Di atas langit kelam malam Wisteria Kingdom petir berkilat-kilat berbahaya dengan suara guntur sesekali menggelegar seperti menggetarkan bumi. Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda berbulu cokelat tua yang basah kuyup bermandikan air hujan yang cukup deras dikendalikan oleh kusir yang ahli.
Bukan sembarang orang yang berada di dalam kereta kayu berukiran dengan emboss warna emas huruf WK di bagian sisi pintu kereta kanan kiri. Beliau adalah Your Grace Crown Prince William Lancester, calon pewaris tahta Wisteria Kingdom berikutnya.
Sebuah pesan penting dikirimkan kepadanya ke Benua Amerika bagian utara. Dia sedang bersekolah mengenai hukum dan tata negara di negara yang terkenal begitu maju dalam hal pemerintahan dan strata kependudukan. Ilmu yang rumit yang bila diberikan untuk pemuda biasa pada umumnya akan menyerah atau mungkin juga tertidur di kelas saat tutor mengajar.
Perjalanan panjang melelahkan yang ditempuh William akhirnya berakhir. Kereta kuda itu pun berhenti dan pintu kanan kereta dibukakan oleh seseorang dari luar, pastinya salah satu prajurit penjaga pintu gerbang istana.
Pemuda berambut cokelat madu sama seperti warna bola matanya yang juga cokelat dan memiliki tatapan yang tajam menyiratkan kecerdasan, kualitas seorang calon raja berikutnya. Warna mata dan rambutnya itu warisan dari mendiang ratu Wisteria Kingdom, ibundanya yang telah berpulang ke surga sekitar 10 tahun lalu saat ia masih berusia 12 tahun.
Salah satu alasan ayahanda raja mengirim William bersekolah jauh ke seberang lautan tak lain dikarenakan penampilan fisik putera tunggalnya mengingatkan dirinya kepada sang istri, cinta sejatinya. Sang pangeran mahkota tahu mengenai hal itu dan berusaha tegar karena mengingat pesan terakhir ibunda ratu bahwa dia adalah harapan seluruh rakyat Wisteria Kingdom, William harus menjadi pria yang kuat menghadapi apa pun.
"Your Grace, senang melihat Anda kembali!" sambut Alexei Stormside, perdana mentri Wisteria Kingdom sembari membungkukkan punggungnya di hadapan William.
Senyum tipis tersungging di bibir William, dia sangat menghargai pria beruban di hadapannya karena sejak kecil dialah tutor pendidikannya di istana. Seorang pria bijaksana dan setia yang mengabdikan hidupnya, mungkin sampai menutup usia demi negara.
"Sir Alexei, bagaimana kabar Anda? Kuharap segalanya baik setelah kutinggalkan bertahun-tahun," ucap William dengan logat Wisteria yang seolah tak dapat dihilangkan dari lidahnya sampai kapan pun.
"Kabar saya baik, Pangeran. Terima kasih. Tidak banyak masalah selama Anda berada di Benua Amerika, mungkin ada beberapa perubahan fisik kota dan daerah pedesaan menjadi lebih maju. Kami tidak lagi menggunakan lampu minyak dan lilin lagi melainkan lampu pijar yang dapat menyala terang," jawab tuan perdana menteri dengan suara resminya yang kaku seperti papan pengumuman istana.
Sementara mendengarkan Alexei Stormside berbicara, William berjalan tegap menyusuri koridor istana hingga mencapai ruang tengah luas dimana sebuah tangga batu melingkar yang besar nampak. Dia ingat kemana ujung tangga itu menuju, ya ... kamar sang ayahanda raja.
"Naiklah, Your Grace. Beliau sakit keras dan sangat ingin bertemu dengan Anda sebelum wafat." Helaan napas berat terdengar, suara Alexei yang menyiratkan kesedihan dapat ditangkap oleh William.
Pemuda itu pun membalikkan badannya kepada Alexei sebelum menemui ayahanda raja di lantai atas. Dia menjawab, "Aku pasti menemui raja. Ikutlah bersamaku ke kamar beliau, Alexei!"
Kedua pria berbeda kedudukan dan juga berbeda generasi itu menaiki tangga batu berusia berabad-abad yang cenderung membuat lelah saat ditapaki satu per satu. Ada ketegangan yang disembunyikan oleh William saat akan menemui pria yang mengasingkan dirinya ke luar negeri selama bertahun-tahun tanpa satu pun kabar.
Pintu kamar yang berat karena tingginya mencapai hampir setinggi langit-langit kamar dibukakan oleh dua prajurit penjaga. Suaranya terdengar berderak dan berkeriut menambah tegang suasana. Di luar pun cuaca buruk berhujan petir masih belum terganti.
"A–apa itu kau, William—puteraku?" Suara renta bercampur batuk kronis itu terdengar menggema hingga ke ambang pintu dimana pemuda itu berdiri mematung dengan jantung berdebar-debar.
Langkah kaki yang berat itu memasuki kamar yang lama tak pernah ia injak begitu lama, William menghampiri tempat pembaringan raja yang berbentuk seperti panggung. William melihat beberapa sosok wanita berusia lebih muda dari mendiang ibundanya menemani sang raja yang terbaring lemah di ranjang berselimut sutera ungu tebal. Dia memalingkan wajahnya.
"William—mendekatlah kepada Ayah ... kemarilah!" pinta Raja Alderan Lancester melambaikan tangan kanannya agar William mendekatinya.
Dia benci melihat selir-selir ayahandanya, dia pun menjawab, "Bisakah gundik-gundik itu meninggalkan kamar ini sejenak, Ayahanda Raja?"
Wajah Raja Alderan memerah dan ia terbatuk-batuk karena kesal mendengar permintaan William. Namun, akhirnya demi kepentingan negara, ia pun mengalah dan menyuruh pergi selir-selir cantik yang biasa menghiburnya.
"Baiklah, sekarang duduklah di kursi dekatku, Will. Uhuk ... uhuk ... kita harus bicara sesuatu yang penting!" pinta raja terbatuk-batuk dengan darah segar yang ia usap dengan sapu tangan.
William memang duduk di kursi samping pembaringan ayahandanya. Perdana mentri masih setia menemani dengan berdiri di belakangnya. Dia lalu bertanya, "Apakah kesehatan Ayahanda Raja memburuk?"
Raja Alderan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia berkata, "Usiaku tak lama lagi, kau harus siap menggantikanku sebagai raja Wisteria Kingdom. Siap atau tidak siap! Dan ... sebelum itu carilah seorang istri sebagai permaisurimu, Will."
Perintah terakhir raja itu menyisakan sedikit keterkejutan dalam diri sang pangeran, dia masih 22 tahun. Hari-harinya selalu dilalui dengan tempaan pendidikan yang membuatnya pusing tujuh keliling, sulit baginya memecah fokus untuk menjalin percintaan dengan gadis-gadis Amerika yang menarik.
"Baiklah ..., tapi aku tak ingin gadis dari puteri kerajaan yang manja dan tak berkarakter kuat. Izinkan aku mencari calon ratu untuk Wisteria Kingdom yang sesuai dengan kriteriaku sendiri, Ayahanda Raja," jawab William tegas yang membuat kedua pria tua di depan dan di belakangnya terkejut.
Alexei Stormside terbatuk kecil dan berdehem, ia tak ingin menentang keinginan aneh sang pangeran. Namun, ia berpikir bahwa itu hal yang sulit dilakukan. Apa pemuda itu ingin mencari jarum di tumpukan jerami?
Sedangkan, Raja Alderan Lancester mencoba mengalah sekalipun ia lalu menanggapi, "Boleh. Hanya saja temukan gadis yang menurutmu adalah calon ratu yang tepat itu paling lambat pertengahan musim dingin tahun ini."
"Tapi, Ayahanda saat ini sudah akhir musim panas jelang musim gugur—" William merasa waktunya terlalu pendek untuk menemukan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Raja terbatuk-batuk dan memuntahkan darah kembali. Dia menghela napasnya dengan berat sambil berkata, "Apa kau pikir Ayahmu akan hidup hingga selamanya menunggumu mencari istri yang tepat? Ahli ramal kerajaan telah membaca letak bintang di langit, dia mengatakan Ayah akan berpulang ke surga musim dingin nanti, jadi cepatlah bertindak!"
William tak ingin berkomentar mengenai ramalan bintang yang entah benar atau salah itu mengenai akhir usia ayahandanya. Dia mengangguk yakin lalu menjawab, "Aku pasti akan segera menemukan gadis istimewa itu, Ayahanda tak perlu kuatir. Jaga kesehatan Anda, mungkin aku akan jarang menjenguk ke mari."
"Jangan pikirkan aku, Will. Fokuslah dengan tugas yang kuberikan. Besok malam aku mengadakan pesta dansa untuk menyambut kepulanganmu di aula istana. Mungkin kau bisa memilih salah satu dari wanita terhormat itu dan tugas dariku selesai, Will!" ujar Raja Alderan sambil tersenyum miring menatap puteranya yang telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan.
Sang pangeran menyahut ringan, "Mungkin iya ... bisa pula tidak, tapi aku menghargai bantuan Ayahanda ini. Terima kasih dan beristirahatlah, hari telah lewat tengah malam, Ayahanda Raja!"
Pagi itu sang pangeran memacu kuda hitamnya menuju ke batas ibu kota Wisteria dengan negara Drakenville yaitu Birchleaf town. Sejak dulu antara Wisteria Kingdom dan Drakenville memiliki beberapa kerjasama mutualisme terkait perdagangan, pendidikan, dan bantuan perang. Dua negara bertetangga itu selalu dalam kondisi damai satu sama lain sementara negara tetangga lainnya sering berkonflik baik besar maupun kecil.
Maka dari itu, William tertarik untuk mencoba melihat-lihat ke daerah perbatasan. Dia melihat dari atas punggung kudanya sebuah kedai 24 jam dengan papan nama "Bronson", dia menduga itu nama keluarga pemilik kedai tersebut. Kemudian William memacu kudanya mendekat ke tempat yang sepertinya cukup ramai pengunjung itu. Ada beberapa kereta kuda dengan inisial keluarga bangsawan serta kuda-kuda tunggang berpelana di area depan kedai.
Seorang anak remaja laki-laki belasan tahun dengan bintik-bintik kecoklatan di wajahnya menghampiri William sembari berkata, "Sir, apa Anda ingin mampir ke kedai kami? Aku bisa mengurus kuda Anda dengan cukup setengah keping Lira saja!"
"Tentu, kalau begitu setengah Lira untukmu, Boy!" sahut William merogoh saku dada jasnya mencari receh lalu melemparkan itu ke bocah laki-laki di samping kudanya yang dengan gesit menangkap koin emas milik sang pangeran. Kemudian pemuda itu turun dari pelana, meninggalkan kudanya diurus si bocah.
Dengan langkah santai yang tetap tegap karena tubuhnya memang biasa terlatih secara fisik, William memasuki kedai yang cukup ramai pagi jelang siang itu. Dia mengedarkan pandangannya sembari menggantung mantel bepergiannya di kayu gantungan yang tersedia untuk pengunjung.
Ada sekumpulan gadis-gadis cantik yang riuh berbincang di meja sofa panjang di sudut kedai itu. Semuanya berparas rupawan dan menampakkan aura elegan keturunan bangsawan yang terpelajar. William mulai bersemangat, dia berpikir mungkin salah satu dari gadis dalam kumpulan itu adalah jodohnya, calon ratu Wisteria Kingdom.
William menghentikan langkahnya di dekat meja konter pemesanan menu. 'Tunggu dulu ... kalau aku mengatakan kalau diriku adalah seorang pangeran maka mereka akan menyukaiku karena latar belakangku, bukan?' batin William penuh antisipasi dalam hatinya. Dia pun menoleh ke arah dalam dapur kedai dan mendapat ide cemerlang.
Kebetulan pakaiannya hari ini adalah pakaian biasa ala rakyat jelata bukan pakaian bangsawan yang mewah. Itu hanya kemeja lengan panjang bertali di bagian dada hingga leher dan celana panjang kain warna cokelat. Dia mendekati seorang wanita berperawakan gemuk yang sedang sangat sibuk menuang minuman limun segar ke beberapa gelas dengan es batu. Memang cuaca sedikit panas setelah semalaman hujan berpetir.
"Ma'am, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Will berpura-pura seolah dia karyawan baru kedai itu.
Wanita itu menoleh dan menjawab dengan sedikit gusar, "Hah! Siang sekali kau datang—pelayan baru yang melamar kerja kemarin 'kan?! Siapa namamu, Nak?"
Mulailah sang pangeran berakting, "Emm—Willy, namaku Willy, Ma'am. Maafkan karena aku terlambat—"
"Sudahlah, jangan banyak mulut. Di kedai ini tangan dan kakimu lebih diperlukan, oke? Dan sekarang—antarkan isi nampan ini ke meja nomor 5. Nona-nona muda itu pasti sudah kehausan sejak tadi! Cepat ... cepat ... cepat ... goyangkan bokong teposmu itu ke sana!" cerocos nyonya gemuk pemilik kedai Bronson itu kepada William sambil menunjuk nampan di atas meja yang berisi 8 gelas minuman es limun segar.
William memutar bola matanya dengan sedikit tersinggung dan berpikir ragu apakah bokongnya setepos itu. Namun, dia tetap melakukan perintah sang nyonya pemilik kedai Bronson dengan membawa nampan berat itu.
'Ohh ... damn! Ini bukan jenis pekerjaan yang pernah kulakukan seumur hidupku. Geez!' batin William sembari melangkah menuju ke meja sofa panjang yang penuh berisi gadis-gadis cantik yang tadi dia incar.
Bel penanda tamu baru masuk ke kedai terdengar berdenting. Seorang gadis berambut pirang sedikit ikal bergelombang yang mengenakan baju seragam Drakenville Senior High School masuk dan berjalan menuju ke meja nomor 5 juga.
"Hai, Amelia. Kau terlambat sekali menyusul ke mari!" rajuk salah satu gadis berambut cokelat mahoni lurus sepunggung di meja nomor 5.
"Profesor August menahanku dengan diskusi yang membuat kepalaku berkunang-kunang, Abigail. Jadi jangan omeli aku lagi, oke?" jawab Amelia sembari duduk di sofa paling ujung dekat lorong antar meja kedai.
Dan William pun sekilas menatap wajah gadis yang dipanggil Amelia itu, sedikit terpesona dengan sepasang mata ungu langka yang dimiliki oleh gadis yang datang terlambat barusan. Sudah 6 gelas limun dingin yang berhasil sampai ke tangan pemesannya hingga gelas 7 yang sialnya tergelincir dari tangannya karena licin. Itu bukan salahnya karena sabun di pegangan gelas kaca besar tersebut masih belum terbilas sempurna.
"BYURR!"
Sungguh naas, minuman limun dingin itu membasahi baju seragam Amelia. Mereka berdua pun bertukar pandang, sepasang mata cokelat dan sepasang mata ungu itu dengan mulut sama-sama terperangah penuh keterkejutan.
"Ma–maafkan aku, Nona!" William terbata-bata mengambil tissue di meja untuk membersihkan baju Amelia yang basah tanpa sadar bahwa dia menyentuh bagian yang seharusnya tidak ia sentuh, untuk kebaikan dirinya sendiri.
Amelia syok dan malu hingga tak mampu bereaksi saat pelayan laki-laki di hadapannya mengelap bagian dada bajunya yang basah. Kawan-kawannya ber–ahh dan ohh terkejut juga dengan kelancangan pemuda pelayan kedai itu. Tiba-tiba ...
"PLAAKKK!" Suara nyaring tamparan keras yang mendarat di pipi William terdengar menyisakan rasa pedih dan panas bagi pemuda itu.
Tangan gadis yang dipanggil Abigail tadi yang menampar William. Matanya melotot penuh amarah seraya berseru, "DASAR BODOH! Kau lancang sekali pada puteri—"
"Stop, Aby!" potong Amelia, dia tak ingin latar belakang keluarganya yang tidak biasa dibawa-bawa dalam peristiwa yang tidak disengaja barusan. "Aku baik-baik saja, nanti juga kering dan aku pun membawa baju ganti di kereta karena ingin berkunjung ke "Madam Tania's Orphanage", hari ini jadwal kerja sosialku di sana!"
Sedikit terkejut dengan reaksi Amelia, tetapi William merasa bahwa gadis itu berbeda dari yang lainnya. Dia lalu berkata, "Nona, aku yang bersalah. Tolong maafkan aku, mungkin Anda ingin memesan kue atau menu lainnya. Biarkan aku yang membayarnya nanti untuk menebus kesalahanku. Tadi murni ketidaksengajaan—"
Senyum terbit di wajah oval berbentuk hati itu, Amelia menjawab, "Aku tahu. Permintaan maaf diterima. Namun, kau tak perlu menghabiskan gaji seharimu di kedai hanya untuk mentraktirku, oke?"
Ternyata senyuman itu menular dan William pun ikut menarik sudut-sudut bibirnya lebar-lebar hingga menampakkan sederet gigi putih rapinya. Mereka berdua saling bertatapan beberapa detik hingga terdengar suara gadis lain berbicara, "Amelia, dia hanya pelayan kedai. Jangan terlalu dekat, dia hanya akan menyusahkanmu nantinya!"
William melirik tajam dan menahan lidahnya. 'Hah! Pelayan kedai? Kau belum pernah dipenjara mungkin karena menghina pangeran, Nona!' batinnya dongkol.
Lalu Abigail pun menimpali, "Dia bukan kelas kita, Amelia. Lebih baiķ kau berteman dekat dengan Pangeran Ares dari Drakenville saja, mungkin ayahmu akan merestui hubungan kalian!"
'Whattt?! Ares Kincaid? Kenapa dia—apa gadis bernama Amelia ini kekasihnya? Tidak ... kuharap ini tidak benar!' batin William galau di dalam hatinya. Dia tidak boleh berebut wanita dengan pangeran dari Drakenville, itu buruk untuk hubungan kedua negara yang telah bersahabat selama ratusan tahun lintas dinasti.
"Willy! Antar makanan ini ke meja 3, kau lelet sekali sih seperti perawan saja!" teriak nyonya pemilik kedai bertolak pinggang dengan wajah menyeramkan dari balik meja konter pemesanan menu.
Pemuda itu menoleh ke arah lengkingan suara yang memanggilnya. "Ohh ... what the hell!" rutuk William spontan yang membuat Amelia terkikik geli meliriknya dan berkata, "Bekerjalah yang rajin, Willy!"
Karena kedai Bronson begitu ramai pengunjung, William harus puas hanya bisa curi-curi pandang ke arah meja nomor 5 dimana gadis bernama Amelia yang telah membuatnya tertarik dengan sangat kuat sedang berbincang seru bersama teman-temannya yang barbar itu.
Sementara dia yang menyamar menjadi pelayan kedai harus pontang panting mengantarkan pesanan para pengunjung kedai. Belum lagi nyonya gemuk pemilik kedai bernama Susan itu begitu galak kepadanya bila dia berlama-lama mengambil makanan dan minuman yang telah disiapkan di konter pemesanan menu.
Hampir tengah hari rombongan gadis pelajar bangsawan itu membubarkan diri untuk pulang, begitu juga Amelia yang telah berganti baju biasa tadi setelah baju seragamnya ditumpahi air limun oleh William. Satu per satu mereka membayar orderan menu masing-masing di kasir yang dilayani oleh Nyonya Susan Bronson sendiri.
Amelia selalu mengalah kepada teman-temannya dan dia yang terakhir membayar serta meninggalkan tempat itu. Saat ia hendak melangkah keluar dari pintu depan kedai, lengannya ditarik kuat oleh seseorang lalu diseret mundur ke lorong menuju toilet.
Setelah lengannya dilepaskan dan mereka saling bertatapan, Amelia mengenali siapa orang yang menyeretnya dengan kasar sekaligus tidak sopan. "Willy?!" serunya dengan mata membulat penuh. Kedua lengan pemuda itu memerangkap tubuh Amelia di dinding lorong toilet yang sebenarnya berbau urine tak sedap.
Sepasang mata ungu itu begitu indah sehingga membuat William terbengong-bengong sejenak. Tampaknya sang pangeran kesengsem berat kepada gadis di hadapannya. Pertanyaan yang tadi sudah disusun dengan rapi di otaknya seolah sirna bagaikan asap rokok yang dihembuskan sekali saja.
"Hai, Boy—sebaiknya kau punya alasan yang bagus dengan menyeretku ke mari!" ujar Amelia berusaha bersabar sekali lagi kepada pemuda berparas tampan yang menurutnya sedikit ceroboh itu.
William pun menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. Dia lalu berkata, "Ehm ... apa aku boleh berkencan denganmu kapan-kapan? Dimana rumahmu, Nona?"
Sebersit senyuman terkembang di bibir bersudut runcing merah ceri itu lalu ia menjawab, "Maafkan aku, tetapi anggap saja aku seperti menu spesial di restoran mahal. Kau bisa melihatku, tapi mungkin tak mampu mendapatkannya! Aku permisi dulu, Will." Dengan gesit gadis itu kabur dari hadapan William dan buru-buru keluar dari kedai Bronson.
"WILLY! DIMANA KAU? DASAR PEMALAS!" Teriakan Nyonya Susan yang menggelegar sontak membuat lamunan indah William pecah berkeping-keping. Dia berlari tergopoh-gopoh mendatangi depan konter pemesanan menu dimana majikan barunya itu bertolak pinggang dengan wajah menyeramkan seperti naga siap menyemburkan api dari mulutnya.
"Ya, Nyonya Susan?" ucap William dengan seringai konyol di wajahnya berharap tak ada semburan panas yang akan diterimanya dari wanita gemuk itu.
Sebuah helaan napas dalam untuk menenangkan dirinya disertai perintah, "Will, antar dua nampan ini satu per satu ke meja nomor 6 dan 7. Jangan terbalik, oke? Setelah itu bantu aku menimba air di sumur dapur. CEPAT!"
"Siap, Nyonya Susan!" sahut William lalu segera mengerjakan tugas-tugasnya. Dia yakin telah kehilangan jejak Amelia, berarti dia harus bekerja lagi di kedai Bronson besok agar memiliki kesempatan untuk menemui gadis bermata ungu memesona tadi kembali.
Dengan kereta kuda keluarga Stormside yang berlambangkan huruf S dan petir di bagian sisi pintu penumpang kanan kiri, Amelia diantarkan ke Madam Tania's Orphanage. Hanya gadis itu saja yang mengunjungi panti asuhan di desa sebelah, Mayflower Village. Teman-temannya selalu mencari alasan bila Amelia mengajaknya ke tempat yang mereka anggap kumuh dan penuh gembel kata mereka.
Sekitar satu jam perjalanan membawa Amelia hingga ke depan sebuah bangunan 5 lantai berbentuk seperti kastil beratap runcing-runcing berjendela kaca sangat banyak dengan dua menara di barat dan timur. Sebenarnya tampilan kastil yang digunakan sebagai panti asuhan itu dari arsitektur luarnya nampak megah. Namun, kondisi penghuni bangunan tersebut jauh dari kata sejahtera.
Orang hanya ingin menitipkan anak dan bayi yang dibuang karena dilahirkan tak sesuai harapan keluarganya tanpa memberikan uang sumbangan sedikit pun. Kondisi keuangan panti asuhan menjadi tidak sehat. Madam Tania, pengelola panti asuhan itu sudah menua dan mulai menurun vitalitasnya untuk membuat kerajinan tangan yang dapat dijual ke pasar rakyat di hari tertentu.
Dan Amelia adalah salah satu dari orang-orang dermawan yang memiliki kepedulian untuk penghuni panti asuhan itu. Seperti hari ini dia memesan dari kedai Bronson; 100 bolu cokelat, 100 croisant, dan 100 roti isi daging. Semuanya diberikan cuma-cuma dari tabungan uang sakunya.
"Turunlah dulu, Lady Amy. Aku akan membawakan makanan untuk penghuni panti asuhan setelahnya," ujar Jeffrey Ross, kusir kereta pribadinya sekaligus sobat Amelia yang selalu membantunya mengurus banyak hal.
Kaki berbalut sepatu bots kulit unta warna coklat itu menapak ke permukaan tanah lalu melangkah cepat memasuki pintu depan Madam Tania's Orphanage.
"Teman-teman ... Kak Amy, datang!" seru salah satu bocah berusia di bawah 10 tahun yang sedang bermain bersama di lantai ruang depan kastil.
Belasan anak menghambur mengerumuni Amelia dengan ramah menyapa kedatangannya. Semua di kastil itu mengenalnya karena gadis itu sering membantu banyak pekerjaan di kastil untuk meringankan pekerjaan Madam Tania. Wanita kulit hitam berusia 65 tahun itu memiliki terlalu banyak hal untuk dikerjakan setiap harinya.
"Bagaimana kabar kalian, Kids?" sapa Amelia yang dijawab bervariasi oleh bocah-bocah bertubuh kurus dengan berbagai usia yang mengelilinginya. Gadis itu menghela napas diam-diam, dia merasa usahanya untuk memberikan kesejahteraan bagi anak yatim piatu penghuni panti asuhan itu masih kurang dari cukup.
"Baiklah—dimana Madam Tania?"
Gadis kecil dengan rambut pirang berkuncir dua berusia sekitar 7 tahun bernama Caroline menjawab pertanyaan Amelia, "Madam ada di halaman belakang kastil menurunkan pakaian dari tali jemuran, Kak Amy."
"Ohh, terima kasih, Olin. Kakak akan membantu Madam Tania dulu ya, Semuanya. Sampai nanti!" pamit Amelia lalu bergegas menuju ke halaman belakang kastil.
Ketika dia melihat wanita tua berkulit hitam itu sibuk dengan pakaian jemuran kering yang nampaknya begitu banyak, Amelia pun segera membantunya. Dia menduga hari ini adalah hari mencuci pakaian kotor mingguan. Memang anak-anak panti asuhan yang berusia di atas 10 tahun bangun pagi sekali saat matahari masih belum terbit dan mereka membantu Madam Tania mencuci pakaian semua penghuni kastil.
"Selamat sore, Madam! Apa aku boleh membantumu?" sapa Amelia yang segera ditanggapi dengan derai tawa dari Madam Tania.
"Setiap bantuan selalu berharga, Amy. Kuharap usiaku lebih muda 30 tahun agar bisa lebih gesit mengerjakan pekerjaan rumahan seperti ini!" ujar wanita tua berkulit hitam itu.
Memang dengan bantuan Amelia yang masih muda dan gesit, pekerjaan itu terselesaikan lebih cepat. Kemudian mereka berdua pun duduk bersama sejenak di undakan teras halaman belakang sembari menatap matahari senja yang mulai turun di langit sebelah barat
"Apa kondisi keuangan panti memburuk, Madam?" tanya Amelia yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Madam Tania mengangguk dengan raut wajah murung. Dia menjawab, "Aku hanya berharap musim dingin tak akan tiba dengan cepat. Kasihan anak-anak bila harus menahan rasa dingin yang membeku menusuk tulang. Selimut lama sudah semakin usang dan tipis karena dicuci berulang kali, begitu pula pakaian mereka—" Isakan tangis tertahan terdengar dari wanita tua itu.
Dalam benaknya Amelia berpikir bagaimana caranya agar ada dana untuk dikumpulkan sebagai sumbangan untuk panti asuhan yang menaungi sekitar 100 anak yatim piatu di Mayflower Village ini. Seberapa hematnya dia menabung uang sakunya, itu pun tak akan cukup. Apakah dia bisa melakukan penggalangan dana atau memohon kepada ayahnya agar memberi sumbangan?