Bab 1

“Wanita sialan! Jangan lari!” teriak seorang pria.

Seorang wanita berlari kencang melewati kerumunan manusia di jalanan kota. Banyak pasang mata mengarahkan pandangannya ke arah wanita itu, mereka mulai berpikir mungkin wanita itu adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.

Pasalnya dia terlihat begitu berantakan jika dibandingkan dengan orang-orang di jalanan kota. Dia mengenakan gaun tidur berwarna putih yang sudah tampak kotor oleh debu dan tanah, rambutnya tergerai berantakan dan kedua kakinya tidak memakai alas kaki sehingga terdapat banyak goresan di telapak kaki serta betisnya.

“Raveena Hesper! Tuan Hose pasti akan melemparkanmu ke kandang harimau jika tidak mau berhenti juga!”

Raveena menoleh sebentar, kemudian berteriak, “Dia juga akan melemparkanku ke kandang harimau bila sampai tertangkap oleh kalian!”

benar, Raveena tidak boleh sampai tertangkap.

Atau Raveena akan kembali tinggal di dalam neraka, entah sampai kapan.

BRAK!

Raveena menjatuhkan kotak-kotak kayu berisikan sayuran ke jalan, berusaha menciptakan penghalang agar dua pria itu tidak bisa mengejarnya. Pedagang sayur lantas berteriak, “Sialan! Kamu harus mengganti rugi daganganku!”

suasana perkotaan menjadi rusuh karena Raveena terus menjatuhkan banyak barang dagangan milik pedagang. Para pedagang yang mengira Raveena hanyalah orang gila lantas meminta pertanggung jawaban dari dua orang yang mengejar Raveena, mereka mengerubuni dua orang tersebut sehingga mereka kehilangan jejak Raveena.

Raveena mengulas senyuman tipis tatkala dua pria berbadan kekar itu tak mampu mengikutinya. Dia lantas masuk ke dalam gedung bertingkat 5 yang sudah terbengkalai. Bagian dalamnya sudah dipenuhi oleh debu dan kotoran tikus. Raveena menjepit hidungnya menggunakan jari, lalu menaiki tangga menuju atap.

Kritt.

Pintu di bagian atap sudah berkarat, sehingga menimbulkan suara derit tajam saat Raveena mendorongnya. Senyuman di wajahnya berangsung-angsur menghilang tatkala melihat sosok seorang pria yang berdiri di atas atap dengan kedua tangannya memegang sebuah senapan laras panjang, sebelah matanya berada di hadapan teropong kecil untuk membidik targetnya.

Dari tempat Raveena berdiri, dia hanya mampu melihat pria itu dari samping. Tubuh pria itu terlihat begitu tinggi, mungkin sekitar 190 cm yang dibalut oleh mantel panjang berwarna hitam.

Di mata Raveena, pria itu tampak seperti sungai yang tenang di bagian permukaan, tapi sebenarnya mempunyai arus yang deras di bagian dalamnya. Konsentrasinya bahkan sama sekali tidak terganggu meski baru saja mendengar suara pintu yang dibuka oleh Raveena.

“Pria itu berbahaya,” pikir Raveena.

Raveena ingin berlari pergi, tapi kakinya terasa kaku seolah dia sedang dipaku di tempat.

Dalam seperkian detik, Raveena bisa melihat pria itu menarik pelatuk tanpa meninggalkan bunyi senapan. Bubuk mesiu berterbangan di sekitarnya, membuat Raveena yakin bila pria itu baru saja menembak seseorang yang berdiri di bawah bangunan.

“Argghh!! Ada orang yang tertembak!” teriak seseorang.

Tak lama kemudian, ada orang lain yang turut berteriak dengan panik, “Panggil ambulan! Cepat panggil ambulan!”

suara kericuhan terdengar dari bawah gedung, pertanda bahwa pria itu berhasil membidik targetnya.

Pria itu telah membunuh seseorang.

Dan seharusnya Raveena segera pergi apabila ingin selamat.

Akan tetapi, tubuhnya begitu terkejut saat menyaksikan pembunuhan secara langsung sampai-sampai tak mampu bergerak.

Anehnya, Raveena hanya terkejut tapi tak merasa takut.

Usai menyelesaikan tugasnya untuk melenyapkan target, pria itu segera memasukkan senapan laras panjangnya ke koper, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menghiraukan keberadaan Raveena.

Tatkala berada di hadapan Raveena, pria itu berhenti. Kedua manik cobaltnya menatap Raveena lekat-lekat, terlihat seolah ingin menenggelamkan Raveena ke dalam laut apabila wanita itu sampai berteriak.

“Nona, kamu hanya perlu berpura-pura buta dan tuli hari ini supaya bisa hidup dengan tenang.” Suara bariton rendah terdengar dari bibir pria itu.

Raveena bergeming, dengan susah payah dia berusaha untuk membalas, “Apa kamu adalah pembunuh bayaran?”

“Tergantung perspektifmu saja,” tukas pria itu.

Secara tiba-tiba Raveena memegang lengan pria itu, kemudian menatapnya dengan penuh harapan. “Apa artinya kamu akan membunuh jika mendapatkan bayaran?”

pria itu menggendikan bahunya. “Tergantung.”

“Kalau begitu, bisakah kamu membunuhku?” tanya Raveena.

Keheningan menyambut mereka berdua. Pria itu memperhatikan wajah Raveena, tapi dia tidak menemukan adanya sedikitpun keraguan di raut wajah Raveena, seolah-olah wanita itu memang sudah siap untuk mati.

“Kenapa kamu ingin mati?” tanya pria itu.

Raveena mengangkat kepalanya, menatap langit biru yang terbentang tanpa batas. Tatapan mata hazelnya terlihat kosong saat dia berkata, “Karena seluruh kehidupanku tidak ada bedanya dengan neraka. Alih-alih terus bertahan di dunia, bukankah lebih baik bila pergi ke akhirat?”

“Oleh sebab itu, bisakah Tuan Pembunuh membantuku untuk pergi ke akhirat?”

seulas senyuman tipis terpatri di wajah pria itu, dia sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka. “Sayangnya, aku tidak bisa membunuh wanita dan anak-anak. Aku juga tidak suka membunuh seseorang yang sudah tidak memiliki minat lagi untuk hidup.”

Pria itu lantas menepuk kepala Raveena sekali, sebelum akhirnya berjalan melewati pintu untuk pergi keluar.

Dalam seperkian detik, Raveena membalikkan badannya dan menatap punggung tegap dari pria itu. “Jika memang tidak bisa membunuh, tidak bisakah kamu membantuku untuk keluar dari neraka di dunia ini?”

langkah kaki pria itu terhenti, lalu dia membalas tanpa menoleh, “Maaf, tapi aku tidak pernah membantu seseorang dengan Cuma-cuma.”

Raveena buru-buru menahan lengan wanita itu dan berkata, “Apa Tuan akan membantuku jika aku memberikanmu imbalan?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu, bisakah kita bertemu lagi di masa depan? Saat itu, aku mungkin memiliki sesuatu yang bisa kuberikan untuk Tuan.”

“Entahlah, Nona. Aku tidak pernah mengikat janji pertemuan dengan orang asing. Tapi, bila kita memang bertemu lagi, maka aku akan menantikan penawaranmu.”

Raveena bertanya, “Siapa namamu?”

pria itu melepaskan cengkraman tangan Raveena, lalu melangkah pergi. Ketika dia menuruni tangga, jawaban baru terdengar dari bibirnya dan menggema hingga ke telinga Raveena. “Cerano, panggil saja aku Cerano. Ketika kita bertemu lagi, maka aku akan menjadi iblis yang mengikat janji dengan kamu.”

Tak lama kemudian, Raveena mendengar ada suara langkah kaki lain yang menaiki tangga.

Itu adalah dua pria yang sebelum ini mengejarnya, dan tampaknya Raveena akan kembali diseret ke neraka.

Bab 2

Kensington Avenue, Philadelphia.

Lampu-lampu berwarna merah menyala terang dari bangunan-bangunan bertingkat empat yang berderet di sepanjang jalan setapak. Eksterior dari bangunan-bangunan itu tipikal, menggunakan dinding bata merah dengan hiasan tanaman rambat yang menjuntai hingga ke bawah. Pembeda dari semua bangunan itu hanyalah papan penanda yang menyala terang di atas pintu masuk.

Kawasan itu biasa dikenal dengan sebutan ‘Distrik Merah’, sebuah kawasan yang menampung manusia-manusia pencari dosa yang mampu menawarkan kenikmatan dunia. Di sudut-sudut jalan, ada banyak orang yang saling bertukar bubuk putih dan uang, mereka semua menghisap bubuk-bubuk itu seolah akan mati bila tidak menghisapnya.

Wanita-wanita dengan riasan tebal dan pakaian mini memenuhi pinggiran jalan setapak, berusaha menggoda setiap pria yang lewat dengan memperlihatkan belahan buah dada mereka yang menantang. Suara tawa memenuhi jalan, entah itu tawa menggoda atau candaan tak senonoh yang saling terlempar.

Seorang pemuda berjalan masuk ke salah satu bangunan yang menawarkan banyak wanita cantik sebagai penghibur malamnya. Papan penanda bertuliskan ‘Man’s Cup of Tea’ berkelap-kelip di atas pintu masuk, seolah mau mengundangnya untuk segera masuk.

“Nyonya, apa masih ada wanita yang kosong?” tanya pemuda itu kepada seorang wanita separuh baya yang menjaga meja resepsionis.

Permukaan kulitnya yang keriput bertambah keriput saat dia tersenyum. “Silahkan naik ke lantai 3, di sana masih ada banyak wanita-wanita cantik yang kosong.”

Pemuda tersebut lantas pergi ke lantai 3 dengan wajah sumringah, tidak sabar untuk menghabiskan malam panas dengan seorang wanita cantik. Tatkala kakinya memasuki lantai 3, dia melihat ada seorang wanita yang duduk di tepi jendela.

Namanya adalah Raveena Hesper, salah satu wanita penghibur yang ada di distrik merah tersebut.

Kedua mata Raveena memandang ke arah bawah, memperhatikan setiap laki-laki yang berjalan melewati rumah bordil sambil sesekali bersiul kepadanya. Dari pandangan para pria, sosok Raveena Hesper sangat menawan dan tampak seperti manekin yang sengaja diletakkan di pinggir jendela oleh pemilik rumah bordil.

Kulitnya secerah mutiara, terlihat berkilau setiap kali cahaya merah memantul di atas permukaan kulitnya yang mulus. Bentuk matanya tampak seperti persik, maniknya yang berwarna hazel mampu menjerat para pria yang menatap wanita itu dengan pandangan penuh nafsu.

Pakaian yang ia kenakan adalah sebuah dress hitam ketat tanpa lengan, sehingga permukaan kulitnya banyak yang terekspos keluar.

“Hei, cantik. Kamu masih kosong kan? Ayo temani aku di kamarmu, nanti aku akan memberikanmu banyak uang,” tegur pemuda di belakangnya.

Raveena menoleh, memperhatikan pria itu dari bawah ke atas sebelum menjawab dengan intonasi datar, “Pergilah, aku enggan bermalam dengan pria miskin.”

“Apa maksudmu?! Beraninya kau mengataiku miskin!” teriak pria itu.

Mata Raveena kembali menatap lurus ke arah pemuda di hadapannya, seolah tengah menghakimi pria itu. “Sepatumu barang imitasi, pakaian yang kau kenakan seluruhnya tidak mempunyai merk atau mungkin kau membelinya di pasar loak. Permukaan kulitmu tidak mulus, pertanda kalau kamu kerja di lingkungan yang keras, mungkin sebagai tukang angkat barang.”

Pemuda itu merasa kesal, lalu berteriak lagi, “Lantas kenapa jika aku orang miskin?! Setidaknya kau akan kubayar kalau menemaniku.”

“Besok kamu akan kelaparan jika menggunakan uangmu untuk menikmati wanita. Pulanglah dan beli bahan makanan untuk besok.”

“Wanita kurang ajar! Bisa-bisanya kamu menghina seorang pelanggan, aku akan mengajukan keluhan ke pemilik rumah bordil ini!”

Raveena mengacuhkannya dan kembali menatap hiruk pikuk perkotaan di bawah jendela. Pemuda itu pun akhirnya kembali turun untuk mengadu seraya menyentakkan kakinya di atas lantai.

Beberapa saat kemudian, pemilik rumah bordil, Hose Wilson mendatangi Raveena di lantai tiga. Suara langkahnya teramat berat, menyentak-nyentak seolah ingin memberikan isyarat bahwa dia sedang marah.

“Raveena! Kenapa kamu selalu saja membuat masalah dengan tamu?!” Hose berteriak keras, wajahnya merah padam dan ia begitu muak saat melihat wajah Raveena yang selalu membangkang.

“Dia miskin, aku tidak suka,” balas Raveena.

“Perduli setan jika dia memang miskin! Hal yang seharusnya kamu perdulikan itu hanyalah cara untuk memuaskan pelanggan! Sekarang usiamu sudah hampir 22 tahun, tapi belum satu pun tidur dengan pelanggan. Apa kau tidak merasa malu karena sudah makan di sini tanpa bekerja?!”

Raveena menurunkan kakinya ke permukaan lantai, kemudian menutup jendela di belakangnya. Keningnya berkerut sedikit saat dia berkata, “Bagaimana bisa kamu menganggapku tidak bekerja? Aku selalu membersihkan tempat ini setiap hari dan mencuci seluruh seprai yang dipenuhi oleh lendir busuk. Apakah itu tidak cukup?”

“Tempat ini adalah rumah bordil, bukan tempat untuk mendidik asisten rumah tangga!” hardik Hose.

Wajah Hose merah padam, pria itu tidak sanggup berdebat dengan Raveena di koridor, karena dia tidak mau pertengkaran mereka sampai membuat para tamu melarikan diri.

Hose akhirnya menarik tangan Raveena dan membawanya pergi ke sebuah ruangan yang terletak paling jauh dari ruangan para tamu. Begitu menutup pintu, Hose mendorong Raveena dengan kasar sampai wanita itu terjerambat jatuh ke lantai.

“Gunakanlah otakmu sedikit! Jika kamu ingin segera meninggalkan rumah bordil, maka kamu harus bekerja dengan melayani tamu supaya hutang pembelianmu dapat lunas!” bentak Hose.

Raveena menghela napas. “Percuma, mau bekerja sampai mati pun hutangku tidak akan lunas. Kamu mengambil 95 % dari hasil pekerjaan para wanita penghibur di sini, sehingga mereka tidak mampu menghasilkan banyak uang. Karena itu Tuan Wilson, lebih baik aku tidak perlu melayani para pria hidung belang itu sama sekali.”

“Kau!” Hose naik pitam, ia lantas mengambil sebuah tongkat rotan dan berteriak, “Hadapkan telapak tanganmu ke atas!”

walau Raveena merasa enggan, dia tetap menuruti perintah Hose. Lagipula, pria itu tetap akan melakukan cara lain untuk memaksa Raveena mengangkat tangannya jika dia tidak mau.

Tak!

tongkat rotan dipukulkan ke telapak tangan Raveena, begitu kuat dan terdengar nyaring hingga menggema di ruangan. Raveena meringis pelan, berusaha menahan rasa sakit yang sudah biasa ia terima.

“Kamu seharusnya tidak boleh membantahku!” teriak Hose.

Tak!

“Apa gunanya kamu di sini jika tetap perawan hingga berusia 22 tahun!”

Tak!

“Minggu lalu kamu bahkan berusaha kabur dari tempat ini! Apa hukumanku minggu kemarin masih belum cukup?! Apa membuatmu kelaparan tidaklah cukup?! Haruskah aku menguncimu di luar saat badai salju datang?!”

Tak!

Tak!

Tak!

tongkat rotan dipukulkan berulang kali tanpa kenal ampun. Bagian rotan yang kasar menggores kulit Raveena, membuat telapak tangannya mempunyai luka-luka kecil yang mengeluarkan darah.

Hukuman ini bukanlah hal yang baru untuk Raveena.

Dia telah tinggal di rumah bordil ini sejak berusia 12 tahun, telah menerima berbagai macam perlakuan buruk dari Hose karena Raveena menolak untuk melayani tamu yang datang. Jika Hose memaksanya, maka Raveena akan memukuli tamu yang menyewanya, berusaha supaya tubuhnya tidak disentuh oleh para pria berhidung belang.

“Mereka tidaklah layak,” batin Raveena.

Tok. Tok.

Suara ketukan pintu dari luar membuat Hose berhenti mengayunkan tongkat rotannya. Jika dihitung, Hose mungkin sudah memukul Raveena sebanyak lima puluh kali lebih, sehingga kedua telapak tangan wanita itu terasa kebas dan tampak bengkak.

“Ada apa?!” tanya Hose tanpa membuka pintu.

Pelayan yang berdiri di depan pintu membalas, “Ada seorang pria yang ingin menyewa seorang wanita cantik yang masih perawan.”

Hose, “Mengapa dia menginginkan perawan? Katakan kepadanya kita hanya menyewakan perawan dengan harga tinggi.”

“Anda tidak perlu khawatir,” pelayan itu berkata, “Dia sudah memberikan satu koper berisikan ratusan ribu dollar kepada resepsionis.”

Usai mendengar hal itu, buru-buru Hose membuka pintu dan menghampiri pelayannya. Dia berkata, “Cepat panggil seluruh perawan yang ada di rumah ini dan suruh mereka semua berbaris di lantai 3.”

“Saya mengerti.”

“Tuan Wilson, seluruh perawan di rumah ini masih berusia di bawah 18 tahun. Mereka terlalu belia untuk melayani seorang pria mesum sepertinya,” ujar Raveena.

Bayangan seorang pria berbadan tambun dan berpenampilan tua muncul di benak Raveena. Dia berpikir, hanya pria kaya dan mesum saja yang rela membayar mahal untuk para perawan. Raveena takut, pria itu akan berperilaku kasar dan membuat gadis-gadis di bawah umur itu trauma.

“Kamu tidak boleh menyerahkan mereka!” seru Raveena. Kedua manik matanya yang sebelum ini kosong jadi dipenuhi oleh kekhawatiran.

Hose tertawa, “Jika tidak mau anak-anak di bawah umur itu tidur dengan seorang pria kaya yang cabul, maka kamu harus mengajukan diri dan melayani pria itu dengan baik.”

“Raveena, ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membuatku terkesan. Karena jika sampai besok kamu belum menghasilkan sepersen pun uang, aku akan melemparkan tubuhmu ke sungai dingin dan membiarkan kamu membeku sampai mati.”

Hose lantas berjalan keluar dan membanting pintu, meninggalkan Raveena seorang diri di dalam ruangan yang gelap itu. Raveena perlahan menutup matanya dan menghela napas. “Sepertinya menjadi perawan sampai mati memang mustahil untukku.”

• • •

Raveena berdiri di paling pinggir barisan, terlihat ingin mengaburkan keberadaannya. Namun, wajahnya tetap saja tampak paling bersinar di antara wanita yang lain.

“Aku takut,” bisik seorang gadis di sebelah Raveena. Namanya adalah Vallerie, dia baru berusia 15 tahun, tahun ini.

Raveena mengelus kepala Vallerie. “Tidak apa-apa, kamu tidak akan dipilih.”

Netra Raveena lantas mengarah kepada gadis-gadis lain yang berbaris di sebelah Raveena. Semuanya masih berusia di bawah 18 tahun, biasanya Hose tidak akan menjual mereka sebelum berusia 18 tahun, tapi tamu kali ini menawarkan sejumlah uang yang sangat besar sehingga Hose tak lagi perduli dengan mentalitas para gadis di bawah naungannya.

“Siapapun yang ingin menyewa seorang perawan di bawah umur pastilah pria bejad,” pikir Raveena.

Suara langkah kaki yang menaiki tangga terdengar. Satu langkah terdengar ringan, sedangkan langkah satunya terdengar berat, pertanda bahwa orang itu mempunyai tubuh yang besar.

Raveena membantin, “Bagus, mungkin aku akan disewa oleh pria tua yang tambun dan buruk rupa.”

Akan tetapi, pemikiran buruk tentang fisik pria itu langsung terbantahkan begitu Raveena melihat Hose dan tamu itu muncul dari tangga.

Kedua pupil mata Raveena membulat, tangannya yang dibalut oleh perban bergetar hebat dan dia merasa kesulitan untuk bernapas.

Pria itu, Raveena pernah melihatnya.

“Cerano, dia adalah Cerano,” bisik Raveena, suaranya hampir tidak bisa didengar oleh orang lain.

Cerano.

Seorang iblis yang berjanji untuk mengikat perjanjian dengan Raveena apabila mereka bertemu kembali.

Penampilan Cerano tidak begitu mirip dengan penampilannya satu minggu lalu.

Jika di pertemuan pertama mereka Cerano terlihat dipenuhi oleh aura dingin dan kekejaman yang ketara. Kali ini auranya terlihat lebih ramah, meski tetap saja aura ketegasan yang menyeramkan itu masih tertinggal sedikit.

Tubuhnya yang menjulang tinggi dibalut oleh kemeja hitam dan mantel berwarna cokelat tua, membuatnya terlihat seperti seorang pemuda kantoran yang ingin mencicipi perawan untuk melepaskan stress.

“Kesepuluh wanita di sini adalah para perawan. Tuan tentu boleh memilih satu yang sesuai dengan selera Anda,” papar Hose.

Cerano melangkahkan kakinya dan melewati para gadis, matanya menatap mereka seperti seekor elang yang ingin mencengkram mangsanya. “Mereka masih sangat muda, mungkinkah masih di bawah 18 tahun?”

Hose mengejar langkah Cerano dan menjawab sambil berkata, “Ya, Anda benar! Bukankah lebih menyenangkan mencoba perawan yang masih belia? Mereka masih sangat segar dan tidak berpengalaman.”

Ketika berada di hadapan Vallerie, Cerano menghentikan langkahnya. Dia lantas memegang rahang Vallerie dan memperhatikan setiap sisi wajah dari gadis itu. “Berapa umurmu?”

“Lima ... Lima belas tahun, Tuan,” kata Vallerie dengan grogi. Tubuhnya gemetar hebat akibat merasa takut, tatapan Cerano yang tajam sangat membuat Vallerie tertekan.

“Muda sekali,” bisik Cerano. Dia kemudian menatap Hose dengan pandangan gelap. “ Kenapa kamu menawarkan anak-anak di bawah umur kepadaku? Apa kamu pikir aku adalah seorang pedofil?”

senyuman di wajah Hose berangsur-angsur memudar, dia akhirnya sadar bahwa Cerano tidak menaruh minat kepada anak-anak di bawah umur itu sejak awal.

Dia buru-buru menundukkan kepala dan meminta maaf. “Maafkan saya, Tuan. Sepertinya saya telah keliru. Tapi, rata-rata wanita perawan yang kami miliki berusia di bawah 18 tahun.”

“Aku tidak,” Raveena tiba-tiba bersuara, “Usiaku sudah 22 tahun, Tuan. Jika Anda berkenan, Anda bisa membawa saya.”

Hose sangat terkejut saat mendengar penuturan Raveena. Pasalnya wanita itu selalu melakukan segala cara untuk menolak pelanggan meski sudah dipaksa oleh Hose, tapi kini dia malah mengajukan dirinya sendiri.

Cerano memiringkan kepalanya, menatap Raveena dari ujung kaki hingga kepala. “Kamu benar-benar masih perawan?”

“Saya bisa menjaminnya,” jawab Raveena.

Raveena balas menatap Cerano, dia tiba-tiba merasa ragu apakah Cerano masih mengingatnya atau tidak. Sebab pria itu terlihat tidak menaruh minat kepada Raveena sejak awal.

Atau mungkin, sang iblis ingin mangsanya masuk ke dalam perangkap predator seorang diri.

Cerano mungkin saja ingin Raveena yang mengulurkan tangannya sendiri kepadanya.

“Jika kamu bisa menjaminnya, maka aku akan mengambil kamu untuk menemaniku malam ini,” kata Cerano.

Setelah mencapai kesepakatan, Hose mengantarkan Cerano dan Raveena ke sebuah ruangan paling besar yang terletak di lantai 4, lantai yang hanya menampung kamar-kamar mewah untuk para tamu spesial.

Ketika Raveena masuk ke dalam ruangan, dia bisa melihat sebuah tempat tidur berukuran besar yang diletakkan di tengah ruangan. Warna ruangan tersebut didominasi oleh warna merah dengan pencahayaan yang minim, begitu cocok digunakan oleh pasangan untuk memadu kasih.

Tatkala Hose meninggalkan mereka berdua di ruangan, Raveena segera berlutut di atas permukaan lantai yang dingin. Kedua tangannya bertumpu pada lantai, sedangkan kepalanya di angkat tinggi sehingga kedua matanya mampu memandang Cerano di hadapannya dengan jelas.

Cerano menundukkan kepalanya, lalu menatap Raveena dengan kedua mata dinginnya. “Apa yang kamu lakukan?”

“Anda pasti mengingat saya, kita pernah bertemu di atas atap beberapa hari yang lalu,” ujar Raveena.

“Siapa nama kamu?” tanya Cerano.

“Raveena. Nama saya Raveena Hesper.”

Raveena melanjutkan, “Tuan, saya ingin mengajukan sebuah permintaan kepada Anda.”

Cerano lantas tertawa karena melihat Raveena masih bersikeras untuk meminta bantuannya. “Permintaan seperti apa yang kau inginkan?”

Raveena, “Selamatkan saya dari neraka ini dan lenyapkanlah tempat yang dipenuhi oleh dosa ini tanpa tersisa.”

“Mengapa kamu ingin meleyapkan tempat ini?” tanya Cerano.

Raveena mengepalkan kedua tangannya saat berkata, “Selama saya tinggal di tempat ini, Hose Wilson telah melakukan berbagai macam tindak kejahatan yang melampaui batas. Dia akan mengambil upah para wanita begitu banyak dan tidak membiarkan mereka melunasi hutang, Hose juga seringkali menjual wanita di bawah umur untuk melayani para pria tua. Tuan Cerano, Anda berkata tidak dapat membunuh wanita dan anak-anak, maka artinya Anda pasti mampu membunuh seorang pria busuk.”

“Aku bisa melakukannya, tapi aku tidak melakukannya dengan gratis,” Cerano berkata, “Hadiah apa yang akan kau berikan kepadaku?”

“Segalanya.”

Cerano bertanya, “Segalanya?”

Raveena, “Ya, jiwa dan raga saya akan seutuhnya menjadi milik Anda.”

Cerano lantas melangkahkan kakinya mendekati Raveena, dia mengangkat dagu wanita itu begitu tinggi sampai mata mereka bertemu. “Maka selamanya kau akan menjadi milikku, Raveena Hesper.”

Bab 3

Setelah mengikat perjanjian dengan Cerano, Raveena mulai melepaskan kancing pakaiannya satu-persatu. Tindakannya itu membuat Cerano mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Apa lagi yang ingin kamu lakukan?”

Raveena menatap Cerano dengan pandangan kosong. “Bukankah Anda berkata ingin meniduri seorang perawan? Sekarang saya sudah menjadi milik Anda, jadi tentu Anda dapat memanfaatkan saya sebaik mungkin.”

“Kapan aku berkata ingin meniduri perawan? Aku hanya berkata supaya kamu menemaniku malam ini. Cepat pasang kembali kancing bajumu,” perintah Cerano.

Tatapan mata Cerano terlihat serius, sehingga Raveena tidak berpikir bila pria itu hanya bercanda. Dia segera memasang kembali pakaiannya dan berdiri di hadapan Cerano, kepalanya menunduk sedikit sebagai simbolis bila dia hanyalah bawahan yang tak patut menatap wajah Cerano.

Setelah memastikan Raveena sudah berpakaian dengan benar, Cerano berjalan menuju bingkai jendela yang mengarah ke jalan setapak di Distrik Merah.

“Raveena, apa kau pernah takut mati?” tanya Cerano tiba-tiba.

“Saya tidak takut mati,” Raveena menjawab tanpa banyak berpikir. Tatapan matanya yang kosong memberi ilusi singkat bahwa Raveena hanyalah sebuah cangkang kosong tanpa jiwa.

Cerano menundukkan kepalanya, menatap ke arah para wanita yang sedang menjajakan tubuhnya di pinggir jalan. “Duniamu tampaknya begitu kacau. Bagaimana kamu bisa terjebak di dalam tempat ini?”

“Saya tidak ingat,” jawab Raveena.

Cerano menoleh. “Kamu tidak ingat?”

“Saya tidak bisa mengingat masa lalu saya sebelum datang ke tempat ini. Nama Raveena Hesper juga saya ketahui karena Tuan Wilson memanggil saya demikian.”

Seulas senyuman tipis tercetak di wajah Cerano, entah itu adalah jenis senyuman senang atau miris, Raveena juga tidak tahu. Cerano berkata, “Tidak apa-apa, terkadang ada baiknya kamu tidak mengingat masa lalu. Karena tidak semua masa lalu itu baik. Jika kamu tidak ingat, maka kamu tidak perlu terjebak di dalam masa lalu.”

“Tuan, saya tidak mengerti,” tukas Raveena.

Raveena memandang wajah Cerano di antara kemerlapnya cahaya lampu merah. Anehnya, warna merah begitu cocok dengan Cerano, seolah warna ini memang sudah melekat kuat di dalam jiwanya dan membuat sosoknya menjadi lebih menonjol.

“Apa yang kamu tidak mengerti?” tanya Cerano.

Raveena berkata, “Saya tidak tahu harus mengkategorikan Anda sebagai hitam atau putih. Moralitas yang Anda tunjukkan tidak sepenuhnya biadab, tapi tidak sepenuhnya baik.”

Cerano menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Mengapa begitu?”

“Awalnya saya berpikir Anda adalah seorang iblis keji yang senang dengan kekerasan dan pembunuhan. Namun, hari ini saya melihat Anda terlihat tidak suka dengan Tuan Wilson karena dia menjajakan wanita di bawah umur. Saya juga berpikir Anda akan memanfaatkan tubuh saya, tapi Anda berkata hanya minta ditemani,” jelas Raveena.

Raveena menambahkan, “Jujur, tingkah Anda membuat saya bingung.”

Cerano lantas tertawa, jenis tawa lepas yang seolah-olah tengah mengejek ucapan Raveena, “Raveena, tidak semua hal di dunia ini dapat kau kategorikan sebagai hitam ataupun putih. Pada dasarnya semua manusia berdiri di garis batas antara hitam dan putih. Kita semua ini abu-abu, bisa menjadi jahat atau baik.”

“Lalu mengapa Anda begitu baik kepada saya?” tanya Raveena.

“Aku baik kepadamu?” Cerano bertanya balik.

Raveena mengangguk. “Anda bahkan langsung menyetujui penawaran saya, padahal saya tidak begitu berguna.”

Cerano tersenyum. “Berguna atau tidak, kita bisa melihatnya nanti. Kamu sudah memberikan penawaran, sebagai seorang iblis yang lapar, aku hanya ingin memakan persembahan yang telah diberikan.”

Raveena ingin mengatakan sesuatu, tapi berhenti saat telinganya menangkap suara langkah kaki yang ribut dari koridor, langkah kaki itu terdengar berat dan terburu-buru, pertanda bila ada sesuatu yang terjadi sehingga para penghuni rumah bordil berhamburan keluar.

“Kenapa mereka berlari?” tanya Raveena penasaran.

Raveena hendak membuka pintu, namun Cerano mencegahnya. “Jangan dibuka, waktunya sudah dimulai.”

Raveena menatap Cerano dengan heran. “Apa maksudnya?”

kepulan asap masuk ke dalam ruangan melalui celah pintu, membuat Raveena mundur beberapa langkah ke belakang. Matanya menoleh ke arah Cerano dan dia bertanya, “Apa ini perbuatan Anda?”

Cerano duduk di tepi jendela, dia mengeluarkan kepalanya keluar dan menatap kemerlapnya bintang di langit malam sebelum menjawab, “Kamu bilang, kamu ingin tempat ini dilenyapkan hingga tidak bersisa.”

“Jadi aku membakarnya,” lanjut Cerano.

Raveena membulatkan kedua matanya, dia baru saja mengajukan permintaan sekitar 15 menit yang lalu. Tapi sekarang tempat terkutuk ini mulai mengeluarkan asap.

“Bagaimana dengan para wanita di sini? Mereka adalah korban, Anda tidak berniat untuk membakar mereka juga, kan?” tanya Raveena dengan suara panik.

Cerano membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Bukankah kau mendengar banyak langkah kaki tadi? Mereka sedang diselamatkan.”

“Oleh siapa?” tanya Raveena.

Cerano tersenyum, “Anak-anak buahku.”

Raveena terkesiap, “Artinya ada banyak pembunuh yang Anda bimbing?”

Cerano sedikit tertawa. “Mereka bukan pembunuh, dan aku tidak berasal dari organisasi pembunuh bayaran. Aku hanya membunuh bila diperlukan dan membiarkan orang hidup bila tindakan mereka dapat ditoleransi.”

“Lantas Anda ini siapa?”

Cerano menjawab, “Acheron. Nama lengkapku adalah Cerano Acheron dan aku berasal dari Acheron Familia.”

Sontak Raveena semakin terkejut, nama Acheron Familia tidaklah asing di pendengaran Raveena, terutama bagi seseorang yang terbiasa tinggal di lingkungan yang dipenuhi oleh dosa itu. “Kamu Mafia Sisilia?”

“Kamu bisa menyebutnya begitu,” ujar Cerano.

“Pria ini berbahaya,” batin Raveena.

Raveena mengakui itu, tapi dia tidak berniat untuk melarikan diri karena kematian bukanlah hal yang ia takuti.

Hidup atau mati sama saja. Bersekutu dengan iblis atau menjadi budak iblis tidak akan ada bedanya.

“Uhuk ... Uhuk ….” Raveena batuk beberapa kali saat asap semakin banyak masuk ke dalam ruangan, udara di sekitar mereka juga terasa semakin panas.

Teriakan panik dari para wanita mulai terdengar, begitu nyaring dan menusuk gendang telinga.

Cerano lantas mengulurkan tangannya ke arah Raveena, “Kemarilah, kita juga harus keluar.”

“Di koridor mungkin sudah dipenuhi oleh api,” balas Raveena.

“Bukan lewat koridor, tapi lewat jendela,” kata Cerano.

Walaupun Raveena terlihat ragu dengan jawaban Cerano, dia tetap melangkahkan kakinya untuk mendekati pria itu dan menggenggam tangan Cerano yang diulurkan kepadanya.

Tanpa mengatakan apapun, Cerano segera menarik tangan Raveena sehingga tubuh wanita itu menabrak dada bidang Cerano. Pria itu lantas meletakkan satu tangannya di punggung Raveena, sedangkan tangan satunya lagi berada di bawah lutut Raveena, kemudian dia mengangkat tubuh wanita itu dan melompat dari jendela.

Raveena melingkarkan tangannya pada leher Cerano dengan erat, kedua matanya membelalak kaget saat dia menjumpai langit malam begitu dekat di hadapannya. Terpaan angin dingin yang kuat menerjang seluruh tubuhnya, membuat Raveena sedikit menggigil.

Ketika dia melihat ke belakang, gelungan asap tebal berwarna hitam membumbung tinggi di atas langit, kobaran api perlahan menjalar ke seluruh bangunan, terlihat bagaikan sebuah api unggun raksasa yang dinyalakan di tengah kota.

Kemudian penglihatan Raveena terjun dengan cepat dan dia baru sadar bila mereka telah melompat dari jendela lantai empat. Hanya orang tidak waras saja yang bisa melompat dari ketinggian ini tanpa rasa takut dan Cerano tampaknya memang tidak begitu waras.

Buk!

keduanya mendarat di atas tumpukan matras yang tebal, sehingga Raveena diam-diam segera membuang napas lega. Tapi napasnya kembali tercekat tatkala melihat ada belasan pria berpakaian serba hitam tengah menatapnya di sekitar matras, tatapan mata mereka terlihat agak bengis sekaligus penasaran.

Secara naluri, tentu Raveena akan balik menatap mereka dengan sama bengisnya, seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak bisa mereka tindas begitu saja.

“Mundur, jangan menatapnya seperti itu,” kata Cerano. Pria itu berusaha bangkit dari tumpukan matras dan juga membantu Raveena untuk berdiri.

“Bos, katamu kau hanya ingin mencari perawan di rumah bordil?” tanya salah satu bawahannya.

“Ya, memang. Wanita ini adalah perawan,” tukas Cerano dengan intonasi santai.

“Lalu kenapa kau juga ingin kami membakar bangunan dan menyelamatkan seluruh wanita di dalamnya? Kami bahkan harus mengusir penduduk di sekitar supaya bisa memasang matras. Boss, kamu selalu penuh kejutan.”

Cerano tertawa. “Aku sudah membuat perjanjian dengannya. Aku akan melenyapkan tempat ini dan dia akan mengikutiku sampai mati.”

Suara Cerano perlahan menjadi samar-samar di telinga Raveena, karena wanita itu terlalu sibuk untuk memperhatikan proses terbakarnya rumah bordil di hadapannya. Lautan api melahap seluruh kolom-kolom penyangga yang terbuat dari kayu, membuat dinding menjadi retak dan jatuh. Para wanita penghibur yang selamat juga ikut memperhatikan rumah itu seperti Raveena.

Perasaan mereka terlalu rumit tentang rumah itu.

Rumah di hadapannya telah menyimpan banyak kenangan di dalam ingatannya. Setidaknya, Raveena sudah tinggal di sana sejak ia masih berusia 12 tahun. Dan selama 12 tahun pula dia terjebak di dalam rumah bordil tanpa bisa melarikan diri.

Siksaan demi siksaan telah mengisi hari-harinya, terukir kuat di dalam hati Raveena sampai mampu menumbuhkan kebencian yang begitu besar terhadap rumah ini.

Ada terlalu banyak kenangan di dalam sana, tapi kebanyakan dari kenangan itu hanyalah sebatas mimpi buruk.

Mimpi yang seharusnya tidak perlu Raveena hadapi.

Ketika Raveena kembali melirik ke arah sekumpulan wanita, dia baru menyadari sesuatu dan buru-buru bertanya kepada Cerano, “Di mana Hose Wilson?”

alih-alih menjawab langsung, Cerano malah memainkan kata-kata. “Kamu bilang tempat ini adalah neraka.”

“Ya, tempat ini adalah neraka,” balas Raveena.

Cerano berjalan untuk mendekati Raveena, kemudian berkata, “Selalu ada iblis yang bersembunyi di dalam neraka, dan iblis itu biasanya akan mati ketika tempatnya musnah.”

Raveena tertegun saat menyadari maksud Cerano. “Kamu tidak mengeluarkan Hose dari tempat itu?”

“Aku menyuruh seseorang untuk mengurungnya di dalam sebuah ruangan, mengikatnya, dan membiarkan dia terbakar di dalam kobaran api,” kata Cerano dengan acuh.

Raveena awalnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, sehingga Cerano berpikir mungkinkah dia keterlaluan. “Apa kamu ingin dia selamat?”

“Tidak!” seru Raveena, “Tidak. Tidak. Biarkan dia terbakar, dia memang seharusnya terbakar.”

Raveena tanpa sadar menaikkan ujung bibirnya, dia tersenyum lebar di hadapan kobaran api. “Hose Wilson memang pantas terbakar sampai mati! Hahaha, dia benar-benar akan mati!”

Raveena lantas tertawa, tertawa, dan tertawa. Tertawa begitu keras sampai Raveena harus menutup mulutnya menggunakan tangan. Para anggota Acheron yang berada di belakang Cerano menatap Raveena dengan heran, berpikir bahwa wanita itu pasti sudah gila sampai bertingkah seperti itu.

Setelah tertawa begitu lama, Raveena akhirnya berhenti tertawa. Dia mengangkat kepalanya ke atas, menyaksikan langit yang sudah dipenuhi oleh pantulan api dan gulungan asap hitam.

Perlahan air mata mulai menuruni pipinya, kemudian menetes jatuh ke tanah tanpa menimbulkan suara.

“Dia sudah mati dan sekarang aku bebas,” bisik Raveena.

Raveena Hesper akhirnya mampu menghirup udara luar dengan leluasa.

• • •

Kobaran api membumbung semakin tinggi, orang-orang yang berjalan di sekitar area kebakaran berbondong-bondong pergi dan menyaksikan dari kejauhan. Mereka bertanya-tanya mengapa bisa api muncul begitu saja.

Mobil pemadam kebakaran membelah kerumunan manusia. Para petugasnya buru-buru menarik selang dan menyemprot air dalam kapasitas besar. Mereka juga mengecek kesehatan setiap wanita yang berasal dari rumah bordil itu untuk memastikan tidak ada yang terluka.

“Kita harus pergi,” kata Cerano.

Cerano memperhatikan jam tangannya, dia terlihat seperti orang yang kehabisan waktu. “Ada hal yang harus kita lakukan.”

Raveena segera tersadar dari lamunannya. “Apa yang ingin Anda lakukan?”

“Menghancurkan seseorang yang telah mengusikku. Ayo, cepat masuk ke mobil,” kata Cerano yang kemudian menarik lengan Raveena. Dia dengan cepat menuntun wanita itu supaya masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Sebelum Raveena menaiki mobil itu, dia mendengar suara familier datang dari belakangnya. “Raveena!”

Raveena sontak menoleh dan mendapati sosok Vallerie tengah berlari ke arahnya. “Vallerie, kenapa kamu kemari?”

Vallerie memeluk Raveena. “Aku yang seharusnya bertanya. Ke mana kamu akan pergi? Kenapa kamu pergi bersama pria itu? Apa kamu dipaksa?”

Raveena mengusap kepala anak itu secara perlahan. “Tidak ada yang memaksaku, aku pergi dengan keinginanku sendiri.”

Vallerie mengangkat kepalanya, matanya tampak berair saat dia berkata, “Kalau begitu, apakah kamu akan meninggalkanku?”

“Maaf, Vallerie. Tapi sekarang kita harus berpisah. Kini Hose sudah tidak ada, kamu juga bisa pergi.”

“Ke mana aku bisa pergi? Aku tidak memiliki siapapun,” gumam Vallerie.

Cerano yang menguping pembicaraan mereka menimpali, “Pergilah ke Panti Asuhan yang ada di pinggir kota. Usiamu masih 15 tahun, pasti diperbolehkan untuk tinggal di sana.”

Raveena menatap Cerano dengan pandangan tidak percaya, dia hanya tidak menyangka Cerano akan memberikan saran kepada orang yang tak memiliki hubungan dengannya.

“Kamu dengar itu?” Raveena bertanya kepada Vallerie, “Pergilah ke panti asuhan, lalu jalani hidup dengan baik. Jangan pernah lagi kamu menginjakkan kaki di distrik merah.”

Raveena mengeluarkan kantung uang dari sakunya, jumlahnya tidak banyak, tapi setidaknya bisa digunakan untuk naik kendaraan umum. “Bawa ini juga, belilah makanan kalau lapar dan naik kendaraan umum untuk sampai ke pinggiran kota.”

Vallerie menerima pemberian itu, dia kemudian menangis dan bertanya, “Apa kita bisa bertemu lagi.”

Raveena tersenyum. “Jika takdir mengizinkan, maka kita bisa bertemu lagi.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED