"My Lord, seseorang ingin bertemu dengan Anda"
Jhon Hardy bergegas ke aula utama tempat dimana dia biasa menyambut tamu-tamu penting. Disana berdiri gagah seorang pria tua dengan tangan kanan diletakkan di bagian belakang tubuhnya.
"Selamat pagi, Sir. Apa gerangan yang membuat Anda sudi berkunjung ke tempatku yang sederhana ini?", sapanya begitu tiba di belakang pria yang tak lain adalah mertuanya sendiri, Baron Kingsley.
"Apa Anda tidak akan memintaku duduk lebih dulu?", baron tua itu membalikkan tubuh dan menatap tajam menantu yang tak pernah diakuinya ini.
"Ya, tentu saja. Silakan duduk Sir"
Hardy turut menghenyakkan dirinya pada salah satu kursi dalam ruangan itu. Secara gelar posisinya lebih tinggi daripada Kingsley, namun mengingat beliau ini mertuanya, maka dia menggunakan sapaan formal yang standar.
"Baiklah Lord Hardy, mengingat kita berdua punya sejarah yang tidak menyenangkan, Aku tidak akan bertele-tele. Seperti yang kita tahu putriku sudah meninggal dengan tragis dalam kecelakaan kemarin, maka aku berniat untuk mengambil satu-satunya peninggalan Rose, cucuku Anna"
"Maaf? Anda tidak sedang bercanda bukan?"
"Tentu saja tidak. Terus terang saja, aku ragu pria bermental lemah seperti Anda akan sanggup membesarkan anak itu dengan baik", kali ini kalimatnya diucapkan lebih lugas
Jhon sekuat tenaga menahan amarah yang menyeruak di dadanya. Bagaimana mungkin pria tua di depannya ini sanggup memisahkan dia dengan putrinya sendiri? Yang lebih penting lagi, pria ini bahkan sudah menegaskan tidak mau ikut campur dengan urusan mereka dulu.
"Dengan segala hormat Sir, seingatku Anda tidak pernah peduli dengan keluarga saya, bahkan Anda sendiri yang mengatakan, apapun yang terjadi pada Rose, bukan menjadi urusan Anda lagi. Lalu kenapa sekarang repot-repot untuk peduli?"
"Lord Hardy, Kuharap Anda tidak egois. Dulu Anda sudah memisahkan seorang ayah dari putrinya, lantas mengapa sekarang harus keberatan kalau Anna dipisahkan dari Anda?", sahutnya sambil menyandarkan tubuhnya yang jangkung
"Itu jelas logika yang keliru. Anda sendiri yang memisahkan diri dari kami. Bahkan ketika Rose sakit dan melahirkan, apa Anda pernah mengunjunginya?", hilang sabar, Jhon menyahuti Kingsley dengan intonasi yang meninggi
Baron Kingsley tercenung mendengar pertanyaan Hardy. Selama ini dia memang begitu marah pada putrinya, namun begitu hubungan darah tak bisa putus begitu saja. Selamanya akan ada ikatan antara dia dan putrinya, bahkan dalam kematian sekalipun.
"Benar aku marah pada putriku, juga menyesal selama ini tidak menunjukkan perhatian padanya", Lord tua terdiam sejenak, menyampaikan isi hatinya yang terdalam, " Namun perlu Anda ketahui dengan jelas kalau aku sama sekali tidak pernah membenci putriku"
"Apa gunanya Anda mengatakan itu sekarang Sir? Dan kepadaku pula? Sampaikan saja sendiri pada putri Anda kelak di surga"
"Cukup basa-basinya Lord Hardy, sekarang ijinkan aku membawa cucuku, Annabelle. Hanya dia satu-satunya peninggalan Rose di dunia ini", desak Kingsley tak sabar
"Hahaha, Anda lucu sekali Sir. Dalam dunia yang beradab ini seorang anak akan tetap tinggal dengan keluarganya sampai kapanpun itu. Sebagai seorang Hardy tentu saja Anna harus tinggal bersamaku di rumah ini, bukan begitu?"
John menatap geli wajah mertuanya yang semakin kecut itu lalu melanjutkan monolognya.
"Lagipula apa Anda tahu betapa menderitanya istriku selama ini? Karena ulah Anda, setiap hari Rose merasa bersalah. Lalu dengan gampang Anda ingin mengambil Anna sekarang? Huh, jangan-jangan namanya saja baru Anda dengar pagi ini"
Ada nada menantang yang kentara dalam suara Jhon. Kalau saja dia tidak mengingat pria ini kakek dari putrinya, tentu sudah sejak tadi beliau diusir. Pada saat ini sadarlah Baron Kingsley bahwa dia sudah kalah. Dibawa ke pengadilan pun Jhon tetap akan menang melawan klaimnya yang tak berdasar.
"Kalau begitu tolong ijinkan aku bertemu dengan cucuku. Sejak lahir aku belum pernah melihatnya sekalipun", gagal dengan ancaman, kali ini Kingsley menawar dengan cara halus, suaranya merendah dan memohon.
Namun sayang, Jhon sudah terlanjur kesal dengan sikap angkuh mertuanya barusan.
"Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Sir. Semuanya sudah jelas kusampaikan pada Anda, pungkasnya tegas, "Thomas tolong antarkan tamu kita keluar", dia memberi perintah mutlak tanpa memandang wajah asistennya.
Thomas yang sejak tadi berdiam diri, dengan sigap melangkah mendekati Kingsley.
"Mari saya antarkan, My Lord", tukasnya sopan
Tetapi Baron Kingsley tidak mengacuhkan ajakan Thomas. Pria tua yang keras hati itu tetap pada pendiriannya, ingin bertemu dengan Anna. Ditatapnya wajah Jhon lekat-lekat lalu dia bertanya lagi dengan nada yang lebih menekan.
"Apa Anda akan bertindak sekejam ini Lord Hardy? Hanya untuk menemui cucu sendiri pun, Anda tidak akan mengijinkan aku? Apa Anda yakin ini yang diinginkan Rose? "
"Tidak usah membawa-bawa nama istriku dalam masalah ini. Ayah yang kejam seperti Anda, tidak berhak melakukan hal itu"
"Jawab saja pertanyaanku. Apa Anda yakin ini yang diinginkan Rose? "
Pertanyaan Kingsley yang lebih lugas sukses membuat Jhon terdiam. Walaupun Baron Kingsley bukan ayah mertua yang baik, namun tak bisa dipungkiri dia ayah yang baik bagi Rose, setidaknya sebelum istrinya itu memberontak dan menentang perjodohan yang dibuat beliau.
Lagipula, sebagai seorang ayah tidak mungkin dia memisahkan Annabelle dari satu-satunya kakek yang tersisa, mengingat ayahnya sendiri, Viscount Hardy I sudah lama wafat.Dari sudut matanya dia memberi isyarat pada asistennya yang masih berdiri di sisi Baron Kingsley.
Thomas bergegas meninggalkan pasangan mertua dan menantu itu untuk menjemput Annabelle Hardy.
Sepeninggalnya, suasana benar-benar canggung, menit demi menit berjalan sangat panjang. Untuk mengusir kecanggungan itu, Jhon menuangkan dua gelas brandy, untuknya dan Kingsley. Pengaruh alkohol dari minuman membuat saraf yang sempat tegang mengendur kembali.
"Lady Annabelle Hardy sudah tiba, My Lord", ucap penjaga pintu
Kedua pria dewasa itu segera menandaskan brandy yang tersisa dalam gelas mereka. Setelahnya seorang gadis belia berusia sekitar sepuluh tahun memasuki ruangan itu. Walau sedikit canggung, namun langkahnya tetap anggun dan terjaga.
Dalam hatinya Kingsley memuji sikap dan gesture tubuh cucunya yang sesuai dengan etika gadis bangsawan.
"Selamat pagi Ayah", sapa gadis itu setelah melakukan curtsy pada Lord Hardy.
"Sapalah kakekmu Anna, perkenalkan ini ayah dari ibumu, Baron Kingsley", Jhon menyahut singkat.
Anna melakukan curtsy sekali lagi dan menyapa pria tua yang baru kali ini dilihatnya.
"Grandpa"
Namun bangsawan Kingsley hanya terpaku. Matanya tampak berkaca-kaca sedangkan mulutnya bergetar seolah hendak mengucapkan sesuatu.
"Putriku..putriku Rose sudah kembali. Sini Nak, peluk ayah. Aku..aku sangat merindukanmu"
Wajah Annabelle sangat mirip ibunya, terutama mata hazel dan rambut ikalnya yang coklat gelap. Satu-satunya yang mirip dengan Hardy dari fitur wajah itu hanya dagunya yang tajam dan indah.
Reaksi Baron tua di depannya membuat Anna bingung, hanya bisa terpaku di tempatnya. Melihat cucunya tidak merespon ucapannya, Kingsley jadi melupakan etika-nya dan menghambur memeluk cucunya.
"Anakku Rose, maafkan ayahmu yang jahat. Anakku, maafkan aku", berulang-ulang kalimat ini menggema di aula yang hening itu, bagai mantra yang dibacakan para shaman.
"Sir, tolong kendalikan diri Anda. Itu bukan Rose", tegur Jhon pada mertuanya.
Namun baron terlalu larut dalam emosinya untuk mendengar peringatan itu. Dia terus menangis sambil meracau menyatakan permohonan maaf yang mengibakan hati.
Setelah sekian lama, akhirnya beliau tenang lalu pelan-pelan menatap gadis muda di depannya.
"Maafkan kakek cucuku"
"Ya grandpa, tidak apa-apa"
Anna merasa heran dengan dirinya. Selama ini dia tahu jika dirinya bukan orang yang mudah akrab dengan orang asing, malahan Marie selalu menyebutnya gadis kaku dan tidak bisa berbasa-basi. Entah kenapa pelukan lelaki tua yang mengaku sebagai kakeknya ini membuat dia tenang, tidak merasa risih sama sekali, seolah-olah dia sudah kenal lama dengan beliau.
"Terimakasih Lord Hardy sudah mengijinkan aku bertemu dengan cucuku. Kuharap Anda merawat dia dengan baik, kalau tidak aku pasti akan menjemputnya," Sifatnya yang dominan sudah terpatri, dalam situasi terdesak pun masih mengintimidasi pihak lawan, "Walaupun dia seorang Hardy, dalam tubuhnya juga mengalir darah Kingsley, aku bisa merasakannya" Ucapnya serius.
Lalu Baron Kingsley menunduk sampai tingginya sejajar dengan cucunya. Ditatapnya wajah Anna penuh cinta sembari berucap.
"Hiduplah dengan baik cucuku, buat ibumu bangga padamu. Kakek akan datang lagi mengunjungimu"
Lalu Baron mengusap pelan air mata Anna yang entah sejak kapan sudah tumpah tanpa disadarinya. Setelah itu dia segera berdiri dan mengambil tongkatnya, meninggalkan kediaman Hardy tanpa menoleh lagi.
Anna masih terpekur di posisinya semula, rasa aman yang didapatnya sekejap tadi mendadak sirna, digantikan oleh perasaan sungkan terhadap keberadaan Hardy.
"Kembalilah belajar pada Ms. Emily"
Teguran datar ayahnya menyentakkan dia kembali ke dunia nyata.
Anna menatap mata ayahnya, ingin mengatakan betapa dia merindukan sosok laki-laki hangat yang dulu. Namun Lord Hardy segera membuang pandang, tak mau lagi berlama-lama ada di ruangan yang sama dengan putrinya.
Akhirnya Annabelle hanya bisa menunduk pasrah, meninggalkan ayahnya dalam dunianya sendiri.
***
Malam itu Jhon minum-minum di sebuah bar eksklusif untuk kaum bangsawan dan orang-orang berpengaruh di county. Ucapan mertuanya yang mengatakan dia seorang pengecut serta tatapan terluka di mata Annabelle, mengejarnya bagai jerit kematian.
Ditenggaknya lagi whisky yang sudah hampir habis digelasnya. Ini entah sudah gelas keberapa yang diisi Thomas untuknya.
"Aku rasa sebaiknya kita pulang, My Lord. Terlalu banyak alkohol akan membuat asam lambung Anda semakin parah"
"Oh, diamlah Thomas si perusak pesta. Kau ini seperti orangtua dari abad pertengahan, kaku dan membosankan"
"Hahaha, Anda benar My Lord. Sejak tadi wajah Thomas terlihat pucat seperti melihat hantu hanya karena minuman whisky ini", Mr. Edward pejabat sheriff lokal disini turut menambahkan
Ocehan Edward disambut gelak tawa riuh di meja panjang yang terdiri dari lima pria dewasa itu. Mereka merupakan kelompok tetap pengunjung bar yang juga dikelola oleh putra bangsawan ini.
"Kudengar tadi pagi Kingsley tua mengunjungimu, benarkah itu My Lord?", tanya Philip Graham, keponakan Earl of Pembroke.
"Ya Phil, dia memang datang berkunjung tadi pagi. Lucunya lagi, dia berniat mengambil Annabelle dariku padahal selama ini dia tak pernah peduli dengan putriku?", Jhon menenggak whisky-nya untuk kesekian kali
"Kenapa tidak kau berikan saja Jhon, daripada kau harus repot-repot membesarkan seorang anak kecil. Kuperingatkan kau kawan, membesarkan seorang anak kecil itu tidak mudah", Earl of Pembroke, bangsawan paling tua dalam kelompok ini memberi saran berdasarkan pengalamannya.
"Saya tahu, My Lord tapi tak mungkin saya akan menyerahkan Anna pada kakeknya, dia satu-satunya yang kumiliki saat ini", lalu Jhon menandaskan isi gelasnya dan menambahkan, " Kalau dia pergi juga, apa lagi yang tersisa? Aku sudah kehilangan segalanya"
"Ya, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, seperti dagingmu tercabik dari tulangmu. Sakitnya tidak tertahankan", balas Earl of Pembroke, Alex Graham.
Setiap berbicara tentang kehilangan, mau tak mau ingatannya akan melayang pada putra satu-satunya, Collin Graham yang gugur dalam perang Krimea. Sejak kehilangan putranya, sang Earl lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjudi dan mabuk-mabukan, tak peduli lagi dengan tugas utamanya di parlemen.
Collin, sebagaimana para leluhurnya, adalah pemuda yang aktif dalam militer. Di antara rekan seusianya, karirnya yang paling menonjol. Jhon Hardy sendiri salah satu rekan anaknya yang terjun dalam perang Krimea itu. Bedanya, Jhon kembali dalam keadaan hidup sedangkan putranya sudah menjadi mayat. Mau tak mau dia harus menyiapkan keponakannya, Philip untuk menjadi pewaris gelarnya kelak.
"Mari bersulang untuk hari esok yang lebih baik", tukas Viscount Sybil untuk meredakan suasana muram di meja mereka. Dia merupakan salah satu bangsawan yang seumuran dengan Jhon.
"Untuk hari esok yang lebih baik", sahut mereka serempak.
Kelima pria itu melanjutkan perbincangan mereka tentang banyak hal, termasuk kebijakan sosial dan politik yang diterapkan penguasa baru mereka, Ratu Victoria.
Hari sudah larut ketika Viscount Hardy kembali ke manor-nya. Hanya lampu di aula utama yang masih menyala terang, sementara itu para pelayan yang bertugas jaga malam hilir mudik di sekitar kastil sambil membawa lilin dan obor untuk penerangan.
Jhon Hardy segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Namun begitu dia mencapai anak tangga pertama, suara Anna terdengar menyapa dari belakang.
"Papa, Anda sudah pulang? "
"Ya, mengapa masih belum tidur?", matanya menyipit menatap putrinya yang keluar bertelanjang kaki dalam piama tidurnya.
Menyadari kesalahannya dalam berpakaian, Anna segera mendekap tubuh dengan kedua tangannya.
"Maaf Papa, aku buru-buru ingin menemui Anda, sehingga tidak berpakaian dengan pantas"
"Hmmm, lain kali jangan diulang. Boleh aku tidur sekarang?", tanyanya tak sabar
"Papa, Saya harap Anda bahagia selalu. Maafkan saya sudah menjadi penyebab kesedihan Anda. Kalau bisa memilih.. Aku..lebih baik mati menggantikan Mama", tukasnya tercekat
Ada rasa bersalah yang terbit di hati Jhon mendengar ucapan putrinya, namun cepat-cepat ditepisnya rasa itu.
"Jangan konyol Annabelle Hardy, sekarang kembali ke kamarmu dan tidurlah"
"Tolong dengarkan saya Papa. Kalau sekiranya ini bisa membuat perasaan Anda lebih baik, kumohon temukan cinta yang baru. Menikahlah lagi Papa... "
Clayton Hall
James Howard, Marquess of Arlington IV, terpekur menatap langit-langit kamarnya yang dilukis dengan gambar-gambar tubuh manusia menyerupai karya Michelangelo yang termasyhur itu. Mengungkapkan dosa masa lalu memang selalu sulit meski pada putramu sendiri.
Namun begitu, tak banyak pilihan yang tersisa untuknya. Dia bisa merasakan malaikat maut itu sudah sangat dekat, bahkan hembusan napasnya yang dingin serasa meniup tengkuknya, membuat tubuh ringkih itu makin menggigil.
"Ayah, katakan padaku apa rahasia yang hendak Anda ungkapkan?", tanya George Howard putra satu-satunya yang sebentar lagi akan mewarisi gelarnya.
"George, Anakku ini menyangkut dosa masa laluku. Kuharap kau bisa memaafkan ayahmu yang sekarat ini. Sebenarnya Nak,..sebenarnya kau punya saudara tiri yang usianya lebih tua tiga tahun darimu"
"Maksud ayah?"
"Ya, aku punya seorang putra tidak sah. Waktu itu aku tidak sabar lagi, karena ibumu tak kunjung hamil. Di malam yang kelam itu aku mengunjungi rumah hiburan madame Cecil bersama rekan-rekanku. Awalnya hanya ingin minum sedikit karena frustasi atas desakan nenekmu yang memintaku segera punya pewaris, namun siapa sangka aku malah tergoda dengan salah satu penari yang bekerja disana hingga..hingga akhirnya dia hamil anakku", tambahnya terbata-bata.
George berusaha keras mencerna ucapan ayahnya. Tak sekalipun terbersit di benaknya jika ayah yang amat dikaguminya ini ternyata seorang pezina yang menyedihkan. Tetapi apa lagi yang bisa dia katakan, tak mungkin dimarahinya pria tua yang sekarat.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi yang mulai menguasai pikiran naif-nya, yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan.
"Jadi, dimana penari ini tinggal sekarang?", selidik George sambil menatap ayahnya
"Di sebuah rumah sederhana yang kubelikan untuknya, tak begitu jauh dari lahan peternakan kita"
"Apakah ibu selama ini tahu jika Anda memelihara mistress di luar sana?", ada penekanan tersendiri pada kata 'memelihara'. Dari dulu dia selalu membenci wanita yang mengincar pria-pria kaya untuk bertahan hidup.
"Ya, ibumu sudah tahu sejak awal George", balas sang marquess lemah
James tidak pernah sanggup menyembunyikan apapun dari istrinya, Mary Collins. Kejujurannya ini pula yang membuat terciptanya duri tajam dalam pernikahan mereka yang bahagia.
Marchioness terdahulu merupakan perempuan yang terkenal pada masa debut-nya. Bukan apa-apa, Mary selain cantik juga cerdas dan baik hati. Namun begitu, dibalik sikap lembutnya, dia juga perempuan keras hati yang tidak sudi berbagi kasih dengan perempuan lain.
Makanya begitu tahu suaminya memiliki anak dari perempuan lain, tak menunggu lama dia langsung bersiap mengajukan gugatan cerai walau itu akan jadi skandal yang memalukan.
Sayangnya, saat itu pula ketahuan jika dia sedang hamil. Demi masa depan putranya, Mary menahan diri tetap hidup bersama Marquess Howard namun dia tidak pernah sudi lagi menatap wajah suaminya hingga akhir hayatnya sepuluh tahun silam.
"Jadi apa yang hendak Ayah lakukan terhadap perempuan itu dan anaknya?"
"Ayah hanya mau kalian hidup akur. Mungkin tidak bisa seperti saudara kandung pada umumnya tapi kumohon jangan membencinya, bagaimanapun kalian berdua adalah anakku", mata pria tua itu memelas menatap putranya.
"Lantas kalau aku tidak mau bagaimana? Tak mungkin Ayah mengharapkan aku bermurah hati pada orang yang sudah membuat ibuku patah hati bukan?"
Kemarahan terpancar jelas dari wajah tampan George. Pantas saja selama ini senyum ibunya terlihat dipaksakan, tatapan matanya selalu sendu seolah ada beban berat yang menggelayut di pundaknya. Jangan-jangan beban pikiran ini pula yang membuatnya meninggal di usia muda, hanya empat puluh dua tahun.
"Kalau Kau memang tidak sudi, tak ada yang dapat kukatakan lagi George. Bagaimanapun, sebentar lagi aku pasti akan meninggal, setidaknya kejujuran adalah hal terkecil yang bisa kulakukan menjelang kematianku"
Uhuk..uhuk..uhuk
Batuknya semakin hebat, sampai-sampai George sendiri ikut kesulitan menarik napas hanya dengan mendengarnya.
Dia segera membantu ayahnya agar berbaring dengan posisi yang lebih nyaman sementara dokter pribadi keluarga mereka juga dengan cekatan memberikan segelas teh hangat dan obat yang sebetulnya tidak lagi berguna bagi James.
Keadaan ayahnya yang makin kepayahan membuat George berubah pikiran. Walaupun dia masih murka dicobanya untuk berpikir dengan jernih.
"Dimana putra tidak sah Anda itu sekarang?"
Sang Marquess memberi isyarat pada Edgar, asisten pribadinya agar segera membawa masuk seseorang yang sudah menunggu di luar sejak tadi. Dia memang sudah mempersiapkan kedatangan putranya itu hari ini.
Tak lama Edgar kembali dengan seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Marquess of Arlington waktu muda dulu. Meski George enggan, mau tak mau harus diakui kalau pria yang baru masuk ini jauh lebih mirip dengan ayahnya dibanding dirinya. Wajah George lebih mirip keluarga dari pihak ibunya.
"Baik George, perkenalkan ini saudaramu yang kuceritakan barusan, David Howard"
Dengan susah payah, James Howard menoleh pada David lalu mengulangi monolog-nya.
"David, ini saudaramu yang lebih muda namanya George Howard"
Kedua pria dewasa itu saling tatap satu sama lain, mencoba menilai lawan mereka masing-masing. Mata George menyipit menatap kakaknya yang pirang dan jangkung, ada rasa akrab yang mencebik di hatinya.
Andai saja David dilahirkan dari rahim ibunya, George pasti sangat menyukainya. Tubuhnya kekar dan bidang, sorot matanya tajam dan berkharisma, persis sang Marquess. Walau bukan dibesarkan dikalangan bangsawan, namun aura yang mulia melingkupi seluruh tubuhnya.
Sementara dia sendiri sejak kecil selalu lemah dan sakit-sakitan, mungkin karena ibunya dalam keadaan sakit hati waktu mengandung. Dokter pribadi keluarga mereka bahkan sudah mendiagnosis jantung George tidak kuat untuk melakukan aktifitas fisik yang berat.
"Ehem"
Deheman James menyadarkan keduanya dari aksi saling menilai itu. Segera mereka mengangguk satu sama lain sebagai bentuk sapaan
"Mendekatlah kemari Anak-anak, agar aku bisa berpamitan dengan layak sebelum menemui ibu kalian", cetus James sambil merentangkan kedua tangannya.
Kedua putra Marquess Howard mendekat, George di sebelah kanan sedangkan David di sebelah kiri.
"David anakku, mungkin ini sudah terlambat namun aku harus minta maaf padamu. Sejak kecil sampai sekarang aku hampir tak pernah ada dalam kehidupanmu. Kau selalu jadi aib yang harus ditutup-tutupi karena gelar dan status sosialku, padahal lahir ke dunia ini bukanlah inginmu"
James Howard terisak dalam kesedihan. Mendekati ajal yang sudah didepan mata, manusia memang selalu jadi rapuh.
"Namun David dalam hatiku yang terdalam, aku tidak pernah membencimu. Malahan, aku selalu berandai-andai jika sekiranya aku bukan pewaris, mungkin aku tak perlu sungkan untuk mengurus dirimu dengan baik. Kumohon maafkanlah ayahmu yang pengecut ini Nak"
"Ya, Sir" Balas David singkat.
Tak ada hal yang dapat diucapkan pada manusia yang sudah di ambang kematian. Walau hatinya tak bisa menerima takdir sebagai anak haram seorang bangsawan, apa lagi yang bisa dilakukannya?
Selesai dengan David, marquess menoleh ke sebelah kanannya, menatap George putra termudanya yang tertunduk lesu.
"Anakku George ayah juga minta maaf padamu. Meski ayah berusaha memberikan segala yang terbaik bagimu, namun pada akhirnya aku harus mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi ayah yang sempurna untukmu. George, jadilah penerusku yang lebih baik dan mengabdilah pada negara kita dan her majesty"
Selesai dengan permintaan maafnya, James memegang kedua tangan anaknya dan menarik mereka lebih dekat padanya.
"Permintaan terakhirku untuk kalian berdua, hiduplah dengan damai, saling dukung sesama saudara dan jangan ada jurang di antara kalian. Mengenai wasiat dan pembagian warisan, pengacara keluarga kita akan membacakannya setelah kematianku"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, James meminta mereka untuk merebahkan dirinya. Lalu dia meletakkan tangan di depan dadanya sambil tersenyum. Sebentar lagi penantiannya akan berakhir, dia bisa melihat Mary di ujung sana sedang menunggunya. Binar mata itu masih secantik dulu, waktu pertama kali mereka bertemu.
"Sekarang, keluarlah kalian dari kamarku. Pasti banyak yang ingin kalian bicarakan, biarkan aku beristirahat sebentar", perintahnya tegas.
***
George berdiri di ruang perpustakaan keluarganya, menatap kejauhan dari jendela model perancis yang besar itu. Sebelah tangannya yang putih pucat di masukkan dalam saku celananya.
Sementara itu David yang duduk di salah satu kursi disana, takjub menatap deretan buku yang memenuhi ruangan. Buku bukanlah teman terbaik bagi pria berjiwa bebas sepertinya, yang hidup liar di pasaran bersama para begundal lain. Dia merasa kasihan dengan masa muda George yang harus berkutat dengan buku setiap hari.
Selain buku, ada juga dua buah pedang yang diletakkan secara bersilang di dinding. Jika ditilik dari sarungnya yang masih baru, pastilah pedang itu pajangan semata, hampir tidak pernah digunakan walau sekedar berlatih. Tangan George yang lembut dan pucat sudah cukup menceritakan segalanya.
"Katakan padaku apa maksud kedatanganmu kemari?", tanya George singkat
"Tidak ada maksud apapun, ayahmu yang tiba-tiba memintaku datang", David menyahut tak acuh
"Ayahmu? Hmmm, menarik sekali. Untung Kau cukup sadar diri untuk tidak menganggap dirimu bagian dari keluargaku. Lantas apa rencanamu selanjutnya?"
"Tentu saja segera angkat kaki dari sini begitu pria tua itu meregang nyawa", sahut David kasar
Tanpa basa-basi dia meregangkan tubuh lalu merebahkan diri di kursi panjang yang ada dalam ruangan itu. George hanya bisa menggerutu dalam hatinya melihat sikap David yang kurang ajar. Lagipula apa yang bisa dia harapkan dari anak tidak sah yang hidup liar di antara jelata.
"Bagus kalau Kau cukup tahu diri untuk tidak menunjukkan dirimu di hadapan khalayak ramai. Bagaimanapun 'sesuatu' seperti dirimu ini memang bukan hal yang pantas untuk dipamerkan dalam pergaulan manusia beradab"
"Ya, tentu saja. Para bangsawan sepertimu selalu memaksakan diri terlihat sempurna padahal kenyataannya kelakuan kalian tak lebih baik dari rakyat jelata. Setidaknya kaum jelata seperti kami ini mau mengakui kesalahan, tidak seperti kalian yang sibuk menutupinya, sungguh munafik "
Jawaban David membuat kening George mengernyit jijik. Pria di depannya ini selain tidak tahu etika juga bermulut lancang dan kasar.
"Berani sekali Kau mengatai kami munafik? Ada bukti yang bisa menguatkan argumenmu? Jangan sembarangan bicara", dia menatap David tajam dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Alisnya yang tebal dan gelap saling bertaut.
"Buktinya? Hah, ada banyak bangsawan yang punya anak tidak sah di luar sana. Sebagian malah rela untuk mengadopsi ulang anak tersebut demi menutupi aib. Lagipula kenapa harus repot-repot mencari bukti? Pria sekarat di ruang sana itu bisa menjadi bukti yang nyata, iya kan?", jawabannya yang kasar dibarengi dengan mimik wajah menyebalkan.
"Kurang ajar Kau, dasar anak ha-ram bajingan. Akan kutonjok mukamu yang menyebalkan itu"
George bergegas menggulung lengan bajunya, mendadak mengayunkan tinju pada David yang sedang rebahan santai.
Sekali, dua kali, pukulan itu telak mengenai mata dan rahang David, membuatnya jatuh tersungkur di lantai yang dingin.
David mengusap sudut bibir dan pelipisnya yang berdarah. Matanya memicing menatap George yang dipenuhi amarah.
"Apa Kau serius ingin mengajakku berduel George? Ketika ayahmu sedang sekarat?"
"Kenapa tidak? Orang barbar sepertimu layak diberi pelajaran. Ayolah, apa kau takut padaku?", dia mendengus kesal, menatap David angkuh.
"Baik, kalau itu keinginanmu"
David bergegas bangkit lalu melayangkan tinjunya pada George, ternyata berhasil ditangkisnya. Tak menyerah, David langsung memberikan hook andalannya yang tepat mengenai wajah adiknya, disusul dengan jab cepat yang sukses membuat George tersungkur tak berdaya.
Pria terpelajar seperti George, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan buku dan pulpen tentu bukan lawan seimbang bagi David yang mengkhatamkan masa mudanya di pasaran.
"Mari berhenti sebelum penyakit ayahmu makin parah, George", David mengulurkan tangannya untuk membantu George berdiri
"Cuih, jauhkan tangan kotormu dariku. Kau pikir dengan mengulurkan tangan begini, aku bisa menyukaimu? Jangan harap!", serunya murka
"Wow, baiklah Tuan bangsawan yang mulia. Silakan berdiri supaya kita segera melanjutkan pertarungan ini", balasnya dengan senyuman mengejek
Susah payah George berusaha bangkit, namun tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Seluruh tulang dan ototnya terasa sakit, yang paling sakit dari semua tentu saja harga dirinya yang terinjak-injak.
Sebelum mereka sempat melanjutkan duel yang tertunda, Lucas asisten pribadi George masuk tergesa-gesa sampai melupakan etikanya.
"My lord, My lord, Anda harus bergegas sekarang. Lord Marquess sedang sekarat"
Keterangan:
Clayton Hall = Kediaman bangsawan Howard