Bab 1

Madeline Cindy, gadis tangguh berusia 20 tahun yang mengambil banyak pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Menjadi tulang punggung keluarga sudah menjadi suatu keharusan untuknya. Cindy harus mengumpulkan banyak uang untuk operasi kaki Ibunya yang lumpuh karena kecelakaan.

Hidup di kota besar seperti New York sangatlah sulit. Kau harus bisa memutar otak jika tidak ingin tidur di pinggir jalan dan meminta belas kasihan dari orang lain. Cindy bersyukur jika Caleb mendapatkan beasiswa untuk sekolah menengah atas sehingga dia tidak perlu bingung dengan biaya sekolah adiknya itu.

Pernah terbesit rasa iri yang Cindy rasakan ketika melihat orang lain bisa tertawa dan membelanjakan uang mereka tanpa khawatir. Seperti remaja pada umumnya, dia juga ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi tapi Cindy harus mengubur semua mimpi itu. Sekarang bukan saatnya dia memikirkan dirinya sendiri karena yang terpenting adalah Ibunya. Cindy ingin Ibunya bisa kembali berjalan sehingga wanita itu tidak perlu meminta Caleb mengantarnya ke gereja untuk mendoakan suaminya yang telah tenang di alam sana. Cita-cita yang cukup sederhana tapi sangat sulit untuk diraih.

"Bisakah kau memindahkan pot itu ke depan, Cindy?" Tunjuk Bibi Jane pada dua pot yang berisi bunga mawar.

"Baik, Bibi Jane," ucap Cindy mengangkat dua pot itu bersamaan dan membawanya ke luar toko. Diletakkannya pot itu dengan rapi agar dapat menarik perhatian pelanggan.

"Cantik sekali bunga ini." Cindy tersenyum sambil menyentuh kelopak mawar putih yang terlihat segar.

"Kau bisa membawa bibit ini dan menanamnya di rumah nanti," ucap Ron sambil memindahkan bibit mawar ke dalam pot yang lebih besar.

Cindy tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan, "Percuma, Ron. Tidak ada yang merawatnya nanti."

“Kau bisa menyuruh Caleb."

Cindy berdecak, "Pria itu hanya mencintai bola basket. Aku tidak rela jika bunga ini akan layu begitu saja."

"Setidaknya cintanya kepada bola basket membawa keberuntungan, bukan?"

Cindy mengangguk membenarkan ucapan Ron. Jika bukan karena basket, adiknya itu tidak akan bisa mendapatkan beasiswa. Cindy bersyukur saat menemukan nama Caleb di daftar calon murid penerima beasiswa, biar bagaimanapun juga dia ingin adiknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Cindy mengalihkan pandangannya pada kafe yang berada di seberang toko. Terlihat banyak anak muda yang sedang tertawa bahagia di sana. Rasa sedih kembali menghampiri Cindy. Seharusnya dia bisa berada di sana dan berkumpul dengan temannya jika Ayahnya tidak pergi meninggalkannya. Dia juga pasti bisa bersekolah di sekolah desain impiannya.

“Kedipkan matamu." Ron menjentikkan jarinya di samping Cindy.

Gadis itu hanya tersenyum kecut. Dia tahu jika Ron akan mengomelinya lagi karena memandang kumpulan anak muda itu dengan tatapan iri. Namun hal itu tidak bisa dicegah. Jauh di dalam hatinya, Cindy ingin merasakan itu semua, menikmati masa mudanya.

"Aku bosan mengomelimu Cindy." Ron mendesah kecewa.

Cindy tertawa dan memukul bahu Ron pelan, "Aku hanya memandang mereka, Ron. Apa salahnya?"

"Kau menatap mereka seolah ingin mencuri tas mereka, kau tahu?!"

"Aku tidak!" Cindy dengan cepat mengelak dan berlalu masuk ke dalam toko.

Ron mengikuti Cindy dan menemukan Bibi Jane yang sedang duduk di balik meja kasir. Kaca mata yang terpasang di matanya menandakan jika wanita paruh baya itu sedang membaca majalah favoritnya.

"Aku bisa membawamu ke kafe nanti malam jika kau mau, aku yang traktir." Ron kembali menghampiri Cindy dan menyenggol bahu gadis itu.

"Kau tahu aku harus menjaga Violet nanti malam."

"Rose masih bekerja di kelab, Cindy?" tanya Bibi Jane sambil melepas kaca matanya.

"Masih, Bi."

"Kenapa tidak bekerja saja di sini?" tanya Ron bingung.

"Dia sudah punya anak, Ron. Biaya sekolah tidaklah murah," sahut Cindy.

"Ron kan memang bodoh! Jadi dia tidak tahu bagaimana sulitnya mencari uang," ucap Bibi Jane menghina keponakannya. Dia berdiri dari kursi dan berjalan ke luar toko untuk menghampiri pelanggan yang sedang melihat-lihat bunga di luar toko.

"Jika aku tidak tahu, aku tidak mungkin bekerja denganmu Bi!" ucap Ron tidak terima saat Bibinya selalu saja menghinanya.

"Seharusnya kau bisa memanfaatkan gelar arsitekmu, sayang sekali jika tak berguna." Cindy tertawa dan ikut memojokkan Ron.

"Kau juga!" Ron mendelik dan mendengus tidak suka, "Bisakah kau ijin nanti malam? Aku benar-benar ingin mengajakmu ke kafe."

"Tidak bisa, Ron. Rose sudah mengatakannya jauh-jauh hari. Dia juga memintaku untuk menginap."

"Sayang sekali wanita secantik Rose harus bekerja menjadi wanita panggilan. Aku yakin jika dia mendaftar menjadi model Victoria Secret dia akan mejadi angel tercantik."

"Well, hidup memang keras," ucap Cindy menepuk bahu Ron dan meninggalkannya untuk membantu Bibi Jane.

***

Chris menatap gundukan tanah yang berisi jasad Ayahnya dengan diam. Suara tangisan dari Neneknya tidak membuat Chris terganggu sedikitpun. Tidak, dia tidak menangis. Hanya saja matanya sedikit memerah, oleh karena itu dia harus menutupinya dengan kaca mata hitam.

Chris menggaruk hidungnya yang gatal dan tanpa diduga Anton langsung memberikannya selembar tisu. Chris menatap tisu yang ada di hadapannya itu dengan bingung.

"Aku tidak menangis, bodoh!" Chris menghempaskan tangan asistennya dan membuat tisu itu terjatuh. Anton hanya berdehem pelan dan mengambil tisunya.

"Sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Chris pada Anton dengan berbisik.

"Saya tidak tahu, Tuan. Kita harus menunggu Mrs. Auredo untuk pulang."

Chris menghela nafas panjang dan menatap Neneknya yang masih menangisi kepergian anaknya. Jangan katakan Chris durhaka karena tidak merasakan simpati sedikitpun atas kematian Ayahnya. Dia tidak dididik seperti itu. Tentu saja dia sedih, serangan jantung yang menyerang Ayahnya benar-benar tidak terduga. Kini dia hanya sendiri sekarang. Kedua orang tuanya telah bahagia karena bisa berkumpul kembali di surga.

Surga? Apa kau yakin Chris?

"Nek, kita harus pulang." Chris menghampiri Neneknya yang masih menangis sambil mengelus batu nisan.

"Ayahmu, Chris. Kenapa dia meninggalkan Nenek sendiri?" Anton dengan sigap memberikan selembar tisu pada Mrs. Auredo yang dengan cepat diambilnya.

"Takdir, Nek. Mungkin Ayah merindukan Ibu."

Mrs. Auredo berdiri dan mengusap air matanya. Dia menatap cucunya dengan serius. Disentuhnya bahu kekar Chris dan menepuknya pelan, "Kau jangan pergi meninggalkan Nenek, ya? Kau akan tahu akibatnya nanti."

Chris memutar matanya jengah, untung saja dia memakai kaca matanya saat ini sehingga Neneknya tidak akan menyadarinya. Mau tidak mau Chris mengangguk agar dia bisa cepat pulang dari makam mengerikan ini. Chris berjalan di samping Neneknya yang berjalan dengan bantuan tongkat. Kesehatan wanita itu menurun akhir-akhir ini. Anton masih setia mengikutinya di belakang.

"Kau akan pulang ke rumah, Chris?" tanya Mrs. Auredo.

"Tidak, Nek."

"Kenapa? Apa kau tidak ingin menemani Nenek?"

"Bukan begitu, hanya saja aku ada rapat besok pagi," ucap Chris mencari alasan.

"Nenek sekarang sendiri, Ayahmu tidak ada Chris." Chris memutar matanya lagi. Tentu saja Ayahnya tidak ada karena pria itu akan tidur di dalam tanah mulai dari sekarang.

"Nenek bisa menghubungi Lexa." Tiba-tiba Chris teringat dengan wanita yang menjadi tunangannya itu.

"Kau lupa? Lexa sedang berada di Miami sekarang."

"Untuk apa?"

"Tunangan Anda sedang berlayar di yacht bersama teman-temannya, Tuan," ucap Anton membuka mulut.

Mrs. Auredo dan Chris menghentikan langkahnya saat mendengar penjelasan dari Anton. Anton langsung gugup begitu dia menerima tatapan tajam khas Auredo itu.

"Dari mana kau tahu?" tanya Mrs. Auredo kembali melanjutkan langkahnya.

"Tadi pagi Nona Lexa memberi tahu saya karena ponsel Tuan tidak aktif."

"Kau harus terus mengaktifkan ponselmu, Chris. Jangan membuat Lexa sedih."

"Kenapa kau masih menyukainya, Nek? Padahal dia tidak datang di pemakaman Ayah." Chris tidak habis pikir kenapa dia mau menerima permintaan Neneknya untuk bertunangan dengan Lexa.

"Anggap saja dia sedang bekerja." Mrs. Auredo menepuk bahu Chris pelan dan berlalu untuk masuk ke dalam mobilnya.

Chris hanya diam menunggu mobil itu berlalu pergi. Setelah menghilang dari pandangannya, dia berbalik menatap Anton yang ada di belakangnya.

"Katakan Anton, katakan bagaimana caranya agar aku bisa menjauh dari Lexa?"

Anton terlihat berpikir tapi kemudian dia menggeleng, "Tidak ada, Tuan."

"Dasar tidak berguna!" umpat Chris kasar dan berlalu masuk ke dalam mobil.

Seharusnya Chris tahu jika Neneknya akan melakukan segala cara untuk dapat mengatur hidupnya. Entah apa saja yang wanita itu inginkan, Chris tidak bisa menolak. Jika orang yang tidak mengenal Neneknya pasti akan beranggapan jika wanita tua itu terlihat sangat rapuh dan sama seperti orang tua lainnya. Namun semua itu tidak benar, kelicikan yang dia punya juga berasal dari Neneknya.

Bisnis bukanlah sesuatu yang bersih. Jika ingin berkuasa maka harus melakukan segala cara untuk mendapatkannya, meskipun dengan cara terlarang sekalipun. Itu yang diajarkan keluarga Auredo kepadanya. Chris tidak menyesal dilahirkan dalam keluarga ini karena dia bisa mendapatkan segala hal yang dia inginkan dengan sangat mudah.

"Apa jadwalku setelah ini?" Chris menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan memijat keningnya pelan.

"Jadwal Tuan setelah ini adalah bertemu dengan Mr. Ronald untuk pembacaan surat wasiat."

"Surat wasiat?" Chris bertanya bingung.

"Iya, Tuan. Mr. Ronald sudah membuat janji semalam." Chris hanya mengangguk paham.

"Di mana?"

"Di kantor Mr. Ronald."

Chris kembali mengangguk dan mengambil ponselnya di saku jas. Dinyalakannya ponselnya yang dia matikan sejak semalam. Begitu menyala, banyak sekali notifikasi yang masuk dan yang paling mendominasi adalah Lexa, tunangannya.

Chris membuka pesan terakhir dari Lexa dan membacanya. Dia mendengus begitu wanita itu hanya menyampaikan maaf karena tidak bisa hadir ke pemakaman Ayahnya karena sedang berada di tengah laut. Alasan konyol itu membuat Chris semakin yakin jika Lexa hanyalah wanita bodoh yang hanya bisa berfoya-foya. Hilang sudah respek Chris terhadap wanita itu.

"Oh iya, Tuan. Mr. Ronald berkata jika Tuan harus merahasiakan pertemuan ini kepada siapapun."

Dahi Chris berkerut bingung, "Nenek tidak ikut dalam pembacaan wasiat?"

"Tidak, Tuan."

"Apa mungkin ada sesuatu yang rahasia, Anton?" gumam Chris menanyakan isi pikirannya.

"Bisa jadi, karena Mr. Ronald mengundang Anda secara personal."

Chris memejamkan matanya dan berpikir. Kehidupannya akan berubah mulai dari sekarang. Dia harus bisa memegang banyak perusahaan sekaligus. Meskipun perusahaan itu milik keluarga, tapi menjadi cucu satu-satunya keluarga Auredo tentu tidaklah mudah. Siapa lagi jika bukan dirinya yang akan mengurus semuanya.

Neneknya? Pftt yang benar saja!

***

TBC

Bab 2

"Selamat malam, Chris," sapa Mr. Ronald ketika melihat Chris memasuki ruangannya.

Chris hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di salah satu sofa di ruangan Mr. Ronald, pengacara ayahnya.

"Jadi kenapa kau memintaku datang?"

"Aku ikut merasa sedih atas perginya Ayahmu." Mr. Ronald mengambil duduk di depan Chris dan tersenyum lemah mengingat jika sahabatnya itu sudah pergi sekarang, "Dia pria yang baik, Chris."

"Kau tahu jika tidak ada keluarga Auredo yang benar-benar baik, Paman," sahut Chris menghilangkan kesan formal yang ada.

"Tentu saja aku tahu, tapi Ayahmu berbeda."

"Sudahlah, sekarang jelaskan kenapa kau menyuruhku datang? Aku tidak punya banyak waktu."

Mr. Ronald kembali ke mejanya untuk mengambil sebuah gulungan kertas. Setelah itu dia memberikannya kepada Chris.

"Bukalah."

Chris membuka gulungan kertas itu dan dahinya berkerut bingung saat mendapati sebuah foto seorang gadis di sana. Chris menatap Mr. Ronald dengan pandangan bertanya.

"Apa kau mempermainkanku?" tanya Chris.

"Tidak."

"Apa ini?! Kau bilang ingin membacakan surat wasiat dari Ayah!" Chris membanting kertas itu di atas meja dan menatap Mr. Ronald marah.

"Itu adalah wasiat dari Ayahmu, Chris."

"Aku tidak mengerti."

"Namanya Madeline Cindy. Ayahmu ingin kau menjaga gadis itu mulai dari sekarang."

Chris terdiam menatap foto gadis itu dengan bertanya-tanya. Kenapa Ayahnya harus memintanya untuk menjaga gadis itu? Siapa dia? Tiba-tiba pikiran buruk langsung terlintas di kepala Chris. Apa Ayahnya berselingkuh selama ini dan menghasilkan seorang anak? Jika itu benar, Chris benar-benar menyesal merasa kehilangan pria itu.

"Siapa dia, Paman?"

"Aku tidak tahu, dan aku pikir kau bisa mencari tahunya sendiri," ucap Mr. Ronald menyandarkan tubuhnya pada sofa, "Tapi supaya kau tidak bingung, kau bisa membaca cacatan kecil di balik foto itu."

Chris kembali meraih kertas itu dan mencari cacatan kecil di sana, "Aku tidak menemukan apapun." Keningnya berkerut bingung.

"Lepas foto itu." Dengan perlahan Chris melepas foto itu dan benar saja. Dia menemukan sebuah cacatan di balik foto itu. Chris tidak menyangka jika foto itu bisa dilepas.

"Christopher anakku, saat kau membaca surat ini berarti ayah sudah tidak ada di sampingmu lagi nak. Maaf jika hanya ini yang bisa ayah berikan padamu, dan bukan perusahan keluarga seperti yang kau inginkan. Kau tahu sendiri jika semua itu milik nenekmu."

"Dia Madeline Cindy, ayah ingin kau menjaganya mulai dari sekarang. Tenang dia bukan adikmu, dia hanya gadis biasa yang ayah hancurkan hidupnya. Ayah harap kau mengerti Chris. Jaga dia untuk ayah."

Chris membaca catatan itu dengan bingung. Tidak ada penjelasan secara detail di sana. Chris buta harus mencari tahu dari mana.

"Ayah tidak menjelaskan siapa gadis itu, dan apa ini?" Chris mengerutkan keningnya saat menemukan kalimat yang sangat ambigu, "Dia hanya gadis biasa yang Ayah hancurkan hidupnya." Chris membaca kalimat itu dengan hidung yang berkerut.

"Sangat khas Ayahmu, dia ingin memainkan teka-teki." Mr. Ronald terkekeh saat Chris membacakan kalimat itu.

"Menyebalkan sekali, tapi syukurlah jika gadis itu bukan adikku."

"Kau tahu bukan, harus memulainya dari mana?"

Chris mengangguk, "Aku akan meminta Anton mencari tahu semuanya."

"Kau ingin minum, Chris?" tanya Mr. Ronald sambil menunjuk anggur merah yang berada di dalam lemarinya. Dia tahu jika Chris sedang bingung sekarang dan dia ingin sedikit menghibur pria itu dengan menemaninya minum.

"Sedikit sepertinya tidak masalah." Mr. Ronald berdiri dan menyiapkan gelas untuk Chris.

"Madeline Cindy..." Chris bergumam sambil memandangi foto gadis itu di atas meja. Entah kenapa tangan Chris mengepal, dia seolah mempunyai firasat jika sesuatu yang besar akan datang sebentar lagi.

***

Chris memandang seorang gadis dari kejauhan. Jari-jari tangannya mengelus bibir tipisnya sambil berpikir, "Apa benar dia gadis yang dimaksud Ayah?" tanya Chris pada Anton.

"Benar, Tuan. Semua keterangan tentang gadis itu sudah ada di dalam file yang Anda pegang."

Chris melirik dan membuka map hitam yang ada di pangkuannya. Halaman pertama menampilkan foto Cindy yang tengah tersenyum sambil menyuapi seorang wanita yang duduk di kursi roda.

"Ini Ibunya?" tanya Chris sambil menunjuk foto itu.

"Iya, Tuan. Setelah kecelakaan 7 tahun yang lalu, Maria mengalami kelumpuhan."

Chris menggelengkan kepalanya dan menutup map itu, "Aku malas membaca, ceritakan secara singkat tentang gadis itu." Anton hanya mengangguk dan mengambil map yang diberikan oleh Chris.

"Nama gadis itu Madeline Cindy," Anton mulai bercerita, "Berusia 20 tahun. Hidup bersama Ibu dan adiknya yang bernama Caleb. Adiknya masih berusia 16 tahun dan duduk di sekolah menengah atas. Setelah lulus sekolah 2 tahun yang lalu, Cindy mulai bekerja secara penuh untuk menghidupi ibunya dan menyekolahkan adiknya."

"Tunggu, jadi dia bekerja sendiri?" tanya Chris tidak percaya.

"Benar. Saat masih sekolah dulu dia bekerja paruh waktu tapi setelah lulus, akhirnya dia bekerja penuh dengan mengambil beberapa pekerjaan."

"Di mana?" tanya Chris kembali menatap Cindy yang sedang duduk di taman sendirian.

"Bekerja di toko bunga milik Bibi Jane."

"Bibi Jane?" Chris bertanya dengan kening yang berkerut. Bibi Jane adalah wanita yang mengurusnya sejak kecil, ternyata dia berhenti bekerja karena permintaan Ayahnya untuk membantu Cindy.

Anton mengangguk membenarkan, "Benar, Tuan. Ayah Anda yang menyiapkan itu semua."

"Jadi selama ini Ayah sudah memantau gadis itu?"

"Benar, Tuan."

"Aku mengerti Anton, tapi aku masih tidak paham dengan jalan pikiran Ayah yang menyembunyikan ini semua." Setelah mengatakan itu, Chris langsung turun dari mobil dan menghampiri Cindy.

"Tuan! Tunggu!" Chris menghentikan langkahnya saat Anton memanggilnya.

"Apa?"

"Tuan serius ingin menampakkan diri? Tidak seperti Mr. Auredo yang menjaga gadis itu dari jauh?" Anton merasa ragu jika Chris akan melakukan wasiat Ayahnya dengan baik.

"Kau tahu jika itu bukan gayaku." Chris mendengus dan berlalu pergi meninggalkan Anton, melanjutkan langkahnya untuk menemui Cindy.

Chris menghentikan langkahnya ketika sudah berada di belakang gadis yang sudah memberikan tanda tanya besar di kepalanya. Dapat dia lihat jika Cindy sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.

"Suka menggambar, eh?" tanya Chris memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria itu menunjukkan kesan dinginnya dengan tidak memandang Cindy secara langsung.

Cindy menoleh dan mengerutkan dahinya bingung. Dia mengeluarkan lollypop yang sedari tadi ada di mulutnya dan berbicara, "Kau bicara padaku?" Tunjuk Cindy pada dirinya sendiri.

"Kau suka menggambar?" Chris bertanya lagi dan mulai menatap mata Cindy secara langsung.

Cindy menatap Chris dengan pandangan aneh. Dia sedikit canggung saat berbicara dengan orang asing, "Seperti yang kau lihat, aku sedang menggambar dan bukan membaca."

Chris menaikkan alisnya tidak percaya saat mendengar nada tinggi yang Cindy gunakan. Kesan pertama yang Chris dapat dari gadis itu adalah dia orang yang tertutup dan sulit untuk bergaul.

Menarik.

"Ini." Chris memberikan kartu namanya pada Cindy.

"Apa itu?" tanya Cindy tanpa menoleh dan melanjutkan kegiatannya.

"Kartu namaku. Jika kau berminat, perusahaanku mengeluarkan beasiswa untuk sekolah desain."

Cindy langsung menoleh dan mengambil kartu nama itu cepat setelah mendengar ucapan Chris, "Beasiswa? Kau serius?" tanya Cindy memastikan.

"Ya, sebaiknya kau mulai belajar dari sekarang karena slot beasiswa hanya sedikit." Setelah itu Chris berbalik pergi dan kembali ke dalam mobil.

Cindy melihat kartu nama itu dengan ragu. Apa benar dia bisa mempercayai pria itu? Bahkan namanya saja dia tidak tahu.

Cindy meletakkan pensilnya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia memutar kembali kejadian saat di mana pria asing itu datang menghampirinya dan menawarkan beasiswa. Bagaimana bisa pria itu tahu jika memang Cindy berpotensi untuk masuk, melihat hasil karyanya saja dia tidak.

"Dasar aneh!" ucap Cindy dan mengedarkan pandangannya ke seluruh taman untuk mencari Violet.

"Violet! Tetap bermain di sana dan jangan jauh-jauh!" Cindy sedikit berteriak agar Violet dapat mendengarnya.

"Aku akan tetap di sini, Kak. Kau menggambar saja sana!" Cindy mencebik begitu mendengar kata-kata pedas dari Violet. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kalimat itu, hanya saja telinganya risih jika ada anak kecil berusia 8 tahun seperti Violet yang bertingkah seperti orang dewasa.

Cindy kembali menatap kartu nama yang masih digenggamnya itu dengan pandangan bertanya. Dia membaca nama yang tertera dengan teliti.

Christopher Romee Auredo.

***

TBC

Bab 3

Cindy memiringkan kepalanya untuk mengingat-ingat, apakah dia pernah mendengar nama Christhoper Auredo sebelumnya? Jika memang pria itu kaya dan mempunyai perusahaan tentu dia akan tahu bukan? Cindy masih berpikir dengan keras sampai akhirnya Violet datang dengan tubuhnya yang basah.

"Astaga, Violet! Kenapa bisa basah seperti ini?"

Cindy memasukkan kartu nama itu ke dalam tas dan menghampiri Violet yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Dielusnya rambut Violet agar air tidak menetes pada wajahnya. Ingin rasanya Cindy mengomel tapi saat melihat bibir maju itu, dia mengurungkan niatnya. Semenyebalkan apapun Violet, dia tetap menyayanginya. Cindy tidak akan tega jika memarahi gadis cantik itu.

"Ada apa, hm?" tanya Cindy sekali lagi.

“Laki-laki bodoh itu tidak bisa bermain skateboard! Karena dia aku jadi masuk ke dalam kolam," ucap Violet menunjuk ke arah kolam air mancur tempatnya bermain tadi. Di sana terdapat laki-laki muda yang sedang tersenyum canggung padanya.

"Dia tidak sengaja Violet." Cindy berusaha untuk meredamkan amarah gadis kecil di hadapannya.

"Tapi tetap saja dia bodoh!"

Cindy meringis saat mendengar ucapan tidak sopan itu, "Apa kau mengatainya bodoh secara langsung?"

"Tentu saja! Saat aku masuk ke dalam kolam aku langsung mengatainya bodoh."

"Violet dengar..." Cindy menunduk dan menyamakan tingginya dengan Violet, "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau perempuan dan kau juga masih kecil. Itu bukanlah kalimat yang bagus untuk kau ucapkan."

"Tapi dia menyebalkan, Cindy!"

"Aku tahu, apa dia sudah meminta maaf?" Violet hanya mengangguk dan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Lihat, dia bahkan sudah meminta maaf. Seharusnya kau tidak boleh marah lagi. Jadilah gadis baik dan jangan buat Ibumu sedih."

"Baiklah, aku minta maaf."

"Pintar," ucap Cindy sambil memasangkan jaket rajut miliknya pada Violet agar tidak kedinginan.

"Karena aku menurut, bisakah kau membelikanku lollypop?" Minta Violet dengan polosnya.

"Tentu saja, tapi tunggu aku gajian." Cindy tersenyum lebar dan Violet hanya memutar bola matanya jengah.

"Violet, sudah berapa kali aku bilang jangan memutar—"

"Ya ya ya.. jangan memutar mata karena itu tidak sopan." Cindy kembali tersenyum dan merapikan barang miliknya.

Setelah itu dia berlalu pergi bersama dengan Violet yang menggenggam tangannya erat. Sudah jam 9 pagi dan seharusnya Rose sudah pulang sekarang. Seperti biasanya, saat pagi dia harus mengantar Violet ke sekolah tapi karena sekarang hari libur, maka dia harus membawa Violet jalan-jalan. Hal itu sudah menjadi permintaan Rose, Ibu Violet. Dia tidak ingin anaknya melihat dirinya datang dalam keadaan kacau setelah usai bekerja di kelab semalaman.

Semua yang Cindy lakukan itu tidak luput dari pandangan Chris. Pria itu masih berada di mobil dan mengawasi gerak-gerik gadis itu. Tidak ada yang mencurigakan dan seharusnya Chris tidak sepenasaran ini pada Cindy.

"Jalan," ucap Chris saat Cindy sudah pergi.

"Baik, Tuan."

"Aku masih belum mengerti apa alasan Ayah memintaku untuk menjaga gadis itu, aku harap kau segera menemukannya," kata Chris pada Anton.

"Baik, Tuan."

"Dan satu lagi, cari tahu siapa anak kecil itu."

"Sudah ada di dalam data, gadis kecil itu bernama Violet. Selain bekerja di toko bunga Bibi Jane, Cindy juga menjaga Violet saat Ibunya bekerja." Chris hanya mengelus dagunya saat mendengar penjelasan dari asistennya itu.

"Ton, aku minta kau siapkan 1 slot beasiswa di sekokah desain milik Nenek untuk Cindy," ucap Chris saat mengingat penawaran yang dia ajukan pada Cindy. Itu hanya pikiran spontan, Ayahnya meminta dia untuk menjaga Cindy dan dia sedang berusaha untuk melakukan itu sekarang.

"Baik, Tuan."

Chris tersenyum tipis, dia yakin hidupnya akan berubah mulai dari sekarang. Entah kenapa dia berpikir jika jalannya dalam menjaga Cindy akan terasa sulit. Namun dia menyukainya, karena dia menyukai tantangan.

Saat sedang terdiam memikirkan Cindy, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Dengan kesal Chris mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Chris menekan tombol merah begitu mengetahui siapa yang menghubunginya. Siapa lagi jika bukan Lexa. Hanya dia yang berani menghubunginya di jam-jam seperti ini. Seakan tidak menyerah, Lexa kembali menghubungi Chris dan membuat pria itu jengah. Akhirnya mau tidak mau Chris harus mengangkat panggilan itu.

"Apa?" jawab Chris datar.

"Kau ini ke mana saja?! Aku sudah menunggu di restoran sejak tadi!" teriak Lexa dari seberang sana.

Chris memejamkan matanya saat sadar jika dia sudah melupakan Lexa, padahal dia sudah berjanji untuk sarapan bersama, "Aku lupa," sahut Chris tanpa merasa bersalah.

"Lupa?! Kau selalu saja seperti ini! Apa kau ingin membuatku mati kelaparan, hah?!"

"Berhenti berteriak Lexa! aku sudah di jalan." Chris ikut emosi mendengar suara Lexa yang tidak berhenti berbicara itu.

"Kau sangat menyebal—"

"Aku matikan sekarang." Detik itu juga Chris segera menutup panggilan itu. Dia muak mendengar suara nyaring milik Lexa.

"Ke restoran sekarang." Perintah Chris pada Anton.

***

Cindy tersenyum saat mendapati mobil Rose sudah terparkir di parkiran apartemen. Sepertinya wanita itu datang lebih awal, "Lihat Ibumu sudah pulang." Tunjuk Cindy pada mobil tua milik Rose.

"Yes! Mom pasti akan membawa pizza. Dia sudah berjanji semalam." Cindy kembali tersenyum dan mulai masuk ke dalam apartemen yang menjadi tempat tinggal Rose bersama Violet.

"Kau tidak seharusnya terus memakan pizza. Itu tidak sehat."

"Apa salahnya? Pizza itu enak. Kau saja sering makan makanan instan. Apa bedanya?" Cindy terdiam saat mendengar ucapan Violet yang begitu menohoknya. Bukan tanpa alasan dia sering makan makanan instan karena dia memang harus memberikan makanan yang sehat terlebih dahulu untuk Caleb dan Ibunya. Cindy tidak masalah jika tidak makan sekalipun asalkan Ibu dan adiknya tetap bisa makan.

Cindy membuka pintu apartemen milik Rose dan meletakkan semua barangnya di sofa. Violet langsung berlari untuk menemui Ibunya tanpa memperdulikan bajunya yang basah.

"Mom!" teriak Violet mencari Ibunya.

"Di dapur, Sayang."

Cindy terduduk dengan lelah. Selama seminggu ini dia bekerja secara penuh. Mulai dari bekerja di toko bunga sampai menjaga Violet. Dia melakukannya dari pagi hingga malam. Meskipun sekarang hari minggu, dia harus tetap bekerja di toko bunga setelah ini. Tidak ada hari libur untuknya.

"Kau apakan anakku sampai basah seperti ini, Cindy?" Cindy membuka matanya saat melihat Rose menghampirinya sambil menggosok rambut basah milik Violet.

"Violet berenang di kolam tadi," jawab Cindy menggoda Violet.

"Aku tidak berenang!" ucap Violet dengan kesal, kemudian dia beralih pada Ibunya, "Mom, tadi ada anak yang bermain skateboard dan menabrakku, karena itu aku jatuh ke kolam dan jadi basah seperti ini."

"Benarkah?" Bukannya merasa khawatir, Rose malah tertawa geli.

"Kau sudah makan Cindy?" tanya Rose pada Cindy yang terlihat lelah.

Cindy membuka matanya dan menatap Rose lekat, "Kau tahu jika aku tidak suka sarapan, Rose."

Rose mendengus dan mengambil duduk di sebelah Cindy, "Ada pizza di dapur, makanlah."

"Baiklah jika kau memaksa." Tanpa membutuhkan banyak waktu, Cindy langsung beranjak ke dapur untuk menghampiri Violet yang sedang memakan pizza-nya.

"Bilang saja jika kau memang lapar! Dasar keras kepala." Rose terkekeh dan masuk ke dalam kamarnya.

Cindy meminum air putihnya saat sudah memakan 3 potong pizza. Setidaknya perutnya sudah terisi dan dapat bertahan sampai siang nanti. Tangannya meraih tisu dan mengelap bibir Violet yang masih memakan pizza-nya dengan tekun. Setelah Violet selesai makan, dia akan langsung ke toko. Hari minggu seperti ini pasti akan ramai sekali nantinya.

"Ini, gajimu selama seminggu." Rose memberikan amplop coklat pada Cindy.

Cindy memandang Rose dengan bingung, "Bukannya kau akan memberikan gaji setiap bulan? Kenapa jad— Astaga! Kau akan memecatku, Rose? Aku tidak menyangka hanya karena Violet jatuh ke kolam kau akan melakukan ini padaku."

"Mom kau akan memecat Cindy?" tanya Violet ikut sedih.

"Astaga, kalian ini berlebihan sekali! Aku tidak memecatmu, Cindy. Hanya saja mulai dari sekarang aku akan memberikan gajimu setiap minggu. Aku tahu kau pasti membutuhkan uang ini."

Cindy menghela nafas lega, "Aku pikir kau benar akan memecatku tadi."

"Tidak, aku masih membutuhkanmu di sini."

"Baiklah. Terima kasih, Rose." Cindy tersenyum dan menerima uang itu. Setelahnya, dia pamit untuk kembali bekerja di toko bunga milik Bibi Jane.

***

Chris mengelap bibirnya dengan tisu saat dia sudah menghabiskan makanannya. Sejak dia datang tadi, Lexa terus saja diam sebagai aksi marahnya. Chris malah bersyukur karena tidak mendengar suara melengking wanita itu sehingga dia bisa makan dengan tenang.

"Aku selesai," ucap Chris dan berdiri.

Lexa terkejut dan ikut berdiri, "Kau akan pergi lagi?"

"Aku harus ke kantor."

"Demi Tuhan! Sekarang hari minggu Chris." Lexa berbicara dengan wajah yang memerah. Sepertinya wanita itu akan marah lagi.

Chris menghela nafas lelah dan kembali duduk. Dia bersyukur jika Lexa memesan ruang privat untuk sarapan mereka, jika tidak dia akan malu melihat tingkah Lexa seperti ini.

"Jadi apa maumu sekarang?" tanya Chris mencoba untuk bersabar.

Lexa hanya tersenyum dan menghampiri Chris, secara tak terduga wanita itu langsung duduk di pangkuan Chris. Pria itu hanya mengerutkan dahinya saat Lexa mulai melingkarkan tangannya di lehernya.

"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Lexa dengan nada yang menggoda.

"Aku harus ke kantor," ucap Chris sambil berusaha untuk melepaskan tangan wanita itu dari lehernya.

"Tapi aku merindukanmu." Setelah mengucapkan itu Lexa langsung mencium bibir Chris.

Mereka masih berciuman sampai akhirnya Chris melepaskan ciuman mereka, "Ke tempatku sekarang." Setelah itu Chris berdiri dan Lexa langsung tertawa senang karena usahanya berhasil.

***

TBC

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED