Bab 1

Di sebuah kamar, ada seorang gadis yang sedang mendengar lagu dengan sangat kencang. Jika kalian ikut mendengar, mungkin telinga kalian akan meledak.

Lagu yang dia dengarkan berjudul, Unholy. Sebuah lagu, yang sangat menggambarkan keadaannya sekarang dan mungkin saja, sebagian dari kalian juga merasakannya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya digedor oleh orang yang tak lain adalah ibunya. "Areya! kecilkan musikmu itu. Telinga Mama sampai berdengung di sini!"

Hening, Areya sama sekali tidak mau menanggapi sang Mama. Dia terlalu sibuk melihat matahari terbenam dari jendela kamarnya.

Indah sekali...

Langit biru cerah yang perlahan berubah menjadi biru gelap, dihiasi dengan semburat warna jingga. Kemudian, ada sedikit awan putih yang menambah keindahannya.

Menyaksikan keindahan itu, membuat Areya berpikir sendiri. Akankah kisah hidupnya akan berakhir seindah itu? atau mungkin hidupnya seperti malam yang kelam, gelap dan tanpa teman?

Gadis itu merasa, dalam keluarganya saja, dia sudah tidak beruntung. Walaupun dirinya seorang anak tunggal. Tetap saja, dia merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Yang dia dapatkan hanya uang, status, sendirian dan kecewa tiada henti.

Hingga puncaknya, terjadi pada minggu lalu. Dia sangat kecewa karena orang tuanya tidak hadir saat hari kelulusannya. Walaupun dengan predikat terbaik, tak mengubah keadaan dan membawa mereka datang. Mengucapkan selamat pun, tidak. Mereka sibuk kerja, kerja, dan kerja.

Sudah cukup. Kesabaran Areya sudah melebihi batas. Dirinya tidak ingin menjadi anak baik lagi sekarang. Gadis itu ingin melakukan hal nakal, dan akan merayakan sendiri atas kelulusan dan beasiswa penuhnya ke Korea Selatan.

Gadis itu berencana pergi Clubbing seorang diri, dengan semangat darah muda, dia pergi ke sana. Memakai dress hitam polos selutut  dan memakai stiletto senada, dia berdandan layaknya wanita dewasa. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang itu, dia biarkan tergerai. Memakai sedikit blush on dan olesan lipstik merah menambah kesan menggoda. Areya sangat puas, saat mematut diri di depan cermin.

"I love it." Dia bergumam, kemudian melenggang pergi dari kamarnya.

Ketika dia keluar, dia melihat sekeliling lalu tersenyum masam. "Masih sepi seperti biasa."

Gadis itu menuruni tangga dengan cepat tanpa takut stilettonya patah. Dia ingin cepat-cepat pergi ke tempat yang kata orang adalah, tempatnya sumber kebahagiaan.

Namun, saat dirinya sudah sampai pada tempat gemerlap itu. Yang dia lakukan hanya diam mematung, berdiri beberapa meter di depan pintu masuk seperti orang bodoh. Semangatnya tiba-tiba menghilang, lalu berganti dengan perasaan tak nyaman. Tetapi, sudah terlanjur basah. Areya harus masuk, karena dia sudah bertekad untuk bersenang-senang.

"Tenangkan dirimu Areya... Huh! slowly Areya. Kamu bisa, You are not children again!" Gumam gadis itu, memantapkan hati.

Dengan langkah pasti, dia berjalan masuk. Suara musik keras menyambutnya. Saat dia menarik napas, gadis itu terbatuk karena aroma yang bercampur aduk. "Bau macam apa yang merusak penciumanku ini?" Areya mengomel, lalu mencari tempat duduk di depan bar sambil menjepit tangannya dengan jari.

"Hai! Mimpi apa aku semalam? bisa bertemu bidadari cantik sepertimu di sini. Kamu mau minum apa, Cantik? Biar aku buatkan dan tentunya gratis untukmu." Sapa bartender dengan senyum manis.

Mendengar sapaan dari pria asing, membuat Areya kembali gugup. Karena, ini kali pertama dia masuk tempat semacam ini.

"Red Sanria" jawab Areya singkat. Hanya itu nama minuman aman yang dia ingat, saat membaca sekilas dari Google tadi.

Banterder itupun tertawa, "Benar dugaanku. Kamu anak baru yang sedang mencoba masuk gemerlap malam ini. Tempat ini, tidak cocok untukmu, Sayang." Mendengar itu, Areya hanya tersenyum kikuk. Lalu mulai berpikir, "haruskah aku pulang saja?"

Areya terus melihat si bartender, karena takut minumannya dicampuri sesuatu. Bartender itu sadar betul jika gadis di depannya sedang mengawasi dirinya, Bahkan gadis itu tidak sadar jika kepalanya ikut menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakannya.

Membuat pria itu gemas sendiri lalu tak tahan untuk menggodanya, "Takut diracuni, Nona?" Ucap Bartender itu seraya melirik Areya, "Baiklah, aku akan menjelaskan apa saja yang akan ku masukkan ke dalam gelasmu ini. Yang pertama tadi, aku sudah memasukkan jus delima, soda, lalu ini sangria. Nah sangria ini... terbuat dari campuran buah-buahan yang tentu aman untukmu. Walaupun, aku sangat ingin mencampur sangria yang asli ke dalam gelas ini." Bartender itu mengedipkan sebelah mata, lalu tersenyum lebar pada Areya.

"Ini lemon, kau pasti tahu kan? lalu yang terakhir adalah es batu. Red Sangria siap dihidangkan. Wuh! warnanya secantik merah bibirmu." Dia meletakkan gelas itu di depan Areya. Lagi-lagi, gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk membalasnya.

Untuk meredakan rasa tidak nyamannya, Areya mengedarkan pandangan. Namun, matanya tiba-tiba tertuju pada satu manusia yang sedang memejamkan mata. Pria itu seakan menikmati wanita yang sedang naik turun diatasnya.

Mata Areya panas, telinganya berdenging. Tak percaya dengan apa yang matanya Lihat. Pria itu adalah Papanya! dengan gemetar tangannya meraih Red Sangria. Kemudian gadis itu menenggaknya dengan tergesa, hingga terbatuk. Dadanya begitu sakit karena tersedak. Tetapi, dia sama sekali tidak menghiraukannya. Gadis itu berjalan dengan marah ke pojok ruangan, tempat pria itu sedang bermain.

Sakit? jelas. Bagaimana tidak? Hal yang tak terduga terjadi ketika kau pergi ke sebuah Club untuk pertama kali dalam hidupmu. Berniat untuk bersenang-senang merayakan kelulusan yang tidak dihadiri oleh orang tua. Tetapi justru disitulah kamu menemukan Papamu sedang bermain dengan Jalang sialan.

Saat sampai di depan mereka, Areya terpaku. "Oh, Ayolah! wajah mereka terlihat menjijikkan sekali." Maki gadis itu dalam hati. Areya merasa mata sucinya ternodai.

Mereka masih saja sibuk menikmati permainan itu di atas sofa, yang membuat gadis itu ingin sekali muntah. Bahkan, mereka tidak sadar ada orang yang sedang berdiri tepat di depan mereka.

Emosi Areya sudah mencuat sampai ubun-ubun. Tanpa basa-basi, gadis itu langsung mengambil botol minuman yang berada di meja. Kemudian melemparkan botol itu, tepat pada tembok sebelah mereka bermain. Semua mendadak diam. Musik yang berdentam dan dengungan orang-orang pun ikut diam. Semua pandangan mata tertuju pada Areya.

Ya, mereka sedang melihat gadis bodoh yang mengamuk. Melempar botol yang mungkin seharga puluhan juta dan hampir mencelakai orang di Club. Bukankah itu skandal yang bagus untuk diberitakan?

''Areya...'' Pria itu mendesis menatap Areya.

Gadis itu tak menjawab, dia hanya diam lalu tersenyum. Para pengawal di Club itu mulai datang dan bersiap menyeret Areya saat itu juga. Areya hanya pasrah, saat kedua lengannya sudah dipegang oleh tangan-tangan kasar itu.

Gadis itu berpikir soal kemungkinan dia akan dijual sebagai Jalang juga. Karena, dia tidak mungkin bisa mengganti botol yang dia pecahkan itu. Tetapi, mereka tidak jadi menyeretnya ketika mendengar pria itu angkat bicara.

''Hentikan, jangan bawa gadis itu.'' Ucapnya sembari menyuruh turun jalang yang masih setia diatasnya. Areya segera memalingkan muka, saat Pria itu membenahi celananya sembari berjalan menghampiri dirinya.

''Apakah, Tuan mengenalnya?'' tanya salah satu pengawal.

''Ya, dia anakku.'' jawabnya pada pengawal, yang langsung membuat emosi Areya  kembali berkobar.

''Anak, kau bilang? Cih! aku bahkan jijik melihatmu.'' Cemooh Areya, sembari meludah.

''Areya... sudahlah.'' Pria itu kembali mendesis, malu dengan reaksi gadis di depannya.

''Lepaskan dia pengawal, biar aku saja yang mengurusnya. Ayo! ikut Papa keluar.'' Pria itu menarik lengan anaknya pelan.

''Tidak, jangan sentuh tanganku! Aku bisa pulang sendiri.'' Areya langsung menghempaskan tangan itu begitu saja.

''Baiklah, tapi biar Papa mengantarmu pulang.'' Pinta Pria itu sembari mengangkat tangan, tanda dia memohon damai.

''Pulang? denganmu? Lelaki bejat sepertimu, tidak pantas mendapat kasih sayang dariku dan Mama. Kau sudah kehilangan tempat untuk pulang sekarang. Aku akan mengajak Mama pergi, agar kau bisa puas dengan para jalangmu itu.''

''Areya...'' Pria itu mengucapkan namanya dengan nada rendah. Tanda kalau dia sedang menunjukan kemarahan. Biasanya bila sudah begitu, Areya akan langsung diam dan takut.

Tetapi, sekarang dia tidak akan diam. Enak saja! Pria itu yang bermain, nanti entah kapan dia pulang membawa penyakit dan menularkannya pada Mama.

Tanpa menunggu Papanya berbicara lagi, Areya langsung berlari pulang. Tak menghiraukan Pria itu terus memanggil namanya. Areya terus berlari hingga sampai di halte bus. Air matanya langsung mengalir deras. Semua sumpah serapah bahkan dia keluarkan semua.

"Aku tahu keluargaku memang aneh, tetapi,  aku tidak menyangka jika masalahnya se-aneh ini!" gadis itu bergumam di sela tangisnya.

Areya terus menangis, hingga tak sadar ada sekelompok pemuda yang datang menghampirinya.

''Cantik, kenapa menangis sayang?''

''Iya, Sayang. Tenanglah.''

''Ingin kami temani?''

Mereka berbicara, lalu tertawa saling bersahutan. Membuat Areya tersadar dan waspada. ''Pergi!'' hanya itu yang bisa dia ucapkan, untuk menjawab semua pertanyaan mereka.

''Oh, Sayang. Janganlah begitu.'' Salah satu dari mereka dengan berani membelai bahunya. Membuat Areya geram bukan main.

''Aku sudah bilang Pergi. Apa kalian TULI Hah!'' jeritnya setelah menghempas tangan pemuda itu.

''Woah, sangat liar! Kita akan menyukainya kawan, bawa dia.'' Titahnya sembari mengerling pada Areya.

''Siap, Bos! yuk, Cantik.'' Mereka menjulurkan tangan, berniat menyeretnya. Sebelum itu berhasil, Areya sudah menghindar dan berlari kabur menjauhi mereka.

''Woy, mau kemana kamu?'' teriak mereka.

Areya terus berlari hingga dia terjebak di jalan buntu. ''Sialan, kenapa hal buruk datang silih berganti?''

''Akhirnya... memang sepertinya malam ini kau harus menemani kami, Cantik.'' Ucap pemuda yang berani menyentuh Areya tadi.

''Benar, kami juga sudah gatal Bos.'' Sahut mereka lalu mengelus kemaluannya masing-masing, membuat Areya mual.

''Aku bilang sekali lagi, Pergi! kalau tidak...''

''Kalau tidak apa, Sayang?'' orang yang dipanggil bos itu mulai perlahan mendekatinya. Areya tersenyum, otaknya sudah mulai berjalan normal dan dia menunggu orang itu mendekat dan Hap!

''Seperti ini, Bangsat!'' Areya memelintir tangannya ke belakang dan menendang punggungnya hingga pemuda itu tersungkur dengan menyedihkan.

''Bos!'' Seru kedua anak buahnya. Mereka terpaku melihat Bosnya yang sedang tersungkur.

''Ayo bantu Bos, Bodoh! Kenapa kau malah diam saja di situ!'' anak buah yang pertama tersadar dan langsung menjitak kepala anak buah yang kedua.

''Hah? Bos! ayo kita bantu berdiri.'' Seru anak buah kedua saat tersadar dari keterkejutannya.

''Kamu memang gadis brengsek, cepat tangkap dia!" Pria yang tersungkur itu marah, dan menyuruh anak buahnya.

Kedua pemuda itu langsung maju berbarengan, membuat Areya sedikit kelabakan. Mereka melancarkan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi. Beberapa masih bisa Areya tangkis. Tetapi jika sudah dikeroyok begini, membuat Areya panik juga sehingga tidak bisa menangkis semua serangan. Akhirnya, gadis itu terkena tendangan entah dari siapa, hingga membuatnya jatuh terlentang.

Punggungnya mendarat dengan keras di aspal. Mereka bersorak gembira ketika melihatnya, seperti sedang memenangkang sebuah jackpot.

Areya berusaha bangkit, tetapi punggungnya terasa sangat sakit. kepalanya juga sedikit pusing. Dia tidak ingin pasrah. Tetapi, dia sungguh tidak bisa berbuat apapun. Mungkin inilah saatnya takdir mengubur Areya. Dia hanya bisa pasrah saat mereka mulai mendekat. Areya memejamkan mata erat, agar tak melihat muka mereka yang menjijikkan.

Tak berapa lama, Areya justru mendengar bunyi berdebam keras. Seperti orang ambruk bersusulan selama tiga kali. Kemudian yang terakhir, dia merasakan ada yang jatuh tepat di kakinya seperti kepala yang basah.

Membuat Areya langsung membuka mata, dan seketika itu juga gadis itu menjerit  melihat tiga pemuda itu sudah ambruk dan mengeluarkan darah.

Bab 2

Dari kejauhan Areya melihat seorang Pria berjalan dengan pelan, membawa sesuatu ditangannya. Areya hanya bisa terdiam.

"Oh, ya Tuhan! pria itu terlihat menyeramkan sekali!" Gumam Areya ketika melihat pria dengan hoodie yang menutup separuh wajahnya itu terus berjalan pelan menghampirinya.

Ketika dia sudah semakin mendekat, Mata Areya melebar begitu melihat apa yang sedang dipegang olehnya.

Benda itu adalah pistol. Seolah ditampar angin, Areya langsung tersadar lalu berkata dengan gugup. "Ja-jangan mendekat! pergi kau dari sini!" Areya beringsut mundur perlahan lalu berkata lagi, "Aku bilang, pergi! atau aku akan berteriak sekarang."

Pria itu mengangkat bahu lalu tersenyum mengejek, "Silahkan Nona... kalau kau ingin pita suaramu rusak karena terlalu banyak berteriak."

"Sialan, benar juga. Lagipula dalam keadaan sepi seperti ini... siapa juga yang akan datang menolongku?" batin Areya bersuara.

"Ta-tapi, siapa kau? kenapa kau membawa senjata itu? apa kau suruhan Papa untuk membunuhku?" tanya Areya bertubi-tubi berusaha untuk terlihat berani.

"Papa? Apa yang kau bicarakan? aku di sini untuk membantumu dari tiga tikus itu, dan kau menuduhku seperti itu? Haish... keterlaluan sekali." Pria itu mengomel sembari menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu, kenapa harus membunuh mereka?" tanya Areya lagi padanya, "Sialan! pistolnya membuatku gugup." Lanjut Areya dalam hati.

"Aku malas berlari hanya untuk menolong dirimu. Jadi, aku tembak saja mereka dan masalah selesai." Tangannya dengan pelan mengelus senjata itu, kemudian menyimpan benda itu ke dalam saku jasnya.

Areya hanya ternganga saat mendengar jawaban di luar nalar dari pria yang berdiri menjulang di depannya.

"Berdiri, dan cepat ikuti aku. Aku yang akan mengantarmu pulang." Pria itu berkata lagi, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Areya, "Jangan lupa... nama pahlawanmu ini, Pa-sha."

Areya tak menyambut uluran tangan itu dan malah bertanya, "Bagaimana bisa aku harus mengikuti seorang pembunuh sepertimu?"

Melihat tangannya tidak disambut. Pasha mengambil kembali tangannya, "Terserah, kalau kamu ingin bermalam di sini dengan mereka." Jawabnya sambil menunjuk pemuda yang tergeletak di dekat kaki Areya.

"Tu-tunggu! jangan tinggalkan aku. Baiklah aku akan ikut, tapi... aku tidak bisa berdiri." Ucap Areya yang semakin lama semakin mengecil.

"Kau perlu bantuan juga dari Pembunuh ini? walaupun kenyataannya... aku memang sering membunuh sih," Pasha tersenyum mengejek. Tidak ada jawaban dari Areya karena dia sendiripun juga bingung.

"Baiklah... anggap saja ini hutangmu padaku, kau berhutang pada pria Pembunuh ini." ucap pria itu lagi, kemudian dia berjongkok bersiap menggendong Areya.

Perasaan Areya campur aduk pada saat itu. Antara marah, sedih, takut, dan malu. Ya, Areya malu pada Pasha karena jarak mereka terlalu dekat. Dia hanya melihat wajah Pasha sekilas lalu menunduk lagi, Namun, jantungnya sudah berdebar kencang.

"Wajahnya seperti karakter Manhwa. Gila, tampan sekali!" Batin Areya menjerit.

"Kita sudah sampai di mobilku. Maaf, aku akan menurunkanmu dulu dan ini mungkin terasa sedikit sakit. Berdirilah di sini, aku akan menopang tubuhmu sembari membuka pintu mobil." Jelas pria itu sebelum menurunkan Areya dengan perlahan.

Pintu mobil pun terbuka, Pasha kembali menggendong Areya lagi dan dengan perlahan, Pria itu meletakkan gadisi itu pada kursi penumpang dan memasangkan seatbeltnya.

Areya yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba mendongakkan kepala karena ingin mengucapkan terima kasih. Namun, itu berakhir dengan kecanggungan karena wajah mereka berhadapan dengan sangat dekat. Mata mereka pun saling bertemu beberapa saat. Areya yang tersadar, langsung menunduk lagi setelah mengucapkan terima kasih.

Pasha tidak menjawab dan menahan senyumnya. Pria itu merasa ada yang aneh pada dirinya. Tanpa ambil pusing, Pasha langsung duduk di kursi kemudi dan melajukan Jeep Gladiator kesayangannya.

Hening, hanya deru mesin mobil yang terdengar. Areya diam menunduk, dan berdoa agar bisa cepat sampai rumah.

"Hei, tetapi tunggu dulu! bagaimana dia terus melaju kalau aku belum memberitahu dimana rumahku?" batin Areya dalam hati.

"Bagaimana kau terus melaju, kalau kau belum kuberi tahu dimana rumahku?" Areya pun akhirnya bertanya apa yang sedang dia pikirkan.

Setelah diam beberapa lama Pasha menjawab, "Aku tahu, tidak perlu khawatir... mungkin sebentar lagi kita sampai."

Gadis itu langsung melihat jendela. kemudian mengamati jalan yang sedang dilewati, dan benar saja, jalan itu memang jalan menuju rumahnya. Areya menunduk lagi, memainkan buku jarinya dan membatin heran, "Bagaimana orang ini tahu di mana rumahku?"

"Hei, sudah sampai, kamu masih ingin di sini bersamaku atau mau turun?" Pasha bersuara, mengalihkan perhatian Areya dari buku jarinya.

"Oh, sudah sampai ya? baiklah aku akan turun terima--" belum selesai Areya berbicara, rasa sakit pada punggungnya kembali dan membuatnya mengaduh kesakitan. Mendengar erangan itu, Pasha bergegas turun dan membantu Areya.

"Sudah, jangan memaksakan diri. Aku antar kamu sampai ke dalam rumah." Ucap Pasha pelan membuat Areya merinding. Tangan dingin yang sedang merengkuhnya ini, tangan yang sama untuk membunuh tiga pemuda brengsek tadi.

Suasana sepi menyambut mereka. Areya mencegah Pasha yang akan membuka mulut untuk memanggil orang rumah.

"Tidak usah memanggil atau mengucapkan apapun Pasha, rumahku ini selalu sepi. Jika kau tidak keberatan, tolong antarkan aku ke atas. kamarku ada di sana." Pinta Areya dengan canggung.

Mendengar permintaan itu, membuat hati Pasha sedikit sedih. Untuk membuat cair suasana, Pasha menjawab, "Hm, Kamu mengundang pembunuh ini masuk ke dalam kamarmu, Nona? kamu sudah tidak merasa takut lagi?"

"Setelah kupikirkan, kamu tidak mungkin mencelakaiku di sini. Karena, jika kamu ingin melakukannya, kenapa tidak dari tadi saat di gang buntu itu?" Jelas Areya panjang lebar, membuat Pasha tertawa.

"Bisa saja aku ingin melakukannya di sini, di kamarmu misalnya?" Jawab Pasha dengan sedikit melirik pada Areya.

"Ya kalau begitu, aku akan menghantuimu selamanya. Hingga kamu mati sama seperti yang kamu lakukan padaku." Areya sudah lebih santai menjawab ocehan Pasha.

"Itu, di sana... kamarku berada di pojok ruangan." Ucap gadis itu lagi, tepat saat kaki Pasha sudah menginjak tangga paling atas.

"Nah, sudah selesai tanggung jawabku padamu. Apakah tidak apa-apa, jika aku tinggal? atau aku akan menunggu hingga orang tuamu pulang?" tanya Pasha merasa enggan untuk meninggalkan gadis itu sendirian.

"Tidak apa-apa, aku akan tidur setelah kamu pergi. Mungkin, punggungku akan sembuh keesokan harinya." Ucap Areya berusaha menenangkan Pasha, sekaligus menguatkan dirinya agar terlihat baik-baik saja.

"Baiklah, sampai jumpa lagi ... Areya." Tangan Pasha mengelus rambut Areya dengan lembut. Membuat gadis itu terkejut, karena Pasha tahu namanya.

"Bagaimana kamu bisa tahu namaku?" Tanya gadis itu penasan.

Pasha hanya tersenyum, tak menjawab. Kemudian, dia keluar dari kamar hingga tak terlihat lagi oleh Areya. Tak ambil pusing dengan kejadian barusan, akhirnya Areya memutuskan untuk tidur.

"Hei, Sayang! kamu tidak ingin keluar dari kamarmu itu? Ayo makan, Mama sudah memasak untukmu." Sebuah panggilan dari luar membangunkan Areya dari lamunan panjangnya.

"Ha? Apa, Ma? Maaf aku tadi tidak mendengar." Teriak Areya dari dalam kamar.

"Astaga Areya... cepat keluarlah, matikan musikmu itu!" Jawab Mama Areya dengan marah.

"Baiklah..." Jawab Areya lesu, lalu beranjak keluar kamar.

Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Areya hanya mengurung diri di kamarnya dan selalu menghindari Mama atau Pria yang dia sebut Papa. Karena, dia terus terngiang dengan skandal menjijikan yang sudah dilakukan Pria itu.

Saat sampai di depan ruang makan. Areya terpaku, melihat seseorang yang duduk menatapnya dengan tatapan tajam.

Bab 3

Baru juga dipikirkan, Pria itu justru sudah muncul di depannya. Membuat gadis itu mendengus kesal ketika harus bertatapan dengan Papanya. Areya menarik napas kemudian menghelanya perlahan untuk meredam darahnya yang akan mendidih.

Walaupun tempo hari dengan lantang Areya mengatakan pada pria itu bahwa, dia akan mengajak mamanya pergi. Namun kenyataannya, Areya sendiri yang takut dengan reaksi Mamanya jika tahu tentang kejadian itu. Areya takut, sang Mama tidak percaya padanya. Atau yang lebih parah, Mamanya terkena serangan jantung.

Tidak! Areya tidak bisa membayangkan itu semua terjadi.

"Hai, Sayang! ayo makan. Mama masak sayur asem kesukaanmu lho... Ada ikan asin juga nih." Sapa Mama Areya memutus tantapan sengit antara kedua Ayah dan anak itu.

"Pas sekali, Ma, ASEM macam dia." Ucap Areya sambil tersenyum penuh arti pada Pria itu.

"Kamu itu bicara apa sih? sudah, ayo duduk. Mama sudah ambilkan nasi." Tanya Mama Areya dengan heran.

Areya hanya diam saja, lalu dia menatap Pria itu tanpa berkedip lagi. Dia duduk tenang dengan koran ditangannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan Areya, hanya bisa menelan kekesalannya sendiri dengan menenggak segelas jus hingga tandas. Kemudian mulai fokus makan dengan perlahan.

"Areya... kenapa kamu selalu mengurung dirimu di kamar dengan musik kerasmu itu?" Tanya Mama Areya memulai percakapan.

Areya menghendikan bahu dan menjawab singkat, "Hobby." Lalu dia tersenyum canggung pada Mamanya.

Melihat itu, Mamanya merasa sedih. Wanita itu merasa anaknya sudah berubah, setelah kelulusannya yanh tidak bisa dia hadiri.

Dengan wajah sedih, Mamanya bertanya lagi, "Apa karena ... Mama dan Papa tidak bisa hadir pada acara kelulusanmu, Sayang?"

Mendengar pertanyaan itu, membuat makanan yang sedang Areya telan seketika tersangkut, dan membuatnya tersedak. Areya mengambil segelas air. Setelah batuknya reda, dia menjawab dengan tenang, "Sudahlah, Ma. Bukannya sudah biasa, kalian tidak datang ke acara ti-dak penting-ku?" Areya menarik napas lalu melanjutkan lagi, "Aku sudah selesai." Gadis itu bergegas pergi keluar rumah, sebelum emosinya tersulut kembali.

"Hei, Sayang! maafkan Mama, kamu mau pergi kemana? Kamu juga... belum menghabiskan makananmu." Ucap sang Mama berniat menghentikan anaknya.

"Tidak, Ma. Mood ku tiba-tiba jelek. Udara di sini mendadak kotor, dan membuat dadaku sesak." Jawab Areya sambil lalu.

"Tapi Sayang..."

"Sudahlah Ma, biarkan saja." Perintah Pria itu pada akhirnya. Suaranya itu membuat Areya terhenti sejenak. Ingin rasanya, dia melempar vas bunga yang berada di samping tempatnya berdiri. Tetapi dengan sekuat tenaga dia tahan, dan kembali berjalan tanpa menghiraukan orang tuanya.

Cuaca pagi yang cerah sangat berbanding terbalik dengan moodnya. Areya berjalan perlahan menikmati sinar hangat mentari, berharap bisa membuat perasaannya sedikit membaik. Gadis itu terus berjalan sembari sesekali memejamkan mata. Sampai di mana, hidungnya mencium aroma kopi yang sangat menggoda, dari sebuah kafe di seberang jalan. Aroma itu membuat kaki Areya tanpa sadar menuju ke sana.

Gadis itu pun masuk mengambil duduk di pojok ruangan yang kosong. Kemudian tanpa menunggu lama, seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya dengan ramah, "Ingin memesan sesuatu, Nona?"

Tanpa basa-basi Areya langsung memesan, "Secangkir kopi, tanpa gula. Untuk gadis Unfortunate." Pelayan itu mengernyitkan dahi, dan Areya hanya membalasnya dengan senyuman.

"Baiklah, Nona. Kopi untuk gadis Fortunate akan segera datang." Pelayan itu mengucapkannya dengan lembut, membuat gadis itu tertegun saat mendengarnya.

Ketika pelayan itu pergi, pikiran Areya kembali berkelana. Pada saat pertemuan dirinyya dengan Pria misterius tempo hari. Dia Tampan, sekaligus mengerikan. Seakan membunuh tiga pemuda brengsek itu hanya seperti membunuh lalat. Bahkan, Areya masih ingat darah salah satu dari mereka ada yang mengenai kakinya. Sungguh membuat gadis itu merasa mual.

Di dalam hatinya dia berharap agar dia tidak bertemu dan berurusan lagi dengan Pria bernama Pasha itu. Walaupun tak menampik, Pria itulah yang menyelamatkan dirinya dari bahaya. Namun tetap saja, itu pengalaman yang mengerikan bagi Areya.

"Kopi untuk gadis Fortunate, sudah datang." Seru seseorang menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Terima Ka--" Ucapan Areya langsung terputus ketika kepalanya sudah sepenuhnya mendongak dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Bagaimana bisa? kenapa kamu bisa di sini dan bisa memegang kopi pesananku?" tanya Areya keheranan.

"Sial, baru saja aku berdoa agar tidak bertemu dengannya. Tetapi sekarang, dia sudah berada tepat dihadapanku!" Areya mengomel dalam batinnya.

"Nasib baik yang mempertemukan kita dan kebetulan, kafe ini milikku. Jadi, aku juga bisa melayani pelanggan cantik sepertimu." Jawab pria itu santai, mengambil duduk di depan Areya.

"Tidak mungkin! Ini bukan karena nasib, tapi kamu membuntutiku, atau mungkin...  kamu hanya mengaku-ngaku bahwa tempat ini milikmu. Hish! yang benar saja!" Areya tiba-tiba mengomel pada Pasha, karena doanya untuk tidak bertemu dengan Pria ini, tidak terkabul.

Pasha yang terkena omelan Areya hanya tersenyum, kemudian mengangkat tangan seperti memberikan kode. Lalu datanglah pelayan yang melayani Areya tadi.

Pelayan itu bertanya, "Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Jelaskan padanya bahwa, kafe ini memang milikku." Pinta Pasha pada si pelayan dan sebelum pelayan itu membuka mulut, Areya sudah lebih dulu mengangkat tangan. "Stop! aku tidak perlu penjelasan. Lagi pula, itu juga bukan urusanku. Ah, ya Tuhan! malangnya nasibku di pagi yang cerah ini." Ratap Areya dengan wajah lelah.

Kehadiran Pasha membuatnya bertambah yakin, bahwa, hidupnya memang harus penuh dengan kemuraman.

"Malang? bertemu denganku adalah sebuah kemalangan katamu?" Pasha bertanya dengan sorot mata tak suka.

Areya mengendikkan bahu, lalu menjawab acuh, "Kamu sendiri yang berkata seperti itu. Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah tidak berselera lagi, terima kasih." Areya segera bangkit, kemudian meninggalkan sejumlah uang yang dia harap melebihi harga kopinya.

Pergi meninggalkan kafe itu dengan segera, adalah hal yang harus Areya lakukan. Gadis itu tidak mau mengingat kejadian kemarin lagi. Dia juga takut berurusan dengan polisi, karena berhubungan dengan seorang pembunuh. Otaknya mengatakan, bahwa Pria itu "Berbahaya" dan patut untuk dihindari apapun alasannya.

"Areya! Oi, Areya..." Sebuah panggilan terdengar dari belakang. Tetapi, dia sama sekali tidak mau menengok, siapapun yang memanggilnya. Gadis itu hanya memikirkan cara cepat pulang dan mendekam di kamar.

Tiba-tiba, kepala Areya terasa ada yang memukul.

"Dasar, si kuping budeg! dipanggil bukannya jawab, malah jalannya makin cepet. Capek nih, ngejar Lu!" Omel seseorang di belakang Areya. Rupanya, sahabat Areya yang memanggil dan memukul kepalanya.

"Maaf Lin, aku kira tadi fans."

"Lagak Lu, dah kek macem artis bintang lima! cantik-kan juga gue." Ucap lina sambil mengibaskan rambut panjangnya. Areya hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat sikap sahabatnya.

Selain kisah hidup yang menurutnya penuh kemalangan. Tuhan juga belum puas. Lalu menghadiahkan seorang sahabat yang sangat bertolak belakang kepadanya.

"Lagian... Lu kenapa sih? dipanggil malah ngibrit begitu, ada penjahat yang ngejar?" Tanya Lina penasaran.

Areya menggelengkan kepala untuk menjawabnya.

"Lah, terus?" tanya Lina lagi.

"Sudah, lupakan saja. Kamu dari mana,  Kenapa juga ngejar aku?" tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.

"Ya Tuhan! ditanyain, malah tanya balik. Gue lagi jalan-jalan tadi. Terus liat Lu, baru keluar dari kafe baru itu. Ya udah, gue panggil. Eh, Lu malah ngibrit kek abis lihat setan." Lina menjelaskan pada Areya sembari menunjuk-nunjuk kafe.

"Ya sudah, maaf. Aku mau pulang. Capek badan, habis lari tadi." Areya meminta maaf agar tidak memperpanjang masalah.

"Nah, itu rumahnya dah keliatan. Ya udah, gue juga mau pulang. Bye Re!" Ucap Lina sambil melambaikan tangan, Areya tersenyum dan membalasnya dengan lambaian tangan juga.

Sebelum masuk, Areya mengamati situasi sekitar. Memastikan tidak ada yang mengikutinya. Setelah dirasa aman, Areya berjalan dengan riang. "Huh, aman! lega rasanya." Gumam gadis itu riang. Kemudian pergi menuju rumahnya, tanpa menghirauman sepasang manusia yang sedang duduk di ruang tamu.

Di lain sisi, ketika gadis itu masuk ke rumah. Ada seseorang yang baru keluar dari persembunyiannya, kemudian pergi menghilang begitu saja.

Sesampainya di kamar, Areya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kesayangannya. Tempat ternyaman menurut Areya adalah kamarnya. Di kamar itu, dia bisa menumpahkan segala isi hatinya dan menangis sesukanya tanpa orang lain tahu.

Saat mata gadis itu mulai terpejam, dering ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring. Gadis itu berniat untuk membiarkannya saja, karena rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi. Tetapi, semakin didiamkan, dering itu semakin menjadi-jadi.

Lalu, dengan kemurkaan yang luar biasa. Gadis itu mengangkat panggilan itu dan tanpa basa-basi, Areya langsung memaki orang yang menelepon dirinya. "Siapa sih, kamu? kalau penting langsung bicara. Kalau cuma iseng aku matiin kamu, Sialan." Tidak ada jawaban dari seberang, hanya deru napas yang terdengar. "Cepetan ngomong brengsek, ngantuk ini."

"Begitukah, cara berbicara pada pacarmu?" Tanya seorang pria di sebrang dengan nada berat. Mendengar pertanyaan aneh itu, langsung membuat mata Areya terbuka lebar.

"Pacar? siapa yang punya pacar? gila kamu." Langsung saja gadis itu memutus sambungan setelah memakinya. Areya jengkel setengah mati. Dia saja, dapat gelar jomblo tahunan dari si Lina. Entah badai dari mana, ada Pria yang meneleponnya dan mengaku sebagai pacarnya. Areya merasa otaknya sudah eror, lalu mempengaruhi kehidupannya.

Tak berapa lama, layar ponselnya berkedip. Saat gadis itu melihat, ternyata, nomor tak dikenal tadi mengirim sebuah foto yang hampir membuat Areya terkena serangan jantung. Tidak, bukan karena ketampanan orang yang ada difoto itu. Tetapi, orang itu adalah pria yang sangat Areya takuti. Sekarang, gadis itupun sangat sadar. Bahwa, setelah ini hidupnya yang sudah suram akan bertambah suram. Setelah membaca kalimat di bawah foto itu.

"Pembunuh ini... ingin menagih hutang kecil, pada Tuan putri yang selalu muram setiap hari. Aku ingin, kau menjadi milikku dan aku rasa itu setimpal."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED