Tepat pukul dua belas siang, Ayu Soraya sudah duduk dengan tenang di halte bus yang letaknya sekitar lima ratus meter dari gerbang kampus. Ayu baru saja melihat situasi kampus yang ingin dirinya pilih, tentu saja jika melihat melalui internet saja rasa-rasanya kurang puas. Ayu sejatinya sempat ragu untuk mengambil kuliah di sini, karena sama saja dirinya akan terpisah dengan ibunya yang sering sakit-sakitan dan ia juga harus ngekos demi menghemat pengeluarannya nantinya.
“Evan nggak antar kamu, Yu?” tanya Ika salah satu temannya sekampung.
Ayu memalingkan wajah menatap Ika yang sedang menikmati es teh manis. “Dia udah mulai kerja katanya,” jawab Ayu seraya tersenyum tipis.
Ika mengerutkan dahinya, ia merasa janggal dengan pernyataan Ayu karena kemarin lusa ia sempat melihat Evan menggandeng tangan seorang wanita memasuki gerbang kampus swasta ternama di kota itu.
“Kamu yakin?” tanya Ika lagi memastikan.
“Yakinlah dia sendiri yang bilang tadi pagi,” kata Ayu bersamaan dengan bus yang mereka tunggu telah tiba. Mereka berdua bergegas menaiki bus dan kembali ke kampung.
“Ika kamu tahu nggak, Bapak hari ini pulang lho. Akhirnya setelah dua bulan tugas luar pulau terus,” kata Ayu setelah keduanya mendapatkan tempat duduk di bangku tengah.
“Wah, Ibu pasti senang ya? Semoga aja kali ini, Bapakmu nggak tugas keluar lagi. Siapa tahu dengan begitu Ibu segera bisa cepat sembuh ya, Yu,” timpal Ika. Ika tentu bahagia teman sekolah dan teman mainnya ini bisa kembali berkumpul dengan sang ayah, selama ini Ayu sudah banyak melewatkan masa remajanya dengan mengabdikan dirinya untuk mengurusi sang bunda.
“Amin …,” ucap mereka bersamaan.
“Ayu, jam berapa sampai rumah, Nak? Bapak sudah sampai baru saja.” Begitu pesan yang berasal dari Damar Prawira, ayah Ayu.
“Ayu sudah di atas bus, Pak. Sekitar tiga puluh menit lagi Ayu pasti sudah sampai.” Itu balasan pesan dari Ayu.
Hatinya semakin bahagia sudah mengetahui jika sang ayah sudah berada di rumah, kendati sang pacar sejak mereka lulus seperti menjaga jarak. Ayu tentu menyadari hal itu tetapi ia selalu berusaha untuk berpikir positif dan tidak menaruh curiga. Evan, pacarnya itu setiap pagi masih menghubunginya saja buat Ayu sudah sangat bersyukur karenanya. Ayu juga belum berpikir untuk terlalu serius dalam berlanjut ke jenjang berikutnya karena ia ingin menjadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan kedua orangtuanya, terlebih jika dirinya bisa bekerja di luar negeri seperti yang dilakukan oleh saudara sepupunya Dion.
♥
Ayu membuka pintu pagar rendah rumahnya dan bergegas melangkah riang ke pintu depan yang sedikit terbuka. Sayup-sayup terdengar tawa riang sang bunda yang rasanya sudah lama sekali tidak Ayu dengar, senyum gadis itu semakin mengembang karenanya.
“Selamat siang, spada!” sapa Ayu dengan ceria yang kemudian dibalas oleh kedua orangtuanya.
Ayu sendiri langsung berhambur memeluk leher sang ayah, Damar membalas pelukan sang anak semata wayangnya itu. Keduanya saling menyalurkan rasa rindu yang membuncah, wajar saja sudah dua purnama mereka tak bersua.
“Ayu kangen banget sama Bapak. Bapak jangan pergi ke luar pulau lagi ya, Pak?” pinta Ayu.
Masih di dalam pelukan anak perempuannya, Damar menjawab, “Sepertinya kali ini Bapak tidak akan pergi kemana-mana lagi. Bapak cuma ingin agar Ayu bisa menjadi anak yang selalu bisa mandiri dan baik ya Nak.” Kata-kata yang diucapkan oleh Damar memang biasa saja tetapi untuk Ayu terasa berbeda, dadanya berdesir dengan rasa yang membuatnya gundah. Ayu merenggangkan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah sang ayah yang memang tampak sedikit pucat di kulit paruh bayanya yang berwarna gelap karena seringnya terpapar sinar surya.
Ayu menangkup kedua sisi wajah sang ayah dan bertanya, “Bapak sakit?”
Damar tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala sang putri. “Nggak sakit Sayang, Bapak ini capek aja,” jawab Damar menyakinkan sang putri.
“Sungguh Pak, yakin nih?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayu terasa seperti ini menyakinkan dirinya sendiri jika sang ayah baik-baik saja dari pada melontarkan pertanyaan.
“Iya Bapak baik saja kok, Ayu. Buktinya bapak bisa gendong Ibu dari lantai dua,” timpal Ani.
Ayu melirik meja di depannya yang masih kosong tidak ada cangkir kesayangan sang ayah, ia pun kemudian benar-benar melerai pelukan sang ayah dan beringsut ke dapur. “Ya udah kalau gitu. Ayu siapkan makan siang dan teh hangat untuk Bapak ya.”
Perasaan tidak enak masih saja berkecamuk di hatinya, ia susah payah menepis hal itu tetapi rasanya kegelisahan itu tak jua pergi dari benaknya. Bahkan sampai mereka selesai makan siang dan kedua orangtuanya beristirahat di dalam kamar. Ayu menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumah dan merawat taman mungil milik sang bunda hingga malam menjelang.
Ting … ting … ting ….
Ayu bergegas membuka pintu rumahnya saat terdengar suara pedagang bakso langganannya melintas. “Ayu beli bakso dulu ya Pak,” pamit Ayu.
Damar yang duduk di kursi ruang tamu dengan di temani sang istri hanya mengangguk dan kembali berkonsentrasi pada laptop yang ia pegang. Ia merasakan kejanggalan dengan isi laporan dari temannya di kantor.
Ayu baru saja hendak menyeberang ke rumahnya, saat dua mobil Polisi berhenti tepat di depan rumah itu. “Siapa itu Neng, tumpen ada pak Polisi?” tanya Jupri, pedagang bakso itu.
“Nggak tahu Pak, kok berhenti di rumah Ayu ya? Ayu tinggal ya Pak,” ujar Ayu seraya berlalu.
Perasaan Ayu semakin tak menentu, perutnya sakit terasa teremas-remas. Rasa resah yang sejak siang ia rasakan semakin menjadi saat ini.
“Maaf, Bapak-bapak ini mencari siapa ya?” tanya Ayu dengan ramah, tetapi jangan ditanya detak jantungnya seolah saling berlomba melompat keluar rongga dadanya.
“Betul ini rumah Bapak Damar Prawira?” tanya salah satu anggota polisi yang memakai atribut lengkap kepolisian dan berdiri paling dekat dengan Ayu.
Ayu mengangguk. “Betul Pak, itu Bapak saya ada di dalam. Mari Pak,” jawab Ayu.
Belum juga Ayu sampai di teras sang ayah Damar sudah berjalan ke luar menatap keheranan pada para petugas kepolisian.
“Ada keperluan apa Bapak-bapak ini mencari saya ya?” tanya Damar dengan hati gusar. Ia mencium sesuatu yang tidak beres dan hal itu membuat rasa nyeri pada dada kirinya, yang ia rasakan sejak tadi pagi semakin menjadi.
Salah satu anggota kepolisian menyerahkan sepucuk surat penangkapan terhadapnya dengan tuduhan penggelapan uang perusahaan. Para polisi yang bahkan belum ada satupun yang angkat bicara sudah dikejutkan dengan tumbangnya Damar dengan wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang melotot.
Bahkan Ayu yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari sang ayah melemparkan bungkus baksonya begitu saja dan segera memeluk sang ayah yang tangannya begitu erat mencengkeram kaos bagian dadanya.
“Bapak kenapa? Pak bangun …. Ayu sayang Bapak, Pak!” Ayu menangis histeris seraya memeluk tubuh sang ayah.
Ani yang begitu mendengar keributan dari arah luar segera menghampiri sumber suara dan saat ia melihat keadaan suaminya yang lemas dalam pelukan sang putri, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Para anggota kepolisian dan Ayu segera membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit terdekat. Ayu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi, bahkan kejanggalan kedatangan para pria yang mengaku dari kepolisian tersebut.
Ia baru menyadari hal itu saat di rumah sakit. Bahkan mobil yang mendatangi rumahnya itu bukan mobil yang dipakai para polisi tidak ada satu pun lambang kepolisian terlihat. Mereka berjumlah enam orang dengan mengendarai dua mobil berwarna hitam, yang lebih terlihat aneh lagi untuk apa orang sebanyak itu untuk menjemput satu orang saja. Apa maksud kedatangan mereka sebenarnya? Pemikiran itu berkecamuk tumpang tindih di benaknya. Ayu menarik nafas panjang seraya menatap bilik tempat sang ayah dan ibunya di rawat. Ia kemudian mencari keberadaan para polisi itu yang saat ini malah tidak tampak satupun untuk menemaninya.
Namun ia melihat dari arah lobby Rumah Sakit, Pak RT, Bu Yanti dan Ika tergopoh-gopoh berjalan beriringan ke arahnya. Ayu menarik nafas lega, paling tidak dirinya tidak menghadapi saat menegangkan ini seorang diri.
“Ya ampun, apa yang terjadi?” tanya Bu Yanti, ibunda Ika.
“Tadi itu ada polisi ke rumah, trus bawa surat penangkapan untuk Bapak. Belum apa-apa Bapak udah pingsan,” jawab Ayu.
“Kamu yakin itu dari kepolisian?” tanya Pak RT.
“Bapak barusan hubungi mas Ahmad, tapi dia bilang nggak ada tuh surat edaran untuk menangkap bapakmu,” tambah Pak RT lagi.
Ayu yang tadi berwajah lesu seketika bertambah pias dan melotot menatap Pak RT. Jadi apa yang ia pikirkan saat ini benar adanya. Namun ia ingin memastikan apa yang dirinya pikirkan kepada Pak RT.
“Jangan-jangan mereka polisi gadungan ya Pak?” tanya Ayu.
“Bisa jadi, Yu. Mana suratnya kamu simpan nggak? Bisa buat bukti di tunjukkan pada Mas Ahmad,” pinta Pak RT.
Ayu menggeleng frustasi karena ia sama sekali tidak menyimpan surat itu. Fokusnya hanya berpusat kepada sang ayah hingga ia melupakan hal itu.
“Nggak ada Pak, tadi Bapak tuh jatuhnya di teras mungkin masih di teras rumah Ayu, Pak.”
“Nggak ada apa-apa, Yu. Tadi aku dah ke rumahmu, untuk tutup pintu depan yang terbuka lebar. Bu Yan tetangga depan rumahmu yang bilang. Sebelum ke sini aku bahkan sudah membersihkan bekas baksomu yang mengotori lantai,” terang Ika.
“Beneran nggak ada apa-apa?” tanya Ayu lagi.
“Iya beneran suer,” jawab Ika seraya kedua jarinya membentuk tanda V.
“Keluargamu sepertinya dikerjai orang, Yu. Lagipula Pak Damar baru saja pulang mana mungkin Polisi langsung menangkap. Sudah pasti sebelumnya diberikan surat panggilan dahulu. Tidak segampang itu Polisi langsung menetapkan sebagai tersangka,” terang Pak RT.
Ayu semakin tertegun meratapi semua yang terjadi hari ini sekaligus dengan firasat yang ia rasakan selama ini.
“Keluarga Damar Prawira?!” seru seorang Perawat dari bilik tindakan. Ayu dan ketiga orang lainnya segera mendekat.
“Siapa keluarga Pak Damar?” tanya Perawat bernama Arwi itu memastikan.
“Saya Bu,” jawab Ayu dengan suaranya yang bergetar, cairan bening sudah menumpuk mengaburkan pandangannya. Ia tahu hal buruk sedang terjadi di dalam sana, Ayu tetap tidak siap menerimanya.
“Mari …,” bimbing Perawat itu untuk Ayu masuk ke bilik.
Di dalam sana tubuh sang ayah sudah terbujur kaku dan tertutup dengan selimut rumah sakit. Tatapan mata Ayu tak terlepas dari ranjang sang ayah, bahkan perkataan Dokter pun tak lagi ia dengar. Seolah-olah semua suara berkumpul dan berdengung seperti lebah di dalam otaknya sampai memekakkan telinganya. Ayu berteriak sekuat tenaga seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutupi kedua telinganya.
Dunianya sudah runtuh saat itu juga, cinta pertama setiap anak gadis sepertinya telah pergi. Nasehat ayahnya hari ini bagaikan kaset yang diputar berulang-ulang dibenaknya. Bahkan dibutuhkan dua orang perawat dan satu dokter itu untuk menahannya agar tidak terjatuh, pada akhirnya ia pingsan dan mendapatkan perawatan bersama sang ibu yang masih belum sadarkan diri.
Sebulan kemudian
Ayu memakai jaket dan syalnya rapat-rapat, suhu udara setelah turun hujan sangat dingin. Ayu segera mengambil tas kecil dan helm dari dalam loker kerjanya. Sift kerja malam ini sudah selesai.
“Ayu pulang dulu ya Firsa?!” Ayu berpamitan pada teman kerjanya.Ayu bekerja di sebuah rumah makan yang buka 24 jam nonstop dan bersebelahan dengan pompa bensin.
“Hati-hati ya Yu! Kamu langsung ke rumah sakit?” tanya Tono sembari berjalan mengiringi Ayu ke pintu depan.
“Iya Ton, Ibu nggak ada yang jaga,” jawab ayu sedih mengingat ibunya yang terbaring sakit kanker paru-paru.
“Panjang sabar ya Yu, semoga Ibu segera diberi mukjizat,” hibur Tono.
“Amin. Makasih Tono.”
“Sekali lagi hati-hati, jika ada apa-apa hubungi kami,” pesan Firsa.
“Makasih,” jawab Ayu sembari membuka pintu kaca depan.
Saat ia menuju tempat parkir kendaraan, dirinya melihat pacarnya Evan sedang mengisi bensin bersama dengan seorang gadis manis bernama Debora teman sekolahnya dulu.
Ayu memicingkan matanya. Ia seperti tak percaya dengan penglihatannya, Ayu mengusap kedua matanya agar semakin jelas pemandangan di depannya itu.
'Lho Benar! Itu Evan, kok dandanannya keren sekali pake mobil lagi?'
Setahu Ayu, Evan adalah seorang yang sederhana seperti dirinya. Bukan berasal dari keluarga kaya. Sementara Evan, yang ia saat ini lihat adalah seorang Evan yang menaiki mobil sedan mewah, yang sudah pasti harganya tidak murah.
Ayu sengaja melihat dari kejauhan. Masih berat langkahnya ingin mendekati Evan, dadanya berdebar tak tenang, timbul denyut pedih di hati.
'Evan ndak mungkin bohong ah. Apa mungkin dia hanya mempermainkanku?'
Debora keluar dari mini mart dan menghampiri Evan yang berdiri di sisi mobil bagian belakang. Gadis itu tersenyum ceria dan berjinjit mengalungkan kedua tangannya di leher kemudian mencium bibir Evan. Ayu terperangah, reflek ia menutup kedua mulutnya dengan tangannya. Air Mata sudah turun di pipi gembulnya. Sakit hatinya melihat kenyataan yang ada di depan matanya, terlebih Evan tidak menolak dengan apa yang ditawarkan oleh Debora tadi.
Evan sepertinya tampak menikmati hal itu. Ayu sedikit merasa marah dan dicurangi tentu saja dengan apa yang dilakukan oleh Evan dan Debora. Padahal Evan sendiri tahu jika Debora sedari dulu tidak pernah suka dengan keberadaan Ayu yang dianggap sebagai gadis sederhana dan tidak pantas untuk bersekolah di sekolah favorit seperti mereka. Reflek Ayu seketika berlari menghampiri Evan dan Debora yang akan segera membuka pintu mobil.
“Evan ...!” seru Ayu.
“Apa-apaan ini?!” tanya Ayu sesampainya di dekat kedua orang tersebut.
“Eh! Ayu?” Evan tampak salah tingkah, gugup memandang bergantian dari Debora kemudian Ayu.
“Kamu 'kan sudah jadi mantannya Evan, move on dong Yu!” ujar Debora ketus, matanya melotot tajam ke arah Ayu.
“Mantan? Ayu merasa ndak pernah putus dari Evan,” timpal Ayu.
“Gadis miskin macam kamu itu nggak level sama Evan. Kamu nggak tahu 'kan kalau selama ini Evan itu anak orang kaya, rumahmu dijual pun uangnya masih kurang untuk membeli mobil yang kami pakai ini,” sindir Debora dengan bibirnya yang mencebik.
Sakit hati Ayu, direndahkan seperti itu. Namun Ayu sadar diri siapa dirinya. Kepalanya menunduk bahunya melorot kalah. Ayu juga tak mungkin bersaing dengan Debora yang anak orang kaya juga.
“Kalau begitu kita putus Evan,” ucap Ayu lirih.
“Tidak Ayu, seorang Evan Janardana pantang diputus cewek. Jadi Evan yang putusin kamu.” Debora yang menjawab, sedangkan Evan hanya diam tak bergeming memandang dengan penuh kesedihan pada paras cantik Ayu yang memucat. Hatinya juga sakit melihat Ayu yang patah hati begitu juga dengan batinnya.
Ayu menengadahkan kepala, raut wajahnya sayu, matanya memerah. Ayu menarik napas meredakan gejolak di dadanya.
“Terserah deh, bodo amat,” ujar Ayu ketus.
Ayu kemudian membalikkan badan dan pergi meninggalkan dua sejoli itu. Melajukan motornya membelah jalanan menuju rumah sakit.
'Ibu, ternyata jatuh cinta bisa sesakit ini ya Bu? Hati Ayu sesak seperti terhimpit sebongkah batu besar.'
Hati Ayu hancur lebur, meratapi cinta remajanya yang hancur karena perbedaan kelas sosial. Langkahnya gontai menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar inap ibunya.
Sesampainya di depan kamar rumah sakit ia dikejutkan oleh keberadaan Budi prawira pamannya adik sang bunda dan Tante Fitri. Paman bibinya tampak menangis tersedu. Perasaan semakin tidak karuan, pasti terjadi hal buruk pada sang bunda. Raut wajah ayu semakin pucat pasi, ia berlari menghampiri paman dan bibinya.
“Kenapa kalian menangis?” tanya Ayu, nada suaranya sudah bergetar menahan tangis yang akan segera membanjir di muka mungilnya.
Fitri menghampiri Ayu memeluk gadis itu erat. “Ibumu sudah pergi Nak,” ujar Fitri disela tangisnya.
“APA! Tidak mungkin?! Ibukkk. Ayu datang bukkk jangan pergi.” Seketika Ayu melepas pelukan Fitri dan berhambur masuk ke kamar ibunya.
Tubuh sang bunda sudah tertutup kain putih. Ayu menelungkup di atas dada jasad sang bunda.
“Ibu, kenapa tinggalkan Ayu, Bu?! Ayu sendirian Bu,” ucap ayu lirih sembari menangis.
“Ibu tahu, Ayu baru saja putus dengan Evan. Ibu, kenapa tega tinggalin Ayu Bu? Ayah pergi, Ibu juga pergi dan Ayu sendirian sekarang,” ratap Ayu menyayat hati siapa pun yang mendengarkan.
Budi dan Fitri berdiri di belakangnya. Sentuhan lembut di bahu membuatnya menegakkan badan.
“Kami tadi sudah mencoba menghubungi Ayu. Tetapi sepertinya ponsel Ayu mati. Mbak Ani tadi sudah berpesan sebelum pergi, untuk Paman dan Tante merawat Ayu. Sekarang Kami adalah wali Ayu. Jadi ,nanti setelah pemakaman ibu, Ayu akan ikut kami kembali ke Amerika,” ucap Budi menjelaskan.
“Ayu jangan khawatir kami sudah mempersiapkan semua keperluan untuk berangkat ke sana, nanti Ayu juga bekerja bersama dengan tante Fitri,” timpal Fitri.
Ayu menganggukkan kepala. “Ayu mau 'kan ikut ke Amerika? Di sana nanti ada Dion. Nak, sepupumu,” terang Fitri.
“Iya Tante, Ayu mau,” ucap Ayu pasrah.
♥
Gundukan tanah di depannya masih basah, tetapi Ayu harus segera pergi ikut dengan paman serta tantenya kembali ke kota.
“Ibu, Ayu pergi dulu ya,” pamitnya kepada nisan sang bunda.
Ayu melangkah ke nisan yang ada di sebelah makam ibunya.
“Ayah. Ayu pamit ya, tolong jagain Ibu di surga ya ayah.” Air Matanya menetes lagi. Awan mendung menggelayuti langit, seolah-olah ikut merasakan yang dirinya rasakan.
Berat langkah kakinya meninggalkan peristirahatan terakhir kedua orangtuanya. Ayahnya yang meninggal karena serangan jantung saat menerima kabar dia dituduh menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja. Kemudian semua harta bendanya di jadikan barang sitaan oleh bank. Ibunya yang sedang sakit saat mengetahui ayahnya ditangkap. Kemudian jatuh sakit, seluruh biaya rumah sakit berasal dari paman dan tantenya yang menanggung. Sekarang ia harus meninggalkan tanah airnya untuk ikut merantau ke negeri jauh.
Ayu duduk di kursi meja makan, tubuhnya terasa lelah dan penat. Kepalanya menunduk sesekali airmata masih menetes di wajah cantiknya. Setitik pilu menggerogoti hatinya, seperti teremas dan hancur berkeping-keping. Sesak menghimpit sanubari, meronta inginkan pelepasan dari rasa sakit yang mendera hati dan pikiran. Dipandanginya wajahnya dari cermin diatas wastafel samping dapur. Wajah kuyu, pucat dengan hidung yang memerah. Wajah penuh putus asa itu kembali melihat ke arahnya.
'Aku tidak bisa begini terus meratapi hidup. Hidupku harus berguna, tutup buku hitam kehidupan yang lama buka lembaran buku yang baru. Ayu kamu pasti bisa. Ayah, Ayu berjanji suatu hari nanti Ayu akan buktikan dan kembalikan nama baik Ayah. Ayu tahu pasti, ayah Ayu yang jujur bukan seorang koruptor.'
Ayu bangkit dari duduknya dan membasuh wajahnya dengan air yang menyejukkan, serasa meresap di jiwa. “Ayu, sudah selesai berkemas-kemas?” tanya Fitri yang bersandar di depan kulkas.
“Sudah Tante,” jawab Ayu sembari memutar tubuhnya menghadap bibinya, bersandar di tepi wastafel dengan kedua tangan bertumpu di sisi kiri dan kanannya.
Ayu sudah meneguhkan hati untuk ikut merantau ke negeri jauh. Ayu bisa melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda serta bisa ikut bekerja bersama dengan sang bibi.
“Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat dulu sekarang. Besok pagi kita akan berangkat, perjalanan masih panjang jarak Jakarta-Houston itu sekitar dua puluh jam lebih Sayang. Belum lagi perjalanan menggunakan helikopter nanti,” ujar Fitri.
Mata Ayu membuat mulutnya menganga, tidak pernah dirinya bayangkan jika akan menaiki pesawat dan helikopter. “Wah naik helikopter Tante?” tanyanya dengan antusias.
“Iya, nanti sesampainya di West Houston Airport kita naik helikopter ke peternakan.” Fitri tersenyum geli menjelaskan.
“Peternakan?” Ayu semakin bingung dan takjub.
“Iya Nak, kita nanti akan tinggal di rumah Tuan rumah yang ada di bagian peternakan.” Fitri dengan sabar menjelaskan.
“Wow .... Juragan Tante banyak punya rumah ya, kok banyak bagian?”
“Hi hi hi, ada dua rumah utama Nak, di peternakan dan di perkebunan nanti kamu akan mengerti.” Fitri mengusap lengan Ayu dengan sayang.
“Sebaiknya kita segera istirahat” ucap Budi menghela kedua wanita itu untuk masuk ke kamar masing-masing.
Saat ini ayu beserta dengan tante dan pamannya menunggu keberangkatan mereka di bandara, saat terdapat panggilan dari Dion.
"Halo, Bang Dion.”
“Hallo sayangnya Abang, jadi ikut Papa, Mama kan?”
“Iya Bang, Abang Dion jemput Ayu kan?”
“Tentu saja sayangnya Abang. Ayu senang ,Abang yang jemput?”
“Asik! Tentu saja Ayu senang.” Budi dan Fitri menatap wajah gadis yang tadinya sayu dengan perlahan menjadi ceria setelah mendapatkan panggilan dari anak lelaki mereka. Dion dan Ayu memang jarang bertemu tetapi kedekatan mereka berdua sebagai saudara tidak diragukan.