot seadanya. Rupanya bukan rumah tinggal, mungkin hanya rumah untuk singgah atau sekedar beristirahat. Elena Gunther menatap orang yang berdiri di hadapannya, seorang laki-laki tinggi besar berkepala gundul sedang berkacak pinggang. Wajah laki-laki itu sangat bengis, menyeramkan.
“Aku harus mengatakan padamu. Apa yang kami lakukan padamu ini bukanlah sebuah dendam pribadi, karena sebenarnya kami pun tidak mengenalmu. Ini hanyalah urusan bisnis. Jadi, jangan harap kamu akan mendapat belas kasihan dari kami, hahaha!” ujar Matheo Kion yang masih berdiri di hadapan Elena Gunther.
“Ah..uhh..oh..,” Elena Gunther berusaha untuk bicara dari balik sumbatan mulutnya.
“Sudahlah, kamu tenang saja. Kami tidak akan lama kok, paling-paling hanya memakan waktu tiga puluh menit atau paling lama satu jam, hahaha. Bawa dia!” Matheo Kion memerintahkan pada Phineas Fabio dan Marvin Norbart untuk membawa Elena Gunther ke belakang.
Elena Gunther pun diseret oleh Phineas Fabio dan Marvin Norbart menuju sebuah ruangan yang terletak di belakang. Betapa terkejutnya Elena ketika melihat ruangan itu berisi sebuah meja yang penuh dengan berbagai macam alat penyiksaan. Di dekat meja itu terdapat sebuah kursi kayu besar seperti kursi goyang yang hitam legam. Dan yang membuat Elena Gunther lebih ngeri lagi adalah sebuah ranjang kecil dengan kasur dan sprei putih yang ada di sudut ruangan. Di dekat ranjang itu terdapat semacam alat yang penuh dengan kabel, entah apa namanya. Seketika Elena Gunther bergidik ngeri, ketakutannya sudah mencapai batas maksimal. Harapan Elena Gunther pun merosot drastis, dia sudah bisa memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh para penculik terhadapnya.
Phineas Fabio dan Marvin Norbart mendudukan Elena Gunther di kursi kayu, sedangkan Matheo Kion membuka ikatan tangan Elena Gunther dan mengikat kedua tangan perempuan itu kembali ke kedua lengan kursi kayu. Setelah itu, Matheo Kion pun membuka kain yang menutupi mulut Elena Gunther dan membuangnya ke lantai.
“Siapa kalian?! Untuk apa aku dibawa kemari? Tolong lepaskan aku, kumohon. Aku sedang hamil besar, kumohon lepaskan aku,” rintih Elena Gunther dengan suara memohon.
“Silakan kamu berteriak sesuka hatimu, tidak akan ada yang mendengarnya karena ruangan ini kedap suara, hahaha!” ujar Matheo Kion tertawa kejam.
“Kumohon,” ratap Elena Gunther sembari menangis.
“Kubilang diam!!!”
Tangan Matheo Kion pun melayang dan mendarat di pipi kiri Elena Gunther. Suaranya yang cukup keras membuat Marvin Norbert terlonjak kaget.
“Hahaha, kaget ya, Vin? Kamu harus membiasakan diri mulai sekarang,” ujar Phineas Fabio pada Marvin Norbert yang berdiri di sebelahnya.
Elena Gunther diam, dia menggigit bibirnya sampai terluka. Sedikit darah dirasakan dalam mulut Elena Gunther, rasa darah yang bercampur dengan air mata yang mengalir dengan deras. Elena Gunther menangis dalam diam, dia takut jika dirinya kedapatan menangis keras, maka akan menimbulkan kemarahan si penculik lagi.
“Dasar perempuan tidak tahu diri! Aku suruh kamu diam, eh malah kamu masih bicara terus. Dasar perempuan tidak punya otak!” Matheo Kion menarik rambut Elena Gunther sampai perempuan itu menjerit karena sakit.
“Ampun, aku mohon ampuni aku. Apa salahku sampai kalian memperlakukan aku seperti ini?” ucap Elena Gunther di sela-sela tangisnya.
“Sudah kubilang untuk diam!!!” teriak Matheo Kion marah.
Matheo Kion pun menendang perut Elena Gunther dengan keras sehingga membuat perempuan itu berteriak kesakitan.
Phineas Fabio yang menonton adegan itu hanya tertawa melihat penderitaan Elena Gunther. Marvin Norbart lebih memilih memalingkan wajahnya dan tidak melihat apa yang dilakukan oleh Matheo Kion.
“Mat, lihat! Dia berdarah!” pekik Phineas Fabio sembari menunjuk kaki Elena Gunther.
Matheo Kion dan Marvin Norbart pun langsung melihat bagian yang ditunjuk oleh Phineas Fabio. Dan benar juga, di kedua kaki Elena Gunther mengalir darah segar yang cukup banyak. Darah itu bahkan telah mengenangi lantai di bawah kakinya. Matheo Kion yang melihat itu langsung mundur untuk menghindari terkena darah Elena Gunther.
Elena Gunther meringis kesakitan, dia memegangi perutnya.
“Sepertinya dia akan melahirkan!” pekik Phineas Fabio lagi.
Matheo Kion manatap Phineas Fabio dengan pandangan terkejut.
“Benarkah itu? Lalu kita harus bagaimana?” tanya Matheo Kion bingung.
“Ya tunggu saja bayinya lahir, paling sebentar lagi,” ujar Phineas Fabio santai.
“Apa tidak sebaiknya kita tolong dia untuk melahirkan?” tanya Marvin Norbart dengan suara bingung.
“Kamu bodoh ya! Tujuan kita menculik dia adalah untuk membunuhnya, kamu malah mau menolongnya!” kata Matheo Kion kesal.
Tiba-tiba, dari antara kedua paha Elena Gunther muncullah kepala bayi. Melihat hal itu, Marvin Norbart spontan berlari dan menangkap bayi tersebut tepat ketika bayi itu ke luar sempurna. Beberapa detik kemudian terdengarlah tangis bayi itu. Mereka bertiga panik, meskipun mereka tahu ruangan itu kedap suara tetapi tetap saja rasa takut barangkali ada yang mendengar suara tangis bayi tetap ada. Maka dengan langkah mantap, Matheo Kion maju mendekati bayi yang ada dalam gendongan Marvin Norbart.
“Kemarikan bayinya!” Matheo Kion mengambil bayi itu dari Marvin Norbart.
Di hadapan Phineas Fabio dan Marvin Norbart, juga tepat di depan Elena Gunther yang dalam kondisi lemah, Matheo Kion membekap dan mencekik bayi itu sampai tidak bergerak lagi. Tangisan itupun lenyap, berganti dengan rintihan yang ke luar dari bibir lemah Elena Gunther.
Elena Gunther sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
“Beres! Biarkan saja perempuan itu, sebentar lagi juga dia akan menyusul bayinya. Aku ke depan dulu, cari udara segar!” ujar Matheo Kion meninggalkan ruangan itu.
“Vin, kamu bereskan kekacauan ini! Aku akan menyusul Mat ke luar.” Phineas Fabio pun melangkah meninggalkan ruangan itu.
Marvin Norbart yang kebingungan tiba-tiba mendengar suara lirih Elena Gunther yang menyuruhnya mendekat. Marvin Norbart tidak punya pilihan lain selain mendekati Elena Gunther yang lemah itu. Setelah mendekat, Elena Gunther pun mengatakan sesuatu di dekat telinga Marvin Norbart.