Bab 1

Seorang gadis bernama Mita tengah serius menghadapi pria yang saat ini duduk di depannya, Mita adalah seorang wanita yang kerjanya dibayar buat melakukan sesuatu. Misalnya mengawasi pacar orang, menyelidiki suami orang dan pura-pura jadi pacar orang.

Apapun akan Mita lakukan demi uang. Termasuk, pura-pura jadi peramal. Haduh ....

"Namanya siapa, Mas?" tanya Mita, pada pria gemuk yang saat ini ada di depannya.

"Tirto, Mbak," jawab pria bernama Tirto, pada Mita yang saat ini akan membantunya.

"Baiklah, katakan masalahnya!" perintah, Mita, langsung pada intinya.

"Saya mau menikah, Mbak. Tapi apakah Mbak bisa melihat? Kalau gadis itu sehat atau tidak?" tanya sang pria, cemas menatap Mita.

"Maksudnya?" dengan bingung Mita menatapnya.

"Aku hanya ingin tanya, gadis sehat itu terlihat dari apanya? Apakah fisiknya? Kadang yang bugar belum tentu sehat, Mbak. Bisa saja mandul."

"Oooo ... kalau mau tanya sehat kenapa tidak ke Dokter saja, Mas?" Mita memberi solusi tapi bukannya senang pria itu malah kesal.

"Tapi Mbak kan peramal, jadi ingin tanya Mbak aja."

"Oh! Ngomong dong. Aku kan lupa kalau aku peramal," tanpa rasa bersalah Mita tersenyum mendengar pria di depannya. Mita dengan sengaja memalingkan muka agar tidak terlihat oleh tamunya, tertawa di hadapan tamu sungguh tidak sopan menurutnya.

"Hahaha, Mbak lucu sekali," gerutu pria tadi, kesal.

"Pokoknya, Mas. Cari wanita itu yang dadanya montok, pantatnya kencang, dan yang pasti ... masih hidup. Kalau tidak, jangan dinikahi, cari yang lain lagi!"

"Maksudnya, Mbak?!"

"Ingat, dalam dada yang montok terdapat asi yang sehat, dan dalam pantat yang kencang, terdapat kentut yang kuat. Kalau kentutnya kuat, itu berarti dia sehat," jelas Mita membuat pria itu menggelengkan kepala tidak percaya.

"Apa benar begitu, Mbak?"

"Tentu saja! Aku dapat sumbernya dari google," batin Mita, berusaha menahan tawa.

"Benar, Mas. Jadi tugas Mas, habis ini pergi lihat dadanya. Montok atau tidak?! Setelah itu pantatnya! Ciumlah! Dan dengarkan baik-baik apa kentutnya bisa kuat, kalau kuat, silahkan dinikahi."

"Oh, saran yang bagus, makasih, Mbak. Ngomong-ngomong ... berapa biayanya, Mbak?" tanya Tirto mengeluarkan dompetnya.

"Ehem! Ahahahaha seikhlasnya saja, Mas. Toh ini hanya ucapan, kalau kejadian benar, itu murni takdir Tuhan. Kalau tidak benar itu ujian, jadi sabar, ehehehehe," Mita cengar-cengir tidak jelas.

"Ya sudah, ini ada lima ratus ribu, Mbak. Bawa dulu, kalau memang benar, nanti saya kesini lagi."

"Oh! Tidak usah! Ini kebanyakan, Mas. Saya jadi tidak enak," ucap Mita, salah tingkah.

"Em ... ya sudah, tiga ratus aja, Mbak."

"Jangan!! Lima ratus aja, terima kasih," Mita mempersilahkan pria itu pergi, tentunya setelah menerima uangnya, kalau tidak, bulan bisa turun ke bumi, mustahil terjadi.

Setelah pria itu meninggalkan ruangan ramal Mita. Mita berniat tutup dan menuju jendela buat menutup gordennya, tapi pemandangan di depan menarik perhatiannya.

"Kau ini apa-apaan sih, Tir?! Masak menyuruhku nungging di sepeda?! Jangan keterlaluan, ya?!" bentaknya pada pria yang ternyata adalah tamu Mita.

"Busyet!! Kenapa melakukannya di tempat umum?!" seru Mita, memegangi dahinya. "Gawat!" serunya lagi, gelisah. Dengan cepat Mita menghampiri mereka, kalau ada apa-apa, Mita bisa dalam bahaya, uang pemberian dari sang pria taruhannya.

"Aku hanya ingin mendengar kentutmu, Sayang," ucap sang Pria pada Wanita yang saat ini tengah nungging di pinggir sepeda.

"Waaaah! Mesra sekaliiii! Aku jadi iri!" seru Mita, pura-pura kagum melihat mereka.

"Eh! Mbak?! Mesra darimana?! Ini pria mau melihat pantat saya!! Setelah itu juga ingin mendengar kentut saya!! Apakah waras?!" seru wanita, yang ternyata adalah kekasihnya Tirto. Dengan cepat Mita harus membantu tamunya, tentunya memeriksa pantat calon istrinya, astaga ... Mita takut kehilangan uangnya.

"Itu mesra sekali, Mbak. Mbak bayangin deh! Hari gini ada pria rela mencium kentut kekasihnya itu karna saking cintanya, kalau cowok lain buru-buru mencium, dengar suaranya saja sudah kabur," jelas Mita berusaha meyakinkan kekasih Tirto.

"Oh, begitu?" lirih kekasih Tirto, menggaruk tengkuknya sendiri.

"Iya, Sabrina, kau harus mendengarkannya," ucap Tirto, membenarkan ucapan Mita.

"Apakah benar begitu, Mbak?" Sabrina ganti menatap Mita.

"Iya!" Mita semangat menyahuti ucapannya.

"Baiklah, apa maumu, Sayang?" tanya Sabrina, pada kekasihnya.

"Kentutlah, Sayang!" Tirto mendekatkan mukanya ke pantat Sabrina.

"Baiklah, sebentar. Em ... uh ...."

"Belum bisa, ya? Aku bantu, ya!" seru Mita, menggosok-gosok perut Sabrina. Dalam hati Mita berkata- "Tuhan ... kalau bukan karna uang, tidak mungkin aku mau melakukannya."

"Sedikit lagi, Mbak. Gosok terus!" Sabrina semakin erat memejamkan matanya sementara Mita terus semangat menggosok perutnya hingga tak lama kemudian ....

Duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt ....

Tirto menciumnya, matanya terpejam penuh rasa bangga, sementara Mita berusaha menahan bau yang sangat menusuk hidungnya.

"Haaaaaah ... legaaaa," Sabrina terharu menatap Tirto kekasihnya, rupanya benar apa kata Mita. Kalau pria lain pasti akan kabur mencium baunya, beda dengan Tirto. Entahlah, yang gila Mita atau mereka? Mungkin daki di pantat Sabrina saja juga tidak tahu.

"Gimana, Mas? Kencang! Kuat! Dan menyengat, bukan?!" Mita tersenyum menatap Tirto.

"Iya, Kau benar, Mbak!" seru Tirto, berbinar matanya. "Aku akan segera menikah dengan Sabrina!" serunya lagi bukan hanya membuat Mita bahagia tapi Sabrina juga semakin cinta pada kekasihnya.

"Aaaaawwww!! Makasih, Sayang. Kita akan menikah!!" Sabrina menciumi pipi Tirto, sementara Mita salah tingkah melihat kebahagiaan mereka, andai dia punya kekasih, pasti juga akan bahagia seperti Sabrina.

"Ya sudah, selamat tinggal, Mbak."

"Selamat tinggal," jawab Mita yang saat ini melambaikan tangan menatap kepergian mereka berdua. Hatinya lega.

Saat akan menutup ruangan ramalnya, tamu kembali datang dengan mata berkaca-kaca, dia seorang wanita. "Maaf, ramalnya sudah mau tutup, Mbak. Kalau ada masalah besok saja," ucap Mita, ramah menatap gadis di depannya, dia sangat cantik.

"Aku mohon, Mbak Mita, bantu, Aku. Aku mau dijodohkan oleh papa-ku! Aku tidak mau, aku sudah jatuh cinta pada pria lain," isaknya membuat Mita merasa iba.

"Tapi, Mbak ... melawan orangtua itu tidak baik, kalau orangtua sudah memilih, biasanya pilihannya baik."

"Dia tidak baik, Mbak. Banyak selingkuhannya, dia mau menikah denganku demi memperluas bisnisnya, aku sudah menyelidikinya," ucapnya membuat Mita garuk-garuk kepala.

"Aku mohon ... bantu Aku ya, Mbak," paksanya membuat Mita tidak sanggup mengatakan tidak.

"Apakah pria itu tahu, Mbak?" tanya Mita memastikannya.

"Tidak, Mbak."

"Apakah sama sekali belum pernah bertemu?!" Mita memastikan lagi.

"Belum," dengan tegas gadis itu menjawabnya.

"Baiklah, nama kamu siapa?" tanya Mita sambil berdiri menatapnya.

"Mexca."

"Oh, ok. Terus nama pria yang akan dijodohkan dengan kamu, siapa?" Mita terus mencari tahu calon sasarannya.

"Samuel, nanti aku kasih tahu foto beserta alamatnya," ucap Mexca, sedikit ceria.

"Tapi ... tidak murah loh, ya. Ini sedikit lama. Perlu bantuan beberapa team juga," ucap Mita, berharap gadis itu membatalkan niatnya.

"Berapapun akan saya bayar, mbak Mita."

"Baiklah! Besok temui saya. Aku perlu memikirkan cara untuk menghadapinya."

"Tentu saja, terima kasih, Mbak Mita."

"Panggil Mita saja," perintah Mita, tidak enak.

"Baik, Mita. Terimakasih," ulang Mexca, tersenyum ceria.

"Sama-sama," lirih Mita langsung menutup ruangan ramalnya, seharian ini beberapa tamu membuatnya lelah.

***

TBC.

Bab 2

Mita menemui sahabatnya yang tengah nongkrong di pos ronda, dia memang tinggal sebatang kara, orangtuanya pergi ke kota dan sudah bertahun-tahun tidak pulang. Awalnya Mita tinggal bersama Ibunya, berhubung ibunya menikah lagi, Mita tinggal sendiri, cari uang sendiri, dan hidup sendiri. Ngeri ....

"Bro! Ada misi baru, nih!" seru Mita, pada Achsen, Bredy dan Yunita.

"Misi apa?" tanya Achsen, dengan gayanya yang somplak.

"Memutuskan hubungan orang," jawab Mita tanpa basa-basi.

"Eh! Gak baik itu ... memutuskan hubungan orang," protes Yunita, tidak suka.

"Ada uangnya tidak?" tanya Bredy, langsung pada intinya. Meski seorang Dokter, pikirannya hanya ada uang.

"Apa pernah seorang Mita menolong orang secara cuma-cuma?! Tentu saja ada. Sekarang! Aku tanya pada kalian, khususnya Bredy dan Achsen. Wanita cantik menurut kalian itu seperti apa?" tanya Mita menatap keduanya. Bredy dan Achsen tampak sibuk dengan pikirannya.

"Kalau menurutku, sih. Wanita cantik itu bisa dilihat dari kakinya, kalau kakinya bersih otomatis itunya bersih. Kalau itunya bersih lelaki jadi suka dan betah," jawab Bredy, membuat Ahcsen tertawa.

"Yakin?!" Achsen semakin gencar mengoloknya.

"Yakin-lah! Ingat! Aku seorang Dokter," sahut Bredy, menggerutu.

"Baiklah! Lihat bencong di sana! Dia kakinya bersih, loh. Godain gih!" perintah Achsen kali ini bukan hanya dia yang tertawa, melainkan Mita dan Yunita juga.

"Hai, Mas Bred ... godain ekke, ih ... ganteng deh," seru mbak setengah pria, genit menatap Bredy.

"Dasar, Kalian! Dia bukan wanita tahu! Tapi makhluk unik," Bredy semakin kesal dan memerah mukanya, kalau soal pendapat, dia memang kekeh dengan ucapannya.

"Eh! Ngomong-ngomong, kakimu buluk, Mit. Apa jangan-jangan punyamu bau?" tanya Achsen, kali ini ganti menggoda Mita, wanita yang biasanya tenang kini jadi kesal gara-gara sahabatnya.

"Enak aja, aku setiap hari membersihkannya dengan ramuan Manjamanuk, tak cukup dengan itu aku bilas dengan ramuan Manjamani, keren deh! Cobain gih!" balas Mita, geram menatap Achsen.

"Kalian ngomong apa, sih?! Sudah deh," Yunita berusaha melerai tapi gagal.

"Jadi tidak bau, dong?" timpal Bredy, ikutan ingin tahu.

"Sedikit bau, sih, mau cium?!" tantang Mita, kesal menatap Achsen dan Bredy.

"Jangan!! Nanti mereka pingsan!" seru Yunita, dan mereka semua tertawa di tengah kegelapan malam.

Maklum, Mita menutup ruangan ramalnya sekitar jam sembilan malam dan setelah pulang, langsung menemui sahabatnya atau team-nya.

"Sudah cukup, kembali pada masalahnya. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yunita, menyudahi candaan mereka.

"Aku masih butuh informasi, selain kakinya bersih, terus apalagi?!" tanya Mita, pada Bredy dan Achsen.

"Wanita cantik itu menurutku rambutnya juga tidak berantakan, baunya wangi dan dandanannya sopan. Kalau seksi, mending langsung kutindih saja!" Achsen menjelaskan sambil membayangkan tubuh Monalisa, artis bokep yang sering ditontonnya. Mita pernah diberitahu oleh Achsen tapi langsung ditoyor oleh Bredy, katanya, biarkan Mita bersih dari pikiran kotornya.

"Baiklah, Achsen. Kau carilah bunga bangkai! Bawa padaku dan cepatlah! Rencananya dilakukan besok. Sementara kau Bredy, cari sesuatu yang bisa membuat kaki tampak kotor, aku ingin pria yang akan dijodohkan dengan Mexca membatalkan niatnya. Dan ... Yunita, Kita cari baju seksi," intruksi Mita pada semua temannya. Mereka langsung bergegas menyelesaikan tugasnya.

Esoknya, Mita kembali membuka ruangan ramalnya dan wanita bernama Mexca kembali menemuinya. Rupanya untuk berpisah dengan Samuel besar terlihat dari keseriusan niatnya, dengan tenang Mita menemuinya.

"Bagaimana?! Kau jadi membantuku?!" tanya Mexca harap-harap cemas menanti jawaban Mita.

"Tentu saja, semua sudah disiapkan. Tentukan saja harganya," perintah Mita, memang tidak bisa basa-basi orangnya.

"Ini ada lima juta. Kalau kau berhasil akan aku tambah lagi," ucap Mexca, membuat Mita membelalakkan kedua matanya tidak percaya.

"Ini banyak sekali! Apa dia begitu sulit?!" seru Mita, biasanya tamu dengan bayaran tinggi tidak main-main dengan urusannya.

"Sangat sulit! Samuel sangat kaya orangnya, dia juga selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, kalau kau berhasil, jangankan lima juta, aku rela membayarmu berkali-kali lipat," ucap Mexca, sungguh membuat Mita dilema. Apa dia harus membantunya?!

"Tapi ... jika gagal bagaimana?" lirih Mita, sedikit gemetar tangannya.

"Tidak masalah, aku tidak akan menuntutmu, dan uang ini akan tetap menjadi milikmu. Tapi Aku mohon, Mita. Kau harus berhasil, demi hubunganku dengan pria pilihanku," pinta Mexca, memelas.

"Aku tidak berani jamin. Tapi akan tetap berusaha, nanti malam temui, Aku. Kau harus menuruti apa perintahku. Aku akan menggoda Samuel tepat di depan matamu, Kau nanti harus pura-pura marah dan tidak mau dijodohkan dengannya, sementara teamku, mereka akan membantuku dari jarak jauh."

"Oh ya?! Siapa saja mereka?!" tanya Mexca, berantusias.

"Guys!! Keluarlah!" perintah Mita pada semua sahabatnya. Achsen, Bredy dan Yunita langsung menampakkan wajahnya.

"Hai," sapa Achsen pada Mexca, tingkah genitnya tidak hilang juga. "Aku Ahcsen, biasa dipanggil, Ach--" desah Achsen membuat Mita menutup muka, sangat malu punya teman seperti dia, tapi karenanya Mita tidak kesepian, andai tidak ada mereka, Mita pasti akan sengsara karna ditinggal orangtua, berhubung mereka ada, Mita sangat bahagia, itulah sebabnya Mita menjaga baik hubungannya dengan para sahabat. Ada rezeki dibagi-bagi, ada yang kesusahan dibantu, dan jika ada yang kesulitan ... dilawan bersama-sama.

"Achsen nanti akan merekam adegan saat Aku merayu Samuel di depanmu, sementara Kau, tetaplah dengan sikapmu, pura-pura merana dan kecewa. Dengan begitu, kau bisa menunjukkan video tidak senonohku itu ke ayahmu, biarkan ayahmu tahu," jelasku membuat Mexca menggangguk puas.

"Hai ... Aku, Mexca," ucap Mexca, tersenyum menatap Achsen.

"Aku, Bredy. Biasa dipanggil, Bred," ucap Bredy, memperkenalkan diri, tabiatnya masih sama, datar ....

"Dia yang akan memberitahu media jika Samuel macam-macam. Dengan begitu, Samuel akan menyerah dan tidak jadi menikah denganmu. Ingat, video saat bermesraan denganku ada di tangan Achsen. Sedikit rumit memang, tapi kami penuh pertimbangan," jelas Mita, menunjukkan rencananya. Mexca tampak puas dengan hasilnya.

"Aku, Yunita, semoga bisa berkawan baik," ucap Yunita, menjabat tangan Mexca. Yunita adalah orang kaya, dia melakukan semua ini demi menghibur hatinya sendiri, kalau mau, dia bisa foya-foya dan hidup enak dengan orang kalangan atas, berhubung dia suka kesederhanaan, dia membantu Mita dan All team.

"Senang berkenalan dengan kalian, kuharap kalian bisa membantu Mita untuk memutuskan hubungan perjodohanku dengan Samuel," ucap Mexca, setelah membahas tentang rencananya, dia pulang.

"Apa kau yakin dengan rencana kita, Mit?" tanya Yunita, dia selalu memikirkan dampak dari rencana sahabatnya.

"Sebenarnya beresiko, Yun. Tapi berhubung kita butuh uang, rasa takut harus kita lawan," tekan Mita, tidak mau diganggu-gugat.

"Kita?! Kamu aja kali, Mit. Aku seorang Dokter, Yunita seorang pengusaha, sementara Achsen ... meskipun pengangguran Aku yakin dia bisa dapat kerja lebih baik dari ini, sementara, Kau-- kenapa Kau tidak menerima pertolongann kami? Kerjalah sama kami, jangan menipu seperti ini," ucap Bredy, sifat pedulinya kembali datang. Kalau sudah cuek, sahabatnya sekarat pun dia tertawa, dasar!

"Kau tahu, kan? Aku tidak suka dikasihani, selama masih bisa mandiri, kenapa menyusahkan teman?" Mita kekeh pada keputusannya.

"Terus! Kau pikir ini tidak menyusahkan teman?!" tekan Yunita membuat Mita tertawa.

"Astagaaa! Dikit doang. Sabar ya," Mita mengakhiri ucapannya dan menyiapkan rencana buat besok.

Merayu calon Mexca, Samuel.

Apakah berhasil?!

Hem ....

***

TBC.

Bab 3

Mexca datang tepat jam tujuh malam, Mita sudah siap dengan peralatannya, termasuk teamnya, mereka semua sudah kumpul. "Bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Mexca, kebingungan.

"Ganti bajumu," perintah Mita, membuat Mexca semakin kebingungan menatapnya.

"Kenapa harus ganti baju? Ini bagus," protes Mexca, menyentuh gaun yang dipakainya.

"Ini terlalu sopan, pria sangat suka wanita dengan pakaian sopan. Hanya pria yang matanya jelalatan saja suka dengan pakaian terbuka. Pakailah! Aku juga akan pakai, cuma punyaku warna merah agar kelihatan lebih berani dan nakal. Aaaarrrr," Mita berusaha menjelaskan.

"Baiklah, aku menuruti semua perintahmu, yang pasti, buat Samuel benci padaku," pinta Mexca, menaruh harapan besar pada Mita.

"Tentu saja," Mita dengan percaya diri menganggukkan kepalanya.

Setelah ganti baju, Mexca tampak kelihatan seksi daripada yang tadi, bagian atas dadanya terlihat, pahanya yang mulus juga lebih banyak terekpos, dengan cepat Mita mengoleskan krim yang diberikan oleh Bredy agar kaki Mexca terlihat tampak dekil dan kotor.

"Kenapa harus pakai ini?" tanya Mexca lagi, tidak mengerti.

"Kata Bredy, cowok kalau lihat kaki cewek kotor itu mengganggap anunya tidak bersih. Jadi kau harus pakai ini, mengerti?!" Mita menjawab pertanyaan Mexca.

"Oh, ok. Baiklah," ucap Mexca, diam saja diapakan oleh Mita.

"Achsen!" seru Mita, memanggil sahabatnya.

"Iya," Achsen langsung menjawab panggilannya.

"Apa bunga bangkainya sudah dapat?" tanya Mita, setelah Achsen masuk ke ruangan ramalnya. Sejak tadi Bredy, Achsen dan Yunita menunggu di luar ruangan ramal.

"Tidak! Kau lupa, ya?! Bunga bangkai dilindungi pemerintah, tahu!!" jawab Achsen, melirik nakal ke arah Mexca.

"Yah ... terus bagaimana dong?" tanya Mita, kecewa menatap sahabatnya.

"Tenang saja, aku sudah menemukan gantinya," ucap Achsen, tersenyum menatap Mita.

"Oh ya?! Apa?! Bawa masuk saja, aku ingin melihatnya!" perintah Mita yang langsung ditolak oleh Achsen.

"Tidak, Mit. Ini sangat bau."

"Tidak apa-apa, burungmu lebih bau, Chen," jawab Mita, sengaja menggoda sahabatnya.

"Apa maksudmu?!" marah Achsen, tidak suka.

"Maksudku ... bawa masuk saja barangnya! Aku ingin melihatnya, nanti Mexca akan membawanya," intruksi Mita membuat Mexca diam saja menuruti perintahnya.

"Apa kau yakin?" Achsen masih ragu-ragu ingin membawa barang bau itu masuk.

"Sangat yakin, Achsen! Kita membutuhkannya! Mana?! Cepat!!" perintah Mita, tidak mau diganggu-gugat.

Karna Mita terus memaksa, Achsen menurutinya, dia keluar dan langsung menunjukkan barangnya setelah sampai lagi ke dalam ruang ramal milik Mita.

"Ini," ucap Achsen, sambil menunjukkan kaos kaki.

"Apa?! Bau banget!! Kau gila, ya?! Ini milik siapa?! Bau banget ya, Tuhaaan!" seru Mita, menutup hidungnya, Mexca juga melakukannya.

"Ini--"

"Milik siapa, Achsen?! Milikmu ya?! Jorok banget!! Sudah aku ingatkan berapa kali?! Cuci kaos kaki agar tidak bau seperti ini!" sahut Mita, memotong ucapan Achsen karna tidak tahan dengan baunya.

"Ini--"

"Apalagi?! Mau membantah?!" bentak Mita, lagi-lagi memotong ucapan Achsen.

"Ini punyamu, Mita," jelas Achsen, setelah Mita memarahinya. Wanita itu membulatkan kedua mata tidak percaya.

"Apa?! Ini milikku?!" seru Mita lagi, salah tingkah.

"Iya!! Ini punyamu!! Makanya lain kali dicuci agar tidak bau seperti ini!! Mengerti?! Dasar nenek-nenek!" maki Achsen, ganti memarahi Mita.

"Diam, kau!! Seharusnya kau bangga tahu! Kaos kaki ini bisa membantumu, kalau tidak ada kaos kaki ini! Rencana kita bisa gagal," ucap Mita, membuat Achsen kesal.

"Terserah kau, saja! Cepatlah!" seru Achsen, mengabaikan ucapan Mita.

"Ba-baiklah. Ingat, Mexca! Barang itu akan aku masukkan dalam tasmu, kalau Samuel tanya, kau jawab tidak tahu! Biarkan dia mengira itu bau badanmu. Satu lagi! Kakimu sudah kotor, pakaianmu terbuka, dan rambutmu sebentar lagi akan aku acak-acak. Sesekali garuklah ketiakmu, kepalamu, dan ... yang terpenting area sensitifmu, dengan begitu Samuel akan jijik melihatmu, dan kalau dia jijik--"

"Dia tidak mau dijodohkan denganku!" sahut Mexca, puas dengan rencana Mita.

"Bagus! Kau pintar sekali, saat aku merayu dia nanti, kau harus marah dan sedih, setelah itu lari sambil menangis, papa-mu pasti akan murka melihat anaknya terluka, dan bayaranku ... bakal jatuh ke tanganku, iya, kan?!" Mita bersemangat hingga tanpa sengaja Mexca meneteskan airmata. "Eh! Kenapa?! Kalau menyesal tidak usah saja," ucap Mita, panik menatap Mexca.

"Tidak, Mit. Aku tidak menyesal, justru malah berterima kasih karna Kau sudah membantuku untuk memperbaiki hubunganku dengan kekasihku, karenamu, Samuel pasti akan meninggalkanku," ucap Mexca berharap banyak. Mita hanya menganggukkan kepala meski dalam hatinya gelisah, dia takut rencananya akan gagal. Ditambah lagi ... nama orang yang akan dijodohkan dengan Mexca mirip dengan nama mantan kekasih Mita, semakin membuat Mita terluka. Baginya, dua sejoli saling jatuh cinta harus bisa bersama. Kalau tidak, Mita akan menyesal dalam hidupnya.

Setelah Mexca keluar, Achsen mendekati Mita dan bertanya. "Kenapa kau tampak murung, Mit? Apa kau cemas dan takut tidak akan berhasil?" tanya Achsen, cemas melihat Mita diam saja.

"Apakah dia tidak akan kembali, Chen?" tanya Mita, pada Achsen yang selama ini tahu semua masalahnya.

"Lupakan saja, dia sudah tiada."

"Belum, Chen, dia masih hidup," bantah Mita, tidak terima mantan kekasihnya dibilang tiada.

"Kau yakin darimana?! Jelas-jelas mobilnya terbakar, Samuel atau Sammy-mu itu pasti ikutan terbakar."

"Cukup!! Keluar kamu!!" bentak Mita, menutup kedua telinganya. Dia tidak suka, mantan kekasihnya dibilang tiada. Baginya, Sammy atau Samuel selalu ada, andai Mita tidak bertengkar dengannya, mungkin saat ini mereka sudah menikah. Tanpa terasa Mita meneteskan airmata.

"Ya sudah. Maafkan, Aku. Ganti bajumu dan mari kita jalankan rencanamu, Aku hanya tidak ingin kau terluka, Mita," lirih Achsen, mengalah pada sahabatnya, dia menyesal telah membuat Mita menderita.

Setelah Achsen keluar, hanya tinggal Mita seorang berada di dalam ruangan ramal. Dia keluarkan benda berharga milik mantan kekasihnya dari dalam tas, setelah keluar, Mita menciuminya dan sesekali menghirup aromanya.

"Setelah sekian lama, aroma cangcutmu masih ada, Sayang. Baunya sangat enak, asem-asem sedap. Andai kau ada, bukan hanya cangcutmu yang aku cium, tapi sesuatu yang sering kau bungkus dengan cangcut ini bakalan aku cium," isak Mita, menciumi cangcut mantan kekasihnya. Meskipun buluk dan dekil, Mita sangat suka. Dia selalu membawanya kemana-mana.

"Apa kau tahu, Sayang? Aku masih ingat rayuanmu. Kala itu kau bilang, apa bedanya aku sama bangkai? Terus karna aku tidak tahu, maka kau menjelaskan, kalau aku kamu sayang, sementara bangkai kamu buang. Dan saat itupun aku tertawa karna kau sangat romantis. Dan satu lagi! Aku juga ingat kau pernah bilang, apa persamaan aku dengan tai? Dan karna tidak tahu juga, kau pun menjawab, kalau tai bau sementara aku wangi. Astagaaaa! Itu romantis sekali ... adegan pelukan dalam film Titanic pun kalah, kalau mereka berpelukan di atas kapal, sementara kita berpelukan di atas mobil orang, uumm ... mesra sekali ... apalagi pas yang punya mobil tahu, dia memarahi kita dan kitapun berlari sambil bergandengan tangan masuk ke got. Setelah dia pergi baru kita keluar, sungguh mesra, bukan?!" ucap Mita, tersenyum menatap cangcut mantan kekasihnya.

Tiga tahun lalu sebelum kecelakaan, Mita dan Samuel bertengkar, dan karna pertengkaran itu, Samuel mengejar Mita di jalanan hingga karna tidak fokus, mobil Samuel menabrak pepohonan dan langsung terbakar, sayangnya ... Mita tidak tahu apakah dalam mobil itu jasad Samuel atau bukan?! Yang pasti, setelah kecelakaan yang menimpa dirinya, Samuel menghilang. Orangtua Samuel marah pada Mita dan mengancam akan menghabisinya jika berani mendatangi rumah mereka.

Mita hanya berharap, semoga mantan kekasihnya baik-baik saja. Selain orang kaya, Samuel tidak sombong dan mau mencintai Mita apa adanya.

***

TBC.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED