Kala malam dingin mencekam. Hujan deras jatuh menghantam atap rumah besar, mewah, dan bertingkat dua. Di kamar paling belakang, yang terletak di dekat dapur, seorang wanita tidak bisa tidur. Ia terus memandang ponsel, yang baru seminggu lalu dihadiahkan untuknya. .
Gadis bermata sedang, yang memiliki bulu mata yang lentik. Tubuhnya ramping dengan perut datar tanpa lemak. Lekukan pinggul yang terlihat sangat mencolok. Ya, ia memang rajin merawat tubuhnya, meskipun ia hanya seorang pembantu di rumah besar itu.
Namanya Inayah Cahya Putri. Dia terpaksa menjadi pembantu setelah putus sekolah. Karena, ayahnya meninggal ketika dia masih duduk di kelas dua SMA. Inayah akhirnya memutuskan untuk merantau ke kota metropolitan. Kota di mana kehidupan begitu keras.
Alasannya hanya satu, Inayah sudah bosan hidup di kampung dengan segala tekanan dari sang ibu. Namun, setelah hidup di kota Inayah tetap tidak melupakan ibu dan juga adik-adiknya. Gaji Inayah selalu dia kirimkan ke kampung, termasuk bonus-bonus yang sering dicurahkan oleh majikannya–Edric.
Setelah sang ayah tiada, ibunya Inayah selalu menjadikan Inayah pelampiasan amarahnya. Inayah adalah anak sulung dari lima orang bersaudara. Hanya Inayah yang sudah menginjak usia remaja. Selebihnya masih masih SD, ada yang TK, dan juga balita.
Akhirnya, lewat akun media sosialnya, Inayah berhasil mendapat kerja di rumah keluarga Dawson. Keluarga yang berasal dari keturunan Inggris, tetapi sudah menetap di Indonesia.
Selain modal akun media sosial, Inayah juga meninggalkan kampung halamannya dengan modal nekat. Bagaimana tidak? Dia belum pernah sama sekali berkunjung ke kota Jakarta. Kemudian, tiba-tiba memutuskan untuk mengadu nasib ke sana. Sungguh hal yang tak patut dicontoh.
Mata indah Inayah tak kunjung bisa dipejamkan. Tangan sedikit bergetar, dia coba untuk meraih benda pipih pemberian tuan Edric Dawson. Kemudian, mengetikkan beberapa kalimat dengan bibir yang kian bergetar. Rasa was-was itu kian merajai hati Inayah.
Inayah :" Tuan, saya belum juga haid."
Secepat mungkin Inayah mengirimkan pesan itu. Dia pandangi ceklis dua yang belum juga berubah warna. Ketakutan semakin besar bersarang dalam dadanya. Bagaimana jika dia hamil? Itulah yang terus mengganggu pikiran Inayah, sebulan belakangan.
Inayah kembali menjatuhkan dirinya di kasur, yang lumayan empuk. Dia tatap kasur itu dengan tatapan sendu. Di kasur itulah, dia kehilangan keperawanannya untuk pertama kali. Hubungan terlarang itu berawal dari sebuah ancaman dan paksaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Inayah mulai terbuai oleh kelembutan sikap majikan laki-lakinya.
"Kamu cantik, Nay. Saya suka semua yang ada di tubuhmu." Begitulah pujian yang sering diucapkan oleh Tuan Edric padanya.
Inayah mulai menangis, ketika pesannya tak kunjung dibalas oleh majikannya. "Apakah aku harus datang ke kamar Tuan Edric?" tanya Inayah membatin.
Inayah melangkah ke pintu, tetapi niat itu akhirnya dia urungkan. Dia takut, jika nyonya besar rumah itu sedang bermalam di rumah, dan memergoki aksinya. Bisa-bisa dia dipecat dan dibunuh.
Nyonya Anne memang wanita cantik yang super sibuk, sehingga kadang-kadang Inayah tidak tahu, kapan majikan perempuanya menginap di rumah. Hal itu sudah lumrah terjadi. Anne dan Edric punya kunci rahasia untuk membuka setiap pintu ruangan. Oleh sebab itu, dia bisa saja masuk kapanpun dia mau. Meskipun Anne berada di negara yang berbeda. Termasuk bisa membuka kamar tidur Inayah.
Inayah berbalik, kembali ke kasur. Mencoba untuk berbaring, dan memejamkan mata. Esok pagi dia sudah harus bangun, untuk mengurus rumah besar itu.
***
Di meja makan, Tuan Edric makan dengan lahap. Masakan Inayah selalu pas di lidahnya. Bahkan, dia rela untuk meninggalkan kebiasaan makan di luar, agar bisa tetap menyantap makanan buatan Inayah. Semenjak Inayah menjadi pembantu di rumah besar itu. Ada banyak perubahan pada Tuan Edric.
"Benar kamu tidak haid bulan ini, Sayang?" Suara bariton Edric membuat kepala Inayah terangkat. Sejak tadi dia hanya diam sambil menunduk dalam-dalam. Dia sangat kecewa, karena centang pesan itu masih belum berubah warna.
"Ba … bagaimana Tuan tahu? Sedangkan pesan itu belum Tuan baca." Inayah memberanikan diri untuk bersuara. Walaupun, Edric menganggapnya sebagai kekasih, tetapi bagi Inayah dia hanyalah budak pemuas nafsu tuannya. Hal itu juga yang membuatnya selalu bertutur formal pada Edric.
"Hehehe, pesan itu sudah aku baca. Baiklah, hari ini aku libur. Kita akan pergi cek ke dokter. Kamu setuju, Sayang?" Mata indah milik Edric menatap Inayah yang masih betah berdiri di sisi meja.
"Sa … saya takut, Tuan." Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir sensual milik Inayah.
"Takut? Takut pada siapa? Anne? Dia tidak akan tahu apa-apa, karena dia sibuk dengan dunianya. Yang penting kamu jangan bicara apa-apa padanya." Edric menyudahi sarapan paginya. Kemudian dia beranjak, sebelum beranjak dia kembali mengingatkan Inayah untuk segera bersiap-siap.
Inayah masih mematung di sisi meja makan. Rasa takut itu pun kembali menguasai hati. Wanita bertubuh sintal itu kian menjadi was-was. Dia takut, jika memang telah tumbuh benih sang majikan dalam rahimnya. Inayah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apabila mimpi buruk itu menjadi kenyataan.
Pertama, keluarganya pasti akan memarahinya. Kedua, orang kampung pasti akan memandangnya hina. Ketiga, dia tidak ingin memelihara benih dari hubungan terlarangnya selama ini. Keempat, dia takut jika Nyonya Anne Edric Dawson mengetahui segalanya. Masih panjang pikiran Inayah, tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"What it is? Kamu masih di sini, Sayang?" Inayah terperanjat mendengar suara bariton Edric menggema memasuki gendang telinganya.
"Ma … maaf, Tuan. Ya, sebentar. Saya bereskan semua ini dulu," ucap Inayah gugup. Cekatan jari-jari ramping miliknya lihai memindahkan piring kotor ke wastafel. Setelah itu, dia segera beranjak terburu-buru menuju kamarnya.
Ketika dia hendak menutup pintu kamar, tangan berbulu milik Edric sudah menahan pintu lebih dulu. Inayah terkejut, dan otomatis menatap wajah Edric yang tampan. Edric tersenyum tipis, lalu ikut masuk ke kamar yang tidak terlalu buruk itu.
"Tu … Tuan mau mengapa?" tanya Inayah sedikit gugup. Inayah semakin gugup ketika Edric malah tiduran di atas kasurnya. Kemudian, kedua tangannya menyilang di belakang kepala.
"Nggak ada. Aku cuma ingin melihatmu ganti baju, Sayang." Edric tersenyum kembali, seraya mengedipkan sebelah matanya. Bibir seksinya mengatup, hanya matanya yang tak berkedip menatap Inayah.
Wanita belia 19 tahun itu pun hanya bisa pasrah. Selama ini dia tidak pernah bisa mampu melarang apa pun, yang akan dilakukan Edric. Jadi, dia rasa percuma kalau melanjutkan protesnya pada Edric.
Perlahan, Inayah mulai menarik ujung baju kaosnya sampai terlepas. Hal itu membuat tubuh indahnya menjadi terekspos. Punggung mulus Inayah, tak luput dari tatapan Edric. Beberapa kali laki-laki tiga puluh enam tahun itu menelan ludah, sampai jakun-jakunnya naik turun menahan hasrat yang mulai muncul.
Inayah tak ingin berlama-lama menampakkan tubuhnya. Secepat mungkin, Inayah kembali menyarungkan baju yang baru saja dia ambil dari dalam lemari.
Inayah lega, karena majikannya tidak melakukan apa-apa. Wanita belia itu pun menghembuskan napas perlahan. Setelah menyisir rambut dan memolesi wajahnya dengan bedak, dia pun melapor pada Edric," Tuan, saya sudah selesai."
"Ya, kamu sangat cantik." Lagi-lagi Edric memuji kecantikan Inayah, yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu dulu.
Walaupun dari kampung, Inayah cukup pandai berdandan dan membawa diri. Setiap kali bepergian dengan Edric, dia tampil dengan penampilan terbaiknya. Meskipun, Inayah menganggap dirinya hanyalah babu.
Ya, bagi Inayah dia tetaplah babu, bukan kekasih simpanan Edric. Akan tetapi, di mata Edric, Inayah adalah kekasih simpanannya. Wanita kedua yang dinomorsatukan. Oleh sebab itu, Edric selalu memperlakukan Inayah dengan lemah lembut.
"Ayo kita berangkat." Edric memasangkan sabuk pengaman untuk Inayah. Inayah hanya diam membisu.
Sepanjang perjalanan, Inayah terus memikirkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia khawatir jika memang ada benih majikannya dalam rahimnya. Pun, dia lebih khawatir, jika majikannya meminta Inayah mengandung benih itu. Sepanjang perjalanan, Inayah tak berhenti memikirkan itu semua.
"Kenapa takdir hidupku seperti ini?" Inayah membatin merasa putus asa.
—-----------
Di parkiran mobil, Edric kembali meyakinkan Inayah, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jadi, Inayah tidak perlu mencemaskan dan memikirkan masalah itu terlalu larut.
"Ayo, Sayang. Kita turun," ucap Edric, sambil mendekat untuk membuka sabuk pengaman Inayah. Wanita belia berambut lurus itu masih mematung. Kepalanya menunduk dalam-dalam, kata-kata yang diucapkan sang majikan, tidak mampu menenangkan gejolak kekhawatiran di dadanya.
"Hei, kenapa masih mematung? Kamu tidak percaya padaku?" tanya Edric. Jarinya yang perkasa membingkai wajah cantik milik Inayah. Tatapan mereka bertemu untuk sesaat.
"Saya takut, Tuan." Suara Inayah menjadi serak, karena tenggorokannya tercekat. Edric menggeleng, lalu memejamkan matanya. Inayah menjadi tidak paham apa maksud dari majikannya.
"Selagi masih ada aku, kamu tidak perlu cemas. Walaupun kamu hamil, kan, ada aku. Aku ayah dari anak itu nantinya." Edric mengusap lembut kepala Inayah, lalu dia segera turun dari mobil.
Kalimat yang baru Inayah dengar, bukannya membuat jiwanya tenang, justru membuatnya semakin gundah. "Tuan Edric memintaku mengandung anaknya?" Inayah membatin. Dirinya semakin gusar, karena dia masih 19 tahun, status pun masih gadis. Apa pandangan orang nantinya? Itulah yang terus memenuhi kepala Inayah.
Edric segera membukakan Inayah pintu mobil, karena Inayah tak kunjung turun. "Ayo, Sayang," ucap Edric menggenggam jari tangan Inayah dengan lembut.
Besar keinginan Edric agar Inayah mengandung anaknya. Sepuluh tahun menikah dengan Anne, Edric tak kunjung mendapatkan anak darinya. Selain hubungan ranjang mereka yang terganggu, Anne pun menolak untuk hamil. Dia lebih memilih tetap meneruskan karirnya.
Bertahun-tahun hati Edric hampa, tanpa istri yang peduli padanya. Setiap malam Edric menghabiskan waktunya meneguk minuman beralkohol. Namun, dia tidak berniat untuk berhubungan dengan wanita-wanita malam. Dia masih mengutamakan kesehatannya. Ya, Edric takut terjangkit penyakit menular seksual.
Pertemuan pertama dengan Inayah, sudah membuatnya hatinya terpincut. Wajah polos Inayah yang cantik tidak bisa mengalihkan pandangan Edric, sehingga membuat Edric khilaf. Dia merenggut kesucian Inayah dengan ancaman yang membuat Inayah takut. Namun, jauh di lubuk hati Edric dia benar-benar menyayangi Inayah.
"Ayo kita masuk!" ucap Edric menggandeng tangan Inayah. Ketika mereka melewati beberapa pengunjung lain, mereka pun menjadi sorotan. Ada tatapan yang tak biasa yang ditujukan pada mereka.
Di dalam pikiran para pengunjung adalah perbedaan yang sangat kontrak, antara Edric dan Inayah. Karena, usia mereka memang terpaut jauh. Namun, Edric berusaha acuh atas tatapan beberapa pengunjung. Hanya Inayah yang semakin ciut dan tertekan. Inayah takut, orang-orang memikirkan terlalu jauh. Walaupun, Inayah memang sadar dia sangat salah dalam hal tersebut.
Ponsel Adric yang berbunyi, membuat pria dewasa nan gagah itu, melepaskan tangan Inayah. "Sebentar, Sayang. Kamu duduk saja di situ dulu," ucap Edric, sangat lembut pada Inayah. Inayah hanya mengangguk dan mengikuti perintah majikannya.
Sepeninggalan Edric, Inayah semakin tak nyaman. Apalagi ketika seorang wanita mengajaknya mengobrol.
"Mau periksa kehamilan juga?" tanya wanita, yang duduk tepat di samping Inayah.
"Iya, Bu." Inayah berusaha menyembunyikan rasa gugup dan takutnya.
"Yang tadi itu suami kamu?" tanya wanita itu lebih berani.
"Emm, anu …, Bu." Inayah menjadi bingung harus menjawab apa. Dia tahu Edric bukanlah majikannya, dia pun menjadi bingung. Hanya bisa terdiam meremas jarinya kuat-kuat.
"Kakak kamu? atau apa?" Pertanyaan wanita itu semakin membuat Inayah takut. Peluh dingin mulai membayang di permukaan kulitnya. Wanita itu pun menggeleng, karena Inayah tak bisa menjawab.
"Jangan … jangan …."
"Sayang, kamu sudah mendaftar?" tanya Edric, tiba-tiba muncul.
Wanita tadi pun hanya menjadi gugup, memilih untuk menjauh dari Inayah dan Edric.
"Belum," ucap Inayah.
"Sebentar, biar aku daftarkan dulu." Edric melangkah menuju meja pendaftaran.
Setelah mendaftar, Edric kembali duduk di samping Inayah. Tangannya yang kekar, meraih jari Inayah yang sudah berkeringat. "Jangan gugup, Sayang. Ada aku di sini," bisik Edric di telinga Inayah.
Inayah mengangguk. Dia coba untuk menarik napas perlahan, agar ketakutannya segera sirna. Setidaknya, Inayah mulai merasakan kenyaman, karena Edric ada di sampingnya. Agar, tidak ada lagi siapa pun yang mengajaknya bicara, apa lagi bertanya hal-hal yang membuatnya tertekan.
Para pengunjung pun mulai sepi. Namun, Edric masih bertahan di samping Inayah. Bahkan, genggamannya tak kunjung lepas. Membuat orang yang melihat pemandangan itu merasa iri.
Siapa yang tidak ingin menjadi istri Edric? Laki-laki bertubuh tegap, berwajah tampan, dengan manik mata yang indah. Bahkan, tangan perkasanya yang berbulu membuat wanita berimajinasi.
Sungguh beruntung Inayah bisa disayangi oleh Edric. Hanya saja caranya yang salah, sangat bertentangan dengan aturan agama, yang Inayah anut. Edric sendiri adalah keturunan yang beragama nonis. Tentu terlalu banyak hambatan dan rintangan di antara mereka berdua.
"Bu Inayah, silakan masuk!"
Edric langsung berdiri dan menarik tangan Inayah perlahan. "Aku temani ke dalam," ucap Edric, seraya sedikit membungkuk. Postur tubuh Edric yang tinggi, membuat Inayah hanya setinggi sebatas dadanya saja. "Tidak usah, Tuan."
"Loh, kenapa?"
"Bu Inayah, segera masuk ya," ucap salah seorang petugas sekali lagi.
Lagi, Inayah memilih mengalah. Membiarkan Edric tetap masuk. Di depan seorang dokter kandungan, rasa gugup Inayah kembali menyerang. Debaran jantungnya mulai berpacu lebih kuat. Apalagi ketika melihat sang Dokter menatap lama status, yang ada di depannya.
"Maaf, Ibu Inayah saya mau menanyakan beberapa hal." Dokter laki-laki itu menyingkirkan status pasien yang ada di depannya, yang tak lain adalah milik Inayah.
"Ya, Dok."
"Di data yang saya lihat, Ibu usianya masih sangat muda. Betul begitu?" tanya Dokter.
"I … iya, Dok."
"Umur berapa Ibu menikah? Maaf, sebelumnya. Semua itu untuk kelancaran untuk kedepannya."
Inayah terdiam. Telapak tangannya kembali berkeringat. Pompaan jantungnya pun menjadi semakin cepat. Menyadari akan kegugupan Inayah, Edric langsung angkat bicara.
"Kami menikah baru satu tahun, Dok. Ya, di usia istri saya baru 18 tahun."
"Baiklah, Pak. Bapak bisa menunggu di luar. Saya mau melakukan pemeriksaan dan beberapa pertanyaan lagi."
Edric mengangguk, sebelum keluar dari ruangan. Dia menatap kembali wajah Inayah yang terlihat tegang. Edric memejamkan matanya, memberikan isyarat, bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah Edric keluar, sang dokter pun memberikan beberapa pertanyaan, yang bertujuan untuk mengetahui Inayah beneran hamil atau tidak. Selain itu, dokter juga meminta Inayah untuk menampung air seninya, untuk melihat hasilnya apakah positif atau negatif.
Inayah mengerjakan semua yang diarahkan dokter. Dia berjalan gontai menuju toilet. "Hancur sudah kehidupanku," Inayah membatin, menyandarkan tubuhnya ke dinding toilet, seraya menunggu keinginan untuk buang air kecil. Tatapan Inayah begitu sendu, dia berharap hasilnya negatif. Tidak mampu rasanya apabila hasilnya beneran positif.
***
"Bagaimana hasilnya, Sayang?" tanya Edric, sudah tidak sabar. Ketika disuruh keluar tadi. Edric memilih untuk menunggu di dalam mobil, karena ada telepon penting mengenai pekerjaannya.
Inayah membuang napas dengan kasar. Kemudian, dia menunjukkan bungkusan tespek yang masih utuh tersegel.
"Belum ada hasilnya?" Edric mengambil tespek tersebut.
"Belum, Tuan. Pipis saya tidak bisa keluar. Mungkin tunggu nanti atau esok pagi," ucap Inayah, masih tak bersemangat.
"Tidak apa-apa. Aku yakin, sudah ada benihku dalam kandunganmu, Sayang." Tangan kekar Edric terulur ke arah perut Inayah, yang masih rata. Edric mengusap perut Inayah dengan gerakan pelan dan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba hati Inayah menjadi semakin sendu. Mereka pun meninggalkan klinik dengan dua perasaan yang bertentangan. Edric berharap Inayah benar mengandung anaknya, sedangkan Inayah berharap sebaliknya. Walaupun kesuciannya sudah hilang, setidaknya jangan sampai hamil, begitulah pikiran Inayah.
—---------
Bagaimanakah hasilnya? Positif atau negatif?
Nantikan di part 3, ya.
"Tuan, saya tidak mau pergi cek ke klinik atau ke tempat umum lagi," ucap Inayah dengan suara yang lirih. Bubur ayam yang masih utuh dia aduk-aduk pelan. Selera makannya menjadi hilang, karena pikirannya masih kacau. Sedangkan, perhatian sang majikan semakin besar dia dapatkan. Akan tetapi, tak mengubah kegundahan hati Inayah.
Pulang dari klinik, Edric memesankan Inayah bubur ayam. Bukan bubur ayam yang pakai gerobak, tetapi bubur ayam yang ada di restoran terkenal di kota Jakarta. Kasih sayang Edric semakin tercurah pada Inayah.
"Kenapa? Apakah mereka menyakitimu, Sayang? Jika iya, aku bisa menutup klinik tersebut." Edric meraih sendok dari tangan Inayah, lalu menyuapi Inayah. "Buka mulutnya, kamu belum sarapan pagi ini."
Walaupun terpaksa, Inayah tetap membuka mulutnya. Dia tidak mau membuat sang majikan marah.
"Good, Girl. I love you. Setelah ini, kamu banyakin minum, biar bisa cepat-cepat pipis," ucap Edric, sambil menyodorkan suapan kedua.
"Saya malu, Tuan. Data di KTP saya masih lajang. Jadi, saya tidak mau pergi cek kehamilan lagi." Besar harapan Inayah, agar sang majikan mau memenuhi permintaannya kali ini.
"Oke. Aku paham. Sekarang, habiskan dulu sarapanmu. Setelah ini banyaklah minum. Aku sudah tidak sabar kamu gunakan alat ini." Edric meletakkan tespek yang masih terbungkus rapi di atas meja.
"Baik, Tuan." Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir Inayah. Hatinya benar-benar nelangsa kali ini. Kesalahan yang dia lakukan selama ini, akan benar-benar menyengsarakannya. Inayah menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Dia mencoba untuk tetap berpikiran positif. Ya, dia berusaha untuk tidak lose control soal pikirannya.
Usai sarapan, Inayah meminta izin berlalu dari ruang tengah. Di mana sang majikan masih betah menemaninya. Biasanya, Edric menghabiskan waktu liburnya untuk olahraga. Jadi, wajar jika dia memiliki bentuk tubuh yang bagus. Namun, kali ini dia lebih memilih tetap bersantai di rumah, sambil menatap ponsel di tangannya.
Anne: "Hari ini aku tak pulang. Ada jadwal syuting film baruku. Mungkin, aku akan pulang ke indo sebulan lagi. Jaga dirimu baik-baik."
Mata elang bermanik biru milik Edric menyipit. Dia segera menekan tombol on off di ponselnya. Baginya, kehadiran Anne tak berarti apa-apa lagi. Wanita bertubuh tinggi semampai dan langsing itu, sudah sangat jauh terlempar dari hati Edric. Dulu, memang Edric sering terluka, karena selalu diabaikan oleh Anne. Semenjak kehadiran Inayah, ada warna baru yang tercipta di hati Edric. Seiring berjalannya waktu, kenyamanan itu mulai tumbuh dan terus berkembang.
Edric memejamkan matanya perlahan. Dia kembali mengingat peristiwa, di mana Inayah menatapnya penuh ketakutan. Edric menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia menyesal sudah memulainya dengan cara seperti itu.
Edric menyesal sudah memaksa Inayah memberikan tubuh dan kesuciannya. "
I'm sorry, my dear. I promise to treat you sweetly." Edric berkata lirih, menyesali perbuatannya waktu itu.
***
Rona langit yang mulai berubah, membuat Inayah heran. Dia sudah minum banyak, tetapi rasa ingin buang air kecil itu tak kunjung tiba. Inayah tetap melanjutkan pekerjaannya, membersihkan air kolam ikan yang ada di belakang.
Ketika sedang asyik mengayunkan galah panjang, tiba-tiba Inayah terkejut merasakan pinggangnya dipeluk seseorang. Spontan Inayah menoleh, ternyata yang memeluknya adalah sang majikan. Inayah takut saja, jika yang melakukan itu adalah tukang kebun di rumah besar itu.
"Why? Kenapa kamu kaget, Sayang?" tanya Edric. Tangannya yang kekar masih betah berada di perut Inayah.
"Tuan, maaf. Pekerjaan saya belum selesai." Inayah menjadi tak enak. Dia takut ada yang melihat semua itu.
"Oh, oke. Setelah ini, temui saya di kamar. Sekalian bawakan jus mangga," ucap Edric, dia memilih untuk mengalah. Sebelum pergi, Edric mengecup pelan pipi Inayah. Hal itu membuat perasaan Inayah semakin tak karuan.
"Sampai kapan aku seperti ini?" Inayah membatin. Tanpa terasa, sesak di dadanya tiba-tiba saja muncul. Dia baru ingat, tiga hari lagi bulan suci ramadhan segera tiba. Sedangkan, dirinya masih berenang di lembah doa. Inayah menjadi ragu untuk ikut melaksanakan puasa tahun ini.
Usai membersihkan kolam. Inayah langsung melakukan perintah sang majikan berikutnya. Membuatkan jus, lalu mengantarnya ke lantai dua. Inayah berjalan sangat hati-hati. Setibanya di depan kamar sang majikan, Inayah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk, Sayang."
Mendengar suara Edric dari dalam, barulah Inayah berani menarik gagang pintu. "Permisi, Tuan."
"Ya, masuklah, Sayang. Aku sudah rindu," ucap Edric. Senyumnya mengembang. Sudah hampir setengah jam dia menunggu kedatangan Inayah.
Melihat penampilan sang majikan yang sudah bertelanjang dada. Membuat perasaan Inayah menjadi tak enak.
"Hari ini aku tak sempat olahraga. Jadi, aku mau olahraga bersamamu saja." Edric langsung menghampiri Inayah yang masih mematung di dekat pintu. Jus yang ada di nampan dia teguk habis. Kemudian menuntun Inayah menuju ranjang, dan tidak lupa dia mengunci pintu.
"Tuan, saya … saya belum mandi. Masih bau keringat," ucap Inayah meremas jari tangannya.
"Tidak ada masalah. Di mataku kamu tetap cantik, Sayang." Edric memulai aksinya, tangannya terulur melepaskan ikatan rambut Inayah. Penampilan Inayah pun semakin menarik di mata Edric, dengan rambut yang terurai membingkai wajah polosnya.
Senja menjelang malam, Inayah kembali melayani hasrat sang majikan. Tak ada lagi air mata yang tercurah. Di bawah selimut hangat, Inayah kembali meratapi nasibnya yang nahas.
"I love you, Honey." Kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Inayah. Tangan kekar Edric masih betah memeluk tubuh Inayah, yang masih lengket oleh keringat persetubuhan mereka.
Inayah hanya diam membisu. Pikirannya membara ke kampung halaman sana. Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan dikatakan oleh ibunya, jika masa depannya sudah rusak begitu. Namun, sungguh malang nasib Inayah. Bagi ibunya–Linda, yang penting Inayah mengirimkan uang setiap bulannya, untuk biaya sekolah adik-adiknya yang berjumlah empat orang.
***
Tubuh Inayah seakan melayang dari pijakannya. Lantai keramik yang dia injak, seakan ambruk, bersamaan dengan luruhnya tubuh Inayah ke lantai kamar mandi. Pandangannya menjadi gelap seketika, akhirnya Inayah pingsan di kamar mandi, setelah melihat garis dua di tespek.
Ponsel Inayah berdering. Nama kontak di layar ponselnya tertulis, "Tuan Edric." Panggilan yang tak kunjung dijawab, membawa langkah Edric keluar dari kamarnya. Padahal, dia ingin agar Inayah mengantarkan makan malam ke kamarnya. Namun, Edric tidak tahu Inayah sedang tidak sadarkan diri.
Edric hanya mengenakan celana pendek, dan kaos tipis. Dia melangkah cepat menuruni anak tangga. Tentu saja langsung menuju ke belakang. Matanya liar mencari keberadaan Inayah, sambil tetap menghubungi ponsel Inayah.
Edric menemukan ponsel Inayah di atas lemari. Namun, tidak menemukan sang pemiliknya. Kemudian, Edric langsung menuju ke dapur. Dia melihat pintu kamar mandi terbuka lebar. Edric pun melangkah ke sana.
Alangkah terkejutnya Edric, melihat Inayah terkulai di lantai keramik yang dingin. Segera mungkin Edric mengangkat tubuh Inayah, sehingga tespek yang dipegang Inayah terjatuh ke lantai. Melihat itu, Edric sekalian memungut benda kecil itu. Mata Edric berbinar menatap garis dua yang ada di sana.
"Thank you God. I'm finally going to be a father." Kebahagiaan kian membuncah di hati Edric. Dia segera membopong tubuh Inayah menuju ke kamar. Dia baringkan Inayah secara hati-hati. Sepanjang Inayah belum juga bangun dari pingsannya, Edric tetap setia di sisi ranjang.
Mata Inayah terbuka, bersamaan dengan berderingnya ponsel miliknya. Inayah tak berkomentar atas kehadiran Edric di kamarnya, dia lebih dulu mengangkat panggilan dari sang ibu.
"Ya, hallo, Bu."
"Nay, tiga hari lagi puasa. Kirimkan Ibu uang ya, kemarin Ibu sudah berhutang biaya sekolah adik-adikmu." Suara sang ibu di ujung panggilan membuat hati Inayah terluka. Setiap menelepon, sang ibu tidak pernah menanyakan keadaan Inayah.
"Ya, Bu. Akan Inayah usahakan," ucap Inayah.
Setelah panggilan berakhir, wajah Inayah langsung berubah sendu. Dia belum gajian, simpanannya pun sudah tak ada.
"Ibumu meminta uang lagi, Sayang?"
Suara bariton Edric membuat Inayah sadar, bahwa ada sang majikan di kamarnya. "Ya, Tuan. Bulan ini saya belum gajian, saya jadi bingung."
"Jangan banyak pikiran. Besok kirimkan saja ibumu uang. Anggap saja, demi anak yang kamu kandung. Aku tidak mau pikiranmu terbebani dan mempengaruhi janin yang ada di kandungmu." Edric tersenyum, kembali tangannya hinggap di perut Inayah.
Inayah baru sadar, bahwa kini dia benar-benar sudah hamil. Bayangan garis dua itu kembali menari-nari di ingatannya.
"Ya, Allah. Ini terlalu berat. Haruskah aku melakukan dosa lagi?" Inayah merintih dalam hatinya.
—------------
Akankah Inayah menggugurkan kandungannya? Nantikan cerita selanjutnya. Jangan lupa vote love dan komen ya, kak.