Bab 1

Floretta sayang,” panggil seorang pria yang usianya setengah baya.

“Ya Dad, ada apa?”

Floretta bertanya sambil terus melangkahkan kakinya ke arah sang ayah yang tadi memanggilnya. Di sebelah tangan Floretta, terdapat camilan kesukaannya.

“Kemari, Daddy ingin bicara.”

Floretta mendudukan tubuhnya di sofa sebelah ayahnya. Kemudian dia menaruh camilan di atas meja.

“Ada apa Dad?”

“Ayo kita ke makam mommy,” ajak Reagan Wedsey yang merupakan ayah kandung Floretta.

Floretta mengangguk dengan semangat. “Ayo Dad, sebentar ya aku akan siap-siap dulu.”

Setelah mendapat anggukan dari sang ayah, Floretta segera berlari menuju tangga dengan semangat yang membara.

“Hati-hati Sayang,” teriak Reagan karena takut putrinya tersandung anak tangga.

Reagan menggeleng melihat kelakuan putri semata wayangnya. Dia mengambil camilan yang dibawa oleh Floretta dan memakannya.

“Emily, tunggu sebentar ya, kami akan datang ke sana,” gumamanya dengan pandangan kosong.

***

“Oke, sudah sampai,” ujar Reagan setelah memarkirkan mobil kesayangan istrinya di parkiran pemakaman elit.

Floretta melihat sekitar. Ada beberapa mobil yang terparkir di sini, tapi tidak ada orang satupun.

Pandangan Floretta terhenti pada ayahnya yang sedang tersenyum sembari mengusap sesuatu di dalam dompetnya.

Floretta memicingkan matanya untuk mengisi rasa penasaran pada apa yang membuat sang ayah tersenyum sembari mengusap-usap sesuatu.

Floretta terdiam kala melihat benda yang diusap oleh sang ayah. Itu adalah foto terakhir sebelum ibunya pergi ke tempat yang indah. Foto itu diambil saat keluarga kecil mereka bermain ke pantai dan Floretta masih berusia 10 tahun.

Floretta mengalihkan pandangannya agar bulir-bulir halus tidak menetes. Dia tidak ingin memperlihatkan air mata saat akan mengunjungi ibunya.

“Dad, ayo. Mommy pasti sudah menunggu,” ajak Floretta agar sang ayah tidak terlarut dalam kenangan masa lalu.

“Ah ya, ayo.”

Reagan seperti orang gelagapan. Setelah putrinya mengajak untuk segera masuk, dia langsung memasukkan foto itu ke dalam dompet dan keluar dari mobil bersamaan dengan Floretta.

Keduanya berjalan beriringan di jalan yang lumayan besar dan diapit oleh deretan makam.

Floretta menghela napas lega saat melihat beberap orang sedang berziarah. Jujur, dia lumayan takut saat berjalan menuju makam ibunya. Tapi setelah berziarah, dia merasa lebih lega dan tiba-tiba saja rasa takut itu hilang.

Floretta tersenyum dan duduk di tanah. Dia mengusap-usap batu nisan dengan sayang.

“Mom, Flo datang. Maaf ya Mom, Flo akhir-akhir ini jarang mengunjungi Mommy. Tapi Flo janji, Flo akan rajin mengunjungi Mommy dan curhat ke Mommy. Mommy yang tenang ya di sana. Tunggu Flo dan daddy ya. Supaya kita bisa bersama lagi.”

Floretta mengusap bulir bening yang meluncur bebas. Dia menoleh pada ayahnya yang sedang mengusap-usap nisan sambil menatap gundukan tanah yang telah ditutupi rumput.

Reagan menebarkan bunga di atas makam istrinya. Begitupula dengan Floretta. Setelah menebar bunga, Floretta menyiraminya dengan air wewangian.

Floretta menatap ke langit. Tidak ada lagi awan mendung yang menghias langit. Kini langit sedang menunjukkan keceriaannya.

“Flo sudah?”

Floretta mengangguk.

“Ayo pulang,” ajak Reagan setelah melihat ke pergelangan tangannya.

Floretta yang paham kalau ayahnya habis ini masih ada kegiatan pun memilih untuk mengiyakan. Padahal dia ingin berlama-lama di sini dan menceritakan apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini pada ibunya.

“Ya, Dad.”

Floretta menatap makam ibunya dan berucap. “Mom, Flo pulang dulu ya. Nanti Flo datang ke sini lagi. Istirahat yang tenang ya Mom.”

“Sayang, aku pergi dulu ya. Lusa aku akan ke sini lagi. Sampai ketemu lusa, Sayang,” ujar Reagan sembari memberi kecupan di nisan sang istri.

Floretta pun memberikan kecupan pada nisan ibunya dan memeluknya sebentar.

“Goodbye Mom, aku pergi dulu,” ucapnya dengan pelan.

Reagan berdiri dan diikuti oleh Floretta. Keduanya kembali berjalan beriringan menuju pintu keluar.

Saat mereka hampir keluar dari gerbang tiba-tiba saja ada yang memanggil nama Reagan.

“Tuan Wedsey.”

Reagan tersenyum pada pemuda yang menyapanya.

“Selamat siang Tuan Wedsey dan Nona Floretta,” sapanya lagi.

“Siang,” balas Floretta setelah tahu kalau pria itu adalah orang yang lumayan dekat dengan ayahnya.

“Biar Saya tebak, pasti kalian habis mengunjungi makam nyonya Emily,” tebak pria itu sebagai basa-basi.

Sebenarnya itu bukan basa-basi, memang orangnya seperti itu.

“Ya, apakah kau juga ingin mengunjungi makam istrimu?”

“Tentu Tuan Wedsey, sudah sebulan Saya tidak mengunjunginya.”

Reagan manggut-manggut.

“Kalau begitu Saya ke sana dulu ya Tuan, Nona. Semoga harimu baik dan selalu dalam lindungan Tuhan,” ucap pria itu.

Reagan mengangguk dan mengucapkan hal yang sama pada pria itu.

Reagan dan Floretta kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.

“Dad, apakah Daddy sibuk?” tanya Floretta setelah mobil yang dikendarai Reagan keluar dari area pemakaman.

Reagan menoleh pada sang putri. “Ada apa hm?”

Bukannya menjawab, Reagan malah balik bertanya.

Reagan sengaja seperti itu karena ingin tahu apa yang diinginkan oleh putrinya. Kalau dia sanggup memenuhinya, maka urusannya akan dia kesampingkan dan mengutamakan putri semata wayangnya.

Floretta menggeleng. “Tidak, aku hanya bertanya saja, Dad.”

Reagan tahu kalau Floretta sedang berbohong padanya. Dia pun tahu kalau Floretta ingin mengajaknya ke suatu tempat.

“Katakan saja, Sayang. Kalau memungkinkan Daddy akan meluangkan waktu Daddy untukmu.”

“Aku ingin makan siang dengan Daddy,” ungkap Floretta tanpa menatap ayahnya.

Reagan terkekeh. “Baiklah. Kita akan makan bersama siang ini. Apakah kamu punya rekomendasi restoran, Flo?”

“Ada! Aku yakin Daddy pasti menyukai makanannya. Oiya, lagipula restorannya tidak terlalu jauh dari kantor Daddy,” ucap Floretta dengan semangat.

Reagan melirik putrinya. Dia mengangkat kedua sudut bibirnya. Lagi-lagi sikap dan perilaku Floretta mengingatkannya pada Emily, mendiang istrinya.

“Sudah cukup lama Emily pergi, tapi rasanya aku belum benar-benar bisa mengikhlaskan kepergiannya,” batin Reagan.

Setiap hari, ada saja sikap Floretta yang sangat mirip dengan Emily. Hal itu menjadi salah satu penyebab dia merindukan kehadiran istrinya. Mau menampik tapi tidak bisa. Wajah Floretta adalah versi wajah Emily saat muda.

“Dad, alamatnya ada di jalan Emerlad 3A,” ucap Floretta membuat Reagan tersadar.

“Oke, kita dalam perjalanan.”

***

Floretta menaruh tisu yang sudah terpakai. Dia menatap sang ayah yang sedang menikmati minumannya.

“Bagaimana Dad? Tidak salah ‘kan pilihanku,” ucap Floretta memuji dirinya sendiri.

Reagan terkekeh. “Ya, ya, pilihanmu tidak pernah salah, Flo.”

Floretta semakin tersenyum bangga saat ayahnya mengiyakan ucapannya tadi.

“Habis ini Daddy ada rapat?”

Reagan mengangguk. “Daddy ada rapat dengan perusahaan Giolevs dan rapat internal saja. Ada apa Flo? Ada sesuatu yang kamu inginkan hm?”

Floretta menggeleng. “Tidak Dad. Apa Daddy tidak lelah menjalani semuanya di usia Daddy yang sekarang?”

“Kamu pikir Daddy sudah tua, hah?” tanya balik Reagan sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Menurutku ya. Ayahnya Bruno sudah mengambil pensiun, Dad.”

“Oh, pantas saja pertemuan dua hari lalu yang datang hanya Bruno,” gumam Reagan yang masih bisa di dengar oleh Floretta.

Floretta menaikkan kedua alisnya. Dia sedikit tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh ayahnya. Bagaimana bisa seorang Bruno yang dulu kerjaannya hanya bermalas-malasan memimpin sebuah perusahaan?

Bukannya Floretta meragukan kemampuan Bruno. Hanya saja hal ini sedikit sulit untuk dicerna.

“Mungkin hanya pensiun seminggu,” celetuk Reagan.

Floretta mengangguk setuju. “Bisa jadi. Mungkin juga ayahnya Bruno sedang berlibur ke luar negeri.”

“Dad, aku ingin ke kantor,” ucap Floretta.

Reagan menatap tidak percaya pada sang putri. Biasanya putrinya sangat anti dengan yang namanya urusan kantor. Tapi dibalik rasa kagetnya, dia merasa senang, akhirnya Floretta ingin datang ke kantor.

“K-kamu yakin Flo?” tanyanya terbata karena saking kagetnya.

Floretta mengangguk mantap. “Ya Dad, sudah lama aku tidak ke kantor. Rasanya aku merindukan suasana kantor,” terang Floretta.

Reagan mengangguk. “Oke, setelah ini Daddy akan ke kantor dan kamu ikut bersama Daddy. Perlu membeli sesuatu?”

Floretta menggeleng. Ayahnya masih saja sama seperti dulu.

“Tidak perlu Dad. Kalau nanti saat di kantor tiba-tiba aku pengen makan sesuatu, aku akan membelinya.”

Reagan mengangguk. Dia melirik pada jam yang ada di layar ponselnya.

“Ayo ke kantor sekarang, rapatnya akan dimulai 15 menit lagi.”

***

Floretta menatap sekeliling. Saat ini dia berada di dalam ruangan ayahnya. Sedangkan sang ayah langsung pergi ke ruang rapat setelah tiba di gedung ini.

“Masih sama,” gumam Floretta sembari terus menatap sekeliling.

Furniture, warna cat dinding, dan sofa masih sama seperti terkahir kali Floretta datang kemari. Sekitar dua tahun yang lalu.

Pandangan perempuan bermanik coklat terang itu tertuju pada figura besar yang berada di sebelah kanan tubuhnya.

Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.

Figura itu masih ada di sana. Foto keluarga yang diambil 11 tahun lalu, masih menempel kokoh di situ.

“11 tahun lalu atau 12 tahun yang lalu ya. Astaga aku melupakannya,” gumam Floretta sembari mengingat-ingat kapan foto itu diambil.

Floretta melangkah menuju meja kerja sang ayah dengan kursi kebesarannya yang gagah dan elegan.

Lagi dan lagi, pandangan Floretta terkunci. Pandangannya terkunci pada tiga figura kecil yang ada di atas meja.

Foto keluarga, foto pernikahan orangtuanya, dan kolase foto saat dirinya digendong ayah dan ibunya.

‘My lovely daughter right now and forever’

Floretta terharu dengan tulisan singkat itu.

“Daddy,” rengeknya sambil mengusap sudut mata yang berair.

Reagan adalah tipe pria yang sangat menyayangi keluarganya. Meskipun masa kecilnya yang didik keras oleh sang ayah tidak membuatnya untuk melakukan hal demikian dalam pola didik. Dia ingin sang anak merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya tanpa ada paksaan, kekerasan, dan jarak diantara dirinya dan sang anak.

Floretta mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memotret ketiga figura yang saling berdekatan itu. Dia meninggalkan area meja dan kursi kebesaran sang ayah.

Langkah kakinya membawa Floretta pada sofa di ruangan itu. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang sangat nyaman itu.

Floretta memainkan ponselnya untuk mengusir rasa ngantuk yang tiba-tiba saja datang agar saat ayahnya masuk ke ruangan ini tidak melihat dirinya tertidur pulas di sofa.

Setelah hampir dua jam lamanya dia bermain ponsel, Floretta ingin pergi keluar untuk melihat-lihat apa saja yang menarik di sekitar kantor ayahnya.

Tanpa banyak pertimbangan, dia langsung pergi keluar ruangan ayahnya dengan hanya membawa ponsel saja.

Terik matahari yang lumayan menyengat langsung menyapa kulit Floretta. Floretta berada di trotoar yang hanya berjarak belasan meter dari gedung kantor ayahnya.

Kendaraan roda empat berlalu lalang di sebelahnya. Suara klakson mobil pun tidak bisa dihindari karena siang ini jalanan yang padat kendaraan. Lokasi gedung kantor ayahnya berada di area khusus bisnis, yang mana area ini akan selalu sibuk dan orang-orang akan saling mengejar waktu.

Floretta terus melangkah sampai ke perempatan jalan. Dia bergabung dengan beberapa pejalan kaki yang sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki.

Lampu hijau khusus pejalan kaki menyala. Kini gantian mereka yang memakai jalan setelah kendaraan-kendaraan itu.

Floretta melangkah menuju taman kecil yang ada di area ini. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat dia menangkap tubuh seseorang yang sangat dia kenali.

Merasa sedang ditatap, seseorang yang dilihat oleh Floretta menatap balik pada sang empu.

“Bukankah itu Flo,” gumamnya.

Seseorang itu mengerutkan kening dan melangkah menuju Floretta.

“Oh astaga, kenapa aku harus bertemu dengannya! Merusak hariku saja!” batin Floretta dengan kesal.

Pasalnya saat ini dia hanya ingin menikmati siang yang cerah dengan hembusan angin sejuk ini dengan tenang. Tanpa ada gangguan dari luar. Termasuk seseorang yang sedang melangkah menuju dirinya. Dia salah satu dari perusak suasana hati seorang Floretta.

Angin sejuk membuat rambut brunette seseorang itu menari yang membuatnya terlihat sangat cantik. Tapi tidak dengan Floretta yang rasa kesal masih saja menyelimutinya setelah beberapa tahun.

Tanpa disadari seseorang itu sudah ada di depannya dan menyapa Floretta dengan ramah.

“Halo Floretta, apa kabar? Lama tidak melihatmu,” sapa wanita itu dengan senyuman.

Bab 2

Floretta memasang wajah datar untuk membalas sapaan hangat dari perempuan itu.

“Tidak usah sok baik padaku,” desis Floretta masih dengan wajah datarnya.

Perempuan itu memasang wajah kaget dan merespon desisan Floretta dengan lebay menurup Floretta.

“Ya ampun, ternyata seorang Floretta Wedsey pendendam ya,” ucapnya.

Floretta memutar bola mata malas. Dia bersedekap dada sembari menatap malas pada lawan bicaranya.

“Ada hal yang perlu kau sampaikan lagi? Kalau tidak aku akan pergi,” ujar Floretta.

Floretta ingin secepatnya pergi dari sini. Dia sangat malas meladeni perempuan seperti lawan bicaranya itu. Terlalu banyak drama!

“Apa kau sesibuk itu Flo? Tap—ups aku baru ingat kalau kau pengangguran. Pasti kau memiliki banyak waktu luang kan?”

Floretta tidak merespon satupun ocehan lawan bicaranya. Dia membiarkan lawan bicaranya puas dengan ocehannya.

“Dasar anak daddy. Sampai usia sekarang pun tidak ingin bekerja. Cih, pemalas, manja, anak durhaka.” lanjut perempuan itu.

Floretta menatap tajam pada lawan bicaranya. Terlihat wajah senang dari sang lawan bicara saat emosinya mulai naik.

“Sabar Flo. Kalau kau tidak bisa menahan emosi maka dia akan semkain senang,” batin Floretta.

“Flo yang sekarang masih sama seperti Flo yang dulu ya,” celetuk perempuan itu agar emosi Floretta semakin naik.

Floretta tetap diam dan kembali menatap datar pada lawan bicaranya.

“Oh ya, apa kau tahu kabar Matthew?”

Matthew. Nama itu kembali terlintas dalam pikirannya. Matthew adalah mantan kekasihnya yang direbut oleh mantan sahabatnya. Sahabat makan sahabat.

Floretta menaikkan sebelah alisnya. “Percuma kau menjelaskan tentang Matthew, karena aku tidak akan mendengarnya.”

“Oh ya? Tapi maaf nona Wedsey aku tidak akan percaya pada ucapanmu. Pasti saat di rumah nanti, kau akan menangis meraung-raung ketika mengingat Matthew dan aku. Iya kan?”

Floretta menghela napas. Dia harus segera pergi dari sini. Bukan untuk menghindari topik pembicaraan itu. Melainkan ingin segera tiba ke taman dan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di sana, dengan catatan kalau ada.

“Buat apa aku membuang-buang waktu untuk menangisi kalian yang sangat tidak penting, lagipula aku tidak akan membuang waktuku untuk menangisi sebutir debu yang tidak bermanfaat,” balas Floretta kemudian berjalan meninggalkan perempuan itu.

Perempuan itu menganga dengan balasan Floretta. Pandangannya terus tertuju pada tubuh Floretta yang semakin menjauh.

“Lihat saja, akan aku balas. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia sedetikpun, Floretta Wedsey,” ucap perempuan itu dengan kilatan dendam.

“Floretta Wedsey, kau terlalu meremehkan Denaya. Matthew mantan kekasihmu saja bisa aku rebut, apalagi kebahagiaan yang sekarang sedang kau rasakan.”

***

Floretta menutup kedua matanya untuk menikmati semilir angin yang menyejukkan jiwa. Suara daun jatuh terdengar samar. Suara anak kecil yang tengah bermain pun juga terdengar, meski tidak terlalu jelas.

Floretta membuka kedua mata. Kembali melihat suasana fresh karena banyaknya pohon, rumput, dan tanaman yang dominan berwarna hijau.

Suasana siang ini lumayan sepi. Hanya ada beberapa anak-anak yang sedang bermain dan beberap orang yang sedang menikmati suasana di taman ini.

“Kenapa aku harus bertemu Denaya lagi?” gumamnya dengan pandangan lurus.

Helaan napas keluar dari mulutnya. “Denaya dan Matthew. Lagi-lagi mereka harus masuk lagi ke dalam list orang yang harus aku hindari.”

Dulu Floretta dan Denaya bersahabat. Keduanya bagaikan bunga dan lebah yang tidak bisa terpisahkan. Bahkan usia persahabatan keduanya memasuki yahun keempat.

Persahabatan keduanya terjalin sangat baik, sampai datang seorang pria bernama Matthew. Matthew adalah kekasih Floretta. Karena Floretta memiliki kekasih, Denaya merasa iri karena sahabatnya selalu mendapatkan apapun yang diinginkan. Mendapatkan kasih sayang seorang ayah, keluarga yang hangat, memiliki kekasih yang menyayanginya, dan apa yang diinginkannya langsung dibelikan oleh sang ayah.

Denaya tidak pernah merasakan hal itu. Karena dia saja tidak tahu dimana ayahnya. Setiap kali dia bertanya pada ibunya, ibunya selalu diam dan selalu mengalihkan topik pembicaraan. Selain itu juga, dia selalu gagal dalam hal percintaan. Setiap kali dia menyukai murid laki-laki, pasti bertepuk sebelah tangan. Tetapi jika Floretta, semua murid laki-laki langsung memujinya dan menyukainya.

Denaya ingin mencari ayahnya, tapi tidak bisa. Harapan satu-satunya hanya nama keluarganya yang ada di nama belakangnya. Tapi sayang, nama belakangnya adalah nama keluarga ibunya. Denaya Agustien.

Denaya mulai mendekati Matthew dan merebut hatinya. Hingga akhirnya keduanya menjalani hubungan diam-diam dibelakang Floretta. Entah kenapa saat itu Matthew mau bersamanya.

“Hallo Matthew, ini aku Denaya.”

“…”

“Bisakah sore ini kita bertemu? Ada hal yang ingin aku sampaikan.”

“…”

“Hanya ngobrol-ngobrol saja.”

“…”

“Ya, tidak sampai malam. Aku tahu kesibukanmu, Math.”

“…”

“Oke, aku tunggu di kafe Glosery jam 4 sore. See you, Math.”

“…”

Bip

Denaya tersenyum smirk.

“Floretta Wedesy, tunggu pembalasanku.”

***

“Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik,” ucap rekan kerja Reagan sembari menjabat tangan pemilik kantor ini.

Reagan mengangguk dengan senyum menawannya. “Saya pun berharap demikian.”

“Tuan Wedesy, apakah setelah ini Anda sibuk?”

Reagan terdiam sejenak. Kalau ditanya sibuk, dia pasti sibuk. Apalagi ada putrinya yang sedang menunggu di ruangannya. Sudah 3,5 jam dia meninggalkan putrinya di dalam sana.

Ya, Reagan belum tahu kalau Floretta tidak ada di ruangannya. Kalau Reagan tahu putrinya tidak ada di sana, maka senam jantung akan menemaninya.

“Kalau boleh tahu ada apa, Tuan Raghfo?” tanya balik Reagan ingin memastikan sesuatu.

“Ada hal yang ingin Saya bicarakan. Ya sedikit berhubungan dengan urusan kerjasama kali ini. Apakah Tuan Wedsey bisa datang?”

“Ini tidak bersifat formal, Tuan. Karena rencana Saya ingin membahas ini di luar kantor,” sambung tuan Raghfo.

Reagan berpikir sejenak. Tidak ada salahnya dia mengiyakan karena semakin cepat mereka membahas, semakin cepat pula projek itu dimulai.

Reagan mengangguk. “Bisa, Tuan Raghfo."

“Apakah bisa sekarang?”

Reagan hanya mengangguk.

“Baik, alamatnya akan dikirim oleh sekretaris Saya ke sekretaris anda. Sampai bertemu di sana, Tuan Wedsey,” ucap tuan Raghfo sembari menjabat tangan Reagan.

Reagan melanjutkan langkahnya setelah tuan Raghfo berjalan menuju lift khusus tamu kantor. Reagan hanya perlu menaiki lift dua lantai ke atas untuk tiba di lantai ruangannya. Lift yang digunakannya pun beda dengan lift yang digunakan oleh karyawan dan lift khusus tamu kantor.

Reagan hendak menekan handle pintu ruangannya, tapi getaran dari dalam kantong celananya membuatnya mengurungkan niat untuk menekan handle pintu itu.

“Ya, baik-baik, Saya akan segera ke sana. Ini Saya sedang dalam perjalanan.”

Reagan segera melangkah lebar menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Ada urusan mendadak yang sang penting hingga dia mengurungkan niatnya untuk mengecek keadaan sang putri. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Floretta sedang tertidur pulas di runagan pribadinya yang terdapat kasur.

***

Hoam

Floretta menutup mulutnya yang refleks menguap. Dia menatap sekitar dengan linglung. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena ketiduran dengan posisi duduk.

Floretta melihat smart watch untuk melihat jam berapa sekarang. Jam 4.50 sore.

Floretta melotot saat melihat angkat yang tertera di layar smart watch-nya.

“Astaga, aku ketiduran 2 jam. Aku harus cepat-cepat kembali ke kantor agar daddy tidak khawatir,” ucap Floretta.

Dengan cepat, dia meninggalkan bangku taman dan berjalan menuju kantor sang ayah. Waktu yang harus dia tempuh untuk mengikis jarak sekitar 5 menit.

Ingin memesan taksi online, tapi tidak memungkinkan. Karena jalanan yang padat membuat mobil taksi kesulitan untuk bergerak di tengah padatnya kendaraan. Pasti menunggu sopir taksi datang akan memakan waktu yang cukup lama. Lagipula berjalan 5 menit dan berdesakan dengan lautan manusia yang pulang bekerja, tidak masalah. Yang terpenting baginya adalah cepat sampai di kantor ayahnya.

Floretta menatap penuh keyakinan kalau dia bisa menerobos kerumunan orang yang ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Floretta menghela napas lega saat tiba di depan pintu lobby kantor ayahnya.

“Akhirnya sampai juga,” ucapnya dengan lega setelah tadi melewati banyak orang di trotoar untuk bisa sampai ke sini dengan cepat.

Saat hendak masuk, seseorang memanggil namanya dan dengan refleks dia menatap orang yang sudah memanggil namanya.

“Nona Wedsey ingin menemui tuan Wedsey?” tanya seorang satpam yang sering jaga saat malam.

“Ya tuan, ada apa?”

Sang satpam tersenyum malu-malu. “Ah jangan panggil Saya tuan, Saya ‘kan hanya seorang satpam dan nona adalah putri dari orang yang menggaji saja. Rasanya tidak pantas Nona memanggil Saya dengan embel-embel tuan.”

Floretta balas tersenyum setelah mendengar penjelasan dari sang satpam. “Tidak akan menjadi masalah, tuan. Kalau Saya memanggil tuan hanya dengan nama saja, itu artinya saya tidak memiliki sopan santun.”

“Tap-”

“Tidak perlu memperpanjang hal itu lagi, tuan. Oh iya, ada apa memanggil Saya?”

“Astaga, Saya sampai lupa mengatakannya.”

Floretta diam dan menunggu sang satpam mengatakan tujuan dari memanggil namanya.

“Apakah Nona ingin ke ruangan tuan Reagan?” Floretta mengangguk sebagai jawaban.

“Saya ingin memberitahu kalau tuan Reagan belum kembali ke kantor sejak tadi,” terang sang satpam karena tadi jam 3 siang, dia melihat sang bos keluar kantor dengan terburu-buru.

“Kira-kira daddy kemana ya,” gumam Floretta.

“Saya kurang tahu, sepertinya urusan pekerjaan, Nona,” sahut sang satpam yang mendengar gumaman Floretta.

Floretta mengangguk.

Floretta mengucapkan terima kasih pada sang satpam yang sudah mengatakan hal ini padanya. Kalau saja sang satpam tidak mengatakannya, maka dia akan kelelahan karena berjalan ke ruangan sang ayah.

“Nona, Saya pamit undur diri karena ada beberapa pekerjaan yang harus Saya lakukan,” ucao sang satpam.

“Baik, semangat Paman,” ujar Floretta dengan tersenyum.

Sang satpam mengangguk dan berjalan masuk ke dalan kantor.

Floretta membuka ponselnya dan ada chat dari sang ayah.

‘Flo sayang, daddy pergi keluar dulu ya karena ada sedikit masalah di lapangan’

Chat pertama dikirim sekitar jam 3.29

Sedangkan masih ada satu chat lagi yang dikirim 25 menit kemudian.

‘Flo, daddy belum bisa ke kantor karena langsung menemui pertemuan dengan rekan bisnis daddy, tidak apa ‘kan daddy tinggal lebih lama?’

Floretta mengetikkan balasan chat untuk sang ayah. Setelah chat itu terkirim, Floretta memesan taksi online. Beruntung jalanan di depan kantor ayahnya tidak sepadat jalanan yang ada di dekat perempatan

Sembari menunggu taksi online-nya tiba, Floretta ingin menghubungi ayahnya. Tapi dia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu ayahnya. Apalagi tadi ayahnya mengatakan kalau ingin menemui rekan bisnis. Sudah pasti tidak bisa diganggu.

Floretta mendapat notifikasi live dari Denaya. Dia mendengus melihat notifikasi itu.

“Sial, aku lupa memblokir akunnya,” maki Floretta.

Saat ingin menghapus notifikasi itu, tanpa disengaja dia malah masuk ke dalam live Denaya.

Floretta mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria yang ada di layar ponselnya. Pria itu adalah ….

“Math?” tebak Floretta dengan ragu.

Floretta mengamati lagi pria itu. Dia sedikit tidak yakin kalau pria itu adalah Matthew. Mungkin karena sedikit perubahan pada Matthew membuatnya ragu apakah itu benar Matthew atau orang lain yang mirip dengannya.

“Math.”

Floretta mengangguk. Ternyata benar. Pria itu adalah Matthew.

“Oh coba lihat, Floretta melihat kita.”

“Hai, Flo,” sapa Denaya disusul dengan emoticon melambai.

Floretta melotot. Astaga dia lupa kalau masih berada di live orang yang sangat dia hindari hanya karena ingin memastikan pria itu benar Matthew atau bukan.

Tanpa membalas sapaan Denaya, Floretta langsung keluar dari live wanita itu.

Tin

Suara klakson mobil membuat Floretta mendongak.

“Ah ternyata sudah sampai,” ucapnya kemudian menghampiri mobil yang merupakan taksi online.

Sang sopir membuka kaca jendela dna memastikan apakah benar dia yang memesan atau bukan.

“Dengan Nona Floretta?”

Floretta mengangguk. “Ya, itu Saya."

Sang sopir balas tersenyum dengan ramah.

“Silakan masuk Nona.”

Floretta mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.

Setelah Floretta duduk nyaman di bangku belakang, sang sopir kembali mengeluarkan suaranya.

“Alamat tujuan sesuai aplikasi ya Nona.”

Floretta mengiyakan.

Sang sopir taksi online segera melajukan mobilnya meninggalkan area kantor yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bab 3

Waktu sudah menunjukkan jam istirahat, sekitar jam 9 malam. Tapi seorang pria yang usianya setengah baya masih rapi dengan pakaian formalnya.

Dia menyeruput kopi yang dipesannya agar tidak mengantuk.

“Oh ya Reagan, apa kau ingat dengan Tommy?” tanya lawan bicara yang merupakan teman semasa kuliah sekaligus rekan bisnisnya.

“Tommy Glir—Glir siapa aku lupa.”

“Tommy yang dulu suka dengan istrimu,” ucap Haaun Raghfo dengan kalimat saktinya agar Reagan ingat kembali dengan Tommy yang sedang mereka bahas.

Raut wajah Reagan langsung berubah setelah ingat dengan Tommy. Tiba-tiba saja wajah menyebalkan Tommy saat mereka masih kuliah muncul kembali. Wajah jelek menurut Reagan saat ingin merebut Emily darinya.

Haaun terkekeh geli karena raut wajah Reagan. Ternyata teman lamanya itu belum bisa melupakan seberapa lancangnya Tommy meminta Emily menjadi kekasihnya. Padahal saat itu, semua orang di seantero kampus sudah tahu kalau Emily adalah kekasih dari anak donatur di kampus mereka.

“Reagan, Reagan, setelah bertahun-tahun kau belum bisa melupakan Tommy itu,” ujar Haaun setelah kekehannya.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya,” sungut Reagan dengan kesal.

“Ya, aku memang tidak pernah merasakan, tapi sebagai sesama lelaki, akupun dapat merasakannya tanpa terjun langsung sebagai pemain utama.”

Reagan memutar bola mata malas.

“Dasar pembual,” maki Reagan di dalam hatinya.

Pandangan Reagan terhenti pada jam tangannya. Sial, dia melupakan putrinya.

Reagan segera meraih ponselnya dan buru-buru menghubungi putrinya tanpa melihat chat yang sudah dikirim beberapa jam yang lalu saat Floretta baru saja tiba di rumah.

“Hallo Dad.”

“Flo, kamu dimana? Apa kamu masih di kantor?”

Terdengar kekehan dari seberang sana yang membuat Reagan mengerutkan dahinya.

“Ada apa Sayang, kenapa kamu malah terkekeh seperti itu? Jangan membuat Daddy panik, Flo. Kamu baik-baik saja ‘kan, Sayang?”

“Dad, aku baik-baik saja. Aku sudah ada di rumah beberapa jam yang lalu. Daddy jangan khawatir. Pasti Daddy tidak membuka chat dariku.”

Reagan mengernyit. Dia baru tahu kalau Floretta mengiriminya chat.

Reagan segera melihat chat dari sang putri. Kemudian terkekeh menertawakan keteledorannya yang tidak membuka chat dari Floretta dan berujung dia panik sendiri.

‘Dad, aku pulang duluan. Aku sudah berada di dalam taksi online’

Send a picture

‘Dad, aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Daddy pulangnya jangan malam-malam ya. Aku ingin makan malam bersama Daddy’

Reagan merasa sangat bersalah pada Floretta karena tidak bisa memenuhi keinginan sederhana putrinya untuk makan malam bersama. Hanya makan malam bersama dirinya tidak bisa memenuhi keinginan putrinya, bagaimana dengan hal yang lebih besar dari ini? Reagan merasa tidak becus menjadi ayah karena tidak bisa mengabulkan keinginan sederhana putrinya.

“Astaga. Flo, maafkan Daddy karena Daddy tidak bisa makan malam bersama,” ucap Reagan dengan rasa bersalah yang masih menyelimuti relung hatinya.

“Ya, Dad. Tidak apa. Daddy sudah makan?”

“Ya. Kamu juga sudah makan ‘kan, Flo?”

Terdengar deheman dari seberang sana.

“Flo, Daddy minta maaf belum bisa makan malam bersama untuk malam ini. Tapi Daddy janji akan makan malam bersama besok. Apakah kamu mau, Sayang?”

“Ya Dad, aku mau!” pekik Floretta dengan bahagia.

Hati Reagan menghangat. Hanya karena hal sekecil ini, putrinya bisa bahagia.

Ya, Floretta adalah tipe orang yang hanya dengan hal-hal kecil bisa bahagia. Tanpa harus memberi barang branded limited edition, tanpa harus mengeluarkan uang sedalam-dalamnya, ya meskipun Reagan sangat mampu untuk itu, tapi Floretta bukan tipe anak yang akan bahagia saat dibelikan barang-barang branded limited edition dan keluaran paling baru.

“Dad, kau akan pulang kapan?”

“Sepertinya seorang putri sedang merindukan rajanya,” canda Reagan agar kembali mendengar tawa Floretta.

“Ahahaha, Daddy bisa saja.”

“Eum, Daddy akan pulang 1 jam lagi. Kamu ingin Daddy belikan apa?”

“Aku hanya ingin Daddy pulang dengan selamat dan memberiku pelukan.”

“Siap laksanakan tuan putri.”

“Daddy lanjutkan lagi dengan rekan bisnis Daddy, aku akan menunggu Daddy.”

“Kau yakin tidak akan ketiduran, Flo?”

“Heem, aku janji tidak akan ketiduran.”

“Kalau sudah mengantuk tidur saja, Flo. Jangan paksakan dirimu untuk menahan kantuk. Jangan lupa kalau kamu sering tidur larut, mata panda akan menghias kantung matamu, Sayang.”

“Daddy!!!”

“Ahahaha, Daddy hanya bercanda, Flo Sayang. Daddy tutup teleponnya ya, Daddy akan segera pulang. Good night, my daughter.”

“Night, Dad.”

Tit

Reagan menaruh ponselnya di atas meja. Senyuman masih menghias wajah lelahnya.

Haaun mendelik melihat wajah tersenyum dari lawan bicaranya.

“Putrimu?”

Reagan mengangguk. “Tidak ada hal yang bisa membuatku bahagia selain mendengar nada bicaranya yang bahagia.”

Haaun mengerutkan dahinya. Dia tidak paham apa yang diucapkan oleh teman semasa kampusnya itu.

“Makanya nikah,” celetuk Reagan.

Haaun mengedikkan bahunya. Ya, sampai saat ini dia belum menikah. Sudah banyak temannya dari semasa sekolah, kuliah, rekan bisnis mengingatkannya untuk segera menikah sejak dia muda dulu. Tapi dia merasa dirinya tidak perlu menikah. Toh dia sudah memiliki semuanya. Harta, tahta, dan wanita. Semuanya sudah ada di dalam genggamannya.

“Untuk apa menikah kalau aku sudah memiliki semuanya. Apalagi wanita. Banyak wanita di luaran sana yang menunggu giliran untuk memenuhi keinginanku,” balas Haaun dengan sombong.

“Semuanya akan berbeda setelah kau menikah, Haaun. Mungkin kau bisa melakukan hubungan sebelum menikah, tapi setelah menikah kau akan tahu apa perbedaannya. Lagipula menikah juga bisa meringankan bebanmu agar kau tidak cepat tua seperti kakek-kakek,” ucap Reagan sembari bercanda di akhir kalimatnya.

“Tidak ada kata cinta. Semua wanita sama saja,” ujar Haaun kemudian meminum minumannya.

“Itu karena selama ini kau tidak mencari wanita yang benar-benar mencintaimu apa adanya, bukan ada apanya. Lagipula tidak semua wanita sama seperti mantan pertamamu.”

Haaun menatap tajam ke arah Reagan karena menyebut kata mantan pertama.

“Jangan bahas dia,” desis Haaun.

Reagan terkekeh.

“Oh iya aku sampai lupa ingin mengatakan ini. Tommy yang aku maksud tadi sedang berada di rumah sakit. Katanya dia ingin bertemu denganmu—”

“BIG NO! aku tidak akan menemui bajingan sepertinya,” tolaknya tanpa membiarkan Haaun menyelesaikan ucapannya.

“Dengarkan dulu Bro.”

“Tidak! Aku tidak akan mendengar apapun tentangnya.” potong Reagan.

“Reagan, kau harus mendengarkan ini, karena hidup Tommy tidak lama lagi. Dia sakit dan ingin meminta maaf padamu,” terang Haaun dengan cepat.

“Tommy atlet baseball itu? Dia benar-benar sakit? Sepertinya sakitnya parah.”

Haaun mengangguk. “Kata dokter hidupnya tidak akan lama lagi dan harapannya sebelum dia meninggal, dia ingin meminta maaf padamu karena perilakunya di masa lalu.”

Reagan tertegun karena keterangan dari Haaun tentang Tommy. Rasanya sulit dipercaya kalau seorang atlet baseball semasa kuliah yang sangat menjaga pola makan dan rajin olahraga, menderita sakit keras.

Seingatnya dulu Tommy adalah salah satunya pemuda yang digemari perempuan-perempuan di kampus. Sampai-sampai loker pria itu penuh dengan kado-kado dari perempuan di kampus. Tommy juga selalu menjaga pola makan dan rajin berolahraga yang membuat tubuhnya sangat sempurna untuk seukuran mahasiswa. Eits, tubuh Reagan jelas sangat lebih sempurna daripada milik Tommy.

“Apakah kau mau menjenguknya?” tanya Haaun dengan menaruh harapan yang sangat besar.

Reagan mengangguk sebagai jawaban.

***

Brukk

“Akh!”

Reagan segera mengulurkan tangannya untuk membantu seorang wanita yang terduduk di aspal parkiran restoran.

“Kau baik-baik saja?” tanya Reagan dan membuat wanita di hadapannya terdiam seperti patung.

“Bukannya merespon malah diam seperti patung pancuran,” batin Reagan.

Reagan mengernyitkan dahi setelah melihat perempuan dihadapannya. Dia … seumuran Floretta.

“Nona,” panggil Reagan sambil menggerakkan tangannya di depan wajah wanita itu.

Wanita itu mengerjap. “Eh, em, ya, ada apa, Tuan?”

“Kau baik-baik saja?” tanya Reagan sekali lagi.

“Ehem, aku baik-baik saja.”

Reagan mengangguk.

Reagan mengamati lagi wajah wanita di hadapannya. Dia merasa tidak asing dengan wajah wanita itu dan warna bola mata wanita di hadapannya mengingatkan pada seseorang di masa lalu.

Reagan berusaha mengingat-ingat lagi kapan dia melihat wajah ini. Namun apa yang ditangkap oleh wanita itu berbeda. Dia malah tersenyum malu-malu karena pria dihadapannya terus menatapnya tanpa mengedipkan matanya.

“Tuan, Tuan,” panggil wanita itu.

Reagan mengerjap. “Ya.”

“Ada apa? Kenapa Tuan menatapku sebegitu lekatnya?”

“Wajahmu mengingatkanku pada seseorang, tapi aku lupa.”

Wanita itu menghela napas. Dia pikir pria berusia setengah patuh baya itu menatapnya lekat karena tertarik. Eh ternyata karena hal itu.

“Namaku Denaya Agustien, Tuan,” ucap wanita itu memperkenalkan diri.

Ya wanita yang tanpa sengaja ditabrak oleh Reagan adalah Denaya, musuh bebuyutan Floretta.

Denaya tidak tahu kalau pria dihadapannya adalah ayah dari mantan sahabatnya. Dia malah menatap kagum pada Reagan. Baginya, Reagan sudah seperti sugar daddy dan dia sebagai sugar baby.

Kalaupun hal itu benar-benar terjadi, tdiak masalah. Dia malah merasa sangat senang karena bisa mendapatkan sugar daddy seperti pria ini. Dilihat dari penampilannya saja sudah terlihat kalau pria ini sangat-sangat kaya.

“Agustien?” batin Reagan bertanya-tanya.

Lagi-lagi dia merasa tidak asing dengan nama belakang wanit itu. Tadi wajahnya, sekarang nama belakangnya. Pusing deh.

“Denaya Agustien. Agustien. Ber—Bertha Agustien?”

“Apakah dia anak Bertha?” batin Reagan semakin bertanya-tanya setelah tahu nama belakang keduanya sama.

Reagan terdiam sesaat. Dia kembali mencari kesamaan antara wanita ini dan Bertha, teman semasa sekolah menangah atas dan sahabat istrinya.

“Apakah kau kenal dengan Bertha Agustien?” tanya Reagan dengan sangat penasaran.

Wanita itu mengangguk antusias. “Ya, Tuan! Dia adalah ibu Saya.”

Bibir Reagan membentuk ‘o’ sembari mengangguk. Ternyata benar kalau wanita ini adalah anak Bertha. Pantas saja usianya terlihat hampir sama dengan usia Floretta.

“Apakah Tuan mengenal ibu Saya?”

Reagan mengangguk. “Ya, dulu kami satu sekolah.”

Dalam hati Denaya, dia merasa bangga pada ibunya karena memiliki teman sekeren pria dihadapannya. Kenapa ibunya tidak mengatakan kalau memiliki teman setampan dan sekaya pria ini.

“Kalau boleh tahu nama Anda siapa? Aku akan menceritakan ini pada ibu.”

“Reagan Wedsey. Aku rasa ibumu masih mengingatku.”

“Kalau begitu aku duluan. Kau sedang menunggu jemputan atau—?”

“Tidak, aku ingin makan di sini, ya, ingin makan di sini,” alibi Denaya.

Reagan mengangguk. “Hati-hati Denaya. Malam-malam seperti ini tidak ramah perempuan.”

Denaya mengangguk antusias. Dia sangat senang karena Reagan yang peduli padanya.

“Arghh, kenapa aku tidak melamar jadi sugar daddy-nya saja ya?” pekik Denaya dengan girang setelah mobil Reagan keluar dari area parkir restoran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED