"Fara! Bangun, gak?! Gak bangun, Mama siram pakai air es!" Mama mengomel di pintu kamarku.
Kutendang selimut dari tempat tidur, lalu duduk dan meregangkan tubuhku sambil menguap. Sungguh, aku masih ngantuk banget, aku baru tidur jam tiga pagi setelah membaca novel 'Destined Ones' sampai tamat. Itu adalah sebuah novel fantasi tentang werewolf yang saat ini sedang naik daun, karya artis idolaku.
Kulihat Mama geleng-geleng kepala, dan aku pun nyengir. "Selamat pagi, Mamaku sayang."
"Pagi apanya, udah siang! Ini udah jam 9, lho. Katanya mau kornet goreng telur, cepetan beliin. Gosok gigi dulu." Mama lanjut mengomel, lalu meninggalkan kamarku untuk kembali ke dapur, masih sambil ngomel. "Anak gadis bangun jam segini, pasti gak sholat subuh."
"Aku lagi mens, Maaa." Teriakku sambil memasuki kamar mandi.
Setelah cuci muka dan gosok gigi, kuambil sweater yang menggantung di gantungan baju sekenanya. Aku tidur dengan legging hijau milik Mama dan tank-top, dan sweater yang kuambil ternyata warna merah, sweater kakakku yang kapan waktu kuambil dari kamarnya.
Duh, aku kayak pohon natal kalau pakai ini. Tapi males mau cari yang lain. Lagian udah terlanjur diambil.
Gakpapa deh, cuma ke samping rumah bentar aja.
Kupakai sweater tadi dan kurapikan rambut kriwilku sebisanya dengan tangan, lalu turun ke lantai bawah untuk minta uang ke Mama.
"Fara pakai baju yang bener gitu lho, Far. Dikira orang gak dibeliin baju sama orang tuanya," omel mama begitu melihatku.
Aku menngedikkan bahuku. "Cuma ke samping aja loh, Ma. Sapa juga yang bakal peduli."
"Ya kali aja ketemu jodoh, hayo." Papa yang sedang makan keripik singkong, ikut-ikutan.
Aku memutar bola mataku, dan keluar dari rumah.
Surabaya panas banget, belum juga jam 9.30 pagi, rasanya matahari udah kayak di ubun-ubun.
Aku mendorong pintu kaca Alfamart, dan berteriak mendahului para karyawan yang sudah bersiap-siap memberi salam pada pengunjung. "Gak usah kasih salam, ini Fara!"
Karena toko waralaba ini letaknya persis di samping rumah, semua karyawannya sudah kenal sama kami sekeluarga.
Aku mendengar mereka tertawa.
Segera kuambil kaleng kornet sapi, tapi karena letaknya ada di rak paling atas, saat kusenggol, kalengnya jatuh dan menggelinding ke kolong rak.
Waduh!
Aku telungkup di lantai dan merogoh ke kolong untuk meraih kaleng tersebut. Saat itu, kudengar karyawan-karyawan toko memberi salam pada pengunjung yang baru saja masuk.
Tak lama kemudian, dari sudut mataku, kulihat seseorang telungkup di sampingku. Dia meraih kalengku yang jatuh dengan mudah karena ... jelas dia lebih tinggi dari aku dan tangannya lebih panjang.
Aku duduk dan dia menyodorkan kaleng kornet kepadaku. Aku menerimanya, lalu bilang, "Makasih."
Saat aku melihat wajah orang yang barusan menolongku, rasanya kayak mimpi. Bule, guanteng banget, dan matanya, dia punya mata warna abu-abu. Kayak pernah lihat, tapi di mana ya?
"Um ... thanks," kuulang ucapan terima kasihku, khawatir dia nggak ngerti bahasa.
Dia lihatin aku kayak aneh gitu, pasti karena rambutku yang kayak singa, atau paduan bajuku yang udah kayak kostum natal.
"Sama-sama," jawabnya pelan, masih sambil lihatin aku kayak tadi.
Aduh, bener kata Mama. Harusnya aku pakai baju yang bener. Kalau tau bakal ketemu 'Hottie', aku rela pakai dress dan catokan dulu biar pun cuma keluar ke samping rumah. Malu-maluin banget aku ini.
Buru-buru aku berdiri dan lari ke kasir. Lalu saat selesai bayar, cepat-cepat aku berlari pulang.
Kuserahkan kaleng kornet pada Mama yang sedang duduk di kursi pantry.
"Kok pilih yang penyok sih, Far?" protes si mama.
"Ya tadinya gak penyok, Ma. Terus jatoh, kan Fara gak nyampek karena raknya ketinggian."
Mama memutar bola matanya.
"Pucet banget kamu, kayak habis liat hantu," komentar mama.
Aku mengangguk antusias. "Hantunya, ya yang bantuin Fara ambil kaleng ini dari kolong rak."
"Ngomong opo toh, Fara iki? Siang-siang kok ngomongin hantu," sungut Papa setelah menjitak kepalaku.
"Habisnya, kayaknya mustahil ada cowok seganteng itu," gumamku.
"Lebih ganteng dari Papa?" tanyanya heran, berusaha terlihat serius.
Papaku blasteran. Oma, almarhumah nenekku adalah wanita asal Perancis yang menikah dengan Opa, pria keturunan Cina-Jawa asli Surabaya. Papa selalu bilang kalau aku dan kakakku, Fabian, mirip banget sama Oma, apalagi Fabian yang matanya biru. Tapi menurutku aku mirip Papa, kecuali rambut kriwil yang aku dapat dari Mama meskipun warnanya cokelat seperti rambut papa dan Fabian.
Adrian Armand namanya. Di usianya yang ke-53 dan tak lagi muda, Papaku masih punya badan tinggi besar dan berotot, yang sering dia salah gunakan untuk menakuti setiap cowok yang mendekatiku. Usiaku 17 tahun dan sama sekali belum pernah pacaran.
"Iya," jawabku. Papa memelas.
"Masa ada yang lebih ganteng dari Papa?" tanyanya sedih.
"Gak ada ... kalau kata Mama," jawabku, Mama tertawa.
Sambil makan siang, Mama cerita, kalau sahabatnya dari SMP, Tante Nadia, sudah balik ke Indonesia dan kali ini sepertinya akan menetap. Papa menanggapi dengan antusias, karena mereka juga teman dekat. Dulu, Tante Nadia lah yang mengenalkan Mama pada Papa.
"Wah, bikin barbeque party yok, kita undang Nadia sekeluarga," saran Papa.
"Yuk, sekalian kenalin Fara sama anaknya Nadia. Dia seumuran Fara, ganteng, baik,sopan lagi," sahut Mama.
"Paling, anaknya Tante Nadia juga takut sama Papa," sungutku skeptis.
Mereka tertawa, kelihatan kalau sama sekali nggak khawatir sama nasip anaknya yang entah sampai kapan akan jomblo ini.
Beberapa hari kemudian, baru saja aku kunci pintu toko setelah mengantar papa ke luar. Papa pamitan mau nge-band sama teman-temannya, dan saat aku baru masuk rumah, bell sudah berbunyi lagi.
Keluargaku mempunyai sebuah toko binatang peliharaan, kebanyakan pengunjung memang datang di sore dan malam hari, kecuali di hari libur, dan toko akan ramai dari pagi sampai malam.
Dulu, papa bayar tiga orang karyawan. Satu orang groomer, satu kasir, dan satu lagi untuk jaga toko. Namun, saat Fabian dan aku sudah besar, cuma ada groomer dan kasir, karena kami bisa gantian jaga toko. Karyawan datang pada pagi hari, dan pulang saat sore hari, jadi saat malam kami yang melayani konsumen. Selain itu, papa punya tiga rumah di sekitar sini yang dijadikan kos-kosan, juga bisnis jual-beli tanah.
Sebelum membuka pintu kaca toko kami, perhatianku tercuri oleh kucing jenis Bengal yang berdiri melompat-lompat dan kaki depannya menggaruk-garuk pintu kaca. Sudah jadi kebiasaan burukku, jika ada pengunjung yang membawa hewan peliharaannya, yang kusapa duluan pasti hewannya.
Aku membuka kunci lalu pintunya, dan langsung jongkok untuk menyapa si meong, tak kuduga dia langsung nemplok ke pelukanku, astaga, lucuuu sekali.
"Siapa yang ngebell, Far?" Mama berteriak sambil masuk ke toko melalui pintu dalam.
"Assalamualaikum, Tante. Saya mau beli snack buat Tofu, gak taunya Tante yang punya toko," kata yang punya meong, aku merasa seperti pernah denger suaranya.
"Wa'alaikum salam. Eh Dominic, ayo masuk. Fara ngapain jongkok di situ?! Ini lho disamperin anak perjaka ganteng!"omel Mama.
Ya ampun, Mama malu-maluin banget.
Aku pun berdiri, lalu beralasan, "Ini lho Ma, pusnya lucu."
Sungguh, kucingnya emang lucu banget!
"Ini Fara, anak Tante. Dom ini anaknya Tante Nadia, temen Mama yang baru pindah dari Amerika." Aku melihat ke arahnya.
Astaga, itu Hottie kemarin.
Duh, gantengnya bikin pusing.
Dia mengulurkan tangan dan aku menjabatnya. Nyetrum sih, ini. Saat aku akan menarik tanganku, dia menahannya sedetik lebih lama. Sudah mau copot hatiku.
"Hi Fara, nice to meet you. Pretty name for a pretty girl." Aduh, gombalannya murahan, tapi aku telan juga bulat-bulat.
Senyumnya ... Ya Allah, nikmat mana yang Kau dustakan?
Mama ajak dia masuk untuk nyicipin kue yang barusan kami buat. Tofu, anjingnya, dibiarkan di toko untuk main sama kucing kami, Lilo. Mama dan Dom ngobrol banyak, asli dia ramah dan asik banget orangnya, Mama yang biasanya cuek aja nyambung. Tapi aku gak nyambung mereka ngomong apa, liat dia aja deg-degan. Aku iya-iya aja kayak orang bloon.
Saat Mama sedang sibuk bungkus kue untuk dia bawa pulang, Dom duduk di sampingku. Tanpa basa-basi, dia senyum manis banget, lalu minta nomor hapeku. Aku kasih dong, masa engga?
Aduh, bakal mimpiin dia ini aku nanti malem. Cewek macem apa yang gak bakal kecantol sama cowok modelan Dom?
Ada mungkin, yang gay.
Hands up!
Bang! Bang!
*Suara sirine*
Aku meloncat dari tempat tidur karena kaget.
Dan kakiku menginjak sesuatu yang lembek di lantai, tepat di samping tempat tidur.
"AAAAAAAAAAAAAHHHH!" teriakku.
Brakk!
Pintu kamarku copot karena didobrak Papa. Padahal gak dikunci.
Melihat pintu yang terbuka, Lilo lari keluar dari kamarku.
Setengah jam kemudian...
Aku dan Papa duduk di sofa ruang tamu, sedang diomelin Mama. Terdengar suara pak tukang sedang memperbaiki pintu kamarku.
Jadi ...
Aku memang sering bawa Lilo ke kamar, hanya saja semalam, aku lupa balikin dia ke toko. Dia poop di samping tempat tidurku.
Paginya, aku kaget dengar ringtone keras banget. Kakakku telepon pagi-pagi sekali, aku kaget dengar ringtone yang kupasang sendiri itu, lompat dari tempat tidur, dan menginjak poop-nya Lilo. Lalu teriak karena frustrasi.
Papa yang masih tidur, kaget dengar anak gadisnya teriak. Saking panik dan khawatirnya, Papa langsung lari ke lantai atas dan dobrak pintu kamarku, tanpa coba buka dengan normal.
Pagiku epic.
"Pintunya sudah dipasang, Bu ...," kata Pak Tukang yang tiba-tiba sudah ada di ruang tamu.
"Iya Pak Munir, makasih banyak Pak, mau direpotin pagi-pagi," Mama menjawab dengan sopan sebelum si Bapak berpamitan.
Saat Mama lengah, aku kabur masuk kamar.
Kucari hapeku, semoga gak kena poop juga.
Alhamdulillah engga.
12 missed calls
Fabian Armand
| Sis, what you doing?? Pick up my call!
05.48 am
Faranica Armand
| :'(
07.25 am
Hands up!
Bang! Bang!
*Suara sirine*
Kakakku meneleponku lagi. Kuterima panggilannya dan kuceritakan pagiku yang apes. Dia tertawa, kencang banget, dasar kakak jahanam, gak ada simpati-simpatinya.
"Fabby ngapain telepon?" kutanya dia saat tertawanya sudah berhenti.
Meskipun Mama selalu mengomel tiap kali tahu aku memanggil dia yang hampir lima tahun lebih tua dariku tanpa sebutan kakak, aku tetap sering keceplosan, maklum, dari saat aku baru bisa bicara, aku memanggilnya begitu.
"Gakpapa, kangen sama adek bloon satu-satunya," katanya santai, kalau dia di sini, sudah kujambak rambutnya.
"Idih, kangen ngebully," sungutku.
"Iya!" sahutnya dan tertawa lagi.
Kutunggu tawanya berhenti.
"Kak, aku ketemu cowok," curhatku.
"Fara suka?" tanyanya.
"Mm-hmm," gumamku sambil memikirkan wajah ganteng Dominic.
"Jangan suka dulu, paling gak sampai dia ketemu Papa. Kalau dia kabur, wassalam," katanya, lalu tertawa lagi.
Tapi benar juga. Setelah pertama kali, kedua kali, dan ketiga kali ada cowok yang terang-terangan bilang naksir aku dan kuajak ketemu Papa, mereka langsung kayak alergi sama aku, membuatku hopeless. Sekarang kalau ada cowok yang mulai deketin aku, pertama-tama, kudu aku temuin sama Papa dulu, kalau ngacir juga, ya udah. Kenyataannya, sampai sekarang belum juga ada yang bisa sampai pacarin aku.
Padahal, banyak yang bilang aku cantik.
"Iya, sih. Tapi Mama suka sama dia," kataku.
"Eh, dia berani main ke rumah?" tanyanya heran.
"Engga sengaja. Dia ke toko, belanja buat anjingnya. Eh, Mama kenal. Kakak inget Tante Nadia gak?"
"Temen Mama yang kawin sama ilmuwan bule itu, kan?" tanyanya.
"Mm-hmm. Dom itu, anaknya Tante Nadia," jawabku.
"Bule, dong?"
"Iya. Tampangnya gak ada Indonesia-Indonesianya. Tapi bahasa Indonesianya bagus, dan dia Islam juga."
"Katanya dulu, Fara sukanya yang Oppa-oppa? Sejak kapan doyan bule?" godanya.
"Sejak Papa bikin semua cowok ngacir kayak Fara kudisan, Fara udah gak peduli lagi sama tampang, tapi yang ini beda, guanteng," kataku, yang lagi-lagi, disambut tawa.
"Lebih ganteng dari aku? Ada?" godanya. Narsis ternyata genetik.
"Idih, jelas," sungutku.
Tapi kakakku memang ganteng, dia miriiiip banget sama Papa, hanya saja, matanya biru seperti Oma. Sampai sekarang, banyak banget cewek-cewek yang naksir dia, suka baik-baikin aku cuma buat deketin Fabian, padahal orangnya di London sudah dari tiga tahun lalu.
"Sapa namanya? Kakak penasaran."
"Dominic. Dominic Vonwood," jawabku.
"Kayak pernah dengar namanya. Nanti Kakak cek."
Percakapan dengan kakakku gak pernah berhenti kurang dari satu jam, dan dia menelpon lumayan sering. Ini yang bikin aku jarang sampai kangen banget sama dia, walaupun dia cuma pulang setahun sekali.
Sudah empat hari sejak Dom tanya nomor hapeku, tapi gak ada satupun pesan dari dia. Ya udah lah ya, mungkin dia minta nomorku cuma buat disimpan, karena aku anak teman ibunya. Lagian yang mau sama dia juga, pasti ngantri.
Aku ngapain bucin, ya? Baru kenal juga, astaga, ini pasti karena aku kelamaan jomblo.
***
Dari sore aku sibuk menunggu kepastian apa aku diterima di Universitas Airlangga atau engga, eh diterima, Alhamdulillah.
Girang? Gak segitunya. Aslinya, aku pengen kuliah di luar negeri juga, kayak Fabian. Tapi , gak kayak kakakku yang mau berusaha dapetin beasiswa, aku terlalu malas. Daftar ke Unair dulu lah, toh aku gak bodoh-bodoh amat, dan kampus B Unair jaraknya cuma 100m dari rumah, sambil guling-guling juga, 10 menit bisa nyampe kampus.
Pas aku masuk ke kamar Mama-Papa buat kasih kabar yang tidak terlalu menarik ini, respon Mama: "Alhamdulillah."
Respon Papa: "Yeeeeey," dengan muka datar.
Respon Lilo: gak ada.
Lalu aku pun tersadar, bahwa aku tengah mengganggu aktivitas rutin mereka setiap malam: nonton serial drama korea pakai projector.
Ya udah lah ya. Astaga, mereka lebih sayang sama Lilo daripada sama anaknya.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamarku.
Hapeku bergetar (ciyeee kayak hatimu).
Saat ku-cek, nomor tak dikenal.
Ku-reject, paling penipu malam-malam yang bilang: "Nak, ibu kecelakaan, tolong kirim uang—"
Eh dia telepon lagi. Ya ku-reject lagi.
Telepon lagi, dong. Istiqomah juga, aku angkat deh, biar happy.
"Halo," kusapa si penelepon.
"Fara, kenapa di-reject?" kata suara laki-laki di seberang.
"Ini siapa?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Dominic," jawabnya.
Maaaak, aku pengen loncat-loncaaaat.
"Maaf, aku kira orang nipu malem-malem yang bilang mamaku kecelakaan," gumamku.
"Kamu bilang apa? Gak denger."
"Nggakpapa, maaf gak tau kalau Dom yang telepon," kataku.
"Nomorku disimpan, ya?"
"Iya."
"Ya udah, aku cuma pengen denger suara kamu. Aku tutup dulu, sudah malem, selamat tidur Faranica. Assalamualaikum."
Aduh, jantungku.
"Wa'alaikum salam."
Sambungan sudah terputus, tapi aku masih lihatin layar hape sambil cengo.
Satu pesan masuk ke WA.
Unknown Number
| Tommrw morning, let's walk Tofu together.
00.09 am
Translate: besok pagi, ayo ajak jalan-jalan Tofu, berdua.
Aku lompat dari dudukku. Mimpi ini pasti.
Eh, aku balas dulu aja, sapa tau meskipun mimpi, akan jadi kenyataan. Aku save nomornya.
Faranica Armand
| Love to.
00.10 am
Translate: Dengan senang hati
Dominic Vonwood
| :) I'll pick you up.
00.10 am
Translate: Besok aku jemput.
Astaga, jantungku.
Aku gak bisa tidur.
Gugup banget, Ya Allaaah!
Setelah shalat subuh, baru aku mengantuk dan akhirnya bisa tidur.
Jam 6 pagi aku sudah bangun, ku-setting alarm buat mandi pagi. Kalau bukan Dom yang ajak jalan, aku ogah mandi pagi-pagi.
Jam 7 lebih, bell udah bunyi. Itu pasti Dom.
Mama sudah sekesai siap-siap untuk pergi belanja. Papa mengantar Mama ke depan untuk mengunci pintu, sambil cek siapa yang datang.
10 menit kemudian. "Faaaar!" Papa berteriak memanggilku saat aku sudah siap di ruang tamu.
Aku ingin kelihatan cantik di depan Dom, jadi kupakai setelan olahraga warna pink kesukaanku. Setahuku, setiap kupakai setelan ini cowok-cowok akan memandangiku sambil melongo.
Aku memasuki toko dari pintu yang terhubung dengan rurang tamu, mendapati Papa dan Dom memandangiku. Papa mendecik dan aku memutar bola mataku. Papa selalu bilang, kalau aku belum bisa berhijab seperti Mama, setidaknya aku harus pakai pakaian yang sopan. Papa paling tidak suka aku bepergian dengan pakaian se-terbuka ini.
Reaksi Dom? Dia ngiler kayaknya, tepat seperti yang kuharapkan.
Tapi di luar dugaanku, dia suruh aku untuk ganti baju yang lebih tertutup dengan alasan orang akan berpikiran tak senonoh melihatku dalam setelan ini. What a gentleman.
Itulah kenapa aku tak komplain dan langsung menurut saat mendengarnya. Papa kelihatan jelas dibuat shock dengan cara Dominic menyampaikan pendapatnya.
Aku masuk untuk mengganti hot pants dengan celana training panjang dan mengenakan jaket tipis di atas tanktopku, tak sengaja melihat layar hapeku yang ada di atas tempat tidur saat ada pesan masuk.
Fabian Armand
| Dek, bener Dominic Vonwood, yg ini orangnya? 🖼
07.20 am
Faranica Armand
| Iya bener. Ganteng, kan?
07.20 am
Faranica Armand
| Aku mau jalan sama dia, dia lagi ngobrol sama Papa. Dia gak takut sama papa. Aku happy.
07.21 am
Fabian Armand
| Good. Kirim nomor hapenya ke kakak. Semoga dia gak playboy. Aku telepon papa dulu, Fara ati2, g bole aneh2.
07.22 am
Mulai deh, bodyguard mode activated. Tetap saja aku nurut, karena Fabian kalau sampai marah, horror.
Saat aku muncul kembali di toko, dua laki-laki yang tadi menungguku, melihatku dengan tatapan apresiatif. Kami berdua pamit dan salim ke Papa.
"Nitip gorengan, ya?" kata Papa sambil nyengir gak tau malu. Aku melotot, tapi Papa malah nyengir makin lebar.
"Siap, Om. Nanti Dom beliin," kata Dom sambil menahan tawa.
Dom adalah cowok pertama yang nggak terintimidasi sama keberadaan Papa. Luar biasa.
Saat kami akan pergi, Papa mengunci pintu sambil menerima telepon. Dari Fabian.
"Yakin aku yang pegang leashnya Tofu?" tanyaku saat kami sudah di pinggir jalan depan Alfamart.
Dom mengangguk.
"Aku harus gimana?" aku tanya lagi, biarin deh kelihatan oon, daripada Tofu lepas.
"Biar Tofu jalan sesuka dia, dia pinter kok. Talinya gak usah ditarik. Fara fokusnya ke jalan, ati-ati. Tofu gak akan lari tiba-tiba."
Aduh sabarnya jelasin ke aku yang lola* ini.
*Lola = loading lama
"Aku di belakang Fara."
Jadi mikir aneh-aneh deh, denger Hottie ngomong gitu.
***
Fabian's POV
"Hi, Son." Papa menyapaku dari seberang sambungan telepon.
"Pap, adek lagi deket sama cowok, ya?" tanyaku tanpa ba-bi-bu.
"Kamu ini, gak pernah telepon Papa, sekalinya telepon langsung tanyain adek. Bilang kangen, kek, smooch-smooch, kek."
Here we go. Papa selalu aja lupa kalau aku bukan bayi kecilnya lagi.
"Pa, I'm not a baby anymore," sungutku, Papa tertawa. "So?"
Translate: Pa, aku bukan bayi lagi.
"Iya, Papa barusan ketemu Dom. Kenapa?"
"Kuatir lah, Pa. Fara blo'on gitu, dimainin cowok gimana? Udah yang ini kayaknya selera Fara banget. Cakep sih."
"Hus. Gak boleh blo'on-blo'onin adeknya gitu. Papa suka sama yang ini, kecil kemungkinan dia mainin Fara."
Aku shock mendengar Papa bilang begitu. Selama ini, kalau tau ada cowok yang deketin Fara, Papa langsung berubah jadi singa. Biasanya Papa lebih lebay dari aku untuk urusan jaga Fara.
"Kok bisa?"
"Hmm ... adek kamu kan kadang agak lemot, si Dominic ajak dia jalan-jalan pagi sama anjingnya juga, eh dia keluar pake singlet sama celana gemes, pengen papa sentil kupingnya." Si Papa, aku bilang bloon ngomel, dia bilang lemot.
"Ya ampun, Fara," Aku geleng-geleng kepala.
"Tau sendiri kan kamu, laki-laki yang lihat dia pada piktor semua, modelan badan adekmu begitu, pake baju gak bener, lagi. Tapi yang bikin Papa heran, tanpa sungkan-sungkan ke Papa, Dom suruh Fara ganti baju. 'Wear more clothes' katanya. Pas Fara bilang 'I wear enough', dia jelasin kalau dia gak mau Fara diliatin orang yang bakal mikir aneh-aneh. Dan Fara, nurut."
"Wow."
"Bukan cuma itu. Dia minta ijin ke Papa, tanpa basa-basi, mau dating Fara."
"What?! Isn't he, too good to be true?"
Translate: Hah? Terlalu baik nggak sih?
"I know, right? Pas Papa tanya, apa dia mau pacarin Fara cuma buat seneng-senengan aja, dia langsung nyeplos kalau dia mau nikahin Fara. Dan mukanya, serius."
Aku speechless.
"Papa sih oke-oke aja, wong Fara juga kayaknya suka. Dia toh baik, seiman, udah punya penghasilan juga, yaaa walau penghasilannya mungkin belum seberapa. Papa nilai niat baiknya," tambahnya.
"Wait, Pap. Did you asked what was his job?"
Translate: Pap, udah nanya apa kerjaannya belum?
"Well, dia bilang, dia comic artist, writer, modelling, photographer juga—"
Aku tertawa.
"Papa masih suka nge-band kan?" tanyaku.
"Masih, lah."
"Papa tau lagunya Copperfield, yang Brown Eyed Sweetheart? Atau lagunya G-Force yang baru, Lonely Swan?"
"Tau lah. Keren-keren lagunya, kok jadi ngomongin lagu, sih?"
"Papa gak baca kreditnya? Yang nulis, Dominic Vonwood. Calon mantu Papa."
"What?!" Papa shock. "He is so young!"
Translate: Dia masih muda banget.
"Exactly, dan dia dapet royalty milyaran cuma dari dua lagu itu. Belum lagi karya-karyanya dia yang lain. Dia gak suka main di panggung, tapi dia luar biasa berbakat dan pinter. Makanya Fabby penasaran, songong apa gak orangnya?"
"Engga. Anaknya sopan dan baik banget, sama Mamamu aja lho, bisa akrab."
"Luar biasa. Kita doain aja semoga dia kuat hadepin Fara. Nanti Fabby telepon si Dom. Bye Pap."
"Smooch-smooch?"
"Pa, Fabby udah gak baby lagi."
"Please ...."
For God's sake. Translate: demi Tuhan.
"Smooch-smooch. Assalamualaikum."
Bahkan setelah sambungan telepon terputus, aku masih tak habis pikir, tapi mungkin saja Fara memang seberuntung itu. Jodoh tak ada yang tahu. Memang, adikku satu-satunya punya paras yang sangat cantik, hanya saja aku khawatir tak ada pria yang kuat menghadapi sifatnya yang absurd itu.