Dina dan Jimmy saling berpandangan dan melempar senyum.
“Beneran kalian sudah jadian?” tanya Dina kepada Neil dan Anita.
Neil menganggukkan kepalanya sedangkan Anita menggeleng disaat bersamaan.
“Oh, jadi masih ragu-ragu rupanya? Awas lho nanti Neil kecantol ciwi syantek,” goda Simon kepada Anita yang sekarang sudah mendelik kepada Simon.
Anita sudah tidak canggung lagi berinteraksi dengan keluarga Neil yang memang humoris dan yang pasti sangat suka menggodanya.
“Jangan!” Isyarat Anita dengan raut wajah memelasnya.
“Wah, untung kalian masih di sini. Dedek cantik apa kabar?” Suara Alex menyapa dari belakang punggung Neil.
Serentak semua mata menoleh ke asal suara. Di sana tampak Alex meringis memamerkan deretan gigi putihnya bersandingan dengan Hilya beserta kedua anak kecil berumur tujuh dan empat tahun. Alex sedikit canggung ditatap sedemikian rupa oleh para sahabatnya itu.
“Mau piknik keluarga ini rupanya?” goda Neil dengan satu alisnya yang terangkat ke arah Alex dan Hilya. Hilya adalah sekretaris pribadi Neil di perusahaan pria tersebut.
“Bukan begitu Pak Neil. Ini Pak Alex ngajakin jalan sama anak-anak saja.” Hilya gugup memberikan alasan. Ini merupakan kali pertama sepupu bosnya itu mengajak dirinya bertemu dan juga kedua anaknya di luar urusan kantor. Hilya adalah seorang janda dengan dua orang anak.
“Ya, itu namanya piknik,” timpal Jimmy tiba-tiba, dengan kedua alisnya yang naik turun kemudian mengerling menggoda ke arah Alex, yang dibalas olehnya dengan memutar kedua matanya malas sedangkan Dina menatap Jimmy dalam-dalam seraya tersenyum tipis. Banyak pemikiran bersarang dibenaknya saat ini. Terutama tentang keberadaan pria di sebelahnya ini, yang kadang bisa sangat menjadi seorang pemaksa dan bisa terlihat biasa saja jika bersama dengan teman-temannya.
'Ternyata pria kaku ini bisa bercanda juga selain 'hot' tentu saja.' Batin Dina.
Ponsel Alex bergetar ia kemudian segera mengangkat panggilan yang ternyata dari saudaranya Marco.
“Halo Bang.”
“Aku sudah temukan sepupu kita yang tersayang.”
“Oh ya, lalu?”
“Dan dia tidak mau ikut kembali karena ternyata dia sudah menikah.” Tampak sekali jika Marco sedang menggeram kesal. Memang Marco kadang tampak tidak sabaran menghadapi tingkah polah satu-satunya sepupu perempuan mereka. Maka dari itu Catty sangat dicintai oleh keduanya.
“Menikah? Lalu bagaimana sekarang, bagaimana dengan tante Tari?”
“Dia bungkam dan hanya mau bicara padamu.”
“Astaga! Gadis itu memang!” seru Alex tidak habis pikir seraya menggelengkan kepala dan mendengkus. Selalu saja begitu sedari mereka kecil, Catty selalu sembunyi di belakang punggungnya guna mencari dukungan jika wanita itu melakukan kesalahan. Catty yang berusia dua tahun lebih muda dari Alex memang lebih dekat dengan pemuda periang itu.
“Abang, tolong Dedek! Abang Marco galak, mana bawa cewek lagi ke sini,” rengek Catty dengan nada merajuk nan manja, sangat jelas terdengar di seberang sana dan itu hanya berlaku untuk Alex saja.
Di seberang sana Juli yang memang datang bersama dengan Marco dan juga Johan saling berpandangan melihat adegan saling mengadu di depan mereka.
Marco mendengus seraya berkacak pinggang ia tahu kali ini Alex tidak akan mudah luluh dengan bujuk rayu Catty.
Enam bulan sebelumnya
Anita segera mengemasi pakaiannya dan segera keluar dari rumahnya padahal waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Suasana jalanan depan rumahnya masih sangat sepi. Setelah Anita menaruh kunci di tempat biasa, lalu ia segera bergegas menuju jalan raya seraya mendekap tas jinjingnya menghalau rasa gugup, takut dan dinginnya udara pagi hari ini. Beberapa kali pandangannya mengawasi sekitar. Anita pergi dari rumah, kabur tepatnya.
Kini Anita berdiri di depan gerbang rumah mewah yang menjulang tinggi di hadapannya saat ini. Ia sempat ragu apakah Tarsih benar tinggal di sini, jika benar sangat keren sekali pikirnya. Anita membuka tas bulat kecil yang menggantung di bahu kirinya. Ia segera mengeluarkan kertas yang terlipat rapi dalam dompet kecil souvenir pembelian perhiasan. Nomor rumah dan alamat di depannya saat ini sama persis dengan yang tertulis dalam secarik kertas itu.
Ia melihat dua buah tombol yang menempel pada tembok pagar namun saat ia akan menekan tiba-tiba pintu gerbang di depannya terbuka dengan sendirinya. Anita cepat-cepat menyingkir ke samping dan bersandar pada tembok batas pagar karena ada mobil mewah yang mau keluar.
Hari sang penjaga rumah, melihat Anita dan tersenyum. Ia tahu siapa gadis itu karena Tarsih sudah berpesan padanya sebelumnya. Hari mendekat ke arah Anita dan berdiri tak jauh dari gadis itu, sesaat setelah mobil sang majikan berlalu.
Mobil mewah itu sempat berhenti dan menurunkan kaca samping kemudi, sang pengemudi adalah seorang pria yang sangat tampan dan modis menatap penampakan Anita kemudian tersenyum tipis. Sementara Anita tak bisa melihat mata pria tersebut karena pria itu memakai kacamata hitam yang pastinya tak kalah mahal dengan penampilannya. Anita terpaku dan terpana ditatap sedemikian rupa oleh pengemudi tersebut. Andai saja Anita bisa bersuara pasti ia akan menyapa dengan santun.
Terbersit kecemasan di benaknya bagaimana jika pria itu nantinya akan berpikir jika dirinya tidak sopan? Ah, semoga saja pria itu hanya tamu di rumah mewah ini. Anita melirik mencuri pandang ke halaman depan rumah tersebut.
“Sini Neng, ayo Akang antar ke dalam,” sambut Hari ramah.
Anita mendekat ke arah Hari dengan tersenyum lembut kemudian mengikutinya ke dalam lewat pintu samping yang dikhususkan untuk para pekerja di rumah yang megah bagai istana.
“Eh iya Neng, si Eneng teh udah lulus sekolah?” tanya Hari.
Anita mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Hari yang mendapatkan senyum ramah sampai menelan salivanya kasar. 'Aduh senyum si Eneng mah bikin dada aing jedak jeduk. Kalau jaman enow bilang termehek-mehek, jiwa muda meronta.'
Hari yang memang masih berusia muda sekitar dua puluh dua tahun, bersih dan tampan kini merasa geli dengan pemikirannya sendiri.
'Ternyata tetangga Bi Tarsih cantik sekali walaupun tuna wicara tak apalah asal bisa masak, beberes rumah. Semoga teh, Neng Anita mau dengan aing.'
Walaupun jelas Anita memiliki kekurangan, tetapi dengan tubuhnya yang tinggi dengan bentuk tubuhnya semampai dengan ukuran dada yang diatas rata-rata, serta pinggul ramping bagaikan biola. Kulit yang putih bagaikan porselen dan memiliki pori-pori wajah yang tak terlihat. Laki-laki yang sehat pasti akan terpesona kepadanya. Oh ya, tidak lupa juga rambutnya yang panjang terurai sepanjang tulang belakangnya, tergerai indah dan harum. Matanya yang sedikit sipit, tulang pipi tinggi yang masih sedikit tertutup bulatnya pipi sisa-sisa penampakan masa kanak-kanaknya dan bibir sedikit mungil tetapi penuh dengan warna merah muda alami tanpa polesan.
Bahu Hari yang sedang melamun menikmati pemandangan indah di depannya itu, ditepuk oleh Tarsih dari belakang. Anita yang memang sudah melihatnya hanya tersenyum geli menatap keduanya. Serta kekagetan Hari merupakan hiburan bagi Anita. Hari saja tidak sadar jika sampai air liurnya hampir menetes, memalukan bukan?
“Hayo, bengong aja,” tegur Tarsih.
Hari hanya meringis karena kekagumannya. “Tau nggak Bi, tadi teh aing kira ketemu bidadari waktu membuka gerbang eh ternyata beneran. Bidadari bumi mendarat mulus di tempat kerja aing yang megah ini. Duh tambah betah kerjanya kalau begini.” Setelah berkata demikian, Hari kemudian kembali lagi ke pos jaganya.
“Da ... da .... Eneng cantik, sampai jumpa lagi!” pamitnya sambil berlari kecil ke depan membukakan gerbang saat bersamaan ada suara klakson mobil.
Tarsih mengintip dari jendela samping. “Nah itu Bunda Hellen sudah datang, ayo sekalian Bibi kenalkan. Taruh dulu tas bawaanmu di situ nanti baru kita bereskan,” tunjuk Tarsih pada kursi panjang di samping pintu.
Anita mengangguk, tak lupa dia membawa papan magnetiknya.
Hellen yang baru saja masuk ke rumah kemudian mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga sembari menjulurkan kaki dan memijatnya ringan.
“Bunda ...,” sapa Tarsih.
Hellen menoleh menatap Tarsih berganti menatap Anita, yang berdiri canggung dan malu-malu di belakang wanita yang lebih muda darinya itu. Gadis cantik yang tentu saja tak bisa menutupi tinggi tubuhnya yang semampai karena Tarsih hanya sebatas dagunya.
Hellen menunjuk ke arah Anita dan tersenyum. “Ini siapa? Anita ya?”
Tarsih dan Anita mengangguk bersamaan. Hellen menegakkan tubuh, kemudian menyuruh keduanya duduk di sofa di depannya.
Anita terlihat semakin tegang dan bingung apa yang harus ia lakukan sampai bulir-bulir keringat tampak di dahi dan di atas bibirnya.
Hellen tersenyum menatapnya, entah kenapa ia merasa senang bertemu dengan Anita. Sepertinya Anita gadis yang polos. Hellen menelusuri tubuh Anita dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Semburat memar yang sudah mulai memudar di lengan dan kaki Anita tak luput dari perhatian Hellen. Seketika hati Hellen merasa iba karenanya. Geram pun menggelegak, seolah apa yang terjadi pada gadis ini belum cukup.
Tarsih sudah menceritakan keadaan yang dialami oleh Anita. Untung saja gadis ini bisa melarikan diri dari jerat kakak tirinya. Kemudian dengan menggunakan gerakan bahasa isyarat Hellen mengajak Anita berkomunikasi.
“Jangan takut kamu aman di sini. Kamu diterima bekerja, tapi kamu kerjanya di panti asuhan milik saya,” ujar Hellen.
Mata Anita membulat sempurna, wajahnya merona. Ia bahagia akhirnya gadis seperti dirinya ada yang mau menerima bekerja. Terlebih sang majikan bisa bahasa isyarat seperti dirinya. Sesuatu yang tidak ia duga bisa dengan mudah didapatkan.
“Terima kasih Nyonya.”
Hellen menggelengkan kepalanya. “Jangan panggil Nyonya panggil saya, Bunda.”
Anita semakin kaget, Anita melirik Tarsih yang membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia merasa kaget, dan canggung pastinya selama hidup satu-satunya wanita yang ia panggil bunda adalah ibu kandungnya yang telah almarhum.
“Jangan khawatir semua pekerja di sini memanggil saya dengan sebutan Bunda kok. Ya sudah kamu istirahat dulu, jangan lupa besok pagi jam sembilan kamu sudah harus siap,” ujar Hellen seolah bisa membaca isi pikiran Anita.
Saat Anita bangkit berdiri terdengar suara langkah kaki bergema memasuki rumah tersebut bersama dengan suara langkah kaki anak-anak yang berlari.
“Oma ...!” panggil anak batita laki-laki yang kemudian berhambur ke pelukan Hellen. Diikuti oleh seorang pria yang Anita yakini adalah pria yang sama bertemu dengannya di depan gerbang.
“Oh ya Anita, dia adalah anakku Neil dan ini cucuku Alfred,” ujar Hellen mengenalkan Neil yang masih berdiri beserta Alfred yang duduk di pangkuannya.
Anita reflek berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Neil menyambut uluran tangan Anita dengan mantap, tangannya yang lebar merangkum tangan halus dan mungil tersebut seraya menatap bundanya dengan menaikkan satu alisnya. Neil heran kenapa bundanya menggunakan bahasa isyarat? Kemudian pandangannya beralih pada gadis belia yang tadi bertemu dengannya di depan.
Cantik .... Hanya perlu sedikit berdandan saja pasti banyak pria yang akan meneteskan air liur menatap kemolekan tubuhnya. Nggak salah kan jika Neil menilai demikian, Neil pria normal.
Kemeja yang ia kenakan sekarang saja seperti sudah tak mampu menampung berat dadanya. Dengan pinggul seperti gitar spanyol dan perut yang rata. Jangankan Neil, Hari saja sudah berpikir yang macam-macam.
Ucapan Hellen memecahkan lamunan Neil, sedangkan Anita yang ditatap seperti itu hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap mata kelam setajam elang. Anita juga tidak berani menarik tangannya yang masih setia dalam genggaman hangat Neil. Tangannya bergetar gugup, tentu saja. Tidak ada yang pernah menggenggam tangannya selembut itu, tidak juga sang kakak tiri yang hanya bisa mengkasarinya.
“Dia yang akan membantu Bunda di panti, Nak. Lumayan sekarang Bunda punya asisten,” ujar Hellen.
“Oh begitu,” jawab Neil seraya melirik genggaman tangannya pada tangan Anita yang bergetar gugup, Neil mengusapnya lembut sebelum melepasnya.
Kelakuan Neil tak lepas dari pengamatan Hellen dan Tarsih yang sempat bertukar pandangan.
Anita dengan mata membulat reflek menarik dan mendekap tangan di dadanya. Detak jantungnya berdetak tak menentu tetapi terasa menyenangkan. Ia berbunga-bunga hanya sebab usapan lembut sekaligus merasa sesuatu yang berbeda. Sangat berbeda sekali dengan sentuhan seseorang yang sangat ia takuti. Seharusnya hal itu tidak ia rasakan yang mungkin bagi pria matang di depannya ini bukan suatu yang berarti, Anita berusaha mengenyahkan rasa itu. Ia merasa kecil dan tidak pantas, murahan lebih tepatnya atau hanya gejolak jiwa mudanya yang berbicara.
Alfred yang sedari tadi hanya menatap Anita dari pangkuan neneknya kemudian turun dan berlari ke arah Anita dan memeluk paha gadis itu.
Anita menunduk kaget saat merasakan lengan kecil memeluk kakinya. Anita tersenyum kepada Alfred.
Alfred mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Anita dan dengan polosnya ia berkata, “Mommy Al, ya? Mommy Al,” tanyanya sembari mengangguk-anggukkan kepala meminta kepastian kepada Anita..
“Mommy gendong,” pinta Alfred sembari mengulurkan tangan ke atas.
Sesaat Anita terperangah tak hanya ia begitu juga ketiga pasang mata yang lainnya. Anita menatap canggung kepada orang dewasa lainnya. Namun dirinya juga tidak tega dengan anak kecil yang menatapnya dengan penuh pengharapan. Anita tak menyangka anak itu langsung menghampiri dirinya seperti ini, satu hal yang pasti bocah ini tak memiliki sosok ibu. Hati Anita tersentuh dengan kepercayaan anak ini kepadanya. Andai saja ia bisa bicara ingin ia katakan bahwa dirinya bukan ibu anak ini.
Anita dengan gugup dan tersenyum tipis, dengan matanya ia meminta izin kepada Neil dan Hellen untuk menggendong Alfred. Setelah mendapatkan izin dari keduanya dengan anggukan, ia kemudian mengangkat anak itu. Bocah berusia dua tahun itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Anita. Dengan satu tangannya memeluk leher Anita kemudian ia menguap dan memejamkan matanya. Ya, semudah itu.
Neil dan kedua orang lainnya tak menyangka jika Alfred yang terkenal pemilih, dengan mudahnya tertidur dalam gendongan Anita. Anita menimang tubuh kecil itu yang membuat si kecil semakin nyenyak tidur.
Hellen kemudian bangkit. “Ayo aku antar ke kamar Alfred. Alfred sudah menyukaimu. Maaf ya, jika tiba-tiba Alfred memanggilmu mama karena mamanya sudah meninggal,” terang Hellen dengan berjalan bersama Anita menuju kamar Alfred yang persis di sebelah tangga. Hellen terlihat bahagia dan Anita jelas tidak ingin mengecewakan majikan barunya ini.
“Biasanya dia sangat pemilih, bahkan dengan para pekerja di rumah ini saja dia tidak mau gampang terbuka dan dipegang,” imbuh Hellen yang berjalan riang mendahului Anita.
Anita kemudian menidurkan Alfred namun anak itu merangkul lehernya dengan kencang sehingga Anita ikut merebahkan diri di samping Alfred dengan tidur menyamping seraya mengusap punggung Alfred dengan lembut.
Hellen keluar kamar cucunya dan mendapati Neil berdiri di depan pintu.
“Nda, gimana kalau gadis itu menjadi pengasuh Alfred?” usul Neil dengan mengedikan dagunya.
Hellen memeluk leher putranya sembari mengulum senyum.
“Gimana kalau kamu nikah aja sama dia?” Kembali Hellen memberi usulan.
Neil melotot kemudian jarinya menggosok pangkal hidungnya untuk menutupi keterkejutannya karena usul bundanya. Usulan bundanya sangat tidak masuk akal. Bahkan wanita itu paling tahu jika dirinya masih ingin sendiri dan tidak siap menjalin hubungan yang serius.
“Bunda jangan bercanda, gadis itu masih belia belum lagi dia tak bisa bicara,” tegas Neil, memberikan alasan. Berharap jika sang bunda akan mengerti dan memikirkan kembali.
Sang bunda hanya mengedikkan bahunya santai. “Bunda nggak bercanda loh, serius. Kau tahu bundanya Anita dulu yang nolongin Bunda waktu mau dijambret hingga membuat bundanya Anita tertebas tangannya dan meninggal karena kehabisan darah. Kamu ingat kejadian itu? Lagi pula tidak bisa bicara bukan berarti dia akan selamanya seperti itu. Masih banyak cara untuk berkomunikasi, manusia normal saja belum tentu bisa saling memahami. Kamu paham, ‘kan maksud Bunda?” ujar bundanya.
“Maksud Bunda, aku harus balas budi dengan menikahi anaknya begitu?” tanya Neil memastikan dengan suara datar dan dingin, tampak penolakan dalam nada suaranya.
“Nggak juga sih, semua terserah kamu. Tapi Bunda memang berencana membawa dia ke Amerika untuk operasi pita suaranya. Dia masih bisa bicara kok nantinya, dia begitu karena trauma kecelakaan dengan ayahnya dulu sewaktu dia kecil,” ujar Hellen sembari berjalan kembali ke ruang keluarga dan tentu saja Neil mengikuti di belakangnya.
"Jadi kedatangan dia memang sudah Bunda yang atur?"
"Baru rencana sebetulnya, mungkin Bunda sangat beruntung karena tanpa menunggu waktu yang lama dia sudah memutuskan untuk ke sini."
"Kenapa jadi Bunda yang beruntung? Bunda tidak akan kekurangan apapun tanpa membantunya," ujar Neil dengan maksud hati menggali informasi sebanyak mungkin.
Neil sungguh penasaran dengan rencana bundanya, entah kenapa terbersit pemikiran jika sang bunda akan menjodohkan gadis itu dengan anak teman-teman sosialitanya jika sampai Neil tidak mau. Hanya perasaannya saja sih, tapi semoga saja tidak ya. Dengan tubuh seindah itu, usia muda. Sudah tentu banyak pria yang mau memilikinya.
“Kau tahu, Bunda selama ini mengawasinya, bahasa asing yang dikuasai cukup baik. Dia bisa berbahasa Inggris dan Spanyol, Bunda rasa Anita bisa meneruskan kuliah sambil bekerja.”
“Jika nanti tiba saatnya dia sudah siap, Bunda akan jodohkan dia dengan salah satu anak teman Bunda. Kalau kamu tidak mau. Ayolah Neil, cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Bayangkan jika sampai dia mendapatkan pasangan yang memperlakukan dia dengan semena-mena. Bunda pasti akan merasa bersalah dengan bundanya," imbuh Hellen.
Mata Neil melotot, benar dugaannya bundanya memang memiliki maksud tersebut.
“Apa tidak terlalu cepat Bunda?” tanya Neil seraya berdehem, ia merasa terusik dengan perasaannya yang tiba-tiba merasa berat membayangkan gadis belia itu bersama dengan pria lain. Benarkah, tidak mungkin ia bisa tertarik semudah ini? Bahkan bayangan Dina, kekasih yang kadang kala menemani menghangatkan ranjang tak terlintas sedikitpun saat ini. Neil menggelengkan kepala, baginya sungguh tidak masuk akal. Mereka baru saja bertemu tetapi sosok gadis itu rasanya menggugah sisi posesifnya lebih jauh. Mungkin itu hanya insting melindungi mengingat dirinya adalah anak tunggal dan wanita itu sangat muda seperti seorang adik.
Hellen mengerutkan dahinya, “Apanya yang terlalu cepat? Ayahmu sudah setuju kok. Malah Ayah bilang, jika kamu nggak mau menikahi Anita, Bunda sama Ayah mau mengadopsinya menjadi adikmu.” Mata Hellen berbinar saat mengucapkan itu.
Benar bukan dugaan Neil. “Masih terlalu cepat Bunda, dia baru saja tiba di sini masa iya langsung dijodohkan dengan Neil,” terang Neil, memohon pengertian sang bunda. Neil memandang ngeri ke arah sang bunda. Di dalam hatinya ada rasa berat melepas Anita menjadi adiknya terlebih membayangkan gadis itu di pelukan pria lain, seperti pemikiran yang tadi sempat terlintas di benaknya. Ada apa dengan hatinya? Baru juga bertemu dengan gadis itu? Neil tahu bukan hanya dari segi fisik yang sangat menarik perhatian, tetapi ada sesuatu dari gadis itu yang tidak bisa dirinya abaikan. Jadi, apa yang harus ia lakukan, menikah lagi? Alfred sang anak begitu spontan memanggil Anita dengan sebutan ‘Mama’. Lalu bagaimana dengan dirinya? Neil tidak mungkin semudah itu mencintai gadis belia itu. Gadis se-belia almarhum mantan istrinya, sementara pengkhianatan mantan istrinya masih segar tersemat dalam ingatannya. Mungkinkah dirinya memang menyukai wanita muda?
Suara pintu kamar yang tertutup terdengar oleh keduanya. Hellen menoleh ke asal suara.
“Anita kemari Nak,” panggilnya.
Anita berjalan ke arah mereka dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ia merasa tak nyaman dengan pandangan mata Neil kepadanya.
Anita duduk di samping Hellen. Hellen mengusap lembut punggung Anita dengan sayang, menenangkan.
“Besok kita akan ke panti sebentar setelah itu kita ke rumah sakit,” kata Hallen memulai percakapan.
Anita menatap wajah Hellen dengan pandangan ngeri. Ia takut dengan rumah sakit, ia teringat kecelakaan yang ia dan ayahnya alami serta kejadian yang menimpa ibunya.
Hellen menyadari hal itu kemudian ia menggenggam kedua tangan Anita.
“Jangan khawatir kita hanya akan memeriksa tenggorokanmu saja. Jika semuanya sudah siap, Bunda berencana membawamu ke Amerika untuk memulihkan pita suaramu.”
Anita menangis terharu dengan kedua tangannya menutupi mulutnya. Ternyata masih ada orang baik hati yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya mau berbaik hati menyembuhkannya.
Hellen memeluk gadis yang terlihat gemetaran tersebut. Anita masih terkejut dan bahagia sekaligus maka dari itu, tubuhnya tak berhenti bergetar. “Kamu mau ‘kan, Nak?” tanya Hellen dan Anita mengangguk.
Sejurus kemudian ia membuat gerakan. “Bagaimana caranya Anita membalas, Anita tak punya apa-apa?” tanyanya.
Jelas saja, gadis itu kebingungan. Dalam hatinya memiliki firasat jika pasti keluarga itu mengenal dirinya. Namun bagaimana bisa sementara selama ini ia tinggal bersama dengan ibunya di kota kecil.
“Sudah gampang itu, dengan Anita selalu ada untuk Bunda itu lebih dari cukup. Anita mau kan mengurus Alfred?”
Anita yang senang dengan anak kecil, mengangguk mengiyakan. Ia cukup berpengalaman mengasuh karena di desa ia sering dititipin oleh para tetangganya untuk mengasuh balita mereka, karena keterbatasan dirinya untuk berkomunikasi membuat ia juga tidak bisa bekerja di luar selain melukis untuk mengisi waktu luangnya.
“Jadi, Anita tidak jadi bekerja di panti asuhan?”
“Tidak Nak, sepertinya cucuku lebih membutuhkanmu.”
'Dan anakku juga, semoga.'
Hellen sangat berharap gadis cantik di depannya ini menjadi menantunya. Ia sangat yakin gadis ini pilihan yang sesuai untuk anaknya. Anita bisa mengimbangi sifat Neil yang kadang susah diatur.
“Baik Bunda.”
“Bagus kalau begitu sekarang kamu kembali ke kamarmu dan istirahatlah,” ujar Hellen.
Saat Anita bangkit dan hampir melewati Neil. Pandangan mata mereka bertemu Neil dengan wajah datarnya menatap dalam-dalam manik mata Anita yang tampak teduh dan sendu.
“Nanti malam ikutlah makan malam bersama kami,” ujarnya.
Anita yang tak berani membantah hanya sekali lagi menganggukkan kepalanya.