Bab 1

Gadis berambut cokelat tengah sibuk di antara botol minuman dan gelas kaca, dia sering lupa waktu jika sudah berada di klub milik ayahnya ini. Terlalu hanyut dalam dunianya sendiri, yaitu meracik minuman.

Minggu lalu Seila menyaksikan Steve Schneider, sang bartender idola membuat Gimlet di bar terpopuler Jakarta live lewat YouTube. Stave ini seorang bartender terkenal yang merupakan mantan marinir Amerika Serikat. Menyajikan pilihan signature drink Employees Only seperti EO Gimlet hasil perpaduan gin, jeruk nipis dan daun jeruk purut dengan cita rasa klasik koktail. Dia terpesona dan bertekad untuk membuatnya juga. Hanya dengan sekali lihat, cukup bagi Seila untuk tahu apa yang harus dia lakukan.

Koktail merupakan paduan dari berbagai bahan yang pembuatannya harus dengan teknik khusus, termasuk juga cara mengocoknya. Ini yang menjadi alasan koktail begitu digemari, khususnya anak-anak muda. Menurut Stave, koktail ibarat minuman yang di kostum, perpaduan antara pengetahuan dan seni. Karena itu Seila menjadi terinspirasi untuk memodifikasi bahan ini.

Semua bahan sudah dicampurkan ke dalam gelas stainless steel. Gadis itu tengah sibuk mengocoknya agar semua bahan tercampur sempurna, seperti yang dicontohkan sang idola.

"Gin dan jeruk nipis?" Surya mendekati putrinya yang tengah sibuk menakar cairan bening dari sebuah botol kaca ke dalam gelas jigger. Aroma buah seketika menguar. Karena aroma itulah Surya ingin mendekat dan menyaksikan kemahiran putrinya dalam meracik minuman.

"Ah, ada daun jeruk purut juga." Surya menjumput selembar daun lalu menghidu aromanya. "Coba Ayah tebak. Gimlet, ya?"

Seila tersenyum tanpa mengangkat wajah. Tangan lentiknya begitu cekatan saat menuangkan cairan bening di gelas jigger ke dalam gelas kocok, tak terlihat ragu-ragu sedikit pun. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini.

"2.5 oz Gin." Seila melirik ayahnya yang serius menonton. Gadis itu kembali menuang cairan lain ke dalam gelas yang bentuknya lucu. "0.5 oz lime. And then, 0.5 simple syrup." Seila menyimpan kembali botol ke tempat masing-masing.

Sebagai penutup, tak lupa Seila menuang es batu lalu menutup gelas stainless steel itu. Tangan kanan Seila mulai mengocok. Gerakannya terlihat anggun, namun mantap dan yakin. Seolah-olah dia sudah sering melakukannya. Padahal dia baru sekali ini membuat Gimlet. Sedangkan membuat yang lain dia sudah mahir.

Gerakan tangan Seila berhenti. Lalu dia menuangkan cairan di dalam gelas kocok ke gelas koktail. Setelah memberi sentuhan akhir yaitu daun jeruk dan mint ke atas minuman, gadis yang masih SMA itu berseru riang, "Voila!"

Surya bertepuk tangan. "Steve Schneider bakalan pensiun nih gara-gara kamu," selorohnya. Dia senang anaknya terlihat bahagia.

Jam di dinding sudah menunjukan waktu tengah malam. Seila harus segera pulang karena besok ia harus sekolah dan akan pulang sore.

Surya mendekat dan mengecup puncak kepala anak gadisnya. "Cepat pulang. Ini sudah malam, jangan sampai besok kesiangan ke sekolahnya, Nak."

Seila mengangguk lalu mencium punggung tangan Surya yang memiliki kulit berkerut mengeriput, tak menyembunyikan usia.

"Hati-hati dijalan, Nak." Surya melambaikan tangan melihat Seila yang semakin jauh.

Sekolah sudah terlihat sangat sepi saat dia baru selesai mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Indonesia. Tak sengaja dia pulang terakhir karena tadi siang ada desas-desus tak mengenakan. Namun, hal itu sungguh kembali menjatuhkan mental Seila. "Apa aku harus pindah sekolah lagi? Tapi, mau sampai kapan? Aku lelah harus terus berpindah sekolah dan kembali beradaptasi," gumamnya dengan semburat kesedihan yang tak dapat lagi ditutupi. Sampai tanpa terasa, bulir air mata pun menggenang dan meluncur menuruni pipi, tetapi segera ditepis jari tangan dengan cepat. Rumor beredar mengungkapkan identitas aslinya.

Teman sekolah menjudge Seila wanita nakal, karena lahir dari keluarga yang tidak baik. Entah siapa yang awalnya mengetahui rahasia ini.

Seila berjalan lemas meninggalkan pelataran sekolah sembari memikirkan gunjingan para teman-teman akan keadaan keluarganya. Sungguh umpatan mereka sangat tajam dan membuat hati terasa sakit. Tidak ada satupun sifat dan sikap yang mereka tuduhkan tentang Seila itu benar. Ia selalu berusaha bersikap baik kepada siapapun dan tak pernah mencoba mencari masalah.

Seila bahkan belum pernah memiliki pacar. Berciuman? Jangan tanya lagi, dia belum merasakan bagaimana ciuman pertama yang kata kebanyakan gadis rasanya lebih manis dari madu.

Mereka menghardik Seila sangat kejam hanya karena melihat latar belakang keluarga, sungguh ini semua tak adil baginya. Gadis itu menghela napas kesal seraya menendang setiap kerikil yang menghadang di depan jalan.

Sore sudah beranjak petang. Semua teman sekolah sudah pulang, tetapi sialnya Seila masih harus menunggu angkot. Ponselnya sudah kehabisan daya untuk memesan ojek online. Gadis itu menengadah memandang langit yang semakin jingga. Angin yang berembus membuatnya menggigil. "Gawat, nih. Bisa jadi turun hujan. Musti cepet pulang," gumamnya pada diri sendiri.

"Dingin banget.” Ia memeluk erat tubuh dengan kedua tangan sembari terus berjalan. Seseorang menarik lengannya hingga tubuh seketika berbalik ke arah pusat tarikan.

Tatapan seketika nanar kala melihat siapa yang bersikap begitu kasar. "Je-Jefry?" Jantung berdegup kencang seolah akan melompat keluar hingga membuat dada terasa sedikit nyeri. Jefry terkenal nakal dan dicap playboy di sekolah.

“Mau pulang, Cantik?” tanyanya sambil menyeringai miring dengan mata menatap tajam ke arah mata hazel milik Seila.

"I- iya." Bergidik ngeri saat melihat raut wajahnya yang tampak tak bersahabat. Lalu berusaha melepaskan tangan yang mencengkram kuat pergelangan tangannya. "Ma-maaf, Jef. Le-lepaskan tanganku,” pinta Seila memasang raut wajah cemas.

"Mau kuantar?" tawarnya.

"Ti-tidak usah, a-aku bisa sendiri. Tolong lepaskan tanganku." Seila berusaha melepaskan tangan yang mengunci di pergelangan tangannya dengan kepala tertunduk. Tak berani menatap mata lelaki yang ada di hadapan. Tatapannya menyeramkan, seperti seekor serigala yang kelaparan.

"Aku antar kau pulang," ucapnya dengan lembut.

"Terima kasih, tapi sungguh itu tidak perlu." Ia menolak dengan lembut dan tak boleh gegabah, insting alami memperingatkan tubuh Seila untuk waspada. Ia juga merasakan ada firasat buruk.

"Kalo kubilang akan kuantar, ya kau harus mau!" bentaknya seraya menarik tangan Seila.

"Aww." Seila hanya bisa merintih kesakitan dengan raut wajah meringis. Tangan Jefry begitu kasar dan kuat menggenggam tangan Seila yang mungil.

Jefry memaksa Seila untuk masuk ke mobil memasangkan sabuk pengaman, mengunci pintu lalu dia berlari mengitari kap mobil dan duduk di kursi kemudi. Lelaki itu mulai memutar kunci mobil untuk menyalakan mesin dan seketika mobil melaju kala sudah menyala.

Dia hanya bisa diam tertunduk tak berani menoleh ke arah pria yang sibuk menguasai kendali mobil, seraya meremas ujung rok abu-abu dengan gugup. Panas dingin terasa berdesir merambat ke sekujur tubuh. Takut, benar-benar takut. Ia sama sekali tak mengenal Jefry dengan baik. 'Tuhan, lindungi aku, aku mohon,' batin Seila berdo'a kepada Tuhan yang maha kuasa.

Tak terasa waktu sudah sepuluh menit berlalu, tak terucap sepatah kata pun di antara mereka. Hingga membuat hati Seila sedikit lega karena Defry sama sekali tak melakukan hal buruk. Mungkin Seila yang terlalu paranoid karena belum pernah berduaan dengan seorang pria. Namun, pada saat perasaan melega, tiba-tiba saja Jefry menepikan mobil tepat di atas jembatan.

Seila spontan menoleh ke arah Jefry, menatap pria itu bingung dan penuh tanda tanya. "Je-Jef, kok kita berhenti di sini?" tanyanya ragu.

"Aku sudah mengetahui semuanya." Dia tersenyum meremehkan seraya menatap langsung.

"Ma-maksudmu apa? Aku tidak paham?"

"Jangan berpura-pura polos lagi. Sudah biasa aku menghadapi gadis berwajah polos sepertimu tetapi, garang saat di atas ranjang. Jadi, berapa aku harus membayarmu agar kau mau menghabiskan malam denganku?"

Mata Seila seketika membulat kala mendengar kalimat yang merendahkan dari mulut lelaki di sampingnya. Rasa panas seketika menyuruk-nyuruk ke sekujur tubuh hingga membuat wajah memerah dan daun telinga rasa terbakar. "Jaga mulutmu! Aku bukan gadis seperti itu!"

"Cih! Bersikap seolah terhina dan merasa direndahkan, padahal kerendahanmu sudah tak diragukan lagi," cemooh Jefry yang segera membuat Seila tak tahan lagi menahan segala amarah dalam diri. Hingga entah mendapatkan keberanian dari mana, tangan refleks menampar wajah pria kurang ajar dengan keras hingga membuat wajah Jefry memerah bekas telapak tangan. Tangan Seila terasa panas dan sakit setelah menampar pria yang ia anggap kurang ajar, mungkin karena tamparan itu begitu kuat.

"Sekali lagi, jaga ucapanmu! Jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti!"

Jefry yang tengah memegangi pipinya pun seketika memukul setir mobil karena geram. "Berengsek!" pekiknya dengan raut wajah memerah. Dia kemudian menyambar tubuh Seila, menghimpit di antara kursi dan pintu mobil yang masih setia terkunci. "Beraninya kau menamparku pel*cur sialan!"

Rasa takut semakin berkecamuk dan panik kala melihat amarah Jefry. Ia memalingkan wajah karena tak kuasa melihat wajah murka Jefry yang tampak menakutkan.

Embusan kasar nafas Jefry mengenai pipi Seila. Sungguh terpojok dan terjebak. Tak ada celah untuk ia lari. 'Bagaimana ini?' batin Seila begitu gelisah.

"Aku akan memberimu pelajaran!" Jefry meraih tangan Seila lalu mengikat keduanya di atas kepala menggunakan sabuk pengaman.

"Jangan, Jef. Maafkan aku, tolong lepaskan aku," pinta Seila yang semakin ketakutan.

"Tidak! Gadis kurang ajar sepertimu tak bisa ku maafkan. Kau harus menerima akibatnya karena sudah berani menamparku!"

"Tidak, Jef. Tolong ampuni aku, aku mohon, aku menyesal," rengek Seila. Raut wajahnya menegang dan airmata yang tak terbendung sudah membasahi kedua pipi. Ia sungguh sangat ketakutan.

Setelah Jefry selesai membuat ikatan di kedua pergelangan tangan Seila, ia tersenyum puas sambil menatap wajah cantik Seila yang kini berantakan. "Ini baru benar."

"Tidak, Jef. Tolong lepaskan aku." Seila memasang raut wajah memelas untuk meminta belas kasihan lelaki itu agar mau melepaskannya. Namun, usaha itu sia-sia. Hati Jefry sama sekali tak terenyuh. Dia sama sekali tidak menunjukan belas kasih.

Jefry mulai membuka satu persatu kancing baju seragam SMA Seila. Hal itu membuat Seila semakin panik dan ketakutan. "A-apa yang kau lakukan? Hentikan! Jangan! Tolong jangan lakukan ini! Jangan! Aku mohon! Aku mohon hentikan ini, Jef!"

Jefry hanya terus mengulas senyum sambil terus fokus melucuti satu-persatu kancing. "Tolong! Tolong! Siapapun tolong aku! Tolong! Aku mohon tolong aku!" teriak Seila yang melemah karena isak yang begitu menyesakan dada. Napas tersendat-sendat hingga membuat laring tak kuasa berteriak lebih keras lagi.

"Silakan saja berteriak, di sini sepi, takkan ada yang bisa mendengar suaramu meski kau berteriak hingga tenggorokan itu putus sekalipun." Jefry tertawa bak iblis. Dia terlihat sangat bahagia saat melihat penderitaan Seila.

"Jef, aku mohon, lepaskan aku. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, uang, mobil baru dan rumah. Ayah dan ibuku pasti akan mengabulkan semua keinginanmu asalkan kau mau melepaskanku. Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku tidak akan berbohong." Dia tak mau menyerah, berusaha membujuk Jefry dengan segenap kemampuan. Seila tak peduli berapa banyak uang yang akan dikeluarkan. Semua itu tak masalah jika menyangkut keselamatan diri.

Jefry tersenyum miring. "Kau pikir kau siapa? Punya uang hasil ngangkang saja bangga. Sombong! Kau pikir aku membutuhkan semua itu? Uangku lebih banyak dari nominal uang di rekening Ayahmu. Bahkan aku bisa membeli rumah dan club malammu jika kumau."

"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau mau melepaskanku?" pekik Seila dengan segenap tenaga yang tersisa. Ia terlalu lelah menangis dan meronta.

"Puaskan aku, dan kau boleh pulang!”

"Tidak!" Berteriak sambil diiringi tangis pilu yang menyesakkan dada seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Tolong jangan, aku mohon," rengeknya kembali memelas.

"Suaramu benar-benar merdu, tubuhku semakin tegang dan memanas. Aku sungguh ingin segera merasakannya. Semoga saja rasa tubuhmu tak mengecewakanku karena terlalu banyak dijamah tangan-tangan para pria kotor sebelumnya."

"Tidak, Jef. Aku bukan gadis seperti itu. Aku bukan gadis seperti yang kau pikirkan," ucap Seila melemah.

"Well, kita buktikan nanti." Jefry mulai menyingkapkan baju seragam dengan tak sabar lalu menatap tubuh yang hanya terlihat bra dan rok yang masih setia terpasang. Dia mulai mendekatkan wajahnya dan merapatkan tubuh. Seketika tangis kembali pecah. Suara raungan tangis memenuhi seisi mobil.

Bibir Jefry menyentuh pipi dan leher Seila bergantian. Tangannya mulai meraba-raba setiap jengkal tubuh mulus berkulit putih dengan semangat. Seila hanya bisa terus menangis dengan raut wajah mengerut pedih. "Jangan, aku mohon hentikan," ucapnya lemah disertai tangisan yang menyakitkan.

Seila belum pernah merasakan sepedih ini. Rasa terhina dan direndahkan yang tiada bandingannya. Ini tidak adil. Jefry tidak berhak melakukan ini terhadap Seila. Ia tak pernah mencari masalah atau mengganggu siapapun. Perlakuan ini sungguh tak pantas didapatkan.

Seila tidak mau hidupnya berakhir sampai di sini. Ia mengerahkan tenaga dengan kuat memukul kepala Jefry menggunakan sikut dan melepaskan ikatan di tangannya. Mendorong tubuh Jefry dan memencet tombol agar pintu bisa terbuka.

Seila berhasil keluar. Ia berlari sekuat tenaga dan berteriak meminta tolong. Jefry berusaha menyusul Seila.

Suara motor terdengar mendekat ke arah mereka. Seorang pria mengendarai motor besar berwarna biru dengan jaket hitam memberhentikan motor, membuka helm dan melemparkannya ke arah Jefry.

“Sialan. Jangan ganggu urusanku!” Jefry menatapnya dengan tajam.

Brug …

Bab 2

Dunia seakan runtuh seketika saat bibir seorang pria menjelajah ke kulit mulus nan putih milik seorang gadis yang belum di jamah oleh siapapun. Hati gadis berambut coklat itu teriris sakit. Merasakan sebuah tindakan yang dilakukan dengan paksa pada bagian tubuhnya.

Dinginnya pendingin mobil menusuk kedalam pori-pori kulit. Cairan kental dari mulut seorang pria membasahi permukaan berwarna putih nan mulus. Memberi beberapa tanda bercak merah pada beberapa titik.

Bulir-bulir likuid berjatuhan membasahi pipinya. Mata yang memiliki iris hazel memerah. Menatap jalanan yang terlihat sepi.

Gadis itu tidak mau hidupnya berakhir sampai di sini. Sudah cukup penderitaan ini ia rasakan. Dia tidak boleh menyera, jalan hidupnya masih panjang.

'Tuhan, tolong bantu aku kali ini saja!' batinnya seraya mengambil nafas panjang dan menjernihkan pikiran. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa lalu dengan kuat memukul kepala Jefry menggunakan sikut. Mendorong dengan sekuat tenaga. Kini pria itu meringis kesakitan.

Kesempatan untuk melarikan diri datang. Gadis yang pakaiannya tidak karuan itu segera membuka ikatan di tangannya. Lalu ia bergegas membuka pintu. Tenaganya masih tersisa untuk ia berlari menyelamatkan diri.

Jalanan terlihat sangat sepi. Dia tidak tau ini dimana, yang jelas lumayan jauh dari perumahan warga.

Pandangan gadis berpakaian putih abu-abu ini lurus ke depan. Ia enggan untuk menoleh pada pria yang kini mengejarnya di belakang.

Suara yang kini sudah serak dan laring yang semakin kering, berteriak terus menerus meminta pertolongan. Berharap ada orang yang mendengar dan datang untuk menolongnya.

Suara motor terdengar mendekat ke arah mereka. Seorang pria mengendarai motor besar berwarna biru dengan jaket hitam memberhentikan motor, membuka helm dan melemparkannya ke arah pria berengsek bernama Jefry.

“Sialan. Jangan ganggu urusanku!” Jefry menatapnya dengan tajam.

Brug ….

Pria berambut hitam menghantam wajah Jefry dengan tangannya yang kekar.

Jefry tersungkur di aspal yang terasa dingin dan lembab. Ujung bibirnya membiru dan mengeluarkan darah segar.

"Siapa kau? Berani-beraninya menggangguku." Jefry mengarahkan kepalan tangannya ke wajah pria misterius.

Pria tinggi itu terlihat pandai membela diri. Tubuhnya kokoh dan gerakannya cepat. Tidak ada satupun pukulan Jefry yang mengenai wajahnya. Dia berhasil menangkis dan beberapa kali membuat Jefry tersungkur.

Pukulan terakhir yang ia daratkan di perut Jefry membuat pria mesum itu merasa kalah dan ingin menyerah.

"Jangan ganggu gadis ini lagi!" ujar pria yang tengah meraih helmnya di atas aspal jalan.

Jefry ketakutan dan berlari kabur. Penampilannya sudah tidak karuan karena perkelahian tadi.

Kini, pria yang memiliki mata coklat indah tengah berjalan ke arah gadis yang tengah menangis dan merapikan kancing baju sekolahnya.

Beberapa kancing terlepas karena Jefry tadi membukanya dengan paksa. Orang bisa melihat lubang-lubang yang menampilkan kulit mulus sang gadis.

Tatapan pria itu tidak sengaja tertuju pada pakaian yang gadis itu kenakan. Dia segera menoleh ke arah lain dan melepaskan jaket yang ia kenakan.

"Ini … pakailah untuk menutupi tubuhmu!" Dia menyerahkan jaketnya untuk di pakai gadis yang tangannya masih gemetaran ini.

"Te- te- terima kasih, Kak!" Perasaannya kini sedikit lega. Ada orang baik yang datang dan menolongnya saat keadaan seperti ini.

Tuhan masih memberikan gadis ini keberuntungan untuk masih melanjutkan hidup.

Motor berukuran besar yang memiliki tangki di bagian depan ini di nyalakan. Mengitari tubuh gadis yang masih berdiri mematung.

"Ayo. Aku antar kamu pulang!" ujar pria yang kini menggenggam kemudi motor dan tidak menoleh sama sekali ke wajah gadis yang masih merasa kebingungan.

"Ayo. Naik!"

Netra yang semula tidak berkedip kini membuka dan menutup beberapa kali berusaha agar segera tersadar. Gadis yang merasa masih ketakutan itu perlahan naik ke bangku belakang dan enggan untuk berpegangan pada pinggang pengemudi motor.

Mereka berdua melewati jalanan gelap dan sepi. "Rumahku di Jalan Selawati, Kak." Tanpa ditanya dia sudah memberitahukan alamat rumahnya.

Jefry tadi membawanya cukup jauh sampai ke tempat sepi seperti ini. Dia sampai tidak tahu ini dimana. Embusan angin sangat kencang biarpun dia duduk di belakang. Rasa dingin menghempas bulu-bulu halus hingga terasa begitu beku.

"Dalam setengah jam kita akan sampai!" Tangannya memutar gas lebih dalam agar cepat sampai di tujuan. Angin menerpa tubuhnya yang ada di depan dan sedang mengemudi.

Setelah sepuluh menit melewati jalanan sepi. Mereka kini sudah di jalur ramai. Motor menepi di sebuah minimarket. Pria pengemudi motor yang juga berseragam putih abu-abu itu turun dan masuk untuk membeli sesuatu.

Gadis bernama Seila menunggu di bangku depan minimarket. Jika sekarang dia tidak mengenakan jaket. Mungkin akan menjadi pusat perhatian karena beberapa kancing yang terbuka.

Pria yang masih menggunakan helm full face duduk dan memberikan segelas kopi.

"Terima kasih!" ucap Seila sambil melihat bet yang terpasang di baju pria misterius ini. Melihat asal sekolah dan membaca nama di bagian dada seragam. 'Aksara, nama yang bagus. Setampan wajahnya dan sebaik sikapnya.' batinnya seraya meneguk kopi yang diberikan Aksara.

"Kak Aksara, terima kasih lagi untuk bantuannya." Pria bernama Aksara tidak menoleh, membuka helm dan malah fokus meminum segelas kopi moca favoritnya.

Rahang yang tegas. Pipi yang di tumbuhi sedikit godeg. Bibir manis dan hidung mancung. Sungguh ciptaan tuhan yang sangat sempurna. Pria di hadapannya membuat ia terpesona.

Air menetes dari langit dan jatuh ke bumi. Dari awalnya pelan, sekarang semakin kencang hingga permukaan aspal basah dan motor juga ikut basah.

Seila tidak beruntung sekali hari ini. Dia sudah hampir celaka karena Jefry, sekarang mau pulang malah turun hujan.

"Sekarang bagaimana caranya kita pulang, Kak?" tanya Seila menoleh ke arah Aksara.

Aksara berdiri dan menatap langit yang sudah mulai gelap. "Ponselmu mana? Kenapa tidak mencoba menghubungi orang tuamu saja agar mereka menjemput kesini?" tanya Aksara tanpa ekspresi. Tatapannya seakan dingin, mungkin karena bertanya dan bersama orang yang belum dia kenal.

Pertanyaan Aksara membuat ia ingat dan ingin menghubungi sang Ayah. Sayangnya tadi ponsel Seila kehabisan daya. Lain kali dia akan selalu membawa kabel casan dan power bank kemanapun ia pergi.

"Baterai ponselku habis, Kak. Boleh pinjam ponsel Kakak?"

Aksara mencari ponselnya di dalam tas lalu menyerahkan pada Seila. "Ini!"

Ponsel keluaran terbaru berwarna hitam milik Aksara kini ada di genggaman Seila. "Aku ikut menelpon, ya!"

Aksara menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.

Seila mengetik beberapa digit nomor dan menekan layar yang menampilkan warna hijau. Kini ia mendengar suara ringtone milik ayahnya. Setelah beberapa detik menunggu. Ayah Seila akhirnya menjawab.

"Hallo. Ini siapa?" Suara ayahnya dari balik telepon.

"Ayah, Ayah. Ini Seila, Yah." Seila meyakinkan bahwa ini adalah suaranya karena dia sekarang menggunakan ponsel orang lain. Ia takut pria yang menunggu anaknya pulang ini malah mengira ini adalah panggilan dari seorang penipu.

"Dimana kamu, Nak? Hari sudah mulai malam dan kamu belum pulang." Ayah Seila terdengar sangat khawatir.

"Seila tadi terkena musibah, sekarang Seila bersama teman Seila menunggu hujan reda di sebuah minimarket, Yah," jelas Seila agar ayahnya tidak khawatir.

"Ayah jemput sekarang, ya! Kamu di minimarket mana, Sayang?" Surya sudah berdiri dan bersiap meraih kunci mobil.

"Tinggal dua puluh menit lagi jika ingin sampai di rumah, Yah. Minimarket yang dekat pom bensin. Aku tak ingat nama jalannya. Yang pasti, Ayah sering lewat sini!" Seila sering lupa nama jalan.

"Ayah kesana sekarang!" Surya meraih kunci mobil dan mematikan teleponnya.

Seila yang sudah selesai menggunakan ponsel Aksara mengembalikannya lagi. "Terima kasih, Kak. Kakak sudah banyak membantu aku!"

"Sama-sama." Aksara terlihat santai dan duduk menyilangkan kaki.

Seila ingin sekali mengajak Aksara berbincang-bincang tapi ia sangat segan dan takut mengganggu pria yang kini asyik membaca sesuatu di ponselnya. Pikir Seila, mungkin Aksara sedang membaca sebuah berita, novel atau pelajaran di ponselnya.

Dia terus saja menatap bet di lengan baju Aksara. Berpikir bahwa mungkin esok atau lusa, dia bisa pindah ke sekolah itu dan kembali bertemu pria ini.

Hanya rintik-rintik hujan dan kendaraan yang berlalu lalang yang bisa Seila tonton saat ini. Menunggu jemputan yang terasa menyenangkan karena di temani pria tampan yang sudah menolongnya.

Entah akan bagaimana nasib Seila saat ini jika Jefry berhasil merenggut kesuciannya. Mungkin Seila akan hancur berkeping-keping dan tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup.

Aksara terlihat mengangkat sebuah telepon. Sepertinya dia juga buru-buru dan tengah di tunggu untuk pulang. Dia tidak mau meninggalkan Seila begitu saja. Aksara masih setia menunggu sampai orang tua Seila datang.

Sebuah mobil berwarna hitam terparkir tepat di hadapan mereka. Ayah Seila turun dari mobil dan membawa payung.

"Anak ayah!" Surya langsung memeluk sang putri.

"Ayo kita pulang!" Surya hendak menarik tangan Seila lalu anaknya itu menahannya.

Seila berpamitan dulu kepada Aksara. "Aku pulang duluan, ya, Kak!" ucapnya sambil mengangguk sopan.

Surya sampai lupa dan tidak melirik ke arah pria yang menemani Seila. Dia yang melihat Seila berinteraksi dengan temannya itu akhirnya tersenyum lalu mengucapkan selamat tinggal juga.

Surya memayungi anaknya sampai masuk ke mobil. Mereka meninggalkan Aksara sendiri.

"Pacar kamu?" tanya Surya sambil memutar kemudi saat parkir.

"Ih … bukan, Ayah!" Wajah seila memerah. Dia malu karena Aksara disangka pacarnya.

"Lalu siapa?" Surya bingung. Jika berduaan seperti itu bukannya mereka sepasang kekasih.

"Kenal saja tidak, Yah."

"Lalu kenapa kalian bisa bersama?"

"Seila tadi terkena musibah dan Aksara yang menyelamatkan Seila. Jika tidak ada dia, mungkin saat ini Seila sudah tidak seperti ini lagi."

"Kenapa, Nak?"

Seila enggan menceritakan perlakuan Jefry. Dia takut masalah ini semakin memanjang dan ayahnya akan khawatir. Tidak ada bukti juga untuk melaporkannya ke pihak sekolah atau polisi. Jika Jefry melakukan perlakuan jahat lagi. Seila akan melaporkannya ke pihak berwajib.

"Tidak apa-apa, Yah. Hanya masalah kecil saja. Aku ingin pindah sekolah lagi!"

"Kemana, Sayang?"

"Ke SMA guna bangsa!"

Semua keinginan Seila ayahnya penuhi. Termasuk untuk berpindah-pindah sekolah. Meski Seila tidak memberitahukan alasannya untuk berpindah tempat sekolah. Surya sudah tahu dan mengerti keadaan sang putri.

Dia besok pasti akan mendaftarkan Seila ke sekolah baru.

"Lusa pasti kamu bisa pindah!"

"Terima kasih, Ayah!" Seila memeluk tubuh Surya erat.

Mobil Surya berhenti sejenak di pom bensin untuk mengisi bahan bakar.

Seila menoleh ke arah luar. Dia melihat Jefry tengah mengisi bahan bakar juga dengan wajah yang penuh luka lebam. Saat Jefry merasa di perhatikan dan menoleh. Seila langsung membungkuk dan bersembunyi. Dia tidak mau di lihat oleh pria itu lagi.

Surya melirik Seila yang terlihat aneh. "Ada apa, Nak?" Suara ayahnya bisa saja membuat Jefry curiga.

Bab 3

Suasana yang menghangat kini terasa kembali mencekam. Pria itu ia lihat lagi. Pria yang tadi hampir merenggut kesuciannya kini tengah berada di tempat yang sama.

Jantung berdebar seakan ingin copot dari tempatnya. Tangan gemetaran dan di dapatkan agar bisa kembali tenang.

Bola mata yang tajam milik seorang pria kini menoleh dan tertuju ke arahnya. Gadis ini bergerak cepat agar tidak terlihat. Menunduk dan berdoa agar mereka tidak lagi saling bertatapan.

Seorang pria yang tengah mengeluarkan lembaran uang untuk petugas SPBU melihat ke arah putrinya.

"Kenapa, Nak?" Suara itu bisa saja membuat pria tadi curiga.

Memberikan kode adalah suatu solusi agar dia selamat. Gerakan tangan di buat untuk meminta ayahnya diam dan tidak bertanya lagi.

Sang ayah mengerti dan menutup mulutnya rapat-rapat. Bergegas masuk dan meninggalkan SPBU.

"Ngomong-ngomong ayah mau tanya. Kenapa mata kamu sembab dan kenapa tadi bersembunyi?" Pertanyaan ini ia tahan-tahan karena menunggu waktu yang tepat.

"Seila ada masalah di sekolah dan tadi ada teman Seila di SPBU, yah!" jelasnya yang masih tertutup dan tidak mau jujur.

"Jangan menangis, Sayang. Anak ayah, kan kuat!" Surya berusaha menguatkan putri bungsunya. Tangan yang semula memegang kemudi mobil berpindah untuk mengusap pundak Seila. Berusaha menenangkan Seila agar perasaannya lebih nyaman.

Kepala Seila bersandar di pundak Surya. Pundak sang ayah terasa nyaman melebihi bantal hingga ia tertidur sampai di rumahnya. Malam ini dia tidak akan pergi ke club untuk mempelajari minuman koktail lagi. Hari ini sangat melelahkan dan menguras emosi. Seila harus istirahat dan mempersiapkan diri untuk pindah sekolah.

Entah berapa kali dari sejak di bangku sekolah dasar dia terus saja berpindah-pindah, demi menghindari orang yang seperti toxic.

Seila lebih memilih menghindar daripada membuang waktu untuk menghadapi mulut pedas orang yang seperti pedang. Siap menerjang kapan saja, tajam dan berbahaya.

Seperti malam biasanya, rumah Seila sepi karena ibunya sedang berada di club. Ayahnya juga sebentar lagi akan pergi ke club.

"Kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Surya untuk memastikan. Dia tahu putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Yah. Silahkan berangkat ke club." Seila memaklumi pekerjaan kedua orang tuanya. Dia tidak mengatur dan malah selalu mendukung. Memang usaha yang di tekuni ibu dan ayahnya itu tidak baik. Menjadi mucikari dan pemilik club malam.

Seila tidak pernah mempermasalahkan masalah itu. Asal bukan dia yang di jual dan tidak ada yang mengganggunya saat di club.

Malam terasa sunyi saat Seila hanya sendirian di dalam kamar. Dia anak tunggal dan kedua orang tuanya baru akan pulang besok pagi. Rumah hanya di jaga seorang satpam dan beberapa CCTV.

Sebuah buku berwarna merah jambu tengah Seila genggam. Dia ingin menulis sesuatu. Di pikirannya ada sosok anak laki-laki tadi yang tampan. Dia lalu menulis kejadian tadi di buku hariannya.

Memang sudah tidak zamannya lagi menulis diary. Tapi karena Seila melakukan ini untuk mengisi kegiatan di dalam rumah selain belajar, jadi dia melakukannya dengan perasaan yang semangat dan terasa menyenangkan.

Bait demi bait kata-kata indah ia rangkai untuk menceriakan bagaimana sosok laki-laki tadi bernama Aksara yang menolongnya dari bahaya Jefry.

Tidak sadar Seila mengukir sebuah senyuman saat membayangkan Aksara. Pria yang tampan dan terlihat menawan. Aksara juga terlihat seperti anak yang baik.

'Yeay … lusa aku akan bersekolah satu SMA dengan Aksara!' batin Seila seraya melempar buku diari ke udara dan menangkapnya lagi.

Dia tidur memeluk jaket kepunyaan Aksara. Aroma parfum maskulin milik anak SMA itu sangat menarik dan membuat indra penciuman Seila nyaman menghirupnya.

Jaket ini akan Seila kembalikan saat bertemu Aksara nanti di sekolah. Ia tak sabar untuk berkenalan secara pribadi dan mengucapkan terima kasih lagi.

Jantung Seila berdegup kencang saat dia memeluk jaket itu. Ia tak tahu namanya jatuh cinta dan seperti apa rasanya. Apakah yang saat ini dia rasakan itu adalah cinta atau hanya kekaguman semata. Yang jelas, kehadiran Aksara begitu berarti.

Netra yang semula terbuka kini tertutup rapat dalam beberapa jam. Hanya suara dari ayam yang berkokok dan cahaya matahari yang menembus tirai lah yang membangunkan gadis cantik dari tidurnya semalam.

Gadis berambut coklat itu terperanjat bangun dan segera turun untuk mencuci jaket milik pria tampan yang kini ia genggam. Jaket itu tidak ia biarkan untuk di cuci asisten rumah tangga. Ia memilih tangannya sendiri yang akan membersihkannya.

Pintu mesin cuci yang terletak di bagian depan ia buka perlahan. Memasukkan jaket dan sabun lalu air. Jemari lentiknya memencet tombol power dan mesin cuci pun berputar searah jarum jam.

Gadis bernama Seila duduk memperhatikan laju mesin yang tengah mencuci jaket. Tangannya menyilang lalu menyangga dagu. Menunggu mesin cuci berhenti dan dia harus mengisi air untuk membilasnya.

Hari ini Seila bolos dan orang tuanya yang akan ke sekolah untuk mengurus kepindahan Seila ke sekolah baru.

Seorang wanita masuk dan memanggil-manggil nama anaknya.

"Seila, Seila, Seila …." Ia sampai mencari ke kamar dan ke seluruh ruangan.

"Non Seilanya ada disini, Bu!" ujar seorang asisten rumah tangga yang sedari tadi memperhatikan Seila yang sibuk melamun.

"Seila, Seila …." Beberapa kali sang mama memanggil nama Seila tapi gadis itu tidak menjawabnya.

"Seila!" Tepukkan di bagian bahu Seila menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Anak mamah lagi apa, sih? Serius banget liatin mesin cuci." Mama Seila duduk di sebelah sang putri.

"Ga tahu itu, Nya. Non Seilanya dari tadi liatin mesin cuci mulu sambil melamun." Asisten bernama bi Surti menceritakan Seila yang sedari tadi memang sudah lama melamun.

Seila menoleh dan memperhatikan dua ibu-ibu yang mengajak ia berbicara tapi ia abaikan. "Maaf, Ma! Maaf, Bi! Seila liatin cucian takutnya macet atau sudah waktunya di kasih air buat bilas!" Sebuah alasan yang di buat-buat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Lagi, Non. Ngapain nyuci sendiri. Biar bibi aja!" Tidak biasanya Seila mencuci pakaian sendiri.

"Iya, Sei. Ngapain anak mama yang cantik ini nyuci segala. Kan, ada bi Surti! Biar bi Surti yang cuci, Sei!"

"Enggak, Mah. Ga papa sesekali!" tolaknya yang masih ingin menatap jaket Aksara.

"Kata ayah, Seila mau pindah sekolah lagi?" tanya sang mama yang belum pergi.

"Iya. Biar Seila cari suasana baru lagi!" jawabnya enteng. Orang tua mana yang tidak khawatir jika terjadi sesuatu pada putrinya.

~LianaAdrawi~

Seorang anak laki-laki tengah berjalan sendiri. Wajah tampannya penuh luka lebam, membuat orang yang melihat heran dan memperhatikannya.

Sahabat-sahabatnya pun mendekat melihat rekannya babak belur seperti habis di hajar masa.

"Muka Lo kenapa?" tanya salah satu anak sambil ikut berjalan di samping pria tersebut.

"Habis di pukul orang!" Dia tetap berjalan ke depan tidak melihat semua wajah yang sedari tadi memperhatikannya.

"Sekarang mau kemana?" tanyanya lagi.

"Mau nemuin seseorang!" Langkahnya terhenti saat tiba di ruangan kelas IPA putri.

"Gadis itu kemana?" Dia memperhatikan di balik kaca tapi gadis yang ia cari tidak ada.

"Siapa yang Lo cari?"

"Seila!" jawabnya singkat. Api kemarahan dan dendam terpancar dari bola mata yang kini memerah.

"Dia kayanya ga masuk!"

"Sial!" teriaknya sambil menendang tong sampah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED