Suasana di rumah sakit yang berada di London terlihat sangat ramai seperti biasanya, khususnya di bagian Emergency Room beberapa perawat terlihat berlari kesana kemari sambil membawa peralatan yang diminta, begitu juga dengan para dokter yang terlihat sangat sibuk merawat pasien yang tak henti-hentinya datang.
Seperti kali ini, dua orang paramedis datang sambil mendorong tandu ambulance yang dinaiki oleh seorang pria yang penuh luka dan tampak tidak sadarkan diri, seorang paramedis berada di atasnya sambil terus memompa dada pria itu.
Salah seorang perawat dan dokter segera menghampiri paramedis itu dan menuntun mereka ke salah satu tempat tidur yang kosong untuk memindahkan pasien.
“Kecelakaan lalu lintas, pasien awalnya masih sadar tapi tiba-tiba pingsan dan mengalami henti jantungnya ketika ambulans tiba di rumah sakit,” ucap salah satu paramedis memberikan penjelasan ketika mereka sedang memindahkan pasien.
Salah satu perawat langsung pergi mengambil defibrillator ketika mendengar hal itu, dan dokter yang berada di situ langsung mulai mengejutkan jantungnya.
“Dia kembali!” ucap dokter itu setelah melihat monitor alat jantung yang kembali memiliki garis naik turun.
Namun, meskipun mereka telah mendapatkan denyut jantungnya kembali, mereka tahu bahwa ini belum selesai, pasien masih dalam kondisi kritisnya.
“Sepertinya pasien harus dioperasi, siapa dokter bedah yang berjaga saat ini?” tanya dokter itu setelah memeriksa keadaan pasiennya. Dia masih seorang residen dan belum memiliki banyak pengalaman untuk melakukan operasi.
“Dokter Sarah.”
“Siapkan ruang operasi dan panggilkan dokter Sarah!”
***
Seorang wanita baru saja datang ke rumah sakit dengan memakai jaket dan membawa segelas kopi di tangannya, dia tersenyum ketika beberapa perawat, bahkan dokter menyapanya dengan penuh hormat.
Setelah menjadi residen selama tiga tahun, dia akhirnya telah menjadi dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di London.
Saat sedang menuju ke tempat untuk berganti pakaian, wanita itu melihat ada seorang perawat yang sedang berlari dan sepertinya sedang menuju ke arahnya.
“Dokter Sarah!” panggil seorang perawat itu sambil menarik napasnya karena berlarian.
“Ada apa?” tanya Sarah dengan tegang. Dia sudah bisa membayangkan alasan perawat itu berlari ke arahnya, tapi Sarah masih ingin mencoba untuk menyangkalnya. Dia baru saja datang dan bahkan belum menghabiskan kopinya.
“Dokter dibutuhkan di ruang operasi tiga! Ada pasien emergency!” ucap perawat itu.
Sarah menghela napasnya, sepertinya lagi-lagi dia akan menghabiskan kopinya nanti. Dengan buru-buru, dia langsung menuju ke tempat ganti pakaian untuk menukar pakaiannya.
***
Tak lama kemudian, Sarah akhirnya berlari menuju ruang operasi dengan pakaian berwarna biru, lengkap dengan masker, dan penutup kepala. Begitu masuk, dia mencuci tangannya dulu untuk mensterilkan tangannya, dan masuk ke dalam kamar operasi.
Seorang perawat langsung menghampiri Sarah dan membantunya memakaikan sarung tangan dan gaun bedah.
“Kondisi pasien?” tanya Sarah saat dia sedang dibantu.
“Pasien adalah pria berumur sekitar 30-an, mengalami kecelakaan lalu lintas, sempat henti jantung dan sepertinya memiliki pendarahan di dalam,” ucap dokter yang tadinya memeriksa keadaan pasien itu.
Sarah mengangguk ketika mendengar hal itu dan akhirnya berjalan menghampiri pasien untuk segera membedahnya.
Namun, ketika pandangan Sarah melihat ke arah wajah pasien, Sarah terdiam ditempatnya. Wajah yang sedang memejamkan mata itu terlihat familiar. Dia memang sudah lama tidak melihat wajah pria itu, tapi dia tidak akan pernah melupakan wajah pria itu.
“Michael? Pasienku adalah Michael?” pikir Sarah yang mengenali pria itu.
Pria itu adalah mantan suaminya yang bercerai dengannya tiga tahun lalu. Dia pikir dia tidak akan pernah bertemu dengan pria brengsek itu lagi seumur hidupnya, tapi bagaimana bisa dia bertemu dengan mantan suaminya itu di meja operasi?
“Apakah ini kesempatan yang diberikan kepadaku untuk bisa membunuhnya? Aku masih mengingat dengan jelas waktu itu pernah bersumpah untuk membunuhnya suatu saat nanti! Apakah aku harus berpura-pura tidak sengaja memotong pembuluh darahnya dan membiarkannya mati karena pendarahan?” pikir Sarah yang mulai memikirkan bagaimana caranya untuk bisa membuat Michael mati tanpa membahayakan statusnya sebagai dokter bedah.
“Dokter Sarah?”
Suara dari dokter yang memanggilnya membuat Sarah segera tersadar kembali.
“Maaf,” Sarah lalu berdehem, “Kita akan segera memulai operasinya. Scalpel!”
***
Sarah keluar dari kamar operasi dan langsung membuang masker yang dia kenakan. Wajahnya terlihat bermasalah.
“Seharusnya aku membunuhnya!” pikir Sarah yang menyesali keputusannya untuk menyelamatkan Michael.
Dia memang ada niat untuk membunuh mantan suaminya itu, tapi setelah dia pikirkan sekali lagi, dia adalah seorang dokter yang telah mengambil sumpah untuk menyembuhkan pasien yang datang dan memandang mereka sebagai pasien, tanpa prasangka.
Sarah menghela napasnya dan langsung keluar dari ruang operasi itu, dia harus pergi meminum kopinya.
“Dokter? Bagaimana keadaan anakku?”
Begitu Sarah keluar, dia langsung dihampiri oleh sepasang suami istri yang sepertinya sejak tadi menunggu seseorang untuk keluar dari ruang operasi itu.
Sarah sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa ada orang yang sedang menunggu operasi Michael. Bukannya dia adalah pasien yang kecelakaan lalu lintas? Apakah mereka sudah berhasil mendapatkan identitasnya dan menghubungi keluarganya?
“Sarah? Bukankah kamu Sarah?” tanya pria tua itu yang mengenali Sarah terlebih dahulu.
Istrinya yang tadinya terlihat khawatir, segera memandang Sarah lekat-lekat ketika mendengar ucapan suaminya, raut wajahnya segera berubah begitu dia menyadari di depannya adalah Sarah.
“Kamu benar! Ini adalah Sarah. Tunggu dulu, apakah kamu yang mengoperasikan anakku?!” jerit wanita tua itu yang tiba-tiba merasa kesal.
“Operasinya berjalan dengan lancar, saat ini pasien sudah dipindahkan, kita tinggal menunggu pasien untuk segera sadar,” jawab Sarah sambil mengeluarkan senyuman profesionalnya.
“Lihat kelakuannya yang tidak punya sopan santun! Apakah kamu berpura-pura tidak mengenali kami?” jerit wanita tua itu sambil menunjuk-nunjuk Sarah.
“Ah! Maafkan aku! Bagaimana bisa aku tidak mengenali Nyonya Collins. Wajahmu sangat berubah semenjak terakhir kali kita bertemu. Haruskah aku memberikanmu kontak Dermatologist yang bagus? Kamu bisa mendapatkan diskon jika menyebutkan namaku,” jawab Sarah sambil tersenyum manis.
“A-Apa? Lihat dirimu yang mulai membalas perkataanku! Apa maksudmu aku telah bertambah tua?!” jerit wanita itu lagi.
Kali ini, Sarah tidak memperdulikannya lagi, dia hanya menatap pria tua yang berada disamping istrinya dan menganggukkan kepalanya lalu segera pergi dari tempat itu.
Sarah memegang tangannya yang tanpa sadar gemeteran.
“Kamu sekarang orang yang berbeda, Sarah. Kamu sudah menjadi dokter bedah!” pikir Sarah untuk menguatkan dirinya. Dia tidak menyangka dia masih akan takut ketika melihat ibu mertuanya itu.
Sarah yang sedang menuju ke tempat ganti pakaian untuk mengambil kopinya, langsung mengubah haluannya untuk mencari dokter residen yang ikut operasi bersamanya tadi.
Dia memang sudah mencoba untuk tidak takut, tapi sebaiknya dia menghindar, dia tidak bisa menemui keluarga Michael lagi ketika Michael sadar, dan menyuruh dokter itu untuk melakukannya.
Sarah segera tersenyum begitu Alex-dokter itu- mengangguk mengerti. Namun, Sarah sama sekali tidak menyangka dalam beberapa jam kemudian, dia akan menemui Michael dan keluarganya lagi.
“Apa?!”
Sarah menaikkan alisnya ketika mendengar Alex yang tiba-tiba datang menemuinya di ruangannya.
“Keluarga pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas bersikeras mengatakan kamu telah melakukan kesalahan saat operasi dan berniat untuk menuntutmu,” ucap Alex, mengulangi kata-katanya sekali lagi.
“Omong kosong apa yang mereka katakan! Kamu tahu bahwa operasi itu berhasil! Kamu berada di sana bersamaku!” ucap Sarah yang menaikkan suaranya.
Selama dia menjadi dokter bedah, kesuksesan operasinya memang tidak 100%, dia pernah salah mendiagnosis dan bahkan pernah tidak berhasil menyelamatkan pasiennya, yang membuat pasiennya mati di meja operasi.
Tapi, operasi yang dia lakukan tadi terhadap mantan suaminya itu tidak ada kesalahan sama sekali! Jadi bagaimana bisa mereka menuduhnya melakukan kesalahan dan berniat untuk menuntutnya.
“Iya, aku sudah memberitahukannya berkali-kali, tapi ibu pasien bersikeras seperti itu,” ucap Alex dengan pelan.
Sarah mendengus ketika mendengar hal itu. Seharusnya dia sudah bisa menebaknya, ini pasti dilakukan oleh Nyonya Collins.
“Baiklah, aku akan pergi menemui mereka.”
Sarah menghela napasnya. Dia sebenarnya tidak ingin lagi bertemu dengan mereka, tapi mau bagaimana lagi, sepertinya dia harus menghadapi mantan suami dan keluarganya sekali lagi.
***
“Hah! Lihat! Dia akhirnya datang kemari! Apakah kamu berpikir bisa lolos begitu saja setelah melakukan kesalahan pada operasi anakku? Kamu tidak akan bisa melakukannya! Aku akan menuntutmu!” teriak nyonya Collins begitu Sarah memasuki kamar yang ditempati oleh Michael.
Sarah menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, lalu segera tersenyum.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud tapi…”
“Wifey!”
Sarah tidak segera melanjutkan kata-katanya ketika mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar itu, dia langsung menoleh dan melihat Michael yang baru saja muncul dari balik pintu kamar mandi.
“Wifey!” ucap Michael sekali lagi, lalu langsung berjalan mendekati Sarah dan memeluknya.
Secara refleks, Sarah langsung mendorongnya.
“Kenapa kamu mendorongku?” tanya Michael yang terlihat terluka.
“Lihat! Kamu pasti sengaja melakukan ini, kan?! Bagaimana mungkin anakku memanggilmu seperti itu ketika kalian sudah bercerai!” bentak nyonya Collins.
Ketika Michael akhirnya telah sadar, dia tiba-tiba menanyakan tentang Sarah. Nyonya Collins langsung bertanya kenapa Michael mencari Sarah, yang langsung dijawab oleh Michael, “Apa maksudmu? Dia adalah istriku, apakah aku salah menanyakan keberadaan istriku?” dengan memutarkan matanya.
Tuan dan Nyonya Collins terlihat saling bertatapan, bingung dengan sikap Michael. Nyonya Collins lalu memberitahukan bahwa Michael telah bercerai dengan Sarah, tapi Michael bersikeras bahwa dia belum lama menikah dengan Sarah, bagaimana mungkin mereka telah bercerai.
Mendengar hal itu, Nyonya Collins tiba-tiba kesal. Kenapa anaknya tiba-tiba mengatakan sesuatu seperti itu? Pasti ada yang salah dengan operasi Michael, dan itu adalah salah Sarah, orang yang mengoperasi anaknya!
“Apa yang kamu katakan barusan?” tanya Sarah sekali lagi.
“Wifey? Ahh! Apakah kamu malu karena di sini ada papa dan mama?” ucap Michael yang kembali tersenyum ketika mengerti kenapa sikap Sarah yang tiba-tiba mendorongnya, dia pasti malu. “Tapi kita telah menikah, sudah sewajarnya aku memanggilmu begitu,” gumamnya dengan pelan sambil memanyunkan bibirnya.
Mata Sarah terbuka dengan lebar ketika melihat ekspresi Michael. Apakah dia baru saja memanyunkan bibirnya? Itu sama sekali tidak cocok dengan Michael yang pernah dia ingat.
“Jadi menurutmu kita telah menikah,” ucap Sarah, lalu memegang lengan Michael dan menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur.
Michael mengangguk lalu duduk di tempat tidur miliknya.
“Sudah berapa lama kita telah menikah?” tanya Sarah, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya diingat oleh Michael.
“Hmm… tiga bulan,” ucap Michael setelah beberapa saat.
“Apakah kamu tahu kenapa kamu bisa berada di sini?”
Michael kembali terdiam.
“Tidak tahu, aku hanya mendengar aku mengalami kecelakaan.”
“Apakah kamu tahu ini hari apa?”
Michael kembali terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. Dia juga melakukan hal yang sama ketika Sarah menanyakan tanggal hari ini.
“Apakah kamu sudah selesai memeriksaku? Aku baik-baik saja,” ucap Michael yang mulai merasa kesal karena Sarah terus menanyakannya.
Memangnya kenapa kalau dia tidak tahu hari dan tanggal hari ini? Dia hanya tinggal perlu mengecek handphonenya untuk melihatnya.
“Iya, tapi biarkan aku memeriksamu sekali lagi, untuk yakin bahwa kamu baik-baik saja,” ucap Sarah kemudian menyuruh Michael untuk mengikutinya.
Berdasarkan jawaban dari Michael, pria itu sepertinya mengalami amnesia, tapi semuanya akan menjadi lebih jelas setelah dia melihat hasil MRI scan dari Michael.
***
“Sarah, apa yang terjadi dengan Michael?”
Tuan Collins menatap Sarah yang sedang duduk di depannya, wajahnya terlihat khawatir.
“Apakah kamu perlu menanyakannya lagi? Tentu saja ini perbuatan anak tidak tahu sopan ini. Dia sengaja mengubah Michael seperti itu! Bagaimana bisa dari semua dokter yang ada di rumah sakit ini, anakku di operasi oleh dokter seperti ini?” ucap Nyonya Collins sambil menghela napasnya.
Dahi Sarah berkerut ketika mendengar ucapan nyonya Collins.
“Sabar… sabar…” ucapnya dalam hati untuk tidak terpancing dan bersikap tidak profesional.
“Hentikan, Sarah adalah sudah menjadi dokter bedah dan bukan residen lagi,” tegur Tuan Collins.
“Hah! Semua orang juga bisa menjadi dokter bedah! Aku yakin dia bisa bekerja di rumah sakit ini setelah menggoda pimpinan rumah sakit ini!”
“Ini adalah hasil MRI Scan Michael!” potong Sarah dengan cepat. Dia tidak tahan lagi harus mendengar ucapan nyonya Collins kepadanya. Saat ini masih jam kerjanya, jadi dia harus bersikap profesional.
Sarah lalu menunjukkan apa yang terjadi di kepala Michael, dan bagaimana seharusnya itu terlihat.
“Sepertinya kepala pasien terbentur, tapi syukurlah itu tidak terlalu gawat dan hanya membuat pasien mengalami amnesia, dia hanya mengingat apa yang terjadi lima tahun lalu dan tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu. Namun kalian jangan terlalu khawatir, dia masih bisa beraktivitas seperti biasanya,” ucap Sarah memberikan penjelasannya.
“Tapi sebaiknya jangan membuat pasien mengingat apa yang tidak dia ingat, selain itu akan membuatnya bingung, itu juga bisa menjadi syok untuknya. Saat ini belum ada obat untuk mengobati pasien yang amnesia, tapi seharusnya itu tidak akan bertahan lama, jangan khawatir, ” lanjut Sarah.
“Apa?! Jadi maksudmu kami harus membiarkan anak kami begitu saja?!” ucap nyonya Collins, tidak terima.
“Seperti kataku sebelumnya, tidak ada obat yang bisa mengobati amnesia, pasien akan mendapatkan ingatannya lagi setelah beberapa saat.”
“Lalu bagaimana kalau ingatannya tidak kembali?!” jerit nyonya Collins.
“Kalau begitu sepertinya kamu akan sering menemuiku,” ucap Sarah sambil tersenyum manis, membuat nyonya Collins terlihat sangat kesal.
Sarah tertawa kecil melihat hal itu.
“Aku bercanda, kalian bisa membawa pasien ke dokter neurologi dan mendapatkan perawatan yang lebih lanjut.”
Namun, Sarah sama sekali tidak menyangka perkataan yang dia katakan kepada nyonya Collins untuk membuat wanita itu kesal, malah menjadi kenyataan.
Sarah meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sembari dia berjalan menuju ruangannya. Hari ini benar-benar sangat melelahkan baginya, selain emosinya yang terkuras akibat bertemu mantan suaminya, dia membantu operasi yang dilakukan di emergency room karena hari ini dia tidak memiliki jadwal operasi.
Hasilnya, jam masih menunjukkan pukul 3 sore, tapi dia sudah lelah dan ingin segera pulang.
"Tuan Collins?" mata Sarah membesar ketika melihat lelaki tua yang sedang berdiri bersandar di dekat pintu ruangannya. Dia buru-buru menghampiri pria tua itu.
"Tuan Collins? Kenapa kamu di sini? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sarah dengan penasaran.
Dia sudah menjelaskan semua hal yang terjadi kepada Michael, apakah masih ada yang ingin dia tanyakan lagi?
"Sarah… ah, Dokter Sarah," koreksi Tuan Collins sambil tersenyum. "Apakah kamu sibuk? Bisakah kita berbicara sebentar?" lanjutnya.
"Kamu bisa memanggilku Sarah," jawab Sarah sambil tersenyum.
Sarah lalu melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan, setidaknya dia memiliki 10-15 menit yang bisa dia gunakan untuk beristirahat sebentar.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita berbicara di kafetaria? Aku sekalian ingin membeli makanan," tanya Sarah.
"Tentu," jawab Tuan Collins.
Tak lama kemudian, Tuan Collins dan Sarah sudah mengambil tempat di salah satu meja kafetaria rumah sakit, dan Sarah segera permisi untuk memesankan makanannya.
"Ini Tuan Collins, kopi hitam, tanpa gula," ucap Sarah sambil menyerahkan segelas kopi yang dia pesankan untuk lelaki tua itu, sementara dia memesan teh dingin dan sandwich.
"Ah… kamu tidak perlu repot-repot," ucap Tuan Collins, tapi wajahnya terlihat tersenyum. Kopi hitam tanpa gula adalah minuman favoritnya, sepertinya Sarah masih mengingat hal itu.
Sarah hanya tersenyum ketika melihat ekspresi lelaki tua itu.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan? Ngomong-ngomong, aku sambil makan ya," ucap Sarah lalu mengambil sandwichnya dan mulai memakannya.
"Ya, silakan. Itu… aku ingin meminta bantuan."
Sarah mengangkat alisnya ketika mendengar hal itu.
"Bantuan apa? Jika aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya," jawab Sarah sambil tersenyum.
"Itu…" Tuan Collins terlihat sedikit ragu, "Bisakah kamu berpura-pura menjadi istri Michael lagi?"
"Uhuk uhuk"
Sarah langsung tersedak mendengar hal itu, dia buru-buru mengambil teh nya dan meminumnya.
"Apa?!" tanya Sarah dengan terkejut.
"Seperti katamu, kami tidak boleh memaksakan ingatan yang tidak diingat oleh Michael dan saat ini dia masih mengingat bahwa kamu masih istrinya," ucap Tuan Collins menjelaskan.
Sarah mengangguk dengan pelan, dia memang berkata seperti itu, tapi bukan berarti dia mau menjadi istri pria brengsek itu lagi, meskipun itu hanya pura-pura!
"Kamu juga mengatakan bahwa tidak ada obat yang bisa membantu mengembalikan ingatannya, tapi kamu pasti tahu bagaimana cara mengatasi pasien amnesia untuk mengembalikan ingatannya, kan? Jadi kamu bisa membantunya ketika kalian tinggal bersama lagi," lanjut Tuan Collins.
Sarah menganggukkan kepalanya lagi, dia memang mengatakan hal itu.
"Maaf Tuan Collins, sepertinya aku tidak bisa membantumu," jawab Sarah dengan tegas.
Michael dan dirinya telah berakhir tiga tahun lalu, dan Sarah sama sekali tidak berniat untuk berurusan dengan mantan suaminya itu lagi.
"Ah! Apakah kamu sudah menikah lagi?" tanya Tuan Collins dengan hati-hati. Dia sudah meminta hal itu, tapi lupa menanyakan apakah Sarah telah menikah lagi atau tidak.
"Tidak, aku masih sendiri. Tapi aku tetap akan menolaknya," ucap Sarah dengan tegas.
Setelah bercerai, Sarah memfokuskan hidupnya untuk karirnya dan tidak pernah terlibat hubungan romantis, atau berpikir untuk menikah lagi. Meskipun beberapa pria pernah mengejarnya.
"Aku mohon padamu, Sarah. Ini salahku sampai Michael bisa kecelakaan seperti ini," ucap Tuan Collins dengan pelan. Wajahnya terlihat sedih.
Sarah mengangkat alisnya, tapi dia hanya diam saja.
"Sebenarnya… aku memiliki tumor otak, tapi aku merahasiakan itu kepada keluargaku karena tidak ingin membuat mereka khawatir."
Mata Sarah membesar dan mulutnya sedikit terbuka ketika mendengar hal itu.
Tuan Collins hanya tersenyum tipis ketika melihat reaksi Sarah.
"Karena aku tidak ingin melakukan perawatan dan terus mengabaikan telepon dari dokter kenalanku, dia akhirnya menghubungi perusahaan, berpikir bahwa aku masih menjadi CEO perusahaan itu, tapi Michael telah menggantikan posisiku, dan dia akhirnya mengetahuinya dan langsung menemuiku untuk menanyakan hal itu."
"Kami sedikit bertengkar sebelum dia akhirnya pergi, kurasa gara-gara itu sampai dia akhirnya kecelakaan."
Sarah terdiam ketika mendengar hal itu, dia memandang Tuan Collins yang kini terlihat semakin tua dari yang terakhir kali dia ingat.
Berbeda dengan nyonya Collins yang selalu jahat kepadanya, Tuan Collins selalu baik kepadanya.
Sarah sangat berterimakasih kepada mantan papa mertuanya itu yang sudah membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah.
Dan sekarang orang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri, memiliki tumor otak?
"Kamu harus melakukan operasinya, itu masih dapat disembuhkan" ucap Sarah, yang tanpa sadar mulai berkaca-kaca.
Tuan Collins menggeleng dengan pelan.
"Resikonya tinggi. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengan baik, daripada mati di ruang operasi," ucap Tuan Collins.
"Apakah tumornya berada di tempat yang sulit? Ah, tidak, ayo kita melakukan scan. Aku akan melihatnya sendiri," ucap Sarah lalu siap berdiri dari tempatnya.
"Sarah," panggil Tuan Collins dengan pelan sambil menyentuh tangannya.
Membuat Sarah kembali duduk di kursinya
"Aku tahu saat ini aku bersikap egois, tapi bisakah kamu mengabulkan permintaanku? Aku khawatir ingatan Michael tidak kembali dan dia harus mengetahui keadaanku sekali lagi, dia juga harus memimpin perusahaan," ucapnya sambil menatap Sarah dengan lembut.
"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi diantara kamu dan Michael, tapi aku sangat menyayangkan kalian yang harus bercerai. Aku bahkan memarahinya karena telah melepaskanmu begitu saja. Kamu tahu aku sangat menyayangimu," ucap Tuan Collins dengan tulus.
Mendengar hal itu, air mata yang berusaha Sarah tahan sejak tadi akhirnya keluar.
Dia tahu selama ini Tuan Collins memang menyayanginya dengan tulus, seperti seorang ayah kepada putrinya, dan satu-satunya yang Sarah sesali ketika bercerai adalah dia tidak lagi bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang dia dapatkan dari Tuan Collins.
Ketika nyonya Collins selalu menyuruhnya datang ke rumah mereka untuk membuatkan sarapan dan bersih-bersih, padahal Sarah saat itu harus pergi bekerja, Tuan Collins selalu membelanya dan menyuruhnya untuk segera pergi bekerja, bahkan berkat Tuan Collins, Sarah tidak perlu melakukan tugas merepotkan itu lagi.
"Aku mohon padamu, Sarah. Anggap saja ini permintaan terakhirku. Tolong bantu Michael mengembalikan ingatannya dengan berpura-pura masih menjadi istrinya lagi," mohon Tuan Collins.
Mendengar kata permintaan terakhir, membuat tangisan Sarah semakin keluar.
Dia benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan mantan suaminya yang brengsek itu, tapi disisi lain, dia tidak bisa mengabaikan permintaan dari orang yang sangat dia berterima kasih dan sudah seperti ayahnya sendiri.
Apa yang harus Sarah lakukan?