Bab 2

Dunia seakan runtuh seketika saat bibir seorang pria menjelajah ke kulit mulus nan putih milik seorang gadis yang belum di jamah oleh siapapun. Hati gadis berambut coklat itu teriris sakit. Merasakan sebuah tindakan yang dilakukan dengan paksa pada bagian tubuhnya.

Dinginnya pendingin mobil menusuk kedalam pori-pori kulit. Cairan kental dari mulut seorang pria membasahi permukaan berwarna putih nan mulus. Memberi beberapa tanda bercak merah pada beberapa titik.

Bulir-bulir likuid berjatuhan membasahi pipinya. Mata yang memiliki iris hazel memerah. Menatap jalanan yang terlihat sepi.

Gadis itu tidak mau hidupnya berakhir sampai di sini. Sudah cukup penderitaan ini ia rasakan. Dia tidak boleh menyera, jalan hidupnya masih panjang.

'Tuhan, tolong bantu aku kali ini saja!' batinnya seraya mengambil nafas panjang dan menjernihkan pikiran. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa lalu dengan kuat memukul kepala Jefry menggunakan sikut. Mendorong dengan sekuat tenaga. Kini pria itu meringis kesakitan.

Kesempatan untuk melarikan diri datang. Gadis yang pakaiannya tidak karuan itu segera membuka ikatan di tangannya. Lalu ia bergegas membuka pintu. Tenaganya masih tersisa untuk ia berlari menyelamatkan diri.

Jalanan terlihat sangat sepi. Dia tidak tau ini dimana, yang jelas lumayan jauh dari perumahan warga.

Pandangan gadis berpakaian putih abu-abu ini lurus ke depan. Ia enggan untuk menoleh pada pria yang kini mengejarnya di belakang.

Suara yang kini sudah serak dan laring yang semakin kering, berteriak terus menerus meminta pertolongan. Berharap ada orang yang mendengar dan datang untuk menolongnya.

Suara motor terdengar mendekat ke arah mereka. Seorang pria mengendarai motor besar berwarna biru dengan jaket hitam memberhentikan motor, membuka helm dan melemparkannya ke arah pria berengsek bernama Jefry.

“Sialan. Jangan ganggu urusanku!” Jefry menatapnya dengan tajam.

Brug ….

Pria berambut hitam menghantam wajah Jefry dengan tangannya yang kekar.

Jefry tersungkur di aspal yang terasa dingin dan lembab. Ujung bibirnya membiru dan mengeluarkan darah segar.

"Siapa kau? Berani-beraninya menggangguku." Jefry mengarahkan kepalan tangannya ke wajah pria misterius.

Pria tinggi itu terlihat pandai membela diri. Tubuhnya kokoh dan gerakannya cepat. Tidak ada satupun pukulan Jefry yang mengenai wajahnya. Dia berhasil menangkis dan beberapa kali membuat Jefry tersungkur.

Pukulan terakhir yang ia daratkan di perut Jefry membuat pria mesum itu merasa kalah dan ingin menyerah.

"Jangan ganggu gadis ini lagi!" ujar pria yang tengah meraih helmnya di atas aspal jalan.

Jefry ketakutan dan berlari kabur. Penampilannya sudah tidak karuan karena perkelahian tadi.

Kini, pria yang memiliki mata coklat indah tengah berjalan ke arah gadis yang tengah menangis dan merapikan kancing baju sekolahnya.

Beberapa kancing terlepas karena Jefry tadi membukanya dengan paksa. Orang bisa melihat lubang-lubang yang menampilkan kulit mulus sang gadis.

Tatapan pria itu tidak sengaja tertuju pada pakaian yang gadis itu kenakan. Dia segera menoleh ke arah lain dan melepaskan jaket yang ia kenakan.

"Ini … pakailah untuk menutupi tubuhmu!" Dia menyerahkan jaketnya untuk di pakai gadis yang tangannya masih gemetaran ini.

"Te- te- terima kasih, Kak!" Perasaannya kini sedikit lega. Ada orang baik yang datang dan menolongnya saat keadaan seperti ini.

Tuhan masih memberikan gadis ini keberuntungan untuk masih melanjutkan hidup.

Motor berukuran besar yang memiliki tangki di bagian depan ini di nyalakan. Mengitari tubuh gadis yang masih berdiri mematung.

"Ayo. Aku antar kamu pulang!" ujar pria yang kini menggenggam kemudi motor dan tidak menoleh sama sekali ke wajah gadis yang masih merasa kebingungan.

"Ayo. Naik!"

Netra yang semula tidak berkedip kini membuka dan menutup beberapa kali berusaha agar segera tersadar. Gadis yang merasa masih ketakutan itu perlahan naik ke bangku belakang dan enggan untuk berpegangan pada pinggang pengemudi motor.

Mereka berdua melewati jalanan gelap dan sepi. "Rumahku di Jalan Selawati, Kak." Tanpa ditanya dia sudah memberitahukan alamat rumahnya.

Jefry tadi membawanya cukup jauh sampai ke tempat sepi seperti ini. Dia sampai tidak tahu ini dimana. Embusan angin sangat kencang biarpun dia duduk di belakang. Rasa dingin menghempas bulu-bulu halus hingga terasa begitu beku.

"Dalam setengah jam kita akan sampai!" Tangannya memutar gas lebih dalam agar cepat sampai di tujuan. Angin menerpa tubuhnya yang ada di depan dan sedang mengemudi.

Setelah sepuluh menit melewati jalanan sepi. Mereka kini sudah di jalur ramai. Motor menepi di sebuah minimarket. Pria pengemudi motor yang juga berseragam putih abu-abu itu turun dan masuk untuk membeli sesuatu.

Gadis bernama Seila menunggu di bangku depan minimarket. Jika sekarang dia tidak mengenakan jaket. Mungkin akan menjadi pusat perhatian karena beberapa kancing yang terbuka.

Pria yang masih menggunakan helm full face duduk dan memberikan segelas kopi.

"Terima kasih!" ucap Seila sambil melihat bet yang terpasang di baju pria misterius ini. Melihat asal sekolah dan membaca nama di bagian dada seragam. 'Aksara, nama yang bagus. Setampan wajahnya dan sebaik sikapnya.' batinnya seraya meneguk kopi yang diberikan Aksara.

"Kak Aksara, terima kasih lagi untuk bantuannya." Pria bernama Aksara tidak menoleh, membuka helm dan malah fokus meminum segelas kopi moca favoritnya.

Rahang yang tegas. Pipi yang di tumbuhi sedikit godeg. Bibir manis dan hidung mancung. Sungguh ciptaan tuhan yang sangat sempurna. Pria di hadapannya membuat ia terpesona.

Air menetes dari langit dan jatuh ke bumi. Dari awalnya pelan, sekarang semakin kencang hingga permukaan aspal basah dan motor juga ikut basah.

Seila tidak beruntung sekali hari ini. Dia sudah hampir celaka karena Jefry, sekarang mau pulang malah turun hujan.

"Sekarang bagaimana caranya kita pulang, Kak?" tanya Seila menoleh ke arah Aksara.

Aksara berdiri dan menatap langit yang sudah mulai gelap. "Ponselmu mana? Kenapa tidak mencoba menghubungi orang tuamu saja agar mereka menjemput kesini?" tanya Aksara tanpa ekspresi. Tatapannya seakan dingin, mungkin karena bertanya dan bersama orang yang belum dia kenal.

Pertanyaan Aksara membuat ia ingat dan ingin menghubungi sang Ayah. Sayangnya tadi ponsel Seila kehabisan daya. Lain kali dia akan selalu membawa kabel casan dan power bank kemanapun ia pergi.

"Baterai ponselku habis, Kak. Boleh pinjam ponsel Kakak?"

Aksara mencari ponselnya di dalam tas lalu menyerahkan pada Seila. "Ini!"

Ponsel keluaran terbaru berwarna hitam milik Aksara kini ada di genggaman Seila. "Aku ikut menelpon, ya!"

Aksara menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.

Seila mengetik beberapa digit nomor dan menekan layar yang menampilkan warna hijau. Kini ia mendengar suara ringtone milik ayahnya. Setelah beberapa detik menunggu. Ayah Seila akhirnya menjawab.

"Hallo. Ini siapa?" Suara ayahnya dari balik telepon.

"Ayah, Ayah. Ini Seila, Yah." Seila meyakinkan bahwa ini adalah suaranya karena dia sekarang menggunakan ponsel orang lain. Ia takut pria yang menunggu anaknya pulang ini malah mengira ini adalah panggilan dari seorang penipu.

"Dimana kamu, Nak? Hari sudah mulai malam dan kamu belum pulang." Ayah Seila terdengar sangat khawatir.

"Seila tadi terkena musibah, sekarang Seila bersama teman Seila menunggu hujan reda di sebuah minimarket, Yah," jelas Seila agar ayahnya tidak khawatir.

"Ayah jemput sekarang, ya! Kamu di minimarket mana, Sayang?" Surya sudah berdiri dan bersiap meraih kunci mobil.

"Tinggal dua puluh menit lagi jika ingin sampai di rumah, Yah. Minimarket yang dekat pom bensin. Aku tak ingat nama jalannya. Yang pasti, Ayah sering lewat sini!" Seila sering lupa nama jalan.

"Ayah kesana sekarang!" Surya meraih kunci mobil dan mematikan teleponnya.

Seila yang sudah selesai menggunakan ponsel Aksara mengembalikannya lagi. "Terima kasih, Kak. Kakak sudah banyak membantu aku!"

"Sama-sama." Aksara terlihat santai dan duduk menyilangkan kaki.

Seila ingin sekali mengajak Aksara berbincang-bincang tapi ia sangat segan dan takut mengganggu pria yang kini asyik membaca sesuatu di ponselnya. Pikir Seila, mungkin Aksara sedang membaca sebuah berita, novel atau pelajaran di ponselnya.

Dia terus saja menatap bet di lengan baju Aksara. Berpikir bahwa mungkin esok atau lusa, dia bisa pindah ke sekolah itu dan kembali bertemu pria ini.

Hanya rintik-rintik hujan dan kendaraan yang berlalu lalang yang bisa Seila tonton saat ini. Menunggu jemputan yang terasa menyenangkan karena di temani pria tampan yang sudah menolongnya.

Entah akan bagaimana nasib Seila saat ini jika Jefry berhasil merenggut kesuciannya. Mungkin Seila akan hancur berkeping-keping dan tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup.

Aksara terlihat mengangkat sebuah telepon. Sepertinya dia juga buru-buru dan tengah di tunggu untuk pulang. Dia tidak mau meninggalkan Seila begitu saja. Aksara masih setia menunggu sampai orang tua Seila datang.

Sebuah mobil berwarna hitam terparkir tepat di hadapan mereka. Ayah Seila turun dari mobil dan membawa payung.

"Anak ayah!" Surya langsung memeluk sang putri.

"Ayo kita pulang!" Surya hendak menarik tangan Seila lalu anaknya itu menahannya.

Seila berpamitan dulu kepada Aksara. "Aku pulang duluan, ya, Kak!" ucapnya sambil mengangguk sopan.

Surya sampai lupa dan tidak melirik ke arah pria yang menemani Seila. Dia yang melihat Seila berinteraksi dengan temannya itu akhirnya tersenyum lalu mengucapkan selamat tinggal juga.

Surya memayungi anaknya sampai masuk ke mobil. Mereka meninggalkan Aksara sendiri.

"Pacar kamu?" tanya Surya sambil memutar kemudi saat parkir.

"Ih … bukan, Ayah!" Wajah seila memerah. Dia malu karena Aksara disangka pacarnya.

"Lalu siapa?" Surya bingung. Jika berduaan seperti itu bukannya mereka sepasang kekasih.

"Kenal saja tidak, Yah."

"Lalu kenapa kalian bisa bersama?"

"Seila tadi terkena musibah dan Aksara yang menyelamatkan Seila. Jika tidak ada dia, mungkin saat ini Seila sudah tidak seperti ini lagi."

"Kenapa, Nak?"

Seila enggan menceritakan perlakuan Jefry. Dia takut masalah ini semakin memanjang dan ayahnya akan khawatir. Tidak ada bukti juga untuk melaporkannya ke pihak sekolah atau polisi. Jika Jefry melakukan perlakuan jahat lagi. Seila akan melaporkannya ke pihak berwajib.

"Tidak apa-apa, Yah. Hanya masalah kecil saja. Aku ingin pindah sekolah lagi!"

"Kemana, Sayang?"

"Ke SMA guna bangsa!"

Semua keinginan Seila ayahnya penuhi. Termasuk untuk berpindah-pindah sekolah. Meski Seila tidak memberitahukan alasannya untuk berpindah tempat sekolah. Surya sudah tahu dan mengerti keadaan sang putri.

Dia besok pasti akan mendaftarkan Seila ke sekolah baru.

"Lusa pasti kamu bisa pindah!"

"Terima kasih, Ayah!" Seila memeluk tubuh Surya erat.

Mobil Surya berhenti sejenak di pom bensin untuk mengisi bahan bakar.

Seila menoleh ke arah luar. Dia melihat Jefry tengah mengisi bahan bakar juga dengan wajah yang penuh luka lebam. Saat Jefry merasa di perhatikan dan menoleh. Seila langsung membungkuk dan bersembunyi. Dia tidak mau di lihat oleh pria itu lagi.

Surya melirik Seila yang terlihat aneh. "Ada apa, Nak?" Suara ayahnya bisa saja membuat Jefry curiga.

Bab 3

Suasana yang menghangat kini terasa kembali mencekam. Pria itu ia lihat lagi. Pria yang tadi hampir merenggut kesuciannya kini tengah berada di tempat yang sama.

Jantung berdebar seakan ingin copot dari tempatnya. Tangan gemetaran dan di dapatkan agar bisa kembali tenang.

Bola mata yang tajam milik seorang pria kini menoleh dan tertuju ke arahnya. Gadis ini bergerak cepat agar tidak terlihat. Menunduk dan berdoa agar mereka tidak lagi saling bertatapan.

Seorang pria yang tengah mengeluarkan lembaran uang untuk petugas SPBU melihat ke arah putrinya.

"Kenapa, Nak?" Suara itu bisa saja membuat pria tadi curiga.

Memberikan kode adalah suatu solusi agar dia selamat. Gerakan tangan di buat untuk meminta ayahnya diam dan tidak bertanya lagi.

Sang ayah mengerti dan menutup mulutnya rapat-rapat. Bergegas masuk dan meninggalkan SPBU.

"Ngomong-ngomong ayah mau tanya. Kenapa mata kamu sembab dan kenapa tadi bersembunyi?" Pertanyaan ini ia tahan-tahan karena menunggu waktu yang tepat.

"Seila ada masalah di sekolah dan tadi ada teman Seila di SPBU, yah!" jelasnya yang masih tertutup dan tidak mau jujur.

"Jangan menangis, Sayang. Anak ayah, kan kuat!" Surya berusaha menguatkan putri bungsunya. Tangan yang semula memegang kemudi mobil berpindah untuk mengusap pundak Seila. Berusaha menenangkan Seila agar perasaannya lebih nyaman.

Kepala Seila bersandar di pundak Surya. Pundak sang ayah terasa nyaman melebihi bantal hingga ia tertidur sampai di rumahnya. Malam ini dia tidak akan pergi ke club untuk mempelajari minuman koktail lagi. Hari ini sangat melelahkan dan menguras emosi. Seila harus istirahat dan mempersiapkan diri untuk pindah sekolah.

Entah berapa kali dari sejak di bangku sekolah dasar dia terus saja berpindah-pindah, demi menghindari orang yang seperti toxic.

Seila lebih memilih menghindar daripada membuang waktu untuk menghadapi mulut pedas orang yang seperti pedang. Siap menerjang kapan saja, tajam dan berbahaya.

Seperti malam biasanya, rumah Seila sepi karena ibunya sedang berada di club. Ayahnya juga sebentar lagi akan pergi ke club.

"Kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Surya untuk memastikan. Dia tahu putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Yah. Silahkan berangkat ke club." Seila memaklumi pekerjaan kedua orang tuanya. Dia tidak mengatur dan malah selalu mendukung. Memang usaha yang di tekuni ibu dan ayahnya itu tidak baik. Menjadi mucikari dan pemilik club malam.

Seila tidak pernah mempermasalahkan masalah itu. Asal bukan dia yang di jual dan tidak ada yang mengganggunya saat di club.

Malam terasa sunyi saat Seila hanya sendirian di dalam kamar. Dia anak tunggal dan kedua orang tuanya baru akan pulang besok pagi. Rumah hanya di jaga seorang satpam dan beberapa CCTV.

Sebuah buku berwarna merah jambu tengah Seila genggam. Dia ingin menulis sesuatu. Di pikirannya ada sosok anak laki-laki tadi yang tampan. Dia lalu menulis kejadian tadi di buku hariannya.

Memang sudah tidak zamannya lagi menulis diary. Tapi karena Seila melakukan ini untuk mengisi kegiatan di dalam rumah selain belajar, jadi dia melakukannya dengan perasaan yang semangat dan terasa menyenangkan.

Bait demi bait kata-kata indah ia rangkai untuk menceriakan bagaimana sosok laki-laki tadi bernama Aksara yang menolongnya dari bahaya Jefry.

Tidak sadar Seila mengukir sebuah senyuman saat membayangkan Aksara. Pria yang tampan dan terlihat menawan. Aksara juga terlihat seperti anak yang baik.

'Yeay … lusa aku akan bersekolah satu SMA dengan Aksara!' batin Seila seraya melempar buku diari ke udara dan menangkapnya lagi.

Dia tidur memeluk jaket kepunyaan Aksara. Aroma parfum maskulin milik anak SMA itu sangat menarik dan membuat indra penciuman Seila nyaman menghirupnya.

Jaket ini akan Seila kembalikan saat bertemu Aksara nanti di sekolah. Ia tak sabar untuk berkenalan secara pribadi dan mengucapkan terima kasih lagi.

Jantung Seila berdegup kencang saat dia memeluk jaket itu. Ia tak tahu namanya jatuh cinta dan seperti apa rasanya. Apakah yang saat ini dia rasakan itu adalah cinta atau hanya kekaguman semata. Yang jelas, kehadiran Aksara begitu berarti.

Netra yang semula terbuka kini tertutup rapat dalam beberapa jam. Hanya suara dari ayam yang berkokok dan cahaya matahari yang menembus tirai lah yang membangunkan gadis cantik dari tidurnya semalam.

Gadis berambut coklat itu terperanjat bangun dan segera turun untuk mencuci jaket milik pria tampan yang kini ia genggam. Jaket itu tidak ia biarkan untuk di cuci asisten rumah tangga. Ia memilih tangannya sendiri yang akan membersihkannya.

Pintu mesin cuci yang terletak di bagian depan ia buka perlahan. Memasukkan jaket dan sabun lalu air. Jemari lentiknya memencet tombol power dan mesin cuci pun berputar searah jarum jam.

Gadis bernama Seila duduk memperhatikan laju mesin yang tengah mencuci jaket. Tangannya menyilang lalu menyangga dagu. Menunggu mesin cuci berhenti dan dia harus mengisi air untuk membilasnya.

Hari ini Seila bolos dan orang tuanya yang akan ke sekolah untuk mengurus kepindahan Seila ke sekolah baru.

Seorang wanita masuk dan memanggil-manggil nama anaknya.

"Seila, Seila, Seila …." Ia sampai mencari ke kamar dan ke seluruh ruangan.

"Non Seilanya ada disini, Bu!" ujar seorang asisten rumah tangga yang sedari tadi memperhatikan Seila yang sibuk melamun.

"Seila, Seila …." Beberapa kali sang mama memanggil nama Seila tapi gadis itu tidak menjawabnya.

"Seila!" Tepukkan di bagian bahu Seila menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Anak mamah lagi apa, sih? Serius banget liatin mesin cuci." Mama Seila duduk di sebelah sang putri.

"Ga tahu itu, Nya. Non Seilanya dari tadi liatin mesin cuci mulu sambil melamun." Asisten bernama bi Surti menceritakan Seila yang sedari tadi memang sudah lama melamun.

Seila menoleh dan memperhatikan dua ibu-ibu yang mengajak ia berbicara tapi ia abaikan. "Maaf, Ma! Maaf, Bi! Seila liatin cucian takutnya macet atau sudah waktunya di kasih air buat bilas!" Sebuah alasan yang di buat-buat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Lagi, Non. Ngapain nyuci sendiri. Biar bibi aja!" Tidak biasanya Seila mencuci pakaian sendiri.

"Iya, Sei. Ngapain anak mama yang cantik ini nyuci segala. Kan, ada bi Surti! Biar bi Surti yang cuci, Sei!"

"Enggak, Mah. Ga papa sesekali!" tolaknya yang masih ingin menatap jaket Aksara.

"Kata ayah, Seila mau pindah sekolah lagi?" tanya sang mama yang belum pergi.

"Iya. Biar Seila cari suasana baru lagi!" jawabnya enteng. Orang tua mana yang tidak khawatir jika terjadi sesuatu pada putrinya.

~LianaAdrawi~

Seorang anak laki-laki tengah berjalan sendiri. Wajah tampannya penuh luka lebam, membuat orang yang melihat heran dan memperhatikannya.

Sahabat-sahabatnya pun mendekat melihat rekannya babak belur seperti habis di hajar masa.

"Muka Lo kenapa?" tanya salah satu anak sambil ikut berjalan di samping pria tersebut.

"Habis di pukul orang!" Dia tetap berjalan ke depan tidak melihat semua wajah yang sedari tadi memperhatikannya.

"Sekarang mau kemana?" tanyanya lagi.

"Mau nemuin seseorang!" Langkahnya terhenti saat tiba di ruangan kelas IPA putri.

"Gadis itu kemana?" Dia memperhatikan di balik kaca tapi gadis yang ia cari tidak ada.

"Siapa yang Lo cari?"

"Seila!" jawabnya singkat. Api kemarahan dan dendam terpancar dari bola mata yang kini memerah.

"Dia kayanya ga masuk!"

"Sial!" teriaknya sambil menendang tong sampah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED