Bab 1

Acara pernikahan mewah itu baru saja berlangsung.

Kedua mempelai sudah berada di dalam kamar pengantin mereka.

Handaru menghampiri Mitha yang tampak kesulitan membuka gaun pengantinnya.

"Sini, aku bantu," ucap Handaru dengan senyuman ramahnya. Lelaki berparas tampan dengan wajah yang ditumbuhi brewok tipis itu membantu sang istri melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Mitha.

Merasa malu karena ini pertama kalinya Mitha berada satu kamar dengan lelaki sebayanya, Mitha buru-buru mengambil jubah mandi dan mengenakannya. Menutupi tubuh mungil aduhainya yang hanya terbalut pakaian dalam saja.

"Kamu mau mandi?" tanya Handaru pada Mitha, wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Menjadi seorang Nyonya Handaru Pratama. Sang Milyuner yang kekayaannya tak akan habis tujuh turunan.

Mitha mengangguk, pipi wanita itu merona.

"Boleh aku ikut?" ucap Handaru dengan kerlingan nakal.

Mitha memukul bahu sang suami. "Tidak boleh!" sahutnya sambil melenggang pergi. Handaru memang seperti itu, suka sekali menggoda Mitha dengan wajah innocent nya yang selalu sukses membuat pipi Mitha merona.

"Pelit!" keluh Handaru yang langsung memasang wajah cemberut. Lelaki itu tersenyum menatap Mitha yang semakin hari semakin cantik saja.

Rasanya seperti mimpi, kini dirinya bisa benar-benar memiliki Mitha. Wanita yang memang sejak pertama kali melihatnya sudah membuat Handaru jatuh hati. Setelah melalui proses panjang hingga jatuh bangun Handaru berjuang mendapatkan hati Mitha, kini wanita yang menjadi tambatan hatinya itu sudah benar-benar utuh dia miliki. Hanya dirinya. Bukan orang lain.

Handaru melepas kemeja putih yang masih dia kenakan dan melemparnya asal ke atas sofa di pojok ruangan. Beranjak ke atas tempat tidur untuk merebahkan diri sejenak setelah seharian penuh ini dia benar-benar sibuk menyambut para tamu undangan yang jumlahnya ribuan orang. Lelaki itu memilih untuk menunggu Mitha sambil menonton TV.

Sementara itu di dalam kamar mandi, Mitha berdiri di balik pintu kamar mandi dengan debaran kencang di dadanya.

Hingga setelahnya, satu titik air mata wanita itu mengalir di pipi.

Apa yang harus aku lakukan?

Aku tidak mungkin membohongi suamiku sendiri akan keadaanku saat ini?

Gumam Mitha dalam hati.

Kenyataan bahwa dirinya sudah tidak virgin terlebih dengan adanya sebuah benih yang tumbuh dalam rahimnya saat ini, membuat Mitha sangat frustasi.

Sungguh bukan hal yang mudah untuk dilalui ketika Mitha mendapati dirinya terbangun dalam keadaan tubuh tanpa busana di dalam sebuah hotel bersama seorang lelaki yang tak dia kenal.

Mitha yang sejauh ini tak pernah terlibat dalam pergaulan bebas karena dirinya sangat menjaga harga diri dan nama baik keluarganya memang sangat teliti dalam memilih pergaulan apalagi dengan seorang pria. Itulah sebabnya, Mitha sering menjadi bahan ejekan para sahabatnya karena sampai detik dirinya hendak menikah, Mitha bahkan belum pernah berciuman dengan seorang lelaki mana pun, termasuk dengan Handaru, calon suaminya.

Mitha benar-benar selektif dalam menjalin hubungan dekat dengan lelaki, itulah sebabnya teman lelaki Mitha bisa terhitung jari.

Semua hal itu Mitha lakukan karena memang dia yang ingin sungguh-sungguh menjaga kehormatan dan keutuhan dirinya sebagai seorang wanita. Lantas, jika sudah seperti ini, Mitha tak tahu apa yang harus dia lakukan?

Cobaan ini sangatlah berat bagi Mitha.

Cukup lama Mitha terdiam menatap pantulan wajahnya di cermin, masih di dalam kamar mandi.

Dia benar-benar bingung, kalut, takut dan sedih.

Harusnya, malam pertama pengantinnya dengan Handaru adalah malam yang paling istimewa seumur hidup Mitha setelah sebelumnya dia berjuang keras untuk mempertahankan mahkota sucinya sebagai seorang perempuan karena ingin mempersembahkan hal itu untuk suaminya kelak, lelaki yang benar-benar dia cintai. Tapi, semua harapannya kini berubah menjadi mimpi buruk.

Mitha telah kehilangan keperawanannya dalam keadaan yang bahkan dia tidak ketahui alurnya.

Bagaimana awalnya dan kenapa dirinya bisa sampai ada di dalam kamar hotel itu, Mitha benar-benar tidak tahu. Lalu mengenai siapa sebenarnya lelaki brengsek yang sudah menodainya itu, Mitha juga tidak tahu. Dia hanya tahu sebatas wajah ketika dirinya melihat lelaki itu dengan leluasa memeluk tubuhnya yang polos.

Sejauh ini tak ada satu orang pun yang mengetahui tentang kejadian malam itu termasuk mengenai dirinya yang kini berbadan dua selain Eren, sahabatnya. Mitha sengaja menyembunyikannya karena dia tidak ingin aib ini menghancurkan segalanya. Jika sampai orang lain tahu, bukan hanya Mitha yang malu tapi keluarganya pun akan terbawa imbasnya. Mitha hanya tak ingin penyakit jantung yang diderita sang Ayah kumat akibat tak kuat menanggung malu. Belum lagi dengan pihak keluarga Handaru dan Handaru sendiri.

Jika sudah mengingat semua itu, Mitha pasti merasa kepalanya serasa mau pecah.

Wanita pemilik paras cantik berkulit putih mulus itu kembali menatap wajahnya di depan cermin seraya berkata dalam hati.

Malam ini, Handaru harus tahu yang sebenarnya.

Aku tidak mungkin menyimpan rahasia ini karena pasti Handaru akan mengetahuinya sendiri.

Aku tidak ingin mengawali kehidupan rumah tanggaku dengan kebohongan.

Ya, aku harus berkata jujur pada Handaru.

Dia lelaki baik dan aku yakin dia bersedia menerima keadaanku saat ini karena dia mencintaiku.

Setelah meyakinkan segenap hati dan mengumpulkan keberanian, akhirnya Mitha keluar dari kamar mandi setelah aktifitasnya selesai. Dia menghampiri Handaru yang sedang rebahan di atas ranjang sambil menonton TV.

Mitha merangkak dan menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang Handaru yang shirtless.

Handaru membelai rambut panjang Mitha yang wangi dan masih basah. Sesekali dikecupnya lembut ubun-ubun kepala sang istri.

"Rambut kamu harum sekali," ucap Handaru di tengah keintiman mereka.

Mitha tersenyum tipis. Jemari lentiknya berputar di atas dada bidang sang suami.

"Mas," panggilnya.

"Ya," jawab Handaru.

Mitha menegakkan tubuhnya dan menatap wajah tampan Handaru. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya meski setengah ragu, terlebih takut.

"Apa? Katakan saja," tanya Handaru dengan tatapannya yang masih fokus ke layar televisi.

"Ini hal penting! Matikan dulu TV-nya," perintah Mitha yang langsung merampas remot TV di tangan sang suami dan menekan tombol off.

Handaru menatap Mitha dengan wajah penuh tanya. Sebelah tangannya merayap ke atas paha Mitha yang terekspos dan mengelusnya pelan.

"Kenapa wajahmu tegang sekali?" goda Handaru dengan senyuman mesum. "Kamu takut aku terkam ya?"

"Mas!"

Handaru tertawa saat wajahnya yang hendak mendekati wajah Mitha malah ditepis oleh jemari lentik Mitha.

"Memangnya hal apa sih yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya tidak sabar.

Mitha mengulum bibir dengan kepalanya yang tertunduk dalam.

Handaru menyentuh dagu Mitha dan mengangkat wajah di hadapannya itu supaya bisa dia tatap dengan penuh cinta.

"Katakan Mitha, ada apa?"

"Janji dulu kamu tidak akan marah," ucap Mitha dengan suara gemetar. Dia benar-benar takut.

"Memangnya selama ini aku pernah marah padamu? Hm?"

"Tidak," jawab Mitha dengan gelengan kepala.

"Ya sudah. Katakan sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Jangan buat aku menunggu," nada suara Handaru masih terdengar lembut.

Untuk beberapa saat suasana hening menyergap mereka sampai akhirnya Mitha pun bersuara.

"Hm, a-aku... Aku..." Mitha menelan kembali salivanya yang begitu pahit. Belum apa-apa kelopak matanya sudah memanas. "Aku... Aku sedang hamil, empat minggu,"

Deg!

Seperti ada sebuah palu godam raksasa yang menghantam dadanya, ketika Handaru mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Mitha.

Lelaki itu menggeleng pelan lalu tertawa hambar. "Leluconmu tidak lucu Mitha," ujarnya tak percaya.

Mitha meraih kedua tangan sang suami dan menggenggamnya erat. Menatap ke dalam mata Handaru dengan tatapan yang menekankan kembali bahwa perkataannya tadi adalah sebuah kebenaran.

"Aku tidak sedang bercanda, Mas. Aku serius. Aku hamil dan aku tidak tahu siapa Ayah dari anak ini," Mitha mulai menangis.

Wajah lembut Handaru seketika menegang. Air mata yang meleleh di wajah Mitha telah memperjelas semuanya.

Perilaku Handaru yang tadinya hangat kian berubah dingin. Bahkan dengan sentakan kasar dia menarik kedua tangannya dari genggaman Mitha. Lelaki itu berdiri sambil berkacak pinggang dan membelakangi Mitha.

"BAGAIMANA BISA INI TERJADI? Aku pikir... Aku pikir selama ini kamu itu adalah wanita baik-baik yang bisa menjaga kehormatanmu, Mitha!" ucap Handaru setengah berteriak. Lelaki itu terlihat meremas rambutnya dengan kedua tangan. Dia terlihat syok berat.

"Mas, aku juga tidak mau ini terjadi! Aku sudah diperkosa," aku Mitha membela diri di tengah ketidakberdayaannya.

"LALU KENAPA KAMU TIDAK LAPOR POLISI?" potong Handaru dengan kedua bola mata yang melotot marah. Bahkan suara Handaru terdengar menggelegar kencang, membuat Mitha terkejut. Sebab, sejauh dirinya mengenal Handaru, lelaki itu selalu terlihat baik dan ramah dengan tutur katanya yang lemah lembut.

"Aku malu Mas, aku tidak mau ada orang yang tahu, apalagi Ayah. Dokter bilang, kalau sampai sekali lagi penyakit jantung Ayah kumat, dia bisa meninggal," tangis Mitha pecah saat itu.

Handaru diam tapi wajahnya terlihat begitu mengerikan.

Mitha merangkak mendekati Handaru dan berlutut di bawah kaki lelaki itu.

"Maafkan aku Mas. Aku mohon Mas bisa menerima keadaanku dan bersedia merahasiakan hal ini,"

Kedua rahang Handaru mengeras. Dia membungkuk dan menekan kedua rahang Mitha dengan sebelah tangannya. Tatapan tajamnya yang sarat kebencian menghunus kelopak mata Mitha yang berlinang air mata.

"Kamu pikir, aku ini tong sampah yang mau menampung barang bekas pakai orang lain? Hah?" Sentaknya kasar.

Hati Mitha mencelos.

Sungguh, Mitha tak mengenal sosok Handaru yang kini ada di hadapannya.

Detik itu juga, neraka pernikahannya dengan Handaru dimulai.

Mitha mengutuk lelaki yang telah memperkosanya malam itu!

Siapa pun dia, di mana pun dirinya berada, lelaki itu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya!

Itu sumpah Mitha!

Bab 2

Satu Bulan sebelum prolog...

Malam kian larut tapi suasana di Club malam elit The Dragon's Club justru semakin meriah.

Lima orang lelaki berpakaian casual tampak asik bercengkrama di pojokan ruangan.

Mereka adalah Alvin, Roni, Tio, Bagas dan Arsen.

Lima orang tentara yang sedang menikmati waktu luang mereka dengan berpesta pora. Sekedar merelaksasi otot-otot tubuh yang tegang setelah bertugas di medan perang.

"Sudah lama kita tidak bermain Truth Or Dare," celetuk Alvin setelah menenggak habis botol vodkanya. Alvin memposisikan botol kosong itu di tengah-tengah meja yang melingkar.

"Ah, tidak usah mulai kau Vin!" Sahut Tio tidak setuju.

Alvin tertawa hambar. "Dasar pengecut!" Makinya pada Tio.

"Bilang saja kau takut kalah lagikan Yo?" Timpal Roni yang sudah setengah mabuk. Roni memutar botol Vodka di tengah meja itu sementara Bagas tidak banyak berkomentar karena asik dengan perempuan. Lain halnya dengan Arsen yang diam karena dasarnya memang lelaki itu yang paling irit bicara di antara keempat sahabat seperjuangannya yang lain.

"Woy, berhentilah kau bermain perempuan! Ayo kita main dulu," ajak Alvin yang menarik Bagas agar melepas pagutan bibirnya dengan seorang wanita yang bahkan baru mereka kenal malam itu. Tebakan Alvin, pasti perempuan itu adalah salah satu lonte di Club malam yang mereka kunjungi malam ini.

Bagas berdecak. "Main apa sih?"

"Truth or dare," jawab Alvin cepat.

"Permainan yang dulu itu?" tanya Bagas lagi.

"Iya, yang waktu itu pernah kita mainkan di dalam mes, lalu si Tio kalah dan mau tidak mau harus menerima tantangan Arsen untuk lari satu putaran di tengah lapangan dalam keadaan bugil!"

Sontak tawa keempat prajurit itu pecah. Terutama Arsen.

"Oke ayo kita main! Aku ingin membalaskan dendamku pada Arsen," sahut Tio kemudian. "Kali ini, kau tidak akan aku lepaskan, Sen! Karena ulahmu, aku kena hukuman sama Kapten Drajat! Sialan!" Gerutu Tio jengkel.

Saat itu Arsen yang memang dikenal paling pendiam tetap bertahan dengan gayanya yang cool. Hanya senyuman miring yang tersungging di wajah tampannya yang mempesona.

Permainan pun dimulai.

Saat itu mereka memberi kesempatan pada wanitanya Bagas untuk memutar botol Vodka di tengah meja itu.

Botol itu berputar cepat searah jarum jam.

Suasana mendadak hening dan mencekam.

Fokus kelima prajurit itu benar-benar tertuju pada ujung botol untuk menunggu hingga ujung mulut botol itu berhenti.

Botol yang tadinya berputar cepat semakin berkurang intensitas kecepatannya.

Putarannya semakin pelan.

Pelan...

Pelan...

Dan... Stop!

"ALVIN!" Kompak, keempat lelaki lain berteriak ketika ujung mulut botol itu mengarah ke Alvin.

"Ahk sial! Ide makan tuan!" keluh Alvin kesal.

"Trut Or Dare?" tanya Arsen lantang.

Alvin berpikir.

Cukup lama.

"Truth," jawab lelaki berpotongan cepak itu.

"Siapa yang mau bertanya?" tanya Bagas.

"Aku," sahut Arsen lantang.

Alvin tampak menarik napas berat saat tatapan Arsen menyeringai ke arahnya. Sebab dia tahu apa yang hendak ditanyakan Arsen padanya. Sial!

"Dua minggu yang lalu, kau mengatakan tidak bisa ikut kumpul bersama kita di NightJar dengan alasan Ibumu sakit," jelas Arsen kemudian. Senyum di wajah tampannya kian mengembang.

"Lalu malam harinya saat aku pulang ke rumah, Ibuku mengatakan bahwa malam itu beliau baru saja menghadiri acara arisan bersama Ibumu. So, itu tandanya kau sudah berbohong pada kita-kita, why?"

Kedua rahang Alvin mengeras. Ingin sekali rasanya dia menjahit mulut nyinyir Arsen. Sayangnya kondisi tidak memungkinkan baginya. Alvin benar-benar terpojok.

"Pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab," lanjut Arsen masih dengan wajahnya yang terlihat menyebalkan di mata Alvin.

Ketiga lelaki lain tampak mendengarkan dengan penuh antusias penjelasan Arsen.

"Pergi kemana kau malam itu? Dan dengan siapa kau pergi?" Tambah Arsen mengakhiri perkataannya.

Alvin tersenyum sinis. "Kau ingin menjebakku?"

Arsen menggeleng. "Aku tidak bermaksud untuk menjebakmu. Akukan hanya bertanya dan berharap kau bisa menjelaskan alasanmu mengapa sampai harus berbohong pada para sahabatmu ini? Mudahkan?"

"Jelas-jelas kau sudah tau jawabannya, lalu untuk apa kau masih juga mempertanyakan hal itu di sini? Kau ingin memancing keributan?" sambung Alvin cepat. Lelaki itu terlihat kesal.

"Jujur itu lebih baik daripada harus bermain petak umpet terus-menerus. Apalagi harus berbohong pada kami," jawab Arsen santai tanpa rasa bersalah, sedikit pun.

Alvin menarik napas panjang dengan lirikan kecil ke arah Roni. Sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini!

"Jawab, Vin!" Cecar Tio tak sabar.

"Oke-oke, aku akan jawab," balas Alvin pada akhirnya. Pasrah. Mungkin ini memang saatnya dia membongkar apa yang telah dia sembunyikan selama ini dari sahabat-sahabatnya itu. Terkecuali Arsen yang memang sudah lebih dahulu mengetahui mengenai rahasia dirinya tersebut.

"Waktu itu aku pergi dengan Silla," ucap Alvin cepat tanpa berani menatap ke arah Roni.

Arsen tersenyum sarat kelegaan sementara kedua lelaki lain tampak syok berat. Mereka Bagas dan Tio. Keduanya sontak menatap Roni dengan tatapan prihatin.

"Sorry, Ron. Aku tidak ada maksud menikammu dari belakang. Tapi, Silla sendiri yang terus menerus mengejarku," ungkap Alvin yang merasa tak enak hati pada Roni Sang sahabat yang notabene adalah mantan kekasih Silla.

Siapa yang tidak tahu bahwa Silla adalah wanita yang pada awalnya hendak meresmikan hubungan dengan Roni. Sayangnya pernikahan mereka kandas begitu saja tanpa sebab yang jelas. Sikap Roni yang introvert membuat tak banyak yang tahu mengenai alasan mengapa Roni dan Silla batal menikah. Lagi dan lagi, hanya Arsenlah satu-satunya orang yang tahu alasannya. Itulah sebabnya, Arsen menjadikan permainan ini sebagai ajang untuk para sahabatnya itu saling mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan pendam satu sama lain.

Hubungan persahabatan mereka sudah terjalin bahkan sejak mereka masih menjalani pendidikan di Akmil. Arsen jelas tak ingin hanya karena masalah wanita lantas hubungan mereka bisa rusak dan hancur.

"Santai saja Vin! Justru aku bahagia bisa ikhlas melepas Silla," ucap Roni dengan suaranya yang terdengar pedih.

Bagas menepuk bahu Roni memberi kekuatan.

"Sejak awal menjalin hubungan dengan Silla, aku sudah tahu kalau Silla itu sebenarnya mendekati aku cuma karena dia ingin dekat denganmu Vin. Aku yang salah karena sudah egois dan memilih untuk memaksakan kehendak. Tidak seharusnya aku memaksa seseorang yang tidak mencintaiku untuk bisa mencintaiku. Bahkan gilanya lagi, bisa-bisanya aku menjelek-jelekkan namamu di hadapan Silla agar dia membenci dirimu. Seharusnya aku yang minta maaf," ungkap Roni panjang lebar. Meski dalam keadaan setengah mabuk, namun pikiran Roni masih bisa diajak untuk berkompromi. Terlebih jika hal itu menyangkut tentang Silla, wanita yang masih teramat sangat dia cintai.

Arsen tersenyum.

Sesungguhnya inilah yang Arsen inginkan.

Sebagai seorang sahabat, Arsen jelas tidak ingin ada rahasia di antara mereka apalagi itu menyangkut soal hati. Hal yang sangat riskan untuk dirahasiakan.

Saat Alvin dan Roni saling berpelukan, bukan hanya Arsen yang ikut tersenyum, tapi Tio dan Bagas pun ikutan terharu. Mereka mengacungkan dua ibu jari mereka ke arah Arsen.

"Oke, sesi curhat selesai! Kita lanjutkan pemainan! Putar Vin!" ucap Tio menyudahi drama di tengah-tengah pesta mereka. Tio yang jelas-jelas sudah sangat gatal ingin membalaskan dendam terpendamnya pada Arsen.

Alvin pun memutar kembali botol di tengah meja.

Kembali keadaan di sekeliling mereka sunyi.

Kelima cowok itu kembali menunggu dengan cemas, dengan harapan jangan sampai ujung mulut botol itu berhenti ke arah mereka.

Detik-detik berlalu bagai bom waktu yang siap meledak.

Hingga akhirnya...

"ARSEN!"

Kembali mereka berteriak. Kali ini suara Tio paling keras.

Arsen mengesah seraya membuang muka. Wajah coolnya mulai tak tenang. Sepertinya malam ini dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya.

"Kau mau balas dendamkan Yo?" ucap Alvin dengan seringai licik.

"Yoi dong pasti!" sahut Tio sumringah.

Kedua lelaki itu saling berpandangan dengan beribu ide jahil di kepala.

"Sini aku beritahu kau sesuatu," kata Alvin lagi. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Tio sementara Bagas dan Roni tampak senyum-senyum.

"OKE!" ucap Tio tiba-tiba. Lelaki itu memajukan duduknya agar lebih dekat dengan Arsen. "Sudah siapkah Sersan Arsen menerima tantangan dari prajuritmu ini?" Ejek Tio dengan gayanya yang dibuat-buat seolah mereka sedang upacara di lapangan.

"Tantangan? Aku bahkan belum menentukan pilhanku!" jawab Arsen dengan mata melotot jengkel.

"Oke, kau mau pilih jujur atau tantangan?" tanya Alvin. "Tenang, ada kopral Alvin di sini yang sudah menyiapkan pertanyaan dan tantangan pamungkas untuk  ketua kita yang unyu ini,"

Ucapan Alvin diikuti tawa geli oleh Tio, Bagas dan Roni.

Arsen tau dirinya tersudut dan melihat kelicikan Alvin rasanya akan sangat tidak mungkin jika dia memilih jujur.

Alvin tahu satu rahasia besar Arsen yang selama ini Arsen sembunyikan dari dunia dan hal itu sangat memalukan jika sampai ketiga sahabatnya yang lain mengetahuinya juga. Bisa-bisa Arsen akan terus menjadi bulan-bulanan ejekan mereka di kemudian hari.

"Aku pilih tantangan," jawab Arsen pada akhirnya.

Alvin dan Tio saling bertos ria.

"Aku atau kau yang menyampaikan tantangannya?" tanya Tio pada Alvin.

"Kau sajalah," jawab Alvin cepat memberikan kehormatan itu pada sang sahabat. Alvin tahu betul kedongkolan Tio gegara ulah Arsen sewaktu mereka terakhir kali bermain Truth Or Dare di mes.

"Oke. Jadi begini, Pak Sersan Arsenio Malik Akbar yang terhormat, bukan rahasia lagi kalau di antara kita berempat, andalah satu-satunya lelaki yang belum pernah meniduri seorang gadis mana pun alias masih perjaka ting-ting," jelas Tio sambil cengengesan.

Wanita di samping Bagas tampak terkejut. Tatapannya terkesan remeh ke arah Arsen.

"Hari gini ya kan, masih perjaka?" ejek Alvin disambut suit-suit menyebalkan dari Roni dan Bagas.

Meski jengkel, tapi Arsen tetaplah Arsen. Seorang Bintara yang paling pintar dalam mengatur strategi perang dan dialah prajurit tertangguh di antara keempat sahabatnya yang lain. Dengan wajahnya yang hampir tanpa ekspresi, Arsen sukses membuat Tio dan Alvin merasa kalah.

"Jadi mau kalian itu apa sebenarnya? Cepat katakan!" tanya Arsen mulai tidak sabar.

"Kau harus melepas statusmu sebagai seorang perjaka ting-ting malam ini juga dengan salah satu pelacur di dalam club ini! Bagaimana?" Jawab Tio cepat.

Arsen tercengang.

Meski setelahnya dia tetap memasang ekspresi datar dan tenang.

"Hanya itu?"

"Tentu tidak Pak Sersan!" Sambung Alvin. "Kami tidak bodoh. Kami harus memastikannya sendiri bahwa kau benar-benar melakukannya,"

Mendengar hal itu sontak wajah Arsen mengeras. "Heh, kau sudah gila ya? Yang benar saja, kalian mau menontonku berhubungan badan dengan pelacur?" elaknya tak setuju.

"Bukan begitu, Bro! Kau hanya perlu mengabadikannya dalam sebuah durasi video pendek sebagai bukti bahwa kau telah menyelesaikan tantangan dari kami dengan sebaik-baiknya, bagaimana Sersan Arsen? Jarang-jarang ada tantangan seenak yang kami berikan padamu, harusnya kau bersyukur, Sen!" Jelas Tio kemudian.

"Kita semua tahu kau itu sangat licik di Medan tempur. Kau ahlinya mengatur strategi untuk mengelabui lawan, tapi kali ini kau tidak bisa mengelabui kami. Aku dan Alvin yang memegang kendali dalam pertempuran kali ini," Tio tertawa keras di akhir kalimatnya. Akhirnya dendamnya pada Arsen terbalaskan juga.

Arsen terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras.

Hingga setelahnya, suara lain terdengar menyela percakapan para lelaki itu.

"Kalau kalian mau, aku bisa rekomendasikan pelacur terbaik di sini," ucap si wanita yang duduk di sebelah Bagas sejak tadi. Satu-satunya wanita yang menyaksikan permainan mereka. "Kenalkan, aku Agnes. Aku mucikari di sini,"

Keempat lelaki di lokasi itu saling pandang.

"Memangnya siapa pelacur terbaik di sini?" tanya Bagas mendadak kepo.

"Hu, Kalau sudah menyangkut masalah perempuan, kau cepat sekali konek!" Roni langsung menoyor kepala Bagas si penjahat kelamin itu.

Wanita yang mengaku bernama Agnes itu tertawa kecil melihat kekompakan para prajurit itu.

"Kalian lihat kan wanita yang sedang bergerombol di sana," ucap si wanita sambil menunjuk dengan tatapan matanya ke arah sekumpulan wanita bergaun pesta di meja Bar.

"Wanita dengan gaun putih berambut panjang itulah pelacur terbaik di Club malam ini," beritahu Agnes kemudian.

Kompak tatapan kelima lelaki itu mengarah ke si wanita yang dimaksud oleh Agnes.

"Yang pakai heels merah itu?" tanya Bagas lagi.

Agnes pun mengangguk.

"Wuih," seru Bagas kemudian. Wajahnya tampak takjub.

"It so Beautiful..." sambung Tio.

"Benar-benar kecantikan yang alami," timpal Roni

"Itu sih bidadari," kata Alvin menambahi.

Suara decak kagum pun terdengar bersahut-sahutan.

Dan saat itu, hanya satu orang yang tidak berkomentar.

Bukan karena dia tidak menyukai wanita itu, hanya saja karena satu hal aneh yang membuatnya seakan terhanyut ke dalam dimensi lain tatkala tatapannya tertuju pada sang wanita.

Arsen tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat dia merasa jantungnya tiba-tiba saja berdebar lebih kencang. Bahkan dia merasa waktu seolah berhenti berputar. Keadaan di sekelilingnya melambat. Tak ada suara apa pun yang terdengar selain detak jantungnya sendiri.

Wanita bergaun putih dengan heels merah menyala yang ditunjukkan Agnes padanya adalah wanita pertama yang berhasil membuat Arsen tak sanggup berpaling. Arsen seolah terhipnotis oleh segala keanggunan yang dimiliki wanita itu.

Sampai akhirnya panggilan sahabat-sahabatnya menghancurkan khayalan semu Arsen.

"Woy, malah melamun? Bagaimana? Kau mau dengan wanita itu tidak? Kalau tidak mau untukku saja," ucap Bagas antusias.

Arsen membuang muka seraya berdecak. "Kalian atur sajalah," ucap lelaki itu pasrah.

Tio dan Alvin menyeringai puas. Walau kelihatannya tenang-tenang saja tapi sebagai sahabat dekat mereka tahu pasti bagaimana sejatinya Arsen.

Walau di medan perang Arsen selalu menjadi prajurit tertangguh, namun masalah wanita Arsen jelas yang paling bodoh di antara mereka semua.

Meski wajah lelaki itu terlihat tenang, Alvin dan Tio tahu dalam hati pasti Arsen sedang dilanda frustasi hingga mengutuki Alvin juga Tio karena sudah memberikan tantangan seperti ini padanya.

"Oke, kalau teman kalian setuju. Aku harus mengkonfirmasikannya lebih dulu pada anak buahku itu. Semoga saja dia masih free malam ini," ucap wanita berpakaian seksi bernama Agnes yang mengaku sebagai mucikari itu.

Agnes hendak bangkit untuk menghampiri wanita yang dia sebut sebagai pelacur terbaik itu ketika tangan Arsen tiba-tiba terangkat menangkap pergelangan tangannya.

"Boleh aku tau nama anak buahmu itu?" tanya Arsen yang mendadak dilanda rasa penasaran akut.

Agnes tersenyum penuh arti dan menjawab.

"Namanya Paramitha,"

Bab 3

PARAMITHA POV

Satu bulan berlalu usai hari lamaran berlangsung.

Hari ini, aku akan mengisi acara Bridal Shower yang diadakan oleh kerabat terdekat dan para sahabat terbaikku.

Bridal shower adalah pesta untuk calon pengantin perempuan dalam rangka merayakan lepasnya masa lajang sebelum hari pernikahannya tiba. Acara ini dihadiri oleh teman, sahabat dan keluarga besar dari calon ke dua mempelai.

Kata shower di sini bukan berarti mandi dalam makna sesungguhnya, melainkan bermakna momen di mana calon pengantin wanita dihujani banyak kado dan kebahagiaan dari orang-orang terdekatnya.

Tujuan acara ini, selain untuk bersenang-senang juga sebagai momen pemberian hadiah untuk calon pengantin sebelum ia memulai kehidupan barunya.

Semua kerabat terdekatku merancang acara hari ini dengan sedemikian rupa dan menjadikan aku serta Mas Handaru, calon suamiku sebagai pangeran dan ratu dalam acara.

Segala hal yang menyangkut dengan kegiatan acara semua atas koordinasi Eren, dibantu teman-teman terdekatku yang lain dan juga para Om, Tante, serta beberapa sepupu-sepupu tersayangku.

Ya, keluargaku memang merupakan keluarga besar.

Ayahku yang seorang Dosen di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta memiliki lima saudara kandung yang kesemuanya sudah menikah dan sukses dengan karirnya masing-masing. Sementara Ibuku yang seorang Dokter spesialis memiliki seorang adik kandung lelaki yang sekarang menjadi salah satu anggota TNI AD. Terakhir aku bertemu dengan Paman Drajat itu sekitar satu tahun lalu saat Pamanku masih bertugas di Jakarta.

Sejak kecil aku dididik dalam lingkungan yang baik dengan penerapan kedisiplinan yang tinggi. Ayah tidak pernah mengizinkan aku keluar rumah saat hari sudah gelap jika tidak untuk tujuan yang jelas, seperti kepentingan sekolah, kuliah, bahkan di saat aku sudah bekerja sebagai salah satu Manager di perusahaan terkemuka di Jakarta, Ayah masih saja mengkhawatirkan aku, si anak semata wayangnya.

Sejauh ini aku sama sekali tidak terbebani atas sikap over protektif yang diterapkan Ayah padaku karena aku sadar apa yang Ayah lakukan semuanya kembali untuk diriku sendiri. Banyak hal yang terjadi di luar sana, yang bisa kujadikan sebagai pelajaran berharga di saat aku mendapati teman-temanku justru terlibat dalam pergaulan bebas yang akhirnya merugikan diri mereka sendiri.

Mereka bilang, aku kuper karena tidak pernah mau ikut jika mereka mengajakku hang out ke Club malam. Tidak mau mencoba minuman beralkohol, tidak merokok, bahkan aku tidak pernah memakai pakaian minim ketika aku keluar rumah. Sampai akhirnya aku bertemu Eren, satu-satunya sahabat terbaik yang aku miliki hingga saat ini. Sebab, sejauh ini hanya Eren yang mengerti akan diriku.

Itulah mengapa, hanya kepada Eren lah aku berani mengungkapkan semua keluh kesah yang aku rasakan dalam hati selama ini.

Bagiku, Eren bukan sekedar sahabat tapi lebih daripada itu.

"Aduh calon pengantin wanita ini lama sekali dandannya. Acara sudah mulai sejak tadi dia baru datang. Kasihankan Mas Handaru menunggu terlalu lama," oceh Tante Rina. Dia adalah adik bungsu Ayahku dan salah satu keluarga yang paling dekat denganku.

Usia Tante Rina yang hanya terpaut lima tahun lebih tua dariku membuatku nyaman menceritakan tentang banyak hal padanya. Selain cerewet dan genit, Tante Rina ini sangatlah perhatian padaku.

"Maaf ya sudah membuat kalian menunggu," ucapku dengan senyuman lebar kepada para hadirin di dalam acara.

Tante Rina menggandeng lenganku dan mendudukkan aku di kursi kayu yang bersebelahan dengan Mas Handaru karena acara ke dua akan segera di mulai, yakni sesi games atau permainan.

Permainan pertama dinamakan tes kekompakan calon pengantin. Di mana para host yaitu Tante Rina dan Eren akan meminta calon pengantin perempuan untuk menjawab serangkaian pertanyaan yang sebelumnya telah ditanyakan pada calon pengantin pria. Apabila jawaban mereka tidak saling cocok, maka calon pengantin perempuan akan mendapat hukuman, begitu pun jika yang terjadi sebaliknya.

Momen bermain games seperti inilah yang nantinya akan menghiasi kemeriahan pesta, menciptakan banyak canda tawa dan memori tak terlupakan.

Biasanya ada tiga aktivitas penting yang dilakukan saat pesta.

Pertama, diawali dengan menikmati makanan dan minuman bersama-sama. Selepas acara makan-makan, lalu berlanjut dengan bermain games bridal shower, dan terakhir adalah acara paling spesial, yaitu buka kado.

Aku memang sudah melewatkan acara makan-makan karena aku berniat untuk diet demi mempersiapkan hari pernikahanku kelak. Sadar bahwa akhir-akhir ini bobot tubuhku naik, maka aku harus segera mengambil tindakan sebelum semuanya berubah menjadi berlebih.

"Belum jadi pengantin saja cantiknya sudah kelewatan," bisik lelaki berkemeja hitam di sampingku. Dia Mas Handaru, calon suamiku. Lelaki paling jahil yang sangat suka menggombal di hadapanku. "Aku sangat bersyukur bisa jadi satu-satunya lelaki yang diberi kesempatan memiliki bidadari seperti dirimu," tambah Handaru lagi yang langsung kusambut dengan sebuah cubitan kecil di pinggangnya. Membuat Mas Handaru meringis kesakitan.

"Gombalan kamu itu pasaran, Mas!" Balasku menahan senyum.

"Gombalan boleh pasaran, tapi cintaku padamu dijamin limited edition,"

"Dasar!" Aku langsung memalingkan wajahku yang terasa memanas. Gombalan Mas Handaru memang pasaran dan receh, tapi anehnya hal itu selalu sukses membuat pipiku merona dan jantungku berdentum-dentum keras.

Permainan pun dimulai.

Aku dan Mas Handaru diminta untuk duduk saling memunggungi dengan jarak yang cukup jauh.

Eren berada di kubuku, sedangkan Tante Rina berada di kubu Mas Handaru.

Kedua host itu mengajukan beberapa pertanyaan pada kami masing-masing hingga setelahnya hendak dicocokkan satu sama lain.

"Apa makanan favoritnya Handaru?" Tanya Tante Rina padaku.

"Sate Padang," jawabku cepat tanpa berpikir. Mas Handaru itu orang Minang dan dia sangat suka sate yang berasal dari tanah kelahirannya Sumatra Barat.

"Oke, betul. Pertanyaan kedua, lanjut Eren," sahut Tante Rina mempersilahkan Eren untuk mengajukan pertanyaan pada Mas Handaru.

"Apa sebenarnya cita-cita Mitha sewaktu kecil?"

Susah payah aku menahan tawa. Eren memang paling jago membuat lawannya tidak berkutik. Melihat tampang Mas Handaru yang kebingungan membuatku jadi sakit perut.

"Polwan,"

Aku dan Eren sontak saling pandang. Jawaban Mas Handaru benar. Padahal seingatku, aku tidak pernah membahas hal ini jika sedang bersama dengannya sejauh ini.

Aku tersenyum kecut saat melihat Mas Handaru menyunggingkan senyum penuh kemenangannya.

Saatnya giliranku ditanya kembali. Semoga saja aku bisa menjawabnya dengan mudah.

"Sebutkan nama mantan Handaru yang terakhir sebelum dia mengenal dirimu?" Tanya Tante Rina padaku.

Aku ingat, kalau masalah ini pernah dibahas oleh Mas Handaru sebelumnya. Tapi kenapa aku bisa lupa ya siapa nama mantan Mas Handaru itu?

Aku terus berpikir dan berusaha mengingat lebih jauh meski pada akhirnya aku tetap saja lupa.

Sial!

"Waktu habis," teriak Tante Rina pada akhirnya.

Aku mendesah berat dan harus terpaksa menerima kekalahan.

"Hukum Mitha! Hukum Mitha! Cium-cium-cium!"

Kompak seluruh hadirin di acara Bridal Shower hari ini memintaku untuk mencium Mas Handaru.

Tak punya pilihan, aku pun mencium cepat pipi Mas Handaru yang terus saja mengerling genit ke arahku dihadapan begitu banyak orang yang langsung menyoraki kami.

"Kok cuma sebelah ciumnya? Pipiku ada dua loh ini," kata Mas Handaru tak tahu malu. Dia menunjuk ke arah pipi kirinya mengisyaratkan aku untuk segera menciumnya kembali.

Ish! Dasar mesum!

Makiku sewot dalam hati. Malu sekali rasanya. Meski sesungguhnya aku menikmati acara hari ini. Bahkan sangat-sangat menikmatinya.

Acara hari ini semakin terasa ramai dan meriah saat aku dibantu beberapa sepupu kecilku membuka satu persatu kado dari para bridesmaid.

Hingga suatu ketika, aku memekik tertahan saat mendapati sebuah kotak kado yang berisi mayat seekor kucing dengan kepala yang Termutilasi.

"Ada apa Mitha?" Tanya Mas Handaru yang langsung cekatan menghampiriku yang menangis sambil menutup mulut saking terkejut dan takut.

Mas Handaru merangkul tubuhku setelah dia melempar jauh-jauh kotak kado itu.

"Sudah-sudah, jangan menangis," ucap Mas Handaru menenangkan.

Keadaan ruangan yang tadinya ramai mendadak hening. Kejadian itu cukup membuat para keluarga menjadi resah dan bertanya-tanya.

"Sudah-sudah, mungkin cuma kelakuan orang iseng. Tidak usah diperpanjang," ucap Tante Rina mencoba mencairkan suasana.

Tante Rina mendekatiku seraya berkata, "lebih baik kita lanjutkan acara penutup saja, Mitha,"

"Iya Tante, benar sekali. Lebih baik sekarang kita langsung saja berangkat, bagaimana?" Sambung Eren.

Jujur, aku masih tidak mengerti apa yang mereka maksud. Acara penutup? Bukankah acara penutup adalah acara buka kado tadi? Memang ada acara apa lagi? Pikirku membatin.

Hingga akhirnya Ayah dan Ibu mendekatiku juga dan mengatakan sesuatu padaku, "Tante Rina mengajakmu mampir ke sebuah Club Malam milik teman dekatnya. Untuk hari ini, Ayah dan Ibu mengizinkan. Kamu boleh bersenang-senang di sana Mitha. Pergilah,"

"Tapi Ayah?"

"Mitha, selama ini kamu itu sudah melaksanakan peranmu dengan sangat baik sebagai seorang anak. Kamu anak yang sangat berbakti karena telah menuruti semua perintah Ayah selama ini tanpa pernah melawan. Kamu bisa menjaga nama baik keluarga dan membuat Ayah bangga dengan keberhasilanmu. Malam ini, Ayah dan Ibu sepakat untuk memberi izin padamu, sekadar memberimu kesempatan untuk lebih mengenal dunia luar. Bagaimana Handaru? Kamu mengizinkan Mitha pergi bersama kawan-kawannya kan?"

Mas Handaru tersenyum pada Ayah diikuti anggukan pasti kepalanya.

"Tentu Ayah. Handaru pasti mengizinkan, hanya saja, Handaru tidak bisa ikut karena ada pekerjaan malam ini. Tidak apa kan Mitha jika aku tidak menemanimu malam ini?"

"Tidak apa-apa, Mas,"

"Sudah tidak usah drama. Malam ini Mitha akan aman bersamaku. Aku yang akan menjaga Mitha malam ini, oke? Kita berangkat sekarang saja ya?" Kata Tante Rina memberi komando.

Jujur, aku memang senang telah diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana gemerlapnya dunia malam di Jakarta.

Setelah hampir sebagian hidupku selama ini aku pergunakan untuk mendekam diri di dalam kamar dan belajar.

Hanya saja, entah kenapa, perasaanku mendadak tidak enak

Tepat saat aku kembali mengingat kejadian isi kotak kado tadi.

Semoga saja, itu bukan pertanda buruk.

Semoga saja, acara penutup Bridal Shower ku malam ini akan menjadi malam terindah yang tak akan mampu aku lupakan seumur hidupku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED