Bab 2

ARCHE Salaras Hadiratma adalah anak bungsu dari Saka Byakta Hadiratma—seorang pengusaha besar yang namanya mengisi daftar investor beberapa perusahaan terkenal.

Seraphine tersedak cola yang dia sesap kala dia membaca layar laptop yang menunjukan pekerjaan Arche.

"Han, si Arche-arche ini dirut PINS lho!" teriak Sera. PINS adalah perusahaan media nomor 1 di dalam negeri. Perusahaan itu cukup bergengsi dan siapa-siapa yang memegang posisi penting disana tentu adalah orang-orang hebat.

Sera mengingat lagi wajah Arche. Rasanya lelaki itu masih muda, terasa tak masuk akal dirinya bisa menduduki posisi puncak di rantai perusahaan sebesar PINS. Terasa prestisius. Kemungkinan besar, selain kaya raya Arche Salaras juga memiliki otak ber-IQ tinggi.

"Lah emang, lo kerja jadi public pigure kok aneh enggak tahu," timpal Hani meledek.

Sera mengarahkan kursor tuk meng-klik opsi gambar. Seketika foto-foto Arche yang dominan memakai pakaian formal terlihat jelas di depan mata. Sera menopang dagu menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.

"Dia tuh sangat sangat kaya say, anak laki satu-satunya," tambah Hani. "Mana ganteng lagi, buktinya lo kesemsem kan!"

Ledekan terakhir Hani berdasar pada apa yang sedang Sera lakukan; menikmati kerupawanan wajah Arche.

"Nope. Gue liatin dia karena lagi cari alasan kenapa laki-laki sesempurna ini mau sama Sari," gumam Sera.

"Emang Sari-sari tuh siapa sih?"

"Kakak kandung gue."

"WHAT?"

"Secara darah ya gue saudaranya, tapi udah sejak lama gue anggap dia mati." Sera mengedikkan bahunya. "Gue enggak mau ngomongin dia jadi jangan bahas lagi!"

"Okay, okay," sahut Hani menurut.

Sera menutup laman pencarian di laptopnya. Sudah cukup informasi yang dia dapatkan. Arche Salaras Hadiratma benar-benar lelaki kaya raya. Bagi Sera itu sudah cukup.

Sekarang Sera ingin fokus membuat catatan-catatan yang akan dia katakan kepada Arche besok nanti. Ya, Arche menjadwalkan besok sore untuk membicarakan persoalan hak asuh.

"So, nanti gue harus gimana pas ketemu sama si Arche?" tanya Sera naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Hani.

Hani sedang menonton serial romance dengan kaki saling menopang. Perempuan itu menoleh menatap Sera.

"Gue enggak bisa ngasih saran karena gue belum tahu apa yang ditawarin Arche."

"Kemarin sih bilangnya Sari bikin surat wasiat kalau dia mau ngasih hak asuh anaknya ke gue. Kayaknya anaknya masih kecil."

"Bisa jadi Sari juga ngasih warisan. Maybe sih."

Wajah Sera semakin berbinar-binar.

"Tapi kok bisa sih Sari ngasih hak asuh ke lo kalau bapak anak itu masih hidup?"

"Mungkin si Arche ini gay, atau KDRT," jawab Sera asal. "Makanya Sari lebih percaya sama gue, padahal gue harusnya jadi list terakhir orang yang dia mintai bantuin ngurus anak."

Hani bergidik ngeri mendengar jawaban nyeleneh Sera.

"Gue jadi makin bingung Ra, intinya lo ambil celah yang nguntungin lo. Lo urus tuh anak kalau anak itu punya warisan atau enggak nafkah bulanan gede."

"Dan?"

"Dan lepasin anak itu kalau Arche ngerasa lo enggak layak, dengan syarat dan ketentuan pastinya. Intinya ambil yang duitnya gede."

***

DENGAN kemeja flanel berwarna biru dongker yang dipadupadankan dengan jeans semata kaki, Lovita Seraphine sudah datang di restoran yang sudah ditentukan sejak awal.

Dirinya datang 5 menit lebih awal, sebuah hal prestisius.

Dia memang penuh semangat jika berhubungan dengan uang.

"Halo!" Seorang lelaki berkumis tipis tiba-tiba berdiri di depan Sera dan menyapa ramah. "Ibu Lovita?"

Sera menunjuk dirinya. Yah, dia Lovita. Mengangguk, Sera balas menyapa ramah. "Bapak siapa ya?"

"Wah, Ibu mirip sekali dengan Ibu Sari," kata lelaki itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, saya Mario, pengacaranya Pak Arche."

Mario mengulurkan tangan. Sera menjabatnya demi kesopanan, kendati di dalam hati dia benar-benar jengkel sebab Arche tidak datang. Lelaki itu hanya mengirimi pengacaranya.

Seriously? Ini urusan anaknya! Apa memang dia sejatinya tidak menyayangi anaknya?

"Maaf Pak Mario, jadi Pak Arche tidak datang?" tanya Sera.

"Iya Bu, Pak Arche berhalangan hadir," jawab Mario meringis. "Tapi saya sudah lebih dari cukup mewakili suara beliau."

"Awalnya saya pikir ini akan jadi obrolan sesama anggota keluarga, alih-alih mengutus Bapak dan menjadikan pertemuan ini benar-benar kesepakatan," keluh Sera pura-pura kesal. Seolah-olah dia peduli dengan nasib anak Sari, padahal faktanya dia hanya memperdulikan uang.

"Iya Bu, mohon maaf, Pak Arche sedang ada urusan di luar kota."

"Kemarin malam dia ada waktu ke bar, kenapa ketika benar-benar menjanjikan waktu malah tidak datang? Ups, atau jangan-jangan dia memang kebetulan sedang ada di bar?" Sekarang Sera benar-benar jengkel. "Padahal jika memang urusannya melibatkan Pak Mario, sejak awal saja Pak Mario datang ke saya."

"Sebenarnya saya sudah mencoba menghubungi Ibu lewat manager Ibu, tetapi nomor saya diblokir. Pak Arche memutuskan mendatangi Ibu setelah beliau tahu posisinya malam itu tidak jauh dari bar."

Oh seperti itu, gumam Sera tak benar-benar tertarik mendengar penjelasan Mario.

"Mohon maaf jika ini membuat Ibu tidak nyaman," kata Mario meringis.

"Okay, to the point saja! Mana surat wasiatnya?"

"Saya akan membacakannya—"

"Saya ingin mendapatkan bentuk aslinya! Bukan dibacakan!" seru Sera memotong ucapan Mario.

Mario terlihat gugup. "Oh maaf Bu, tetapi file asli surat wasiat itu ada di tangan Pak Arche, saya hanya akan menyampaikan inti dari suratnya."

"Sebutkan alasan kenapa saya harus percaya bapak menyampaikan isi yang sebenarnya tanpa ada kekeliruan?" tanya Sera.

"Karena saya hanya akan menyampaikan apa yang saya ketahui," jawab Mario dengan suara tegas. "Surat itu tidak hanya berisi informasi tentang Ibu Sera, tetapi beberapa pihak. Alasan Pak Arche tidak mau memberitahukannya kepada Ibu Sera tentunya karena menyangkut privasi beliau juga. Saya harap Ibu Sera mau bersikap kooperatif dengan mendengarkan apa yang menjadi hak ibu saja."

Sera mendengkus kencang setelah Mario menyudahi kalimatnya. Sera benar-benar membenci pengacara! Mereka pintar bersilat lidah. Sera tak yakin dia bisa menawar harga kesepakatan jika memang harus lekas diputuskan.

"Jadi apa yang menurut Bapak menjadi hak saya dalam surat itu, huh?" tanya Sera ketus.

"Ibu Sari menyerahkan hak asuh Nona Summer kepada Ibu Sera," jawab Mario.

"Oh jadi nama anak itu Summer? Berapa umurnya?"

"Nona Summer baru 3 tahun."

"Kasihan sekali," cemooh Sera. "Apa dia ngasih alasan kenapa harus saya?"

"Karena Ibu satu-satunya keluarga Ibu Sari. Itu yang ditulis beliau."

Sera mendengkus kencang. Masalah gini aja gue dianggap keluarga, gerutu Sera.

"Okay begini aja deh ya Pak Mario, saya mau to the point. Saya udah lama enggak komunikasi sama Sari, apa dia ninggalin warisan?"

Mario tercengang.

"Maksud saya, warisan buat Summer. Kalau saya jadi wali dia, otomatis saya yang pegang kan uangnya?" seru Sera menambahkan.

"Ibu Sari tidak menurunkan warisan apapun Bu."

Sera mengumpat keras. Tidak bisa ditahan.

"Terus biaya hidup anak itu?"

"Tentunya ada nafkah dari Pak Arche."

Nah, nah! Ini yang Sera harapkan!

"Berapa?" tanya Sera to the point. "Anak orang kaya dia pasti banyak pengeluaran, kan? Makannya juga enggak sembarang, dan—"

"Begini Bu, saya mewakili Pak Arche ingin menawarkan kerjasama kepada Ibu."

Sera berbinar menunggu apapun yang akan diucapkan Mario.

"Pak Arche ingin Ibu menyerahkan hak asuh sepenuhnya kepada Pak Arche, namun Ibu tidak perlu khawatir sebab ada keuntungan yang akan Ibu terima."

Mario kemudian menyebutkan nominal uang yang akan Sera dapatkan ketika menandatangani surat perjanjian dimana disana ditulis, Sera tidak akan mengambil Summer Hadiratma dari Arche. Sera benar-benar terkejut mendengar nominal uang itu. Namun Sera tidak bodoh, dia yakin bisa menghasilkan uang lebih banyak jika memutuskan mengurus Summer.

"Mohon maaf Pak, dengan ikatan persaudaraan saya dan Sari yang amat kental, saya menolak tawaran ini karena ini termasuk penghinaan. Summer adalah keponakan saya, satu-satunya keluarga saya, jadi saya akan mengambil hak asuh Summer," jawab Sera pura-pura tersinggung sudah ditawari perjanjian.

Sera tersenyum dalam hati. Dia benar-benar senang hendak menjadi lintah penyedot harta.

Arche Salaras Hadiratma adalah Tuan Muda yang harus dimanfaatkan.

"Jadi itu keputusan ibu?"

"Iya," jawab Sera tegas.

"Sebelum itu, saya akan menjelaskan beberapa keuntungan jika Ibu menerima perjanjian yang sudah Pak Arche buat—"

"Tidak perlu, saya akan mengurus Summer. Dan kalau si Arche itu enggak suka keputusan ini, dia sendiri lah yang harus datang menemui saya!" seru Sera dengan tegas. Suaranya tak terbantah. Begitu menggebu-gebu.

Sera ingin menegaskan jika dirinya tidak main-main hari ini. Dia memang tak berpendidikan, kasta akademiknya sangat jomplang dengan Arche maupun Mario—akan tetapi jangan salah, untuk urusan uang Sera benar-benar berusaha sekuat tenaga tuk mendapatkannya.

Bab 3

Baru kemarin sore ditantang, besok paginya Arche menghubungi Sera secara langsung. Ya, memang tidak main-main. Jika mental Sera macam jelly, mungkin dia sudah gemetaran.

Sesuai kesepakatan, mereka kembali bertemu. Arche terbang langsung dari Medan hanya untuk bertemu Sera.

Dengan kemeja kusut yang lengannya digulung sampai sikut, Arche menarik kursi di depan Sera. Sepasang mata kucing Sera mengamati penampilan Arche. Lelaki ini benar-benar terlihat lelah. Perjalanan Arche sepertinya cukup melelahkan.

"So, bisa menunggu saya memesan minuman?" tanya Arche sembari melonggarkan ikatan dasi abu-abunya.

Sera mengedikkan bahunya. Dirinya yang sengaja berpakaian formal untuk menunjukan ketegasan, tak mau beranjak dari posisi nyamannya. Ya, posisi bersandar nyaman dengan kedua tangan saling terlipat. Posisi superiornya.

Hani sudah memberi banyak Sera petuah agar tampil selayak, setegas dan sekonsisten mungkin. Tiga hal itu akan membuatnya terlihat patut diperhitungkan tuk menjadi wali balita bernama Summer.

"Sudah lama menunggu?" tanya Arche setelah minumannya datang. Dia menyesap minumannya.

Hanya ice latte, tetapi cara Arche meminumnya sungguh membuat Sera tak bisa mengedip. Kenapa lelaki berkeringat yang menyeruput minuman dengan rakus terlihat menggiurkan? Astaga! Fokus Sera! Fokus!

"Nope. Baru sebentar," jawab Sera setelah berdehem dua kali.

Arche menghabiskan minumannya dengan cepat. Setelah habis, lelaki itu tak langsung bicara sehingga Sera putuskan bicara.

"So, bisa langsung to the point?"

Arche mengangguk-angguk. "Pak Mario sudah menceritakan apa yang kalian obrolkan kemarin. Kamu menolak tawaran saya."

"Tentu saja," jawab Sera tegas. "Tawaran itu sangat tidak masuk akal. Bapak mencoba menyogok saya agar menyerahkan hak asuh Summer kepada Bapak sendiri?"

"Menyogok? Saya lebih suka menyebutnya 'kesepakatan'."

"Saya yakin surat wasiat yang dibuat Sari memiliki kekuatan hukum," kata Sera menebak. Dia yakin jawabannya ya, sebab Arche mengangkat sebelah alisnya—seperti hendak menunggu apa kalimat lanjutan yang akan dijadikan ancaman oleh Sera.

"Karena itu, rasanya cukup masuk akal jika tindakan Pak Arche untuk menyogok saya bisa dikatakan tindakan yang melawan hukum!"

Arche mendengkus kencang. Sudut bibir lelaki itu berkedut. Ada gestur geli terpancar dari kedua matanya. Arche Salaras Hadiratma benar-benar meremehkan Sera.

"Sari—kakak kandung saya yang sekaligus istri bapak, membuat surat itu berlandaskan hukum. Alih-alih menjadikan Pak Arche sebagai tumpuan Summer, dia memilih saya," kata Sera jumawa. "Saya pikir itu bukan hal yang dilakukan secara random. Pasti ada alasannya. Dan karena ikatan persaudaraan itulah, saya berniat merawat Summer."

Sera ingin muntah mendengar suaranya sendiri. Terutama membahas 'ikatan persaudaraan' yang sejatinya hanya bualan. Mengurus Summer karena dia menyayangi peninggalan Sari? Cih! Tidak sudi! Dia hanya butuh uang Summer.

Sudah dia katakan dirinya telah memutus ikatan persaudaraan dengan Sari. Kakak kandungnya itu tidak patut dihormati.

"Kamu sudah diberi kesepakatan yang akan menguntungkan kamu, kenapa masih pura-pura menolak?" serang Arche mulai menanggalkan suara ramahnya. "Kondisi keuangan kamu akan stabil dengan uang yang saya tawarkan."

Pupil mata Sera melebar mendengar ucapan Arche! Sudah macam sinetron di televisi, Arche ternyata menggunakan kekuasaannya tuk mencari tahu kehidupan Sera. Arche pastinya sudah tahu informasi-informasi tentang dirinya. Darah Sera seketika mendidih. Dia tak suka Arche menjadikan kelemahannya sebagai celah tuk menyerang.

"Apa kamu tahu cara mengurus balita? Apa kamu sadar Summer akan menghambat karir modeling kamu?"

"Tahu, saya amat tahu semua resiko itu. Namun Summer juga bagian dari saya—setelah Sari meninggal."

"Kemana kamu selama Sari masih hidup? Kenapa kamu tidak pernah datang saat Summer lahir? Saat Summer ulang tahun?"

"Itu bukan urusan Pak Arche, lagipula ini menjadi boomerang bagi Bapak sendiri. Kenapa bisa-bisanya istri bapak memberi hak asuh anaknya dengan bapak kepada saya—yang tidak pernah hadir di hidupnya selama bertahun-tahun? Ada apa dengan Pak Arche? Apa memang tidak selayak itu?"

Sera pura-pura melotot shock. Ekspresi berlebihan yang sengaja dia lakukan untuk menghina harga diri Arche. Sempat-sempatnya menangkup mulut dengan telapak tangan. "Aduh, saya jadi inget ucapan orang-orang. Katanya kesempurnaan itu cuma milik Rizky Febian, jangan-jangan bapak menyembunyikan kejanggalan ya dibalik penampilan necis dan karier meroket begini? Boleh saya menebak?"

Sera pura-pura berpikir. "Bapak suka main terong ya? Atau jangan-jangan bapak tipe laki-laki yang jadiin manusia samsak? Aduh Pak! Istri bapak aja enggak percaya sama bapak lho. Ngeri saya."

Arche mengeraskan rahang mendengar semua hinaan Sera. Lelaki itu benar-benar menahan amarah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Sera mengangkat sebelah alis, dia mengangkat gelas berisi air putih lalu dengan gaya angkuh mengedikkan bahu sebelum meneguk air putih tersebut.

"Singkatnya sih ya Pak, yang harus jadi wali Summer semenjak ibu meninggal itu ya ayah kandung. Kecuali ... ayahnya memang tidak selayak itu. Jangan marah lho ya! Ini ilmu dasar!" Sera terkikik.

"Dengan ucapan itu, kamu merasa layak menjadi wali Summer?"

"Oh iya dong, ibunya sendiri yang milih saya," jawab Sera jumawa.

"Apa kamu tahu caranya menjadi orang tua?"

"Oh iya dong—"

"Sebelum jauh ke 'how', kamu tahu definisi orang tua?"

"Lo jangan ngeremehin gue anj—" Sera emosi lahir batin. Dia benar-benar bernafsu mengguyur rambut legam Arche dengan segelas air di gelasnya.

"Saya tidak sedang meremehkan, saya sedang bertanya. Cara kamu menanggapi pertanyaan saya sangat kekanakan." Arche memotong umpatan Sera. "Begini Seraphine Sarasvati, langsung saja, saya ingin tahu, dari sisi mana kamu merasa layak menjadi wali Summer—sampai-sampai kamu menolak uang ratusan juta yang sebenarnya sangat kamu butuhkan sekarang?"

"Pertama gue punya darah ibunya, gue belum punya anak tapi ikatan batin gue sama dia pasti udah deket. Dan gue juga kerja, jadi dia bisa terpenuhi secara nutrisi," jelas Sera menggebu-gebu. Dia benar-benar tak suka diremehkan Arche. Saking emosinya, Sera bahkan menanggalkan bahasa formal.

Sera merasa jawabannya sudah benar. Summer sebagai manusia yang sedang tumbuh dan berkembang tentunya membutuhkan dua hal; pemenuhan psikis (kasih sayang) dan fisik (sandang, pangan dan papan).

"Kamu tahu berapa usianya?"

Sera tergagap.

Sial. Dia begitu bodoh tak mencaritahu hal itu. Di foto, Summer terihat masih mungil. Sepertinya 1 tahun, apa 2 tahun? Ah, berapa persen pula kebenarannya? Jangan-jangan foto di Internet itu sudah lama? Bukan yang terbaru?

"Kamu bahkan belum mencaritahu soal itu."

Sera menggebrak meja. Dia tak mau posisinya ditekan serendah ini. Dia hendak membela diri. "Itu sama sekali bukan dasar layak atau tidak layak gue mengurus Summer. "

"Percayalah Seraphine, mengurus balita tidak mudah. Dia akan menguras seluruh tenaga, uang dan waktu kamu. Tolong bersikap kooperatif! Serahkan hak asuh kepada saya! Saya ayah Summer, saya tidak akan mencelakakannya! Dan kamu pun tidak melakukan hal sia-sia, karena saya akan memberi kamu imbalan. Apa uang kompensasinya kurang? Kamu mau saya melipatkannya jadi 5 kali lipat?"

Sera menemui apa yang dia harapkan! Ya, melihat Arche frustasi! Sera bersorak dalam hati, kendati di luar, dia tetap menunjukan raut datar tanpa emosi. Sera sedang menilai kapan dia harus melakukan tawar menawar.

Arche sudah memberikan penawaran luar biasa! Naik 5 kali lipat dari penawaran pertama! Sungguh luar biasa! Lelaki ini berani merogoh kocek banyak hanya agar mendapatkan hak asuh sepenuhnya.

Namun seperti realita show bertajuk hadiah misteri, selalu ada yang menarik dari Misteri Box alih-alih uang cash yang ditawarkan pembawa acara.

Dan yeah, Sera akan konsisten meminta misteri box.

"Gue mau ngaku jujur aja nih ya sama lo, hubungan gue sama Sari emang enggak terlalu dekat. Tapi sekarang gue sadar ikatan persaudaraan enggak bakal terputus bahkan ketika gue berusaha mutusin itu sekuat tenaga. Sekarang gue enggak punya siapa-siapa selain Summer. Permintaan Sari yang terakhir adalah nyerahin Summer ke gue, jadi ... sorry to say, gue enggak bisa menerima uang lo—event mau dilipatgandakan ke 1000 kali pun. Gue akan tetap rawat Summer, Arche."

God job Sera!!! Sera amat bangga dengan lidahnya yang pintar merangkai alasan! Ah, sebuah alasan sentimental, padahal faktanya dia hanya berdusta. Dia tidak seemosional itu tuk menjadikan ikatan persaudaraan sebagai alasan berbuat baik.

Hidup ini keras, tidak akan kenyang dengan kasih sayang. Pun darah yang mengalir di tubuhnya pun hanya entitas yang akan mati jika dia mati kelaparan.

Arche merunduk, tangannya memijat pangkal hidungnya yang tinggi. Lelaki itu berulang kali mendesah.

Sera menelisik gestur Arche. Lelaki ini sepertinya sangat mencintai Summer. Rasa frustasinya ketika tak berhasil membujuk Sera melepaskan hak asuh kepada dirinya terlihat sangat natural.

Bukan hal yang dibuat-buat. Sera sampai berkaca-kaca melihatnya.

Sera berkaca-kaca bukan karena terharu melihat ada lelaki setulus itu, tetapi karena dia terharu membayangkan berapa uang yang akan digelontorkan Arche untuk menghidupi Summer.

Untuk memastikan Summer tinggal di rumahnya saja Arche rela mengeluarkan uang banyak, apalagi demi kelayakan hidup Summer?

Oh, God!

Sera meneteskan liur membayangkannya.

Dia benar-benar siap menjadi Seraphine Sarasvati 'new era' yang dikenal kurir saking seringnya belanja online. Summer Hadiratma akan menjadi mesin ATM hidupnya.

"Apa tidak ada hal yang bisa membuat kamu goyah?" tanya Arche masih meloby. "Uang 5 kali lipat dan unit apartemen, bagaimana?"

Tidak! Ayo bilang tidak, Sera! Arche licik seperti belut listrik! Lelaki ini sudah mencaritahu hidupnya. Tentu mudah bagi Arche mengetahui kepribadian matrealistisnya. Sangat mudah bagi Arche tuk melacak Sera yang terseok-seok uang sewa apartemen.

Sera yakin Arche hanya menggertak.

Namun kenapa menolak uang dan apartemen terasa sulit?

No! No! Sera! Kamu jangan goyah, gumam Sera mengingatkan dirinya yang tiba-tiba limbung. Uang dan apartemen seperti lelaki berotot yang menarik kakinya. Tubuh kurusnya tak memiliki tenaga sekuat itu untuk menolak.

"Sebentar, ada telepon," kata Arche meminta izin beranjak pergi.

Sontak Sera mengelus dadanya. Dia terselamatkan karena jeda tersebut. "Please Sera! Lo jangan kebujuk rayu!!" seru Sera mengingatkan dirinya sendiri.

Sera buru-buru menutup mulutnya ketika Arche datang lagi ke meja.

"Tadi Summer. Dia ternyata sedang tak jauh dari sini, tidak keberatan dia kemari?"

"I—iya lah, gue enggak keberatan," jawab Sera gugup. Dia tak tahu kenapa membayangkan bertemu Summer membuat dia tercekat.

Bagaimana jika Summer tak menyukainya? Bagaimana jika bocah itu berteriak ngeri melihat eyeliner-nya yang meliuk runcing seperti ekor ikan hiu? Bagaimana jika Summer tak menyukai bibir penuhnya yang dipoles merah menyala seperti warna setan??

Sejatinya Sera belum siap bertemu Summer. Dia tahu pertemuan itu jika berakhir buruk benar-benar akan menghancurkan rencananya menjadikan Summer mesin ATM. Namun Sera tak bisa berkutik, terutama karena Arche sudah mengambil keputusan.

"Dia lagi di jalan," kata Arche.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED