Bab 1

Gadis itu menggeliat penuh kemenangan. Kedua kakinya ingin menendang, akan tetapi kedua tangan pria itu menindihnya dengan kuat dan menahan seluruh pergerakannya. Noah terus menguasai wanitanya dengan mulut penuhnya yang lembut dan hangat. Sesekali ia menjulurkan tangan meraih puncak dada Miranda dan meremasnya dengan kuat, di saat yang sama ia melesakkan lidahnya ke dalam.

Punggung Miranda melenting, menahan desiran ombak yang belomba-lomba keluar dari dalam tubuhnya. Wanita itu menjerit. Memaki dan memberikan peringatan supaya pria yang sedang memberikan belaian lembut, liar dan erotis itu segera pergi dari sana oleh karena Miranda mulai merasa bahwa ia akan segera diterjang ombak yang besar.

Namun, alih-alih menghiraukannya, lelaki itu malah semakin menyergap diri Miranda. Menggigit, menjilat dan menghisap hingga suara decap bibirnya memenuhi kepala Miranda. Lelaki itu masih di sana, menemani kekasihnya sampai Miranda menjerit dan membuat wajah dan dada Noah berkilau dan basah.

Noah sudah membuktikan keseriusannya. Lelaki itu sukses membuat napas Miranda berantakan dan tubuhnya yang putih bersih itu berubah merah padam. Miranda memandang ke langit-langit, sementara membiarkan tubuhnya bergetar melawan sensasi luar biasa yang membanjiri hampir seantero tubuh prianya.

“Oh, Miranda. Kau yang ternikmat,” ucap lelaki itu disela-sela tatapannya masih membakar diri Miranda. Ia menoleh di antara kedua kaki Miranda yang mengangkang. Ditatap lelaki itu bagaimana dada Miranda naik turun menahan napas yang berembus terputus-putus.

Dalam sekejap, permukaan kasur berderik. Pria itu menjulang kembali dan menudungi tubuh Miranda. Lelaki itu menciumnya. Melumat dan menghisap lingual Miranda. Ia bertahan beberapa lama lalu berbisik di dalam mulut Miranda, “Aku akan menidurimu hingga fajar tiba. Kita akan bercinta hingga tubuh kita sama-sama hancur. Ingat itu, Miranda.”

Gadis Harper itu tak dapat menyahut. Ia nyaris kehilangan udara untuk bernapas. Yang bisa dilakukan Miranda hanyalah menatap kekasihnya. Namun, sudut bibirnya berkedut kemudian mengulas senyum.

“Sialan!” desis Miranda dan membiarkan matanya tertutup. Sungguh, Miranda benar-benar sudah lemah, bahkan sebelum permainan dimulai. Ini sangat payah. Bagaimana dirinya sudah lemah hingga tak bisa bergerak barang satu jengkal.

Noah tertawa rendah. Ini benar-benar pemandangan paling indah. Ia menoleh ke bawah dan menyeret tubuhnya dari atas permukaan tubuh Miranda. Dengan satu tangannya, ia memutar tubuh Miranda hingga dadanya menempel dengan permukaan ranjang.

Semangat Miranda telah kembali. Ia tersenyum nakal dan menggigit bibir bawahnya. Ditatap gadis itu bagaimana Noah melingkari perutnya dengan tangan kirinya yang besar.

HEK

Dengan satu kali tarikan, ia berhasil membuat tubuh Miranda bersimpuh dengan bagian belakang terangkat ke arahnya. Lelaki itu memandang bokong Miranda dengan pandangan erotis. Mendesis dan membawa jarinya untuk kembali membelai diri Miranda.

“Oh, Sayang, kau benar-benar membuatku kecanduan.” Lelaki itu terus melontarkan kalimat-kalimat yang Miranda yakin akan kembali menghancurkannya.

Namun, untuk setiap sentuhan dari jari sensual itu, Miranda akan memohon ribuan kali pada Noah agar tetap menyentuhnya seperti itu. Walaupun menahan punggungnya yang mengeram dan pangkal bahu yang bergidik, tetapi seluruh perasaan ini sungguh menyenangkan.

Noah masih di sana. Sekali lagi merasa tak puas, hingga ia kembali membenamkan wajahnya di dalam bokong Miranda. Untuk sekejap menikmati wanita itu. Sedikit lebih lama.

Miranda tertawa sambil menutup kedua mata. Ia meletakan kedua tangannya di bawah dada untuk menumpu tubuhnya. Sementara ia menoleh dan menatap dari punggung polosnya. Gadis itu mendesah dengan bibir yang mengulas senyum. Satu tangannya bergerak dan meraih tangan Miranda yang telah memegang erat pinggangnya.

Lelaki itu kembali menegakkan badannya. Miranda kembali menoleh dan menatap seringaian di wajah kekasihnya. Dengan kedua tangannya, Noah menyeret tubuh Miranda hingga kedua kaki Miranda mendarat ke lantai.

Miranda mendesis panjang. Menatap seringai di wajah kekasihnya, dan membuat Miranda menggigit bibir bawahnya. Miranda menangkap sebuah kode dari senyum yang tengah disunggingkan oleh kekasihnya. Namun, ia perlu menelan saliva sebelum menganggukkan kepalanya.

Noah tertawa rendah dan ia menoleh ke bawah. Lelaki itu kembali melingkari perut Miranda dengan lengannya lalu menariknya.

Perasaan mereka telah menyatu, hingga Miranda tak perlu aba-aba. Ia menunggingkan bagian belakang tubuhnya supaya Noah bisa dengan leluasa menghujamnya, kapan pun ia mau. Namun, Miranda juga terlalu penasaran bagaimana Noah akan menggagahinya hingga gadis itu tak mau menghindarkan pandangannya dari sana.

“You see that?”

Miranda mendesah dan mengangguk. “Kumohon, Noah, kumohon.” Ia memelas menatap Noah yang masih menggodanya di sana. Lelaki itu tertawa rendah dan Miranda menyambutnya, tapi sedetik kemudian gadis itu terbelalak.

Satu tangan Noah menekan pinggang Miranda dan tangan kirinya menahan tengkuk Miranda supaya gadis itu tetap menatapnya. Noah mulai menggerakkan pinggulnya. Menekan dan merenggang. Untuk sekejap pelan, tetapi dalam semenit berubah. Gerakannya membuat tubuh Miranda berguncang-guncang dan gadis itu membiarkan desahannya meluncur penuh kenikmatan.

“Ya, Noah. Kumohon.”

Api dalam mata pria itu serasa membakar tubuh Miranda yang telanjang. Kulitnya yang berkilauan akibat desiran ombak berupa cairan tubuh yang keluar dari pori-porinya membuat lelaki itu tampak semakin perkasa. Posisi tubuhnya menjulang membuatnya semakin liar. Brutal dan hilang akal.

Noah pun tak berusaha menahan mulutnya. Ia ikut mendesah di saat wanitanya mendesis. Suara berderik yang timbul akibat pertarungan mereka makin menambah suasana intim di dalam kamar suit ini.

Mata Noah terpejam. Ia melengkingkan lehernya dan membawa tatapannya ke langit-langit. Merasa seluruh selnya serasa ditarik ketika milik Miranda benar-benar menjepitnya dengan erat.

Ia menunduk. Menudungi punggung Miranda. Mengecup bahu dan leher gadis itu lalu Miranda memutar wajahnya. Ia menarik tengkuk Noah untuk menikmati bibir lelaki itu.

Desahan Miranda menggema di dalam mulut kekasihnya. Noah menyerang dengan cepat dan hampir membuat Miranda tiba, tetapi dengan cepat lelaki itu menghentikan entakkannya. Masih sambil berciuman, Noah menarik tubuh Miranda hingga berdiri tegap.

Tangan kirinya berpindah untuk melingkari dada Miranda. Ia menangkup puncak dada Miranda sementara tangan kanannya mulai menyelip di bawah perut Miranda.

Lelaki itu mendesah. Melepas ciumannya dan menutup mata. Ia kembali mendorong dalam posisi berdiri. Miranda menjerit. Air mata bahagia tumpah membasahi wajahnya. Oh, sungguh. Ada gejolak yang tak terbilang kini menguasai diri Miranda.

Noah terus menggumamkan kalimat cinta di depan telinga Miranda dan membuat gadis itu semakin bahagia. Sambil menutup kedua mata, Miranda membiarkan tangannya memanjat dan mendapatkan kepala Noah. Sementara lelaki itu mengecup tengkuk Miranda.

Dirasakan Miranda gelombang besar itu telah menumpuk di perutnya dan berputar di sana. Gadis itu menjerit. Sangat kuat, tetapi Noah tak mengizinkannya. Ia menghentikan gerakan. Memutar posisi.

Noah duduk di tepi ranjang lalu memangku Miranda. Ia mengecup punggung Miranda berkali-kali sebelum mengangkat kedua kaki Miranda. Noah sepenuhnya menguasai permainan. Sambil memegang kedua kaki Miranda, ia menggerakkan panggul dan menembak ke atas.

Gerakannya cepat hingga bunyi penyatuan tubuh mereka menggema. Tubuh Miranda sudah gemetar dan ia tak dapat menahan gairah luar biasa yang sedari tadi bergejolak di perutnya.

“NOAH!”

“MIRANDA!”

Teriakan keduanya menyertai pelepasan yang mereka alami bersama.

Carlos Graves benar-benar membuktikan kesungguhannya. Ancaman yang terlontar dari mulut sensual itu tak pernah sia-sia, atau sekadar gertakan belaka. Ia mengabulkan semuanya. Meniduri Miranda selama berjam-jam hingga tenaga wanita itu habis. Sampai tak ada lagi suaranya yang mampu keluar dari mulut Miranda. Namun, keinginan untuk menerima hasrat gelap dari lelaki paling mengagumkan itu tak bisa dibendung.

Miranda Harper tak pernah seumur hidup merasa haus dengan hubungan intim. Merasa dirinya tak akan pernah puas. Merasa dirinya selalu kelaparan dan menginginkan Carlos Graves, bahkan ketika tubuhnya tak mampu lagi digerakkan. Lemah tak berdaya. Rapuh.

Semalam penuh kamar mewah ini dipenuhi kegiatan intim yang liar dan brutal. Tak peduli apabila erangan dan jeritan erotis mereka terdengar hingga ke penjuru dunia. Miranda dan Noah telah melupakan moral dan rasa malu. Seantero pikiran mereka dikuasai hasrat menggelora. Hingga semua pertempuran itu selesai pada dini hari.

Carlos Graves tak mau berhenti tersenyum. Lelaki itu benar-benar punya stamina yang luar biasa. Ia seperti meresap seluruh energi Miranda. Di saat wanitanya sudah terlelap dalam tidur ia, masih terjaga. Napasnya stabil. Tak memburu menakutkan seperti beberapa menit yang lalu. Matanya terfokus, memandang wajah merah padam Miranda yang tampak tenang dan damai. Tak seperti sesaat ketika ia dikuasai nafsu. Geraman dan makian tak berhenti keluar dari mulutnya, tetapi Noah sungguh menyukainya.

“Oh, Sayangku.”

Bunyi berderik terdengar ketika Noah menggerakkan lengannya, tempat di mana kepala Miranda bersandar. Ia menarik tubuh wanita itu hanya untuk menempelkan bibirnya pada dahi Miranda.

Noah tersenyum ketika mendengar dengkuran kecil yang menandakan betapa Miranda telah tenggelam di dalam mimpi yang indah.

Dengan punggung jarinya, Noah membelai pipi Miranda. “You’re my everything,” gumam lelaki itu. Seakan-akan Miranda sedang memandangnya dengan mata berbinar dan Noah dipenuhi kebahagiaan hingga matanya pun berair. Memandang haru wajah tenang di depannya.

“Kau mengubah hidupku, Miranda Harper, kau harus tahu itu.” Noah menarik tubuh Miranda. Lengan kekarnya membungkus kepala dan tubuh wanita itu dan mendaratkan dagunya pada puncak kepala Miranda.

Merasakan denyut jantung Miranda yang tenang menyentuh kulitnya yang telanjang, Noah kembali tersenyum. Deru napas Miranda yang berembus panjang adalah lagu tidur terindah untuk Noah sehingga ia pun berharap jika seumur hidupnya, ia akan mendengarkannya.

Dalam keheningan, Noah pun memikirkan jika sudah waktunya ia mengikat wanita ini dengan hubungan yang lebih serius. Agar supaya ia bisa menikmati tubuh ini, siang dan malam tanpa takut seseorang akan datang dan mengambilnya. Tanpa takut seseorang akan membawanya pergi seperti yang pernah dimimpikan Noah setahun yang lalu.

“Kau milikku. Kau hanya milikku.” Gumaman itu terdengar kelam. Mata Noah berair memandang cahaya bulan. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Noah pernah berpikir jika suatu saat ia akan terbangun tanpa Miranda di sisinya, di dalam pelukannya dan itu sungguh mimpi yang menyeramkan.

Ketika bertemu kedua orang tua Miranda, Noah sempat berpikir jika mimpi itu benar-benar akan datang. Entah. Mungkin orang yang membawa pergi kekasihnya adalah orang tuanya sendiri, Frankly dan Angelina.

Mungkin mereka tak akan rela jika putri kesayangan mereka menghabiskan seumur hidup dengan lelaki seperti dirinya. Padahal, mereka tidak tahu jika napas Miranda-lah yang membuat Noah hidup. Sehingga untuk memikirkan jika dirinya tak bisa memiliki Miranda, rasanya Noah akan lebih memilih untuk mati saja.

“Benar kata orang, jika sudah jatuh cinta, sulit untuk berlogika.” Noah terus bermonolog.

Jika Miranda terjaga, mungkin ia akan sulit berucap dari hati ke hati. Pasti Noah akan lebih banyak memuji betapa indah kekasihnya, karena tak akan cukup semua kalimat di dunia yang bisa menggambarkan betapa Noah menjadi lelaki paling bahagia ketika menatap wajah Miranda.

Lelaki itu menghela napas dan mendorong tubuhnya sedikit menjauh supaya ia bisa menatap Miranda. Dan sekali lagi Noah mengecup pipi dan dahi wanita yang sedang terlelap di dalam pelukannya itu.

“Tidurlah, Sayang. Simpan tenagamu untuk kejutanku besok,” ucap Noah sekali lagi.

Secara perlahan Noah menarik lengannya dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara ketika tubuhnya bergerak menjauhi Miranda. Lelaki itu turun dari ranjang dan bergegas memakai pakaiannya. Ada sesuatu yang harus dilakukannya malam ini dan ia tak bisa tertidur.

Sekali lagi lelaki itu tersenyum sambil memandang kekasihnya. Meraih ponsel, Noah melihat jam di layar sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Itu artinya ia harus bergegas. Maka Noah bergerak menuju kamar mandi untuk menelepon asistennya.

“Selamat pagi, Mr. Graves.” Tak membutuhkan waktu lama. Rob selalu siaga kapan pun sang tuan membutuhkannya.

“Bagaimana persiapannya?” tanya Noah dengan berusaha menjaga suaranya.

“Semua telah siap, Tuan.”

Lelaki itu mendongak. Tersenyum sambil memandang dirinya di depan cermin. “Bagus. Temui aku di lobi lima menit lagi.”

“Baik, Tuan.”

Noah mematikan sambungan telepon. Meletakan kedua tangan di samping wastafel dan membiarkan jantungnya berdegup kencang. Lelaki itu tertawa kecil. Ia tidak menyangka akan mengambil keputusan sebesar ini bahkan saat dirinya belum tentu mendapatkan restu dari orang tua Miranda.

“Hoooh ....” Noah mengembuskan napas berat dari mulut. “This is crazy,” gumamnya kemudian menggelengkan kepala.

“This is so damn crazy!” Masih menunduk, Noah mengangkat pandang, menatap dirinya di depan cermin dan ia kembali menggelengkan kepala.

“Carlos Graves, you’re so damn crazy!” gumamnya sekali lagi.

Untuk beberapa saat, Noah membiarkan kedua tangannya menahan tubuh dan ia terus tertawa berat. Degup jantungnya juga semakin bertalu dengan kencang. Demi apa pun, ini masih dua belas jam menuju puncak kejutannya.

Dia yang akan membuat kejutan, tetapi dia sendiri yang merasa gugup. “Oh, God!” Sekali lagi Noah menggeleng lalu dengan cepat tangannya bergerak memutar air keran dan sesegera mungkin membasuh wajahnya.

***

Paris, French

08.00 am

________

Miranda meloncat dari tempat tidur ketika bunyi yang begitu familier mengguncang alam bawah sadar hingga mengacaukan seluruh mimpinya.

“Oh my God!”

Dengan tubuh yang telanjang, Miranda berlari ke sana ke mari mencari-cari di mana sumber bunyi menyeramkan itu berasal. Seketika ia menjadi panik dan jantungnya pun berdegup kencang.

Ada embusan napas panjang yang menggema, tetapi tidak disadari oleh Miranda. Ia sibuk menggerakkan tubuhnya kiri dan kanan hanya untuk mematikan alarm ponselnya.

“Sial!” makian pagi menjadi sarapan pertama dari Carlos Graves.

“Honey.”

Suara bariton berat itu seketika menghentikan seluruh gerakan Miranda. Seperti biasa, tubuhnya selalu tunduk pada suara tersebut. Dalam diam, wanita itu mencoba untuk menggerakkan wajah hingga sudut matanya menangkap visual seorang lelaki yang duduk pada sofa tunggal dekat jendela.

Terdengar desahan panjang yang menyertai tubuh itu bangkit dengan anggun. Ia berjalan dengan santai sambil satu tangannya memegang cangkir porselen putih yang mengeluarkan kepulan asap.

Tatapan Miranda turun pada tubuh bagian bawah lelaki itu dan dia menelan saliva. Demi apa! Apakah Noah sungguh ingin membangkitkan gairah Miranda pagi-pagi? Mengapa ia harus memakai celana dalam berwarna putih, hah?

“Honey.”

Lelaki itu sukses membuat Miranda tersesat hingga ia harus berupaya keras menyeret pandangannya ke atas. Tepat saat itu juga, Noah telah berdiri di belakang punggungnya.

“It’s okay,” ucap Noah dengan suaranya yang begitu lembut namun serak dan menggoda. Sialan! Feromonnya mengalahkan aroma kopi yang menguar dari cangkir yang ia bawa.

Noah berdiri satu inci di depan punggung Miranda dan ia langsung mengecup pangkal bahu gadis itu. Bunyi decapan bibir sensual tersebut membuat Miranda menutup mata sambil mengencangkan rahang.

“Ini masih pagi, Sayang, lagi pula acaranya akan dimulai nanti malam, kan?”

Barulah Miranda bisa membuka matanya dengan benar, tetapi ia butuh waktu untuk berpikir dan wanita itu menggunakannya untuk menelan saliva. Ditatapnya sudut bibir Noah yang naik membentuk senyum menawan. Ia menggeser tubuhnya ke samping dan berjalan melewati Miranda untuk menaruh cangkir di tangannya ke atas nakas. Setelah itu, Noah pun membalikkan badan.

“Ini pertunjukan terakhirmu di Paris, bukan?”

Dengan wajah datar, Miranda menganggukkan kepalanya dengan gerakan lambat. Noah tersenyum sambil membuang napasnya dengan tenang.

“Baiklah, kalau begitu kau perlu mempersiapkan diri. Tenang saja. Kau tidak perlu terburu-buru. Aku sudah menelepon manajemenmu dan mereka akan datang sebelum pukul dua sore. Kita masih punya banyak waktu, kan?”

Miranda terdiam dan mulai ia menggerakkan pandangannya ke bawah. Noah yang melihat ekspresi penuh kebingungan itu lantas mendekat. Memegang kedua sisi lengan Miranda dan membuat gadis itu kembali menatapnya.

“Honey, bagaimana kondisimu,” – Noah menatap tubuh Miranda dari atas hingga ke bawah – “are you okay?”

Perlu satu tarikan napas panjang sebelum Miranda akhirnya menganggukkan kepala. “Aku,” – Merasa tersekat di tenggorokan, Miranda pun berdehem dan berusaha mendapatkan suaranya kembali – “aku baik-baik saja. Ehm!”

“It’s looks different,” ucap Noah.

Miranda lalu mendesah dan memalingkan wajah. Kedua tangan Noah bergerak dan menarik wanitanya ke dalam pelukan.

“Kau kelelahan, Sayang dan aku tahu bagaimana supaya tenagamu bisa pulih.”

Wajah Miranda yang telah menempel ke dada telanjang Noah lalu bergerak. Ia memandang kekasihnya dengan bibir manyun.

“How?” tanya Miranda singkat.

Lelaki itu tak mau berhenti melempar senyum menawan sehingga membuat diri Miranda berkedut. Sial. Dia mendekatkan tangan. Menyapu helaian rambut Miranda di dahi hingga ke belakang kepala dan memberikan bibirnya pada puncak dahi Miranda.

“Kubantu kau berpakaian.”

Hanya satu kalimat itu yang terlontar di bibir Noah. Ia melepas pelukan dan menjauh. Mengambil pakaian Miranda yang telah ia kumpulkan di ujung tepi ranjang.

Miranda memutar lutut dan pandangannya langsung tertuju pada Noah yang mengambil pelindung diri. Dengan senyum nakal ia menatap Miranda sebelum menjatuhkan tubuh hingga lututnya mendarat di lantai.

Lelaki itu mengedikkan kepala ketika membuka kedua tangan. Miranda menunduk dan akhirnya terkekeh.

“Why?” Noah bertanya dengan santai.

Sambil tertawa kecil, Miranda menggelengkan kepala. “Kau terlihat seperti seorang ayah yang sedang membantu putri kecilnya berpakaian.”

Noah memerengut bibir sambil mengedikkan kedua bahu. “Aku akan melakukannya suatu hari.”

Ada sesuatu dalam ucapan Noah yang membuat napas Miranda terhenti di dada, tetapi senyumnya semakin lebar menguasai wajah. Gadis itu kembali tertawa dan membawa ujung jari-jarinya ke dalam mulut.

“Come on, Honey, pakai celana dalammu sebelum aku berubah pikiran.”

Gelenyar panas langsung bersarang di tengkuk Miranda lalu menjalar ke pipi. Memandang mata Noah yang mendadak berkabut oleh gairah. Gadis itu menelan ludah lalu menggoyangkan kepala.

‘Tidak Miranda!’ tegur batinnya. Yang benar saja. Tubuhnya sudah remuk, jangan sampai ia tak bisa berjalan di atas catwalk.

Miranda mengangkat satu per satu kakinya dan bergegas memakai pakaian dalam sebelum berahinya tercambuk.

___________

TBC~

Hello ... selamat berjumpa lagi buat pembaca lama yang sudah mengikuti Noah dan Miranda. Bagi pembaca baru, selamat bergabung.

Sebagai informasi, novel ini adalah sambungan dari 2 Novel sebelumnya berjudul Sleep With The Jerk CEO dan Falling in Love With The Jerk CEO.

Ini masih tentang kisah Miranda dan Noah yang kembali kandas saat keduanya sudah memutuskan untuk bersama.

Bagaimana kisahnya, kita baca bersama saja, ya~

Jangan lupa simpan novel ini di library/perpustakaan kalian. Tulis REVIEW itu gratis jadi jangan malas tulis REVIEW/KOMENTAR, ya...

Ketemu Noah dan Miranda di iinstagram aku yuk @inezhseflina @gravestheseries

DM aku dan kenalan lebih dekat. Selamat membaca, semoga terhibur <3

Bab 2

Centre Georges Pompidou

Paris, French

09.00 pm

_________

La ville des lumieres orang-orang Prancis menyebut kota ini sebagai Kota Cahaya. Sebuah julukan yang sudah ada sedari dulu karena Paris adalah kota pertama yang menggunakan listrik. Ada juga yang berkata bahwa Paris adalah kota pertama yang memiliki lampu gas untuk penerangan jalan.

Well, sejarah mengungkap jika pada zaman dahulu, ketika kota lain masih gelap gulita, Paris sudah terang benderang. Di zaman sekarang ini, kebanyakan orang lebih menyebut kota ini sebagai Kota Cinta.

Berbicara soal keindahan kota Paris memang tak akan ada habisnya. Indah, mengagumkan, luar biasa. Paris mampu menarik berbagai manusia dari belahan dunia untuk datang dan menikmati keindahan kota ini.

Mulai dari bahasa, budaya, fashion dan bahkan kota itu sendiri. Selain bentuk kota dan suasananya yang begitu indah, Paris juga lekat dengan bangunan-bangunan arsitektur yang aesthetic.

Tinggalkan Menara Eiffel yang memang sudah sangat indah sejak zaman dahulu. Landmark bangunan megah lainnya juga harus diakui memang sangat pas dan terlalu berkesan romantis. Dipadukan dengan empat musim yang mereka miliki dan semua itu semakin menambah keindahan kota ini. Pada akhirnya, jutaan orang di dunia pun menginginkan untuk bisa berada di Paris.

Bergenggam tangan bersama pasangan menyusuri kota yang menawan ini.

Namun, untuk beberapa orang yang membangun sebuah industri yang bergerak di dunia fashion, Paris dijadikan sebagai kota untuk mempertunjukkan keindahan busana yang mereka miliki.

Chanel adalah salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di dunia fashion. Chanel S. A. Sebagai rumah adibusana berspesialisasi dalam haute couture dan pakaian siap pakai, barang mewah dan aksesoris mode lainnya.

“Are you ready?”

Maka di sinilah para model berada. Di bangunan paling menarik di jantung kota Paris. Dibuka pada tahun 1977 dan merupakan keajaiban arsitektur sejati. Dikenal oleh eskalator eksterior futuristik. Tabung warna-warni besar yang menutupi strukturnya, tampak memukau. Namun, pertunjukan sebenarnya berada di dalam bangunan.

“Wooohhh ....”

Suara lantang secara masal dikumandangkan oleh para tamu yang terdiri dari artis, pesohor dunia, wartawan dan semua orang yang menjadi pilar dunia fashion. Mereka berada di sana. Menanti-nantikan para model berjalan mengelilingi tempat menakjubkan ini.

Chanel sebagai rumah mode terbesar itu hendak mempersembahkan koleksi musim dingin siap pakai pertamanya di Beaubourg Area dengan mengubah tempat tersebut, bagai area selancar dengan manipulasi lantai salju yang tampak nyata. Latar panggung pagelaran busana dibuat abstrak, hal yang tidak biasa untuk Chanel dengan penonton menduduki undak-undakan putih berjenjang menyerupai pulau es.

“Okay everybody stand by, five seconds to show.”

Semua orang yang berbaris di koridor belakang panggung tampak menghela napas dalam-dalam. Ada sekitar 2.600 orang di luar sana, termasuk tamu-tamu eksklusif yang tentunya akan memenuhi kursi depan.

Miranda Harper ada di barisan tengah, berdekatan dengan Taylor Hill dan beberapa model terkenal lainnya. Satu per satu mulai keluar dan Miranda harus berulang kali meyakinkan dirinya jika ia bisa melakukan semua ini sama seperti pertunjukan-pertunjukan sebelumnya.

“Go!”

Miranda pun melangkah. Skinny pants dipadu dengan sepatu bot sebetis berbahan kulit, lalu pada bagian atas terdapat dalaman tipis yang menutup di atas pinggang, sedikit memperlihatkan bagian perut. Kemudian ditumpuk dengan mantel potongan panjang hingga ke bagian pergelangan kaki.

Riasan di wajahnya yang sengaja dibuat berkesan bold, agar senada dengan warna pakaian yang sedang dia peragakan. Maka di sanalah Miranda. Melangkah dengan wajah tegas tak berekspresi.

Di tengah-tengah panggung, ia mendengar teriakan orang-orang. Taylor Hill sempat melambaikan tangan. Entah itu dilakukannya secara sengaja atau tidak, walaupun sebenarnya itu di luar skema tapi dia model terkenal dan sepertinya mereka berhak melakukan hal-hal yang berada di luar aturan.

Dalam perjalanannya mengeksekusi panggung, pikiran Miranda malah melayang. Memikirkan pertengkarannya bersama sang ibu. Miranda sempat berharap ibunya akan berada di barisan depan seperti biasanya. Berdiri, melambaikan tangan sambil meneriakkan namanya seperti yang dilakukan ibunya Taylor.

Namun, wanita yang adalah penyemangat hidupnya itu tak lagi berada di sana. Dia ... benar-benar meninggalkan Miranda.

“Hah ....” Desahan napas meluncur keluar dari mulut Miranda ketika ia kembali ke belakang panggung dan bersiap untuk mengganti pakaian.

“Lima menit,” kata salah satu crew sambil memperlihatkan lima jarinya. Amanda Kerr menganggukkan kepala.

“Ayo, ayo.” Amanda dibantu dua asistennya dengan cepat membuka pakaian Miranda dan menggantinya dengan yang baru.

Amanda mengerutkan dahi saat melihat wajah modelnya yang seperti ditekuk. “You okay?” tanya Amanda. Sekejap membuat modelnya bergeming lantas memutar wajah.

“Hem?” gumam Miranda.

Amanda menarik napas, lalu mengembuskannya dengan cepat. “Are you okay?” tanya wanita itu sekali lagi. Miranda tak sadar jika bibirnya manyun sewaktu ia menganggukkan kepala. Sekali lagi Amanda mendesah.

“Aku baru mendapat kabar dari asisten ibumu bahwa Nona Angie sedang beristirahat di hotelnya.”

Bola mata Miranda terbelalak. “Dia sakit?” tanya Miranda dan seketika ia menjadi panik.

“Tidak,” jawab Amanda. Ia pun ikut panik hingga memandang modelnya dengan alis yang menukik. “aku tidak bilang begitu.” Lanjut Amanda.

Kali ini giliran Miranda yang mendesah. “Aku hanya bertanya, Amanda ...,” ucapnya sambil memutar bola mata.

“Oh ...,” gumam Amanda. Ia pun mengangguk, “iya. I mean, No. Hah!” Amanda mendesah, melayangkan kedua tangan ke udara. “Asistennya hanya berkata bahwa dia butuh istirahat.” Lanjutnya.

Miranda sempat mendesah dan mendengar perkataan Amanda malah semakin membuatnya gelisah. Miranda ingin sekali pergi dan menemui ibunya. Jujur saja, ia semakin tidak enak hati memikirkan betapa kurang ajar ucapannya tadi.

“Selesai.”

Gadis Harper itu mendesah saat mendengar suara Grace, menandakan bahwa ia harus kembali ke dalam panggung.

“Come on, come on!” ucap Amanda. Menuntun modelnya keluar dari ruang ganti.

“Harper?” Salah seorang crew mendatangi mereka.

“Yes?” Amanda yang menjawab mewakili modelnya.

“Kamu akan tampil terakhir sebagai penutupan.”

Seketika Amanda dan Miranda membulatkan mata. “What?!” Secara bersama mereka bergumam protes.

“Ya, kamu akan tampil terakhir. Waktunya sepuluh menit dari sekarang.”

Miranda mendengkus lalu membuang muka dengan kasar. “Oh God!” Gadis itu berdecak bibir kemudian. Bukan apa-apa, Miranda sudah sering dibuat seperti ini. Kalau tidak dilempar pada penyambutan, dia pasti akan diletakkan di akhir acara.

Namun, ia harus segera menemui ibunya. Semakin lama, semakin Miranda merasa gelisah. Tapi apa boleh buat. Keputusan ada pada penyelenggara acara dan dia hanya seorang talent yang dibayar untuk memperagakan busana mereka.

“Tolong ambilkan ponselku,” ucap Miranda.

Grace mendekat dan membawa sebuah kursi bagi Miranda untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Joy membawa ponsel Miranda.

Gadis itu mendesah. Berusaha menghubungi ibunya, tetapi tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Romanov.

“Miranda?”

Ada desahan yang mengalun keluar dari mulut Miranda ketika ia mendengar suara asisten ibunya.

“Bagaimana ibuku?” tanya Miranda.

“Dia sudah tidur. Kamu mau aku membangunkannya?”

“Tidak, tidak,” sergah Miranda. “biarkan saja. Kirimkan alamat tempat kalian menginap. Aku akan ke sana setelah pekerjaanku selesai.”

“Oke,” jawab Romanov dengan singkat. “semangat.” Lanjutnya.

“Eh, Romanov,” panggil Miranda.

“Ya?”

“Apa ... eum apa ... e ....”

“Dia baik-baik saja, Miranda. Tenanglah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Romanov lalu Miranda mendesah dan menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku titip ibuku.”

“Aku akan menjaganya,” ucap Romanov.

“Baiklah. Akan kuhubungi nanti.”

“Oke.”

Miranda mengakhiri sambungan telepon dan ia kembali mendesah. Menunggu membuatnya makin gelisah, lantas gadis itu memutuskan untuk menghubungi kekasihnya. Kegelisahan membuat Miranda lupa jika mereka sedang bertengkar.

Bunyi nada dering membuat Miranda berdecak bibir sampai akhirnya tersambung dengan voicemail. Miranda makin kesal. Pikirannya kacau. Memikirkan ibunya. Semua itu membuat Miranda tak sadar jika sepuluh menit telah berlalu.

“Harper, siap di tempat.”

Amanda dan dua orang crewnya ikut berdiri. Mereka menghampiri Miranda dan membantunya. Seorang crew menyambut Miranda di pintu masuk menuju panggung.

‘Selesaikan dengan cepat dan kita temui ibu untuk minta maaf,’ batin Miranda.

“Go!”

Desahan napas panjang menuntun perjalanan Miranda memasuki panggung. Gadis itu mengangkat dagu dan membuang napas panjang kemudian menajamkan pandangannya.

Baru beberapa langkah Miranda berjalan, tetapi orang-orang sudah memandanginya dengan pandangan aneh.

“Hah ....”

Beberapa dari mereka bergumam dengan mulut menganga. Tatapan itu membuat Miranda risi, tetapi dia mencoba untuk mengabaikannya. Namun, saat semakin jauh ia melangkah, mendadak saja tatapan semua orang berubah. Mereka tampak tercengang.

Awalnya Miranda pikir mereka tercengang karena melihat dirinya, tetapi saat Rapper Amerika terkenal bernama Cardi B bangkit dari tempat duduknya dan bertepuk tangan, semua orang secara serentak membuat suara mengerikan. “Woooo ....”

Hanya Miranda satu-satunya orang yang tersentak. “I like your style, Bitches!” teriak Cardi. Miranda semakin bingung.

“Thank you.”

DEG

Jantung Miranda berhenti berdetak selama beberapa detik ketika rungunya secara mendadak dibuat terkejut oleh suara lelaki di sampingnya.

Seketika gadis itu memutar wajah dan benar saja. Kening Miranda mengerucut dan mulutnya menganga. “What the ....”

Lelaki yang berjalan santai di samping Miranda itu tengah tersenyum. Seakan-akan menikmati pertunjukan ia pun melambaikan tangan dan membuat kehebohan yang menimbulkan teriakan semua orang.

“Carlos bitches Graves!” teriak para kaum hawa yang langsung membuat Noah terkekeh.

Lelaki itu pun memutar tubuh menghadap mereka. “I love you all,” sambutnya dengan lambaian tangan.

Sementara Miranda masih tercengang di sampingnya hingga sang kekasih memutar wajah menghadapnya. “Hello, My Dear. Do you miss me?”

Sejenak Miranda merasa jantungnya seperti tak berfungsi dan membuat napasnya terhenti di dada. Tanpa sadar, gadis itu telah melupakan apa yang seharusnya ia lakukan di atas panggung.

Seluruh atensi dan bahkan jiwa raganya, alam bawah sadarnya, semua yang menyangkutpautkan dirinya dan hidupnya dibuat tercengang oleh keberadaan Carlos Noah Graves di atas panggung.

Hingga, sentuhan pada ujung jari yang kemudian membungkus tangannya menghantar kehangatan di tubuh Miranda yang terbeku.

Carlos Graves menarik sudut bibirnya ke atas dan senyum yang menawan itu menghidupkan kembali kesadaran Miranda yang sempat pergi beberapa detik.

Mulut Miranda terbuka. Ia terkekeh lalu memutar wajah. Ditatapnya, bagaimana semua orang sedang menggelengkan kepala dan sebagian lagi sibuk mengambil jejak digital.

Miranda mengentak napasnya dari dada. Ia tertawa dan meneruskan langkah sambil membiarkan kekasihnya membungkus tangannya dan menggenggamnya begitu erat.

Noah menemani langkah Miranda hingga tiba di ujung panggung. Semua wartawan yang tadinya duduk di barisan depan lalu berpindah. Berkerumun di ujung bawah panggung untuk mengabadikan momen tak terduga ini.

Ekspresi di wajah Miranda berkecamuk. Antara ingin terkejut, tertawa, menangis. Semua perasaan itu membuat Miranda ingin berteriak. Bisa-bisanya Noah membuat lelucon seperti ini. Dan mengapa para crew tidak menarik turun lelakinya yang jahil ini.

Namun, ketika Miranda menatap outfit yang dikenakan Noah, ia pun membawa satu tangannya menutup mulutnya yang sedari tadi menganga.

“Noah ...?!” gumam gadis itu.

Lelaki yang berdiri sambil menggenggam tangan Miranda itu tidak menyahut. Tangan kanannya bergerak meraih sesuatu pada saku celana bagian belakang. Sambil menatap wajah sang pujaan hati, Noah pun merendahkan tubuhnya dan berlutut di depan kedua kaki Miranda.

“Oh my God!” Orang-orang yang berada di sekeling panggung semakin histeris. Mata mereka terbelalak. Menutup mulut dengan kedua tangan lalu saling melempar tatapan antusias.

“Noah, apa yang kamu lakukan!” Miranda memandang kekasihnya dengan wajah terkejut. “jangan berulah di sini, cepat berdiri!” perintahnya.

Miranda tahu persis kalau kekasihnya ini sangat jahil. Entah apa yang akan dia lakukan di atas panggung. Lelaki itu tak tahu kalau jantung Miranda sekarang berdetak tak karuan. Serasa akan melompat dan keluar dari tempatnya.

“Miranda Harper, putri Frankly Harper,” panggil Noah berlagak seperti seorang raja dari kerajaan. Memanggil Miranda dengan lengkap.

Perempuan muda itu mengerutkan dahi. “Apa sih! Ayo berdiri!” perintahnya terus menerus. Miranda tidak berhenti menatap sekelilingnya.

“Aku tahu aku bukan pria yang sempurna,” Mendengar ucapan itu membuat Miranda kembali memusatkan atensi penuhnya kepada lelaki yang sedang berlutut di depan kakinya.

“Noah! Ck!”

“Oh my God, let me talk!" entak Noah. Lelaki itu mendengkus.

Tidak tahu saja kalau dia juga sedang menahan perasaan gugup setengah mati. Bukan apa-apa, Noah memang sudah sering berdiri di muka umum, tetapi untuk saat ini, hah ... andai saja ada tachometer yang ditempelkan di dada Noah, maka Miranda dapat melihat bagaimana jantung Noah yang kini bertalu dengan kencang.

Lelaki itu menunduk sejenak. Mendesah untuk mengumpulkan kembali keberaniannya. Maka satu tarikan napas membuat Noah kembali tegar dan ia pun mendongakkan wajah.

“Sepertinya tidak perlu basa-basi lagi,” ucapnya. Miranda semakin dibuat kebingungan hingga akhirnya Carlos Graves mengayunkan tangannya dari belakang.

“Hah ...!”

Semua orang dibuat takjub ketika mata mereka diterpa kilauan yang muncul dari kotak bludru berwarna merah yang terbuka di atas telapak tangan Noah.

“Miranda Harper, jadilah istriku. Jadilah kekasihku selamanya agar aku bisa menghabiskan waktu dengan memelukmu. Mencurahkan semua isi hatiku padamu. Jadilah satu-satunya orang yang menerima serbuan cintaku. Jadilah satu-satunya orang yang tak gentar memarahi aku, meneriaki aku, memaki diriku, membentak aku dan melotot padaku.”

Ada yang tergelak saat mendengar ucapan itu, tapi kebanyakan dari mereka masih menaruh atensi penuhnya di panggung. Mereka mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen ini.

“Jadilah satu-satunya orang yang akan menemani aku dalam suka dan duka. Dalam sedihku dan dalam kebahagiaanku. Karena aku hanya ingin kamu menjadi teman sehidup semati dan ibu dari anak-anakku –kelak. Kamu adalah cahaya yang dikirimkan Tuhan untuk hidupku yang kelam, maka aku telah bersumpah pada-Nya untuk mengikat kamu dalam sebuah ritual suci. Miranda Harper, aku tidak bertanya, tetapi memohon. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, Miranda Harper, kumohon,” Sekali lagi Miranda menjeda ucapannya lalu meneruskannya dengan lantang. “jadilah istriku.”

“Oh my God ....” Seantero manusia yang memenuhi Georges Pompidou Center ini dibuat tersentuh hingga mereka pun saling berpaling untuk mencari pasangan masing-masing.

“So sweet ...,” gumam mereka.

Sementara Miranda terperanjat di tempatnya. Manik hazelnya melebar bersama mulut yang menganga. Dirasakan Miranda ada sesuatu yang meluruh di dalam hatinya lantas membuat kepalanya membesar.

Miranda tak bisa berucap. Tenggorokannya tersekat parah, lalu selapis cairan bening pun jatuh membasahi pipinya. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup. Ini seperti mimpi. Miranda tidak siap. Tidak siap dengan pernyataan mendadak ini. Tidak siap dengan hatinya yang dibuat mencair. Tidak siap dengan kesungguhan yang detik ini dibuktikan oleh kekasihnya.

“Noah ....”

Sehingga Miranda hanya mampu melirih. Orang-orang yang melihatnya ikut menitikkan air mata. Miranda menggeleng. Mengulurkan tangan dan meminta kekasihnya itu untuk bangkit. Bibir Miranda bergetar dan ia sangat tidak sanggup. Gadis itu menarik tubuh lelaki di depannya kemudian mencurahkan air mata di atas pundak Noah. Sementara Noah terdiam. Ia menggerakkan tangan memeluk erat tubuh kekasihnya dan merasakan entakkan jantung yang memukul hingga ke dadanya.

“Miranda aku mencintaimu.”

Gadis Harper itu mengangguk. Masih menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Noah. Air mata ini adalah luapan perasaan Miranda yang menandakan betapa bahagia sekaligus tersentuh hatinya.

Menjadi kekasih dari Carlos Graves saja sudah merupakan anugerah terbesar untuknya. Dan kali ini, lelaki itu menyatakan tekadnya di depan semua orang. Miranda tak sanggup. Kalau bisa, dia ingin menyeret kekasihnya dari sini.

Sambil menahan air matanya, Miranda mencoba menarik wajahnya. Memberanikan diri menatap wajah lelaki di depannya.

“Please answer me,” bisik Noah.

Bibir Miranda manyun sementara keningnya mengerut. Ia pun tertawa dalam derai air mata lalu menganggukkan kepalanya. Kelopak mata Noah perlahan membesar.

“Apakah itu ya?”

Miranda terkekeh lagi. Ia menampar pundak Noah sebelum kembali mengangguk. “Yeah,” gumam Miranda dalam lirihan.

Sepasang bola mata di depan Miranda semakin terbuka lebar. Disusul dengan mulutnya lalu Noah berteriak. “Woooh hooo hooo!” Lelaki itu mengangkat tubuh kekasihnya lalu melemparnya ke atas pundak.

“NOAH!” teriak Miranda.

Semua orang yang tadinya menangis kini dibuat tertawa. Ada saja ide untuk menjahili Miranda. Lelaki itu mengangkat satu tangannya yang memegang kotak bludru lalu ia memutar tubuhnya.

“SHE SAID YES!” teriak Noah. Semua orang pun bertepuk tangan. Lelaki itu bersorak gembira. Ia tertawa dengan wajah antusias.

“THIS WOMAN SOLD OUT!” teriak Noah sekali lagi.

Miranda yang berada di atas pundaknya lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tertawa walau masih berderai air mata. Suara tepuk tangan masal membuat hati Miranda berdebar, tetapi ia pura-pura menggelengkan kepalanya.

Setelah puas memamerkan cincin dan wanita yang akan mengenakan cincin tersebut di jari manisnya, Noah pun menurunkan tubuh Miranda. Menarik tengkuknya lalu menyerang mulut Miranda. Tentu saja gadis itu terkejut. Ia melotot pada kekasihnya.

Berniat untuk mendorong wajah Noah, lelaki itu malah mendahuluinya. Ia tertawa dengan nada menggeram.

“Mrs. Graves,” Noah mengedikkan kepalanya ke samping. “is coming very soon.” Lanjut lelaki itu.

Miranda hanya bisa tertawa melihat tingkah romantis dan konyol dari pujaan hatinya.

________

To be continue~

Tab Love pojok kanan atas dan jangan lupa tulis Review kalian di halaman komentar. Follow iiinstagram @inezhseflina & @gravestheseries untuk melihat pemeran TRAPPED in LOVE with THE JERK CEO

Bab 3

Seorang lelaki dalam balutan kemeja putih tengah mondar-mandir di dalam sebuah kamar megah dan mewah.

“Oh, come on, Carlos, bisakah kamu diam sebentar? Persetan! Kamu membuat kepalaku pusing,” gerutu seorang lelaki bersetelan tuxedo putih yang duduk di atas sofa tunggal.

Carlos Graves mendesah berat. Rahangnya pun mengencang. Ia melempar tubuh ke tepi ranjang, menaruh kedua siku tangannya ke atas lutut lalu mengubur wajahnya di dalam telapak tangan.

“God, I’m freaking nervous!” desis Noah. Lelaki itu menggeram, mencoba meredam sekelebat perasaan gugup yang seperti ingin membunuhnya.

Carter Graves lantas mendengkus lalu memalingkan wajahnya. “Astaga!” desis Carter sambil melayangkan satu tangannya ke udara.

“Diamlah, Carter, kamu juga pernah berada di posisiku, kan?”

Mendengar ucapan itu membuat Carter Riven tergelak mencemooh. “Aku? Gugup?!” tanya Carter dengan nada sarkas. Carlos Graves lalu mengangkat pandang, menatap Carter dengan pandangan sinis.

“Hah!” Lelaki itu lalu memalingkan wajahnya. “ayolah, Carlos, jangan buat drama. Ini hanya pernikahan bukan medan perang,” ucap Carter dengan gampang.

Carlos Graves memilih untuk tidak menggubrisnya. Lagi pula percuma saja. Lelaki itu akan semakin mengejeknya.

Sungguh, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana perasaan Carlos Graves saat ini. Ada sesuatu yang menggelenyar dari dada ke seluruh tubuh.

Benar jika ini hari bahagia untuk Carlos Graves bersama kekasihnya Miranda Harper.

Ini hari terbahagia dalam hidupnya. Semua rencananya berjalan sesuai rencana. Setelah menemukan tanggal yang pas, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba.

Noah dan Miranda sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian dan hingar bingar New York dan sepakat menggelar pernikahan mereka di Prancis.

La Cheteau de Tourreau. Lokasi yang sudah tidak asing lagi bagi pesohor dunia. Sebuah tempat yang dikenal karena kemewahan sekaligus suasana yang intim dan romantis, menjadi salah satu alasan bagi Noah dan Miranda untuk memilih tempat mewah tersebut.

Bukan hanya itu, Carlos Graves menyewa satu hotel terkenal di Paris untuk menjadi tempat bagi keluarga, rekan kerja, pejabat perusahaan bahkan teman-teman dari Miranda menginap.

Mereka sudah tiba di Paris sejak tiga hari yang lalu. Segala persiapan pun sudah rampung dan hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu.

“Noah!”

Lelaki Graves yang tengah menundukkan wajahnya itu lalu mendongak saat mendengar namanya dipanggil.

“Damn it ....” Belum apa-apa pria itu sudah memaki. “apa yang kamu lakukan?!” Pertanyaan itu datang bersama tatapan mata yang terbelalak, menantang.

Tampak Carlos Graves menarik napas lalu mengembuskannya dengan cepat. “Orang-orang sudah menunggu di altar. Penghulu juga sudah datang, untuk apa kamu masih di sini. Kau ingin menikah dengan Carter?!”

“Fuck you, Kent!” Lelaki yang terduduk di sofa tunggal itu langsung memaki, membuat Kenedict Archer tergelak.

“Jika tidak mengapa kalian berdua masih di sini, hah? What the hell were you thinking?!” Lelaki itu mengangkat kedua bahu sambil membuka kedua tangan di depan dada.

“Come on ... get up!” bentaknya.

Carlos Graves butuh satu tarikan napas panjang. Ia pun melakukannya sambil menutup mata.

“Oh ... I know that feel,” kata Kent.

Noah pun membuka matanya. “Really?”

Kenedict memerengut bibir sambil mengedikkan kepala ke samping. “Of course. Aku pernah berada di posisi itu dan aku ke toilet sebanyak sepuluh kali.”

Noah mendesah lega. Berdiri menghampiri Kenedict lalu menepuk sebelah bahunya. “Oh, man ... akhirnya ada yang mengerti perasaanku,” ucapnya.

“Yeah, man! Si sialan Christian sampai menyuruhku memakai popok.”

Carter Riven lalu tergelak dengan pandangan mencemooh. Begitu pun dengan kakaknya yang juga terkekeh kuat mendengar ucapan Kenedict.

“Yeah, I’m telling the truth. Dan sekarang aku akan menyarankannya untukmu,” ujar Kent. Ia pun tersenyum iblis. “mau kupakaikan popok?” Lelaki itu bertanya sambil mengedikkan alis. Ia pun membawa sesuatu dari balik punggungnya.

Melihat hal tersebut semakin membuat Carter tertawa terbahak-bahak. Ia bergelayut di atas tempat duduk sambil melilitkan kedua tangan di depan perut.

Noah yang melihatnya lalu mendengkus sebelum melayangkan tatapan membunuh pada temannya.

“Screw you!” desis Noah.

Kenedict terkekeh sambil memandang Noah dengan pandangan geli. “Oh, man ... kamu harus lihat wajahmu,” ucapnya sambil menunjuk wajah Noah.

Sungguh, dua orang lelaki ini malah mengacaukan suasana hatinya. Hari ini Noah sadar bahwa dia benar-benar tak memiliki teman.

Sekalipun dia punya adik, tetapi adiknya yang sialan itu malah lebih senang melihat Noah menderita. Buktinya dia malah semakin menertawakan Noah. Menikmati lelucon Kenedict yang sesungguhnya tidak lucu sama sekali.

“Dasar orang-orang gila!” desisnya.

Merasa jengkel, Noah pun segera mengambil jasnya. Ia berkali-kali melakukan tarikan napas dan menahannya di dada sambil menutup matanya.

‘Ayo, Noah, kamu bisa. Kamu pasti bisa. Jangan gugup,’ gumamnya dalam hati.

“Oh, come Noah, don’t take it personal,” ucap Kenedict. Ia pun mendekat, menghampiri sahabatnya.

Kent yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Noah bisa membuat Noah harus menaikkan tatapan, memandang lelaki itu dari bali kaca di depannya.

“Kegugupan hanya akan datang dalam persiapan. Saat kamu di altar, semuanya akan mengalir begitu saja. Apalagi saat kamu hanya fokus memandang mata kekasihmu. Wanita bagai akan memberikan kekuatan untukmu. Come on, man, you got this!”

Akhirnya ada juga kata-kata yang benar-benar menyemangati dirinya. Namun, walau begitu, Noah tetap saja masih merasa gugup hingga ia perlu menarik napas dalam-dalam lalu mengentaknya dengan kuat.

“Oke,” ucap lelaki itu.

Kenedict yang berdiri di belakangnya lalu menganggukkan kepala. “Oke, I’ll see out there,” ucapnya. Noah balas mengangguk dan membiarkan temannya itu pergi.

“Come on Carter, biarkan kakakmu menenangkan diri. Kamu juga sebaiknya cari istrimu sebelum dia kucuri!” goda lelaki itu.

Carter membalasnya dengan terkekeh. “Curi saja jika kamu bisa,” ucapnya. Maka lelaki itu ikut bangkit dari tempat duduknya. Ia pun mengentak kedua sisi jas sebelum memutar pandangan, menatap kakaknya.

“Well, take your time, I’ll see you out there,” ucapnya.

Noah mengangguk dengan tenang. Carter pun meninggalkan ruangan itu. Sekarang dia benar-benar sendirian. Noah menggunakannya untuk menenangkan diri.

Menoleh ke samping, lelaki itu mengambil jam tangan mahal kesayangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 sore.

‘Sebentar lagi,’ gumamnya.

Lelaki itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum lalu mendongakkan wajah. Ia kembali menenangkan diri dengan mengatur napasnya.

Sungguh pun, Noah sama sekali tidak menyangka bahwa hari bahagia ini akan tiba. Tinggal beberapa menit lagi dan dia akan secara paten memberikan namanya untuk menjadi nama belakang Miranda.

Memikirkannya saja sudah membuat Noah tersenyum. “Ya Tuhan, kumohon, berikan aku kekuatan,” gumam lelaki itu.

Sekali lagi ia menarik napas, kali ini Noah mengembuskannya dengan tenang sambil menutup mata. Setelah mengembuskannya, lelaki itu memutar tubuh.

Mengambil langkah sambil membayangkan wajah kekasihnya. Oh sungguh. Andai saja ia bisa melihat Miranda sebelum pergi ke altar. Lelaki itu benar-benar penasaran dengan bagaimana Miranda saat ini.

Senyum pun menghiasi wajah tampan itu. Noah menggeleng singkat, menunduk dan merasakan detak jantungnya yang kembali menggempur dada.

“Huh ....”

_________

TBC~

Tulis ulasan please~

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED