"Tiga puluh hari saja, mas. Setelah Alifah genap tujuh tahun, aku siap untuk bercerai denganmu." Hanya itu permintaan Naima sebelum berpisah dengan suaminya. Mendengar hal tersebut Arga menghela napas.
"Tidak ada permintaan lain, selain itu." Arga menatap mata sendu istrinya. Wanita yang ia nikahi delapan tahun lalu.
"Tidak ada, hanya itu saja." Naima menggeleng. Setiap ucapan yang keluar terasa begitu ringan tanpa ada beban. Arga pikir dengan ia meminta ijin untuk menikah lagi, Naima akan marah dan berteriak histeris. Tapi ternyata Arga salah, justru sang istri memberinya ijin, dan hanya meminta waktu tiga puluh hari. Entah apa yang akan Naima lakukan selama tiga puluh hari itu.
Arga masih teringat ketika meminta ijin untuk menikah lagi, saat itu Naima hanya tersenyum lalu berkata. Akan menjawabnya tiga hari kemudian, dan ini adalah dari istrinya. Memberinya ijin untuk menikah, tetapi Naima meminta waktu tiga puluh hari sampai putri mereka genap tujuh tahun.
"Naima, mas mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Arga. Lelaki berkemeja putih itu melangkah menuju ranjang, lalu menjatuhkan bobotnya di sana. Malam itu Arga baru saja pulang dari kantor.
"Mau ngomong apa, mas? Ngomong aja." Naima mengikuti langkah suaminya, ia pun ikut menjatuhkan bobotnya di sebelah Arga.
"Naima, mas meminta ijin untuk menikah lagi. Apa kamu akan mengijinkan." Ucapan yang terlontar dari mulut suaminya mampu membuat Naima terdiam sejenak. Lalu wanita itu tersenyum, dan hal tersebut membuat Arga merasa heran.
"Tolong beri aku waktu tiga hari untuk menjawabnya, mas." Naima berkata dengan tenang dan juga senyum tetap menghiasi bibirnya. Sungguh Arga merasa bingung dan juga heran dengan sikap istrinya yang begitu tenang. Ia pikir Naima akan marah, memaki dirinya dan mungkin menangis histeris.
Tapi ternyata dugaan Arga salah, Naima begitu tenang dan juga tegar, bahkan wanita itu masih bisa tersenyum padahal suaminya meminta ijin untuk menikah lagi. Jika perempuan lain mungkin sudah berteriak dan juga mengamuk, namun tidak dengan Naima. Entah terbuat dari apa hati istrinya itu, sehingga tetap bersikap tenang meski badai tengah menerpa rumah tangganya.
"Mas, sarapan dulu. Katanya hari ini ada meeting." Ucapan yang terlontar dari mulut Naima mampu membuat Arga tersadar dari lamunannya. Seketika lelaki itu menoleh, pandangan mata keduanya saling bertemu.
"Iya, sebentar lagi mas turun." Arga mengangguk. Lalu bergegas turun ke bawah, di mana istri dan putrinya sudah menunggu.
Suasana meja makan begitu hening, kehangatan yang biasa Arga rasakan sebelumnya seketika lenyap bak diterpa oleh angin. Naima memilih untuk diam dan menikmati sarapannya, namun tidak dengan Arga. Justru rasa lapar yang sedari tadi ia rasakan seketika hilang.
***
Dua hari telah berlalu, sejak Naima memberikan jawaban jika Arga boleh menikah lagi. Lelaki itu merasa ada yang kurang, meski sang istri masih melakukan kewajibannya seperti biasanya. Namun tetap saja ada yang kurang, entahlah Arga seperti menyesali akan keputusannya. Tapi semua itu harus Arga lakukan karena suatu hal.
"Sini, mas aku bantu." Naima mengambil dasi dari tangan suaminya. Lalu dengan cekatan wanita itu memasangnya di leher suaminya, Arga menggunakan kesempatan ini untuk memandang wajah ayu sang istri.
"Sudah selesai, sarapannya di bawah sudah siap. Em, hari ini aku ijin untuk berangkat lebih awal ya, kasihan Alifah kalau kesiangan," ungkap Naima seraya membantu sang suami memakai jasnya.
"Kamu enggak sarapan dulu." Arga mencekal pergelangan tangan Naima ketika wanita itu hendak melangkah.
Naima tersenyum. "Aku belum lapar, mas. Ya sudah aku juga mau siap-siap."
Arga terus memandangi istrinya yang tengah bersiap-siap untuk pergi bersama dengan putrinya. Hari ini adalah jadwal Alifah untuk melakukan kemoterapi, bocah yang usianya belum genap tujuh tahun itu harus berjuang melawan penyakitnya.
"Mas aku pergi sekarang ya, assalamu'alaikum." Naima mencium punggung tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalaam, hati-hati di jalan. Maaf karena mas tidak bisa menemani kalian," ucap Arga.
Naima tersenyum. "Tidak apa, bukankah kami sering pergi berdua. Lagi pula hari ini kamu dan Arin akan fitting baju kan. Ya sudah aku pergi sekarang."
"Bisa-bisanya Naima tersenyum seperti itu. Padahal hari demi hari yang terlewati ini, akan terus berkurang. Dan itu artinya hanya waktu yang tersisa saja, di mana kami masih bisa bersama," gumamnya. Arga benar-benar dibuat bingung oleh sikap istrinya sendiri.
Setelah itu Arga memutuskan untuk segera bersiap dan pergi. Namun tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat ada sebuah buku yang tergeletak di lantai, tepatnya di depan lemari pakaian milik istrinya. Karena penasaran Arga mengambil buku tersebut, lalu membukanya.
Arga cukup terkejut ketika melihat isinya, dalam buku tersebut tertulis sebuah daftar. Mulai dari biaya operasi caecar, biaya operasi pengangkatan rahim, lalu biaya nafkah selama lima tahun. Dan itu sudah termasuk biaya sekolah Alifah. Sejujurnya Arga cukup bingung dengan daftar itu, tapi dari tulisannya tertera jika itu tulisan sang istri.
Arga cukup terkejut ketika melihat isinya, dalam buku tersebut tertulis sebuah daftar. Mulai dari biaya operasi caecar, biaya operasi pengangkatan rahim, lalu biaya nafkah selama lima tahun. Dan itu sudah termasuk biaya sekolah Alifah. Sejujurnya Arga cukup bingung dengan daftar itu, tapi dari tulisannya tertera jika itu tulisan sang istri.
***
"Apa maksud Naima menulis semua ini." Arga masih memegangi buku tersebut, ia masih bingung dengan daftar yang tertulis di buku itu. Mungkinkah ada rahasia yang Naima sembunyikan selama ini, tapi apa, kenapa Arga tidak pernah tahu.
"Aku yakin, pasti ada yang Naima sembunyikan dariku. Lebih baik aku simpan buku ini, suatu saat pasti Naima akan mencarinya." Arga membuka lemari pakaian miliknya, lalu menyimpan buku tersebut.
Tiba-tiba saja ponsel Arga berdering, khawatir ada yang penting, lelaki berjas hitam itu langsung mengambil benda pipih miliknya. Ketika di cek, tertera nama Arin di layar ponselnya, Arga menghela napas lalu menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
[Sayang kamu di mana, kok lama banget. Aku udah nungguin dari tadi]
[Iya, sayang. Maaf ya, ini mau berangkat kok]
[Ya udah buruan]
Sambungan telepon terputus, setelah itu Arga kembali mengantongi ponselnya. Gegas melangkah keluar dari kamarnya, Arga harus segera menjemput Arin, jika tidak calon istrinya itu pasti akan ngambek. Entah kenapa setelah membaca daftar yang tertulis di buku milik istrinya, membuat hati Arga menjadi khawatir.
Mobil melaju menyusuri jalanan ibu kota yang cukup padat akan kendaraan. Sesekali Arga melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu semakin siang, padahal Arga membuat janji akan menjemput Arin tepat pukul tujuh. Tapi apa, sekarang sudah jam tujuh lewat, pantas saja Arin sampai menelponnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Arga sampai ke tempat tujuan, yaitu rumah Arin. Melihat calon suaminya datang, Arin bergegas masuk ke dalam mobil, setelah itu Arga kembali melajunya. Kini mobil kembali membelah jalanan ibu kota untuk sampai ke butik, tempat mereka akan melakukan fitting baju pengantin.
"Maaf ya, karena kamu kelamaan nunggu," ucap Arga untuk memulai percakapan, walaupun sesungguhnya ia sedang malas bicara.
"Tidak apa, yang penting jangan diulangi lagi," sahut Arin, wanita itu kini tengah sibuk dengan kaca kecil di tangannya. Memastikan kecantikan wajahnya telah sempurna.
"Oya, kapan kamu sama Naima bercerai?" tanya Arin tiba-tiba. Arga sempat terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Naima meminta waktu tiga puluh hari, setelah Alifah genap tujuh tahun. Kami akan bercerai," jawab Arga. Entah kenapa hatinya terasa sakit ketika mengatakan jika ia dan Naima akan bercerai. Hati kecilnya tidak rela jika harus berpisah dengan wanita yang hampir tujuh tahun itu menemaninya. Walaupun Arga akui, ia jarang sekali memperhatikan Naima dan juga Alifah.
"Tiga puluh hari, ada-ada aja. Tapi terserah lah, yang penting kalian bercerai. Karena aku ingin menjadi istrimu satu-satunya," kata Arin. Wanita itu kini sibuk dengan benda pipih miliknya, sedangkan Arga memilih fokus untuk menyetir.
"Naima, apa aku sanggup untuk berpisah dengannya," gumam Arga dalam hati. Dadanya terasa sesak ketika membayangkan harus berpisah dengan kedua bidadarinya.
***
Setelah hampir seharian Arga menemani Arin, kini lelaki itu baru saja pulang ke rumah. Badannya cukup lelah, bahkan pikirannya sejak pagi tidak bisa diajak kompromi. Tak heran jika Arin sering protes gara-gara Arga sering melamun. Bukan itu saja, beberapa kali Arga juga sering menyebut nama Naima ketika Arin memanggilnya.
"Kok tumben jam segini sudah sepi, padahal baru jam delapan, biasanya juga masih pada nonton TV." Arga melangkah menuju ruang tengah, suasana rumah cukup sepi. Padahal biasanya jam delapan istri dan anaknya masih menonton televisi. Tapi malam ini tidak.
"Apa mungkin mereka udah pada tidur." Arga melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar, terlihat jika Naima tengah membongkar isi paper bag, sepertinya istrinya itu baru saja berbelanja. Arga melangkah mendekati sang istri, menyadari suaminya sudah pulang. Naima menoleh lalu menunjukkan baju yang sedang ia coba, ia ingin meminta pendapat sang suami.
"Mas kamu udah pulang, lihat gamis ini bagus nggak." Naima berputar di hadapan suaminya seraya memakai gamis yang baru saja ia beli.
"Bagus, warna dan modelnya sangat cocok di tubuhmu," ujar Arga. Jujur, Naima terlihat begitu cantik memakai gamis tersebut.
"Tumben kamu beli gamis," ujar Arga kemudian.
Naima tersenyum. "Aku ingin merubah penampilanku, dan satu lagi bukankan malam ini kita mau makan malam di rumah mama. Kamu lupa, mas? Setahuku Arin juga diundang."
"Astaghfirullah, iya mas sampai lupa. Padahal tadi Arin sudah mengingatkan." Arga menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa.
"Ya sudah, sekarang mas mandi aja dulu. Bajunya aku yang siapin," ucap Naima.
Arga hanya mengangguk, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ketika hendak membuka kemejanya, mata Arga tidak sengaja menemukan gumpalan rambut yang tersangkut di lubang pembuangan air. Karena penasaran Arga mengambil gumpalan rambut tersebut.
"Rambut milik siapa ini, mungkinkah rambut Naima. Kok bisa rontok sebanyak ini," ucap Arga seraya memperhatikan gumpalan rambut tersebut. Entah kenapa pikiran Arga menjadi kacau, Naima yang tiba-tiba ingin merubah penampilannya dengan menutup auratnya, lalu gumpalan rambut tersebut. Yang sebelumnya tidak pernah Arga temukan.
"Rambut milik siapa ini, mungkinkah rambut Naima. Kok bisa rontok sebanyak ini," ucap Arga seraya memperhatikan gumpalan rambut tersebut. Entah kenapa pikiran Arga menjadi kacau, Naima yang tiba-tiba ingin merubah penampilannya dengan menutup auratnya, lalu gumpalan rambut tersebut. Yang sebelumnya tidak pernah Arga temukan.
***
Usai mandi Arga bergegas untuk memakai pakaian yang telah Naima siapkan. Sementara wanita itu kini sudah menunggu di bawah, tentunya bersama dengan Alifah. Setelah penampilannya sempurna, Arga beranjak turun. Pandangannya kini tertuju ke arah Naima, istrinya itu terlihat begitu cantik memakai gamis dan jilbab yang warnanya senada.
"Masya Allah, Naima. Baru kali ini aku melihat Naima begitu cantik dengan penampilannya," gumam Arga dalam hati, matanya seperti tidak bisa berkedip melihat kecantikan istrinya.
"Papa lihatin, bunda terus. Bunda cantik banget ya, pa." Ucapan yang Alifah lontarkan mampu menyadarkan Arga dari lamunannya. Seketika Arga tersenyum, lalu melangkah mendekati mereka berdua.
"Bundamu selalu berpenampilan cantik, tapi untuk yang kali ini. Bundamu memang sangat cantik, seperti bidadari surga," puji Arga. Mendengar pujian dari suaminya, Naima hanya tersenyum.
"Apa sih, mending kita berangkat sekarang saja. Nanti keburu malam," ucap Naima.
"Ya sudah, ayok." Arga merangkul pundak istrinya. Mereka bertiga bergegas untuk pergi, namun baru saja hendak keluar dari rumah. Tiba-tiba ponsel Arga berdering, dengan terpaksa lelaki itu mengambil benda pipih miliknya. Lalu memeriksa, siapa yang telah menelponnya.
"Arin." Arga melirik ke arah istrinya, Naima hanya mengangguk. Lalu Arga menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
[Halo, ada apa Rin]
[Sayang, kamu jemput aku ya. Mobil aku mogok]
[Sekarang kamu ada di mana? Masih di rumah atau sudah ada di jalan]
[Udah di jalan, nanti aku share-lock]
[Ya sudah, nanti aku jemput]
"Kenapa, mas?" tanya Naima.
"Mobil Arin mogok, nanti kita sambil jemput dia ya. Kamu enggak keberatan kan," jawab Arga.
"Lebih baik sekarang kamu jemput Arin saja, aku sama Alifah bisa diantar sama mang Jono kok," putus Naima. Seketika Arga terdiam, kenapa ia merasa tidak tega jika dirinya pergi menjemput Arin. Sedangkan Naima yang jelas-jelas istrinya, justru diantar oleh supir.
"Tapi .... "
"Udah buruan sana, kasihan Arin kalau terlalu lama nunggunya." Naima memotong ucapan suaminya dengan tersenyum.
"Ya sudah, mang Jono. Tolong antar Naima dan Alifah ke rumah mama, ingat jangan ngebut." Arga pasrah. Lalu memerintahkan mang Jono untuk mengantarkan Naima serta Alifah.
Setelah mobil yang membawa istri serta putrinya menghilang dari pandangan matanya. Arga bergegas masuk ke dalam mobil, melajunya meninggalkan halaman rumah miliknya. Tujuannya adalah tempat di mana Arin sudah menunggu dirinya. Naima benar-benar wanita yang hatinya sangat mulia. Mengijinkan suaminya untuk menjemput calon istrinya, dan rela dirinya untuk pergi diantar oleh supir pribadi sang suami.
***
Hari telah berganti, sejak malam itu Naima benar-benar merubah penampilannya. Tubuhnya tertutup oleh gamis, sedangkan rambutnya ditutup oleh jilbab, bahkan tidur pun Naima masih memakai penutup kepala. Jujur, Arga merasa heran dengan perubahan istrinya yang menurutnya mendadak itu.
Ketika ditanya, Naima selalu menjawab ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mendengar jawabannya, Arga tidak bisa berkutik lagi, bukankah seorang wanita akan lebih baik menutup auratnya. Terlebih wanita yang telah memiliki seorang suami, namun perubahan Naima benar-benar membuat Arga menaruh rasa curiga.
Pagi ini Arga tengah sibuk menyiapkan berkas yang harus ia bawa ke kantor. Namun tiba-tiba pandangan teralihkan ke arah Naima yang sedang mengobrak-abrik lemari pakaian miliknya. Karena penasaran akhirnya Arga bangkit dan melangkah mendekati istrinya, namun sebelumnya ia mengambil sesuatu yang mungkin sedang dicari oleh Naima.
"Kamu nyari ini." Arga berucap seraya menunjukkan sebuah buku. Seketika Naima menoleh, wanita berjilbab maroon itu sedikit terkejut.
"Mas kok .... "
"Ini buku milik kamu kan, soalnya ada data diri kamu juga." Arga memotong ucapan istrinya, lalu melangkah mendekati wanitanya itu.
"Mas tolong kembalikan, kenapa kamu ambil buku itu. Enggak bilang lagi." Naima hendak merebut buku tersebut, namun dengan cepat Arga mengangkat tangannya.
"Mas akan mengembalikan buku ini, tapi sebelumnya kamu harus jujur dulu. Tolong jelaskan maksud dari daftar ini." Arga menurunkan tangannya, lalu membuka buku tersebut. Menunjukkan sebuah daftar yang harus Naima jelaskan.
Naima cukup terkejut, tetapi ia berusaha untuk tetap bersikap tenang. Mungkin saatnya harus berkata jujur, Naima menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Naima mengambil buku tersebut, lalu menjatuhkan bobotnya di tepi ranjang.
"Ini adalah daftar uang yang akan aku kembalikan setelah kita resmi bercerai nanti," ucap Naima, seketika Arga terkejut. Ia benar-benar tidak mengerti akan maksud dari perkataan istrinya itu.
"Dikembalikan, maksud kamu." Arga menatap netra sendu milik istrinya.
"Iya dikembalikan, mama yang memintanya. Bukankah ini tradisi di keluarga kamu, mas. Mengembalikan uang yang pernah seorang suami berikan kepada istrinya setelah mereka bercerai. Dan ini adalah daftar uang yang akan aku kembalikan nanti," jelasnya. Seketika Arga terdiam, di keluarganya memang ada tradisi seperti itu. Tapi setahu Arga tradisi itu sudah lama tidak digunakan, tapi kenapa sekarang kembali digunakan.