Sampul Novel The Fate of A Wallflower

The Fate of A Wallflower

8.6 / 10.0
Nasib buruk menimpa Lady Annabelle Hardy di Inggris abad ke-18 setelah pertunangannya dibatalkan demi sang adik tiri. Kini, nyawa Anna terancam oleh Sophie, ibu tirinya yang sangat tamak. Di tengah rencana pembunuhan yang mengintai, sebuah suara misterius memperingatkan bahwa ia tidak bisa melarikan diri. Mampukah Anna bangkit melawan pengkhianatan ini dan membongkar misteri yang mengancam jiwanya sebelum terlambat?
Ringkasan The Fate of A Wallflower
Nasib buruk menimpa Lady Annabelle Hardy di Inggris abad ke-18 setelah pertunangannya dibatalkan demi sang adik tiri. Kini, nyawa Anna terancam oleh Sophie, ibu tirinya yang sangat tamak. Di tengah rencana pembunuhan yang mengintai, sebuah suara misterius memperingatkan bahwa ia tidak bisa melarikan diri. Mampukah Anna bangkit melawan pengkhianatan ini dan membongkar misteri yang mengancam jiwanya sebelum terlambat?
Baca Selengkapnya

The Fate of A Wallflower Bab 1

Greenwall House

Dengan nanar, Lady Annabelle menatap pintu ruang kerja ayahnya yang tertutup rapat. Sejak subuh tadi dia mengetuk pintu kamar itu, namun Viscount Hardy tak berkenan ditemui. Apa yang membuat Annabelle makin sedih adalah kenyataan bahwa Thomas, asisten ayahnya juga terang-terangan mengusirnya. 

"Maaf Miss, Lord Hardy sedang sibuk dan tidak berkenan ditemui. Kembalilah di lain waktu"

Begitu kalimat pertama yang diucapkan Thomas saat daun pintu yang lebar itu terkuak di tengah upaya putus asa dirinya untuk mendapatkan perhatian sang ayah.

Air mata Annabelle mengucur tak terkendali. Jika sekiranya bisa memilih lebih baik dia mati dalam kecelakaan itu. Mungkin dengan begini, ibunya bisa hidup, maka ayahnya tidak perlu sesedih ini. 

"Miss, jangan menangis lagi. Almarhum nyonya tidak akan senang jika Anda bersedih seperti ini", Marie pengasuh Anna sejak kecil Berusaha membujuk. 

"Lantas aku harus bagaimana lagi Nanny, ayahku sangat membenciku. Seandainya bisa memilih lebih baik aku saja yang mati dalam kecelakaan itu. Kau lihat sendiri, sudah seminggu sejak pemakaman ibu namun ayah belum mau berbicara padaku", Isaknya makin keras, hingga dia mengusap sudut matanya dengan sapu tangan peninggalan sang ibu. 

"Sudahlah Miss, kumohon jangan sedih lagi. Tuan hanya sedang mengatasi kesedihan hatinya akibat ditinggal nyonya", Marie terus membujuk walau dia sendiri juga mulai meratap sambil menggenggam tangan Annabelle. 

Almarhum Viscountess adalah wanita elegan yang baik hati, putri dari seorang Baron. Di masa mudanya banyak yang menyukai almarhum, bahkan terang-terangan mengirimkan lamaran ke rumah mereka, namun semuanya ditolak oleh sang baron karena dia sudah menjodohkan putrinya yang bernama Rosemary ini dengan putra dari kenalan lama keluarga mereka. 

Makanya sewaktu Lady Rosemary menerima lamaran Viscount Hardy yang dikenalnya dalam suatu pesta, baron sangat murka. Terpaksa dia mengikuti kemauan putrinya demi menjaga reputasi keluarga, pasalnya Lady Rose sampai mengancam akan kawin lari dengan kekasihnya ke Gretna Green jika Baron Kingsley tidak merestui hubungan mereka.

Sejak saat itu, kebenciannya pada Viscount Hardy sangat besar. Menurutnya, Jhon Hardy telah memperdaya putrinya yang lembut dan penurut jadi perempuan pemberontak yang tidak tahu aturan.

Sejak saat itu pula, tidak pernah dia menginjakkan kaki barang sekali ke kediaman putrinya, Greenwall House. Tak cukup sampai disini, beliau juga tidak mau tahu dengan urusan putrinya bahkan enggan menghadiri acara baptisan cucunya, Annabelle. 

"Padahal Nanny, setiap malam aku masih bermimpi buruk tentang kejadian itu. Seharusnya mama bisa selamat tapi beliau memilih mendorongku duluan sebelum akhirnya jatuh ke dalam jurang bersama kereta kuda yang membawa kami. Oh Nanny, kau tidak akan pernah tahu betapa tersiksanya batinku", kenangan ini membuat Anna menangis makin keras, tanpa disadarinya, gadis muda itu memeluk erat Marie yang sudah dianggap seperti ibunya. 

"Miss, Anda tidak boleh merangkulku seperti ini, menyalahi etika"

"Oh, Marie tolong diamlah. Aku hanya sangat sedih sampai mau mati rasanya"

Akhirnya Marie membiarkan saja tindakan Anna yang tidak patut. Perlahan dielusnya rambut coklat nona muda-nya yang berkilauan tertimpa sinar mentari yang menerobos masuk dari celah perapian. 

Di sekeliling mereka para pelayan tampak sibuk mengatur manor yang besar itu. Ada koki, penjaga istal, petugas keamanan, dan juga butler yang bertugas sebagai kepala pelayan sekaligus menyambut tamu-tamu tuan rumah, Mr. Simon. 

Selain semua pelayan yang tinggal di manor ini, ada juga seorang governoss yang bertugas mengajari Anna mengenai etika bangsawan serta pengetahuan dasar dan bahasa asing yang biasa dipanggil sebagai Ms. Emily. 

Gadis muda tersebut tidak tinggal disini namun hidup bersama orangtuanya yang berprofesi sebagai guru di County ini. Emily akan datang ke Greenwall House sebanyak lima hari dalam sepekan.

"Ehem, maaf mengganggu waktu Anda Miss, tetapi saat ini Ms. Emily sedang menunggu Anda di ruang belajar" 

Simon sang butler tiba-tiba menginterupsi saat-saat mengharukan antara Marie dan Anna. Sebenarnya sudah lama dia tiba di ruangan ini, namun kedua perempuan beda status sosial itu tidak menyadari kehadirannya, terlalu larut dalam kesedihan mereka. Simon sendiri juga sungkan menegur, dia paham betapa berat tekanan yang dialami majikannya. 

"Oh, Maafkan kelalaianku Mr. Simon sampai harus membuatmu repot-repot datang kemari", segera Anna mengusap matanya yang sembab. 

Ditatapnya Simon yang berdiri tegak dengan kepala menunduk itu. Simon sudah bekerja di rumah ini sejak ayahnya masih anak-anak, sehingga dia sangat kaku soal aturan dan tata krama. Namun dibalik sikap kakunya itu, tersembunyi pribadi yang hangat dan simpatik. 

"Maukah Kau jika aku merepotkanmu lagi? Katakan pada Ms. Emily untuk menunggu barang sepuluh menit. Aku akan bersiap-siap dahulu", tambah Anna memberi perintah

"Dengan senang hati, Miss" 

Setelahnya Simon melalukan curtsy lagi dan berlalu dari hadapan Anna dengan langkah yang tegas dan mantap, sesuai dengan jabatannya sebagai kepala pelayan rumah bangsawan. 

Anna segera melangkah ke kamarnya yang terletak di lantai yang sama dengan kamar ayahnya. Dibantu oleh Marie, dia mempersiapkan dirinya untuk belajar. Dikenakannya gaun rumah yang lebih sopan dan pantas untuk menyambut tamu, setelah itu rambut panjangnya yang ikal kecoklatan digelung dengan rapi menjadi bun sederhana. 

"Nanny, tolong rapikan anakan rambutku ini. Nanti Ms. Emily akan mengomeliku jika tidak rapi begini"

"Ya Miss, aku kadang merasa heran dengannya. Di usia yang muda belia dia benar-benar terlihat seperti perempuan tua kaum puritan", omel Marie sambil merapikan sisiran rambut Anna

"Hush, Kamu tidak boleh berkata begitu Nanny. Dia hanya berusaha mengajariku jadi wanita bangsawan yang tahu aturan", Anna menegur pelayannya, dalam aturan tradisional, para pelayan dilarang keras mengomentari urusan majikan mereka. 

Namun tak ayal dia juga tertawa kecil. Penuturan Marie soal cara berpakaian Emily memang sangat tepat. Governess yang satu ini terkenal ketat dengan aturan makanya banyak kaum bangsawan meminta dia untuk mendidik putri mereka. 

Lady Anna menatap bayangannya sekali lagi pada cermin besar di depannya. Setelah dia merasa penampilannya sudah sesuai dengan standar Emily dia pun beranjak menuju ruang belajar yang letaknya di ujung koridor lantai dua. 

Di sana tampak governoss-nya, sebagaimana yang diperkirakan oleh Marie, mengenakan gaun puritan kebanggaannya. Gaun itu tertutup rapat, sampai Anna bisa membayangkan lehernya tercekik dibalik dress berwarna dongker gelap itu.

Emily sibuk sekali menekuni buku-buku tebal yang dipegangnya sampai tidak menyadari sekelilingnya. Sesekali dia menuliskan sesuatu di catatan kecil yang terletak di sebelah buku-buku itu. 

"Selamat pagi Ms. Emily, maaf membuat Anda menunggu sedikit lebih lama", sapa Anna begitu tiba dihadapan Emily. 

"Baik Miss Hardy, silakan duduk. Untuk kali ini saya maafkan keterlambatan Anda yang sudah hampir dua puluh menit, mengingat kemalangan yang baru menimpa Anda dan keluarga. Saya turut bersimpati", balasnya dengan nada datar

Annabelle sudah lama tahu kalau Emily bukanlah gadis yang ramah dan hangat. Namun ucapannya barusan membuat hatinya menggigil. Bagaimana bisa dia mengungkit kemalangan orang lain dengan nada santai seperti itu, tak ada sedikit pun emosi dalam ucapannya itu.

"Ada apa Miss Hardy? Anda terlihat sedikit bingung"

"Bukan apa-apa, anya bertanya-tanya, bagaimana bisa di dunia ini ada manusia minim empati seperti Anda", tidak seperti biasanya, kali ini Anna menukas tajam. 

"Maaf? ", kening Emily mengerut mendengar ucapan gadis kecil di depannya. 

Dia bukannya tidak paham apa yang dimaksud Annabelle, hanya saja dia tidak menyukai kelancangan siswanya. Walau gadis kecil ini seorang bangsawan, namun dia juga bukan governess yang tidak diinginkan. 

Di daerah county ini masih banyak keluarga bangsawan lain, yang lebih tinggi derajatnya, meminta dia mengajari putri mereka. Jika bukan karena campur tangan Baron Kingsley, tak sudi dia mengajari Anna yang keras kepala dan sok tahu ini. 

"Tidak ada apapun, lanjutkan saja materi pelajaran Anda", balas Anna dingin

"Kali ini saya akan menganggap tidak mendengar apapun Miss Hardy. Namun begitu saya sangat berharap Anda bisa menjaga lisan dengan baik di masa mendatang"

Setelah mengucapkan teguran yang tajam itu, Emily mulai menyiapkan kertas yang berisi materi pelajaran hari ini dan meletakkannya di depan Anna.

Tanpa mempedulikan ekspresi wajah siswanya yang sangat jelek, dia kembali memberikan mandat barunya, "Mari bekerjasama dengan baik agar progress Anda dalam bahasa Latin ini juga baik. Saya harap Anda mengerti jika saya tidak pernah punya murid yang kemampuannya tidak memenuhi standar kelulusan yang sudah saya tetapkan"

***

Sementara itu di ruang kerjanya Viscount Hardy, ayah Annabelle, mengisap cerutunya dalam-dalam sambil menatap potret istrinya dari seberang meja kerjanya. Mata Rosemary berwarna turquoise sangat kontras dengan rambut coklatnya yang gelap. Senyumnya hangat dan teduh seperti mentari di musim semi. 

"Apakah aku salah jika tidak mau menemui putriku Thomas?", tukasnya tiba-tiba pada asisten pribadi yang sedang sibuk menulis surat balasan untuk suatu undangan rapat pekan depan.

"Maaf My Lord, Anda tahu benar saya ini tidak peka soal perasaan manusia", Thomas menyahut sambil menatap John Hardy sekejap

"Hahaha, sudah kuduga. Manusia kayu sepertimu tidak akan bisa dimintai pendapat soal perasaan. Terus terang Thomas, aku kadang  bingung harus kesal atau iri padamu"

"Maaf My lord?"

"Yah, kalau saja aku bisa bersikap dingin sepertimu tentu penderitaanku tidak sebesar ini. Aku tidak akan berlama-lama patah hati atas kematian istriku tercinta, kiranya Tuhan memberkati jiwanya"

Kemudian John Hardy merenung sesaat. Mengingat kenangan manis waktu pertama kali dia bertemu istrinya, di pesta seorang bangsawan sepuluh tahun lalu. Waktu itu Lady Rosemary menjadi bintang pesta, banyak pemuda bangsawan yang mengajak dia berdansa.

Jhon sendiri awalnya tidak begitu tertarik dengannya, apalagi karena rambutnya yang gelap. Sebagaimana pria Inggris kebanyakan, dia lebih suka perempuan berambut pirang terang. Namun semua kesan 'biasa saja' itu menguap tak berbekas setelah dia berbicara dengan Rose waktu mereka berdansa.

Istrinya sangat cerdas dan mampu mengimbangi topik pembicaraannya tentang banyak hal. Sejak perkenalan itu, kesan yang dimiliki John tentang wanita, sebagai makhluk cantik berpikiran dangkal, pun sirna. 

"Saya rasa tindakan Anda tidak adil bagi Lady Anna", diluar dugaan Hardy, Tomas menukas tiba-tiba

"Maaf Thomas?", dia tampak kebingungan dengan jawaban Thomas yang tak tentu ujung-pangkalnya. 

"Maksud saya My Lord , dengan segala hormat, Lady Anna tidak pantas dibenci. Kecelakaan itu bukan salahnya. Maafkan kelancangan saya", tambah Thomas sambil berdiri melakukan curtsy

Sikap canggung Thomas membuat John Hardy melambaikan tangan tak sabar, meminta asistennya duduk kembali. 

"Astaga Tom, benci itu perasaan yang sangat kuat. Aku tentu tidak akan pernah membenci putriku, hanya saja aku... "

John Hardy tampak berpikir keras mencari kata yang lebih tepat untuk mengungkapkan perasaan yang tengah berkecamuk dalam dirinya. 

"Mungkin kesal lebih tepat. Setiap kali melihat wajah Anna yang sangat mirip ibunya, ada rasa sesal dihatiku. Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan monolognya, "Memikirkan bahwa tak mungkin lagi bisa bertemu Rose dalam kehidupan ini, dan itu.. sangat menyakitkan. Aku jadi merasa bersalah kenapa tidak berada disana saat dia mengalami semua itu apalagi dia sedang mengandung putra kami", Tambah Jhon tersendat

Mata John mulai berkaca-kaca. Dua nyawa melayang dalam kecelakaan tunggal tentulah jadi pengalaman mengerikan bagi siapapun, terlebih jika yang meninggal itu orang yang sangat dikasihi. 

"Tak usah pedulikan aku Tom, lanjutkan saja pekerjaanmu yang tertunda", tukasnya lagi waktu melihat Thomas si manusia Kayu itu menatapnya bingung. 

"Baik My lord, tapi sepertinya Anda lupa lagi. Nama saya Thomas bukan Tom", balasnya kalem

"Astaga, demi Tuhan Tom! Apa ini saat yang tepat membahas nama panggilanmu"

Kadang John Hardy sungguh kesal oleh sifat kaku Thomas yang menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya pria cerdas, setia, serta cekatan yang bisa ditemukannya.

Sudah banyak petualangan yang dialaminya bersama Thomas sejak dia remaja hingga saat ini. Sebenarnya Thomas itu bahkan sudah seperti saudara kandung saja baginya. 

"Tok, Tok, tok"

Terdengar ketukan lembut berirama di pintu ruang kerjanya.

"Masuk" 

Tak lama masuklah butler Simon. Setelah melakukan curtsy yang nyaris sempurna, dia menyampaikan pesan penting yang dibawanya. 

"My lord, seseorang ingin bertemu dengan Anda"

Catatan:

Gretna green = desa di skotlandia yang menjadi tujuan utama kaum bangsawan untuk 'kawin lari' sejak abad ke-17

Greenwall House = Manor bangsawan Hardy

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Fate of A Wallflower

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisinya, William yang merupakan putra bos mafia kejam rela melakukan segalanya. Namun, ayahnya yang bernama Ferdinand tewas secara tragis akibat sebuah pengkhianatan fatal. Kematian ini membuat sang istri, Rosemary, mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Kini, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhirnya habis.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Kehidupan pernikahan Dewi yang semula tenang seketika runtuh setelah ia mendapati benda asing milik seorang wanita di koper suaminya. Kejadian tak terduga ini menuntunnya mengungkap berbagai kebusukan dan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan sang suami dengan rapi. Terluka akibat perselingkuhan tersebut, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Apakah ia akan pasrah menerima rasa sakit, atau justru memilih bangkit untuk membalas dendam?
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menyetujui kesepakatan rahasia dengan Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, demi membiayai pengobatan sang adik. Ia bersedia menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya tersebut. Namun, kematian adiknya mengubah segalanya. Nadia memutuskan melarikan diri dalam keadaan mengandung anak Reza. Di bawah ancaman kejaran Satria, ia harus bertahan hidup melindungi bayinya dari pusaran intrik kekuasaan keluarga Azhar yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Suami Penggoda Iman
8.8
Kehidupan Rifki Viran Al-Maqdisi, selebgram tampan berbadan kekar yang kerap tampil di majalah dewasa, mendadak berubah di usia 22 tahun. Ia dipaksa menikahi Nabila Syakira Putri, gadis berhijab pilihan keluarganya. Merasa Nabila bukan tipenya, Rifki bersikap dingin. Di sisi lain, Nabila dengan tulus tetap mendampingi sang suami yang selalu dikelilingi wanita lain. Bisakah mereka menjaga rahasia ini dari publik, dan bagaimanakah kelanjutan pernikahan mereka?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED