Bab 1

"Hari ini masak apa, Dek?” tanya Mas Edi ketika pulang kerja.

“Masak sayur sop,” jawabku.

Baru saja pintu utama rumah aku buka ketika Mas Edi pulang kerja dan belum pula aku mencium punggung tangan kanannya, eh, malah Mas Edi sudah mempertanyakan tentang menu makan malam.

Dengan cepat Mas Edi melangkah ke dalam rumah lalu duduk di ruang tengah rumah. Aku segera mencium punggung tangan kanannya lalu dengan segera pula kulepaskan jaket yang membalut tubuhnya. “Mandi dulu, Mas. Baru nanti kita makan bersama,” ucapku.

“Anak-anak mana, Dek?” tanya Mas Edi.

“Mereka lagi menonton televisi, Mas,” jawabku.

Aku segera berjalan ke dapur, aku mempersiapkan menu makan malam pada atas meja makan dengan menaruh jaket kotor Mas Edi ke keranjang khusus pakaian kotor agar besok bisa aku cuci.

Sementara itu, Mas Edi telah membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Anak-anak masih asyik menonton televisi.

______________

“Wah, masakan Ibu enak sekali,” puji anak sulungku. Delia.

“Iya, masakan Ibu enak sekali,” sahut si bungsu. Nurmi.

“Masakan Ibu kalian ini selalu enak,” puji Mas Edi pula padaku.

Aku hanya tersenyum lebar.

“Lagi?” tanyaku sembari mengambilkan sepotong ayam di dalam kuah sayur sop untuk Mas Edi.

“Tidak usah karena perutku sudah kenyang,” jawab Mas Edi sembari menghirup segelas kopi hangat buatanku tadi.

Setelah selesai makan malam, Delia dam Nurmi masuk ke kamar mereka masing-masing. Aku menyuruh mereka untuk segera tidur agar besok tidak kesiangan jika berangkat ke sekolah.

“Dek, ini uang.” Mas Edi memberikan sejumlah uang padaku ketika selesai makan malam.

“Banyak sekali, Mas?” tanyaku dengan kedua bola mata yang membulat.

“Itulah rezeki yang Allah beri untuk kita hari ini,” jawab Mas Edi.

Aku bersyukur karena selama beberapa minggu ini, Mas Edi selalu membawa uang banyak ke rumah. Namun, aku juga sangat heran rasanya pada Mas Edi. Tidak mungkin jika uang yang diberi oleh Mas Edi itu padaku adalah uang dari hasil ojol alias ojek online.

Satu juta rupiah per harinya. Penghasilan yang fantastis menurutku. Penghasilan segitu jika dijumlah selama satu bulan penuh mencapai hingga tiga puluh juta. Ya, terkadang bisa pula kurang atau bisa pula lebih. Enggak menentu, sih. Hasil segitu sudah bersih. Berarti sudah dipakai Mas Edi untuk membeli bensin dan rokok. Bahkan, sudah dipakai juga oleh Mas Edi untuk minum di warung Mbak Mila. Perawan tua yang punya warung di pojokkan gang ini. Bukan hanya Mas Edi saja yang sering minum di warung Mbak Mila, tetapi juga banyak kok sopir pick up, sopir truk, sopir angkot, dan ojek online yang mampir di warung Mbak Mila.

Mas Edi selalu pulang pada malam hari. Jika berangkat kerja Mas Edi selalu pagi sekali. Setelah Azan subuh Mas Edi sudah keluar rumah dan pulangnya selalu pada malam hari. Selambat-lambatnya pada jam sebelas malam.

Selama beberapa minggu ini aku tidak pernah mempertanyakan tentang penghasilan dari Mas Edi. Aku berpikir jika semua uang yang Mas Edi beri adalah rezeki dari Allah untuk keluarga kecil kami.

“Besok mau dimasakkan apa lagi, Mas?” tanyaku.

“Terserah kamu saja. Lagi pula aku selalu menyukai setiap masakanmu karena masakan istri itu lebih lezat ketimbang masakan yang lain,” jawab Mas Edi.

“Kalau masakan istri lebih enak, kenapa Mas sering nongkrong di warungnya Mbak Mila?” tanyaku. Perasaan cemburu mengelilingi pikiranku.

“Hanya minum saja di sana. Lagi pula juga banyak yang minum di sana. Bukan hanya para Bapak-Bapak saja, tetapi para Ibu-Ibu juga ada. Enggak usah cemburu seperti itu. Aku hanya milikmu seorang, Dek,” jawab Mas Edi. Bujuk rayu Mas Edi membuat aku terbuai lagi.

Aku tersenyum lebar sembari memulai ucapanku lagi. “Besok aku membuat rawon saja, ya.”

“Iya, tapi jangan lupa membuatkan nasi bungkus seperti biasanya,” jawab Mas Edi.

“Tiga Puluh bungkus?” tanyaku dengan kedua mata yang membulat.

“Iya. Kamu tidak keberatan kan, Dek?” tanya Mas Edi.

Aku menggelengkan kepala.

Setiap hari Mas Edi selalu memintaku untuk membuat tiga puluh nasi bungkus dengan menu yang berbeda-beda. Pernah aku mencoba menanyakan tentang nasi bungkus itu, tetapi Mas Edi tidak menjawab dan tatapan matanya aneh terhadapku. Akhirnya aku tidak pernah menanyakannya lagi pada Mas Edi. Aku tidak mau jika hanya karena nasi bungkus, aku dan Mas Edi menjadi bertengkar. Apa lagi kami tinggal di rumah kontrakan yang padat akan penduduk. Tentu saja tetangga akan mendengar pertengkaran kami. Aku juga tidak mau jika anak-anakku yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu mendengar pertengkaran kami. Lebih baik aku memilih untuk diam.

Lagi pula Mas Edi selama ini selalu baik padaku dan anak-anak juga pada orang tuaku. Namun, terkadang semakin lama aku semakin penasaran saja tentang perubahan sikap Mas Edi.

“Oh, ya, satu lagi belanjakan saja uang itu sesuai dengan keinginanmu dan sisanya kamu tabung untuk membeli rumah. Jadi, kita tidak harus tinggal di rumah kontrakan yang sempit seperti ini terus,” kata Mas Edi.

Aku menganggukkan kepala.

“Jika besok kamu mau masak rawon, maka nasi bungkusnya juga harus rawon. Antara nasi dan rawonnya dipisah. Sayur rawon itu dimasukkan saja ke dalam kantong plastik lalu dibuat ke dalam bungkus nasi. Apa kamu paham dengan apa yang kumaksud?” tanya Mas Edi.

Sekali lagi aku hanya bisa menganggukkan kepala.

“Jangan lupa seperti biasa, sebelum azan subuh sudah harus selesai. Jadi, sekalian aku berangkat kerja, aku bawa stiga puluh bungkus nasi itu. Jangan lupa sertakan juga setiap bungkus nasi itu dengan satu botol kecil air mineral,” kata Mas Edi.

Kali ini pula, aku juga menganggukkan kepala.

“Jika kamu sudah mengerti, maka aku akan istirahat. Aku lelah.”

“Aku pijatin ya, Mas?” tanyaku.

“Tidak perlu. Kamu juga pasti lelah karena seharian mengurus rumah dan anak. Namun, jangan lupa untuk mengurus dirimu sendiri juga jangan sampai kayak tetangga sebelah yang selalu mengurus rumah, suami, dan anak-anak, tetapi diri sendiri tak terurus.”

“Iya,” jawabku.

Jika tiga puluh bungkus nasi itu diminta oleh Mas Edi untuk aku membuatkan setiap harinya, maka setiap seminggu sekali Mas Edi juga memintaku untuk membungkus setengah gula pasir, sekotak teh celup, dan empat bungkus mie instan. Semua itu dibuat dalam tiga puluh bungkus pula.

Aku juga tidak pernah tahu semua itu akan dibawa ke mana? Diberi untuk siapa? Aku hanya diam dan menuruti semua keinginan Mas Edi.

__________

“Bu Sari sekarang banyak ya belanjanya,” ucap salah satu tetanggaku yang biasa langganan sayur dengan Mang Didin.

“Iya, nih setiap hari loh,” sahut Bu Retno.

“Ehm ... rezekinya lagi melimpah aja, Bu. Rezeki anak-anak,” jawabku.

“Kemarin itu aku melihat Pak Edi lagi mampir di warungnya Si Mila itu dengan membawa bungkusan terus bungkusan itu diberikan sama Mbak Mila. Perawan tua di ujung gang ini loh, Bu,” ucap Bu Retno.

“Masa sih Pak Edi seperti itu? Padahal Pak Edi itu kan tipe suami idaman, loh. Pak Edi pekerja keras, sayang istri, sayang anak, dan tidak banyak bicara,” sahut Bu Naila.

“Benar, Bu. Waktu itu kan hari minggu, aku ditemani oleh suamiku lari pagi biar segar jika pada pagi hari olahraga. Nah, kemudian mataku itu enggak sengaja melihat Pak Edi mampir ke warungnya Mbak Mila. Sekitar jam enam pagi.”

“Jam segitu warung Mbak Mila baru buka, Bu,” sahut Bu Naila.

Aku hanya diam saja disertai dengan mengerutkan kening.

“Ah, sudah. Membicarakan orang saja. Mana sayurnya biar aku total harganya,” ucap Mang Didin dengan segera meraih kalkulatornya.

Setelah belanjaanku dihitung jumlahnya oleh Mang Didin, aku segera melangkah masuk ke rumah dengan pikiran yang tak karuan. Perkataan Bu Retno tadi itu sama dengan perkataan anak sulungku tempo hari. Delia.

Dulu aku memang sempat tidak mempercayainya karena mungkin saja Delia salah lihat. Namun, kini ucapan Bu Retno seolah telah meyakinkanku. Coba aku tanyakan lagi kebenarannya pada Delia setelah ia pulang dari sekolah nanti.

Bab 2

Dulu aku memang sempat tidak mempercayainya karena mungkin saja Delia salah lihat. Namun, kini ucapan Bu Retno seolah telah meyakinkanku. Coba aku tanyakan lagi kebenarannya pada Delia setelah ia pulang dari sekolah nanti.

Aku menyimpan sayuran dan beberapa ikan segar juga daging ayam pada lemari pendingin seusai aku belanja sayur pada pedagang sayuran keliling yang biasa lewat di depan rumah. Mang Didin sudah sedari tadi berada di halaman rumahku karena masih ada beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur.

Pintu utama rumahku sengaja tidak kututup dengan rapat agar memudahkan Delia dan Nurmi masuk ke rumah. Mungkin beberapa jam lagi mereka akan segera sampai ke rumah. Delia dan Nurmi satu sekolah. Delia duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, sedangkan si bungsu Nurmi duduk di bangku sekolah dasar kelas dua. Setiap pulang sekolah mereka selalu pulang bersama. Nurmi selalu menunggu Delia di sekolah karena Nurmi selalu pulang lebih awal dari Delia. Antara jarak dari sekolah ke rumahku itu tidaklah jauh. Hanya ditempuh dengan berjalan kaki pun akan segera sampai dan tidak pula memakan waktu yang cukup lama.

Pagi tadi aku sudah memasak rawon. Tiga puluh bungkus sudah kuberikan pada Mas Edi untuk dibawanya. Masih banyak tersisa rawon di dalam panci. Itu aku perkirakan cukup untuk makan siang dan makan malam. Jika siang, Mas Edi tidak makan di rumah. Palingan Mas Edi makan di warung. Bisa pula makan di warungnya Mbak Mila. Jadi, hanya aku dan anak-anak saja yang makan siang di rumah. Barulah pada malam hari kami makan bersama Mas Edi.

Sejumlah sayuran yang kubeli pagi ini aku perkirakan cukup untuk makan buat besok. Aku memasak sayuran itu sebelum azan subuh dan setelah azan subuh harus sudah tersedia tiga puluh nasi bungkus.

Sebelum menunggu anak-anakku pulang sekolah lebih baik kupergunakan waktunya untuk mencuci pakaian. Setiap hari aku mencuci satu keranjang besar baju kotor. Antara baju dan celana dalam aku pisahkan terlebih dulu. Aku rendam saja dulu pakaian kotor itu karena terbesit di pikiranku akan menyapu halaman belakang rumah terlebih dulu. Namun, niatku untuk merendam satu keranjang pakaian kotor dengan detergen musnah seketika kudengar suara ketukan dari pintu utama rumah.

Jika anak-anakku pulang sekolah cepat, tidak mungkin mereka mengetuk pintu terlebih dahulu. Pasti mereka langsung masuk ke dalam rumah karena setiap harinya pintu utama tidak pernah kututup dengan rapat. Mereka sudah mengetahui akan hal itu. Jika ada yang mengetuk pintu, apa lagi berulang kali, berarti itu bukanlah anak-anakku.

Aku melangkah dengan cepat ke pintu utama rumah. Semakin cepat langkahku, semakin cepat pula terdengar bunyi ketukan pintu.

“Tunggu sebentar!” ucapku.

Seketika itu pula ketukan pintu terhenti.

Sesampainya aku di pintu utama rumah, dengan segera pintu kubuka secara perlahan. Namun, tidak sama sekali kulihat ada seseorang di depan pintu utama rumahku. Jalanan pada gang ini juga cukup sepi. Jarang ada sepeda motor melintasi gang kecil ini.

Aku berpikir lagi, “Tidak mungkin jika Delia dan Nurmi mengajakku untuk bercanda seperti ini.” Selama ini kedua buah hatiku itu tidak pernah mengajakku untuk bercanda seperti ini. Lagi pula saat ini masih pagi. Tidak mungkin jika Delia dan Nurmi sudah pulang dari sekolah. Mas Edi juga tidak mungkin mengajak aku bercanda seperti ini. Namun, jelas kudengar jika suara ketukan terdengar pada pintu utama rumahku.

Rumah tetanggaku juga terlihat sepi. Mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing. Anak-anak mereka juga semua pada sekolah. Pada sore hari barulah gang ini ramai karena anak-anak pada bermain, ibu-ibu pada keluar dari rumah ada yang menyapu halaman, ada yang mengajak anak-anak mereka jalan-jalan pada sore hari, ada pula yang bergunjing antara satu dengan yang lainnya, dan bapak-bapak hampir semuanya sudah pada pulang kerja.

Jika pagi hari hingga siang hari di gang ini masih dengan suasana sepi. Sepeda motor yang melintas pada gang kecil ini pun hanya bisa dihitung dengan jari. Semua pintu rumah pada di tutup. Para ibu-ibu ada yang berdagang di luar sana. Ada pula yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Para bapak-bapak sedang bekerja di luar rumah.

Mungkin hanya halusinasiku saja. Ini akibatnya jika terlalu banyak pikiran. Aku memalingkan tubuhku dan akan segera berjalan untuk menuju ke halaman rumahku. Namun, tak lama kemudian terdengar lagi bunyi ketukan pintu. Bunyi itu terdengar dari pintu utama rumahku. Lagi-lagi suara itu berasal dari pintu utama rumahku.

Sekali lagi aku memalingkan tubuhku lalu berjalan menuju ke arah pintu utama rumah. Semakin lama bunyi itu semakin cepat terdengar. Kali ini aku hanya diam saja. Namun, langkahku semakin cepat mengarah ke pintu utama rumah. Dengan segera kubuka perlahan lagi pintu utama rumah yang memang tidak kututup dengan rapat. Lagi dan lagi tidak ada seorang pun yang berada di ambang pintu. Aku segera melangkah ke teras rumah. Kulihat ke arah samping rumah, tetapi tidak ada juga kutemukan seseorang. Semua terlihat sepi.

Tak lama kemudian kulihat sepeda motor melintas di depan rumahku lalu kulihat pula tetanggaku yang di seberang rumahku membuka pintu utama rumahnya. “Lagi apa, Bu?” tanya tetanggaku itu.

“Lagi mencari seseorang. Tadi ada yang mengetuk pintu rumah, tetapi setelah kubuka pintu rumah, orang tersebut tidak ada,” jawabku.

“Mungkin Bu Sari hanya salah dengar saja,” jawab tetanggaku itu.

“Iya, mungkin juga.”

Sepertinya tetangga di seberang rumahku itu akan menjemput anaknya yang masih duduk di sekolah Taman Kanak-Kanak. Anak-anak yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak itu pulang sekolahnya lebih cepat ketimbang anak-anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar.

“Mari, Bu,” pamit tetanggaku itu.

Aku membalasnya dengan tersenyum lebar.

Sebelum aku melangkahkan kaki untuk masuk lagi ke dalam rumah, kulihat di sebelah pot bungaku yang berada di samping rumah ada sebuah surat. Dengan gemetar aku mengambil amplop tersebut. Dengan segera pula amplop itu kubawa masuk ke dalam rumah.

Berati ketukan pintu beberapa kali dari orang misterius itu hanya untuk memberitahu amplop ini. Pada sampul amplop itu tertulis nama suamiku “Untuk Mas Edi” hanya itu saja yang kulihat. Pada sampul amplop di belakangnya tidak tertera nama dari sang pengirimnya.

Dengan lancang kubuka amplop itu tanpa aku harus memberitahukannya pada Mas Edi terlebih dulu. Jika Mas Edi biasa main rahasia-rahasiaan dariku, begitu pula denganku juga akan bermain rahasia-rahasiaan dengannya. Jadi, mulai hari ini tidak ada keterbukaan di antara kami. Bukan aku yang memulai tentang semua ini, tetapi Mas Edi lah yang memulainya terlebih dulu.

Aku duduk di ruang utama rumah dengan merobek amplop itu perlahan sambil menunggu Delia dan Nurmi pulang dari sekolah lebih baik aku membaca isi surat itu. Niatku untuk menyapu halaman belakang rumah pun sirna seketika. Perasaanku terus diselimuti oleh kecurigaan yang tiada tara pada Mas Edi.

Bab 3

Aku duduk di ruang utama rumah dengan merobek amplop itu perlahan sambil menunggu Delia dan Nurmi pulang dari sekolah lebih baik aku membaca isi surat itu. Niatku untuk menyapu halaman belakang rumah pun sirna seketika. Perasaanku terus diselimuti oleh kecurigaan yang tiada tara pada Mas Edi.

Dengan gemetar tangan ini membuka amplop yang berisikan surat tanpa nama jelas dari sang pengirimnya disertai degupan jantung yang bergetar dengan hebatnya akhirnya amplop itu terbuka juga. Perlahan, tapi pasti dengan pelan aku membaca huruf demi huruf yang telah dirangkai rapi dan sedemikian rupa oleh sang penulisnya hingga menjadi tulisan yang indah dan mendayu di dalam sepucuk surat itu.

Teruntuk Mas Edi,

Sebelumnya aku meminta maaf karena telah lancang mengirim surat ini langsung ke rumahmu tanpa memberitahumu terlebih dahulu.

Aku tahu jika Mas Edi telah mempunyai istri dan dua orang anak, kuharap dengan kedatangan surat ini tidak merusak rumah tangga kalian.

Dengan datangnya surat ini ke rumahmu tanpa pengirim yang jelas tertera pada amplop surat berarti aku telah pergi jauh dari kota ini.

Terima kasih jika selama ini Mas Edi telah memberi kebahagiaan kepadaku dan ketiga buah hatiku. Mereka senang sekali akan kasih sayang yang Mas Edi beri untuk mereka.

Satu lagi, terima kasih pula atas semua materi yang Mas Edi beri untuk kami. Termasuk rumah dan seisinya. Semua kenangan tentang Mas Edi selalu aku simpan di dalam album foto. Ke mana pun aku dan anak-anak pergi melangkah, aku akan selalu membawa album kebersamaan kita.

Salam dariku,

“Apa?” kedua bola mataku membulat. Lemah semua persendianku. Seakan tidak ada urat lagi untuk bergerak.

Mas Edi yang kukenal baik dan penyayang, ternyata seperti ini di belakangku. Apa lagi jika aku baca di dalam surat ini jelas tertulis ketiga buah hati dari perempuan itu rasanya seperti retak hatiku. Seakan hatiku kini tidak berpenghuni lagi. Seakan kegelapan menyerbu pikiranku. Tidak ada kesemangatan di dalam hidupku. Berapa tahun mereka menjalin hubungan itu secara diam-diam hingga tercipta tiga buah hati diantara mereka? Untuk apa pula wanita itu memilih pergi dari kehidupan Mas Edi dan lebih baik mengalah dariku? Aku atau dia yang berada pada posisi perebut Mas Edi? Hah, aku pusing.

Di usia rumah tanggaku yang berjalan hampir sepuluh tahun. Bahtera rumah tanggaku terus-terusan di uji. Haruskah aku mundur ataukah memilih untuk bertahan dengan laki-laki yang telah sekian lama membohongiku?

Dengan rapat Mas Edi menutupi semuanya hingga kukira selama ini baik-baik saja dan betapa bodohnya aku karena aku selalu mempercayai semua perkataan dari Mas Edi.

“Jika kelak usia pernikahanmu sudah hampir sepuluh tahun, maka kamu akan terus-terusan mendapatkan ujian di dalam rumah tanggamu,” ucap ibu waktu itu. Pada awal aku baru saja melahirkan buah cintaku dengan Mas Edi. Buah cinta pertama kami. Delia.

“Kenapa seperti itu, Bu?” tanyaku dengan mengerutkan kening. Bingung.

“Seperti yang telah Ibu lewati dengan Bapakmu juga seperti itu. Ibu memilih bertahan dan bersabar dalam menghadapi semua konflik di dalam rumah tangga hingga akhirnya Ibu dan Bapakmu sampai kini tetap bersama. Bukan hanya Ibu saja yang pernah mengalami semua itu, tetapi sebagian orang juga pernah mengalaminya,” jawab ibu.

“Jika lebih dari sepuluh tahun?” tanyaku lagi yang semakin penasaran.

“Jika lebih dari sepuluh tahun kamu tetap bertahan dengan banyaknya ujian di dalam pernikahanmu, maka konflik di dalam pernikahanmu sedikit demi sedikit akan mereda dengan sendirinya. Ibarat kamu menanam padi lalu padi itu telah kamu jaga dengan baik dari berbagai hama hingga kamu akhirnya bisa memanennya,” jawab ibu.

Waktu itu aku hanya menganggap perkataan ibu sebagai angin lalu belaka. Namun, kini setelah kujalani pernikahan ini hingga delapan tahun barulah aku teringat akan perkataan ibuku. Inikah ujian yang begitu hebat di dalam rumah tanggaku?

Jika dulu aku dan Mas Edi kekurangan secara materi, itu sudah hal yang biasa. Tidak ada lauk, aku bisa membuat nasi goreng untuk dimakan. Asal ada beras, gas, garam, dan bawang di dapur. Itu sudah cukup bagiku. Jika ada rezeki berlebih, bolehlah sekali-kali makan enak. Itulah dulu kehidupan yang kujalani dengan Mas Edi. Namun, kini Mas Edi sudah berani bermain rahasia denganku.

Secara materi, saat ini aku tidak pernah kekurangan. Apa pun yang ingin kubeli selalu bisa kubeli. Makan enak, baju baru, dan perhiasan aku juga punya. Hanya rumah dan mobil saja yang aku belum bisa punya. Namun, aku masih mengumpulkan uang untuk mewujudkan semua itu. Uang satu juta rupiah itu hanya untuk mencukupi semua keperluan dapur, keperluanku, keperluan anak-anak, dan sisanya untuk di tabung. Untuk membuat nasi bungkus dalam setiap harinya, Mas Edi telah menyiapkan uangnya juga.

Masih ingat pada awal aku dan Mas Edi belum sanggup untuk mengontrak rumah, kami sementara tinggal di rumah orang tuaku.

“Duh, terima kasih. Hampir setiap hari jika pulang mengojek selalu saja membawakan Ibu dan Bapak camilan,” ucap ibuku.

“Apa itu, Bu?” tanyaku.

“Martabak,” jawab ibu.

“Kemarin Edi juga membawakan terang bulan,” sahut bapak.

“Aku dibawakan apa, Mas?” tanyaku sembari membalik telapak tanganku.

“Es krim,” jawab Mas Edi.

“Es krim lagi,” keluhku.

“Es krim itu baik untuk Ibu hamil,” kata Mas Edi.

Lagi pula es krim yang dibeli Mas Edi harganya tidaklah mahal. Namun, aku senang jika ia selalu memperhatikanku dan janin yang berada di dalam kandunganku.

Mas edi memang sangat perhatian kepada bapak dan ibuku. Tetanggaku sering bilang pada bapak dan ibu jika Mas Edi adalah memang menantu idaman. Begitu manisnya awal rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Edi. Mas Edi tidak pernah terselisih paham dengan saudara-saudaraku walaupun kami waktu itu tinggal satu atap hingga akhirnya Delia lahir ke dunia ini. Memasuki usia Delia yang ketiga bulan, aku dengan Mas Edi memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuaku dan memilih mengontrak yang letaknya cukup jauh dari orang tuaku. Aku dan Mas Edi ingin belajar mandiri agar tidak selalu tergantung kepada orang tua.

Bayangan itu pun sirna seketika. Kini pikiranku fokus kepada sepucuk surat yang berada di dalam genggamanku. Siapa nama wanita ini? Sepertinya wanita ini menyembunyikan nama dan alamatnya. Bukan hanya Mas Edi telah membohongiku selama bertahun-tahun yang membuat hatiku sakit, tetapi Mas Edi telah mempunyai tiga buah hati dari perempuan itu juga Mas Edi telah membelikannya satu buah rumah. Aku dan anak-anak hingga kini tinggal di rumah kontrakan sempit. “Sungguh keterlaluan!” geramku.

“Maaa ....,” panggil Delia dan Nurmi.

Anak-anak sudah pulang sekolah. Aku segera memasukkan surat itu ke dalam amplop lalu kumasukkan lagi amplop itu ke dalam saku baju dasterku.

“Iya, sayang,” jawabku.

“Tadi Delia lihat Ayah,” ucap Delia.

“Delia lihat Ayah lagi apa?” tanyaku.

“Ayah lagi ...” Delia seakan ketakutan padaku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED