“Baik, saya akan ambil kamar, ini Bu. Benar, tujuh ratus ribu saja, kan dengan tambahan laptop dan salon kecil seperti ini?” tanya seorang gadis belia pada wanita berusia empatpuluh delapan tahun di hadapannya, sambil menyeka keringat yang membasahi kening.
“Iya, mbak Amora, benar,” jawab Wanita itu. walaupun usianya jauh lebih tua dari gadis yang akan menyewa salah satu kamar kos di tempatnya itu, dia tetap bersikap santun, serta dapat memperlakukan tamunya dengan sangat baik.
Amora meletakkan ransel di atas lantai. Ransel yang cukup besar dan membebani kedua pundaknya. Lalu, membuka isi di dalamnya dan menemukan sebuah dompet berwarna merah maroon, kemudian mengeluarkan uang ratusan ribu sebanyak tujuh lembar, dan memberikan pada ibu kos.
“Saya terima uangnya, ya Mbak Amora.” Wanita itu tersenyum lembut dan ramah. Mulai menghitung lembaran uang tersebut. Kemudian, kembali ia berkata, “Genap, ya tujuh ratus ribu rupiah. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan kwitansi bukti pembayaran dan juga kunci kamarnya.”
“Baik, Bu,” jawab Amora juga sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Wanita dengan tinggi badan sekitar 153cm itu kembali dengan sebuah kertas, pena dan kunci kamar di tangannya. Selalu, senyuman menghiasi wajah yang masih terlihat singset dan awet muda walaupun dari postur tubuh juga terlihat jelas sekali bahwa dia sudah tak lagi muda. Bahkan, juga lebih tua dari ibu Amora.
“Ini tanggal 20 Juni, ya? uang dibayar lunas di depan. Jadi, ke depannya jika mau nambah kos lagi, bayarnya tiap tanggal 20, ya Mbak?” ujar bu Ririn. Nama pemilik kos tersebut.
“Baik, Bu. Terimakasih,” ucap Amora dengan santun. kemudian segera membuka kamar dan meletakkan barang-barangnya di dalam ruangan tersebut. Sektika, dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur busa dengan sprei bewarna coklat muda tersebut.
“Uh, nyamannya jika begini. Ruangan yang dingin alami dan juga kasur yang empuk… akhirnya bisa beristirahat juga setelah dua hari jadi gembel di jalanan,” gumam Amora seraya memejamkan mata.
Awalnya Amora berfikir untuk istrahat sejenak melepaskan penat di tubuhnya. Tapi, karena dia terlalu lelah dan juga lebih karena telah berjalan entah berapa kilo kemarin, dari sejak tiba di ibu kota untuk berkeliling mencari kos-kosan.
Entah, sudah diatur Tuhan agar dia bisa sampai di tempat ini atau bagaimana. Sudah sekitar duapuluh lima tempat kos-kosan yang ia datangi selalu penuh. Jika saja ada yang kosong, sudah ada yang booking dan kasih dp. Sama saja, kan dengan tak bisa ia pakai? Hingga akhirnya Ketika lelah berjalan, dia mendapati tempat ini yang bahkan, kos-kosan paling bagus, indah dan bersih dari semua yang dia lihat sebelumnya.
Bahkan jika dilihat sekilas saja sudah sangat terlihat sekali bahwa pemilik kos sangat ramah baik dan juga santai. Gerbang masuk kos tidak jadi satu dengan rumah pemiliknya. Berjarak dengan tikungan. Jadi, ia bisa bebas dan tak harus merasa sungkan apabila ia ada kendala dan mengharuskan pulang larut malam Ketika Hunting foto ataupun ngevlog bersama dengan teman-temannya kelak.
“Heem… nyaman sekali. Benar, apa yang telah Tuhan firmankan pada kitabnya. Akan ada kemudahan setelah kesulitan,” gumam Amora yang merasa sangat nyaman sekali dengan suasana kamarnya yang luas dan sejuk meskipun tidak ada AC di dalamnya. Sebab, di luar sana terdapat kanopi yang atapnya menggunakan genting untuk parkir motor, lalu di bawahnya terdapat banyak sekali tanaman hijau yang tertata sangat rapi. Rupanya pemilik kos ini menyukai tanaman hias.
Kan, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? Di dalam ruangan enak sejuk kasur yang empuk aroma wangi dari pengharum ruangan yang baru saja ia pasang, sungguh nyaman sekali. Amora menghenpaskan tubuhnya dan berguling-guling di atas kasur. Berfikir untuk istirahat sejank sebelum akhirnya ia mandi untuk memebersihkan diri. ia yakin bahwa muka dan penampilannya Sekarang ini pasti sudah sangat dekit dan berdebu mirip sekali gembel.
‘Kamu memang anak sialan! Kenapa gak segera menyusul pergi ibu kamu saja sana ke neraka?’ teriak seorang Wanita sambil melemparkan buku tebal tepat mengenai muka Amora.
Amora terkejut. Antara sakit yang luar biasa dan marah yang terlalu di dalam benaknya mendngar ibu kandungnya di caci seperti itu oleh ibu tiri yang baru dua tahun ini menikah dengan ayahnya.
‘Lancang sekalai kau berkata demkian? Atas dasar apa kau bisa mengatakan dengan begitu yakin bhawa ibuku masuk ke dalam neraka? Dia adalah orang baik. Neraka sepertinya hanya layak pada Wanita jalang sepertimu, ibuku mati gara-gara kau! Kau, merusak rumah tangga kedua orangtuaku, dan membuat ibuku sakit-sakitan hingga mati. Manusia terkutuk, kou Rola!’ teriak Amora pada sang ibu tiri tanpa mau memanggil dengan sebutan tante jika pun masih tak bisa menerimanya sebagai pengganti ibunya.
‘Kau anak setan! Beraninya memanggilu hanya nama?’ teriak wanita itu kemudian menampar keras kepala Amora.
“Tidaaak!” seketika Amora pun bangkit dan duduk tegak di atas kasur busa yang ia tempati untuk tidur. Insiden yang membuat dirinya pergi dari tempat di mana dia dibesarkan itu rupanya begitu membekas, dan membawa sebuah trauma tersendiri di dalam benaknya. Bahkan, itu kini terjadi kembali dalam mimpinya. Begitu sama persis seperti yang dia alami tiga hari silam.
Memang sih hanya mimpi. Tapi, itu terasa begitu nyata, bahkan, keringat mengucur membuat tubuhnya basah oleh keringat.
Tapi, tunggu dulu. Dia tidak mati oleh pukulan maut ibu tirinya, kan? Kenapa suasana sangat gelap sehingga ia tak dapat melihat apapun begini, ya?
Amora merangkak sambil meraba-raba daerah sekitarnya, dia berusaha mencari ganggang pintu kamar untuk di buka agar biasan cahaya dari luar sana dapat masuk ke dalam supaya dia juga bisa menyalakan saklar lampu agar terang.
“Mbak Amora, kirain ke mana… habis, melihat ruangan di dalam kelihatan begitu gelap,” ucap ibu kos yang sudah ada di depan pintu ketika Amora membukanya.
Sepertinya tadi Wanita tersebut hendak mengetuk pintu. Tapi, siapa yang menyangka, bersamaan dia mengangkat tangan kanannya pintu kamar malah sudah terbuka.
“Aduh, Bu, maaf. Tadi, itu saya ketiduran,” jawab Amora malu-malu. Lelah dia, selama tiga hari hidup bagaikan gembel di Jakarta. Mau sewa hotel dia ga ada banyak duit.
Ibu kos hanya tersenyum saja. Pasti beliau juga sudah dapat melihat dari penampilan Amora yang kucel serta ramabutnya yang masih acak-acakan. Di tambah lagi, tadi siang saat datang menanyakan kamar kos juga terlihat begitu lelah dan sangat pucat sekali. Jadi, ibu kos berfikir bahwa gadis belia itu mungkin sedang sakit.
“Ini, tadi anak ibu membikin seblak. Mungkin mbak Amora bersedia. Di makan, ya?” ucap ibu kos yang membuat Amora diam dan terpaku karena terharu.
Hingga beberapa detik, Amora masih diam dan terpaku, dia telah lupa, sejak kapan ada orang lain yang begitu baik dan peduli sejak kematian sang ibu. Sepertinya, kesedihan dan sikap buruk orang di sekitarnya selama dua tahun ini telah membuat hatinya tertutup dan berfikir bahwa. semua orang itu sama saja, hanya baik di depan Ibu, adalah satu-satunya orang yang memiliki cinta kasih dan ketulusan kepada dirinya.
Jadi, Amora mengambil kesimpulan sendiri bahwa mereka berbuat padanya hanya karena takut pada mendiang ibunya saja. tapi, kini… sang ibu telah tiada karena menghadap pada yang maha kuasa. Jadi, mereka dapat berbuat seenak, dan semaunya sendiri tanpa tudu aling-aling. Gak pake nyindir, ngatain ya ngatain saja. terlebih lagi, begitu tahu bahwa ibu Rola, si wanita jalang yang telah menjadi ibu tirinya itu begitu membenci dirinya. Malah semakin meraja lela saja kelakuan mereka. Termasuk bi Inem yang... Mungkin, lebih tepatnya tidak tahu diri.
“Mbak Amora!”
“Eh, iya Bu… maaf, jadi bengong. Mungkin karena bangun tidur, dan nyawa baru saja terkumpul,” ucap Amora sambil menutupi malu, serta mengeluarkan sebuah tawa palsu untuk menutupi perasaan hatinya yang sedang hancur dan tak keruan.
“Tidak suka seblak, ya?” tanya ibu kos lagi. Sepertinya, dia merasa bersalah saja dengan pemberiannya.
“Oh, tidak. Justru sebaliknya. Saya suka sekali makan seblak. Terimakasih, ya Bu,” jawab Amora sambil mengambil mangkuk tersebut, dan melihat pemilik kos masuk ke dalam pintu yang menghubungkan rumah beliau, yang ruang tamunya berada di tikukan sana. pintu yang tak jauh dari kamarnya, hanya berjarak satu kamar kos, dan satu kamar mandi yang paling luas karena di dalam sana menggunakan wc duduk, sedangkan yang lainnya tidak.
Amora masuk ke dalam kamar. Menyalakan lampu dan meletakkan seblak tersebut. Setelah menutup kamar dan menguncinya, ia pun menumpahkan air matanya yang sejak tadi mati-matian ia tahan, agar tak sampai jatuh di depan ibu kos.
Memang, dia memiliki latar keluarga yang hancur sejak ayahnya mengenal Wanita perusak rumah tangga itu. tapi, walau bagaimanapun, dia juga tak ingin mengumbar aib dan kisah sedihnya dari rumah. Kini, dia berada di sini, lingkungan baru, dia juga berharap menemukan kehidupan baru yang jauh lebih baik dan bahagia seperti seblumnya.
“Sudahlah, Amora! Jangan nagis terus! Kamu buran mandi, gih!” serunya, untuk diri sendiri dengan suara yang terisak. Sejak dulu, Amora memang memiliki kebiasaan berbicara dengan dirinya sendiri, dan itu pun tidak ia ucapkan dalam hati. Tapi, seperti berbicara dengan orang lain. mungkin, orang yang beru pertama kali mengenal Amora, akan menganggap bahwa dirinya memiliki kelainan jiwa. Padahal… ya, bisa saja disebut demikian jiwanya sedang sakit akibat hantaman hidup tak adil yang menerpa dirinya selama beberapa tahun terakhir ini.
Di mulai dari menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya. Melihat sang ayah yang berkianat, sampai kematian sang ibu. Itu pun juga masih belum berakhir. jika saja sudah… tak mungkin dia akan minggat dari rumah seperti ini.
Selesai mandi, Amora mencoba menyalakan ponsel yang dia cas sejak siang tadi, karena telah kehabisan batrei selama di dipejalanan sejak kemarin lusa.
Banyak chat dan panggilan tak terjawab yang masuk. Tapi, semua itu berasal dari teman dan sahabatnya saja. berharap sang ayah menghubungi dirinya, karena bagaimana pun, dia adalah anak semata wayang dan juga perempuan. Apakah tidak merasa khawatir setelah tiga hari lamanya dirinya tak pulang dan tak memberinya kabar sama sekali?
Ternyata, hasilnya…. Amora harus kecewa. Bahkan, Gio sang pacar juga tak ada chat dirinya sama sekali. Dalam keadaan seperti ini, ia sadar, hanya ada Rista saja, sahabat yang paling setia dengan dirinya. Bahkan, kemarin saat mengetahui bahwa dirinya pergi ke ibukota langsung mentransfer sejumblah uang yang tidak bisa disebut sedikit. Hanya saja, uang sejuta, jika untuk hidup di ibukota yang terkenal serba mahal, dan kencingpun bayar… ya, setidaknya bisa lah membantu untuk bertahan hidup. Daripada sama sekali. Bahkan, Tuhan sepertinya juga telah banyak membantu dirinya dengan mendapatkan kamar kos yang sangat murah, dengan fasilitas dan tempat yang indah. Amora berani bertaruh, di tempat lain pasti harganya busa mencapai satu juta setengah perbulannya. Karena, tadi di tempat-tempat yang terbilang kumuh ia datangi harganya juga sekitar tujuh hingga sembilan ratus. Tempat juga sangat tak layak.
***
“Mas, kamu mau ngapain buka kontak chatnya Amora? Kamu mau chat dia, dan menanyakan keberadaannya?” tanya Rola yang tiba-tiba saja berdiri di belakang pak Hardi yang tengah duduk sambil menscroll chatingan bersama putrinya dulu.
“Ini sudah tiga hari dia tidak pulang, Sayang. Bagaimana pun juga, aku ini adalah orangtuanya, jika sampai terjadi apa-apa dengannya di luar… tetap aku yang akan bertanggungjawab,” jawab Hardi dengan lesu. Tak dipungkiri, naluri sebagai ayah, kini telah mulai muncul rasa bersalah dan menyesal. Ingin chat putrinya juga tak berani karena semua akun media sosialnya telah disadap oleh istri barunya ini. Jadi, karena tak ingin ribut dan bertengkar, ia harus menahan rasa kangen dan ingin tahu kabar serta keberadaan anaknya.
Rola memutar kedua bola matanya sambil melipat tangan di depan dada, sebagai ekspresi kekesalan dan juga kejengkelan dirinya terhadap sang suami yang tak juga mau mengerti. “Mas! Sudah berapa kali, sih aku katakana sama kamu? Selama kamu terus memanjakan dirinya, dia tak akan mengerti, kau tahu sendiri bagaimana dia mengataiku sebagai wanita jalang dan intip neraka? Bahkan tidak hanya aku yang bilang, bibi dan beberapa warga yang turut menyaksikan juga berkata benar, kan ketika kau tanya?
Buatlah dia yang datang dan memohon padamu untuk diterima kembali di sini, dengan sarat dia harus mau dan bisa menerima serta menghormatiku sebagai ibu tiri.
Atau, kau memang yang sudah pudar rasa cintamu padaku? Sehingga kau abaikan perasaanku yang hancur karena dilawan dan tak dihargai oleh anak tiri, yang kucoba dekati dan akan kunggap seperti putri kandungku sendiri?” tanya Rolla dan mulai bersandiwara dengan iar mata buaya itu.
Melihat Rola menangis, pak Hardi mulai tak tega. Tapi, ia juga masih memiliki sisi kemanusiaan. Bagaimanapun, hubungan antara suami dan istri masih ada sertifikatnya dan bisa bercerai. Sementara dia dengan Amora, sejauh mana pun ia coba pergi dan berlari, tak akan dapat memutuskan hubungan darah. Karena, orangtua dan anak itu tak ada sertifikatnya.
“Rolla… kamu mengertilah aku. aku memang berkewajiban mendidik dan memberikan Amora pelajaran. Tapi, juga tidak harus seperti ini. Ya, kalau Amora mau kembali. Dia itu adalah anak yang keras kepala, dan tak sembarangan bertindak. Tapi, sekali bertindak…. “ pak Hardi diam, tak melajutkan kalimatnya.
“Mas, ingatlah dirimu yang datang melamar memintaku kepada kedua orangtuaku. Kau melamarku, di saat statusmu masih suami almarhum mbak Indah, meminta aku yang masih gadis dan prawan. Sekarang, hanya karena anak pembangkang itu, apakah kau akan mematahkan hati dan juga harapanku padamu, Mas?” tanya Rolla dengan tatapan nanar dan penuh dengan air mata.
Hardi pun bangkit memeluk istri keduanya, dan memberi ketenangan agar tak berfikir macam-macam. “Maafkan aku, ya Sayang? Sudahlah, kamu jangan menangis lagi, oke?” bisik Hardi dengan hangat di atas kepala Rolla sambil mendekap erat tubuh wanita yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya.
“Bagaimana aku tidak akan sedih, Mas? Jauh-jauh aku datang ke sini ikut denganmundan meninggalkan orangtua serta kuluargaku berharap pria yang telah aku nikahi bisa memperlakukan aku dengan baik tapi, malah dengan mudahnya berubah hanya karena anaknya yang tak bisa menerimaku. Jika memang kau berat dengan putrimu, cari saja dia Mas. Tapi, maaf. Untuk bersama dengan dirinya, aku tidak bisa. Lebih baik, pulangkan saja aku kepada kedua orangtuaku, sebelum dia datang ke sini. Itu juga akan membuatnya bahagia dan senang, kan?”
“Tidak Rolla. Aku yang telah memilihmu dan ingin menikah denganmu, mana mungkin aku akan kembalikan kamu ke pada kedua orangtuamu? Aku ini lelaki. Baiklah, aku akan diam dan memberi dia pelajaran. Aku akan terus tak menghubungi Amora sampai dia yang datang dan memohon sendiri untuk dapat kuterima kembali ke sini. Karena, bagaimana pun aku ini adalah kepala kaluarga. Aku harus tegas dan adil pada kalian berdua,” ucap Hardi sambil mengelus punggung istrinya yang baru menginjak usia tigapuluh tahun.
“Terimakasih, Mas. Ayah dan ibuku memang tidak salah menilai dirimu. Aku yakin, mereka berdua melepaskan aku untuk hidup bersama denganmu karena mereka tahu bahwa kamu adalah pria terbaik dan memang bisa bersikap adil,” ujar Rolla. Seketia tersenyum sambil mengusap air mata di kedua pipinya.
“Oh, iya Sayang, aku ada janji sama temanku, untuk urusan kerja. Aku keluar dulu, ya?” ucap Hardi setelah dia ingat bahwa dia telah membuat janji dengan seseorang.
“Siapa, Mas? Apakah aku boleh ikut?” tanya Rolla dengan penuh kecurigaan. Tentu saja dia curiga. Karena, ia takut bahwa suaminya akan mencari putrinya dan membawanya kembali. Sebab, tujuan dia menikahi Hardi karena dia adalah pria yang masih terbilang muda, dan kaya raya, sukses dalam usahanya. Ia juga berkeinginan menyingkirkan putrinya agar seluruh harta warisan suaminya kelak bisa menjadi mmiliknya saat suaminya meninggal.
“Katanya, kamu butuh supir pribadi yang bisa antarin kamu untuk pergi ke manapun kamu mau pergi? Ya, ini temanku bawa calon supir. Kamu lebih baik istirahat saja, di rumah, ya? Kamu tak mungkin keluar bersamaku dengan wajah yang masih lebam begitu, kan? Aku takut, nanti orang berfikir bahwa aku KDRT lagi, pada istri,” ucap Hardi dengan mesra dan memegang bawah dagu istrinya.
"Ah, iya Mas... habis, walaupun tetap bersama, dan setiap hari bertemu, aku juga selalu ingin terus denganmu saja, Mas. Setiap hari aku selalu kangen kamu. Apalagi, tiga hari ini kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri, jadi, aku merasa berada jauh darimu saja," ucap Rolla. Mulai mengatakan kalimat manis dan beracunnya untuk menguasai Hardi.
"Aku minta maaf. Nanti, saat pulang dari bertemu dengan temanku itu, aku akan memperlakukan kamu dengan sangat baik untuk menebus kesalhanku tiga hari terakhir ini, oke? Ya sudah, kalau begitu, aku pamit dulu, ya Sayang?"
"Baik, Mas. Hati-hati. Ingat untuk segeralah pulang kalau urusannya selesai," ucap Rolla dengan manja.
"Aku berangkat dulu, Sayang. Kamu jaga diri di rumah, ya?" Hardi mengecup kening istrinya sebelum akhirnya dia pergi.
"Baik, Mas. Hati-hati," jawab Rolla. Mengantar suaminya pergi hingga depan pintu. Begitu mobil telah meninggalkan halaman, Rolla buru-buru mengambil ponselnya dan menelfon seseorang
"Halo, selamat malam, Bu!" sahut suara seorang pria dari seberang sana.
"Cepat, kamu awasi suamiku. Dengan siapa dia keluar, segera laporkan padaku," ucap Rolla dengan nada yang tegas.
"Siap, laksanakan, Bu," jawab pria itu. Juga dengan tegas.
"Aku pergi dulu, ya? Ada perintah dari bos," ucap seorang pria yang baru saja kematian panggilan dari atasannya.
"Kamu masih setia saja sama bos cantikmu itu, San?" tanya rekan yang menemaninya ngopi bareng.
"Ya, mau gak setia bagiamana? Kerja santai, bayaran banyak. Tinggal nunggu waktu saja kelak. Siapa tahu dapat bonus besar, mayan, kan?" jawab Santo. Pria berusia tiga puluh tiga tahun tersebut.
"Hehehe, kau tampang juga cakep. Jadi suaminya pantas, lah daripada pak Hardi. Malah kaya anak gadisnya saja," timpal rekannya. Seolah membumbui, membuat obrolan menjadi semakin panas.
"Hahaha! Aku aminkan saja doa kalian. Sekarang, aku pergi kerja dulu. Sebab, kalau misi gagal, jangankan bonus besar. Kena omel dan terancam dipecat yang ada nanti," jawab Santo. Lalu menyeruput kopi yang sisa setengah gelas dan menghabiskannya.
Di sebuah warkop remang-remang, pak Hardi menemui paman Rista. Sahabat putrinya, guna untuk mencari informasi tentang kabar dan keberadaan sang anak.
Dia tahu, kalau Rolla istrinya pasti akan mengawasi dirinya terus. Serta memasang mata-mata. Jadi, dia juga harus main trik. Karena dia juga tahu bahwa semua akun chatnya juga telah disadap.
"Bagaimana? Apakah ada kabar?" tanya pak Hardi. Demi mengelabui mata-mata istrinya, ia bersikap santai.
Rado, adik dari ibunya Rista adalah orang yang cukup cerdas, bahkan dia juga tahu seluk beluk tentang keluarga Amora. Jadi, hanya dengan bahasa isyarat saja dia juga mengerti.
"Sebentar, saya telfon dulu," ucap pria itu.
"Halo, Rista. Ini Om. Sekarang ini, om sedang bersama dengan ayahnya Amora. Kamu tahu, kabar Amora?" tanya Rado.
"Tidak tahu, ya Om. Chatnya Rista gak dibalas. Bagaimana kabarnya dan di mana dia juga, Rista tidak tahu," jawab gadis itu dari seberang sana.
"Oh, ya sudah, tolong jangan lupa kabari om, jika Amora sudah balas, ya?" ucap Rado. Kemudian mematikan panggilan.
"Apa katanya?" tanya pak Hardi, penuh harap.
"Nihil, Bang. Bahkan chat dari Rista juga tidak dibalas sama Amora," jawab Rado, dengan lesu.
Pak Hardi pun diam. Mungkin, putrinya sudah akan tahu bahwa pasti dirinya akan mencari informasi pada Rista. Karena, ia tahu bahwa Rista adalah sahabatnya dari sejak SMP hingga gadis itu lulus SMA. Jadi, dengan sengaja putrinya tidak membalas pesan dari sahabatnya tersebut.
"Selamat malam. Apakah anda pak Rado dan pak Hardi?" ujar seorang pria berusia empat puluh tahun dengan santun.
"Iya, benar. Anda pak Jupri, kan?" ujar Rado dengan ramah.
"Benar," jawab pria itu.
Lalu, Rado dan Hardi pun mempersilahkan agar pak Jupri untuk duduk.