Bab 1

“Dasar wanita jalang!” seru William membuat Raya semakin murka.

Duarrr!

Tepat kena sasaran. Peluru dari pistol yang di mainkan oleh Raya, berhasil menembus kepala William.

Rico, yang kini berdiri di dekat William tampak syok dan terkejut karena melihat dan menyaksikan kematian ayahnya langsung secara tragis.

Sementara, Raya tampak menyeringai senang karena berhasil menembakkan pelurunya itu tepat pada sasaran.

“Sekarang dia akan bungkam selamanya,” gumam Raya dengan seringainya.

Mendengar itu, Rico sebagai anak tertua tampak tidak terima dengan kematian sang ayah.

Perlahan, Rico menoleh menatap tajam wajah Raya yang masih berdiri dengan jarak 100 meter darinya.

Rico tampak menggertakkan giginya karena marah.

“Biadap! Kau! Aku bersumpah, kau akan menyesal seumur hidup karena sudah membunuh ayahku! Kau akan menyesal karena mengikuti perintah laki-laki licik itu!” teriak Rico dengan keras hingga membuat ruangan itu bergema akan suaranya.

Rico tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak kesal. Kedua tangannya yang diikat ke belakang, membuat Rico tak berdaya untuk melawan dan menyelamatkan dirinya dan ayahnya.

Raya mendecih, ia sama sekali tidak takut dan tidak peduli dengan sumpah Rico yang dianggapnya tidak akan pernah terjadi.

“Oh, ya? Jadi, gue harus takut gitu? Tceh! Gue nggak peduli dengan sumpah lo, brengs*k!” balas Raya.

Rico memiringkan senyumnya mendengar tanggapan Raya yang benar-benar menusuk hatinya.

“Kau tidak tahu apa-apa. Tapi kau bisa membunuh orang tanpa rasa bersalah. Setelah ini, aku pastikan kau benar-benar akan menyesal karena telah mengikuti perintah Edgar. Dia laki-laki licik, memang pantas buat kamu wanita biadap!”

Duarr!

Tembakan kedua berhasil menikam nyawa Rico.

“Dasar berisik! Cepat beresin mayat mereka berdua. Masukkan peti dan kubur di belakang bangunan ini. Mengerti?” pinta Raya pada dua anak buahnya yang gesit melaksanakan tugasnya.

“Siap, Bos!”

Raya beranjak pergi meninggalkan gedung tua itu yang cukup jauh dari kota. Gedung tua yang dibeli oleh Edgar untuk melakukan hal kejahatan.

“Misi sudah berhasil,” ucap Raya melalui telepon.

Raya mengendarai mobil Ferarri yang dibelikan oleh Edgar khusus untuk dirinya menjalankan tugas.

Di satu sisi, Elena yang merupakan istri William tampak panik dan sibuk menghubungi Regan, anak bungsunya untuk segera pulang ke rumah.

“Cepat, Regan! Papa sama Kakak kamu dalam bahaya!” seru Elena lewat telepon.

Regan, sebagai dokter spesialis bedah di rumah sakit, langsung terburu-buru untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Regan dan Elena langsung pergi menuju lokasi dimana Elena mendengar perbincangan William melalui telepon tadi.

“Mama yakin ini alamatnya?” tanya Regan.

“Iya, Re. Mama denger sendiri dengan telinga Mama sendiri kalau Papa sama Kakak kamu pergi ke tempat ini. Tadi ada mobil yang menjemput mereka. Mama curiga, Re, kalau orang yang menjemput Papa sama Kakak kamu itu bukan orang baik-baik.”

Regan semakin menambah kecepatan mobil. Begitu sampai di lokasi, tepatnya di gedung tua yang besar dan tinggi, Regan dan Elena keluar dari mobil dan bergegas pergi memasuki gedung itu.

Sepasang mata mereka tampak berkeliling mencari sosok ayah dan kakak.

“Tapi, di sini tidak ada siapa-siapa, Ma.”

Elena terdiam dengan mata yang tak berhenti menjelajah ke setiap sudut ruang gedung besar itu. Tiba-tiba, kedua matanya tak sengaja melihat ke arah tembok di mana terdapat percikan darah William dan Rico tadi.

Elena berjalan pelan mendekati tempat itu dan melihat dengan jeli darah itu.

Regan menoleh dan mengikuti Elena dari belakang. Ia pun ikut penasaran akan sesuatu yang di dekati oleh Elena.

Elena mencolek darah dari dinding dan mencium aromanya. Tampak jari tangan Elena bergetar usai mencium darah itu.

Regan semakin mempercepat langkahnya menghampiri Elena. “Ada apa, Ma?” tanya Regan khawatir.

“Darah ini, masih begitu segar, Re. Seperti belum lama terjadi sesuatu di sini,” ucap Elena merasa sesuatu yang buruk.

Regan pun ikut mencolek darah itu dan menciumnya. Regan sebagai dokter pun bisa membedakan bahwa darah itu benar-benar masih fresh.

“Mama benar. Darah ini masih fresh. Itu artinya,” belum selesai melanjutkan bicaranya, tiba-tiba Regan mendengar suara percakapan dua orang yang tak jauh dari sana. Mendengar itu, Regan langsung menarik tangan Elena dan mengajaknya untuk mencari sumber suara itu.

Tampak dua orang sedang memasukkan satu peti ke dalam lubang yang sudah mereka gali. Sementara, di sebelahnya sudah terlihat gundukan tanah yang tidak lain adalah isi dari peti satunya.

Regan menatap curiga dua orang itu. “Siapa mereka, Re?” gumam Elena penasaran.

Regan menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia sendiri juga tidak tahu. “Kita tunggu saja, Ma.”

Tak berlangsung lama, kedua laki-laki yang tidak lain adalah bodyguard-nya Raya langsung beranjak pergi dari sana usai menjalankan tugasnya.

“Ayo, cabut!” tukas salah satu laki-laki itu kepada temannya.

Setelah dua bodyguard itu benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, Regan dan Elena bergegas menghampiri dua gundukan tanah yang saling berjejer itu.

“Regan, apa ini? Ayo, Re! Bongkar dua kuburan ini!” seru Elena tak sabar. Elena meraih sebuah cangkul di dekat tempat itu dan diberikannya ke Regan. Regan dengan cepat langsung membongkar kuburannya.

Kuburan yang tidak terlalu dalam itu menampakkan sebuah peti mati. Elena tanpa ragu dan takut kotor langsung membantu Regan mengangkat peti mati yang terbilang cukup berat.

Setelah di letakkan di atas tanah yang datar, Regan dan Elena saling menatap tampak penasaran untuk segera membukanya. Perlahan, Elena membuka tali yang masih mengikat di luar peti itu. Begitu tali itu terlepas, Elena membuka pintu peti nya. Elena dan Regan membelalakkan matanya kaget melihat isi peti itu yang tidak lain adalah mayat Rico.

Elena membungkam mulutnya yang bergetar tak sanggup melihat jasad anak tertuanya itu. Begitu juga dengan Regan yang matanya sudah berkaca-kaca tampak syok melihat kakaknya sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Elena mulai menangis kejar, dan Regan menoleh gundukan tanah yang di belakangnya yang menurutnya itu pasti berisi jenazahnya papa William.

Dengan gerakan cepat dan napas yang terengah-engah, Regan menggali gundukan satunya lagi untuk memastikan isi didalamnya.

Terlihat sebuah peti mati lagi, dan Regan meminta bantuan Elena untuk mengangkatnya. Setelah berhasil, tanpa menunggu lama Regan langsung membongkar peti satunya. Regan tampak syok menatap wajah sang ayah yang mati dengan kondisi yang mengenaskan. Lingkaran kepala bekas peluru di keningnya membuat Regan sampai jatuh duduk tak berdaya melihatnya.

Begitu juga dengan Elena yang semakin syok dan menangis kejar melihat mayat sang suami yang mati mengenaskan itu.

“Arrghh...! Dasar j*hanam! Siapa yang sudah membunuh ayahku!” seru Regan berteriak keras dengan perasaan yang sesak. Bahkan untuk menangis saja sudah tidak bisa menghasilkan suara saking sesaknya dada Regan ketika harus melihat kenyataan itu.

“Regan, Mama tidak terima, Regan. Mama tidak ridho dengan orang yang sudah membunuh papa dan kakak kamu. Mama tidak terima, Re,” ucap Elena diiringi dengan tangisnya.

Regan memeluk Elena yang benar-benar rapuh saat ini sebagai seorang ibu sekaligus sebagai seorang istri.

“Regan janji, Ma, Regan akan balas semua ini!”

Sementara, Raya yang sudah tiba di ruangannya Edgar, tampak tak sengaja memergoki Edgar dengan seorang perempuan cantik dan sexi di dalam ruangan itu. Keduanya tampak gugup begitu melihat Raya memasuki ruangan.

“Ada apa? Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu?” tanya Edgar tampak marah dan kesal karena kedatangan Raya di sana sama sekali tak diinginkan saat ini.

Raya mendudukkan kepalanya meminta maaf. “Maaf, Tuan. Aku hanya ingin memberitahu bahwa aku sudah berhasil membunuh target. Saat ini jenazah target sedang di kubur di belakang gedung,” ucap Raya sontak membuat Edgar menyeringai senang. Ia tak percaya, bahwa Raya dengan mudahnya mengikuti perintahnya itu dengan mulus.

“Bagus. Sekarang kau boleh pergi,” tukasnya tanpa basa-basi.

Raya mendongakkan wajahnya mengerutkan keningnya samar mendengar tanggapan Edgar.

“Tapi Tuan,”

“Kenapa? Kamu mau minta bayaran lagi? Bukankah sudah cukup tugas kamu ini untuk membayar hutangnya teman kamu itu?” lontar Edgar membuat Raya semakin mengernyitkan matanya tampak bingung.

“Maaf, Tuan. Hutangnya Alert cuma 10 juta, kan? Aku rasa, fee untuk misi ini lebih dari itu,” protes Raya menyanggah.

“Tceh! Kamu pikir aku ini bank?” sontak Edgar membuat Raya benar-benar terkejut. Ia tak percaya bahwa Edgar sudah mulai berkhianat.

Tiba-tiba, tatapan Edgar tampak berubah dan mendekati Raya dengan mata jalangnya. Raya yang mendapati Edgar sudah mulai berani menyentuh pundaknya dari belakang, tampak curiga bahwa Edgar memiliki niat yang buruk.

“Kalau kau ingin bayaran tambahan, kau harus tidur denganku dulu malam ini,” bisik Edgar di telinga Raya.

“Tidak akan!” sontak Raya seraya membalikkan badannya dan menjauh dari Edgar.

Raya juga melemparkan kunci mobil Ferrari nya yang diberikan oleh Edgar untuk menjalankan beberapa misi selama ini.

“Aku tidak sudi bekerjasama dengan seorang pengkhianat seperti kamu! Aku rasa, perjanjian kerjasama kita cukup sampai di sini.”

Bab 2

“Aku tidak akan memberikan kesempatan bagi mereka yang sudah berani merenggut nyawa kedua orang yang ku sayangi. Sedetikpun tak akan aku biarkan mereka bernapas,” ucap Regan dengan urat di lehernya yang tampak menegang.

Di sebuah ruangan yang agak gelap, tampak Regan tengah duduk dengan sebatang rokok yang sudah berasap. Berkali-kali Regan mengisap rokoknya dan menghembuskan asapnya hingga menyebar ke seluruh ruangan.

Mengisap rokok sekarang sudah menjadi kebiasaannya, meski sesekali Regan merasa alergi hingga terbatuk-batuk. Regan membuang batang rokok yang masih tersisa banyak dan menginjak putung rokok yang masih hidup itu di lantai.

Matanya tampak menatap tajam lurus ke depan. Regan masih merasa kesal jika mengingat atas kematian ayah dan kakak tirinya yang mati karena dibunuh oleh seorang mafia yang belum diketahui pelakunya.

Mengingat kejadian itu semua, seketika hati Regan diselimuti dengan benci dan dendam. Ditambah melihat sang ibu yang hancur karena kejadian itu, membuat Regan memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai dokter dan fokus menyelidiki kasus pembunuhan ayah dan kakaknya.

Semenjak itu, rasa dendam Regan semakin besar. Ia berinisiatif untuk memperdalam ilmu bela diri dan terus berlatih menembak tepat pada sasaran meski dengan menutup mata sekalipun. Begitu Regan sudah menguasai itu semua, Regan yang semula dikenal sebagai sosok dokter yang alim dan baik, kini menjadi sosok mafia yang dikenal sangat arogan dan kejam. Sekali orang itu mencoba untuk menentangnya, saat itu juga peluru melayang ke tubuhnya.

Meski demikian, Regan tidak menjadi buronan polisi karena identitasnya tidak diketahui sebagai pelaku mafia yang kejam. Dengan kemampuannya yang baik dalam memanipulasi, Regan justru dikenal sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan dalam bela diri yang cukup baik. Bahkan para pejabat tinggi dari pembisnis perusahaan ternama, mengenal sosok Regan sebagai panglima tangguh yang memiliki kemampuan super langka.

Mereka semua mengakui akan kemampuan Regan yang sangat luar biasa dalam membidikkan pelurunya. Dari situlah Regan diminta untuk menjadi anjingnya para pejabat tinggi dari pembisnis perusahaan ternama.

Karena mendapatkan bayaran yang sangat mahal, Regan menyetujui permintaan untuk menjadi anjingnya mereka. Hal itu dilakukannya karena bisa menutupi identitasnya sebagai seorang mafia dari pihak hukum.

Sembari menjalankan misi, Regan juga berniat untuk mengumpulkan uang yang banyak agar bisa mengembalikan kekayaannya yang bangkrut karena permainan licik politik dari pihak perusahaan papanya. Di samping itu, Regan juga akan menyelidiki siapa pelaku yang sudah berani membunuh kakak tiri dan juga papanya.

Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam menghampiri Regan.

“Bos, pelakunya sudah ketemu.” Regan mengalihkan matanya menatap laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya.

“Bawa dia ke sini dengan kaki satu yang pincang,” perintah Regan yang di anggukkan oleh laki-laki yang berdiri dengan kepala yang sedikit menunduk di hadapannya.

Laki-laki itu beranjak pergi dan beberapa saat kemudian, ia datang seraya membawa seorang laki-laki yang sudah dengan salah satu kaki yang terdapat luka tembak hingga berjalannya tampak pincang.

Laki-laki itu di dorong hingga jatuh bersimpuh di depan kakinya Regan yang tengah duduk di atas kursinya.

“Ampun, Tuan. Tolong maafkan saya. Saya hanya sebagai mata-mata saja. Saya bukan pelakunya,” ucap laki-laki yang bersimpuh itu dengan wajah yang memelas.

Mendengar itu, Regan tampak mendenguskan napasnya kasar. Regan mengeluarkan pistolnya yang ia simpan di saku celananya, lalu mengarahkan ke kening laki-laki itu hingga membuat laki-laki itu tersentak kaget. Seketika laki-laki itu terdiam tanpa gerakan sedikit pun.

“Jawab, atau pistol ini yang akan membantu mu untuk diam selamanya.”

Dengan mulut bergetar, laki-laki itu terus meminta ampun kepada Regan agar mau untuk memaafkannya. Laki-laki itu juga mengaku bahwa dirinya merasa menyesal karena telah menjadi mata-mata yang bayarannya tidak seberapa.

“Tolong jangan bunuh saya, Tuan. Saya harus menghidupi anak dan istri saya. Istri saya sedang mengandung, Tuan.”

Regan merenggangkan otot wajahnya yang semula tampak kaku. Tiba-tiba ia teringat akan sosok ibunya yang hampir meninggal dunia usai melahirkan adiknya yang tak lama adiknya itu juga pergi menyusul ke surga.

Tetapi, mengingat dimana papa dan kakak tirinya yang juga mati dalam kondisi mengenaskan, membuat Regan segera menepiskan ingatannya itu.

Regan beralih mencekik leher laki-laki itu dan meminta laki-laki itu untuk mengaku siapa yang sudah menyuruh dia untuk menjadi mata-mata. Tetapi, jawaban laki-laki itu justru membut Regan semakin murka.

Regan memukul kepala laki-laki itu hingga terjatuh ke bawah. Bodyguard yang berada di sana tampak terkejut melihat hal itu.

“Bawa dia pergi dari hadapan ku. Mulutnya benar-benar tidak menghasilkan informasi yang bagus untukku,” pinta Regan membuat bodyguard-nya bergegas membawa pergi laki-laki yang sudah tidak berdaya itu.

Bersamaan dengan laki-laki itu pergi, Lily masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Regan dengan wajah yang bingung.

“Ada apa ini, Regan?” tanya Lily yang merupakan wanita mafia sekaligus partnernya Regan. Regan tak sengaja bertemu dengan Lily di sebuah bar waktu Regan frustasi karena kematian ayah dan kakak tirinya itu. Karena melihat ketampanan dan kelemahan Regan, Lily mengambil kesempatan dengan alasan membantu Regan untuk menemukan pelakunya hingga mengajak Regan untuk masuk ke dunianya.

Regan hanya diam seraya mengalihkan wajahnya. Melihat itu, Lily hanya memiringkan senyumnya. Ia berjalan di belakang Regan dengan tangan yang menyentuh kedua pundaknya.

Lily memulai aksinya lagi untuk merayu Regan. Dan Regan hanya diam membiarkan Lily melakukan hal itu. Untuk menolaknya, Regan tidak mampu karena ia berjasa dengan Lily. Lily lah yang sudah membawa Regan terjun dalam dunia mafia.

“Tenanglah sedikit, Regan. Aku ada kabar baik untukmu,” bisik Lily dengan suara khasnya. Regan yang mendengar itu tampak mengerutkan keningnya samar.

“Apa itu?” tanya Regan penasaran.

Lily beralih berdiri di hadapannya Regan. Seringainya yang khas tidak lupa Lily terbitkan di wajahnya. Regan yang melihat itu semakin mengernyitkan matanya penasaran.

“Kita akan ada misi. Dan misi ini, akan membawa kekayaan yang berlimpah untuk kita.”

“Misi? Misi apa itu?”

Lily menepuk tangannya sebanyak dua kali memberi isyarat kepada bodyguard-nya untuk datang ke sana. Tak lama setelah itu, datanglah seorang bodyguard yang membawa sebuah map berwarna merah dan memberikannya kepada Lily.

Setelah map itu berpindah ke tangannya Lily, Lily beralih memberikannya ke Regan. Dengan wajah yang bingung, Regan menerima map itu.

“Bukalah,” pinta Lily karena melihat kebingungan Regan. Regan membuka map itu dan melihat selembar kertas tulisan yang panjang.

Regan membaca tulisan itu tanpa melafazkan. Tak lama kemudian, Regan memiringkan senyumnya seraya menatap wajah Lily yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang sudah melipat di dada.

“Bagaimana? Apa kau tertarik?” tanya Lily.

Regan manggut-manggut dengan memanyunkan bibirnya nakal. Tampaknya Regan sangat setuju dengan pekerjaan yang terlampir di dalam map itu.

“Kau tahu, aku sangat menyukainya. Ini benar-benar pekerjaan yang selama ini aku cari. Aku ingin tahu, bagaimana rasanya bermain dengan kepala pejabat tinggi yang kaya raya.”

Lily menyeringai puas dengan apa yang dikatakan oleh Regan. Akhirnya, ia berhasil membawa Regan lebih jauh dalam dunianya.

“Kira-kira, kapan kau akan siap?”

“Kapan aku harus taken?”

“Sekarang juga bisa,” Lily membuka kembali map itu dan meminta Regan untuk tanda tangan di atas materai di selembar kertas yang sudah di siapkan.

Lily memberikan sebuah pena dan Regan menandatangani kontrak kerjasama itu.

Melihat itu, Lily semakin menyeringai senang. “Bagus, Regan. Kita akan merasakan lezatnya kepala mereka.”

Bab 3

“Akhirnya, aku punya senjata untuk hidup.” Lily keluar dari ruangannya Regan seraya membawa map itu dengan seringainya yang puas. Lily puas karena berhasil menjerumuskan Regan dalam dunia kejahatan. Kini ia mempunyai partner untuk bisa mengembangkan kemampuannya dalam dunia mafia. Selain itu, ia juga ingin menguasai hati Regan yang sampai detik ini sulit untuk ditaklukkan.

Sorenya, Lily tampak menghubungi seseorang untuk bertemu dengannya. Ia akan mengadakan pertemuan di sebuah gedung rahasia bersama Regan. Dengan gaya mafianya, Regan dan Lily tampak keluar dari mobil dan memasuki gedung dengan tinggi 20 lantai. Mereka akan mengadakan pertemuan itu di lantai paling atas yaitu lantai 20.

Setelah memakan waktu kurang lebih 7 menit, akhirnya Regan dan Lily tiba di lantai 20. Begitu pintu lift itu terbuka, mereka disambut dengan dua bodyguard yang menjaga pintu lift di lantai itu.

Regan dan Lily berjalan menuju ke sebuah ruangan di antar oleh dua orang bodyguard. Saat pintu ruangannya terbuka, mereka melihat beberapa laki-laki juga di sana sudah dengan pakaian formal yang mengenakan jas kantoran.

Namun, Regan tampak menatap fokus dengan satu laki-laki yang duduk di tengah-tengah di antara yang lain. Regan menerka bahwa itu adalah bos dari klien yang akan ditemuinya itu.

“Halo, selamat datang untuk kalian berdua! Ayo masuk,” tukas laki-laki yang duduk di kursi paling tengah. Dia adalah Edgar. Seorang CEO di perusahaan besar dan ternama yang ada di Jakarta. Kekayaannya yang melimpah, bisa membuat dirinya bebas melakukan apa saja asal membuat dirinya bahagia. Akibatnya, banyak yang menjuluki Edgar sebagai bos psikopat yang melakukan kejahatan hanya untuk bersenang-senang. Sayangnya, kabar itu belum sampai terdengar di telinga Regan dan juga Lily.

Mendengar perintah itu, Regan dan Lily melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu dan duduk bergabung di meja bundar para pejabat di perusahaan itu. Semua orang di sana tak lepas memandang penampilan Regan dan Lily yang sudah tidak diragukan lagi untuk menjadi senjata mereka. Mereka berharap kemampuan Regan dan Lily sesuai dengan penampilannya.

“Selamat datang untuk kalian. Selamat bergabung di sini,” ucap laki-laki yang memiliki kumis tebal dan berewok yang cukup lebat. Laki-laki itu tak berhenti menyeringai senang menyambut kedatangan Regan.

“Terima kasih,” jawab Regan dan Lily seraya menundukkan kepalanya kecil secara bersamaan.

“Bos, berhubung mereka sudah datang, bagaimana jika kita langsung membahas permasalahannya?” tanya seorang laki-laki yang duduk di depannya Regan.

“Santai saja, Jhon. Saya tidak ingin terburu-buru untuk menghadapi kasus ini. Bagaimana pun juga, kita harus memperkenalkan ke mereka bagian kulitnya dulu. Setelah itu, baru kita bisa memberi sampai ke daging-dagingnya.”

Laki-laki yang duduk di depan Regan itu tampak anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar.

Regan masih terdiam dengan wajah bingungnya. Ia penasaran, kasus apa yang akan menjadi tugasnya untuk diselesaikan?

Seorang laki-laki menyodorkan sebuah map berwarna biru yang berisi beberapa lembar kertas di dalamnya. Setelah mendapat perintah, ia meminta Regan dan Lily untuk membaca lembar kertas di dalam map yang sudah terbuka itu.

Regan menarik map itu dan membaca dokumen yang ada di dalamnya. Terdapat nama target di lembar kertas itu untuk menjadi sasaran Regan dalam menjalankan misinya.

“Raya?” ucap Regan dengan suara pelannya. Ia terkejut begitu mengetahui bahwa target yang akan dibunuhnya itu adalah seorang perempuan.

Meski mengucapkan dengan suara pelan, Edgar dapat mendengar dengan jelas Regan mengucapkan nama itu.

“Bagaimana Regan? Target yang mudah bukan? Jarang sekali saya memberikan target seorang wanita. Apalagi, dia sudah berada di kandangnya sekarang.”

Regan mengernyitkan matanya semakin penasaran. Apa maksud Edgar mengatakan itu? Apa Raya sudah berada dalam penyekapannya?

Regan menatap semua mata di ruangan itu dengan raut wajahnya yang tampak bingung. Ia beralih menatap lekat wajah Lily yang duduk di sebelahnya. Regan menatap dengan tatapan yang tak biasa, seperti ada percakapan gaib yang tidak bisa di dengar oleh siapa saja.

Lily pun hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Artinya, Lily meminta Regan untuk menyetujui apapun yang menjadi misinya itu.

“Bagaimana Regan? Kenapa kau diam saja? Apa kau keberatan? Ini merupakan misi yang masih mudah untukmu, karena target kita sudah kita amankan. Hanya saja, karena dia seorang perempuan, aku ingin seseorang yang ahli untuk menembakkan peluru nya agar dia mati tanpa merasakan kesakitan. Dan Lily merekomendasikan dirimu,” tukas laki-laki itu melanjutkan.

“Saya tidak keberatan. Hanya saja, apa kesalahan yang dilakukan perempuan ini hingga saya harus membunuhnya?” tanya Regan yang akhirnya mulai membuka suara.

Meski dikenal sebagai mafia kejam dan jahat, Regan juga masih melihat siapa target nya. Apalagi jika targetnya adalah seorang wanita. Dimana yang ia tahu kebanyakan wanita itu adalah lemah.

Mendengar itu, Edgar terdiam dengan raut wajahnya yang berubah singkat. “Sebenarnya aku paling tidak suka dengan sebuah pertanyaan. Tapi, karena itu kamu yang bertanya, aku akan menjawabnya.”

Melihat mimik wajah Edgar yang tampak kesal, Lily menjadi merasa tak enak. Ia juga tidak tahu, kenapa Regan malah menanyakan hal yang tidak penting itu?

Edgar menepukkan tangannya sebanyak dua kali. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan yang menggunakan seragam kantoran memberikan sebuah tablet kepada Edgar.

Edgar menerimanya dan tampak mencari sesuatu yang ada di dalam tablet itu. Tak lama kemudian, ia menyodorkannya ke Regan dan memperlihatkan sebuah video kepada Regan.

Regan menonton video yang disuguhkan itu dengan kening yang sudah berkerut.

“Dia sudah kurang ajar karena berani ikut campur dengan urusanku,” tukas Edgar seraya menjelaskan di sela Regan dan Lily menonton videonya.

Sebuah video yang diputar oleh Regan itu hanya berlangsung selama 2 menit. Di video itu, terlihat seorang perempuan yang tidak lain adalah Raya, yang merupakan karyawan baru di perusahaannya, tengah lancang masuk ke dalam ruangannya Edgar.

Hanya saja, dalam video itu tidak begitu detail apa yang dilakukan oleh perempuan yang masuk ke dalam ruangannya Edgar.

‘Tapi, apa yang dia lakukan? Apa hanya masuk ke dalam ruangan ini, lantas harus di hukum mati?’ batin Regan bertanya-tanya.

‘Tidak penting apa yang dia lakukan. Setidaknya aku mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang,’ lanjut Regan meyakinkan dirinya untuk menyetujui perintah misi pertamanya itu.

“Ok. Aku akan melakukannya. Kapan, dan dimana aku bisa menemui perempuan ini?” tanya Regan membuat Edgar mangguk-manggukkan kepalanya menyeringai puas dengan jawaban Regan yang tak kalah gesitnya dalam bertindak dan berbicara.

“Aku benar-benar suka ini. Malam ini, kau akan bertemu dengannya.”

Regan anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED