Hujan, petir dan guruh hampir bersamaan menyerbu Jakarta belum lagi angin menderu berhasil mengungkung Jakarta membuat kota yang selalu sibuk dan sesak ini terkepung air di mana-mana.
Hujan semakin lebat, sebuah mobil sedan berwarna putih melaju kencang membelah jalanan Jakarta yang penuh dengan berbagai kendaraan. Jendela dan kaca depan mobil Kaira sekarang hampir di penuhi oleh galur-galur air menetes membentuk kelokan mirip dengan sungai kecil yang terputus-putus.
Kemacetan berapa kali harus menghentikan mobil itu selama beberapa waktu dan setiap kali macet terurai, Kaira akan kembali mengebut, menyalip mobil-mobil lain yang berada di dekatnya dengan kecepatan penuh. Dia menggila, air matanya telah luruh jatuh, sementara hapenya terus berdering tak berhenti.
Tapi Kaira tidak perduli. Dia malah mempersar volume musik dari mobilnya hingga suara musik menggelegar memenuhi seisi mobil dan membuat jendelanya seolah bergetar, seolah tak sanggup menahan semua kegilaan yang tengah menyerangnya. Kaira bahkan terlihat kusut, pakaiannya tak rapi. Wajahnya tak dirias sama sekali, beberapa tetes air mata keluar turun ke pipinya dan mengaburkan jarak pandangnya. Kaira menghapus air matanya dengan kasar, dia terlihat seakan ingin meluapkan semua kemarahannya pada apa pun yang ada di dekatnya, tapi sekarang dia masih harus bersabar karena belum sampai ke tempat tujuannya.
Selang berapa waktu, mobil yang dia kendarai akhirnya memasuki sebuah area hotel. Kaira menghentikan mobilnya tepat di depan lobby hotel. Seorang petugas valet membuka pintu mobilnya dan langsung mengambil alih kunci mobil Kaira lalu membawa mobil itu ke tempat parkir.
Kaira berjalan memasuki hotel dengan tubuh gontai. Dia tidak bertanya pada resepsionis karena dia sudah tahu kamar yang dia tuju, karenanya dia lebih suka berbohong dengan memesan kamar lain. Kaira berjalan memasuki lift. Di sana dia melihat dirinya dengan lebih jelas. Wajah pucat, mata menghitam, bibir kering dan pecah-pecah. Rambut panjangnya kusut berantakan tapi Kaira tidak perduli, ada hal lain yang lebih penting dari pada penampilannya.
Kaira berjalan menuju salah satu kamar kamar yang ada di sana dengan langkah setengah menyeret. Berapa kali tubuhnya hampir jatuh, heels miliknya sudah terlepas entah kemana. Beberapa orang tamu melewatinya dengan pandangan penuh tanya dan saat dia hampir jatuh untuk kesekian kalinya seorang tamu dengan sigap meraih tubuhnya, tamu itu menolongnya.
Tapi Kaira berusaha menepis tangannya dengan tertatih dia bangun lalu berjalan menuju kamar yang dia tuju.
Sesampainya di kamar yang di maksud Kaira tercenung cukup lama. Hatinya memerintah untuk menggila, otak memintanya untuk berlaku sabar. Kaira berperang dengan dirinya sendiri, dia tidak tahu langkah apa yang harus dia ambil, dia tersesat.
Cukup lama Kaira berada di depan pintu kamar nomor 335 itu. Peperangan di dalam dirinya akhirnya di menangkan oleh otaknya. Berlahan sambil melepas cincin di jarinya, bersamaan dengan semakin kerasnya suara desahan yang dengar suara desahan dari dalam kamar.
Suara mereka menderu bersamaan dengan nafas yang memburu tapi kedua orang yang ada di dalam kamar itu tak berpacu dengan waktu karena mereka memang tak perlu terburu-buru.
“Kai….”
Kaira memegang pintu kamar itu nomor 335 itu, tangannya mengepal memegang cincin pernikahan yang sudah terlepas dari jari manisnya. Jari manisnya terlihat lebih putih dari jari lainnya karena cincin yang dia pakai.
“Sebagai lelaki, tolong katakan padaku, bagaimana caranya membuat lelaki untuk terus mencintaiku dan tidak berkhianat?”
“Aku tidak tahu Kaira!” lelaki itu menghapus air mata Kaira. “Tapi, jika kamu mau aku bisa menghancurkan kedua orang itu untukmu.”
“Kalau aku melakukannya, apa aku akan bahagia? Kalau aku membiarkannya, apa aku bisa mengikhlaskannya? Bagaimana caranya aku hidup setelah ini?”
Kembang api, hampir memenuhi seluruh langit dan sudut Jakarta. Perayaan tahun baru kali terasa sangat meriah, dengan banyak kembang api di setiap sudut kota, konser artis lokal, boyband korea dan artis Hollywood, semuanya menjadi magnet yang memanggil semua orang untuk menonton mereka.
Tapi, Kaira dan Sunny memilih untuk merayakan malam tahun baru mereka, di sebuah restaurant fine dining di daerah Jakarta selatan. Restaurant yang mereka pilih, adalah rooftop restaurant. Restaurant itu bernuansa romantic, dengan chandelier yang menggantung di beberapa tempat sebagai penerangan. Juga lampu berbentuk burung-burung merpati yang menggantung di dalam sangkar terbuat dari bambu hingga menimbulkan cantik sekaligus unik.
Seorang waitress datang membawa buku menu ke meja mereka.
“Sudah siap memesan, pak?” tanyanya.
Sunny mengangguk. “One grilled octopus over squid ink pasta and tomato garlic sauce,” pilih Sunny dengan cepat. “Appetizer one mushroom vol au vent and for dessert pineapple basil lime and white chocolate mini mousse cake.”
Setelah Sunny, sekarang giliran Kaira yang memilih. “One steak with creamy peppercorn sauce, caramelized onion, mushroom and gruyere tartlets dan untuk dessert aku pilih fairy tale cherry blossoms and strawberry parfait.”
“Ada lagi?” tanya si waitress. “Apa mau di tambah dengan wine?”
“Kamu mau wine?”
Kaira mengangguk. “Ok, sebotol wine tapi katanya disini ada sommelier, kan?”
“Benar mbak.”
“Bisakan sommelier-nya membantu memilih wine yang cocok dengan pilihan makanan kami?”
“Bisa, pak. Ada tambahan lain selain itu?” tanyanya.
Kaira dan Sunny menggeleng.
“Saya kira sudah cukup.”
Setelah si waitress mengulang semua pesanan Kaira dan Sunny dan memastikan tidak akan ada kesalahan, dia pamit pergi meninggalkan mereka berdua. Dan Sunny langsung bicara.
“Setelah ini, kita akan langsung menonton Loona Golden di gedung pertunjukan Airlangga, babe.”
“Loona Golden? Kelompok penyanyi opera itu?”
Ya,” jawab Sunny dengan senyum lebar.
“Tapi gimana caranya kamu dapat tiketnya, babe? Setahuku tiketnya langsung ludes dalam waktu satu jam!”
“Kamu ngga ngelihat email yang aku kirim? Kebiasaan buruk kamu ngga berubah.”
“Sorry,” ujar Kaira dengan penuh penyesalan. Dia langsung mengambil hapenya dan memeriksa email yang dikirim Sunny. “Babe, ini benaran kan?”
“Iya, hadiah tahun baru untuk kamu sekaligus hadiah hari jadi kita. Sorry kecepatan.”
“Thank you so much, aku lagi pengen-pengennya nonton opera sekaligus research untuk novel baruku. Eh, di kasih hadiah ini.” ujar Kaira kesenangan dan langsung mencium Sunny yang duduk di sampingnya.
****
Seorang sommelier datang membawa wine untuk mereka. Rupanya, dia memilih cabernet merlot, pilihan yang cukup pas untuk menemani makan malam mereka.
“The perfect bubble for our romantic diner coming!” ujar Sunny begitu si sommelier datang ke meja mereka.
Sommelier itu tersenyum ramah lalu dia membuka wine dan menuangkannya ke dalam wine decanter, full-bodied red wine. Dia mengangkat wine decanter ke atas napkin putih sebentar lalu memutar wine decanter secara lembut dan berlahan searah dengan jarum jam. Setelah itu, dia menuangkan wine dari wine decanter ke dalam gelas wine milik Kaira dan Sunny.
Setelah sommelier pergi, Kaira meraih gelas cabernet wine miliknya. Sebelum minum baik Kaira maupun Sunny melakukan cupping alias mencium aroma yang wine yang menguar lembut ke indra penciuman mereka. Berlahan, Kaira menyesap wine digelasnya dan tanpa perlu menunggu lebih lama lagi segera saja rasa dari Cabernet Merlot meletup-letup lembut di dalam mulutnya.
“Red wine Henschke lenswood Abbots Prayer Cabernet Merlot, it’s amazing!” puji Kaira.
Sunny tersenyum dan mulai memotong makanannya.
“Kai.”
“Hmm, ada apa?”
“Ibu nelpon lagi…, dan lagi-lagi beliau nanya kapan kita punya akan anak.”
Kaira yang baru makan dua suap langsung melepaskan alat makannya dan membersihkan sudut bibirnya dengan napkin. Dia menatap Sunny dengan tatapan aneh, kebahagiaan di hatinya yang baru saja terjadi langsung menguap.
“Ibu nanya, apa kita ngga mau merubah pikiran soal anak?” ulang Sunny.
“Lalu kamu jawab apa?”
Sunny diam, dia tidak punya jawaban. Dia kembali menyuap makanannya. Tapi, Kaira telah kehilangan nafsu makannya.
“Sejak sebelum nikah, kita udah sepakat untuk child free. Jangan lupa itu dan kamu setuju dengan keputusanku.”
“Iya Kai, tapi kalau difikir lagi, child free ngga cocok dengan kita. Kamu mau sampai kapan kita hidup berdua?” tanya Sunny. “Kai, sampai kapan kita mau hidup kita hanya diwarnai dengan have sex, bersenang-senang dan seperti ini terus menerus? Jujur, terkadang aku ingin dengar ada tawa dan tangis bayi di rumah kita,” ujar Sunny lalu menyesap lembut wine dari gelasnya.
“Ya, itu karena kita bahagia berdua, kita pacaran sampai kakek nenek. Lagi pula anak hanya akan menambah masalah dalam rumah tangga kita. Kita udah bahagia tanpa anak, Sun. dan aku rasa itu semua udah cukup.”
“Masalahnya, sedikit banyak aku merasa bosan dengan kita yang hanya berdua dan ibu ada benarnya juga. Aku mulai menginginkan seorang anak babe, anak yang akan meneruskan namaku!”
“Meneruskan nama, huh?”
“Iya. Aku sudah memikirkannya dan perkataan ibu ada benarnya, Kai.
“Sun, yang menjalani pernikahan itu kita bukan ibu kamu! Dan sepuluh tahun lalu, kamu menyetujui rencanaku untuk child free!”
“Masalah waktu itu kita masih muda, Kai! Aku dua puluh tahun dan kamu sembilan belas tahun. Waktu itu kita masih miskin, sayang,” suara Sunny melembut. “Sekarang sudah berbeda, kita sudah punya lebih dari cukup untuk punya satu atau dua orang anak.”
Kaira tersenyum, sepuluh tahun menikah bukan berarti dia tidak pernah menginginkan anak. Hanya saja, sejak awal dia memang memutuskan untuk child free. Karenanya dia berusaha menekan keinginannya untuk memiliki anak. Bukan karena tidak mampu membiayai anak yang akan terlahir dari rahimnya, tapi karena dia tidak yakin bisa memberikan keluarga bahagia untuk anak-anaknya. Kaira sadar betul dengan kekurangannya.
“Kai….”
“Bisa kita pulang sekarang? Aku sudah selesai.”
“Ok, aku juga sudah selesai. Setelah ini kita langsung ke Airlangga, nonton Loona Golden.”
“Ngga perlu. Kita langsung pulang aja!”
“Kai….”
“Sorry, but I’m not in the mood, jadi lebih baik kita langsung pulang, sekarang!”
Sunny akhirnya terpaksa mengangguk setuju. Dia yakin masalah anaklah yang membuat perubahan besar pada mood istrinya dan itu bisa berlangsung cukup lama. Kaira tidak bisa di paksa, dia teguh pada pendiriannya dan hanya dirinya sendirilah yang bisa mengubah pendiriannya. Dan Sunny tahu itu tidak mudah.
“Sepertinya punya anak memang mustahil untuk kami!” keluh Sunny di dalam hati.
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya karena macet yang terjadi di mana-mana, tapi baik Kaira dan Sunny mereka berdua tidak sabar untuk sampai ke rumah, karena setelah di mobil mereka justru semakin dingin. Tidak bicara sama sekali dan saling mendiamkan. Kaira bahkan lebih memilih untuk bermain dengan hape dari pada berbicara dengan suaminya.
Setelah hampir sejam lebih berada dalam perjalanan yang dingin tanpa kata, mereka akhirnya tiba di depan pintu rumah mereka. Kaira baru saja memasukkan password untuk membuka pintu, pintu tempat tinggal mereka justru terbuka dari dalam rumah.
Seorang perempuan yang memiliki tubuh ramping dan sangat terawat berdiri tepat di depan Kaira. Rambutnya di potong pendek sebahu, berwarna hitam pekat karena terus dicat untuk menutupi uban yang tumbuh di kepalanya. Wajahnya kaku tanpa ada kerutan sama sekali hingga wajahnya yang keras terlihat mengerikan apalagi dengan make up menor yang dia pakai plus alis runcing, tinggi di atas matanya membuat Kaira langsung merasa terintimidasi.
Tapi Kaira mau tidak mau tersenyum padanya, karena perempuan itu adalah ibu mertuanya. Kaira menunduk, mencoba untuk salim, tapi tangannya langsung di tarik saat Kaira baru saja merunduk sebelum sempat mencium tangannya. Tapi sikapnya itu langsung berubah pada Sunny dan langsung mencium pipi kiri kanan, juga dahinya lalu memeluk Sunny dengan erat.
“Anak ibu, kamu baru pulang, Sun?”
“Iya bu, ibu kapan sampai dari Bali? Kok ngga ngabarin aku dulu?” tanya Sunny sambil membalas pelukan ibunya. “Kalau aku tahu ibu mau kesini, aku pasti langsung jemput ibu di bandara.”
“Kalau ibu telpon dan bilang mau kesini pasti istrimu ngga akan suka! Jadi ibu datang aja tanpa pengumuman. Ayo masuk, nak. Ada banyak hal yang ingin ibu bicarakan!”
Ibu mertua Kaira langsung menggandeng Sunny dan mengajaknya untuk masuk ke tempat tinggal mereka tanpa Kaira, dia bahkan langsung menutup pintu dengan kakinya sambil tersenyum sinis pada Kaira.
Kaira mendengus kesal, terpaksa dia memasukkan kembali password. Begitu pintu kembali terbuka, dia melihat Sunny dan ibunya tengah duduk di ruang tamu. Ibu mertuanya bahkan masih memeluk Sunny dengan erat, seakan tidak ingin melepaskan Sunny. Melihat adegan itu, Kaira hampir saja berdecih kesal. Dan karena merasa diabaikan, Kaira yang kesal langsung berjalan melewati mereka.
“Babe, duduk dulu sebentar!” panggil Sunny.
Kaira terpaksa duduk di samping Sunny. Ibu mertuanya masih saja menatap Kaira dengan tatapan tidak suka.
“Mulai sekarang, ibu akan tinggal di sini, bersama kita,” ujar Sunny sambil tersenyum lebar.
“Hah, kenapa?” tanya Kaira kaget.
“Karena ibu harus memastikan kalian berdua punya anak tahun ini!” jawab ibu mertuanya tetap dengan nada ketus. “Kalau kamu tidak mau punya anak bilang saja, karena ibu tidak sabar memperkenalkan Sunny dengan anak dari teman-teman ibu.”
“Ibu, ibu ngga boleh ngomong kayak gitu!” ucap Sunny tegas.
“Ya, mau gimana lagi Sun,” jawab ibu Rina dengan lembut. “Kamu tahu kan kalau lelaki boleh punya dua hingga empat istri? Jadi, kalau istrimu mandul alias ngga mampu punya anak, ya udah ikhlasin Sunny nikah lagi. Gitu aja kok repot!”
Kaira berusaha menahan geramnya. Dia mendelik ke arah Sunny, meminta pembelaan. Tapi Sunny justru hanya mengeleng, meminta Kaira untuk tidak menjawab ibunya lagi. Sayangnya, Kaira tidak bisa menahan emosinya. Dan Kaira bertekat jika Sunny berani menikah lagi maka itu berarti cerai.
“Kamu kenapa ngga jawab, pertanyaan saya? Kamu benaran mandul, makanya sepuluh tahun ini, kamu ngga bisa ngasih anak satupun keanak saya?”
Kaira benar-benar malas untuk menjawab. Dia memutuskan untuk untuk langsung pergi kekamarnya dari pada berbicara dengan ibu mertuanya. Namun satu hal yang jelas, ini ini adalah malam tahun baru terburuk yang pernah dia alami.
“Eh, mau pergi kemana kamu?”
“Ke kamar. Saya permisi!”
“Eh, enak saja! Kamu siapin dulu kamar tidur untuk saya! Saya mau beristirahat.”
“Ada si mbak yang bisa bantu membereskan kamar.”
“Kamu itu ya, benar-benar keterlaluan! Dikit-dikit pembantu, dikit-dikit pembantu, nanti suami kamu diambil pembantu baru tahu rasa!” jawab ibu Rina.
“Kalau begitu, ibu bisa minta tolong pada Sunny. Aku mau ganti pakaian dan langsung tidur, karena ada banyak deadline yang menunggu.”
Kamu nyuruh anak saya beresin kamar tidur?” ibu Rina bangun dari duduknya. “Kamu fikir anak saya ini pembantu, huh?”
“Ibu, udah. Ngga usah dibesar-besarin!” ucap Sunny. “Biar si mbak yang beresin kamar ibu, ok? Dan kamu babe, kamu langsung aja kekamar sekarang, please!”
Kaira tersenyum kesal, dia menatap Sunny tajam sebagai tanda protesnya tapi Sunny hanya mengelus punggung Kaira. dan meminta ibunya untuk kembali duduk di sofa.
“Sorry, babe. Kamu harus maafin ibu lagi dan lagi ya. Sebagai permintaan maaf dariku nanti aku yang masak makanan yang enak untukmu,” bisiknya lembut di telinga Kaira dan mengecup lembut bibirnya.
Kaira tersenyum, dia sedikit luluh dalam pelukan dan ciuman lembut dari Sunny. Setelah mencium pipi suaminya, dia memutuskan untuk segera pergi dari hadapan ibu mertuanya agar dia seluruh energinya tidak terkuras ke hal-hal yang lebih buruk.
Melihat mereka berciuman, ibu Sunny langsung berdecih sinis. Apalagi saat Kaira melewatinya.
“Kaira,” ibu mertuanya menegur Kaira sebelum dia berjalan menuju tangga setengah lingkaran menuju kamarnya.
Kaira menoleh. “Apa lagi?”
Mertuanya tersenyum sinis. “Asal kamu tahu, semua kondom dan alat kontrasepsi kalian sudah saya buang!”
“Ibu masuk ke kamarku dan memeriksa seisi kamar?” tanya Kaira dengan suara bergetar menahan amarah. Dia kembali berbalik, menuju sofa dan ingin melabrak mertuanya tapi Sunny dengan cepat berdiri di tengah kedua perempuan yang tengah berapi itu
“Ya, kenapa? Kamu tidak suka?” tanya ibu Rina dengan wajah meremehkan.
“Ya! Itu kamarku, tidak ada seorangpun yang berhk masuk ke sana tanpa izinku. Apalagi memeriksa seperti itu, itu ruang pribadi!”
“Kai, sayang, please….” Sunny menggeleng. Dia benar-benar tidak ingin ada keributan di malam ini. “Ibu bukan orang lain, ok? Tapi ibu juga, tidak boleh masuk ke kamar kami tanpa izin!.”
“Kenapa tidak boleh? Ibu jadi penasaran, apa yang sebenarnya istri kamu sembunyikan, apa hanya kondom dan pil kontrasepsi atau hal lainnya.”
“Hal lainnya apa bu?” tanya Sunny sebelum Kaira menjawab.
“Ya, misalnya kemandulan itu benar adanya. Makanya, istri kamu tidak mau ibu memeriksa kamar kalian!”
“Bu, sudah! Ibu istirahat dulu,” lerai Sunny sebelum istri dan ibunya bertengkar lebih lanjut. “Kai, kamu juga mau ganti pakaian, kan? Ayo!” ucap Sunny sambil memeluk Kaira, mengajaknya meninggalkan ibunya seorang diri di ruang tamu.
Tapi ibu Sunny belum puas. “Mana bisa ibu istirahat Sun, ibu sebenarnya ingin ngomel dengan istri kamu. Mantan-mantan kamu dulu sudah ada yang punya anak bahkan ada yang anaknya tiga, ada juga yang sudah sekolah dan kamu kamu jangankan menyekolahkan anak, punya anak juga ngga karena ketidak mampuan istrimu berkedok prinsip ingin ngga mau punya anak!”