Setelah melakukan ibadah sholatnya ia segera menyelesaikan perkerjaan yang memang harus setiap hari dilakukannya. Pagi-pagi buta dia sedang sibuk berkutat dengan peralatan dapur dan di bantu oleh beberapa pelayan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Tak di rasa sudah hampir 3 bulan ia menyandang status istri seorang pengusaha kaya raya. Ia tersenyum kecut mengingat takdir yang menimpanya, bagaimana tidak seorang pria bukan lain adalah sang suami sampai detik ini pun tidak memperlakukannya layaknya seorang istri.
Terkadang perlakuan suaminya itu menyakiti fisik maupun batinnya, dia pun sampai harus menjadi pembantu di rumah suami sendiri. Tanpa kenal lelah dan tidak mengeluh sedikit pun dia tetap menjalankan sesuai perintah sang suami.
Dia adalah Nina Defras, seorang gadis Desa yang telah menikah dengan seorang CEO perusahan terkenal di ibukota Indonesia, betapa bangganya dia memiliki suami yang terkenal dikalangan bisnis.
Selesai mempersiapkan sarapan pagi, Nina menuju lantai dua memanggil sang suami untuk memulai sarapan pagi, dengan perasaan gelisa, takut, Nina tetap memberanikan diri berhadapan langsung dengan suaminya. Perasaan itulah yang tak hentinya Nina rasakan setiap hari, dia begitu takut dengan suaminya, sikap dan perlakuan suaminya bisa merubah dirinya menjadi wanita cengeng.
Begitu sampai di depan pintu kamar Nina mengetuk pintu, "permisi tuan, sarapan pagi sudah siap." ucap Nina sambil mengetuk pintu kamar sang suami.
Tidak ada sahutan, Nina mencobanya sekali lagi, "Sarapan pagi sudah siap tuan." Clek,,, knop pintu kamar di putar menampilkan sosok pria tampan bermata biru, dan wajah yang datar dengan pakaian jas kantor yang tampak mewah, diperkirakan Nina sudah pasti itu setelan jas seharga puluhan juta.
Nina begitu terpaku melihatnya, tidak ada senyuman menghiasi bibir pria tampan itu. Ia berjalan tanpa menoleh sedikit pun dan tidak mengatakan sepata katapun pada Nina sang istri.
Perasaan Nina begitu sakit, padahal setiap harinya ia sudah terbiasa menghadapi sikap dingin sang suami, tapi masih saja ia merasakan sesak di dadanya. "Astaga, aku menangis." ucap Nina sambil menyeka air matanya.
Segera ia berjalan mengekori sang suami menuju meja makan. Kalian pasti bingung mengapa Nina memanggil suami dengan sebutan tuan? Nina sendiripun juga bingung, ingin sekali ia memanggil sang suami dengan sebutan sayang ataupun mas, tapi iia sadar itu tidak akan mungkin, karena dia hanya di anggap pelayan di rumah ini.
Sampai di meja makan tuan rumah menarik kursi dan langsung mendudukinya, ia makan dalam keadaan hening tanpa ditemani seorang pun.
Para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sedangkan Nina sibuk memperhatikan sang suami yang tidak jauh dari meja makan.
"Apakah kau tidak punya pekerjaan lain,?" tanya pria tampan yang sedang jengkel di tatap wanita sialan itu.
''ma, maaf tuan,'' ucap Nina kalut segera pergi dari hadapan suaminya.
pria itu begitu sangat membenci wanita yang berstatus sebagai istri sirihnya, ia tak menyangka mengapa bisa menikah dengan wanita tak berpendidikan dan tak berkarir.
Selang beberapa menit, tuan rumah telah selesai sarapan pagi, ia berdiri menuju pintu utama rumah. Tiba depan rumah ia masuk ke dalam mobil sportnya dengan menyalakan mesin mobil, dan langsung menggas dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumah.
Dari arah dapur Nina berjalan menuju pintu utama rumah, setelah suaminya pergi dia berdiri dalam keadaan sedih sambil menatap kepergian sang suami. Ingin sekali ia mengantarkan suaminya setiap hari pergi bekerja layaknya istri pada umumnya, dia juga ingin menyium punggung tangan sang suami. air matanya mengalir dengan deras dan diiringi isakan tangis, dia hanya bisa melihat sang suami dari kejauhan. Nina sadar tidak akan terjadi hal seperti itu, jangankan untuk di sentuh, sang suami meliriknya saja merasa jijik.
Nina sadar suaminya tidak mencintainya sedikitpun, karena ini hanya pernikahan sirih yang tak diinginkan mereka. Nina ingin sekali lari dari rumah ini, rumah yang begitu mewah dengan pantas disebut mansion bak istana. Tinggal di rumah ini sangat menyakitkan baginya, tapi ia enggan meninggalkan mansion ini karena kembali mengingat wasiat dari ayah mertuanya.
Flassback off.
Seorang pria paruh baya telah terbaring mengenaskan di atas brankar rumah sakit dengan di bantu alat pernafasan dan dipenuhi darah di tubuhnya. Dia adalah tuan besar Hanson Smith Huston, Ayah dari Bram Xander Huston. Yah, pria tampan itu bernama Bram Xander Huston.
Tuan Hanson terbaring lemah ditemani Dokter juga beberapa Perawat. Setelah keluar dari ruangan seorang Dokter menghampiri Nina.
"maaf Nyonya apakah anda pihak keluarga Pasien?" tanya sang Dokter.
"Tidak Dok, saya hanya seorang pegawai Supermarket, sempat menemukan Pasien tidak sadarkan diri di jalan akibat kecelakaan tabrak lari." jawab Nina jujur.
"Baiklah Nyonya kami akan segera menghubungi pihak keluarga pasien, terima kasih sudah membawah pasien kemarih!" ucap sang Dokter.
"Sama-sama Dok, terus bagaimana dengan keadaan pasien?" tanya Nina hati-hati.
"Keadaan pasien buruk Nyonya, pasien kekurangan banyak darah?" jawab Dokter.
Nina terkejut, "astaga lakukan yang terbaik Dokter selamatkan dia." ucap Nina dengan mata berkaca-kaca.
Nina langsung teringat kembali dengan mediang ayah dan bundanya, begitu sesak rasanya mengingat kejadian itu.
Kejadiannya sama serupa dengan apa yang dialami oleh pria paruh baya di dalam sana. kedua orang tuanya tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Nina kembali meneteskan air matanya mengingat kejadian itu.
"Baik Nyonya kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien." ucap Dokter yakin.
''Suster, segera hubungi pihak keluarga pasien.'' perintah Dokter pada salah satu Perawat.
Seorang Perawat pun segera pergi menuju resepsionis.
"Saya pergi dulu Nyonya, saya harus cek darah yang sama dengan darah pasien." ucap Dokter pergi meninggalkan Nina.
Seorang perawat resepsionis sedang sibuk menghubungi pihak keluarga pasien. "halo selamat pagi, betul ini dengan keluarga tuan Hanson Smith Huston?" tanya resepsionis ketika panggilan telfonnya sudah diangkat.
"Ia betul, ini dengan siapa?" jawab Bram dan bertanya.
"kami dari pihak rumah sakit pak, ingin menyampaikan bahwa tuan Hanson mengalami kecelakaan." jawab resepsionis.
"Jelaskan bagaimana bisa terjadi?" tanya Bram terkejut dengan perasaan cemas.
Bagaimana pun ia tak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali sang ayah. Bram begitu takut jangan sampai ayah selama ini yang mendukungnya dan membanggakannya ikut meninggalkannya, dan pergi menyusul sang istri ibu Parcelia Huston. Tak di rasa sudah tiga tahun kepergian ibunya untuk selamanya, ibunya pergi meninggalkannya akibat mengidap kangker paru-paru stadiun akhir.
"Datanglah ke rumah sakit Pak, kami akan menjelaskannya." jawab resepsionis.
"kirimkan alamat rumah sakit sekarang juga." perintah Bram.
Tanpa berkata-kata lagi Bram langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja kantor, dan berlari munuju parkiran pejabat Vvip. Tiba di parkiran Bram berpapasan dengan Alex Xenon Sekertaris sekaligus sepupu Bram sendiri.
"hei pak, kemana kau?" tanya Alex.
"Ikuti aku." perintah Bram.
Dengan dahi berkerut Alex mengucapkan,"pak apakah kau lupa kita akan mengadakan meeting pagi ini dengan Prosperous Company!" jelas Alex.
"batalkan pertemuan hari ini." bentak Bram.
Perasaannya sudah tak karuan, dalam pikiran Bram hanya sibuk memikirkan kondisi Ayahnya.
Alex pun terkejut, dan sontak menelfon seseorang untuk memberitahukan pertemuan hari ini harus di batalkan. Setelah menelfon seseorang, Alex langsung segera mengikuti mobil Bram.
RS. MERDEKA (disamarkan)
Di rumah sakit Nina masih setia menunggu Dokter yang sedang mentransfusi darahnya kepada tuan Hanson. Seperti yang dikatakan Dokter tadi, tuan Hanson kekurangan banyak darah, dan ternyata stok darah rumah sakit habis.
Kebetulan darah Nina sama dengan darah tuan Hanson, setelah transfusi darah selesai Nina di perintahkan oleh Dokter untuk beristirahat. Nina merasa senang melakukannya karena dia ingin pria tua itu tetap selamat.
"semoga kau cepat sembuh tuan, jangan tinggalkan keluargamu pasti mereka sangat sedih jika kau pergi meninggalkan mereka." monolog Nina.
beberapa menit di perjalanan akhirnya Bram, dan Alex sampai juga di parkiran rumah sakit dan berlari menuju meja resepsionis.
"Ruang inap tuan Hanson?" tanya Bram tanpa basa-basi.
"marih ikut saya pak." ajak salah satu Suster di sana.
Suster pun berjalan menuju ruang inap dimana tuan Hanson di rawat diikuti oleh Bram dan Alex.
Semenjak kepergian mereka dari kantor tadi, Alex masih berkutat dengan pertanyaan yang ada di pikirannya.
"apa yang terjadi dengan paman! mengapa ia bisa ada di rumah sakit." batin Alex bertanya-tanya pada dirinya. Dia pun tidak berani bertanya langsung kepada Bram, karena ia tau sepupunya ini dalam keadaan tidak baik. Tiba di depan ruang inap, Suster mempersilakan mereka berdua untuk masuk.
"silahkan masuk Pak." ucap Suster mempersilahkan.
Tanpa dipedulikan Bram, ia melewati Suster tersebut, dan langsung memutar knop pintu ruangan. Begitu pintu terbuka menampilkan sosok pria paruh baya yang terbaring lemah dengan perban melingkar di kepalanya. Betapa sakit hati Bram melihat itu semua, Alex pun tampak kaget melihat pamannya begitu lemah di atas brankar.
"apa yang terjadi ayah, kenapa kau bisa seperti ini?'' tanya Bram dengan mata berkaca-kaca sambil mencium punggung tangan ayahnya yang tak sadarkan diri.
Alex tetap diam, dia bingung apa yang harus dikatakannya. tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat sosok Dokter stengah baya masuk.
"selamat pagi Pak, saya Dokter Leon yang merawat ayah anda." sapa Dokter Leon pada Bram, dan Alex sambil tersenyum memperkenalkan diri .
"Bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Bram tanpa basa-basi.
"Ayah anda sudah membaik Pak, untung saja nyonya Nina telah membantu pasien." ucap Dokter.
Kening Bram berkerut, "jelaskan apa yang terjadi?" ucap Bram.
Dokter pun menjawab, "ayah anda tadi mengalami kecelakaan tabrak lari tuan, untung saja Nyonya Nina segera membawah pasien kemarih, dan langsung mentransfusi darahnya sendiri untuk tuan Hanson. Karena stok darah rumah sakit kami kekurangan golongan darah B, kebetulan golongan darah Nyonya Nina sama dengan pasien tuan." jelas Dokter Leon.
Bram mendengar itu semua mengepal keras tangannya hingga buku-buka jarinya menonjol, perasaan syukurnya juga sedikit menenangkan hatinya, karena nyawa ayahnya masih bisa diselamatkan.
Alex,,, panggil Bram dengan suara serak, Alex pun menatap Bram, "cari tau siapa yang sudah menabrak ayah." perintah Bram dengan rahang yang mengeras.
Tanpa sepata kata pun Alex bergegas keluar ruang inap langsung merogoh kantong jasnya menampilkan benda pipi berlogo apel, dan langsung menempelkan di telinganya. Alex menelfon polisi, dan beberapa anak buahnya untuk mencari tau siapa yang sudah menabrak pamannya itu. Di dalam ruang inap, Nina masih terbaring di atas brankar yang bersebelahan dengan brankar tuan Hanson hanya di batasi tirai saja.
Bram menyadarinya, "berapa uang yang kau butuhkan?" tanya Bram pada Nina dengan tatapan datar.
Nina sontak saja kaget, "apa maksudmu tuan?" tanya Nina merasa tersinggung.
"Katakan berapa uang yang kau butuhkan, kau sudah menyelamatkan ayahku?" ulang Bram dengan kalimatnya.
"maaf tuan saya ikhlas menolong ayah anda, saya tidak meminta upah sedikitpun." ucap Nina.
"Baiklah terima kasih, silahkan pergi dari sini." ucap Bram tegas.
Di dalam ruangan hanya mereka bertiga lagi, Nina kaget dengan sikap ketus Bram. Tanpa sepata kata pun Nina beranjak dari tempat berbaringnya, dan langsung ke luar ruang inap tersebut. Bram mengelus punggung tangan ayahnya, tiba-tiba tangan tuan Hanson bergerak. Bram terkejut, buru-buru saja ia memanggil Dokter.
Tak lama kemudian Bram sudah membawah Dokter tadi, segera Dokter Leon memeriksa keadaan tuan Hanson dan menyuntik entah cairan apa itu.
"Bagaimana keadaan ayah saya Dok?" tanya Bram.
"Pasien sudah mulai membaik Pak, kita tinggal tunggu beberapa jam lagi." jawab Dokter Leon.
Perasaan Bram kembali membaik, bagaimanapun dia takut kehilangan ayahnya. Di depan rumah sakit Nina masih berdiri di parkiran, membayangkan bagaimana sikap pria tampan tadi.
"ya allah sikapnya sangat angkuh, bagaimana bisa kau menciptakan manusia seperti dia." ucap Nina jengkel.
Segera Nina menggas motornya menuju kontrakannya. Tadinya ia ingin berangkat kerja di salah satu supermarket dekat rumah sakit ini, tapi jam sudah menunjukan pukul setengah 11 siang. Tidak mungkin dia pergi ke supermarket, percuma sampai sana pasti dia akan langsung di usir oleh bosnya.
Beberapa jam kemudian tuan Hanson sudah sadar dari kritisnya, sekarang tuan Hanson sudah dipindahkan ke ruangan vip rumah sakit.
"Siapa nama gadis yang menyelamatkan ayah Nak?" tanya tuan Hanson.
"Sudahlah ayah, lebih baik ayah istirahat jangan banyak pikiran dulu." ucap Bram.
"Ayah ingin berterima kasih padanya nak," ucap tuan Hanson pelan.
"Aku sudah berterima kasih padanya ayah, ayah hanya butuh istirahat sekarang." tegas Bram.
Tuan Hanson tersenyum melihat tingkah anaknya, dia begitu membanggakan anak semata wayangnya ini, tetapi sikap anaknya ini sangat keras, dingin ,dan cuek pada orang-orang disekitarannya semenjak kepergian ibunya.
Dia juga cemas dengan anaknya, usia anaknya sudah tidak dikatakan mudah lagi, 28 tahun. Usia seperti itu sudah pantas untuk menikah bukan? dan di umur ayahnya juga semakin bertambah.
Dia ingin sekali melihat anaknya menikah sebelum sang pencipta memanggilnya lebih dulu. Tiba-tiba dia mengingat gadis yang menyelamatkannya, memang dia belum melihat bagaimana rupa gadis tersebut dan belum tau nama gadis itu, tuan Hanson hanya mendengar semua cerita dari dokter Leon beberapa jam lalu tanpa menyebut nama gadis itu.
"Mau kah kau menikahi gadis yang sudah menyelamatkan ayah Nak?" tanya tuan Hanson seketika.
Sontak Bram kaget dengan pertanyaan ayahnya itu, "apa maksud ayah?" tanya Bram kaget.
"Menikahlah nak, umurmu sudah cukup untuk menikah, umur ayah juga sudah tidak lama lagi." jelas tuan Hanson.
"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah akan segera pulih, aku juga tidak akan menikahi gadis itu ayah." ucap Bram dengan tegas.
"Ayah ingin melihatmu menikah nak, almarhum ibumu juga pernah meminta hal serupa tapi kau tetap menolak. Bagaimana perasaan ibumu pada saat itu, dia ingin sekali melihatmu bahagia nak Bram, ia ingin meminang cucu dari mu nak." jelas tuan Hanson sedih kembali mengingat istrinya.
Memang beberapa tahun lalu almarhum Nyonya Parcelia Huston meminta hal serupa dengan Bram. Meminta anaknya untuk segera menikah, karena ia berharap mendapatkan cucu dari anak semata wayangnya.
tapi Bram tidak kunjung mengabulkan permintaan ibunya itu, Hingga nyonya Parcelia meninggal dunia. Padahal nyonya Parcelia sudah sangat berharap pada anaknya agar diberikan cucu secepatnya.
Nyonya Parcelia sangat sedih atas penolakan anaknya, padahal keinginan besarnya meminang cucu dari Bram. Tapi takdir tidak mengizinkan itu semua, Bram mulai sedih mengingat kembali permintaan ibunya itu, ia sungguh merasa bersalah sampai saat ini.
"Tapi ayah, aku tidak menyukainya dan aku tidak mengenalnya." sanggah Bram.
"Menikahlah nak, ini permintaan terakhir ayah, ayah ingin melihatmu bahagia sebelum ayah pergi untuk selamanya nak Bram." ucap tuan Hanson lemah.
Ia berpikir tidak ada jalan lain lagi selain memaksa anaknya dengan cara seperti ini.
"Ayah aku mohon jangan meminta hal yang tidak bisa ku kabulkan." pinta Bram memohon.
"Kabulkanlah permintaan terakhir ayahmu ini nak, ini untuk kebaikanmu Bram." mohon tuan Hanson pada anaknya.
Bram langsung memijit pelipisnya mencoba menjawab permintaan sang ayah, dia begitu menyayangi ayahnya, dia begitu takut permintaan ibunya dulu yang sama kembali menjadi penyesalan terakhirnya.
"Baiklah ayah, aku akan mencoba mencarinya dan menikahinya." ucap Bram terpaksa.
Tuan Hanson tersenyum menghiasi wajahnya yang tak kalah tampan dari anaknya itu walaupun dia dalam keadaan lemah dan pucat.
''Menikahlah besok nak!'' kali ini suatu perintah bukan permintaan, sekali lagi Bram kaget dengan perintah ayahnya.
"Bagaimana bisa aku harus menikahinya secepat itu ayah? aku tidak tau di mana tempat tinggalnya." ucap Bram.
''Bram.'' ucap tuan Hanson.
"baiklah ayah aku akan mencoba mencarinya dan besok menikahinya." ucap Bram terpaksa.
"Terima kasih nak kau mengabulkan permintaan ayah, di atas sana ibumu pasti merasa senang mendengar semua ini." ucap tuan Hanson senang.
"Istirahatlah ayah, aku keluar sebentar" ucap Bram meninggalkan ruangan ayahnya.
"Gadis itu bekerja di salah satu supermarket dekat rumah sakit ini nak, carilah dia." jelas tuan Hanson, Bram hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Tuang Hanson juga merasa bersalah pada anaknya, tidak seharusnya dia meminta hal yang tidak masuk akal ini, apalagi Bram tidak menyukai hal tersebut, tapi ia tak punya pilihan lain.
Tuan Hanson berdoa semoga ini yang terbaik untuk anaknya, dia ingin kehidupan Bram yang sekarang ada yang mengurusnya, apalagi dia orang yang sangat sibuk. Seorang CEO mempunyai perusahaan, dan beberapa cabang perusahan yang tersebar di Indonesia maupun luar negeri, Bram tentu saja membutuhkan pendamping hidup yang bisa mengurusnya.
keesokan harinya, di rumah sakit Bram sudah membawah gadis yang dimintai ayahnya untuk dinikahi, begitu Bram masuk di ruang inap tuan Hanson, di ambang pintu menampilkan sosok pria tampan, wajah datar, dan bermata tajam dengan seorang wanita cantik memakai hijab.
Tuan Hanson tersenyum melihatnya dan menyapa gadis tersebut, "siapa namamu nak?" tanya tuan Hanson langsung.
“Nina Defras tuan." jawab Nina ramah dan tersenyum manis.
"Bagaimana keadaanmu tuan?" tanya Nina balik.
"Sudah mulai membaik nak, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya." ucap tuan Hanson berterima kasih.
"Bagaimana saya harus membalas kebaikanmu nak Nina?" tanya tuan Hanson lagi.
"Ah tidak perlu tuan, saya sangat ikhlas menolongmu, syukurlah keadaan tuan juga sudah membaik." ucap Nina jujur dan tidak lupa senyum manisnya.
"Apakah kau sudah mempunyai kekasih nak?" tanya tuan Hanson hati-hati.
Nina hanya menggeleng heran.
"Di mana orang tuamu nak?" tanya tuan Hanson lagi.
Tampak raut wajah Nina sedih, tuan Hanson pun mengerti.
"maaf jika pertanyaan saya salah." ucap tuan Hanson merasa bersalah, Nina pun hanya menanggapi dengan senyumnya.
"Oh iya perkenalkan dia anakku Bram Xander Huston." ucap tuan Hanson memperkenalkan.
Nina melirik malas pria yang dimaksud, ia hanya tersenyum pada tuan Hanson.
Dalam hati Nina sangat jengkel dengan pria tampan nan angkuh di depannya itu. Bagaimana tidak, tadi saja pria tampan itu mengajaknya ke rumah sakit ini dengan paksa tanpa memberi tahu alasannya.
"Kau sudah tahu nak apa maksud saya memanggilmu ke sini?" tanya tuan Hanson pada Nina.
Yang di tanya pun hanya menggeleng, memang Nina tidak mengetahui apa maksud pria tampan itu mengajaknya ke rumah sakit ini, tuan Hanson pun mengatur nafasnya dengan pelan.
"Nina, maukah kau menikah dengan anak semata wayangku Bram Xander Huston??" tanya tuan Hanson.
Dhek... Jantung Nina berdetak, Nina sontak kaget. "astaga apakah ini suatu lamaran?" batinnya.
"a,a,apa maksudmu tuan?" tanya Nina terbata-bata.
Tuan Hanson tersenyum dan mengulangi perkataannya lagi.
"saya tuan Hanson Smith Huston ayah dari Bram Xander Huston melamarmu untuk menjadikanmu istri dari anak saya seorang ceo dan menjadikanmu menantuku, maukah kau menerima lamaran ini nak Nina?" ucap tuan Hanson mantap.
Yang di tanya pun kaget bukan main, jantung Nina sudah tidak berdetak normal.
"ma, maksud saya bagaimana mungkin saya harus menikah dengan anakmu tuan, sedangkan saya hanya gadis desa yang tidak berpendidikan tinggi, saya hanya seorang pegawai supermarket, dan saya juga tidak mengenal anakmu tuan." jelas Nina masih tak percaya.
Yah, Nina sadar akan statusnya, karena tidak mungkin seorang pria tampan yang berpendidikan tinggi, apalagi seorang Ceo di perusahaannya sendiri, pria yang sangat kaya raya, akan menikah dengannya yang notabennya orang yang tak mampu.
Tuan Hanson tersenyum "tidak apa-apa nak, kau pantas menjadi menantuku, semua kebutuhanmu akan terpenuhi." jelas tuan Hanson.
Nina pun melirik pada Bram, jantung Nina berdetak lebih cepat lagi, mata Elang pemilik mata itu tidak lepas dari tatapannya menatap dirinya, Nina langsung saja berpaling.
''astaga, tidak mungkin aku menikah dengan pria angkuh itu, dari tatapannya saja seperti ingin membunuhku detik ini juga." batin Nina takut.
Tuan Hanson mengerti dengan raut wajah Nina "bagaimana nak Bram, kau mau menikahinya?" tanya tuan Hanson pada Bram yang sedari tadi hanya diam.
"YA." jawab Bram ketus.
Nina sudah menduga, bahwa pria itu juga tidak menginginkan pernikahan ini.
Clek,,, pintu terbuka, beberapa orang yang masuk ruang inap. Sebelum Bram pergi menjemput Nina, dia sudah terlebih dahulu menelfon Alex untuk membawah penghulu ke rumah sakit juga beberapa orang untuk dijadikan saksi. Alex sempat kaget dengan perintah sepupunya, begitu Bram menjelaskan semuanya Alex pun paham.
Tuan Hanson tersenyum melihat beberapa orang yang masuk ruang inapnya. Nina masih syok dengan kejadian ini, matanya tak berkedip sedikit pun, dua orang perawat, Dokter Leon, juga pak RT, dan
''Astaga siapa pria paru baya yang berpakaian layaknya imam masjid, apakah dia penghulu?" batin Nina syok.