"Bu, aku izin mau menikah lagi. Jangan khawatir, nanti aku pasti akan bersikap adil," kata Mas Fahmi, membuatku bagai disambar petir.
"Apa salahku, Mas, sampai kamu mau menikah lagi?" sahutku dengan menangis tersedu-sedu.
"Kamu nggak salah kok. Aku yang salah, tidak bisa menahan nafsu…."
Aku menangis dengan keras, duniaku terasa runtuh.
"Bu…Ibu.…" Kudengar suara memanggilku.
Aku langsung membuka mataku, ternyata hanya mimpi. Aku langsung menangis.
"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar. Tadi Ibu pingsan," kata Mas Fahmi.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Oh, iya tadi aku bangun dari tempat tidur, tahu-tahu langsung gelap. Aku pun menangis lagi.
"Kenapa menangis? Ada apa?" tanya Mas Fahmi, seperti khawatir denganku.
"Aku mimpi, Mas mau menikah lagi." Aku berkata dengan sesenggukan. Sempat kulihat wajah Mas Fahmi tampak kaget dan pucat.
"Ah, itu kan hanya mimpi," ucap Mas Fahmi untuk menghilangkan keterkejutannya.
"Ayah, ini tehnya," kata Adiva anak keduaku sambil membawa teh.
"Ibu sudah sadar? Alhamdulillah," kata Adiva lagi. Ia menyerahkan teh pada Mas Fahmi dan kemudian memelukku.
"Ibu kenapa? Ibu sakit ya? Mana yang sakit, Bu?" cecar Adiva.
"Ibu hanya pusing kok," sahutku. Aku terharu dengan perhatian anak perempuanku ini.
"Ini tehnya diminum, Bu. Biar perutnya hangat," kata Mas Fahmi sambil menyendokkan teh padaku.
Aku meminum teh yang disodorkan Mas Fahmi.
"Diva, tolong buatkan roti bakar untuk sarapan kalian ya?" pintaku pada Adiva.
"Iya, Bu," sahut Adiva sambil berjalan keluar dari kamar.
Aku segera bangkit dari tempat tidur.
"Ibu mau kemana? Tiduran saja," kata Mas Fahmi.
"Mau mandi dan siap-siap berangkat kerja," sahutku.
"Nggak usah kerja dulu. Istirahat di rumah saja."
"Di rumah sendirian nggak enak."
Aku berjalan perlahan, tiba-tiba seperti gempa bumi. Aku langsung memegang pundak Mas Fahmi yang masih duduk di tempat tidur.
"Kenapa, Bu?" tanya Mas Fahmi.
"Rasanya muter-muter."
"Sudah dibilang tidur saja, nggak usah kemana-mana. Libur saja dulu."
"Tapi Mas temenin aku di rumah ya?" kataku pada Mas Fahmi.
Ia tampak ragu-ragu. Aku baru ingat, hari ini ia ada janji dengan seseorang di telepon tadi malam. Aku harus menggagalkan rencana mereka.
"Kalau Mas nggak mau nemenin, ya aku kerja saja. Kalau di tempat kerja, aku pingsan ada yang menolong. Kalau di rumah sendirian, mati pun nggak ada yang tahu."
Aku kesal dengan Mas Fahmi. Segera aku berjalan walaupun sempoyongan.
Brukk.
"Aduh," teriakku. Karena terlalu pusing, dan dunia terasa berputar, akhirnya aku menabrak pintu.
"Makanya hati-hati kalau berjalan." Mas Fahmi malah menyalahkanku.
"Aku sudah hati-hati. Tapi kepalaku terasa pusing dan semua terlihat berputar. Jadi nggak kelihatan kalau ada pintu." Aku berteriak kesal.
Aku memaksa berjalan lagi dengan merambat, memegang apa yang terlihat. Aku sangat kesal dengan Mas Fahmi, sepertinya ia tidak mempedulikanku. Alhasil aku terjatuh, keningku terbentur meja makan.
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Arya yang baru keluar dari kamar mandi.
Mas Fahmi langsung muncul di depanku.
"Ibu memang ngeyel." Mas Fahmi berkata dengan kesal.
"Arya ambil betadin dulu ya Bu. Kening Ibu berdarah," kata Arya. Arya berjalan mencari kotak P3K, kemudian muncul dihadapanku lagi dengan betadin di tangannya. Ia mengoleskan betadin itu ke keningku. Aku merasa terharu.
"Terima kasih ya, Nak?" ucapku.
"Sama-sama, Bu."
"Arya, kamu nggak usah sekolah ya? Temani ibu di rumah. Ayahmu sibuk banyak urusan, nggak bisa menemani Ibu. Kalau Ibu sendirian di rumah dengan kondisi seperti ini, kalau terjadi apa-apa, gimana." Aku memancing reaksi Mas Fahmi.
"Iya, Bu. Arya nggak sekolah nggak apa-apa. Tapi Ibu yang meminta izin sama wali kelas Arya ya, Bu," sahut Arya.
Ini kesempatanku untuk menyelidiki apa yang terjadi antara Arya dan ayahnya. Aku akan menggunakan segala taktik, biar Arya mau buka suara.
"Arya sekolah saja, biar Ayah yang menemani Ibu di rumah. Hari ini Ayah izin dari kantor dulu," kata Mas Fahmi.
Ternyata pancinganku mengena. Pasti Mas Fahmi takut rahasianya terbongkar kalau seharian aku dan Arya ada di rumah. Aku tersenyum penuh kemenangan. Berarti aku bisa menggagalkan pertemuannya dengan seseorang.
***
Arya dan Adiva sudah berangkat ke sekolah. Aku segera mandi, tapi pintu kamar mandi tidak ditutup rapat. Kata Mas Fahmi, takut kalau nanti tiba-tiba aku pingsan di kamar mandi.
"Mas, nanti jam sembilan anterin aku ke rumah sakit, ya? Mau periksa ke dokter. Tadi sudah janjian dengan Opik," pintaku pada Mas Fahmi.
Aku sedang sarapan roti panggang yang dibuat Adiva tadi. Mas Fahmi ada di depan televisi sambil memegang hpnya. Pasti ia tidak mendengar pintaku tadi, karena sangat asyik dengan gawainya. Mungkin sedang membatalkan janji dengan seseorang.
"Mas, dengar nggak?" kataku dengan setengah berteriak.
Mas Fahmi kaget.
"Iya, Sayang eh Bu?" jawab Mas Fahmi dengan spontan.
Sayang? Tumben memanggilku sayang. Jangan-jangan karena sedang berbalas pesan dengan seseorang dan memanggilnya sayang. Kemudian nggak sengaja nyeletuk sayang juga padaku.
"Lagi ngapain sih. Asyik sekali dengan hp. Istri ngomong dicuekin," ucapku dengan kesal.
"Maaf, Bu. Sedang meminta izin tidak masuk kerja. Ibu tadi ngomong apa?" tanya Mas Fahmi.
"Jam sembilan anterin aku ke rumah sakit. Tadi sudah janjian dengan Opik."
Opik adalah dokter di sebuah rumah sakit, dan ia adalah teman baikku. Namanya Olivia Putri, panggilannya Opik.
"Iya." Jawaban yang singkat, padat dan jelas. Aku tahu kalau ia kesal, karena aku paksa ia tidak masuk kerja untuk menemaniku.
***
Sampai dirumah sakit, aku segera menuju keruangan Opik. Aku biasa seperti ini, tanpa ke pendaftaran dulu. Karena semua sudah diurus asistennya Opik.
"Assalamualaikum, Opik cantik," aku mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Hanum. Kamu pucat sekali. Dengan siapa kamu kesini?" tanya Opik menyambutku.
"Sama Mas Fahmi," ucapku dengan nada yang kesal.
"Hei, ada apa?" tanya Opik dengan heran.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu ini ditanya malah bertanya. Kamu lagi ada masalah ya?" selidik Opik.
"Ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranku. Tapi masih sebatas kecurigaan saja."
"Orang ketiga?"
Aku mengangguk. Opik memang teman baikku, kalau aku ada masalah, pasti ia bisa merasakannya. Begitu juga sebaliknya.
"Sabar ya. Jangan bertindak gegabah. Kapan pun kamu siap berbicara, aku selalu siap mendengarkan."
"Terima kasih," ucapku.
"Hei, kok malah menangis. Jangan gitu lah. Nanti aku ikutan sedih."
Aku mengusap air mataku. Kemudian Opik memeriksaku dengan seksama. Tak lama kemudian, Mas Fahmi masuk ke ruangan.
"Sakit apa, istriku ini, Bu Dokter," kata Mas Fahmi menggoda Opik. Opik hanya tersenyum.
"Tekanan darahnya rendah sekali dan juga Vertigo. Makanya Hanum merasa kalau seperti berputar-putar terus. Kalau sedang berjalan terus merasa berputar-putar, harus berhenti. Takutnya nanti malah nabrak-nabrak. Seperti ini, keningnya terluka karena menabrak meja."
Mas Fahmi hanya mengangguk-angguk saja.
"Ini aku kasih obat, tapi nggak ditanggung BPJS. Cari di apotek Sehat saja, disana harga obat agak miring. Kalau kamu banyak pikiran, stress, atau migrain, biasanya vertigo akan kambuh. Vertigo bisa dicegah dengan beberapa cara, antara lain: tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, duduk diam sejenak saat bangun tidur, gerakkan kepala secara perlahan, hindari posisi membungkuk, agar vertigo tidak kambuh. Kurangi konsumsi kafein," kata Opik dengan menjelaskan panjang lebar.
"Terima kasih, Opik."
Pulang dari rumah sakit, aku mengajak Mas Fahmi beli makanan.
"Mas beli kue dulu ya? Di toko roti Queen. Pengen beli kue sus," kataku pada Mas Fahmi.
Kulihat Mas Fahmi ogah-ogahan, aku tersenyum. Akhirnya ia menuruti keinginanku.
"Banyak sekali yang kamu beli, katanya hanya kue sus saja," kata Mas Fahmi ketika melihatku membawa nampan berisi bermacam-macam kue.
Mas Fahmi menemaniku masuk ke toko kue, takut kalau aku nanti tiba-tiba jatuh karena pusing.
"Yang makan kue kan bukan aku saja, Mas. Ini kan kue kesukaan anak-anak. Tahu dan risoles pedas ini kesukaan, Mas kan?" jawabku.
"Terserah kamu saja," sahut Mas Fahmi. Hatiku terasa sakit mendengar ucapannya. Seperti tidak ikhlas mengantarku berobat dan mampir ke toko ini.
Akhirnya kami masuk ke mobil. Tiba-tiba ada laki-laki yang aku kenal, keluar dari mobil bersama dengan perempuan cantik. Mereka bergandengan tangan sambil melangkah masuk ke dalam toko kue.
"Mas, lihat itu! Itu Pak Budi, tapi perempuan yang bersamanya itu bukan istrinya," ucapku.
"Jangan ngomong gitu, Bu. Nanti bisa timbul fitnah. Siapa tahu itu anaknya," sahut Mas Fahmi.
"Masa sama anak jalannya kayak gitu. Bergelayut manja di tangan laki-laki. Mas kalau jalan sama Adiva, mau nggak seperti itu. Aku kenal dengan istrinya dan anak-anaknya. Itu bukan anaknya."
"Sudah lah, Bu. Itu urusan mereka, nggak usah ikut campur."
Mas Fahmi segera menghidupkan mesin mobil dan mulai berjalan perlahan. Aku masih belum puas dengan jawaban Mas Fahmi.
"Pak Budi itu nggak mikir ya? Padahal ia punya anak perempuan yang sudah gadis. Bayangkan kalau melihat anak gadisnya selingkuh dengan suami orang? Pasti shock dan marah besar. Laki-laki memang suka seperti itu. Sering membiayai perempuan lain biar terlihat cantik. Istri sendiri malah diabaikan. Coba modalin istrinya, pasti bisa secantik selingkuhannya."
Mas Fahmi hanya diam saja, dengan mata fokus menyetir.
"Bu, apa nggak capek ngoceh nggak karuan gitu," celetuk Mas Fahmi.
"Kesel aja lihat laki-laki seperti itu. Semoga kena batunya," sungutku dengan kesal. Entah kenapa aku merasa kesal sekali.
Hari ini aku ingin menguasai Mas Fahmi. Sejak pulang dari rumah sakit, sampai menjelang zuhur ,aku sengaja tidak tidur. Padahal aku mengantuk sekali, karena minum obat. Takutnya nanti kalau aku tidur, ia malah pergi.
"Bu, aku mau pergi dulu ya? Sebentar saja," kata Mas Fahmi ketika kami sampai di rumah.
"Pergi kemana?" tanyaku penuh selidik.
"Ada urusan sebentar."
"Urusan apa?"
"Urusan kantor."
"Mas kan sudah izin nggak masuk kerja, kok masih sibuk ngurusin urusan kantor? Apa tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan pekerjaan Mas?" tanyaku dengan kesal.
"Sebentar saja."
"Aku ikut."
"Kamu kan masih sakit."
"Kalau tahu aku sakit, ya tungguin aku di rumah. Tahu istrinya sakit kok malah mau keluyuran."
"Bukan keluyuran, tapi ada urusan."
"Pokoknya kalau Mas pergi, aku ikut. Titik."
Mak Fahmi terdiam, mukanya tampak kesal sekali. Ia sibuk mengutak-atik hpnya. Aku tahu kalau ia sebenarnya ingin marah denganku. Berhubung aku sedang sakit, jadi ia hanya diam saja.
"Kenapa sih, Mas, dari tadi kelihatannya gelisah terus. Seperti nggak ikhlas menemani aku," ucapku.
"Siapa yang nggak ikhlas, aku ikhlas kok."
"Tapi kok dari tadi cemberut terus. Apa sih yang Mas pikirkan? Memikirkan pekerjaan? Sudah ada orang yang mengerjakannya. Kulihat kok akhir-akhir ini Mas agak berbeda. Tidak lagi perhatian denganku, apalagi dengan anak-anak. Selalu sibuk dengan hp, seperti tidak bisa lepas dari hp. Ada apa sih di hp itu?" cecarku dengan kesal.
"Nggak ada apa-apa kok. Cari hiburan di hp, nonton video dan baca berita," kilah Mas Fahmi.
"Semoga mimpiku waktu aku pingsan tadi nggak jadi kenyataan ya Mas."
"Itu kan cuma mimpi."
"Kalau sampai Mas menikah lagi, aku laporkan ke BKD, biar Mas dipecat."
"Ih kok kejam sekali sih. Kalau dipecat nanti dapat uang darimana?" sahut Mas Fahmi.
"Wah, jadi Mas berniat menikah lagi ya?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
"Apaan sih, Bu. Tadi kan aku bilang kalau dipecat dapat uangnya dari mana? Kan nggak punya gaji lagi."
"Makanya, nggak usah macam-macam. Tugas kita membesarkan anak dan mendampingi mereka sampai mereka mandiri."
"Lagian siapa yang mau menikah lagi?" kilah Mas Fahmi.
"Kayak tetangga kita itu Mas, yang punya usaha air isi ulang."
"Siapa? Roni itu ya?" sahut Mas Fahmi.
"Iya, Roni itu kan dulu PNS. Dia menikah dengan istrinya yang sekarang, tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Ternyata ketahuan istri tuanya. Apalagi istri mudanya itu sering upload foto-foto mereka berdua. Mengambil suami orang kok malah dipamerkan. Istri tua melaporkan Roni ke BKD. Prosesnya cukup lama, akhirnya Roni dipecat dari PNS."
"Sadis sekali istri tuanya ya?" gumam Mas Fahmi.
"Kalau aku diposisi istri tua, aku akan melakukan hal yang sama."
Mas Fahmi kaget dan gugup. Aku hanya tersenyum.
"Aku percaya kok, kalau Mas nggak seperti itu. Mas itu tipe setia dan sayang sama keluarga." Aku berusaha memuji dia. Padahal, kepercayaanku padanya sudah mulai luntur. Semenjak aku mendengar Mas Fahmi mengancam Arya.
Mas Fahmi diam, kemudian masuk ke kamar. Aku tetap di ruang keluarga, menonton televisi sambil tiduran.
Setelah agak lama aku di ruang keluarga, aku berjalan menuju ke kamar. Kulihat mas Fahmi tertidur dengan hp masih di tangannya. Aku tidak berani mau mengambil hp itu. Aku kembali lagi ke ruang keluarga.
Hpku bergetar, kulihat sebuah panggilan dari Mbak Hani.
"Assalamualaikum, Mbak."
"Waalaikumsalam Hanum, kamu dimana?" tanya Mbak Hani.
"Di rumah, Mbak. Ada apa?" tanyaku.
"Nggak kerja?" tanya Mbak Hani.
"Enggak, Mbak. Sedang nggak enak badan."
"Ooo, sudah ke dokter?"
"Sudah, tadi diantar Mas Fahmi."
"Memangnya dia nggak kerja?" tanyaku.
"Enggak Mbak, tadi sudah izin dengan atasannya."
"Istirahat saja ya? Biar cepat sembuh."
"Iya, Mbak."
"Sudah, ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mbak Hani memang perhatian denganku. Kami tiga bersaudara, aku merupakan anak bungsu. Kakak pertamaku, Mas Hanif, tinggal di kecamatan sebelah. Tidak begitu jauh dengan rumah orangtuaku. Memiliki tiga orang anak.
"Assalamualaikum." Seseorang mengucapkan salam.
Aku terkejut, ternyata aku tertidur di sofa.
"Waalaikumsalam." Suara Arya menjawab salam.
"Kamu sudah pulang, Arya?" tanyaku.
"Sudah, Bu. Tadi Arya pulang, ibu tidur disini," jawab Arya.
Arya menuju ke ruang tamu dan membuka pintu. Kemudian masuk ke ruang keluarga lagi.
"Siapa tamunya?" tanyaku.
"Uti." Arya langsung masuk ke kamar.
"Oh, Ibu, Mbak Hani," sapaku.
"Kamu sakit apa, Hanum?" tanya Ibu yang masuk ke ruang keluarga bersama Mbak Hani. Ibu dan Mbak Hani duduk di sofa.
"Vertigo, Bu. Tadi sudah berobat kok."
"Eh, Uti, Bude," sapa Adiva sambil salim pada Ibu dan Mbak Hani.
"Sudah lama kamu pulang?" tanyaku pada Adiva.
"Sudah dari tadi, Bu. Ibu tertidur di sofa waktu kami pulang," jawab Adiva. Adiva segera masuk ke dalam. Aku ngobrol-ngobrol dengan Ibu dan Mbak Hani.
"Ini teh nya Uti, Bude," kata Adiva yang masuk ke ruangan sambil membawa tiga gelas teh.
"O, iya, terima kasih ya?" jawab Mbak Hani.
"Di meja itu ada kue yang Ibu beli tadi, tolong ambil dan bawa kesini ya?" pintaku pada Adiva.
"Iya, Bu," sahut Adiva sambil berjalan menuju meja yang aku tunjuk.
"Ini, Bu?" kata Adiva.
"Iya, ini ada kue kesukaanmu. Ambil saja," tawarku pada Adiva. Adiva pun mengambil kue kesukaannya.
"Ayah masih tidur, Dek?" tanyaku pada Adiva.
"Ayah tadi pergi," jawab Adiva.
"Kemana?" tanyaku lagi.
"Nggak tahu, Bu. Cuma bilang mau pergi, gitu aja."
Aku kecewa mendengar jawaban Adiva. Menyesal aku, kenapa aku tadi tertidur. Pasti Mas Fahmi sedang bertemu dengan seseorang. Aku harus memikirkan cara yang lain untuk menyelidikinya.
"Hani pergi sebentar ya, Bu? Nanti Hani jemput lagi," pamit Mbak Hani.
"Mau kemana?" tanya Ibu.
"Ada urusan sebentar," jawab Mbak Hani. Kemudian Mbak Hani pergi.
"Gimana urusan Mbak Hani dan Mas Kevin, Bu? Apa memang benar-benar mau berpisah? Aku kok kasihan dengan Nadya, pasti ia sedih sekali," kataku pada Ibu, ketika Mbak Hani sudah pergi.
"Ah, entahlah. Ibu dan Bapak juga pusing memikirkan Hani. Ibu kok curiga dengan mbakmu itu."
"Curiga kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ibu lihat, kok sepertinya ia nggak sedih kalau suaminya selingkuh. Di rumah kerjanya cuma main hp saja. Kadangkala telponan sampai lama sekali. Kalau Ibu bertanya tentang Kevin dan Nadya, sepertinya ia enggan menjawabnya. Bukannya Ibu nggak suka ia tinggal di rumah. Maksud Ibu, selesaikan dulu masalah mereka. Setiap Ibu minta Hani untuk menelpon Kevin, dan menyuruhnya datang kesini untuk menyelesaikan masalah. Selalu Hani marah. Katanya Ibu nggak sayang sama Hani dan memihak Kevin." Ibu menarik nafas panjang.
"Maksud Bapak dan Ibu itu kan baik. Menyelesaikan masalah supaya tidak berlarut-larut. Tapi penilaian Hani terhadap Bapak dan Ibu lain. Bingung Ibu. Bapakmu juga sering berkata seperti ini pada Ibu. Ibu takutnya malah Hani yang bermasalah."
"Begini saja, Bu. Coba Bapak atau Ibu menelpon Mas Kevin. Menanyakan apa yang terjadi atau meminta Mas Kevin kesini untuk menyelesaikan masalah," usulku.
"Ya nanti Ibu bicarakan dengan Bapak. Nggak enak juga dilihat tetangga, kok Hani lama di rumah tapi tidak bersama suami dan anaknya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana tetangga itu? Pasti mengorek info karena penasaran."
Aku mengangguk.
"Maaf ya, kok Ibu malah curhat sama kamu, padahal kamu sedang sakit," kata Ibu lagi.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Kapan pun Ibu butuh teman untuk berbicara, ingat ya Bu, ada Hanum yang selalu ada untuk Ibu."
"Terima kasih, ya? Semoga kamu segera sehat."
"Amin."
Kami ngobrol-ngobrol berbagai macam hal. Tapi aku tidak berani menceritakan tentang Mas Fahmi, takut menambah beban pikiran Ibu.
Tiba-tiba Mbak Hani datang, kemudian disusul Mas Fahmi.
"Kok bisa barengan?" tanyaku.
"Aku baru saja sampai, terus suamimu juga pulang," sahut Mbak Hani.
"Ibu, sudah lama disini?" tanya Mas Fahmi.
"Dari tadi, kesini sama Hani malah ditinggal pergi sama Hani. Ayo Han, kita pulang. Kasihan bapakmu di rumah sendirian." Ibu mengajak Mbak Hani pulang.
"Iya, Bu."
"Kamu istirahat, nggak usah kerja dulu kalau belum sehat. Ibu pulang ya?" pamit Ibu.
Aku mengangguk.
"Arya, Adiva, Uti dan Bude mau pulang," seruku memanggil anak-anak.
Arya dan Adiva keluar dari kamarnya dan mereka salim sama Ibu dan Mbak Hani.
"Bu, apa Bude Hani mau bercerai? Kasihan Mbak Nadya kalau sampai orang tuanya bercerai," kata Adiva ketika Ibu dan Mbak Hani sudah pulang.
"Ibu nggak tahu, Dek. Mudah-mudahan mereka tidak berpisah," jawabku.
"Kok Bude Hani nggak pulang ke rumahnya? Apa nggak kasihan sama Mbak Nadya?" tanya Adiva lagi.
"Dek, Bude Hani dan Pakde Kevin sedang ada masalah. Mereka berpisah sementara untuk saling introspeksi."
"Kok, Mbak Nadya nggak ikut tinggal sama Bude Hani?"
"Mbak Nadya kan harus sekolah."
"Oh iya, ya."
Kulihat Arya dan Mas Fahmi dari tadi hanya diam saja.
***
"Dari mana tadi, Mas?" tanyaku, ketika aku dan Mas Fahmi ada di kamar.
"Ada urusan sedikit," jawab Mas Fahmi, "masih pusing nggak?"
Mas Fahmi mengalihkan pembicaraan.
"Sudah mulai berkurang, urusan apa?" tanyaku lagi.
"Hanya urusan kerjaan kok. Kalau belum sehat, besok nggak usah kerja dulu. Istirahat, biar cepat sehat."
Seharusnya aku bahagia mendapat perhatian dari Mas Fahmi. Tapi nyatanya tidak. Aku selalu curiga dengannya. Ada yang disembunyikan Mas Fahmi. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi antara Arya dan Mas Fahmi. Susah sekali mengorek informasi dari Arya. O ya, kenapa tidak aku tanyakan pada Adiva saja, ya? Siapa tahu ia malah memiliki informasi penting. Aku tersenyum.
"Kenapa, Bu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Mas Fahmi.
"Enggak apa-apa, kok," jawabku.
Lihat saja Mas, aku akan mencari tahu tentangmu.