Bab 2

RS. MERDEKA (disamarkan)

Di rumah sakit Nina masih setia menunggu Dokter yang sedang mentransfusi darahnya kepada tuan Hanson. Seperti yang dikatakan Dokter tadi, tuan Hanson kekurangan banyak darah, dan ternyata stok darah rumah sakit habis.

Kebetulan darah Nina sama dengan darah tuan Hanson, setelah transfusi darah selesai Nina di perintahkan oleh Dokter untuk beristirahat. Nina merasa senang melakukannya karena dia ingin pria tua itu tetap selamat.

"semoga kau cepat sembuh tuan, jangan tinggalkan keluargamu pasti mereka sangat sedih jika kau pergi meninggalkan mereka." monolog Nina.

beberapa menit di perjalanan akhirnya Bram, dan Alex sampai juga di parkiran rumah sakit dan berlari menuju meja resepsionis.

"Ruang inap tuan Hanson?" tanya Bram tanpa basa-basi.

"marih ikut saya pak." ajak salah satu Suster di sana.

Suster pun berjalan menuju ruang inap dimana tuan Hanson di rawat diikuti oleh Bram dan Alex.

Semenjak kepergian mereka dari kantor tadi, Alex masih berkutat dengan pertanyaan yang ada di pikirannya.

"apa yang terjadi dengan paman! mengapa ia bisa ada di rumah sakit." batin Alex bertanya-tanya pada dirinya. Dia pun tidak berani bertanya langsung kepada Bram, karena ia tau sepupunya ini dalam keadaan tidak baik. Tiba di depan ruang inap, Suster mempersilakan mereka berdua untuk masuk.

"silahkan masuk Pak." ucap Suster mempersilahkan.

Tanpa dipedulikan Bram, ia melewati Suster tersebut, dan langsung memutar knop pintu ruangan. Begitu pintu terbuka menampilkan sosok pria paruh baya yang terbaring lemah dengan perban melingkar di kepalanya. Betapa sakit hati Bram melihat itu semua, Alex pun tampak kaget melihat pamannya begitu lemah di atas brankar.

"apa yang terjadi ayah, kenapa kau bisa seperti ini?'' tanya Bram dengan mata berkaca-kaca sambil mencium punggung tangan ayahnya yang tak sadarkan diri.

Alex tetap diam, dia bingung apa yang harus dikatakannya. tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat sosok Dokter stengah baya masuk.

"selamat pagi Pak, saya Dokter Leon yang merawat ayah anda." sapa Dokter Leon pada Bram, dan Alex sambil tersenyum memperkenalkan diri .

"Bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Bram tanpa basa-basi.

"Ayah anda sudah membaik Pak, untung saja nyonya Nina telah membantu pasien." ucap Dokter.

Kening Bram berkerut, "jelaskan apa yang terjadi?" ucap Bram.

Dokter pun menjawab, "ayah anda tadi mengalami kecelakaan tabrak lari tuan, untung saja Nyonya Nina segera membawah pasien kemarih, dan langsung mentransfusi darahnya sendiri untuk tuan Hanson. Karena stok darah rumah sakit kami kekurangan golongan darah B, kebetulan golongan darah Nyonya Nina sama dengan pasien tuan." jelas Dokter Leon.

Bram mendengar itu semua mengepal keras tangannya hingga buku-buka jarinya menonjol, perasaan syukurnya juga sedikit menenangkan hatinya, karena nyawa ayahnya masih bisa diselamatkan.

Alex,,, panggil Bram dengan suara serak, Alex pun menatap Bram, "cari tau siapa yang sudah menabrak ayah." perintah Bram dengan rahang yang mengeras.

Tanpa sepata kata pun Alex bergegas keluar ruang inap langsung merogoh kantong jasnya menampilkan benda pipi berlogo apel, dan langsung menempelkan di telinganya. Alex menelfon polisi, dan beberapa anak buahnya untuk mencari tau siapa yang sudah menabrak pamannya itu. Di dalam ruang inap, Nina masih terbaring di atas brankar yang bersebelahan dengan brankar tuan Hanson hanya di batasi tirai saja.

Bram menyadarinya, "berapa uang yang kau butuhkan?" tanya Bram pada Nina dengan tatapan datar.

Nina sontak saja kaget, "apa maksudmu tuan?" tanya Nina merasa tersinggung.

"Katakan berapa uang yang kau butuhkan, kau sudah menyelamatkan ayahku?" ulang Bram dengan kalimatnya.

"maaf tuan saya ikhlas menolong ayah anda, saya tidak meminta upah sedikitpun." ucap Nina.

"Baiklah terima kasih, silahkan pergi dari sini." ucap Bram tegas.

Di dalam ruangan hanya mereka bertiga lagi, Nina kaget dengan sikap ketus Bram. Tanpa sepata kata pun Nina beranjak dari tempat berbaringnya, dan langsung ke luar ruang inap tersebut. Bram mengelus punggung tangan ayahnya, tiba-tiba tangan tuan Hanson bergerak. Bram terkejut, buru-buru saja ia memanggil Dokter.

Tak lama kemudian Bram sudah membawah Dokter tadi, segera Dokter Leon memeriksa keadaan tuan Hanson dan menyuntik entah cairan apa itu.

"Bagaimana keadaan ayah saya Dok?" tanya Bram.

"Pasien sudah mulai membaik Pak, kita tinggal tunggu beberapa jam lagi." jawab Dokter Leon.

Perasaan Bram kembali membaik, bagaimanapun dia takut kehilangan ayahnya. Di depan rumah sakit Nina masih berdiri di parkiran, membayangkan bagaimana sikap pria tampan tadi.

"ya allah sikapnya sangat angkuh, bagaimana bisa kau menciptakan manusia seperti dia." ucap Nina jengkel.

Segera Nina menggas motornya menuju kontrakannya. Tadinya ia ingin berangkat kerja di salah satu supermarket dekat rumah sakit ini, tapi jam sudah menunjukan pukul setengah 11 siang. Tidak mungkin dia pergi ke supermarket, percuma sampai sana pasti dia akan langsung di usir oleh bosnya.

Beberapa jam kemudian tuan Hanson sudah sadar dari kritisnya, sekarang tuan Hanson sudah dipindahkan ke ruangan vip rumah sakit.

"Siapa nama gadis yang menyelamatkan ayah Nak?" tanya tuan Hanson.

"Sudahlah ayah, lebih baik ayah istirahat jangan banyak pikiran dulu." ucap Bram.

"Ayah ingin berterima kasih padanya nak," ucap tuan Hanson pelan.

"Aku sudah berterima kasih padanya ayah, ayah hanya butuh istirahat sekarang." tegas Bram.

Tuan Hanson tersenyum melihat tingkah anaknya, dia begitu membanggakan anak semata wayangnya ini, tetapi sikap anaknya ini sangat keras, dingin ,dan cuek pada orang-orang disekitarannya semenjak kepergian ibunya.

Dia juga cemas dengan anaknya, usia anaknya sudah tidak dikatakan mudah lagi, 28 tahun. Usia seperti itu sudah pantas untuk menikah bukan? dan di umur ayahnya juga semakin bertambah.

Dia ingin sekali melihat anaknya menikah sebelum sang pencipta memanggilnya lebih dulu. Tiba-tiba dia mengingat gadis yang menyelamatkannya, memang dia belum melihat bagaimana rupa gadis tersebut dan belum tau nama gadis itu, tuan Hanson hanya mendengar semua cerita dari dokter Leon beberapa jam lalu tanpa menyebut nama gadis itu.

"Mau kah kau menikahi gadis yang sudah menyelamatkan ayah Nak?" tanya tuan Hanson seketika.

Sontak Bram kaget dengan pertanyaan ayahnya itu, "apa maksud ayah?" tanya Bram kaget.

"Menikahlah nak, umurmu sudah cukup untuk menikah, umur ayah juga sudah tidak lama lagi." jelas tuan Hanson.

"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah akan segera pulih, aku juga tidak akan menikahi gadis itu ayah." ucap Bram dengan tegas.

"Ayah ingin melihatmu menikah nak, almarhum ibumu juga pernah meminta hal serupa tapi kau tetap menolak. Bagaimana perasaan ibumu pada saat itu, dia ingin sekali melihatmu bahagia nak Bram, ia ingin meminang cucu dari mu nak." jelas tuan Hanson sedih kembali mengingat istrinya.

Bab 3

Memang beberapa tahun lalu almarhum Nyonya Parcelia Huston meminta hal serupa dengan Bram. Meminta anaknya untuk segera menikah, karena ia berharap mendapatkan cucu dari anak semata wayangnya.

tapi Bram tidak kunjung mengabulkan permintaan ibunya itu, Hingga nyonya Parcelia meninggal dunia. Padahal nyonya Parcelia sudah sangat berharap pada anaknya agar diberikan cucu secepatnya.

Nyonya Parcelia sangat sedih atas penolakan anaknya, padahal keinginan besarnya meminang cucu dari Bram. Tapi takdir tidak mengizinkan itu semua, Bram mulai sedih mengingat kembali permintaan ibunya itu, ia sungguh merasa bersalah sampai saat ini.

"Tapi ayah, aku tidak menyukainya dan aku tidak mengenalnya." sanggah Bram.

"Menikahlah nak, ini permintaan terakhir ayah, ayah ingin melihatmu bahagia sebelum ayah pergi untuk selamanya nak Bram." ucap tuan Hanson lemah.

Ia berpikir tidak ada jalan lain lagi selain memaksa anaknya dengan cara seperti ini.

"Ayah aku mohon jangan meminta hal yang tidak bisa ku kabulkan." pinta Bram memohon.

"Kabulkanlah permintaan terakhir ayahmu ini nak, ini untuk kebaikanmu Bram." mohon tuan Hanson pada anaknya.

Bram langsung memijit pelipisnya mencoba menjawab permintaan sang ayah, dia begitu menyayangi ayahnya, dia begitu takut permintaan ibunya dulu yang sama kembali menjadi penyesalan terakhirnya.

"Baiklah ayah, aku akan mencoba mencarinya dan menikahinya." ucap Bram terpaksa.

Tuan Hanson tersenyum menghiasi wajahnya yang tak kalah tampan dari anaknya itu walaupun dia dalam keadaan lemah dan pucat.

''Menikahlah besok nak!'' kali ini suatu perintah bukan permintaan, sekali lagi Bram kaget dengan perintah ayahnya.

"Bagaimana bisa aku harus menikahinya secepat itu ayah? aku tidak tau di mana tempat tinggalnya." ucap Bram.

''Bram.'' ucap tuan Hanson.

"baiklah ayah aku akan mencoba mencarinya dan besok menikahinya." ucap Bram terpaksa.

"Terima kasih nak kau mengabulkan permintaan ayah, di atas sana ibumu pasti merasa senang mendengar semua ini." ucap tuan Hanson senang.

"Istirahatlah ayah, aku keluar sebentar" ucap Bram meninggalkan ruangan ayahnya.

"Gadis itu bekerja di salah satu supermarket dekat rumah sakit ini nak, carilah dia." jelas tuan Hanson, Bram hanya mengangguk dan berlalu pergi.

Tuang Hanson juga merasa bersalah pada anaknya, tidak seharusnya dia meminta hal yang tidak masuk akal ini, apalagi Bram tidak menyukai hal tersebut, tapi ia tak punya pilihan lain.

Tuan Hanson berdoa semoga ini yang terbaik untuk anaknya, dia ingin kehidupan Bram yang sekarang ada yang mengurusnya, apalagi dia orang yang sangat sibuk. Seorang CEO mempunyai perusahaan, dan beberapa cabang perusahan yang tersebar di Indonesia maupun luar negeri, Bram tentu saja membutuhkan pendamping hidup yang bisa mengurusnya.

keesokan harinya, di rumah sakit Bram sudah membawah gadis yang dimintai ayahnya untuk dinikahi, begitu Bram masuk di ruang inap tuan Hanson, di ambang pintu menampilkan sosok pria tampan, wajah datar, dan bermata tajam dengan seorang wanita cantik memakai hijab.

Tuan Hanson tersenyum melihatnya dan menyapa gadis tersebut, "siapa namamu nak?" tanya tuan Hanson langsung.

“Nina Defras tuan." jawab Nina ramah dan tersenyum manis.

"Bagaimana keadaanmu tuan?" tanya Nina balik.

"Sudah mulai membaik nak, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya." ucap tuan Hanson berterima kasih.

"Bagaimana saya harus membalas kebaikanmu nak Nina?" tanya tuan Hanson lagi.

"Ah tidak perlu tuan, saya sangat ikhlas menolongmu, syukurlah keadaan tuan juga sudah membaik." ucap Nina jujur dan tidak lupa senyum manisnya.

"Apakah kau sudah mempunyai kekasih nak?" tanya tuan Hanson hati-hati.

Nina hanya menggeleng heran.

"Di mana orang tuamu nak?" tanya tuan Hanson lagi.

Tampak raut wajah Nina sedih, tuan Hanson pun mengerti.

"maaf jika pertanyaan saya salah." ucap tuan Hanson merasa bersalah, Nina pun hanya menanggapi dengan senyumnya.

"Oh iya perkenalkan dia anakku Bram Xander Huston." ucap tuan Hanson memperkenalkan.

Nina melirik malas pria yang dimaksud, ia hanya tersenyum pada tuan Hanson.

Dalam hati Nina sangat jengkel dengan pria tampan nan angkuh di depannya itu. Bagaimana tidak, tadi saja pria tampan itu mengajaknya ke rumah sakit ini dengan paksa tanpa memberi tahu alasannya.

"Kau sudah tahu nak apa maksud saya memanggilmu ke sini?" tanya tuan Hanson pada Nina.

Yang di tanya pun hanya menggeleng, memang Nina tidak mengetahui apa maksud pria tampan itu mengajaknya ke rumah sakit ini, tuan Hanson pun mengatur nafasnya dengan pelan.

"Nina, maukah kau menikah dengan anak semata wayangku Bram Xander Huston??" tanya tuan Hanson.

Dhek... Jantung Nina berdetak, Nina sontak kaget. "astaga apakah ini suatu lamaran?" batinnya.

"a,a,apa maksudmu tuan?" tanya Nina terbata-bata.

Tuan Hanson tersenyum dan mengulangi perkataannya lagi.

"saya tuan Hanson Smith Huston ayah dari Bram Xander Huston melamarmu untuk menjadikanmu istri dari anak saya seorang ceo dan menjadikanmu menantuku, maukah kau menerima lamaran ini nak Nina?" ucap tuan Hanson mantap.

Yang di tanya pun kaget bukan main, jantung Nina sudah tidak berdetak normal.

"ma, maksud saya bagaimana mungkin saya harus menikah dengan anakmu tuan, sedangkan saya hanya gadis desa yang tidak berpendidikan tinggi, saya hanya seorang pegawai supermarket, dan saya juga tidak mengenal anakmu tuan." jelas Nina masih tak percaya.

Yah, Nina sadar akan statusnya, karena tidak mungkin seorang pria tampan yang berpendidikan tinggi, apalagi seorang Ceo di perusahaannya sendiri, pria yang sangat kaya raya, akan menikah dengannya yang notabennya orang yang tak mampu.

Tuan Hanson tersenyum "tidak apa-apa nak, kau pantas menjadi menantuku, semua kebutuhanmu akan terpenuhi." jelas tuan Hanson.

Nina pun melirik pada Bram, jantung Nina berdetak lebih cepat lagi, mata Elang pemilik mata itu tidak lepas dari tatapannya menatap dirinya, Nina langsung saja berpaling.

''astaga, tidak mungkin aku menikah dengan pria angkuh itu, dari tatapannya saja seperti ingin membunuhku detik ini juga." batin Nina takut.

Tuan Hanson mengerti dengan raut wajah Nina "bagaimana nak Bram, kau mau menikahinya?" tanya tuan Hanson pada Bram yang sedari tadi hanya diam.

"YA." jawab Bram ketus.

Nina sudah menduga, bahwa pria itu juga tidak menginginkan pernikahan ini.

Clek,,, pintu terbuka, beberapa orang yang masuk ruang inap. Sebelum Bram pergi menjemput Nina, dia sudah terlebih dahulu menelfon Alex untuk membawah penghulu ke rumah sakit juga beberapa orang untuk dijadikan saksi. Alex sempat kaget dengan perintah sepupunya, begitu Bram menjelaskan semuanya Alex pun paham.

Tuan Hanson tersenyum melihat beberapa orang yang masuk ruang inapnya. Nina masih syok dengan kejadian ini, matanya tak berkedip sedikit pun, dua orang perawat, Dokter Leon, juga pak RT, dan

''Astaga siapa pria paru baya yang berpakaian layaknya imam masjid, apakah dia penghulu?" batin Nina syok.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED