Bab 1

"Sera, bersaing di dunia modeling itu sulit, bahkan kamu udah buka-bukaan kaya gini pun tetep aja sulit. Ehm, begini aja, gue ada kenalan pejabat yang kemarin nanyain lo. Semalam bisa nyampe 60 juta, gue sih paling cuma minta duit bensin doang. Gimana, mau?"

Seraphine Sarasvati yang memakai masker dan pakaian formal menatap lelaki flamboyan di hadapannya dengan sepasang mata kucing menyipit. Gadis yang berprofesi sebagai model gravure itu mengangkat tangannya sekedar tuk memberi gestur agar lelaki di hadapannya berhenti bicara sebelum dia membuka masker.

Ketika masker itu dilepas, hidung mungil dengan bibir merah alaminya terlihat menahan amarah.

"Coba sekali lagi lo ngomong!" tantang Sera.

"Open BO Beb, santai lo jangan tersinggung gitu ya! Tujuan lo jadi model seksi ini kan pasti buat ngegoda laki-laki kaya di luaran sana, kan?" jawab lelaki itu terkekeh.

Sera mengambil minuman di atas meja tuk dia tumpahkan di atas kepala lelaki yang sering memberinya pekerjaan. Sera tahu karir modelingnya akan makin sempit ketika dia melakukan hal sebarbar ini, tetapi tidak ada belas kasihan untuk lelaki yang memandang sebelah mata dirinya.

"SERA! ASTAGA!!!" teriak Hani—manajer Sera, secepat angin menyerbu posisi Sera di kursi restoran paling ujung.

Dengan cepat Hani memeluk pinggang ramping Sera tuk dia jauhkan dari Hardian—lelaki yang kini basah setelah dibasuh segelas es jeruk.

"Sekali lagi lo nawarin pekerjaan menjijikan kaya gitu, gue mandiin lo pake kopi panas!" teriak Sera memaki. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah Hardian yang sekarang shock tak bisa berkata-kata.

Hani menyeret tubuh Sera menjauhi posisi Hardian.

"Lo tolol ya?" teriak Hani menghempaskan tubuh Sera di kotak lift. Sera sontak menepis tangan Hani di lengannya. Perempuan ber-make up tipis itu menggerutu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Tolol? Dia ngajak gue ketemuan bukan mau kasih kerjasama modeling Han, tapi nawarin open BO, udah gila kali ya," maki Sera. "I know, kerjaan gue sekarang sepi. Tapi dia kurang ajar banget ngira tubuh gue bisa dibeli."

"Bukannya selama ini lo jual tubuh ya?" tanya Hani membuat Sera terdiam. "Secara implisit tentunya. Selama ini lo jadi model gravure—pose sana sini cuma pake bikini, itu bukan jual tubuh?"

"Seenggaknya gue dinikmati secara seni, bukan disewa buat puasin laki-laki enggak jelas," jawab Sera mendesis.

"Jangan sok idealis Ra! Kalau sampai bulan depan lo enggak dapat kerjaan, lo mau diusir dari apartemen harga selangit lo itu?"

Sera terdiam.

"Sebagai manager yang atur keuangan lo, bulan ini emang paling miris."

Sera ingin mengumpat. Hani benar-benar menjadikan dirinya sebagai manager—yang mengurusinya karena uang. Benar-benar sialan!

"Lo harus bayar sewa apartemen, cicilan mobil mewah lo, beli make up, baju-baju sampai makanan diet yang enggak murah. Lo yakin bisa?"

Sera melenguh. Kedua tangannya sudah terangkat siap mengacak-acak rambut kala denting lift membuat mereka terdiam, lalu putuskan berjalan keluar.

Seraphine begitu lenjang. Tubuhnya tinggi semampai dengan wajah lonjong bergaris rahang tegas. Mata kucingnya adalah daya tarik seorang Lovita Seraphine di dunia gravure. Kulit putihnya pun mudah sekali didandani sehingga dia sering mendapat job menjadi tokoh anime.

Namun sungguh sial, sudah lama sekali sejak Sera mendapat uang dari modeling.

Hani benar, keuangannya benar-benar di ujung tanduk. Dan sialnya, gaya hidupnya yang tinggi seperti tali yang akan mencekiknya jika tak lekas dipikirkan bagaimana cara membayar segala biaya.

"Terus lo sebagai manager, nyaranin gue jual diri gitu, hah?" seru Sera setelah membanting pintu taksi. Mereka memasuki taksi yang Hani cegat di pinggir bangunan restoran tempat Sera dan Hardian bertemu.

"Why not? Lo bukan perawan! Realistis aja say, lo mau hidup baik ya harus ada yang lo korbankan. Lagipula ini Jakarta, enggak usah sok suci!"

Sera menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sungguh berat sekali masalah jobless ini. Seraphine adalah yatim piatu yang sudah belasan tahun hidup mandiri. Dia tak punya keluarga. Jadi ketika dia tak ada tawaran menjadi objek foto atau modeling, maka bisa dipastikan dia akan menjadi gelandangan.

Sera tak punya ijazah universitas sebab sejak lulus SMA dia sibuk bekerja menghidupi diri sendiri.

Kadang-kadang, Sera iri dengan kehidupan banyak orang. Terutama anak orang kaya. Mereka dengan mudah hidup tanpa merasa cemas akan esok hari.

Menurunkan kaca jendela sampai mentok, Sera melihat ibukota pada malam hari. Beberapa orang hilir mudik di trotoar. Ada yang baru pulang bekerja dan ada yang sedang bermain. Ada yang sedang menunggu angkutan umum dan ada pula yang sudah ditunggu supir pribadi.

Kehidupan yang sangat indah.

Mereka bahkan tak perlu seperti Sera—membiarkan tubuhnya dipamerkan demi sebuah bayaran. Dan sayangnya, pekerjaan yang selama ini menghidupinya pun tak berlangsung lama.

"Oh ya Ra, dari kemarin ada yang minta nomor lo. Katanya bukan urusan kerjaan," kata Hani membuyarkan lamunan Sera.

Sera semakin melenguh. Kalimat 'katanya bukan kerjaan' semakin menyakitinya. "Capek deh."

"Bilangnya atas nama Sari," tambah Hani dengan suara enteng.

Sera seketika membeku mendengar nama itu. Gestur tubuhnya tiba-tiba kaku.

"Nga—ngapain? Gue enggak mau berurusan sama nama itu lagi!" tanya Sera setelah sekian lama hanya diam.

"Dia enggak ngasih tahu alasannya. Kayaknya penting banget sampe enggak bisa diomongin sama gue."

"Udah biarin aja. Blokir kalau perlu!" Ucapan Sera begitu tegas. Tak mau dibantah.

"Serius? Takutnya keluarga lo?"

"Lo tahu gue enggak punya keluarga," gerutu Sera.

Hani mengedikkan bahunya.

Sera tidak akan peduli. Sari sudah dia buang dari akal sehatnya. Kepeduliannya pada perempuan itu sudah lenyap sejak terakhir kali Sari tega meninggalkannya sendirian di ganasnya Ibu kota.

***

SEBUT ini putus asa, tetapi Sera seperti menjilat ludahnya sendiri. Baru 3 hari lalu dia mempermalukan Hardian yang menawari pekerjaan menjual diri, sekarang Sera sudah berdiri di depan ruangan ekslusif bar yang biasanya dihuni tamu-tamu VIP.

Sera seketika mulas. Dia ingin melarikan diri, tetapi tagihan uang sewa apartemen lebih membuatnya malas.

"Its okay Ra, cuma 1 jam. Dan lo cuma dengerin cerita om-om mesum. No kiss, no make out apalagi seks. Mudah, kan?" Sera mengingatkan dirinya.

Namanya yang cukup dikenal sebagai model gravure membuat tarifnya besar bahkan ketika tugasnya hanya menemani mabuk-mabukan.

Sera mengusap rambut coklatnya yang dia biarkan terurai tuk menutupi bahunya yang terekspos dengan gaun bertali spaghetti.

"Okay, gue perlu ke kamar mandi!" Sera benar-benar merasa mulasnya bukan karena gugup, tetapi karena dia sakit perut.

Setelah dari kamar mandi, Sera yang lesu berjalan kembali ke ruang ekslusif yang sudah dia hapal di luar kepala. Di lorong menuju dance floor, dia berpapasan dengan lelaki tinggi rupawan berkemeja putih yang rapih dimasukkan ke celana bahan. Formal sekali. Seperti hendak menghadiri rapat.

Tiba-tiba lelaki itu berbalik sehingga matanya bersibobrok dengan matanya. Sera melayangkan senyum nakal dengan kedipan sebelah mata. Senyuman yang membuat photographernya senang ketika dia berpose dengan itu. Senyuman yang dia bagi-bagikan secara cuma-cuma untuk para lelaki di bar.

"Sera, kan?"

Tak Sera sangka, lelaki itu menyapanya. Dan entah kabar baik atau buruk, lelaki itu mengetahui namanya.

"Excuse me?" Sera mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi bingung. Nama panggungnya sebagai model adalah 'Lovita'. Sera adalah panggilan orang-orang yang sudah mengenalnya dengan baik.

"Lovita Seraphine?" tanya lelaki itu memastikan.

"Eh, kenapa lo tahu nama gue? Lo Pak Subagja yang order gue sejam?" tanya Sera mengira lelaki di hadapannya adalah orang yang memesannya.

Buru-buru Sera merubah wajah bingungnya menjadi ramah penuh senyum.

"Saya Arche," kata lelaki itu mengulurkan tangan. "Saya yang hubungi manajer kamu beberapa hari terakhir."

"Lo mau nawarin gue kerjaan?" tanya Sera seketika menjabat tangan Arche yang terulur. Senyumnya tak luntur.

"Bukan, saya enggak mau nawarin pekerjaan. Saya datang untuk membicarakan soal Sari."

Sera sontak menarik tangannya dengan wajah memucat.

"Gue enggak kenal siapa yang lo omongin—" Sera buru-buru berbalik kembali ke lorong menuju kamar mandi. Dia berlari dengan heels 12 cm-nya yang runcing.

Sera benar-benar panik mendengar nama Sari sehingga dia tak peduli jika dia akan terjatuh.

"Sari meninggal Sera, dia punya anak. Di surat wasiatnya dia menyerahkan anaknya ke bawah kepengasuhan kamu," kata Arche mengejar Sera.

Sera sontak tersentak mendengar informasi itu. Tubuhnya membeku. Wajahnya memucat. Menoleh, Sera menatap Arche dengan pandangan shock.

Arche tersenyum tipis, terlihat sangat ironi senyuman tersebut. "Kita harus bicara di ruang yang lebih baik, dengan pengacara saya tentunya."

"Lo ... siapanya Sari?" tanya Sera mencicit.

"Suaminya."

Sera semakin melotot shock. Sari, yang amat dia benci, ternyata hidup lebih baik. Dia menikahi lelaki rupawan bertubuh tinggi yang dilihat dari pakaiannya terlihat sangat kaya raya. Dan sungguh mengejutkan, Sari memiliki anak.

Sera tiba-tiba tertawa kecil. Dia senang sekali kakak kandungnya itu mati. Berarti hidup Sari bisa dibilang jauh lebih sial dibanding dirinya. Sera amat berharap Sari mati tertabrak kereta, atau jatuh dari atap gedung.

"Dia enggak salah nitip anaknya di gue?" kekeh Sera ingin sekali menari striptis di mayat kakak kandung sialannya itu. "Gue enggak akan pernah mau merawat apapun peninggalannya. Termasuk anak. Ngerepotin."

"Sebaiknya kita bicara di tempat yang jauh lebih tenang."

"Enggak perlu, gue sibuk! Bilang sama mayatnya Sari gue enggak sudi ngurus anaknya!" seru Sera berapi-api. "Sialan banget itu istri lo, ninggalin gue sekalinya datang cuma buat nitipin anak."

"Kalau memang seperti itu keputusan kamu, saya mau kamu menandatangi surat pengalihan hak asuh. Kita harus membicarakannya dengan serius di depan pengacara saya—"

Ucapan Arche tak jelas apa akhirnya sebab Sera sudah ditarik cukup keras dari belakang. Pelakunya adalah Hani. Lengan Sera sakit sekali ditarik keras. Perempuan bertubuh mungil itu sekarang melotot menatap Sera.

"Lo enggak tahu siapa yang lagi ngomong sama lo, hah?" desis Hani tepat di kuping Sera.

"Emangnya siapa?"

"Arche Salaras Hadiratma, laki-laki yang bikin perempuan manapun berdoa jadi jodohnya."

"Iya gue tahu dia ganteng tapi biasa aja kali."

Arche menatap kikuk dua perempuan yang berbisik-bisik cukup jauh di hadapannya.

"Bukan ganteng doang Sera, tapi dia juga anak orang kaya," seru Hani begitu antusias. "Lo lagi ditawar jadi simpanan sama dia?"

"Heh! Bukanlah!" desis Sera menggetok kepala Hani.

Hani mengaduh kesakitan. Sera pun menjelaskan kedatangan Arche menemuinya. Singkatnya, Sera hendak dijadikan tempat penitipan anak. Sudah tahu alasan sebenarnya, pupil mata Hani makin melotot lebar.

"Sumpah!!!! Ini tuh kabar baik buat lo Sera!!!!" bisik Hani dengan nada antusias. "Kapan lagi lo bisa dapat duit cuma modal ngurus anak kecil yang bisa lo serahin ke Nanny-nanny?"

Sera tampak bosan menatap Hani. Orientasi Hani memang tak pernah berubah. Selalu tentang uang.

"Ini kesempatan lo jadi Nia Ramadhani Ra!!!" tambah Hani menggebu-gebu. "Lo bisa seharian scroll media sosial tanpa harus capek kerja kesana kemari. Sewa apartemen lo aman, cicilan mobil lunas dan biaya hidup lo juga tercukupi."

Sera menatap Hani penuh minat. Ucapan Hani ada benarnya juga. Anak Sari yang dititipkan kepada dirinya barangkali adalah 'ladang uang'.

"Come on, lo bilang ke dia kalau lo punya kesepakatan," cetus Hani mendorong Sera agar bertindak.

Tatap Sera beralih ke Arche yang terlihat kikuk berdiri di lorong bar yang sama sekali tak beradab. Didorong Hani, Sera pun mendekati Arche kembali.

Berdehem, Sera pun bersedekap menatap Arche. "Sorry gua agak mabuk tadi jadi gue bilang enggak mau ngurus anaknya si Sari. Tapi setelah gue ngobrol sama temen gue, urusan ini jelas enggak bisa ditolak karena ya tadi, udah ditulis di surat wasiat, kan?"

Arche mengangguk.

"So, kapan kita bisa ketemu buat ngobrolin ini?" tanya Sera dengan dagu terangkat, menantang Arche.

Dalam hati, Sera bersorak girang, Arche Salaras Hadiratma di matanya seperti ladang uang baru.

Bab 2

ARCHE Salaras Hadiratma adalah anak bungsu dari Saka Byakta Hadiratma—seorang pengusaha besar yang namanya mengisi daftar investor beberapa perusahaan terkenal.

Seraphine tersedak cola yang dia sesap kala dia membaca layar laptop yang menunjukan pekerjaan Arche.

"Han, si Arche-arche ini dirut PINS lho!" teriak Sera. PINS adalah perusahaan media nomor 1 di dalam negeri. Perusahaan itu cukup bergengsi dan siapa-siapa yang memegang posisi penting disana tentu adalah orang-orang hebat.

Sera mengingat lagi wajah Arche. Rasanya lelaki itu masih muda, terasa tak masuk akal dirinya bisa menduduki posisi puncak di rantai perusahaan sebesar PINS. Terasa prestisius. Kemungkinan besar, selain kaya raya Arche Salaras juga memiliki otak ber-IQ tinggi.

"Lah emang, lo kerja jadi public pigure kok aneh enggak tahu," timpal Hani meledek.

Sera mengarahkan kursor tuk meng-klik opsi gambar. Seketika foto-foto Arche yang dominan memakai pakaian formal terlihat jelas di depan mata. Sera menopang dagu menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.

"Dia tuh sangat sangat kaya say, anak laki satu-satunya," tambah Hani. "Mana ganteng lagi, buktinya lo kesemsem kan!"

Ledekan terakhir Hani berdasar pada apa yang sedang Sera lakukan; menikmati kerupawanan wajah Arche.

"Nope. Gue liatin dia karena lagi cari alasan kenapa laki-laki sesempurna ini mau sama Sari," gumam Sera.

"Emang Sari-sari tuh siapa sih?"

"Kakak kandung gue."

"WHAT?"

"Secara darah ya gue saudaranya, tapi udah sejak lama gue anggap dia mati." Sera mengedikkan bahunya. "Gue enggak mau ngomongin dia jadi jangan bahas lagi!"

"Okay, okay," sahut Hani menurut.

Sera menutup laman pencarian di laptopnya. Sudah cukup informasi yang dia dapatkan. Arche Salaras Hadiratma benar-benar lelaki kaya raya. Bagi Sera itu sudah cukup.

Sekarang Sera ingin fokus membuat catatan-catatan yang akan dia katakan kepada Arche besok nanti. Ya, Arche menjadwalkan besok sore untuk membicarakan persoalan hak asuh.

"So, nanti gue harus gimana pas ketemu sama si Arche?" tanya Sera naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Hani.

Hani sedang menonton serial romance dengan kaki saling menopang. Perempuan itu menoleh menatap Sera.

"Gue enggak bisa ngasih saran karena gue belum tahu apa yang ditawarin Arche."

"Kemarin sih bilangnya Sari bikin surat wasiat kalau dia mau ngasih hak asuh anaknya ke gue. Kayaknya anaknya masih kecil."

"Bisa jadi Sari juga ngasih warisan. Maybe sih."

Wajah Sera semakin berbinar-binar.

"Tapi kok bisa sih Sari ngasih hak asuh ke lo kalau bapak anak itu masih hidup?"

"Mungkin si Arche ini gay, atau KDRT," jawab Sera asal. "Makanya Sari lebih percaya sama gue, padahal gue harusnya jadi list terakhir orang yang dia mintai bantuin ngurus anak."

Hani bergidik ngeri mendengar jawaban nyeleneh Sera.

"Gue jadi makin bingung Ra, intinya lo ambil celah yang nguntungin lo. Lo urus tuh anak kalau anak itu punya warisan atau enggak nafkah bulanan gede."

"Dan?"

"Dan lepasin anak itu kalau Arche ngerasa lo enggak layak, dengan syarat dan ketentuan pastinya. Intinya ambil yang duitnya gede."

***

DENGAN kemeja flanel berwarna biru dongker yang dipadupadankan dengan jeans semata kaki, Lovita Seraphine sudah datang di restoran yang sudah ditentukan sejak awal.

Dirinya datang 5 menit lebih awal, sebuah hal prestisius.

Dia memang penuh semangat jika berhubungan dengan uang.

"Halo!" Seorang lelaki berkumis tipis tiba-tiba berdiri di depan Sera dan menyapa ramah. "Ibu Lovita?"

Sera menunjuk dirinya. Yah, dia Lovita. Mengangguk, Sera balas menyapa ramah. "Bapak siapa ya?"

"Wah, Ibu mirip sekali dengan Ibu Sari," kata lelaki itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, saya Mario, pengacaranya Pak Arche."

Mario mengulurkan tangan. Sera menjabatnya demi kesopanan, kendati di dalam hati dia benar-benar jengkel sebab Arche tidak datang. Lelaki itu hanya mengirimi pengacaranya.

Seriously? Ini urusan anaknya! Apa memang dia sejatinya tidak menyayangi anaknya?

"Maaf Pak Mario, jadi Pak Arche tidak datang?" tanya Sera.

"Iya Bu, Pak Arche berhalangan hadir," jawab Mario meringis. "Tapi saya sudah lebih dari cukup mewakili suara beliau."

"Awalnya saya pikir ini akan jadi obrolan sesama anggota keluarga, alih-alih mengutus Bapak dan menjadikan pertemuan ini benar-benar kesepakatan," keluh Sera pura-pura kesal. Seolah-olah dia peduli dengan nasib anak Sari, padahal faktanya dia hanya memperdulikan uang.

"Iya Bu, mohon maaf, Pak Arche sedang ada urusan di luar kota."

"Kemarin malam dia ada waktu ke bar, kenapa ketika benar-benar menjanjikan waktu malah tidak datang? Ups, atau jangan-jangan dia memang kebetulan sedang ada di bar?" Sekarang Sera benar-benar jengkel. "Padahal jika memang urusannya melibatkan Pak Mario, sejak awal saja Pak Mario datang ke saya."

"Sebenarnya saya sudah mencoba menghubungi Ibu lewat manager Ibu, tetapi nomor saya diblokir. Pak Arche memutuskan mendatangi Ibu setelah beliau tahu posisinya malam itu tidak jauh dari bar."

Oh seperti itu, gumam Sera tak benar-benar tertarik mendengar penjelasan Mario.

"Mohon maaf jika ini membuat Ibu tidak nyaman," kata Mario meringis.

"Okay, to the point saja! Mana surat wasiatnya?"

"Saya akan membacakannya—"

"Saya ingin mendapatkan bentuk aslinya! Bukan dibacakan!" seru Sera memotong ucapan Mario.

Mario terlihat gugup. "Oh maaf Bu, tetapi file asli surat wasiat itu ada di tangan Pak Arche, saya hanya akan menyampaikan inti dari suratnya."

"Sebutkan alasan kenapa saya harus percaya bapak menyampaikan isi yang sebenarnya tanpa ada kekeliruan?" tanya Sera.

"Karena saya hanya akan menyampaikan apa yang saya ketahui," jawab Mario dengan suara tegas. "Surat itu tidak hanya berisi informasi tentang Ibu Sera, tetapi beberapa pihak. Alasan Pak Arche tidak mau memberitahukannya kepada Ibu Sera tentunya karena menyangkut privasi beliau juga. Saya harap Ibu Sera mau bersikap kooperatif dengan mendengarkan apa yang menjadi hak ibu saja."

Sera mendengkus kencang setelah Mario menyudahi kalimatnya. Sera benar-benar membenci pengacara! Mereka pintar bersilat lidah. Sera tak yakin dia bisa menawar harga kesepakatan jika memang harus lekas diputuskan.

"Jadi apa yang menurut Bapak menjadi hak saya dalam surat itu, huh?" tanya Sera ketus.

"Ibu Sari menyerahkan hak asuh Nona Summer kepada Ibu Sera," jawab Mario.

"Oh jadi nama anak itu Summer? Berapa umurnya?"

"Nona Summer baru 3 tahun."

"Kasihan sekali," cemooh Sera. "Apa dia ngasih alasan kenapa harus saya?"

"Karena Ibu satu-satunya keluarga Ibu Sari. Itu yang ditulis beliau."

Sera mendengkus kencang. Masalah gini aja gue dianggap keluarga, gerutu Sera.

"Okay begini aja deh ya Pak Mario, saya mau to the point. Saya udah lama enggak komunikasi sama Sari, apa dia ninggalin warisan?"

Mario tercengang.

"Maksud saya, warisan buat Summer. Kalau saya jadi wali dia, otomatis saya yang pegang kan uangnya?" seru Sera menambahkan.

"Ibu Sari tidak menurunkan warisan apapun Bu."

Sera mengumpat keras. Tidak bisa ditahan.

"Terus biaya hidup anak itu?"

"Tentunya ada nafkah dari Pak Arche."

Nah, nah! Ini yang Sera harapkan!

"Berapa?" tanya Sera to the point. "Anak orang kaya dia pasti banyak pengeluaran, kan? Makannya juga enggak sembarang, dan—"

"Begini Bu, saya mewakili Pak Arche ingin menawarkan kerjasama kepada Ibu."

Sera berbinar menunggu apapun yang akan diucapkan Mario.

"Pak Arche ingin Ibu menyerahkan hak asuh sepenuhnya kepada Pak Arche, namun Ibu tidak perlu khawatir sebab ada keuntungan yang akan Ibu terima."

Mario kemudian menyebutkan nominal uang yang akan Sera dapatkan ketika menandatangani surat perjanjian dimana disana ditulis, Sera tidak akan mengambil Summer Hadiratma dari Arche. Sera benar-benar terkejut mendengar nominal uang itu. Namun Sera tidak bodoh, dia yakin bisa menghasilkan uang lebih banyak jika memutuskan mengurus Summer.

"Mohon maaf Pak, dengan ikatan persaudaraan saya dan Sari yang amat kental, saya menolak tawaran ini karena ini termasuk penghinaan. Summer adalah keponakan saya, satu-satunya keluarga saya, jadi saya akan mengambil hak asuh Summer," jawab Sera pura-pura tersinggung sudah ditawari perjanjian.

Sera tersenyum dalam hati. Dia benar-benar senang hendak menjadi lintah penyedot harta.

Arche Salaras Hadiratma adalah Tuan Muda yang harus dimanfaatkan.

"Jadi itu keputusan ibu?"

"Iya," jawab Sera tegas.

"Sebelum itu, saya akan menjelaskan beberapa keuntungan jika Ibu menerima perjanjian yang sudah Pak Arche buat—"

"Tidak perlu, saya akan mengurus Summer. Dan kalau si Arche itu enggak suka keputusan ini, dia sendiri lah yang harus datang menemui saya!" seru Sera dengan tegas. Suaranya tak terbantah. Begitu menggebu-gebu.

Sera ingin menegaskan jika dirinya tidak main-main hari ini. Dia memang tak berpendidikan, kasta akademiknya sangat jomplang dengan Arche maupun Mario—akan tetapi jangan salah, untuk urusan uang Sera benar-benar berusaha sekuat tenaga tuk mendapatkannya.

Bab 3

Baru kemarin sore ditantang, besok paginya Arche menghubungi Sera secara langsung. Ya, memang tidak main-main. Jika mental Sera macam jelly, mungkin dia sudah gemetaran.

Sesuai kesepakatan, mereka kembali bertemu. Arche terbang langsung dari Medan hanya untuk bertemu Sera.

Dengan kemeja kusut yang lengannya digulung sampai sikut, Arche menarik kursi di depan Sera. Sepasang mata kucing Sera mengamati penampilan Arche. Lelaki ini benar-benar terlihat lelah. Perjalanan Arche sepertinya cukup melelahkan.

"So, bisa menunggu saya memesan minuman?" tanya Arche sembari melonggarkan ikatan dasi abu-abunya.

Sera mengedikkan bahunya. Dirinya yang sengaja berpakaian formal untuk menunjukan ketegasan, tak mau beranjak dari posisi nyamannya. Ya, posisi bersandar nyaman dengan kedua tangan saling terlipat. Posisi superiornya.

Hani sudah memberi banyak Sera petuah agar tampil selayak, setegas dan sekonsisten mungkin. Tiga hal itu akan membuatnya terlihat patut diperhitungkan tuk menjadi wali balita bernama Summer.

"Sudah lama menunggu?" tanya Arche setelah minumannya datang. Dia menyesap minumannya.

Hanya ice latte, tetapi cara Arche meminumnya sungguh membuat Sera tak bisa mengedip. Kenapa lelaki berkeringat yang menyeruput minuman dengan rakus terlihat menggiurkan? Astaga! Fokus Sera! Fokus!

"Nope. Baru sebentar," jawab Sera setelah berdehem dua kali.

Arche menghabiskan minumannya dengan cepat. Setelah habis, lelaki itu tak langsung bicara sehingga Sera putuskan bicara.

"So, bisa langsung to the point?"

Arche mengangguk-angguk. "Pak Mario sudah menceritakan apa yang kalian obrolkan kemarin. Kamu menolak tawaran saya."

"Tentu saja," jawab Sera tegas. "Tawaran itu sangat tidak masuk akal. Bapak mencoba menyogok saya agar menyerahkan hak asuh Summer kepada Bapak sendiri?"

"Menyogok? Saya lebih suka menyebutnya 'kesepakatan'."

"Saya yakin surat wasiat yang dibuat Sari memiliki kekuatan hukum," kata Sera menebak. Dia yakin jawabannya ya, sebab Arche mengangkat sebelah alisnya—seperti hendak menunggu apa kalimat lanjutan yang akan dijadikan ancaman oleh Sera.

"Karena itu, rasanya cukup masuk akal jika tindakan Pak Arche untuk menyogok saya bisa dikatakan tindakan yang melawan hukum!"

Arche mendengkus kencang. Sudut bibir lelaki itu berkedut. Ada gestur geli terpancar dari kedua matanya. Arche Salaras Hadiratma benar-benar meremehkan Sera.

"Sari—kakak kandung saya yang sekaligus istri bapak, membuat surat itu berlandaskan hukum. Alih-alih menjadikan Pak Arche sebagai tumpuan Summer, dia memilih saya," kata Sera jumawa. "Saya pikir itu bukan hal yang dilakukan secara random. Pasti ada alasannya. Dan karena ikatan persaudaraan itulah, saya berniat merawat Summer."

Sera ingin muntah mendengar suaranya sendiri. Terutama membahas 'ikatan persaudaraan' yang sejatinya hanya bualan. Mengurus Summer karena dia menyayangi peninggalan Sari? Cih! Tidak sudi! Dia hanya butuh uang Summer.

Sudah dia katakan dirinya telah memutus ikatan persaudaraan dengan Sari. Kakak kandungnya itu tidak patut dihormati.

"Kamu sudah diberi kesepakatan yang akan menguntungkan kamu, kenapa masih pura-pura menolak?" serang Arche mulai menanggalkan suara ramahnya. "Kondisi keuangan kamu akan stabil dengan uang yang saya tawarkan."

Pupil mata Sera melebar mendengar ucapan Arche! Sudah macam sinetron di televisi, Arche ternyata menggunakan kekuasaannya tuk mencari tahu kehidupan Sera. Arche pastinya sudah tahu informasi-informasi tentang dirinya. Darah Sera seketika mendidih. Dia tak suka Arche menjadikan kelemahannya sebagai celah tuk menyerang.

"Apa kamu tahu cara mengurus balita? Apa kamu sadar Summer akan menghambat karir modeling kamu?"

"Tahu, saya amat tahu semua resiko itu. Namun Summer juga bagian dari saya—setelah Sari meninggal."

"Kemana kamu selama Sari masih hidup? Kenapa kamu tidak pernah datang saat Summer lahir? Saat Summer ulang tahun?"

"Itu bukan urusan Pak Arche, lagipula ini menjadi boomerang bagi Bapak sendiri. Kenapa bisa-bisanya istri bapak memberi hak asuh anaknya dengan bapak kepada saya—yang tidak pernah hadir di hidupnya selama bertahun-tahun? Ada apa dengan Pak Arche? Apa memang tidak selayak itu?"

Sera pura-pura melotot shock. Ekspresi berlebihan yang sengaja dia lakukan untuk menghina harga diri Arche. Sempat-sempatnya menangkup mulut dengan telapak tangan. "Aduh, saya jadi inget ucapan orang-orang. Katanya kesempurnaan itu cuma milik Rizky Febian, jangan-jangan bapak menyembunyikan kejanggalan ya dibalik penampilan necis dan karier meroket begini? Boleh saya menebak?"

Sera pura-pura berpikir. "Bapak suka main terong ya? Atau jangan-jangan bapak tipe laki-laki yang jadiin manusia samsak? Aduh Pak! Istri bapak aja enggak percaya sama bapak lho. Ngeri saya."

Arche mengeraskan rahang mendengar semua hinaan Sera. Lelaki itu benar-benar menahan amarah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Sera mengangkat sebelah alis, dia mengangkat gelas berisi air putih lalu dengan gaya angkuh mengedikkan bahu sebelum meneguk air putih tersebut.

"Singkatnya sih ya Pak, yang harus jadi wali Summer semenjak ibu meninggal itu ya ayah kandung. Kecuali ... ayahnya memang tidak selayak itu. Jangan marah lho ya! Ini ilmu dasar!" Sera terkikik.

"Dengan ucapan itu, kamu merasa layak menjadi wali Summer?"

"Oh iya dong, ibunya sendiri yang milih saya," jawab Sera jumawa.

"Apa kamu tahu caranya menjadi orang tua?"

"Oh iya dong—"

"Sebelum jauh ke 'how', kamu tahu definisi orang tua?"

"Lo jangan ngeremehin gue anj—" Sera emosi lahir batin. Dia benar-benar bernafsu mengguyur rambut legam Arche dengan segelas air di gelasnya.

"Saya tidak sedang meremehkan, saya sedang bertanya. Cara kamu menanggapi pertanyaan saya sangat kekanakan." Arche memotong umpatan Sera. "Begini Seraphine Sarasvati, langsung saja, saya ingin tahu, dari sisi mana kamu merasa layak menjadi wali Summer—sampai-sampai kamu menolak uang ratusan juta yang sebenarnya sangat kamu butuhkan sekarang?"

"Pertama gue punya darah ibunya, gue belum punya anak tapi ikatan batin gue sama dia pasti udah deket. Dan gue juga kerja, jadi dia bisa terpenuhi secara nutrisi," jelas Sera menggebu-gebu. Dia benar-benar tak suka diremehkan Arche. Saking emosinya, Sera bahkan menanggalkan bahasa formal.

Sera merasa jawabannya sudah benar. Summer sebagai manusia yang sedang tumbuh dan berkembang tentunya membutuhkan dua hal; pemenuhan psikis (kasih sayang) dan fisik (sandang, pangan dan papan).

"Kamu tahu berapa usianya?"

Sera tergagap.

Sial. Dia begitu bodoh tak mencaritahu hal itu. Di foto, Summer terihat masih mungil. Sepertinya 1 tahun, apa 2 tahun? Ah, berapa persen pula kebenarannya? Jangan-jangan foto di Internet itu sudah lama? Bukan yang terbaru?

"Kamu bahkan belum mencaritahu soal itu."

Sera menggebrak meja. Dia tak mau posisinya ditekan serendah ini. Dia hendak membela diri. "Itu sama sekali bukan dasar layak atau tidak layak gue mengurus Summer. "

"Percayalah Seraphine, mengurus balita tidak mudah. Dia akan menguras seluruh tenaga, uang dan waktu kamu. Tolong bersikap kooperatif! Serahkan hak asuh kepada saya! Saya ayah Summer, saya tidak akan mencelakakannya! Dan kamu pun tidak melakukan hal sia-sia, karena saya akan memberi kamu imbalan. Apa uang kompensasinya kurang? Kamu mau saya melipatkannya jadi 5 kali lipat?"

Sera menemui apa yang dia harapkan! Ya, melihat Arche frustasi! Sera bersorak dalam hati, kendati di luar, dia tetap menunjukan raut datar tanpa emosi. Sera sedang menilai kapan dia harus melakukan tawar menawar.

Arche sudah memberikan penawaran luar biasa! Naik 5 kali lipat dari penawaran pertama! Sungguh luar biasa! Lelaki ini berani merogoh kocek banyak hanya agar mendapatkan hak asuh sepenuhnya.

Namun seperti realita show bertajuk hadiah misteri, selalu ada yang menarik dari Misteri Box alih-alih uang cash yang ditawarkan pembawa acara.

Dan yeah, Sera akan konsisten meminta misteri box.

"Gue mau ngaku jujur aja nih ya sama lo, hubungan gue sama Sari emang enggak terlalu dekat. Tapi sekarang gue sadar ikatan persaudaraan enggak bakal terputus bahkan ketika gue berusaha mutusin itu sekuat tenaga. Sekarang gue enggak punya siapa-siapa selain Summer. Permintaan Sari yang terakhir adalah nyerahin Summer ke gue, jadi ... sorry to say, gue enggak bisa menerima uang lo—event mau dilipatgandakan ke 1000 kali pun. Gue akan tetap rawat Summer, Arche."

God job Sera!!! Sera amat bangga dengan lidahnya yang pintar merangkai alasan! Ah, sebuah alasan sentimental, padahal faktanya dia hanya berdusta. Dia tidak seemosional itu tuk menjadikan ikatan persaudaraan sebagai alasan berbuat baik.

Hidup ini keras, tidak akan kenyang dengan kasih sayang. Pun darah yang mengalir di tubuhnya pun hanya entitas yang akan mati jika dia mati kelaparan.

Arche merunduk, tangannya memijat pangkal hidungnya yang tinggi. Lelaki itu berulang kali mendesah.

Sera menelisik gestur Arche. Lelaki ini sepertinya sangat mencintai Summer. Rasa frustasinya ketika tak berhasil membujuk Sera melepaskan hak asuh kepada dirinya terlihat sangat natural.

Bukan hal yang dibuat-buat. Sera sampai berkaca-kaca melihatnya.

Sera berkaca-kaca bukan karena terharu melihat ada lelaki setulus itu, tetapi karena dia terharu membayangkan berapa uang yang akan digelontorkan Arche untuk menghidupi Summer.

Untuk memastikan Summer tinggal di rumahnya saja Arche rela mengeluarkan uang banyak, apalagi demi kelayakan hidup Summer?

Oh, God!

Sera meneteskan liur membayangkannya.

Dia benar-benar siap menjadi Seraphine Sarasvati 'new era' yang dikenal kurir saking seringnya belanja online. Summer Hadiratma akan menjadi mesin ATM hidupnya.

"Apa tidak ada hal yang bisa membuat kamu goyah?" tanya Arche masih meloby. "Uang 5 kali lipat dan unit apartemen, bagaimana?"

Tidak! Ayo bilang tidak, Sera! Arche licik seperti belut listrik! Lelaki ini sudah mencaritahu hidupnya. Tentu mudah bagi Arche mengetahui kepribadian matrealistisnya. Sangat mudah bagi Arche tuk melacak Sera yang terseok-seok uang sewa apartemen.

Sera yakin Arche hanya menggertak.

Namun kenapa menolak uang dan apartemen terasa sulit?

No! No! Sera! Kamu jangan goyah, gumam Sera mengingatkan dirinya yang tiba-tiba limbung. Uang dan apartemen seperti lelaki berotot yang menarik kakinya. Tubuh kurusnya tak memiliki tenaga sekuat itu untuk menolak.

"Sebentar, ada telepon," kata Arche meminta izin beranjak pergi.

Sontak Sera mengelus dadanya. Dia terselamatkan karena jeda tersebut. "Please Sera! Lo jangan kebujuk rayu!!" seru Sera mengingatkan dirinya sendiri.

Sera buru-buru menutup mulutnya ketika Arche datang lagi ke meja.

"Tadi Summer. Dia ternyata sedang tak jauh dari sini, tidak keberatan dia kemari?"

"I—iya lah, gue enggak keberatan," jawab Sera gugup. Dia tak tahu kenapa membayangkan bertemu Summer membuat dia tercekat.

Bagaimana jika Summer tak menyukainya? Bagaimana jika bocah itu berteriak ngeri melihat eyeliner-nya yang meliuk runcing seperti ekor ikan hiu? Bagaimana jika Summer tak menyukai bibir penuhnya yang dipoles merah menyala seperti warna setan??

Sejatinya Sera belum siap bertemu Summer. Dia tahu pertemuan itu jika berakhir buruk benar-benar akan menghancurkan rencananya menjadikan Summer mesin ATM. Namun Sera tak bisa berkutik, terutama karena Arche sudah mengambil keputusan.

"Dia lagi di jalan," kata Arche.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED