Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan

Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan

9.4 / 10.0
Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur seketika. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering dipakainya hanyalah dusta untuk menutupi keluarga rahasia mereka. Kecewa karena telah mengorbankan impian demi dirinya, aku memilih pergi. Kini, aku siap mengambil beasiswa arsitektur di Singapura demi memulai hidup baru.
Ringkasan Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur seketika. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering dipakainya hanyalah dusta untuk menutupi keluarga rahasia mereka. Kecewa karena telah mengorbankan impian demi dirinya, aku memilih pergi. Kini, aku siap mengambil beasiswa arsitektur di Singapura demi memulai hidup baru.
Baca Selengkapnya

Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan Bab 1

Suamiku sedang mandi, suara air yang mengalir menjadi irama yang akrab di pagi hari kami. Aku baru saja meletakkan secangkir kopi di mejanya, sebuah ritual kecil dalam lima tahun pernikahan kami yang kukira sempurna.

Lalu, sebuah notifikasi email muncul di laptopnya: "Anda diundang ke Pembaptisan Leo Nugraha." Nama belakang kami. Pengirimnya: Rania Adeline, seorang influencer media sosial.

Rasa ngeri yang dingin langsung menusukku. Itu adalah undangan untuk putranya, seorang putra yang tidak pernah kuketahui keberadaannya. Aku pergi ke gereja, bersembunyi di balik bayang-bayang, dan aku melihatnya menggendong seorang bayi, anak laki-laki dengan rambut dan mata gelapnya. Rania Adeline, sang ibu, bersandar di bahunya, sebuah potret kebahagiaan rumah tangga.

Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Keluarga yang sempurna dan bahagia. Duniaku runtuh. Aku teringat dia menolak punya anak denganku, dengan alasan tekanan pekerjaan. Semua perjalanan bisnisnya, malam-malamnya yang larut—apakah dihabiskan bersama mereka?

Kebohongan itu begitu mudah baginya. Bagaimana bisa aku sebodoh ini?

Aku menelepon Program Fellowship Arsitektur di Singapura, sebuah program bergengsi yang kutunda demi dirinya. "Saya ingin menerima fellowship itu," kataku, suaraku terdengar sangat tenang. "Saya bisa segera berangkat."

Bab 1

Notifikasi email itu muncul di layar laptop Bima, sebuah pop-up minimalis yang elegan dari kalendernya. Suamiku sedang mandi, suara air yang menghantam kaca menjadi irama yang akrab di pagi hari kami. Aku baru saja meletakkan secangkir kopi di mejanya, sebuah ritual kecil dalam lima tahun pernikahan kami yang kukira sempurna.

Mataku menangkap kata-kata itu sebelum aku bisa berpaling.

"Anda diundang ke Pembaptisan Leo Nugraha."

Nama itu membuatku membeku. Leo Nugraha. Nama belakang kami.

Sebelum aku bisa mencernanya, notifikasi itu lenyap. Sekejap, dan hilang. Ditarik kembali. Seolah-olah tidak pernah ada.

Tapi sudah terlambat. Gambaran itu telah terpatri di benakku. Pengirimnya: Rania Adeline. Nama itu samar-samar kukenal, seorang influencer media sosial yang kehidupannya yang sempurna sering kali muncul di berandaku. Seorang wanita cantik dengan pengikut yang sangat banyak.

Rasa tidak nyaman, dingin dan tajam, menjalari perutku. Ini bukan sekadar email acak. Ini adalah undangan untuk putranya. Seorang putra yang tidak pernah kuketahui keberadaannya.

Alamatnya adalah sebuah gereja di pusat kota, waktunya ditetapkan sore itu juga.

Sebagian dari diriku ingin membanting laptop itu dan berpura-pura tidak melihat apa-apa. Kembali ke ilusi sempurna yang telah kubangun dengan hati-hati bersama Bima, CEO teknologi yang brilian dan karismatik yang mencintaiku.

Tapi sebagian diriku yang lain, yang lebih dingin dan lebih mendesak, tahu aku harus pergi. Aku harus melihatnya.

Kutinggalkan kopi di mejanya dan berjalan keluar dari rumah kami yang bersih dan minimalis, rumah yang telah kurancang sebagai monumen cinta kami.

Gereja itu terbuat dari batu tua, sinar matahari menyaring melalui jendela kaca patri. Aku berdiri di belakang, tersembunyi dalam bayang-bayang, jantungku berdebar kencang dan menyakitkan di dalam dada.

Dan kemudian aku melihatnya.

Bima. Bimaku. Dia berdiri di dekat bagian depan, tidak mengenakan setelan bisnisnya yang tajam, tetapi pakaian kasual yang lembut. Dia tampak santai, bahagia. Dia sedang menggendong seorang bayi, seorang anak laki-laki tampan yang terbungkus renda putih.

Seorang anak laki-laki dengan rambut gelap dan mata ekspresif Bima.

Anak itu, Leo, meniup gelembung dan terkikik, mengulurkan tangan mungilnya untuk menyentuh wajah Bima.

"Aku harap dia besar nanti jadi sepertimu ya, Yah," kata suara seorang wanita, lembut dan posesif.

Rania Adeline melangkah ke depan, lengannya melingkari pinggang Bima. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Bima, sebuah potret kebahagiaan rumah tangga. Senyumnya berseri-seri, matanya terpaku pada pria yang kusebut suamiku.

Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Keluarga yang sempurna dan bahagia.

Pikiranku kosong. Gelombang rasa kebas menyelimutiku, begitu dalam hingga aku merasa seperti melayang di luar tubuhku sendiri. Aku menyaksikan Bima mencium kening Rania, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke bayi itu, menggumamkan sesuatu yang membuat Rania tertawa.

Ini nyata. Semuanya. Wanita itu, bayi itu. Kehidupan rahasianya.

Aku melihat beberapa wajah yang kukenal di bangku gereja, rekan bisnis Bima, orang-orang yang pernah datang ke rumah kami untuk pesta makan malam. Mereka tersenyum pada pasangan bahagia itu, tidak menyadari sang istri yang berdiri dalam bayang-bayang, dunianya hancur berkeping-keping.

Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak sanggup berjalan ke sana, berteriak, menghancurkan momen sempurna mereka. Semangat juangku padam, digantikan oleh keputusasaan yang dalam dan hampa.

Aku berbalik dan melangkah pergi, menyelinap keluar dari pintu gereja yang berat itu dan kembali ke hiruk pikuk kota. Suara-suara itu terdengar teredam, jauh. Dunia terasa dingin, dan aku lebih dingin lagi.

Aku teringat percakapan beberapa bulan yang lalu, di hari jadi pernikahan kami.

"Bima," kataku, suaraku lembut. "Aku rasa aku sudah siap. Ayo kita punya anak."

Dia terdiam. Dia membuang muka, mengusap rambutnya dengan tangan. Sebuah gerakan yang selalu kukira berarti dia sedang berpikir, memproses.

"Jangan sekarang, Alana," katanya akhirnya. "Perusahaan sedang dalam tahap kritis. Beri aku satu tahun lagi. Aku ingin bisa memberikan segalanya untuk anak kita."

Aku telah memercayainya. Aku telah memercayai pria yang mengejarku tanpa henti di kampus, satu-satunya yang bisa melihat melampaui ambisiku menuju wanita di baliknya.

Dia adalah sainganku saat itu, kami berdua berada di puncak program arsitektur kami. Dia brilian, penuh semangat, dan dingin pada semua orang kecuali aku.

Aku ingat dia membawakanku sup hangat ketika aku begadang semalaman di studio, tangannya dengan lembut menggosok punggungku saat aku membungkuk di atas sketsa.

Aku ingat ketika aku terkena radang paru-paru, begitu sakit hingga aku nyaris tidak bisa berdiri. Dia tinggal di samping tempat tidur rumah sakitku selama tiga hari penuh, tidak tidur, hanya menjagaku.

Dia melamarku di kamar rumah sakit itu, suaranya bergetar dengan kerentanan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Aku tidak bisa kehilanganmu, Alana," bisiknya, keningnya menempel di keningku. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu."

Aku baru tahu belakangan kalau ibunya meninggal di rumah sakit yang sama. Ketakutannya terasa nyata, cintanya mutlak.

Kami menikah tepat setelah lulus. Perusahaan rintisan teknologinya meledak, dan dia menjadi pria yang diinginkan semua orang. Aku membangun karierku sendiri, tetapi aku selalu mengutamakannya. Aku mengubah rencana lima tahunku sendiri demi dia, demi kami.

Dan selama ini, dia punya keluarga lain.

Cinta itu, pengabdian yang kuyakini hanya untukku, adalah sebuah kebohongan. Sebuah pertunjukan.

Ponselku bergetar di sakuku. Itu dia. Aku menatap namanya di layar, tanganku gemetar. Akhirnya aku menjawab.

"Hei, kamu di mana?" Suaranya hangat, nada penuh kasih yang selalu dia gunakan padaku.

Di latar belakang, aku bisa mendengar suara samar bayi menangis, lalu suara Rania menenangkan anak itu.

Aku berdiri di seberang jalan dari gereja, mengawasinya melalui pintu yang terbuka. Dia memegang ponsel di telinganya, tersenyum saat berbicara denganku.

"Aku hanya sedang jalan-jalan," jawabku, suaraku sendiri terdengar asing dan rapuh.

"Aku terjebak rapat mendadak," katanya dengan lancar. "Aku akan segera pulang. Aku kangen kamu."

Kebohongan itu begitu mudah baginya. Meluncur begitu saja, mulus dan sempurna, seperti semua hal lain tentangnya. Setetes air mata akhirnya jatuh dan mengalir di pipiku, panas di kulitku yang dingin. Semua perjalanan bisnis itu, malam-malam larut di kantor. Berapa banyak yang dihabiskan di sini, bersama mereka?

Bagaimana bisa aku sebodoh ini?

Aku menelan benjolan di tenggorokanku, memaksakan suaraku agar tetap stabil. "Bima, aku perlu bertemu denganmu."

Dia ragu-ragu. Aku bisa melihatnya mengubah tumpuan berat badannya, senyumnya goyah sejenak. "Aku masih rapat, sayang. Bisa tunggu sampai aku pulang?"

"Tidak."

Tepat pada saat itu, anak laki-laki kecil itu, Leo, berjalan terhuyung-huyung dan memeluk kaki Bima.

"Ayah!" pekik anak itu.

Mata Bima melebar panik. Dia cepat-cepat membungkuk, mencoba membungkam anak itu sambil menjaga suaranya tetap rendah dan tenang untukku. "Itu hanya... anak salah satu rekan kerjaku."

Telepon mati. Dia menutup teleponku.

Aku menyaksikan dia menggendong anak itu, mencium pipinya dan membisikkan sesuatu yang membuat anak itu terkikik. Dia terlihat begitu alami, begitu nyaman. Ayah yang begitu baik.

Jantungku terasa seperti dicungkil keluar, hanya menyisakan kehampaan yang kosong dan menyakitkan. Bertahun-tahun hidupku, cintaku, terasa seperti lelucon.

Aku mengeluarkan ponselku lagi, jari-jariku bergerak sendiri. Aku tidak menelepon Ayla, sahabatku. Aku tidak menelepon pengacaraku.

Aku menelepon direktur Program Fellowship Arsitektur Internasional di Singapura. Program bergengsi selama enam bulan yang telah kuterima tetapi kutunda demi Bima. Sebuah program yang menuntut fokus total tanpa gangguan. Isolasi total.

"Saya ingin menerima fellowship itu," kataku, suaraku terdengar sangat tenang. "Saya bisa segera berangkat."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Dalam kisah romansa modern ini, David dan Arina memulai perjalanan emosional yang menuntun mereka pada kebahagiaan sejati. Berlatar keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan jiwa masing-masing. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tumbuh dengan begitu indah. Momen singkat di musim ini berhasil menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan cinta yang tulus, kuat, dan sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika yang butuh biaya medis besar dan donor langka, Alya terpaksa menerima tawaran Niko. Pengusaha kaya yang mendambakan keturunan itu mengajukan perjanjian ibu pengganti. Meski awalnya ragu, Alya menyetujuinya demi sang ibu. Tak disangka, benih asmara justru tumbuh di antara mereka hingga memicu pergolakan batin. Ketika sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Rencana kejutan ulang tahunku hancur saat memergoki kekasihku berselingkuh dengan pria kaya. Setelah dihina karena miskin, takdirku berbalik ketika pelayan keluarga terkaya mengungkap bahwa aku adalah pewaris sah Grup Nelson. Kini, berbekal kekayaan tanpa batas, aku siap membalas dendam. Saat mantan kekasihku bersujud memohon maaf, aku mengabaikannya dan melangkah ke dunia mewah. Bagiku, uang melimpah hanyalah deretan angka yang siap kuhabiskan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED