Bruuuk!
"Oh tidak!" Freya tersentak, merasa kaget saat cairan cokelat pekat itu terciprat mengenai bajunya. Tanpa berpikir panjang, ia buru-buru mengusap noda itu dengan tisu yang ada di tangannya. Namun, seperti yang sudah bisa ia duga, usaha itu sia-sia belaka. Noda itu masih tetap tampak jelas di atas blus putihnya.
"Maafkan saya, Nona," suara berat seorang pria terdengar dari depan, memecah kebingungannya.
Freya mendongak, dan di depannya berdiri seorang pria tinggi, mengenakan setelan jas yang tampak pas di tubuhnya, dengan wajah yang seakan diukir sempurna. Mata cokelat terang pria itu menatapnya penuh rasa bersalah. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit berantakan justru menambah pesona di wajahnya yang sudah tampan.
"Saya tidak sengaja," ucap pria itu, kali ini dalam bahasa Indonesia.
Freya terkejut, matanya membelalak. Ia berada di Venezia, di tengah keramaian Piazza San Marco yang penuh dengan turis dari berbagai negara. Sejak ia tiba beberapa hari yang lalu, telinganya hanya dipenuhi dengan bahasa asing-Italia, Inggris, dan beberapa bahasa lainnya yang tidak ia mengerti. Namun, tiba-tiba mendengar bahasa Indonesia di tengah keramaian ini begitu mengejutkan, bahkan menghibur.
Namun, rasa terkejutnya segera sirna. Dengan sedikit gugup, ia menjawab, "Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga kurang hati-hati."
Pria itu mengamati sejenak keadaan Freya yang tampak sedikit terkejut. Lalu matanya beralih ke noda kopi di bajunya, dan ia terlihat sedikit gelisah. Tanpa banyak bicara, ia melepas blazernya.
"Pakailah ini," katanya, sambil menyodorkan blazer tersebut.
Freya buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak usah, Tuan. Saya punya jaket, kok," jawabnya, sambil menarik jaket tipis dari dalam tas. Ia tidak ingin terlihat merepotkan, meski sebenarnya tawaran pria itu cukup membuatnya terharu.
Pria itu tampak sedikit ragu, namun akhirnya mengenakan kembali blazernya. "Baiklah," ucapnya singkat. Namun, dari sorot matanya, Freya tahu bahwa ia masih merasa bersalah atas insiden tersebut.
"Eh, Tuan tidak apa-apa, kan? Apa ada yang kena?" tanya Freya sambil melirik pakaian pria itu, khawatir jika jasnya terkena noda kopi itu.
Matanya langsung membelalak saat melihat merek Armani yang tertera di jas pria itu. Dalam hati, ia mulai panik.
"Kalau dia minta ganti rugi, habislah aku! Tiket pulang saja sudah hampir habis, apalagi kalau harus mengganti jas semahal itu!" pikir Freya, mencoba menenangkan diri agar pria itu tidak mempermasalahkan insiden ini.
"Saya baik-baik saja," jawab pria itu dengan tenang. Ia melirik jam tangannya, terlihat sedikit terburu-buru.
Namun, sebelum pergi, pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. "Itu nomor saya," katanya, sambil menyerahkan ponselnya kembali kepada Freya.
Freya mengerutkan kening, bingung dengan tindakan pria itu. Sebelum ia sempat bertanya, pria itu melanjutkan, "Kalau nanti ada yang perlu diganti atau saya perlu bertanggung jawab, hubungi saja nomor itu. Maaf saya harus pergi sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu tersenyum tipis dan berbalik, meninggalkan Freya yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Freya menghela napas panjang. "Dia siapa, sih? Orang Indonesia? Tapi kenapa ada di Venezia?" gumamnya pelan, mencoba mencerna pertemuan yang baru saja terjadi.
***
Setelah berhasil membersihkan noda kopi di bajunya di toilet umum terdekat, Freya kembali ke penginapan kecil tempatnya menginap. Sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, pikirannya kembali melayang ke insiden tadi.
"Kenapa aku malah memikirkan dia?" rutuk Freya pada dirinya sendiri. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memeriksa itinerary perjalanan yang sudah ia buat, namun bayangan pria itu terus mengganggunya.
"Apa dia benar-benar orang Indonesia?" gumamnya pelan. "Tapi kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia bisa semudah itu memberikan nomor teleponnya?"
Freya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia yakin, pertemuan tadi hanyalah sebuah kebetulan yang tidak akan terjadi lagi. Namun, di lubuk hatinya, ada rasa penasaran yang tak bisa ia abaikan.
***
Di sisi lain kota, Aideen duduk di sebuah ruang rapat hotel bintang lima. Di depannya terdapat beberapa rekan bisnis yang sedang membahas kontrak penting. Namun pikirannya terus melayang ke gadis yang tidak sengaja ia tabrak tadi.
Wajah gadis itu terbayang jelas di benaknya-ekspresinya yang bingung namun tetap ramah, serta caranya mencoba menghilangkan noda kopi dari bajunya. Aideen tersenyum tipis saat mengingatnya.
"Apa aku harus menghubunginya?" pikirnya. Namun ia segera menepis pikiran itu.
"Fokus, Aideen. Ini bukan waktunya memikirkan hal-hal yang tidak penting," gumamnya pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pertemuan bisnis yang sedang berlangsung.
Namun, setelah pertemuan bisnis selesai, ia mendapati dirinya membuka daftar kontak di ponselnya. Nama yang baru saja ia masukkan tadi pagi terpampang di layar.
Ia ragu sejenak, namun akhirnya menekan tombol panggil.
***
Di penginapannya, Freya sedang mencoba memilih pakaian untuk dikenakan keesokan hari ketika ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel itu dan melihat nomor asing yang menghubunginya.
"Halo?" jawab Freya, sedikit ragu.
"Halo, ini saya. Pria yang tadi menumpahkan kopi Anda," suara di ujung telepon terdengar hangat namun tetap formal.
Freya terkejut. "Oh, iya. Ada apa ya, Tuan?" tanyanya, berusaha terdengar santai.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa Anda baik-baik saja," jawab pria itu. "Dan juga, saya ingin bertanya apakah ada sesuatu yang perlu saya ganti."
Freya tersenyum kecil. "Tidak, Tuan. Saya sudah membersihkannya, dan semuanya baik-baik saja," jawabnya, merasa lega.
"Bagus kalau begitu," kata pria itu. Namun, ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan, "Tapi mungkin, jika Anda tidak keberatan, saya ingin mentraktir Anda makan malam sebagai permintaan maaf."
Freya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tawaran itu terdengar tidak biasa, terutama dari seseorang yang baru saja ia temui.
"Mungkin saya pikir-pikir dulu, ya," jawab Freya akhirnya.
"Baik. Kapan pun Anda siap, Anda bisa menghubungi saya," kata pria itu sebelum menutup telepon.
Setelah percakapan itu berakhir, Freya menatap ponselnya dengan campuran rasa bingung dan penasaran.
***
Di hotel, Aideen menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Ia tahu bahwa tindakannya tadi cukup spontan, bahkan mungkin sedikit aneh. Namun, ia merasa ada sesuatu tentang Freya yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Dia berbeda," gumamnya pelan, sambil menatap ke luar jendela.
Meskipun pertemuan mereka singkat, Aideen merasakan sesuatu yang unik dari Freya. Gadis itu tidak seperti wanita lain yang pernah ia temui-terlihat polos, sederhana, namun memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan.
"Mungkin aku hanya penasaran," pikir Aideen, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar rasa penasaran. Ia merasa seperti ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan antara dirinya dan Freya, meskipun mereka baru bertemu sebentar.
Aideen pun kembali teringat pada senyum Freya yang ramah meski ia sedang mengalami kekacauan kecil. Senyum itu tetap memancar hangat, dan hal itulah yang membuat Aideen merasa tergerak untuk lebih mengenalnya.
"Aku harus menghubunginya lagi," pikir Aideen, meskipun hatinya sedikit ragu. Tetapi, dalam pikirannya, suara itu terus menguat.
-To Be Continue-
Tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak membuat Freya terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia menggeliat malas di atas kasur, masih merasa lelah setelah pertemuan yang penuh kejutan dengan Aideen. Pikirannya masih dipenuhi bayangan pria asing yang ditemuinya kemarin. Aideen-nama itu terus bergema dalam benaknya.
"Kenapa aku masih memikirkannya?" gumam Freya sambil meregangkan tubuhnya. Sinar matahari pagi dari jendela kamarnya di penginapan kecil itu terasa hangat, tetapi entah mengapa tak mampu mengusir rasa gelisah dalam dadanya.
Setelah mandi dan sarapan ringan di lounge hotel, Freya mengambil peta yang sudah ia beli kemarin sore. Freya memutuskan untuk memanfaatkan hari ini dengan berkeliling Venezia. Ia memeriksa kembali daftar barang titipan teman-temannya di Jakarta, memastikan tak ada yang terlewat.
Ketika Freya melangkah keluar hotel, ia memutuskan untuk memulai harinya di Rialto Market, tempat yang terkenal dengan berbagai barang unik dan suasana lokal yang khas. Sepanjang perjalanan, ia menyempatkan diri berhenti di sebuah kedai kecil untuk membeli secangkir cappuccino. Aroma kopi yang hangat menemaninya melintasi jembatan Rialto yang ramai dengan turis.
Namun, di tengah langkahnya di sekitaran Rialto Market, ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing muncul di layar. Dengan ragu, Freya mengangkatnya.
"Halo?"
"Freya, ini Aideen," suara di seberang terdengar tenang, tetapi ada nada mendesak di dalamnya.
"Oh, Tuan Aideen. Ada apa, ya?"
"Saya ingin bertemu. Bisa?"
Freya terdiam. Apa maksud pria ini ingin bertemu lagi? Kemarin saja ia merasa sudah cukup canggung berurusan dengannya. Tapi suara Aideen terdengar berbeda-seperti ada sesuatu yang penting.
"Boleh tahu alasannya, Tuan?" tanya Freya hati-hati.
"Ini tentang kejadian kemarin. Saya merasa belum benar-benar meminta maaf," jawabnya singkat.
Freya menghela napas. Ia tidak suka berutang budi, tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguannya. "Baiklah. Di mana?"
Piazza San Marco
Freya tiba lebih dulu di lokasi yang dijanjikan. Tempat itu dipenuhi turis yang sibuk berfoto, tetapi Freya merasa dadanya sedikit sesak. Dia tidak tahu mengapa, tetapi perasaan tidak nyaman mulai menyusup.
"Apa yang aku lakukan?" gumamnya sambil mengalihkan pandangan ke arah kanal. Tapi sebelum sempat memikirkan lebih jauh, suara seseorang memanggil namanya.
"Freya."
Freya menoleh. Aideen berdiri tidak jauh darinya, mengenakan celana khaki dan kaos henley berwarna navy dibuka satu kancing paling atas serta sepatu kets. Ia sengaja tidak menggunakan pomade serta kacamata hitam, membuat penampilannya lebih santai, tetapi tetap berwibawa. Pria itu melangkah mendekat, membawa sekotak kecil di tangannya.
"Ini," ucap Aideen sembari menyodorkan kotak itu. "Ganti rugi kecil untuk kejadian kemarin."
Freya ragu-ragu mengambilnya. "Tidak perlu sebenarnya, Tuan. Lagipula saya sudah melupakan insiden itu."
"Tetapi saya belum." Aideen menatapnya serius. "Terimalah. Anggap saja sebagai permintaan maaf saya."
Freya membuka kotaknya perlahan. Di dalamnya ada sebuah syal sutra berwarna biru laut dengan pola sederhana tetapi elegan.
"Ini terlalu mewah," gumam Freya, bingung harus berkata apa.
"Tidak ada yang terlalu mewah untuk permintaan maaf," balas Aideen santai.
Freya hanya bisa tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan."
Mereka berjalan menyusuri kanal. Freya merasa suasana menjadi lebih santai setelah beberapa saat. Namun, rasa penasaran masih menggelayut di pikirannya.
"Tuan Aideen, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Freya akhirnya membuka percakapan.
"Tentu. Apa itu?"
"Kenapa Anda bisa berbicara bahasa Indonesia dengan sangat lancar? Maksud saya, Anda tidak terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya."
Aideen tersenyum kecil. "Ayah saya orang Indonesia. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dengannya di rumah. Meskipun saya lebih sering tinggal di luar negeri, saya selalu ingat akar saya."
"Oh, begitu." Freya mengangguk. "Berarti Anda sering ke Indonesia?"
"Tidak seberapa sering," jawab Aideen, raut wajahnya sedikit berubah. "Ada beberapa alasan yang membuat saya jarang ke sana."
Freya tidak ingin menekan lebih jauh, tetapi rasa ingin tahunya sulit dibendung. "Apa Anda punya keluarga di sana?"
Aideen terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Saya punya. Tapi hubungan kami tidak terlalu baik."
Nada suaranya yang mendadak dingin membuat Freya menyesal bertanya. Dia tahu ada luka di balik kata-kata itu, tetapi tidak ingin mengungkitnya lebih jauh.
"Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya," ucap Freya pelan.
"Tidak apa-apa," balas Aideen sambil kembali melangkah. "Kadang pertanyaan kecil justru membuka hal-hal yang kita tutupi terlalu lama."
Setelah berjalan cukup jauh, Aideen berhenti di depan sebuah kafe kecil. "Saya ingin mengundangmu makan siang. Tidak perlu merasa terbebani. Anggap saja ini bagian dari permintaan maaf saya."
Freya menggeleng cepat. "Tuan, ini sudah lebih dari cukup."
"Tapi saya belum merasa cukup." Aideen menatapnya tajam, tetapi tidak mengintimidasi. "Lagipula, saya jarang punya waktu untuk menikmati hari seperti ini. Anggap saja kamu menemani saya."
Freya merasa bingung. Di satu sisi, dia merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik sikap Aideen. Di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pria ini berbeda dari kebanyakan orang yang pernah dia temui.
"Baiklah," jawab Freya akhirnya. "Tapi saya yang traktir minuman."
Aideen tertawa kecil. "Kita lihat nanti."
Di sela-sela kafe kecil dan hiruk pikuk Venezia, dua orang dengan latar belakang berbeda mulai menemukan jalan cerita mereka sendiri. Namun, di balik senyuman Aideen dan sikap santainya, ada misteri yang perlahan terungkap. Dan Freya, tanpa ia sadari, sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
-To Be Continue-
"Berapa lama kamu di Venice, Freya?" tanya Aideen, memecah keheningan. Biasanya Aideen tidak banyak berbicara, tetapi gadis ini memunculkan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Mungkin karena Freya tidak seperti gadis-gadis yang biasa ia temui. Tidak seperti beberapa gadis di meja sebelah yang terus mencuri pandang ke arahnya, Freya tidak terlihat mengenali siapa dirinya dan tidak berusaha menggoda. Aideen mengakui bahwa wajah tampannya sering membuatnya risih dengan perhatian berlebih. Namun kali ini, ia merasa santai.
Aideen ingin bersenang-senang sejenak, melupakan pekerjaan yang akhir-akhir ini melelahkannya. Biasanya, orang yang mengenalnya enggan mengajaknya berbincang. Namun kali ini berbeda-dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.
Freya, gadis yang baru dikenalnya, tampak lebih tertarik pada gondola yang berlalu-lalang di kanal depan mereka. Sesekali, ia menyeruput minumannya sambil tersenyum tipis.
"Senin siang aku flight pulang, Tuan," jawab Freya sambil memandang kanal. "Cuti aku cuma sampai Rabu," tambahnya, diikuti helaan napas panjang dan senyum satir. Aideen menangkap sesuatu di balik senyumnya-sebuah kesedihan yang belum pernah ia lihat selama bersama dengan gadis ini.
"Rindu rumah?" tebak Aideen, mencoba membaca ekspresi Freya.
Freya mengangguk pelan. "Iya, walaupun baru sehari di sini, aku rindu Mom dan teman-temanku. Biasanya sore begini Mom sudah menjemputku di kantor, lalu masak malam," gumamnya sambil tersenyum kecil. Ada seulas senyuman pada bibirnya ketika mengingat hal itu.
Namun, senyum itu memudar ketika bayangan seseorang muncul di pikirannya. Dirga. Nama itu membawa amarah dan rasa sakit. "Besok dia menikah dengan wanita yang dihamilinya," pikir Freya. Ia mencoba menepis cepat kenangan itu. "Move on, Freya. Bukankah kau ke Venice untuk melupakan semua ini? Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Nikmati liburanmu, Frey!"
"Ehem," dehem Aideen, membuyarkan lamunan Freya. Sehari tadi ia memperhatikan raut wajah Freya yang berubah-ubah. Ia tahu bahwa gadis di hadapannya sedang sibuk menyelami pikirannya.
Freya sontak membalikkan wajah ke arah Aideen, ia tersentak. "Ah, Tuan, aku kaget," ucapnya dengan wajah terkejut yang membuat Aideen menahan tawa. Ia hanya mengulas senyum tipis, cukup menikmati momen itu.
"Melamun, ya?" goda Aideen.
"Nggak, Tuan. Aku cuma lihat gondola itu," elak Freya sambil menunjuk ke arah kanal, berusaha mengalihkan perhatian. Tapi Aideen tahu ia hanya mencari alasan. Ada sesuatu di mata gadis itu yang sulit disembunyikan. Namun, ia berusaha untuk tidak bertanya dan ikut campur dalam hal apapun.
"Mau naik gondola? Sepertinya dari tadi kamu terus memperhatikannya," tawar Aideen santai.
Freya menggeleng. "Mau sih, tapi mahal. Aku mau pakai uangnya buat beli oleh-oleh saja," jawabnya dengan senyum kecil.
"Saya traktir," ujar Aideen, nyaris tanpa berpikir.
"No, no! Tidak, Tuan!" jawab Freya cepat. "Aku nggak mau merepotkan. Macchiato ini saja sudah cukup."
Baru kenal sudah ditraktir ini-itu. Kalau niatnya baik sih tidak masalah, tapi kalau punya maksud jahat? Membayangkannya saja sudah membuat Freya takut. Apalagi dia sedang berada di negara asing, tanpa mengenal siapa pun. Kedutaan Besar RI pun jauh, terletak di Roma, sedangkan dia di Venice.
Aideen menatap Freya sejenak, tersenyum kecil. Gadis ini benar-benar berbeda. Ia hampir tidak pernah menemui seseorang yang begitu mandiri tetapi sederhana.
"Oh ya, aku baru sadar, kita sudah berbicara banyak, tapi aku lupa menanyakan namamu, Tuan," ujar Freya, merasa malu. Ia baru tersadar belum berkenalan, padahal sudah setengah jam mereka duduk bersama.
"Aideen," jawab pria itu sambil menyesap kopinya.
"Baik, Tuan Aideen," jawab Freya sambil tersenyum kecil.
"Tanpa Tuan, oke?" balas Aideen dengan nada santai.
"Siap, Aideen," ucap Freya, menahan tawa kecil. Ia mulai merasa nyaman berbicara dengannya.
"Setelah ini, kamu mau ke mana?" tanya Aideen, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau cari toko oleh-oleh dan barang yang Mom serta teman-temanku pesan. Tapi sebelumnya aku mau beli peta di pusat informasi," jawab Freya.
"Peta? Untuk apa?"
"Peta lamaku rusak kena kopi tadi. Google Maps bikin pusing," jelas Freya dengan wajah muram, mengingat dirinya tersesat sebelum sampai di kafe ini.
"Kalau begitu, saya ikut," kata Aideen tiba-tiba.
"Hah?" Freya memandangnya dengan ekspresi kaget.
"Saya tahu jalan di Venice. Kamu tidak perlu beli peta lagi," jelas Aideen, meskipun tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan cara yang normal, tanpa embel-embel status atau pekerjaan.
"Tapi-" Freya masih ragu.
"Tenang saja, saya bukan orang jahat," jawab Aideen santai sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. "Ini sebagai jaminan," lanjutnya sambil menyodorkan kunci itu kepada Freya. "Kalau saya berbuat macam-macam, kamu bisa menjual mobil ini."
Freya menatap kunci itu dengan mulut setengah terbuka. "Hanya sebuah mobil sport coupe?" gumamnya, bingung. Namun, sikapnya segera berubah curiga. "Jangan-jangan ini mobil curian?"
Aideen tertawa kecil, lalu mengeluarkan dokumen kendaraan dari dompetnya. "Ini surat-suratnya. Cek saja," ujarnya sambil menyerahkan dokumen itu.
Freya membaca dokumen itu. Nama Aideen tercantum jelas di sana. Masih dengan keraguan, ia menatap Aideen lagi. "Kalau kamu mafia?" tanyanya setengah bercanda, setengah serius.
Aideen mendekatkan wajahnya ke arah Freya, hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Kalau saya mafia," bisiknya dengan nada serius, "kamu pasti sudah saya culik dari tadi."
Freya tersentak, wajahnya memerah. "Stop! Aku takut!" ujarnya, menutup wajah dengan kedua tangannya. Aideen tertawa terbahak-bahak.
"Jadi bagaimana?" tanya Aideen sambil menahan tawa.
Freya akhirnya menyerah. "Oke, aku percaya padamu. Tapi janji jangan macam-macam, ya?"
Aideen mengangguk. "Janji."
Freya mengulurkan jari kelingkingnya. "Ayo berjanji!"
Aideen menatapnya heran, tetapi akhirnya menautkan kelingkingnya pada Freya. "Ayo kita pergi sekarang," ujar Freya, tersenyum puas.
"Saya bayar dulu," kata Aideen sambil berjalan ke kasir. Freya menatap punggung pria itu, merasakan sesuatu yang aneh tapi menyenangkan.
Ah, Freya masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Akhirnya, dia punya teman selama liburan sendirian seperti ini. "Apakah Aideen bisa dikatakan teman sekarang?" Ya, setidaknya begitulah yang ada dalam pikirannya. Daripada celingak-celinguk sendirian seperti anak hilang, lebih baik ia menerima tawaran Aideen. Setidaknya ada teman untuk mengobrol.
Mana ganteng lagi. Uh, Bikin deg-degan, membuat jantungnya melompat-lompat. Berdekatan dengan pria seperti ini benar-benar melelahkan. Next kalau ketemu apotek, aku harus cari obat jantung dulu. Sekalian konsultasi sama dokter spesialis. "Kasihan jantungku, olahraga terus dari tadi," pikirnya sambil menahan senyum sendiri.
Namun, ia tetap waspada. Bagaimana jika Aideen sebenarnya orang jahat? Iblis yang bersembunyi di balik wajah malaikat, seperti di novel atau film? "Ingat, jangan percaya siapa pun, Freya! Sasuke Uchiha saja bilang begitu!"
"Fiuh," ia menghela napas panjang sambil memasukkan kunci dan surat kendaraan milik Aideen ke dalam tas kecilnya. "Semoga dia lupa sama kunci ini. Aku bisa jual nanti, beli banyak barang! Haha!" pikirnya licik, lalu menggelengkan kepala, memukul pelan kepalanya sendiri. "Apa sih, Frey? Bodoh banget," gumamnya pelan.
Aideen, dari balik kaca kafe, memperhatikan kelakuan Freya dengan senyum geli. Ia menahan tawa melihat gadis itu tersenyum, menggeleng, lalu memukul kepalanya sendiri. Ada sesuatu yang menghibur tentang gadis ini-sederhana, polos, dan mengingatkannya pada keponakannya yang berusia lima tahun.
"Yuk," ajak Aideen, tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Freya.
"Let's go!" jawab Freya cepat sambil berdiri. "Kemana kita?"
"Ikuti saja saya," kata Aideen sambil melangkah keluar.
Freya berjalan dengan riang mendahului Aideen. Rasa takutnya tentang mafia tampaknya sudah hilang sepenuhnya. Aideen tertawa kecil di belakangnya sebelum mensejajarkan langkahnya dengan Freya. "Petualangan ini akan menarik," pikirnya sambil tersenyum kecil.
-To Be Continue-