"Good morning," ucap Reese saat ia sampai di rumah Jena yang sudah disewa selama tiga bulan kebelakang. Jena menoleh ke arah pintu dengan muka jengah serta tangan sibuk mengoleskan selai coklat dan menuangkan susu kedelai ke dalam dua gelas.
Ia berjalan ke lemari es lagi untuk mengambil beberapa potong buah strawberry juga kiwi yang semalam ia sudah potong-potong dan dimasukan ke dalam mika kedap udara untuk menjaga kesegarannya supaya tidak teroksidasi udara. Ia meletakan ke atas dua piring berbeda, karena ia membuat sarapan untuk Reese juga.
"Sepertinya kau sedang kesal, Jen?" Reese duduk di meja makan sambil menatap Jena yang terlihat mendengkus.
"Café ku harus tutup sepertinya Reese, aku bangkrut." Jawab Jena sambil membenamkan wajahnya diantara dua lutut kakinya yang ia tekuk saat duduk di kursi meja makan.
"Benar tidak bisa diselamatkan, Jen?" Reese menggeser tempat duduknya supaya dekat dengan Jena, ia lalu mengusap-ngusap pundak Jena.
"Mereka menyitanya, siang ini, aku merasa begitu buruk, Reese." Jena sesenggukan. Reese tau bagaimana Jena membangun café yang sebelumnya tak disetujui keluarganya, namun, Jena bersikeras jika ia mampu.
"Apa kau sudah memberitahu kedua orang tuamu, Jen?"
"Belum, dan tidak akan. Ini semua salahku yang tidak becus mengelolanya. Aku begitu bodoh, mudah percaya dengan manajer keuanganku itu."
"Dia bukan seorang manajer, terasa kurang pas menyebutnya, bagusnya, mmm.. oh, si tikus." Reese menepuk-nepuk pundak jena.
"Kau bisa lalui ini, Jen, bukankah kita akan mereview restaurant baru itu 'kan?" Reese mengalihkan pembicaraan, supaya Jena tidak terlalu bersedih. Setidaknya pundi-pundi uang Jena masih ada yang bersumber dari konten food vlogger yang ia kelola sendiri.
"Ya..." Jena menatap roti di hadapannya yang baru ia makan sedikit. "Jadi... kita memang harus ke sana. Makan sarapanmu Reese."
"Tapi, kau duluan sampai di sana tidak masalah, kan? Aku harus pergi ke tempat adik angkatku dulu.
"Ya, tidak masalah," jawab Jena lalu kembali memakan sarapannya. Ia juga tidak suka membuang makanan. Terlalu sayang dan tidak mensyukuri.
***
Jena stress, ia uring-uringan setelah menandatangani surat penyegelan dan menyakatan kalau dirinya bangkrut.
Ia melipat kedua tangannya di atas meja restoran yang akan ia review, lalu memendamkan wajahnya juga. Sesekali ia mendengkus kesal.
"Permisi, ini pesanan anda, Potatoe baked with mozarela cheese and springkle with grill smoke beef. Lalu ini salad resep otentik restaurant kami," pelayan meletakan pesanan diatas meja. Jena mendongakan kepalanya menatap ke pelayan lalu mencoba tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
"Selamat menikmati." ucap pelayan itu lalu pergi berlalu. Jena menatap makanan yang ada dihadapannya, ia mengernyitkan kening lalu berdecih. Ia mengeluarkan ponsel dan mengabadikan makanan yang ada dihadapannya.
"Mengapa penataannya harus seperti ini. Kalau saja smoke beef-nya dipotong lebih kecil seperti ini lalu sprinkle di atasnya, jauh lebih bagus." Jena berbicara sendiri sambil menyobek-nyobek smoke beef dengan jemarinya. Ia lalu memegang pisau dan garpu lalu mulai membuka kentang yang diatasnya terdapat lelehan keju mozarela dan cedar cheese. Ia mendengkus kesal lagi. Lalu melirik ke arah dapur. Ia menggelengkan kepala seraya membelah kentang lalu dengan pisau di tangannya membuat potongan lembaran-lembaran kentang seperti ia mengerok isi daging kepala lalu mencampurnya dengan lelehan keju. Setelah kegiatan menata ulang makanan di hadapannya, ia mengabadikan lagi baru memakannya.
Setelah makan, Jena mengeluarkan laptop dan mulai membuat ulasannya. Ia menatap sekeliling interior ruangan restaurant, makanan, minuman, service dan banyak hal. Restaurant bergaya eropa modern dengan interior di dominasi warna abu-abu tua, hitam dan silver membuat kesan misterius tapi nyaman.
Jena memiringkan kepalanya sesekali saat mengetik ulasannya. Wajahnya menoleh ke kiri saat melihat seorang berdiri di sudut ruangan sambil berbicara dengan seorang karyawan. Mengenakan jaket Chef berwarna hitam, rambut berwarna kecoklatan dengan kulit putih membuat Jena tersenyum sedikit saat menatapnya.
"Eh..!" Jena kembali menatap layar laptopnya, ia terkejut karena sosok yang sedang ia amati justru balik menatapnya dengan kedua bola matanya yang tajam dan aura sedingin es.
Jena tak menampik, sosok itu begitu mendominasi aura restoran. Ia mencoba fokus membuat ulasan dan akan di masukan ke akun media sosial khusus miliknya. Selain penulis artikel lepas tentang makanan, ia juga seorang food vlogger yang sudah banyak membuat konten makanan.
Followernya sudah banyak, dan juga namanya sudah cukup terkenal, namun sayang, uang yang dihasilkannya masih tak mencukupi kebutuhannya untuk tinggal di kota sebesar NewYork.
Jena beranjak setelah selesai dengan kegiatan makan dan mereview makanan dari restoran itu. Ia berjalan ke meja kasir, lalu melakukan pembayaran.
"Bisa aku meminta tolong padamu nona," ucap Jena masih berdiri di depan meja kasir. Wanita berambut pirang itu mengangguk.
"Sampaikan ke koki kalian, belajarlah untuk menghias sajian makanan di atas piring. Hanya untuk menu yang tadiku pesan, hah ... sudahlah, suruh dia belajar. Permisi." Wanita berambut pirang itu terkejut dan menganga.
Selama ini, tak ada yang berani berkomentar seperti itu kepada koki dan pemilik restoran itu. Drew Sebastian. Terkenal sempurna dan pemikir keras dalam menciptakan masakan yang menjadi ciri khasnya.
Piring yang masih terisi setengah sisa makanan, di bawa pelayan ke dapur. Drew menoleh, ia terkejut karena konsumennya tak menghabiskan makanan yang di pesan, padahal, menu itu merupakan salah satu menu andalan di restoran tersebut.
"Apa ini! Kenapa dia bisa tidak menghabiskannya!" teriak Drew marah. Semua berhenti bekerja. Menoleh serempak ke Drew yang melotot bak raja iblis yang marah.
Pelayan menunduk, namun ia memberi tau jika petugas di kasir sempat berbicara dengan konsumen yang memesan makanan tersebut. Drew berjalan keluar dari dapur, menghampiri karyawan di bagian kasir dan menanyakan hal tersebut.
Drew diam seribu bahasa. Ia kembali berjalan ke dalam dapur dan terus memikirkan ucapan wanita itu dengan sangat serius.
***
Jena berjalan santai, tujuannya kali ini, ia harus mencari apartemen dengan biaya murah untuk tempat tinggalnya, tak mungkin ia berlama-lama tinggal di tempat sebelumnya.
Helaan napas terdengar begitu gusar, Jena duduk di bangku taman kawasan central park, ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Aku jatuh miskin," gumamnya putus asa. Ia lalu menggeleng cepat.
"Tidak. Aku pasti bisa membuktikan kalau aku bisa bertahan hidup di sini tanpa cafè dan mengembalikan uang kedua orang tuaku yang ku pinjam sebagai modal membangun usaha cafè itu. Jena, kau pasti bisa!" Ia berteriak menyemangati dirinya sendiri.
Ia kembali beranjak, melihat seorang penjual minuman dingin yang tampak begitu bersemangat, usianya tak lagi muda, mereka sepasang suami istri.
"Hai, aku pesan satu," tunjuk Jena ke gambar yang menunjukan minuman soda di campur es krim.
"Tentu. Tunggulah, 'Nak, kami buatkan," ucap sang suami. Wanita di sebelahnya duduk dan tersenyum menatap Jena setelah ia memberikan uang.
"Kau tampak lelah, apa yang kau kerjakan?" tanya wanita itu. Jena terkekeh.
"Aku sedang mencari apartemen baru untukku tinggali, yang biayanya ... murah." Jena menunduk. Ia lalu menerima minuman pesanan dan mencicipinya. "Ini enak Tuan, Nyonya, wow .... " Jena kembali meminumnya.
"Terima kasih. Maksudmu, apartemen seperti apa yang kau butuhkan?" tanya nyonya tua itu.
Jena berpikir sejenak. Ia lalu menggeleng, "Entahlah, aku harus melihat lokasinya juga, Tuan ..., Nyonya, baru aku bisa hitung." Kekehan Jena membuat kedua orang tua itu ikut terkekeh.
"Bukannya, apartemen di depan kamar kita kosong, Sayang?" Pria itu menatap ke istrinya yang dijawab anggukan.
"Ya, benar. Datanglah 'Nak, siapa tau cocok denganmu, walau tak sebagus lokasi lain, tapi, lingkungan bersih dan nyaman, kami sudah sepuluh tahun ada di sana."
TRING!
Jena mendapat lampu yang menyala terang di kepalanya. Ia mengangguk cepat seraya menanyakan alamat yang di maksud. Dan, hari Jena saat itu berakhir dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
Langkah kakinya begitu teratur saat menaiki titian anak tangga menuju ke lantai dua apartemen sederhana bersusun lima lantai itu. Jena bersama seorang pengelola menuju ke unit nomor 2D. Kunci terputar hingga terdengar bunyi bahwa pintu siap terbuka. Pengelola mempersilakan Jena memutar kenop bulat seperti apel berwarna emas dan membukanya dengan mendorong pelan ke arah dalam. Suasana yang terang karena wallpaper berwarna kuning masih menempel rapi di dinding.
"Penyewa lamanya seorang mahasiswi disain, jadi ia yang membuat hiasan dinding ini sendiri. Kami memang membebaskan. Bagian dapur, ia juga yang melukis dengan cat tembok, masih tampak rapi, bukan?" ujar wanita paru baya itu menatap Jena, ia mengangguk. Harga yang di tawarkan juga pas untuknya.
"Kapan kita bisa tanda tangan kontrak sewa? Sekarang, bisa?" Jena tersenyum. Penyewa mengangguk.
Setelah menandatangani kontrak, Jena memberi tahu Reese melalui sambungan telepon. Di mana saat itu, sahabatnya sedang berada di kantor. Ia terkejut, Reese pun tak masakah jika ia harus pisah tempat tinggal dengan Jena, semua dilakukan demi memperbaiki kondisi perekonomian Jena yang sedang tak baik-baik saja.
"Aku akan kirim pesan ke ponselmu di mana alamatku ya, dan sekarang aku sedang menuju ke apartemen lama, mengambil beberapa barang yang bisa ku bawa, sisanya, ku serahkan kepadamu Reese, mau kau jual atau sumbangkan, aku tak peduli," ujar Jena sambil menyebrang jalan bersama beberapa orang lainnya.
"Jena, apa tidak masalah kita tinggal terpisah? Kau juga tahu, kalau aku sedang dekat dengan seorang pria, bukan? Mmm.. maksudku," ucapan Reese terjeda.
"Ya...ya...ya..., aku tahu Reese, justru itu akan membuatmu senang, karena tidak ada aku yang akan menegurmu karena sering membawa pacarmu pulang ke rumah." Omel Jena tegas. Reese hanya bisa tertawa.
Tatapan Jena terpaku pada satu sosok pria yang sedang menyebrang dari arah berlawanan. Wajah pria itu tak asing bagi dirinya. Lirikannya dibalas okeh tatapan dingin pria itu, Jena membuang pandangan dan terus berbicara dengan Reese melalui ponselnya.
Ia menyewa jasa pindahan, dengan cepat dan sebelum petang, ia pindah ke unit apartemen barunya dengan model studio itu. Ia beruntung, karena jasa pindahan sudah termasuk biaya angkut dan penataan, jadi, ia tak perlu repot menata barang-barangnya lagi.
Malam menjelang, Jena sudah menempati apartemen itu, perutnya lapar, lemari es masih kosong, peralatan masak baru ia cuci kembali supaya lebih bersih. Ia beranjak dan menyambar tas kecil yang ia silangkan di depan dadanya.
Supermarket yang berjarak seratus meter menjadi tujuannya kala itu. Ia melihat rekening tabungan dulu, kepalanya mengangguk saat ia berdiri di mesin ATM di pinggir jalan itu, mengambil beberapa dollar untuk biaya hidup satu minggu kedepan. Masih cukup.
Lampu supermarket masih menyala terang, masih dua jam lagi sebelum toko tutup. Ia masuk dan mengambil keranjang berlanja kecil warna hitam yang ia pegang. Rak bumbu tujuan pertamanya, ia memasukan beberapa bahan rempah kering, garam, lada bubuk, juga santan siap pakai, ia baru melihat siaran televisi yang memasak menu asia, ia penasaran dengan rasanya.
Beralih ke lorong daging. Ia membeli iga sapi, daging khas dalam, daging cincang, dan dada ayam, diliriknya ke keranjang belanjaan, ia harus menghitung supaya bahan makannya cukup untuk tiga hari kedepan dahulu.
Terakhir, ia menuju ke lorong sayuran, ia memasukan beberapa jenis sayuran yang ia butuhkan, tak banyak, karena ia suka jika membeli sayur mendadak, lebih segar.
"Permisi," ucap Jena sambil berdiri di dekat seseorang dan ia sedikit berjinjit untuk mengambil sereal rasa buah, jagung dan coklat di rak nomor tiga yang cukup tinggi.
"Perluku bantu?" Suara itu terdengar begitu dalam.
"Tidak. Terima kasih, tuan, permisi," ucap Jena seraya membawa keranjangnya yang tampak penuh dan berat.
Antrian tak begitu panjang, Jena maju perlahan. Di belakangnya pria tadi yang menawarkan diri menolongnya. Tubuhnya tinggi tegap, tinggi tubuh Jena bahkan hanya sebatas dada bidangnya. Bidang? Ya, jelas tercetak sempurna di kaos hitam pres body yang dikenakan pria tersebut.
Ponsel berbunyi, bukan milik Jena, tapi milik pria di belakangnya. Terdengar percakapan ringan, hingga satu kalimat membuat Jena terbelelalak.
"Ya, aku sudah bicara dengan pekerja bagian kasir, memintanya mengingat ciri-ciri wanita yang berani mengkritik masakan dan tampilan makanan yang ku buat. Membuatku tak bisa tidur sejak kemarin. Sial." Geram pria yang berdiri di belakang Jena.
"Tolong beritahu aku informasi tentang dirinya. Secepatnya. Wanita itu tidak tahu berhadapan dengan siapa. Dan, tolong, kosongkan jadwalku yang lain untuk dua hari ke depan, karena aku ada pemotretan untuk endorse parfum. Apa Dave sudah memberitahumu juga?"
Kedua mata Jena terpejam sejenak. 'Pria ini, jangan-jangan, koki restoran itu. Ya Tuhan.'
Jena berucap dalam hati, ia memberikan keranjang belanjaannya ke petugas kasir, setelah menghitung dan di masukan ke paper bag coklat, Jena memberikan uang, dan bergegas memeluk dua kantung itu dan segera berjalan cepat menuju ke apartemennya. Ia melirik sejenak, pria itu tak sadar jika Jena meliriknya. Ia berjalan terburu-buru karena takut pria tersebut menyadari dirinya.
Lemari es sudah rapi, saatnya Jena memasak. Perutnya sudah memberontak, sambil memakan sereal tanpa susu, Jena asik membuat creamy chiken curry with fetucini, ia mencoba resep itu setelah melihat saluran televisi masakan asia.
Ia mencicipi, wajahnya sumringah. Dengan perlahan, ia menata makanannya dan diberi hiasan sederhana berupa cacahan daun kemangi segar dan bubuk cabai, tak lupa, ia mengabadikan dahulu sajian yang ia buat diatas piring itu dengan ponselnya. Ia melangkah menuju ke sofa kecil dan duduk di depan televisi.
Ia mengganti siaran berita entertainmet dengan garpu yang mulai menusuk ke pasta yang menjadi makan malamnya.
Tampak wajah pria tadi muncul di layar TV, diberitakan bahwa pria tersebut merupakan bakal calon koki berprestasi dan HOT atau seksi yang menjadi incaran kaum hawa.
Jena menganga. Ia baru sadar, jika ia sudah membuat pria tersebut mencari dirinya karena berani mengacak-ngacak masakannya dan mengkritik dengan pedas.
Ia makan dengan cepat, setelahnya, menuju ke laptop yang ia letakkan di atas ranjangnya, ia mulai mencari tau profil pria tersebut. Setelah cukup lama mencari, munculah nama koki tersebut beserta profilnya.
"Drew Sebastian, pria keturunan Amerika dan Spanyol, pemilik restoran Grey Dishes NewYork, usia tiga puluh dua tahun, merupakan salah satu koki terpercaya kerajaan Inggris selama tiga tahun, melayani presiden selama dua tahun dan dinobatkan sebagai 20 The Hottest Chef 2020, digilai banyak wanita tetapi Drew bersikap acuh dan dingin." Jena tercekat, ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya mengusap kasar.
"Ya Tuhan ... aku sepertinya sudah membangunkan singa tidur. Ampuni aku Tuhan."
Jena mengecek semua hal yang harus ia pantau sebelum meninggalkan unit apartemennya. Walau hanya unit kecil model studio, sudah terasa nyaman untuknya tinggali seorang diri. Reese pun sempat berpikir untuk menyewa apartemen dekat dengan tempat Jena, namun Jena melarang, karena hobi sahabatnya itu yang suka membawa kekasihnya ke tempat ia tinggal, membuat Jena risih.
"Aku hari ini akan berkunjung ke food truck milik rekan lamaku Reese, dan, sepertinya, akun vlog ku mau aku hentikan. Aku harus mencari pekerjaan yang jauh lebih menghasilkan uang." Jena berbicara dengan Reese di ponselnya sambil berjalan menyusuri trotoar, ia baru melihat lowongan kerja sebagai marketing restoran di salah satu sudut kota Newyork, tak ada salahnya ia mencoba peruntungannya.
"Aku akan mencobanya, sebagai tenaga pemasaran, doakan aku berhasil Reese, demi menyelamatkan hidupku dari hutang kepada Ayah dan Ibu, dan kembali bangkit." Jena memasukan ponselnya ke dalam tas yang ia bawa setelah selesai berbicara dengan Reese. Ia harus berjalan menuju tiga blok lagi sebelum sampai.
Langkah kakinya begitu tegap juga yakin jika ia akan mudah mendapat pekerjaan, sifat optimis dan tak suka hanya menunggu datangnya keajaiban Tuhan, ia gunakan untuk mencari rejekinya. Berusaha. Dengan begitu, Tuhan pasti akan memudahkan rejekinya.
Ia berdiri bersama banyaknya manusia yang menunggu lampu lalu lintas berhenti di warna merah, ia akan menyebrang bersama-sama. Kerumunan manusia layaknya semut yang berjalan beriringan, sudah pemandangan biasa bagi Jena setelah pindah ke kota yang dijuluki tak pernah tidur itu, sejak beberapa tahun lalu.
Ia hanya gadis desa, kedua orang tuanya merupakan pemilik perkebunan apel, anggur dan ternak sapi di daerah negara bagian Amerika. Sangat kaya raya, hanya saja, tak suka dengan kehidupan kota yang menurut mereka terlalu liar dan bebas.
Jena memiliki dua Kakak laki-laki. Tumbuh menjadi gadis mandiri dan sedikit tomboy, membuatnya tak susah untuk hidup sendirian di kota, hanya saja, saat ia meminjam modal usaha kepada kedua orang tuanya, mereka mengingatkan Jena, jika gagal, maka ia harus pulang dan membantu bekerja di perkebunan dan peternakan, juga, bersiap di jodohkan dengan putra sang opsir polisi ternama di sana.
Wanita itu bertekad tak akan pulang sebelum berhasil menjadi sukses dan mengembalikan uang modal usaha yang ia pinjam.
***
Suara bel pintu restoran terdengar setelah Jena mendorongnya. Ia mengucap salam seraya berjalan masuk ke dalamnya. Tampak seorang pria dengan setelan jas licin datang menghampiri, Jena pun menyampaikan maksud dan tujuannya.
Tak butuh waktu lama, ia keluar restoran dengan wajah tak senang. Posisi yang ia inginkan baru saja terisi. Ia berjalan kembali, kali ini tujuannya cafe-cafe kecil. Ternyata hasilnya sama, sudah empat cafe ia datangi, namun tak ada lowongan atau, justru sudah terisi.
Ia mengusap wajahnya dengan tangan, duduk di toko kecil menjual minuman segar dan roti, ia memakannya dengan santai.
"Jena," suara sesorang menyapanya. Jena terbelalak. Ia beranjak dan menyapa pria tersebut sambil memeluknya.
"Sedang apa? Wajahmu tampak kusut, di mana Reese?" tanya pria bernama Maden, ia merupakan teman masa kuliah Reese, dari penampilannya, Jena bisa menyimpulkan jika Maden, sudah sangat sukses.
Mereka asik berbincang, Maden sesekali tertawa saat dengan semangat membara, Jena memaki mantan manajer keuangannya yang menggelapkan dana cafenya. Menyebabkan ia bangkrut seketika.
"Bagaimana jika, kau bekerja denganku?"
"Aku, di tempat mu? Tidak...tidak...tidak..., kamu bankir, dan aku hanya seorang food vlogger yang hobi masak. Jangan bergurau denganku Maden, tak lucu." Jena menyedot minumnnya.
"Bekerja sebagai juru masak, Jena, di rumah kami, karena begitu boros jika setiap hari memesan makanan di restoran dan juga seringnya makan terpisah dengan anggota keluarga." Lanjut Maden. Helaan napas juga terdengar berat dari Maden. Jena menatapnya dengan serius.
"Aku ingin merasakan makan pagi, dan malam bersama semua anggota keluargaku, bisakah kau bekerja denganku, Jena?" bujuknya.
Jena mengerjapkan kedua matanya, pikirannya kini terpusat pada satu kata "UANG", Jena pun menanyakan tugasnya apa saja jika ia menerima pekerjaan itu. Maden tak banyak meminta, hanya meminta Jena menyiapkan masakan untuk dua waktu itu dan, berbelanja sendiri. Maden dan keluarganya hanya menerima bersih dan cukup menikmati.
"Aku akan membayarmu cukup besar, Jena, tolong jangan kau tolak, kedua orang tua dan adikku juga pasti senang jika kau menjadi juru masak keluarga kami."
Jena terkekeh. Ia ingat, keluarga Maden memang baik kepadanya, Maden, walau satu perguruan tinggi dengan Reese - bukan seperti Jena yang hanya lulusan sekolah menengah atas - mereka saling mengenal dan berteman cukup baik.
"Apa kabar keluargamu, Maden? Sudah satu tahun sejak kau pindah bekerja, aku dan Reese tak mengunjungi kalian." Jena menunduk. Ia tersenyum seraya menikmati roti dan minumannya.
"Mereka baik. Yeah ... kau tau adikku bukan, Madeline, dia sudah masuk perguruan tinggi dan tetap manja. Apalagi ia sendirian di rumah, beberapa teman tak menyukainya, hanya karena Madeline pintar dan akan menjadi calon dokter sukses."
Jena terkekeh, ia ingat Madeline begitu cerewet dan senang menceritakan apa saja kepala Jena dan Reese. Ia mengangguk, menerima tawaran pekerjaan menjadi juru masak untuk keluarga Maden.
"Kapan aku mulai bekerja, Maden?" Wajah Maden begitu senang, ia beranjak seraya menatap wajah Jena dengan senyum mengembang.
"Sekarang. Kita belanja ke supermarket," ajak Maden sembari mengulurkan tangannya. Jena menyambut dan tersenyum.
"Kau sunggu malaikat baik hati yang dikirim Tuhan untuk menyelamatku Maden." Jena tersenyum penuh rasa syukur. Maden menepuk-nepuk punggung tangan Jena.
"Kau bisa mengandalkanku jika kau butuh sesuatu, Jena, aku akan selalu ada di sampingmu." Maden melirik Jena yang begitu riang. Sedangkan di dalam hati Maden, ia bersorak begitu bahagianya.
Selama ini, ia begitu mengagumi Jena yang begitu periang, ramah dan hangat. Sejak pertama kali ia dikenalkan kepada Jena oleh Reese, saat itu juga, Maden begitu jatuh hati kepada wanita itu.
Dengan menggunakan mobil mewah milik Maden yang berprofesi sebagai seorang bankir di bank besar di Newyork, mereka pergi menuju ke supermarket besar di pusat kota.
Maden dan Jena tertawa bersama saat mereka melakukan kegiatan itu. Jena terbelalak saat Maden memberitahu gaji yang akan di berikannya kepada Jena. Seribu lima ratus dollar, di luar uang belanja setiap harinya. Jena tak percaya, ia bahkan sampai memeluk leher Maden yang jelas membuat pria tersebut terkejut tak percaya dengan perlakuan wanita di dekatnya itu.
Wanita itu masih takjub, ia langsung menghitung dengan cepat berapa lama ia harus bekerja dengan Maden untuk bisa melunaskan hutang kepada orang tuanya dan tetap tinggal di apartemen kecil itu yang tergolong murah.