Sampul Novel Kehadiran Orang Ketiga

Kehadiran Orang Ketiga

8.2 / 10.0
Rumah tangga Fahmi dan Hanum yang semula harmonis bersama Arya dan Adiva hancur karena perselingkuhan Fahmi dengan Hani, kakak kandung Hanum sendiri. Saat aksi mereka tepergok oleh Arya, Fahmi justru mengancam anaknya agar diam. Upaya Hanum mengungkap kebenaran pun buntu karena ia malah disalahkan ibu mertuanya. Di tengah terkuaknya pengkhianatan lama, Hanum berjuang tegar demi buah hatinya. Apakah pernikahan ini akan bertahan atau berujung perceraian?
Ringkasan Kehadiran Orang Ketiga
Rumah tangga Fahmi dan Hanum yang semula harmonis bersama Arya dan Adiva hancur karena perselingkuhan Fahmi dengan Hani, kakak kandung Hanum sendiri. Saat aksi mereka tepergok oleh Arya, Fahmi justru mengancam anaknya agar diam. Upaya Hanum mengungkap kebenaran pun buntu karena ia malah disalahkan ibu mertuanya. Di tengah terkuaknya pengkhianatan lama, Hanum berjuang tegar demi buah hatinya. Apakah pernikahan ini akan bertahan atau berujung perceraian?
Baca Selengkapnya

Kehadiran Orang Ketiga Bab 1

"Dari mana kamu, Arya?" tanya Mas Fahmi pada Arya anak kami. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan Fahmi baru pulang dari sekolah. Padahal biasanya jam setengah tiga sudah sampai di rumah. Memang beberapa hari belakangan ini, Arya sering pulang terlambat. Tapi biasanya ia selalu memberitahu kalau ada kegiatan di sekolah.

"Dari rumah teman, Ayah," sahut Arya. Belum sempat Arya melangkah, Mas Fahmi sudah menghardiknya.

"Duduk!" perintah Mas Fahmi dengan suara yang keras. Aku jadi deg-degan mendengarnya. Jangan sampai terjadi keributan antara Mas Fahmi dan Arya.

Akhir-akhir ini, aku lihat hubungan mereka sedang bermasalah. Entah Mas Fahmi yang terlalu posesif atau memang Arya yang sudah mulai bandel. Maklum seusia Arya, kelas sepuluh SMA, masanya mencari jati diri.

Arya duduk di hadapan kami, dengan menundukkan wajahnya. Sepertinya ia enggan menatap kami.

"Arya, kamu itu sudah besar. Bukan saatnya kamu bermain terus. Kamu harus rajin belajar, kurangi keluyuran. Nilai rapormu harus bagus, biar bisa masuk universitas negeri. Kalau seperti ini terus, kamu mau jadi apa?" kata Mas Fahmi.

Arya hanya terdiam, tidak berani berkata apa-apa.

"Ngapain kamu ke rumah temanmu itu? Siapa nama temanmu?" tanya Mas Fahmi lagi.

"Mengerjakan tugas, Yah. Membuat video untuk lomba film pendek," sahut Arya masih dengan menunduk.

"Kalau diajak berbicara, perhatikan! Jangan menunduk, lihat Ayah dan Ibu," seru Mas Fahmi.

Arya langsung mengangkat kepalanya dan melihat aku dan Mas Fahmi secara bergantian.

"Kenapa nggak di sekolah saja?" cecar Mas Fahmi.

"Mau nyari lokasi yang bagus. Dekat rumah Tedi ada sawah. Jadi cocok untuk syuting video."

"Benar? nggak bohong kan?" selidik Mas Fahmi.

"Benar, Yah. Kalau nggak percaya tanya saja sama Tedi."

"Mungkin kamu sudah sekongkol dengan Tedi."

"Ya tanya teman yang lainnya. Tadi ada Dini, Vita, juga Setyo."

"Ada perempuannya juga? Nggak pacaran kan?" selidik Mas Fahmi.

"Enggak, Yah." Arya sepertinya sudah jengkel menjawab pertanyaan Mas Fahmi.

"Ingat ya Arya. Kamu jangan pacaran dulu. Belum saatnya kamu pacaran. Belajar yang benar, kalau sudah sukses terserah sama kamu."

"Iya, Yah."

"Ingat Arya, kamu itu anak pertama. Kamu harapan Ayah dan Ibu dan bisa menjadi contoh untuk adikmu. Ayah tidak mau kamu terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik. Paham?" kata Mas Fahmi.

"Paham, Ayah. Sekarang Arya boleh masuk ke kamar?" tanya Arya.

Mas Fahmi menatap Arya dengan tatapan tajam, kemudian Mas Fahmi mengangguk. Aku pun bernafas lega.

"Mas, jangan terlalu keras dengan Arya. Kasihan dia. Jangan dibebani dengan banyak hal," kataku pada Mas Fahmi, ketika Arya sudah masuk ke dalam kamarnya.

"Ibu jangan selalu membela dia. Nanti malah besar kepala. Anak laki-laki itu harus tangguh. Jangan selalu berada di ketiak ibunya. Apa Ibu mau kalau Arya itu lemah? Beda dengan Adiva, dia perempuan. Kita harus ekstra menjaganya, jangan sampai ia salah pergaulan." Mas Fahmi malah menceramahiku.

Drtt...drtt. Hp Mas Fahmi berbunyi. Mas Fahmi segera keluar dari ruangan dan mengangkat hpnya di luar.

Aku segera menuju ke kamar Arya.

"Arya…. Boleh Ibu masuk?" tanyaku sambil mengetuk pintu kamar Arya.

"Masuk saja, Bu," sahut Arya dari dalam kamar.

Aku segera membuka pintu kamar Arya. Kulihat ia sedang rebahan dengan hp ditangan. Buku-buku berserakan di meja belajarnya.

"Lain kali kali pulang telat, kabari Ibu ya? Biar Ibu dan Ayah tidak bingung mencarimu," ucapku pada Arya.

"Iya, Bu." Arya menjawab sambil bangkit dari rebahan. Ia pun duduk di sebelahku.

"Kamu ada masalah apa dengan Ayah? Ibu lihat akhir-akhir ini, sepertinya kamu sengaja menghindar dari Ayah. Kamu marah dengan Ayah?" tanyaku lagi.

Kutatap wajah Arya, sepertinya ada keraguan atau semacam rasa ragu-ragu.

"Ada apa? Bilang saja sama Ibu," ucapku lagi.

"Nggak apa-apa kok Bu. Nanti kalau Arya sudah siap lahir batin, pasti Arya akan bercerita."

Aku semakin penasaran dengan kata-kata Arya. Tapi kalau memaksanya untuk banyak berbicara, takutnya malah menjadi bumerang bagiku.

"Ya, sudah. Kalau ada masalah apa-apa, bicara dengan Ibu ya? Ibu akan selalu ada untukmu. Ayo bereskan buku-buku yang berserakan itu. Habis itu langsung mandi, sudah sore."

Arya mengangguk. Aku segera keluar dari kamar Arya. Kulihat Mas Fahmi masih menerima telepon, entah dari siapa. Aku menjadi kepo, masa sih dari tadi menelpon belum selesai juga. Akhirnya aku menguping pembicaraan mas Fahmi.

"Iya, besok ya. Jangan sekarang, ada Hanum di rumah. Kalau aku pergi sekarang, apa alasanku pada Hanum?" kata Mas Fahmi.

".........."

"Oke, bye Sayang," sahut Mas Fahmi.

Sayang? Kok panggil sayang? Siapa yang dipanggil sayang? Aku sangat penasaran. Mas Fahmi menutup telpon dan akan masuk ke ruangan.

"Lama banget nelponnya? Memangnya siapa yang nelpon?" tanyaku pada Mas Fahmi.

"Pak Yanuar," sahut Mas Fahmi.

"Bener?" tanyaku lagi.

"Iya, kok curiga gitu sih."

"Masa sama Pak Yanuar manggil sayang?" ucapku lagi.

Wajah Mas Fahmi langsung pucat. Ia kelihatan gugup.

"Sudah, jangan gugup gitu. Pikirkan dulu jawaban yang tepat untukku. Mengarang indah juga boleh," kataku sambil tersenyum. Aku kemudian berjalan menuju ke dapur, hatiku mulai kesal. Ada apa dengan Mas Fahmi? Sepertinya ada yang disembunyikan. Aku mengambil air putih dan segera meminumnya, hatiku terasa berdetak sangat kencang. Menahan emosi.

***

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat mas Fahmi tidak ada disampingku. Aku segera bangun dari tempat tidur dan mencari Mas Fahmi. Ketika melewati kamar Arya, pintu agak terbuka.

"Arya, yang kamu lihat itu tidak seperti yang ada dipikiranmu. Jangan menyimpulkan sendiri." Terdengar suara Mas Fahmi berbicara dengan Arya.

Ada apa ya? Aku penasaran sekali, akhirnya aku mendengarkan.

"Nggak usah ikut campur masalah orang tua. Tugas kamu hanya belajar. Kalau sampai ibumu tahu, kamu akan merasakan akibatnya, paham?" ancam Mas Fahmi.

"Iya, Ayah," sahut Arya dengan suara seperti ketakutan.

"Anggap saja kamu tidak pernah melihat kejadian itu. Sekali lagi, kalau sampai terbongkar, Ayah tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini."

Aku kaget setengah mati mendengar ucapan Mas Fahmi. Aku segera masuk ke kamar lagi. Takut ketahuan Mas Fahmi. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur lagi. Mencoba memejamkan mata. Mata terpejam tapi pikiran kemana-mana. Masih memikirkan ucapan Mas Fahmi tadi. Berarti Arya melihat sesuatu yang membuat ayahnya marah. Tapi apa ya? Atau mungkin Arya melihat Mas Fahmi sedang bersama dengan perempuan? Seperti cerita-cerita di sinetron. Kok aku jadi paranoid sendiri ya? Mungkin terlalu banyak membaca cerita novel online.

Kudengar langkah kaki masuk ke kamar. Pasti itu Mas Fahmi. Hatiku berdebar-debar, kau mencoba untuk bernafas dengan rileks. Mas Fahmi keluar lagi dari kamar, entah apa yang akan dikerjakannya.

Aku mengikuti Mas Fahmi dengan langkah yang pelan. Di ruang keluarga dan ruang tamu tidak ada. Kamar Arya pun pintunya sudah tertutup rapat. Sayup-sayup aku dengar suara Mas Fahmi berbicara dengan pelan. Ternyata Mas Fahmi ada di dapur sedang menelepon.

"Sudah Mas ancam Arya, pasti ia tidak akan cerita dengan Hanum," kata Mas Fahmi.

".........."

"Iya, tenang saja. Hanum itu orangnya bodoh dan lugu. Ia terlalu bucin denganku. Jadi dia nggak akan percaya walaupun nanti Arya buka suara."

"........."

"Tenang, Sayang? Apa pun akan Mas lakukan untukmu."

".........."

"Oke, besok pagi aku jemput."

"........"

"Iya sayang."

Aku sudah tidak sanggup mendengarkan Mas Fahmi berbicara. Segera aku masuk ke kamar. Kurebahkan tubuhku, air mata langsung menetes. Teganya kamu Mas, ngomong kalau aku ini bodoh dan lugu. Memang aku terlalu bucin padamu, tapi aku tetap percaya anakku. Apapun yang akan Arya katakan padaku, terutama berhubungan denganmu, aku akan percaya.

Aku harus melakukan pendekatan pada Arya. Supaya ia mau membuka suara. Aku yakin kalau Arya pasti mengetahui suatu rahasia tentang ayahnya. Mungkin Mas Fahmi sudah mulai main hati, dan Arya mengetahuinya. Makanya Mas Fahmi mengancam Arya.

Aku tidak bisa tidur. Memikirkan masalah yang mungkin akan terjadi. Aku harus berbicara dengan siapa? Berbicara dengan Mbak Hani, sepertinya tidak mungkin. Karena ia juga sedang memiliki masalah dalam rumah tangganya. Pada Bapak dan Ibu juga tidak mungkin. Aku tidak mau membebani mereka dengan masalahku. Mereka tentu juga banyak pikiran, memikirkan masalah Mbak Hani.

Mbak Hani, kakak perempuanku dalam proses cerai. Aku tidak tahu permasalahan sesungguhnya. Kalau menurut ceritanya, suaminya selingkuh dan sering melakukan KDRT. Tapi kami baru mendengar dari salah satu pihak saja, belum mendengar dari pihak suaminya. Ia pulang ke rumah orang tuaku. Nadya, anak tunggalnya masih tinggal bersama Mas Kevin suaminya. Nadya seumuran dengan Arya.

Ah aku pusing memikirkan ini semua. Semoga ada titik terang dari semua ini. Dan berharap ini hanya ketakutan yang berlebihan saja. Jangan sampai kisah hidupku seperti Mbak Hani yang rumah tangganya berada di ujung tanduk.

Terdengar azan subuh berkumandang. Kulihat Mas Fahmi ada di sampingku. Aku tidak tahu kapan ia masuk kamar. Berarti tadi aku sempat terlelap. Kulihat wajah Mas Fahmi. Laki-laki yang sudah hidup bersamaku selama hampir tujuh belas tahun. Laki-laki yang tega mengatakan aku bodoh dan bucin pada seseorang di telepon.

Aku bangun dari tempat tidur, kepalaku sangat pusing. Semua terlihat berputar.

"Mas...Mas...." Aku membangunkan Mas Fahmi. Ia langsung terbangun, dan tiba-tiba pandanganku gelap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kehadiran Orang Ketiga

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ekstrem ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa mendampingi pria yang dahulu pernah ia hancurkan hidupnya. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, mampukah ketulusan Nada melunakkan dinginnya kebencian Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf justru berujung sia-sia?
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED