Bab 2

“Lalu, ke mana Mas Farus? Dia mengatakan pergi bersama Febri. Tapi, dengan terang Febri mengatakan hal sebaliknya. Oh, ada apa ini? Lalu, tadi malam itu telepon siapa?” batinku masih memandang ponselku sendiri.

“Tidak perlu mencemaskan apa pun yang belum pasti.”

Melisa menarikku kembali ke kursi sofa. Sebagai sahabat, dia pasti berusaha memendam perasaanku. Sebenarnya, aku tidak mau dia mengetahui rasa cemas ini. Tapi, seperti biasanya. Melisa sangat paham ekspresi wajahku.

“Aku tidak mau menceritakan apa pun tentang pernikahanku. Tapi, kau sahabatku. Apa yang harus aku cemaskan?”

“Bukankah kamu sendiri mengatakan kepadaku, tidak suka jika ada yang disembunyikan. Aku pun begitu. Aku tak mau ada rahasia. Ayolah, Maya! Katakan saja. Aku pasti siap membantumu.”

Tentu saja aku harus mempercayai Melisa. Dia adalah sahabatku sejak lama. Ke mana lagi aku akan meminta bantuan?

“Mas Farus tidak pernah pergi selama ini. Dia selalu saja pulang ke rumah. Sekarang, mendadak dia mendapat tugas. Parahnya, dia bilang akan pergi bersama adiknya, Febri. Tapi, Febri baru saja menghubungiku. Dia tidak bersama kakaknya. Aku ... sengaja tidak menghubunginya. Takut mengganggu."

“Kita tunggu saja Febri datang ke sini. Kau bisa menanyakannya.”

Ide Melisa benar. Aku menganggukkan kepalaku, sambil menyeruput teh hangat yang tinggal sedikit lagi akan habis. Hingga aku mendengar suara mobil memasuki halamanku. Rumahku berjarak cukup dekat dengan rumah mertuaku. Dalam sekejap Febri bisa datang ke rumah. Aku segera menemuinya.

“Febri, kamu terlihat sangat pucat. Kau sakit?” Aku menerima satu tas berisi minuman herbal buatan mertuaku sendiri saat Febri menyodorkannya. Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Biasa, Mbak. Penyakitnya orang umum. Flu berat,” balasnya.

“Hmm, kau tidak bersama Mas Farus?” tanyaku pelan sambil tersenyum. Aku sangat berharap, dia memberikan jawaban yang bisa membuatku tenang.

“Emangnya Mas Farus ke mana sih, Mbak?” balasnya bertanya.

“Kemaren, Mas Farus bilang akan pergi sama--”

“Eh, Febri,” sela Melisa. Dia mendadak muncul, dan menghentikan ucapanku.

“Mbak, aku pergi dulu, ya,” ucap Febri mendadak. Bahkan, dia tidak membalas sapa’an Melisa. Padahal mereka sudah lama kenal. Aku segera menggelengkan kepala, untuk memusatkan pikiranku kembali. Ibu mertuaku punya riwayat jantung. Mungkin Febri harus segera pulang dan menjaganya.

“Febri buru-buru, ya?” Melisa menatap kesal Febri yang sudah meninggalkan rumahku. Sementara, aku masih mengurut pelipisku. Sebenarnya, ke mana Mas Farus? Nama desa tempatnya bekerja pun tidak dia katakan. Kenapa aku juga tidak bertanya saat itu? Hatiku benar-benar gundah.

“Melisa, aku harus mencari tahu. Aku tidak mau hal gila ini masuk di kepalaku. Aku akan mengambil tasku,” ucapku kemudian buru-buru mengambil tas di kamar dan memakai jaketku.

“Jadi, kamu mengira suamimu selingkuh?” tanya Melisa sambil ikut berjalan mengikutiku. “Maya!” ucapnya tegas, sembari menarik lenganku. Aku menghentikan langkah, dan kini menatapnya. “Tidak mungkin suamimu seperti itu. Mana mungkin dia dengan wanita murahan seperti itu?” lanjut Melisa berusaha meredam rasa penasaranku.

“Aku juga berharap dia tidak seperti itu, Mel. Tapi, kau dengar sendiri saat Febri tidak tahu tugas itu. Sedangkan Mas Farus, mengatakan dia akan pergi dengan Febri. Argh, aku akan mencari tahu.”

Melisa mau tidak mau mengikutiku masuk ke dalam mobil. Aku segera menuju rumah sakit tempat Mas Farus bekerja. Sudah lama sekali aku tidak pernah mengunjungi rumah sakit ini. Tanpa berpikir dan membuang waktu, aku berjalan cepat masuk ke ruangan informasi. Aku bisa saja masuk dengan bebas ke ruangannya. Tapi, aku harus menghormati privasinya dan peraturan untuk membuat janji terlebih dahulu.

“Suster. Aku ingin bertemu dengan Dokter Farus.”

“Dokter Farus?” tanya suster terkejut. Aku semakin tidak mengerti. Kenapa dengan suster itu?

“Ah, Dokter Farus sedang tidak ada di tempat bukan? Hahaha. Dia kan sedang menemani dokter magang. Baiklah. Bisa kau katakan di mana desa itu?” tanyaku sekali lagi. Aku menarik napas panjang, berusaha mengatasi hatiku.

“Maafkan saya. Dokter magang tidak ada di tempat. Memang benar. Mereka sedang magang di desa. Tapi, kami sudah lama tidak mendengar tentang dokter--”

“Ah, tentu saja kalian tidak mendengarnya. Dia sedang bekerja. Maafkan kami karena mengganggu pekerjaan suster,” sela Melisa sekali lagi. Dia menghentikan ucapan suster itu, lalu menarikku pergi dari sana. Kami berjalan cepat menuju ke parkiran. Melisa menatapku tajam. Sepertinya dia sangat marah denganku.

“Maya, jangan gila, ya! Kamu nggak lupa, kan, sekarang kita ada di mana? Ini tuh, masih lingkungan rumah sakit!” teriaknya keras. Dia menjauh, lalu masuk ke dalam mobil. Aku segera mengikutinya. Kami duduk di kursi depan sambil bertatapan. Melisa masih saja marah denganku.

“Jika kamu seperti ini, Maya. Sama saja kamu menjelekkan nama baik suamimu. Kau itu seharusnya percaya saja dengan suamimu. Lagi pula, Febri juga tidak mengatakan apa pun. Begitu juga dengan suster tadi.”

Oh, Tuhan, apa yang aku lakukan? Perkataan Melisa memang benar. Untuk apa aku mencurigai suamiku. Selama ini, dia selalu saja setia denganku. Tapi, sumpah demi apa pun kali ini aku memang sedikit tidak mempercayainya. Sebenarnya, apa yang salah dengan perbuatanku? Toh, aku hanya ingin mencari kebenaran. Hanya ingin meredakan pikiranku yang semakin gila ini.

“Mel, kau memang benar. Tapi, jujur saja. Pasti dokter magang itu ada hubungan dengan suamiku. Lihatlah, sudah beberapa jam dia pergi, sama sekali dia tidak menghubungiku. Apakah aku salah dengan pemikiranku?”

“Sudah bicaranya?” Tiba-tiba raut Melisa menjadi kaku. “Aku tanya, sudah bicaranya?” lanjutnya sedikit membentak.

“Kita sebaiknya pulang saja, Mel. Kamu benar. Aku sudah bodoh melakukan ini.”

Baiklah lupakan saja. Sudah saatnya aku tidak menyakiti diriku sendiri. Aku segera melesatkan mobil ini, lumayan cukup kencang. Hatiku masih bimbang. Bagaimana jika memang suamiku melakukannya di belakangku? Ya ampun, jangan sampai seperti itu.

Membayangkannya saja sudah sangat menjijikkan. Jangan sampai pernikahan selama dua belas tahun ini gagal karena orang ketiga.

Masih saling diam, aku dan Melisa tidak saling bertegur sapa. Dia sangat kesal. Mungkin karena dia tidak mau melihatku sakit hati. Aku paham dengannya.

“Besok aku akan ke rumahmu lagi. Kau mau masih lanjut kan?” tanya Melisa pelan. Dia akhirnya menyapaku. Aku hanya tersenyum, menganggukkan kepala dengan pelan.

“Sekarang aku pulang dulu. Aku akan menaiki taxi di ujung jalan itu. Jangan khawatir. Sebaiknya kau mandi sana. Bau,” ucapnya lalu memelukku. Dia keluar dari mobil dan melambaikan tangan ke arahku.

Aku berusaha memasuki rumah dengan senyuman. Kembar pasti sudah pulang. Aku tidak mau terlihat cemas di depan mereka. Untung saja mereka sudah terlelap, begitu juga dengan Mbok Sri. Tanpa sadar, aku pergi cukup lama.

Sudah pukul dini hari tapi mataku belum juga terpejam. Kepalaku juga terasa pusing. Pikiranku melayang-layang entah ke mana. Aku hanya ingin membolak-balikkan tubuh berharap bisa memejamkan mata. Andai saja Mas Farus menghubungiku, pasti perasaanku akan mereda. Kenyataannya, sampai sekarang dia tidak melakukannya. Apa yang harus aku lakukan?

Lamunanku teralihkan. Aku beranjak, segera memeriksa ponselku yang kembali berdering. Mudah-mudahan Mas Farus. Tapi ...

“Apa kau ... tunggu, jangan ditutup!”

Bab 3

“Mas Farus?” Benar-benar tidak aku percaya. Ternyata bukan suamiku. Dia, kenapa seperti itu? Bunuh diri?

“Apa kau ... jangan ditutup!”

Nomor tidak dikenal menghubungiku. Suara itu, sangat aku kenal. Dia memanggil nama suamiku, lalu menutupnya? Benar-benar aku mengenalnya. Tapi, siapa? Berkata, ingin bunuh diri?

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus membongkar semuanya. Jujur, semakin berjalannya waktu hatiku semakin sesak. Mas Farus ... apakah kau memang menduakan aku? Apakah dokter magang itu adalah wanita simpananmu? Dari pada aku bertanya-tanya dan semakin gila. Aku akan nekat menghubunginya.

“Mas, aku harap kau menerimanya.”

Dengan cemas, aku masih menunggu suamiku mengangkat ponsel ini. Tapi, nada sibuk yang aku dengar. Apakah di sana tidak ada sinyal? Ah, dia pasti sangat sibuk dan ini tengah malam. Tentu saja dia tidak akan pernah mengangkatnya.

Sepanjang malam aku resah. Kedua mata ini sama sekali tidak bisa tertutup. Semakin aku berusaha terlelap, hatiku rasanya berdetak hebat lebih dari biasanya.

“Ibu, sarapan sudah siap,” ucap Mbok Sri membuyarkan lamunanku. Jelas-jelas aku tidak tertidur semalaman. Tanpa aku sadar, hari sudah pagi.

“Iya, Mbok. Aku akan segera turun,” balasku. Aku harus mencari informasi itu. Semuanya harus aku dapatkan hari ini juga, bagaimana pun caranya.

Dengan cepat aku menuju kamar mandi, menyalakan air shower. Air ini sangat segar sekali. Kepalaku yang terasa penat, kembali menghilang. Bergegas aku memakai blazer hitam, lalu celana kain. Aku akan melanjutkan untuk mencari bukti. Aku akan kembali ke rumah sakit itu dan menanyakan semuanya. Mungkin, melakukannya sendirian saja tanpa Melisa akan lebih baik.

“Bunda, kenapa matanya merah?” tanya Ema. Dia menatapku dengan serius. Aku tidak boleh terlihat cemas.

“Biasa, Kak. Pekerjaan Bunda, kan, banyak. Mengurusi masalah orang. Jadi Bunda lembur tadi malam,” balasku sambil mengambil sendok dan mulai melahap nasi goreng buatan Mbok Sri.

“Hmm, Bunda sudah dihubungi Ayah? Bagaimana kabar Ayah? Sudah dua hari Ana coba hubungi kok tidak bisa. Emang Ayah ke mana sih?”

Aku mendadak menghentikan gerakan. Alasan apalagi yang harus aku berikan untuk menenangkan mereka? Sementara, aku sendiri tidak tahu harus berkata apa.

“Bapak mungkin sibuk, Non. Setahu Mbok sih, kalau dokter di desa itu menjadi sukarelawan. Jadi, mengatasi penyakit yang macem-macem. Tidak ada sinyal juga. Maklum saja, Non.”

Mbok Sri menyelamatkanku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Untung saja kembar menerima dan diam.

“Kalian jangan terlambat. Hati-hati di jalan dan jadilah anak baik.”

Mereka bergantian memelukku lalu pergi menuju mobil penjemput. Hatiku benar-benar lega. Semoga saja mereka tidak memikirkan hal ini.

“Bu, maafkan saya,” ucap Mbok mendadak. Aku spontan memandangnya. Wajahnya terlihat sendu sambil menatapku. Aku merasa Mbok mengetahui perasaanku. Saat itu dia melihat aku menemukan foto itu.

“Sejak kejadian kemarin, saya terus memikirkan Ibu. Bapak tidak mungkin berbuat seperti itu, Bu. Saya yakin itu.”

Aku sedikit reda. Perkataan Mbok membuatku seperti tersiram air segar. Aku tersenyum, dan menganggukkan kepala.

“Aku pergi dulu ya, Mbok. Jaga rumah dengan baik. Mungkin aku lembur. Nanti katakan itu pada kembar ya, Mbok.”

“Hati-hati, Bu.”

Ya Tuhan, kumohon berikan aku kenyataan manis. Kalau aku sampai menemukan rahasia besar, lalu bagaimana dengan pernikahan selama dua belas tahun ini? Aku harus mempertebal prinsipku bahwa suamiku adalah yang terbaik. Dia sangat menyayangiku. Dia tidak mungkin akan melakukan itu.

Sepanjang perjalanan, aku berusaha menenangkan pikiran. Selama ini pernikahanku berjalan sempurna. Tidak ada cacat sama sekali. Sangat bahagia. Hingga detik ini, aku harus seperti ini.

Dalam sekejap aku sampai di parkiran rumah sakit. Tanpa sadar aku mengendarai sangat kencang. Aku masih diam sejenak menenangkan pikiranku. Baiklah, kali ini aku harus mendapatkan petunjuk. Dengan cepat aku berjalan masuk ke dalam ruangan informasi. Tapi, seseorang menarikku dengan kuat.

“Maya!”

“Sejak kapan kamu di sini, Mel?”

“Sejak kapan aku di sini itu hal yang tidak penting. Sekarang, katakan kepadaku! Kenapa kau ke sini lagi?” tanyanya sembari menekan kedua pundakku dan memberikan tatapan tajam.

“Mel, aku hanya ingin tahu. Sudah tiga hari Mas Farus tidak bisa dihubungi. Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana?”

“Sudahlah, jangan dibahas. Kita akan pergi ke kampus. Di sana kita akan bertanya kepada semua teman suamimu. Siapa tahu, mereka mengetahuinya. Kau jangan sampai membuat keributan di rumah sakit ini. Nama baik suamimu taruhannya. Kau mau suamimu terkena gosip dan dipecat? Maya, pikirkan itu.”

Tentu saja aku tidak mau. Melisa selalu benar. Kini dia yang mengendarai mobilku. Aku menyandarkan kepalaku, dan memejamkan kedua mataku. Hingga aku terbangun, dan sudah berada di kampusku dulu. Sepertinya aku tertidur.

“Sudah bangun?” tanya Melisa sambil tertawa. “Kau mendengkur sangat keras,” lanjutnya sambil menyodorkan sebotol minuman. Aku segera menerimanya. Meneguk air dingin ini sampai habis.

“Ayo Mel. Kita akan menanyakan kepada mereka semua.”

Melisa kini tidak cerewet seperti biasanya. Dia mengikutiku ke mana pun kakiku melangkah. Semua teman Mas Farus tidak tahu keberadaannya. Aku tidak menyerah. Semua yang berhubungan dengan Mas Farus, aku mintai keterangan. Namun, semua sia-sia. Tidak ada petunjuk apa pun yang bisa aku dapatkan.

Hari demi hari, petunjuk yang aku inginkan tidak aku dapatkan. Aku masih saja bersama Melisa mendatangi semua kenalan Mas Farus. Semua mantan dosennya, sahabatnya, bahkan beberapa pasien yang aku kenal. Mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan suamiku. Apalagi yang harus aku lakukan? Ini sudah di luar kendaliku. Kali ini aku benar-benar sangat marah. Seharusnya Mas Farus menghubungiku. Ini sudah enam hari! Dia sama sekali tidak memberi kabar!

Setelah enam hari berjalan mencari bukti bersama Melisa, aku menyerah. Tubuhku sudah tidak kuat. Mungkin jalan terbaik adalah menunggu Mas Farus untuk bertemu dan menjelaskan semuanya.

“Maya. Kita sudah berhari-hari mencari kabar. Sebaiknya kau hentikan saja. Besok, tanyakan semua kepada suamimu. Dia datang kan? Aku harap kamu tidak berbuat hal di luar kendalimu.”

“Terima kasih kau sudah membantuku, Mel. Kau adalah sahabat terbaikku.”

Aku memeluknya. Dia melambaikan tangan dan pergi menaiki taxi. Tapi ... ada satu hal yang ganjal. Kenapa Melisa tahu Mas Farus akan pergi selama tujuh hari? Aku tidak pernah ingat mengatakannya. Dari mana dia tahu?

Aku segera masuk ke dalam rumah, menepis rasa penasaranku. Mungkin saja aku memang mengatakannya tanpa sadar. Yang terpenting, aku harus memasang senyuman di depan kembar. Atau mungkin aku harus menghindari mereka saja. Hatiku masih tidak bisa aku tahan. Aku sangat kecewa dengan Mas Farus. Dia benar-benar di luar dugaanku. Apa salahku selama ini, hingga dia berbuat seperti itu? Selama enam hari dia sama sekali tidak memberiku kabar.

Malam semakin larut. Aku masih memandang luar jendela. Hingga aku terkejut. Mobil Mas Farus datang? Ini masih hari keenam. Bukankah dia mengatakan akan pergi selama tujuh hari? Hatiku sangat kesal. Kedua mata ini memejam dengan kuat, untuk menenangkan batinku yang bergejolak. Aku harus bisa menahan amarah.

Aku berjalan keluar kamar. Oh tidak, perasaan ini semakin menjadi. Aku sangat emosi. Ingin sekali meluapkannya! Tapi, aku melihat pemandangan cukup mengejutkan.

“Mas, kenapa kau terluka parah?” tanyaku segera mendekat. Aku semakin tidak percaya melihatnya. Ditambah, dia menyodorkan sesuatu berwarna pink ke hadapanku. Dengan bergetar aku menerimanya.

“Mas, apa ini undangan pernikahan?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED