TBE 01
Rinai hujan yang turun sejak sore hari membuat udara makin terasa dingin. Suasana di luar sangat sepi dan sunyi, yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang saling bersahut-sahutan.
Jemariku bergerak menutup layar laptop, dilanjutkan dengan merentangkan tangan dan menggeliat hingga tulang belakang berbunyi gemeretak. Mata yang terasa lelah menagih untuk diistirahatkan, tetapi aku masih belum mengantuk dan memutuskan untuk berpindah ke tempat lain.
Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu balkon kamar yang terbuka lebar. Mengayunkan tungkai hingga tiba di dekat pagar pembatas dan menyandarkan tubuh. Kedua siku diletakkan di pagar dan dagu ditumpangkan ke telapak tangan. Memandangi sekeliling yang tampak gelap, meskipun sudah ada lampu sorot di empat titik halaman, tetapi cahayanya ternyata tetap tidak mampu menembus pekatnya malam.
Kletak.
Kletak.
Kletak.
Bunyi hak sepatu terdengar dari koridor depan pintu kamar, yang diiringi dengan ketukan yang selalu bernada dan berjumlah sama, seakan-akan merupakan kode bahwa pengetuk itu memberitahukan kedatangannya.
Aku memejamkan mata selama beberapasaat, menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Membuka mata kembali sambil membalikkan badan dan jalan dengan langkah sedikit diseret menuju pintu. Sepersekian detik memegang gagang benda besar bercat cokelat itu sebelum memutarnya dan pintu terbuka.
"Hai, Mas. Aku cantik, nggak?" tanya sang tamu sambil memutar tubuhnya bak balerina.
Aku memutar bola mata dan menatapnya dengan malas, kemudian menjawab, "Iya, cantik.
Sudut bibirnya yang dipoles lipstik merah itu melengkungkan senyuman, memamerkan gigi putih yang berbaris rapi. Wajahnya yang putih tampak sedikit berbintik-bintik di tulang pipi, tetapi tetap tidak mengurangi keelokan parasnya. Rambut panjang sepunggung itu tampak diterbangkang angin kencang yang entah muncul dari mana, hal yang selalu terjadi bila dirinya mengunjungiku.
Selama beberapa saat kami saling beradu pandang, sebelum kemudian dia mengangkat alis, gaya khasnya bila ingin mengatakan sesuatu yang sudah bisa ditebak olehku.
"Kita keluar, yuk?" ajaknya dengan nada suara yang terdengar manja.
"Nggak mau, aku capek," sahutku.
"Sebentar aja. Cuma duduk di taman itu," rayunya sambil mengedipkan mata yang dihiasi bulu mata lentik dan panjang yang kutahu adalah asli, bukan palsu.
Perempuan berambut panjang itu merengut, mungkin kesal melihatku tetap bergeming untuk menolak ajakannya. Tiba-tiba dia menarik tangan kananku dengan gerakan cepat dan menggusur tubuhku hingga keluar dari kamar.
Aku sama sekali tidak menduga bila perempuan berperawakan sedang seperti dirinya bisa mengeluarkan tenaga menarik yang besar dan kuat. Sekali-sekali kaki atau tanganku tersangkut perabotan berbahan jati di sepanjang koridor. Namun, dia tidak peduli dan terus menarik.
Sesampainya di halaman dia mengajakku duduk di bangku panjang, tepat di depan kolam ikan kecil di sudut kanan. Perempuan yang kali ini mengenakan gaun merah itu menyejajarkan kaki sembari memijat betisnya.
"Makanya, jangan gegayaan pake hak tinggi segala," ledekku seraya tersenyum lebar.
"Aku cuma ingin tampil cantik dan anggun di depanmu," sahutnya sembari mendelik dan mengerucutkan bibir. Tampak lucu dan menggemaskan.
"Kenapa harus begitu?"
Perempuan itu memutar bola mata yang membuatku nyaris tak bisa menahan tawa. Sebetulnya tanpa diungkapkan pun aku sudah mengetahui alasannya, tetapi aku tetap berpura-pura tidak tahu agar bisa menggodanya lebih lama.
Sejenak suasana hening, yang terdengar hanya gemericik air dari kolam dan ditingkahi suara katak yang sepertinya berjumlah cukup banyak di seputar tempat ini.
"Mas," panggilnya.
Aku bergeming.
"Mas!" ulangnya dengan suara yang naik satu oktaf.
Aku tetap bergeming, hingga tiba-tiba dia memalingkan wajahku dengan paksa sampai kami saling berhadapan. Aku mengangkat alis saat melihat bibirnya mencebik.
"Kalau dipanggil itu harus jawab!" titahnya dengan suara ketus.
Aku tetap mempertahankan raut wajah tenang karena tahu bila emosinya itu akan cepat mereda. Perlahan aku menarik kedua tangannya dari wajah dan mengusap punggung tangan yang terasa dingin itu dengan santai.
Selama beberapa detik berikutnya kami saling menatap satu sama lain, kemudian dia memajukan wajah dan mendaratkan kecupan di pipi kananku sekilas. Perempuan itu tampak mengulum senyum sembari kembali pada posisi semula.
Tanpa sadar aku pun turut tersenyum. Merasa lucu dengan tingkah hantu yang ternyata bisa malu-malu. Seperti halnya dia, hantu perempuan bergaun merah bernama Viana.
***
Pertemuan pertama kami adalah saat aku baru menginjakkan kaki di rumah ini, sebuah bangunan besar berarsitektur khas rumah tempo dulu. Sebagian dindingnya dibiarkan polos, sementara sebagian lagi dihiasi batu-batu hitam dengan berbagai ukuran.
Pada bagian depan, pekarangan yang luasnya mungkin sama dengan lapangan sepak bola itu tampak terawat. Beberapa pohon yang tumbuh di sekitarnya tampak rimbun dan seolah-olah memberikan kesan teduh bagi setiap mata yang memandang.
Dua buah ayunan dengan tiang-tiang tinggi nan kokoh terlihat masih indah di dekat kolam ikan berukuran kecil. Di belakang ayunan tampak rimbunan pohon berukuran sedang yang bunganya tengah bermekaran dengan aneka warna yang memukau.
Seorang pria dewasa yang mengenakan kemeja hijau muda dan dipadukan dengan celana kain hitam menyambut kedatanganku di teras depan. Beliau adalah Pak Tono, seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai pengurus villa.
Di sini, beliau tinggal bersama istri dan kedua anaknya, yang juga ikut membantu merawat vila milik orang tua Farid, sahabatku. Rumah yang Pak Tono tempati merupakan sebuah paviliun di bagian samping kiri pekarangan, yang berada paling dekat dengan pintu pagar tinggi bercat putih.
Saat aku mengatakan ingin menyepi dari kesemrawutan dunia luar, dengan cepat Farid menyarankan untuk tinggal di sini. Kendatipun aku awalnya agak ragu-ragu, tetapi Farid meyakinkan bahwa tempat ini adalah pilihan terbaik dan tidak terlalu jauh dari Kota Jakarta.
Sudah hampir satu bulan aku menempati vila, dan sejak itu pulalah Viana selalu hadir di jam yang sama, pukul 00.00 dini hari.
Kletak.
Kletak.
Kletak.
Tuk. Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.
Tuk. Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.
"Sebentar," jawabku sambil bangun dari atas tempat tidur dan jalan menuju pintu.
Kala benda berat itu terbuka, ternyata tidak ada seorang pun di depannya. Terdorong rasa penasaran, aku melongok ke luar kamar, menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tetap tidak menemukan sosok yang telah mengetuk pintu.
Aku mendengkus dan membalikkan tubuh. Niatku untuk menutup pintu akhirnya tertunda karena tiba-tiba merasakan ada hawa dingin dari ujung kiri koridor yang mengarah ke dapur. Bulu kuduk spontan berdiri, kian menguat kala hawa dingin itu terasa kian dekat.
Perlahan aku berbalik dan seketika mematung saat melihat penampakan seorang perempuan bergaun putih melambai yang berdiri tegak depan pintu. Wajahnya tampak pucat pasi. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin kencang yang entah sejak kapan berembus.
Setelah berhasil menguasai diri, aku memutar tubuh kembali dan jalan menuju jendela. Menyandarkan tubuh ke kusen dengan santai. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Berusaha untuk mengabaikan sosok yang mendekat.
"Kamu nggak takut sama aku?" tanyanya dengan suara yang terdengar aneh, seperti berdengung dan bergaung.
"Ngapain harus takut?" Aku balik bertanya.
"Tapi orang lain yang melihatku pasti pada takut, termasuk Farid," jelasnya seraya tersenyum lebar.
"Farid memang penakut, tapi aku nggak."
Selama beberapa detik suasana terasa hening, yang terdengar hanya bunyi gesekan dedaunan dari pepohonan rindang di halaman.
"Namaku, Viana," ujarnya sambil melayang mendekat dan berhenti di samping kiri.
Aku menoleh dan sontak terpana. Wajahnya yang kuyakini sebagai perpaduan wajah asli Indonesia dengan wajah orang luar negeri tampak cantik. Kulit putih, alis lebat menaungi sepasang mata beriris biru, hidung mencuat tinggi di atas bibir tipis melebar. Rahang meruncing membingkai paras rupawan yang seolah-olah terpahat sempurna.
"Namaku ...."
"Anto, kan? Aku udah tau," tukasnya sebelum aku menyelesaikan ucapan.
Aku mengangguk membenarkan sembari membalas tatapannya yang tampak sendu. Kata-kata indah yang biasanya meluncur dengan lancar kini seakan-akan menghilang dan membuatku tak sanggup mengatakan apa pun.
"Aku cantik, nggak?" tanyanya penuh harap.
"Cantik," jawabku dengan lugas.
"Kalau begini, apa masih cantik?" Dia mengubah wajah dan menampilkan wajah pucat kesi dengan urat-urat bertonjolan yang membuatku terkesiap sepersekian detik.
"Kalau begitu, wajahmu jelek sekali!" sungutku, yang berhasil membuat Viana tertawa melengking, sebelum sosoknya memudar dan akhirnya menghilang seiring dengan munculnya kabut tebal.
TBE 02
Semenjak saat itu Viana selalu hadir setiap hari. Terkadang dia muncul di waktu petang. Duduk manis di seberang meja makan sambil menemaniku bersantap. Kadang pula dia hanya muncul selintas di halaman, bolak-balik dari ujung kiri ke kanan sambil memegangi payung berenda khas Noni Belanda.
Malam ini, seperti hari-hari sebelumnya Viana.sudah duduk di kursi seberang meja. Memandangiku seraya mengulaskan senyuman sambil merapikan rambut panjangnya yang tergerai, dengan jemari lentik berpoles pewarna merah.
Kali ini Viana mengenakan pakaian yang bagus. Bila biasanya dia akan menggunakan gaun panjang dengan warna-warna cerah, tetapi kali ini berbeda. Gaun biru tua itu tidak terlalu panjang dan kuperkirakan hanya sebatas betis. Aksen renda putih di bagian bawah dada dan tiga buah kancing mutiara sebagai aksesori tambahan, menjadikan tampilannya sangat anggun.
Saat Bu Ismi, istrinya Pak Tono meletakkan minuman hangat untukku di atas meja, tiba-tiba saja Viana memunculkan diri dengan seringai jahil di wajahnya.
"Astagfirullah!" seru perempuan paruh baya itu.
"Kenapa, Bu?" tanyaku sembari menghentikan gerakan menyuap.
"Itu ... hantu itu ...." lirihnya sambil menutup wajah dengan tangan kiri. Tatapannya mengarah lurus ke seberang meja, tempat di mana sosok Viana balas menatap sembari menaikkan alis.
Aku berdehem untuk mengalihkan perhatian Viana, dan saat dia menoleh aku langsung menggerakkan dagu untuk memberikan kode agar dia segera pergi. Viana mengerucutkan bibir dan melipat tangan di depan dada. Mengangkat hidung bangirnya tinggi-tinggi sebelum sosoknya perlahan menghilang.
"Hantu yang mana?" tanyaku pura-pura lugu. Padahal dalam hati aku ingin tertawa.
Bu Ismi membuka separuh tangan kanan untuk mengintip. Kemudian, menurunkan tangan dan mengusap dada beberapa kali.
"Hantu cewek bule. Berbaju biru. Rambutnya panjang," jelas Bu Ismi. Matanya berputar ke sekeliling ruangan untuk memastikan Viana telah tidak ada.
"Emang, dia sering muncul?"
"Iya. Konon katanya, rumah ini dulu adalah rumah orang tuanya," jawab Bu Ismi sembari menarik kursi di sebelahku. Beliau duduk dan menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya hingga habis.
Aku memandangi Bu Ismi dan menunggunya melanjutkan cerita. Cerita awal mula vila ini memang sangat ingin kuketahui. Terutama karena kemunculan Viana, dan beberapa makhluk tak kasatmata lainnya yang beberapa kali tertangkap mata tengah melintas di halaman depan ataupun belakang.
"Ibunya dulu nyai Belanda, istri simpanan gitu. Saat ayahnya kembali ke Belanda, Viana dan ibunya tidak diajak serta. Mereka tetap tinggal di sini sampai ibunya wafat. Makamnya ada di bukit itu," terang Bu Ismi sambil menunjuk bukit di samping kanan villa.
"Terus, Viana gimana?" tanyaku. Sangat penasaran dengan lanjutan ceritanya.
"Viana menjual rumah ini dan pindah ke kota. Lama tidak terdengar kabar beritanya. Ada kali puluhan tahun," jelas Bu Ismi. "Pembeli villa pertama, pak Dirga menjual villa ini ke pak Ridwan, orang tuanya mas Farid. Terus ibu dan keluarga diajak tinggal di sini untuk mengurus villa," sambungnya.
Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Kemudian, melanjutkan makan malam yang tertunda sambil mendengarkan dongeng Bu Ismi dengan saksama, berharap ada setitik informasi yang bisa membuka tabir tempat tersebut.
Berbelas menit berikutnya, Bu Ismi pamit pulang ke rumahnya. Aku memandangi punggung perempuan paruh baya itu hingga sosoknya menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti area sekitar vila.
Udara yang sudah dingin makin membekukan tubuh. Aku merapatkan jaket berbahan babytery yang cukup mampu melindungi dari dinginnya malam. Meraih topi rajut dari atas meja bufet ruang tamu dan mengenakannya hingga menutupi tengkuk.
Kemudian, menarik senter yang digantung di dinding belakang pintu, menyalakan benda itu hingga sinarnya cukup terang. Menutup dan mengunci pintu depan, lalu jalan ke luar.
Menyusuri jalan di depan villa hingga sampai di pagar yang sudah terkunci. Membuka gembok dan mengangkat ujung pintu yang sedikit macet, sebelum membuka pagar dan menutupnya kembali. Melangayunkan langkah melalui jalan sepi. Melewati dinding berlumut dari tembok pembatas dengan rumah sebelah.
Penghuni rumah di sebelah kanan ini adalah seorang pria tua yang ditemani seorang asisten rumah tangga dan dua orang satpam, yang merupakan warga dari kampung sekitar tempat ini. Selama hampir satu bulan tinggal di sini, hanya sesekali aku bertemu dengan penghuni rumah. Selain karena aku yang keluarnya tidak tentu, mereka juga memang jarang keluar bila tidak ada keperluan.
"Mau ke mana, Mas Anto?" tanya Pak Rohim, satpam rumah sebelah, sesaat setelah aku tiba di dekat pagar.
"Mau ke warung, Pak. Pengen ikutan ngobrol sama warga yang suka nongkrong di sana," jawabku seraya menyunggingkan senyuman.
"Nongkrong di sini aja, bareng bapak. Kita ngopi sambil ngemil ini," tukas Pak Rohim sambil mengangkat piring berisi makanan yang masih mengepul.
Aku terdiam sesaat, kemudian melangkah mendekati beliau dan mendudukkan diri di samping kanan. Pak Rohim dengan cekatan menuangkan kopi hitam dari termos kecil yang selalu beliau bawa. Memberikan gelas itu padaku, serta menggeser piring berisi singkong ke tengah-tengah bangku panjang yang kami duduki.
"Pak Iman, ke mana? Tumben Bapak cuma jaga sendirian?" cecarku basa basi memecah kesunyian.
"Iman lagi sakit. Demam turun naik dari kemarin," jawabnya. "Kayaknya sih karena sawan, ketempelan hantu cewek itu," lanjutnya yang membuatku terkesiap.
"Ketempelan?"
"Iya, dia bilangnya sih gitu, Mas. Dua malam yang lalu, dia kebelet buang air. Udah nggak kuat nahan, mau ke kamar mandi di dalam rumah juga udah nggak sanggup, katanya. Akhirnya dia pipis di bawah pohon itu," terangnya sambil menunjuk ke pohon jambu air yang rimbun. Sebagian batang pohon itu menjorok ke arah halaman villa yang kutempati.
"Terus, habis itu dia kayak melihat hantu noni Belanda itu lagi duduk di batang pohon yang ke arah villa. Langsung lari tunggang langgang si Iman. Ngebangunin bapak yang lagi tidur di kursi," ungkapnya sembari mengarahkan jari telunjuk pada kursi berbahan kulit yang sudah pudar warnanya yang berada di sudut kanan.
"Pulangnya dia mengeluh nggak enak badan. Ehh, demamnya jadi keterusan sampai sekarang," sambung Pak Rohim sambil memperhatikan sekeliling. Mungkin beliau takut obrolan kami ini didengar oleh orang lain.
Aku hanya bisa manggut-manggut mendengarkan beliau terus berbicara. Hal seperti ini baru pertama kalinya aku dengar. Sementara keluarga Pak Tono mengaku hanya beberapa kali melihat kelebatan makhluk astral di sekitar vila, tetapi mereka tidak pernah ditakut-takuti.
Kabut kian tebal dan suhu udara makin menurun drastis. Kendatipun sudah mengenakan jaket tebal dan kepala tertutup, tetap saja aku kedinginan. Pak Rohim yang melihatku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan mengajakku pindah ke ruangan kecil yang merupakan tempatnya beristirahat yang letaknya tepat di samping kiri garasi.
Kami melanjutkan pembicaraan sambil menikmati cangkir kopi kedua. Sekali-sekali aku memindai sekitar, dan menuruti intuisi kali ini aku memandangi pohon jambu air di bagian atas. Tatapanku bersirobok dengan sepasang mata beriris biru di salah satu dahan.
TBE 03
Pagi hari menyapa dengan dinginnya udara yang menusuk. Embusan angin seolah-olah menerobos masuk lapisan kaus lengan panjang dan sweater rajut yang kukenakan.
Makin mendekati pergantian musim, maka cuaca pun menjadi tidak menentu. Sering kali, paginya dingin menggigit, tetapi siang sampai sore matahari bersinar dengan teriknya. Malam harinya kembali lagi ke udara sejuk, yang akan bertambah dingin seiring dengan pergantian jam.
Bu Ismi sudah datang ke villa sebelum jarum jam dinding menunjuk ke angka tujuh. Suara senandung lagu khas Sunda terdengar dari bibirnya. Ibarat radio, mengalun tanpa henti dan cukup merdu di telinga. Hari ini, Titin---anak pertama Bu Ismi dan Pak Tono--- ikut membantu sang Ibu membersihkan rumah dan berbagai barang antik milik keluarganya Farid.
Perempuan muda yang kali ini mengenakan jilbab merah muda dan blus senada itu, tampak sekali-sekali mencuri-curi pandang ke arahku yang sedang duduk di kursi putar dekat meja besar yang ada di ruang perpustakaan, yang berada tepat di belakang ruang tamu dan bersebelahan dengan kamar utama yang kutempati.
"Tin," panggilku sembari menengadah.
"Y-ya, Mas?" sahutnya dengan sedikit terbata. Mungkin dia terkejut karena tidak menyangka bahwa aku akan tiba-tiba memanggilnya.
"Bisa tolong buatin teh manis? Kopiku udah tinggal ampasnya," pintaku sembari mengacungkan cangkir kopi yang memang sudah kosong.
Titin mengangguk dan bergegas ke luar. Aku kembali melanjutkan mengetik di laptop, dan baru berhenti saat melihat pantulan wajah Viana di layar benda elektronik tersebut.
"Kamu tuh, Mas. Sama aja dengan pria lainnya," ucapnya pelan sembari menggeleng.
Aku menoleh dan sedikit mengerutkan dahi. Bingung dengan maksud perkataannya dan sangat menunggu hantu berparas cantik itu melanjutkan ucapan.
"Jangan pura-pura!" desisnya sembari berpindah tempat dan duduk di samping kanan meja.
Ujung gaun panjang hijau bercampur putih itu melambai menyentuh lantai. Kalau saja ada menyaksikan Viana berpenampilan seperti itu di malam hari, mungkin akan sedikit ngeri melihatnya yang seolah-olah tidak menapak.
"Apaan sih?" tanyaku sambil mengangkat alis.
Viana mendengkus. Kemudian, menunjuk ke arah pintu di mana Titin sedang melangkah masuk ke ruangan sambil membawa nampan. Perempuan bertubuh mungil itu meletakkan satu gelas berisi air teh dan sepiring peuyeum goreng ke atas meja. (tape goreng)
"Makasih," ucapku sambil meraih gelas dan menyesap teh yang rasa manisnya sangat pas dengan selera.
Titin memperhatikanku sekilas sebelum membalikkan tubuh dan jalan menjauh dengan mengepit nampan di depan dada. Sepertinya dia tidak menyadari bila Viana sejak tadi memperhatikan gerak'geriknya.
"Tadi, maksud kamu apa, Vi?" tanyaku pelan. Berusaha berhati-hati agar tidak terdengar ke luar.
"Kamu itu, sama aja dengan pria lain. Senengnya memanfaatkan perempuan!" jelasnya dengan suara yang ketus.
"Memanfaatkan?" Aku kembali menaikkan alis, karena makin tidak mengerti dengan maksud omongan hantu berparas cantik ini.
"Iya. Memanfaatkan! Tahu aja kalau perempuan itu sejak tadi melirik, langsung deh main perintah!" sergahnya.
Sejenak hening, kemudian tawaku pecah. Baru paham maksud sikap Viana yang aneh sejak tadi. "Nggak apa-apalah. Sekali-sekali ini minta tolong sama dia," timpalku setelah tawa usai.
Viana hanya diam dan menatapku dengan sorot mata yang sangat dingin. Tangannya dilipat di depan dada. Dagu terangkat dan makin memperjelas lekukan lehernya yang jenjang dan mulus.
"Ehm, Vi, kenapa kamu nakut-nakutin pak Iman?" tanyaku sambil bertopang dagu. Berusaha mengalihkan pembicaraan agar dia lupa bila tengah kesal denganku.
"Nggak nakutin kok. Aku cuma ngasih pelajaran aja sama orang yang suka buang hajat di sembarang tempat. Jorok!" jawabnya dengan hidung yang mengerut.
"Ngasih pelajaran boleh. Tetapi jangan bikin orang sampai demam begitu," balasku.
"Itu bukan salahku. Dia aja yang lemah hati."
Tawaku kembali pecah. Tak peduli bila hal ini akan memancing tanya Bu Ismi dan Titin. Viana tampak mengulum senyum, kemudian perlahan sosoknya memudar dan akhirnya benar-benar lenyap.
***
Senja yang indah menggantikan teriknya matahari siang tadi. Angin yang berembus ringan membuat udara terasa sedikit sejuk.
Dedaunan di dahan pohon-pohon di pekarangan itu turut melambai, seakan-akan tengah menari terdorong angin sebelum tiba saatnya mereka gugur ke bumi.
Aku melangkah hati-hati menaiki bukit di sebelah kanan villa. Beratnya ransel yang disampirkan di punggung, membuat gravitasi bumi menguat untuk menarikku ke bawah. Sepatu boot cokelat yang digunakan juga sudah terbenam beberapa kali di berbagai titik lumpur, dan memaksaku untuk mengingat bila nanti harus membeli sepatu karet, seperti yang biasanya dipakai pak Tono bila tengah berkebun.
Setelah berjuang selama beberapa menit, akhirnya aku sampai di atas bukit. Berdiri tegak di depan sebuah makam lama yang nisannya terbuat dari marmer yang sangat indah. Di bagian tengah nisan tertulis nama pemilik makam ini. Yaitu Siti Mariam. Kelahiran tahun 1912, dan wafat pada tahun 1970.
Aku duduk bersila di sebelah kanan makam. Memandangi sekeliling yang terasa sangat sunyi. Beberapa titik kendaraan yang banyak melintas di jalan raya depan villa, menandakan bahwa hari ini merupakan penghujung minggu.
Seperti halnya daerah pegunungan lainnya, di sini banyak terdapat villa milik pribadi yang terkadang disewakan ke para pelancong.
Walaupun daerah ini tidak sepopuler Puncak atau Lembang, tetapi dengan bertaburnya hotel kecil dan villa, menandakan daerah ini cukup banyak pengunjung. Ditambah lagi dengan dibangunnya sebuah waterpark di ujung jalan utama, menjadikan tempat ini makin ramai dikunjungi di penghujung minggu.
Hawa dingin di bagian lengan kiri sontak membuatku menoleh. Viana telah hadir kembali dengan seulas senyuman indah di bibirnya. Aku seolah terhipnotis dan tidak sanggup mengalihkan perhatian. Terus saja memandangi wajahnya yang sangat menawan.
"Aku, boleh minta tolong?" tanyanya dengan suara pelan.
"Kalau bisa, akan kutolong. Kalau nggak, cuma bisa bantu agar ada yang mau menolongmu," jawabku seraya tersenyum lebar.
"Hmmm," sahutnya sambil memicingkan sebelah mata.
"Minta tolong apa? Buruan ngomongnya. Bentar lagi aku mau turun," pintaku.
"Tolong bantu menyempurnakan jasadku," jawabnya.
Aku terperangah dengan mata yang sedikit membola. Seolah tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Sepersekian detik berikutnya aku terdiam, berusaha mencerna perkataannya. "Bagaimana caranya?" tanyaku setelah bisa menguasai diri.
"Ambil jasadku dari kuburan lama, dan pindahkan ke sini. Aku ingin dikuburkan dengan layak di sebelah makam ibu," jawabnya dengan suara yang bergetar. Jemari lentiknya mengusap marmer dengan pelan dengan diiringi sorot mata sendu.
Aku mengalihkan pandangan kembali ke jalan. Otak berpikir keras mencari cara agar bisa memenuhi permintaan Viana yang benar-benar unik. "Makammu saja aku tidak tahu, Vi. Bagaimana hendak memindahkannya?" tanyaku.
Viana menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Kemudian, tiba-tiba dia sudah berpindah duduk di hadapanku. "Makamku tidak jauh dari sini. Bahkan, kamu sering melewatinya," ujarnya sembari menatapku dengan sepasang mata berembun.