Angin berembus menekan kulit membuatnya kembali merapatkan jaket. Lalu ia menolehkan kepala ke belakang kala mendengar suara langkah.
Alicia Middleton sudah merasa di ikuti sejak keluar dari kelap malam tapi, ia terus berpikir positif hingga sampai di rumah.
Namun kali ini, ia tak bisa berpikir positif lagi karena mendengar langkah di belakangnya semakin jelas. Maka dari itu, Alicia semakin mempercepat langkahnya bersamaan dengan langkah seseorang di belakangnya.
Alicia panik lalu, berlari tanpa menolehkan kepala untuk sekedar memastikan wajah seseorang yang mengikutinya. Tapi, ia sangat yakin kalau yang mengikutinya adalah salah satu pria mabuk di kelap.
“Tuhan, tolong aku.” Alicia bicara dengan terus berlari melewati toko demi toko yang sebagian sudah di tutup karena sudah lewat tengah malam.
“Agh!”
Alicia tersentak lalu, menghentikan langkah. Ia menolehkan kepala ke asal suara dan ia melihat pria itu sedang membersihkan celananya maka tanpa pikir panjang, Alicia memacu langkahnya dengan cepat.
“Ah, sial!”
“Tolong!” Alicia berteriak sambil terus memacu kakinya lebih cepat. Ia benar-benar takut dengan pria mengejar di belakangannya.
Banyak risiko bekerja di kelap malam salah satunya di ikuti oleh pria hidung belang yang sedang mabuk. Ada satu kejadian di mana seorang wanita hampir di perkosa oleh pria yang mengikutinya tapi, untung saja wanita itu selamat dengan cara melukainya.
“Hai, jangan berlari atau meninta pertolongan! Aku bukan orang jahat.”
Jangan pikir kalau Alicia akan percaya dengan kata-kata dari pria di belakangnya. Maling saja tidak mengaku sudah mengambil barang yang ada di tangannya, apa lagi orang di belakangnya. Jadi dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, ia mempercepat larinya.
Kini ia sungguh menyesal karna menolak ajakan rekan kerjanya untuk tidur di kamar khusus pekerja. Meski pihak kelap dan rekannya sudah mengatakan keamanan tempat itu tapi, ia memilih pulang.
Jam sudah menunjukkan angka tiga menjelang pagi dan seperti biasa, ia bersama rekan kerjanya di bolehkan untuk pulang atau menempati kamar tak jauh dari kelap. Namun, Alicia berbeda. Ia lebih suka tidur di rumah alih-alih di tempat yang di sediakan.
Alicia masih ingat saat melangkahkan kaki pertama kali untuk melihat kamar di sediakan, ia langsung tidak suka dan memilih untuk pulang meski selalu di bayangi rasa takut.
Ia tinggal sudut kota Las Vegas sementara tempat kerjanya ada di pusat kota. Perjalanan hingga sampai di rumah memakan waktu cukup lama dan selama tidak ada yang pria mabuk yang mengikutinya, maka ia akan baik-baik saja.
Setiap selesai kerja, ia selalu memastikan semuanya aman, terutama membuka wig hitamnya.
“Dapat!”
“Aaa, lepaskan aku! A–aku ngga punya apa-apa untuk kau ambil!” jeritnya kala merasakan tangan pria itu menyentuh lengannya.
“Hai, aku mohon jangan berteriak! Aku bukan orang jahat!”
Alih-alih menurut, Alicia malah semakin berteriak membuat pria itu terpaksa menutup mulutnya dengan salah satu tangan. “Aku bilang jangan berteriak! Aku mengikutimu untuk memberikan ini.”
Alicia melotot melihat buku yang berisi semua rahasianya ada di depan wajahnya lalu, ia melirik pria yang menutup mulutnya. Siapa pria ini? Tanyanya dalam hati.
Ketika tangannya akan meraih buku itu tiba-tiba saja orang asing itu menjauhkannya. Alicia kembali memberontak, membuat si pria kewalahan menahannya.
“Aku akan melepaskanmu akan tetapi, kau harus berjanji untuk tidak berteriak?”
Alicia terus berontak, tidak peduli perkataan orang asing yang menutup mulutnya dengan menggunakan salah satu tangan.
“Astaga, kenapa kau keras kepala sekali? Aku mengikutimu hanya untuk memberikan buku diari ini dan kau harus percaya kalau aku bukan orang jahat!”
Bukan orang jahat? Alicia bicara dalam hati kemudian, menggigit tangan pria asing yang menutupi mulutnya.
Pria itu kesakitan membuat Alicia tersenyum puas lalu, dengan cepat mengambil diarinya dan berlari menjauh dari pria itu.
“Sial!”
Dengan masih berlari, Alicia menolehkan kepala untuk melihat pria asing itu. Lalu, ia mengalihkan pandangan saat mendapati pria itu malah memandanginya.
“Sial! Kenapa kau malah lari! Padahal, aku ingin minta maaf, karena sudah membaca semua isi bukunya.”
“Max, apa kau menungguku?” Alicia berjalan mendekati, Max, anjing peliharaannya dan mengelus kepala Max dengan sayang yang di balas dengan jilatan di tangannya.
“Apa ayah sudah memberikanmu makan?” lalu mengalihkan pandangan pada tempat makan Max dan tersenyum senang. “Tentu saja sudah, kalau ayah sampai lupa memberimu makan maka–“
“Kau masih bermain judi yang tidak pernah menghasilkan uang itu?”
“Aku yakin kau sudah tahu jawabannya.”
Alicia menghela nafas mendengar suara dari dalam rumah lalu, tersentak mendengar Max tiba-tiba menggonggong. Kemudian, dengan cepat ia meletakkan salah satu jari di depan bibirnya.
“Jangan mengeluarkan suara, Max!” perintahnya meski kadang di katakan orang gila tapi ia yakin, kalau Max mengerti karena anjingnya berhenti menggonggong.
“Ini waktunya orang tidur!” Lalu ia tersenyum, melihat Max menunduk. Lantas satu tangannya terulur untuk kembali mengelus kepala anjingnya dengan sayang.
“Anjing pintar.”
“Astaga! Uang dari mana lagi? Kemarin putriku baru gajian dan uangnya langsung di bayar untuk mengangsur hutangmu dan sekarang? Kau–“
“Dia juga putriku dan sudah sepantasnya untuk melunasi hutangku! Kau pikir aku banting tulang mencari uang dulu untuk siapa? Dia dan..”
Alicia menutup telinga agar tidak mendengar perkataan ayahnya lebih jauh lagi seolah-olah dirinya bukan anak kandung.
Memang ada seorang Ayah yang menjadikan perjuangan untuk membesarkan sebagai hutang budi untuk anaknya di masa depan? Tidak, mungkin hanya ayahnya yang melakukan itu.
Tapi, seburuk-buruknya pria itu, Alicia tidak bisa membencinya. Kecewa mungkin ada tapi, semua itu hilang saat mengingat bagaimana pria itu menyayanginya. Dulu, sebelum ayahnya mengenal meja perjudian dan menjadikannya candu.
Matanya tidak sengaja melirik Max seperti sedang mencari perhatian membuatnya tersenyum dan mengelus kepala anjing itu dengan sayang. “Aku tidak apa-apa.”
Tiba-tiba ia menguap dan kembali menatap Max. “Aku mengantuk sekali. Max, aku masuk dulu ya! Kau jangan berisik!”
Alicia mengelus kembali kepala anjing keturunan Doberman miliknya itu dengan sayang. Kemudian, memberikan ciuman selamat malam dan bangkit dari berjongkok untuk berjalan memasuki rumah.
“Jadi, semua hal yang kau lakukan pada kami selama ini tidak tulus? Astaga, aku tidak percaya sudah menikahi pria sepertimu!”
Saat membuka pintu, ayah dan ibunya langsung berhenti bertengkar. Kemudian, mereka meliriknya dengan wajah pucat basi apa lagi ibunya.
“Aku pulang, maaf, membuat ibu menunggu.” Tuturnya tanpa melihat kedua orangnya dan berjalan mendekati tempat sepatu dan meletakkan sepatunya di sana.
Kemudian ia berbalik hendak melanjutkan langkah tapi tidak di lakukanya karena mengingat sesuatu. “Kalau mau berdebat jangan keras-keras nanti, orang yang masih tidur terganggu.”
Setelahnya ia melanjutkan langkah menuju pintu kamar dan menutupnya. Alicia terdiam dengan duduk di ranjang sambil menatap dinding dengan tatapan kosong.
Hampir setiap hari orang tuanya bertengkar dengan masalah yang sama yaitu kebiasaan ayahnya. Di tambah lagi dengan pria itu pulang ke rumah saat menjelang pagi membuat ibunya semakin emosi.
Alicia menghela nafas kasar dan tiba-tiba saja, mengingat buku diarinya. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku yang sudah hilang dari lima hari lalu.
“Pria asing yang tidak sopan.” Ucapnya ketika mengingat perkataan pria tadi lalu, ia berdiri dan berjalan menuju nakas. Setelah menyimpan bukunya, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Saat lelah, ia tak ingin mengatakan apapun. Hanya ada dua hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah membersihkan tubuh dengan air dan tidur.
“Aku sudah menemukan wanita yang tepat, Tuan.”
Dominic Rutherford seorang CEO dari perusahaan yang bernama Ford mengalihkan pandangan pada seseorang yang bicara. “Apa kau yakin?”
“Sangat yakin. Kali ini, aku yakin kalau Anda tidak akan di permalukan lagi.” Axel, pria yang bekerja sebagai asisten Dominic itu, bicara dengan penuh kesungguhan padanya dan dengan perlahan, ia mulai percaya dan menganggukkan kepalanya.
“Aku percaya dan aku harap kalau wanita itu datang ke rumah ini besok!”
Mendadak tubuh Axel berubah kaku lalu menundukkan kepala. “Begini, Tuan..”
Dominic mengerutkan kening tak suka akan tetapi, ia tidak mengatakan apa-apa dan menunggu kelanjutan cerita Axel.
“Wanita itu bukan berasal dari keluarga kaya dan.. aku, belum berhasil mendekatinya untuk bicara hal ini.” Lanjut Axel dengan masih menundukkan kepala. “Tapi, Anda tenang saja. Dengan perlahan, aku akan mendekati wanita itu dan mengatakan–“
“Bukan berasal dari keluarga kaya? Lalu wanita seperti apa dia? Kau harus ingat, meski aku sudah percaya padamu tapi, kau tidak bisa sembarangan mencarikanku seorang istri!”
Axel sudah berani mengangkat kepala dan mengangguk. “Dia wanita yang baik dan cocok dengan kriteria Anda.”
Dominic menghela nafas kasar dan mengalihkan pandangan pada koran tadi di bacanya. “Kau bisa keluar dan cari cara untuk menjadikan wanita itu sebagai istriku.”
“Baik, Tuan.” Axel masih menatap Dominic dengan ragu lalu, menatap tuannya dengan yakin. “Apa Anda yakin tidak ingin melihat foto wanita itu? Aku takutnya kalau wanita itu tidak sesuai dengan kriteria atau mungkin saja sama seperti –“
“Tidak, perlu! Aku akan putuskan suka atau tidak saat bertemu wanita itu nanti.”
Axel menganggukkan kepala mengerti. “Kalau begitu aku permisi pergi dulu.” Ucapnya lalu berjalan keluar dari ruang kerja.
Saat akan membuka pintu, gerakan tangannya terhenti dan kembali menatap Dominic. “Wanita itu bernama Alicia.”
Dominic diam dengan terus membaca koran saat pintu ruangannya benar-benar tertutup dari luar, ia merogoh sakunya dan menghubungi seseorang.
“Ikuti Axel dan cari tahu wanita bernama Alicia.” Setelah mengatakan itu Dominic memutuskan sambungan dan menghela nafas.
Pada dasarnya Dominic tidak percaya pada siapa pun termasuk pada Axel atau pada orang suruhannya. Tapi, ia tak bodoh dengan mengatakan itu pada orang-orang itu karna ia masih membutuhkan mereka.
Masalah mencari istri itu di lakukannya agar para investor percaya dan memberikan investasi itu pada perusahaannya.
Kalau bisa memilih, ia tidak ingin menikah tapi jika itu untuk kelangsungan perusahaan maka ia akan melakukan apapun. Termasuk mengingat dirinya dengan hubungan sakral yaitu pernikahan.
Setelah mengantarkan minuman pada tamu di ruangan privasi, ia berjalan keluar. Alicia mengabaikan panggilan dari beberapa pria yang memintanya untuk bergabung dengan mereka.
Setelah menutup pintu ruangan yang berisi lima orang pria dan tujuh wanita, ia baru bisa menghela nafas lega.
Lantas ia terus berjalan melewati pintu demi pintu untuk sampai pada ujung jalan lalu menuruni tangga.
“Astaga, aku bisa gila lama-lama bekerja di sini.” Rutuknya tak bisa menahan kesal karna mengingat salah satu pria kurang ajar yang telah menyentuh tubuhnya.
“Kau tahu apa yang aku katakan? Aku bilang mana mungkin bisa punya anak sementara dia tidak mampu untuk berjalan.”
Alicia menghentikan langkah lalu sedikit mengintip di sela dinding.
“Kau kasar sekali padahal dia berasal dari keluarga Rutherford.”
“Retherford?” gumam Alicia sembari bersembunyi di balik dinding lalu, merogoh saku untuk mengambil ponsel dan mengetik nama itu di notes.
“Aku tidak peduli. Dia salah, punya kekurangan tapi dengan beraninya melamarku. Ya, aku tahu dia kaya tapi ayolah, tidak ada orang yang mau menikah dengan pria tidak sempurna.”
“Kau benar.. tapi, aku penasaran bagaimana ekspresi di wajahnya setelah kau tolak?”
“Biasa saja.”
“Apa? Kau serius? Hmm, Aku jadi curiga kalau dia melakukan itu bukan karena tertarik tapi–“
“Aku tidak peduli. Karena aku sudah memiliki pacar yang sempurna dan tak kalah kaya dari dia.”
Sombong sekali ucap Alicia dalam hati dan tersentak ketika melihat salah satu wanita berdiri di depannya dengan tatapan penuh curiga.
“Kenapa kau berdiri di situ?”
Oke, tenang Alicia ucapnya dalam hati. “Aku..”
Alicia mencari jawaban dengan gugup sesekali ia akan menatap wanita yang menunggu alasannya. Saat merasa tidak menemukan alasan yang tepat, ia buru-buru pergi meninggalkan wanita itu.
Saat menuruni tangga tanpa sengaja matanya bertemu dengan wanita satunya lagi dan menunduk sambil terus menuruni tangga.
“Benar-benar tidak sopan!”
“Sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia baru berdiri di sana!”
Alicia menghela nafas lega setelah jaraknya sudah cukup jauh. Kemudian, ia menuruni anak tangga dengan santai.
Beberapa langkah menuju anak tangga terakhir, ia mulai mendengar suara musik yang cukup keras. Lalu, tangannya terulur untuk memastikan wig pendeknya terpasang dengan benar agar tidak ada yang curigai kalau rambutnya kini bukan rambut asli.
Di kelap malam tempatnya bekerja memiliki cukup banyak peraturan agar pekerja wanita merasa nyaman. Salah satunya adalah melarang tamu pria untuk menyentuh mereka. Jika ada yang melanggar maka pria itu akan di usir dengan tidak terhormat.
Namun, selama bekerja di sini, Alicia belum pernah melihat hal seperti itu. Ia hanya mendengar rumor yang tidak dapat di buktikan tapi tetap membuatnya takut.
“Wah, aku tidak percaya kalau kita akan bertemu lagi sini. Tapi, aku merasa kau sedikit berbeda. Ah, warna rambutmu!”
Alicia menolehkan kepala ke asal suara dengan nada sedikit keras karna bunyi musik di kelap lalu, ia mendengus. Pria tidak sopan karna sudah membaca diariku ucapnya dalam hati.
Lalu Alicia menuruni tangga dan berjalan meninggalkan pria itu seorang diri.
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?”
Alicia memejamkan mata untuk menahan rasa tidak sukanya lalu, ia melirik pria itu. “Kenapa aku harus mengatakannya padamu?”
“Aku hanya ingin tahu, itu saja.”
“Cia!”
Mendengar namanya dengan suara keras, Cia, nama panggilannya di kelap, berjalan mendekati asal suara. “Ada apa?”
“Antarkan ini ke.. ruangan nomor tiga puluh dua.”
“Kenapa mereka tidak minum di sini saja?” Alicia bertanya dengan tatapan lurus ke gelas yang harus diantarkan ke ruangan privasi. Ia tidak yakin akan bisa sampai di sana karna harus melewati tangga dan beberapa orang iseng.
“Sebagai pekerja, kalian tidak bisa memilih kemauan pelanggan.”
Alicia mengalihkan pandangan pada si pemilik suara lalu, menggelengkan kepala tidak percaya karna menyadari kalau pria itu mengikutinya.
Axel, pria itu, menyadari tatapan wanita di depannya menaikkan satu alis. “Kenapa? Apa aku salah bicara?”
“Tidak, apa yang Anda katakan benar.” Bartender setuju dengan pendapat Axel yang tersenyum tanpa dosa.
Lalu ia melirik Alicia yang masih menatapnya tidak suka membuatnya menaikkan salah satu alis. “Kenapa kau masih berdiri di sini? Bukannya kau mengantarkan minuman?”
Alicia tergagap lalu, mengambil nampan ada di atas meja dan berjalan meninggalkan pria aneh itu.
Selama berjalan, ia berharap kalau tidak bertemu dengan orang iseng yang di tangga.
Terlahir sebagai anak dari orang tua yang hidup susah membuat Alicia harus menahan keinginan untuk kuliah. Meski sebenarnya ia bisa kuliah dengan beasiswa tapi, ia sadar dengan kebiasaan bermain judi sang ayah yang mengharuskannya untuk ikut mencari uang.
Selain bermain judi, ayahnya juga suka meminjam uang pada orang lain untuk ikut bermain lagi dan hal itu terus berlangsung hingga saat ini.
Alicia harus bekerja di dua tempat yang berbeda, malam hari di Kelap dan di siang hari di kafe, agar hutang-hutang itu cepat di lunas.
Ia juga berusaha menyisihkan sedikit gajinya untuk menggaji ayahnya yang sudah merawat Max dengan baik.
“Kenapa kau malah diam? Aku menunggu uang yang biasa kau berikan padaku setiap bulannya.”
Saat ini ibunya sedang bekerja maka dari itu ayahnya berani meminta uang. Kalau saja wanita yang sudah melahirkannya itu tahu, sudah pasti Sarah akan marah dan orang tuanya akan bertengkar.
Walau sangat membenci pria yang sedang menatapnya penuh amarah tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Alicia sangat menyayanginya.
Ia berharap kalau ayahnya berubah menjadi pria yang bertanggung jawab dan baik seperti dulu.
“Kau memiliki telinga atau tidak?”
Alicia tersentak dan kembali, menatap sang ayah. “Aku.. uang itu sudah habis.”
“Jangan bohong, aku tahu kalau kau masih menyimpan uangnya!” Tuntutnya membuat Alicia menghela nafas kasar.
“Aku memberikan uang itu untuk memenuhi kebutuhan ayah selama tidak bekerja bukan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna.”
“Bermain judi adalah kebutuhanku ! Dan asal kau tahu, jika aku menang, maka uangnya akan sangat besar.”
Diam-diam Alicia mendengus mendengar ucapan sombong dari Anton, ayahnya. Ia sudah bosan mendengar perkataan sombong itu karna nyatanya pria itu tidak pernah menang.
Anton selalu kalah dalam main judi namun anehnya, ayahnya bukan menyerah malah terus bermain.
Pria itu juga tidak peduli dengan banyaknya uang yang harus di habiskan saat bermain karna kemenangannya akan mengembalikan semua uangnya.
Setiap kalah, Anton merasa tertantang untuk memenangkan permainan maka dari itu, ia terus bermain dengan membayangkan uang ada di depan matanya.
“Aku tidak bohong! Uang itu..” Alicia memejamkan mata kala menyaksikan adegan di mana ayahnya melempar pot bunga hias di atas meja.
“Apa kau pikir aku bercanda? Sekarang, cepat mana uangnya? Oh, atau kau mau aku menjual anjingmu itu?”
Dengan cepat Alicia menggelengkan kepala mendengar ancaman dari ayahnya. “Jangan jual Max!”
“Kalau kau tidak mau anjing itu aku jual maka mana uangnya? Asal kau tahu, aku paling tidak suka dengan pembohong! Kau pikir merawat anjing itu mudah? Tidak! Sekarang mana bayarannya!”
Alicia meneguk ludah kasar lalu, menatap ayahnya dengan takut. “Sebenarnya uang itu ada tapi–“
“Tapi apa? Cepat katakan dan jangan berbelit-belit!”
“Uangnya sudah aku pakai sebagian untuk membeli obat ibu.”
“Apa? Astaga!” Anton berkata sambil berjalan dengan sesekali mengacak rambutnya di depan Alicia yang menggigit bibirnya pelan.
Tiba-tiba ayahnya berhenti melangkah lalu, menatap Alicia penuh amarah. “Kau..” Anton memejamkan mata dan kembali membukanya. “Kau bilang hanya sebagian jadi, mana sisanya?”
“T-tunggu sebentar, akan aku ambilkan.” Sahut Alicia sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
Ia sadar kalau apa yang di lakukannya salah tapi, saat melihat sang ibu berpura-pura baik-baik saja di depannya padahal sebenarnya sedang menahan sakit membuatnya tidak tega.
Alicia juga sadar tanggung jawabnya yang memiliki peliharaan maka ia harus merawatnya dengan baik dan menjaganya seperti anak sendiri. Kalau tidak, hewan kesayangan itu akan mati atau mungkin bisa menjadi liar dengan menggigit orang.
Sekitar pukul enam pagi, Alicia bangun dari tidurnya. Padahal ia baru benar-benar bisa tidur saat jarum jam menunjukkan angka empat subuh tapi, ia akan selalu terbangun beberapa jam setelahnya.
Lalu ia akan mendengar Sarah, ibunya, mengeluh perih di tangan serta sakit pada kakinya dan hal itu, sukses membuatnya merasa tidak berguna sebagai seorang anak.
Seharusnya di usia dua puluh tiga tahu, ia sudah bisa membahagiakan ibunya dengan uang hasil kerja kerasnya.
Tapi alih-alih melakukan itu, ia malah membiarkan sang ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Terkadang, apa yang di katakan oleh ayahnya benar. Ia memang harus membalas jasa orang tua dengan memberi mereka uang tanpa membiarkan mereka bekerja.
“Alicia, ada seseorang yang memanggilmu.”
Alicia sedang memikirkan ibunya tersentak dan menatap seseorang yang bicara. “Kau bilang apa?”
“Kau lihat pria yang duduknya membelakangi kita?”
Ia mengarahkan pandangan pada seseorang yang di katakan Vio, rekan kerja sekaligus sahabatnya di kafe. Saat menemukannya ia menganggukkan kepala. “Aku melihatnya tapi.. kenapa?”
“Pria itu cukup tampan..” Vio tersenyum tanpa dosa saat Alicia menatapnya tajam. “Maksudku, dia mencarimu.”
“Mencariku?”
Vio mengangguk. “Iya dan saat ini, dia sedang menunggumu.”
Alicia langsung menatap Vio tidak suka dan menggelengkan kepala. “Mana mungkin? Kau pasti salah dengar.”
“Aku tidak salah dengar! Asal kau tahu saja, telingaku masih berfungsi dengan baik untuk membedakan nama Vio dan Alicia!”
Ia mendengus lalu kembali menatap punggung kokoh milik pria itu kemudian, mengalihkan pandangan pada Vio. “Kau yakin?”
Vio mengangguk. “Iya, sebaiknya kau temui saja pria itu dan aku akan memberikan alasan pada bos.”
“Vio!”
Alicia ikut menoleh ke asal suara saat mendengar ada seseorang yang memanggil nama Vio. Kemudian, ia menolehkan untuk menatap sahabatnya.
“Aku harus kerja lagi dan kalau kau penasaran, maka temui saja pria tampan itu!”
Alicia mendengus dan Vio tertawa kecil sambil berjalan meninggalkannya sendirian.
Setelah mempertimbangkan semuanya, ia meletakkan nampan di atas meja dan mendekati pria itu.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Alicia bertanya saat sudah berdiri di depan meja pria itu lalu, mengangkat kepala. “Kau?”
“Duduklah!”
Sebenarnya Alicia ingin menolak tapi, ia tidak ingin menimbulkan keributan jadi memilih untuk duduk di kursi kosong.
“Ada apa?”
“Kau tidak ingin pesan sesuatu?”
Alicia menggelengkan kepala. “Tidak usah berbasa-basi, cepat katakan apa yang ingin kau katakan padaku lalu, aku akan pergi.”
“Kasar sekali. “Axel berucap sambil meminum kopinya dan meletakkan di atas meja. Ia kembali menatap Alicia dengan senyum yang akan membuat setiap wanita terpikat tapi sayang sekali, Alicia bukan salah satunya.
“Ini tentang isi buku Diarimu–“
“Kau sangat tidak sopan membuka buku yang menjadi rahasia seseorang!” potongnya dengan cepat sambil menatap pria di depannya kesal.
“Mana aku tahu kalau buku itu berisi rahasiamu! Saat itu, aku Cuma ingin melihat identitasmu tapi–“
“Cukup! Sekarang katakan! Apa yang ingin kau katakan?”
Axel hanya tersenyum melihat wanita di depannya lalu, ia mengedarkan pandangan pada pengunjung kafe. Setelah di rasa aman, ia memajukan wajah lebih dekat dengan Alicia.
“Dari buku yang aku baca kalau hidupmu benar-benar susah. Maksudku–“
“Jangan meralatnya karena.. memang benar.” Selanya sambil menghembuskan nafas kasar. “Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat katakan tujuanmu!”
“Maaf, tapi aku di sini hanya ingin menawarimu sebuah kesepakatan. Ini mungkin terlalu cepat tapi aku rasa kau adalah orang yang tepat.”
Axel menunggu beberapa menit tapi tidak ada tanda-tanda Alicia ingin bicara. Lalu, ia menghela nafas dan kembali bicara. “Saya akan memberikan kau uang tapi.. kau harus menuruti permintaanku.”
Alicia mengerutkan alis bingung sekaligus tertarik dengan tawaran dari pria di depannya. Apapun risikonya, itu bisa di urus nanti yang lebih penting, ia harus tahu pekerjaannya dulu.
“Kau mau atau tidak, Alicia?” Axel memastikan kembali, membuat wanita di depannya sedikit kaget.
Lalu, perlahan ekspresi itu hilang karna Alicia menyadari kalau pria di depanya tahu namanya dari diari miliknya.
“Katakan pekerjaannya dulu dan setelah itu.. aku baru bisa memutuskan langkah selanjutnya.”
“Pekerjaannya sangat mudah.. menjadi istri dari–“
“Menjadi istri orang? Apa kau sudah gila!”
Axel mendengus. “Makanya jangan menyela perkataanku!”
Alicia terdiam beberapa menit lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak ingin menjadi istri dari seseorang yang tidak aku kenal!”
“Kau akan menyesal menolak tawaranku karna.. pria yang menjadi suamimu bukan orang sembarangan. Dia orang yang baik juga.. kaya.” Axel masih menatap wajah Alicia yang mulai terlihat tertarik kemudian, ia membulatkan mata melihat wanita itu berdiri dari duduknya.
“Dengar ya pria yang tidak aku tahu namanya! Dia boleh saja kaya dan baik tapi itu bukan menurutku tapi kau ! Lagian, aku tidak tertarik menikah apa lagi karna uang.” Alicia menghembuskan nafas kasar dengan masih menatap pria yang duduk di kursi.
“Selamat menikmati hidangannya, Tuan.” Setelah mengatakan itu Alicia berbalik dan berjalan menjauhi Axel yang menatap Alicia tidak percaya.