Bab 1

“Tanda tangani dokumennya sekarang,” suara bariton milik Adam itu terasa meluruhkan segenap tulang dalam tubuh Angelina—wanita berkulit putih gading—yang baru selesai menyeka air mata di kedua pipinya.

“Dokumen?”

“You know what they say, nothing in the world is free.”

Kedua kaki Angelina bergetar sesaat setelah Adam mengucapkan kalimat yang membuatnya bingung, “Aku tahu, Tuan Ford. Maksudku, dokumen apa yang sedang kau bicarakan?”

“Aku sudah membantu Rupert yang payah itu dari semua urusan utang-piutangnya, bukan? Jadi, kini giliranmu yang harus membayarnya.”

Adam benar. Dia hadir di waktu yang tepat. Ayahnya merupakan seorang pecandu alkohol serta permainan kartu dengan nilai taruhan yang tak sedikit nominalnya, pria tua bangka itu menjadi sasaran samsak para petugas klub sebab dia tak mampu membayar dan mereka bahkan nyaris saja mengakhiri usianya di atas meja judi jika Adam tak segera bertindak sebagai juru penyelamat.

“Tolong, berhenti menghinanya.”

Sepasang mata abu-abu Adam yang tajam sontak menyipit, “Aku hanya berkata sesuai dengan fakta yang ada, Nona Wilson. Terus terang, aku heran. Bagaimana caranya dia sanggup untuk menghidupi keluarganya selama ini padahal dia pun tidak mampu mengurus dirinya sendiri?”

Kepala Adam kemudian mengarah pada sesosok pria dalam balutan kaus polo usang yang tengah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Dia berdecih dan mengembalikan jenis tatapan penuh cemoohnya ke depan. Raut wajahnya yang diterpa sebagian lampu sorot sulit diterka. Apa dia sedang marah atau justru hanya ingin mengejek Angelina? Wanita itu juga tak tahu yang mana.

“Jaga lidahmu, Tuan Ford.”

Adam kembali menyunggingkan senyumnya, sementara satu alisnya menekuk ke atas dan pria itu lagi-lagi berujar, “Kau tidak perlu mengajariku. Berhentilah menciptakan perdebatan, segera bubuhi tanda tanganmu di kolom yang tersedia.”

“Aku tidak menge—”

“Bawakan seluruh berkasnya kemari, Roland!” potong Adam yang menoleh pada seorang pria setinggi seratus-tujuh-puluh-dua senti di sampingnya.

Sosok yang disebut-sebut bernama Roland itu mengangguk, lantas menyerahkan lembaran kertasnya ke Adam. Pria yang tengah duduk bertopang kaki sambil menyesap satu seloki gin-nya itu langsung menyambar benda di tangan Roland dan melemparkannya pada Angelina. Dia seketika tersentak sebab menerima barang yang mendarat di dadanya secara tak terduga-duga.

“Kau sangat sopan,” sindir Angelina diiringi gertakkan giginya.

“Bacalah sekarang.”

“Apa isinya?”

“Bukankah aku sudah memintamu untuk memeriksanya, Nona Wilson? Apa kau tidak pernah mengenyam bangku pendidikan dan punya kemampuan baca tulis?”

Sungguh, Angelina ingin sekali meninju dan menghancurkan rahang Adam, tetapi dia berusaha menahan emosinya karena enggan menambah satu masalah lain di hidupnya yang terlanjur berantakan. Wanita itu menghela napas, kemudian mulai mengecek setiap abjad yang tertuang di atas sana. Dia mengeja beberapa suku kata yang membuatnya seratus persen yakin bahwa otaknya mustahil salah dalam menerjemahkan.

Angelina terperangah selepas membaca setumpuk perjanjian itu. Dia mencoba untuk menjaga intonasinya agar tetap rendah dan tak histeris. Namun, wanita itu gagal.

“Me-melahirkan seorang pewaris?” pekik Angelina setengah tak percaya.

“Turunkan nadamu, Nona Wilson. Indra pendengaranku masih bekerja dengan baik.”

Angelina melongo dan belum pulih dari rasa terkejutnya, pria itu kembali menyambung, “Ada apa? Kau tidak suka harganya? Kita boleh mendiskusikannya lagi hingga kau mencapai unsur sepakat.”

“Kau tidak waras!” tuding Angelina tanpa mengingat situasinya yang berada di ruang publik dan menjadi tontonan oleh berpasang-pasang mata penasaran.

“Aku bukan tipe orang yang sabar. Berhentilah berlagak sok suci dan ambil bolpoinnya sekarang juga.”

“Aku tidak sudi, Tuan Ford Yang Terhormat.”

“Kau harus berkenan, Nona Wilson Yang Keras Kepala. Terima syaratku atau kau akan menyaksikan orang-orangku mematahkan pinggang pria tidak berguna itu dan menjadikannya cacat permanen.”

Angelina sontak terkesiap, “Apa yang ka—”

“Lakukanlah,” sela Adam lagi.

“A-aku... itu tawaran yang tidak masuk akal.”

“Ada begitu banyak hal tidak logis yang memang sering kali terjadi di dunia, kau tahu. Jadi, biasakanlah dirimu.”

“I thought you were a nice person,” bisik Angelina yang menahan cairan asin mengandung elektrolit itu menuruni wajahnya.

“Well, hidup akan selalu mengajarimu sesuatu yang keras sampai kau sadar bahwa tidak setiap orang yang kau pikir baik itu memang layak untuk mendapatkan kepercayaanmu.”

Angelina menggigit bibir, lantas berpaling membuang muka. Dia memang tak pandai menebak atau menelaah sifat seseorang. Siapa sangka Adam yang mendadak berperan seperti superhero di tengah-tengah kemelut ayahnya justru berbalik menjadi si tokoh antagonis sekarang?

“Aku butuh rahimmu selama dua tahun. Tugasmu hanya satu, yaitu memberiku bayi. Tidak ada cinta. Tidak ada yang lainnya. Saat hari di mana kontrak kita berakhir, kau tentu saja akan mendapat sejumlah keuntungan dari itu. Tunjangan per bulan, rumah berfasilitas lengkap, kendaraan merek apa pun yang kau suka juga koleksi perhiasan edisi terbatas. Apa kau setuju?”

Angelina membiarkan bulir bening itu jatuh membanjiri kedua pelupuk matanya, “Apa kau menganggapku serendah itu, Tuan Ford?”

“Aku benci drama.”

“Aku tidak berakting,” geram Angelina yang muak dengan tingkah arogan pria itu.

“Kau tidak punya pilihan, bukan?” tantang Adam yang memantik api di iris biru Angelina dan spontan membara dalam sekejap.

Sayangnya, Adam lagi-lagi benar. Angelina memang tak punya opsi kecuali mengikuti kemauan pria itu hingga batas waktu yang ditetapkan. Dia sempat berpikir agar membiarkan Rupert sengsara saja daripada harus menyewakan rahimnya untuk seseorang seperti Adam Ford yang angkuh. Namun, wanita itu juga tak kuasa melihat satu-satunya figur orang tua yang dia punya menderita. Apa pengorbanan itu sebanding dengan menukar senyumnya dalam hari-hari kelam bersama Adam? Angelina pikir dua tahun sama sekali bukan masa yang singkat untuk dihabiskan pada pria sebrengsek dirinya.

“Apa kau akan membuatku menunggu sepanjang malam, Nona Wilson?”

“A-aku... i-itu... tolong, berikan aku sedikit waktu.”

“Cukup negosiasinya.”

“Tung-tunggu, Tuan Ford. Aku ak—”

“Aku tidak suka membuang-buang waktu. Jika kau terus menyulitkanku, maka aku tidak akan bersikap lembut padamu.”

Sorot mata Angelina yang semula tak terpengaruh sukses berubah menjadi gentar. Bayangan Rupert yang tergolek lemah di atas kursi roda dan terjatuh setiap kali dia mencoba berdiri langsung menghantui benaknya. Dia tahu Adam mampu melakukan apa pun yang dia inginkan. Demi Tuhan, wanita itu bahkan tak sanggup menahan guncangan bolpoin di jemarinya sendiri!

“Well done, Angelina.”

Adam tak lagi memanggilnya dengan nama belakang. Hanya A-n-g-e-l-i-n-a dan komentar itu berhasil membuat punggungnya gemetar. Dia menarik napas lebih banyak, tetapi sekujur tubuhnya justru membeku sesaat setelah seluruh lambang namanya selesai digoreskan di sana. Kini wanita itu terikat pada keluarga Ford dan benar-benar tak ada jalan kembali untuknya.

***

Bab 2

Angelina pulang dengan kondisi linglung. Setelah melempar tubuh ringkih Rupert ke sofa double seater yang ada di ruang tamu flat sempit mereka, dia pun masuk ke dalam kamarnya—mengunci diri di sana—hingga matahari kembali tergelincir di ujung horizon dan menyisakan rasa sesak yang lagi-lagi memadati dadanya. Wanita itu terus terjaga sepanjang malam. Pikirannya kacau sekarang—lebih dari kacau malah, ayah sialannya itulah yang jadi penyebab atas semua kekalutannya.

Angelina menengok sekali lagi ke arah jam dinding. Peranti penunjuk waktu itu berhenti di angka lima, tetapi warna kuning gading sudah muncul dan mencair di ufuk timur langit. Musim panas di San Francisco memang selalu menyenangkan. Namun, kini perasaan Angelina justru berbeda.

Adam tak ubahnya sesosok iblis yang menjelma sebagai seorang CEO dan memerangkap wanita itu di dalam neraka pribadi miliknya. Dua jam lagi para bawahan pria itu akan segera datang ke sana untuk menjemputnya. Dia ingin Angelina berada di kediamannya sebelum pukul delapan.

“Angelina? Angelina? Di mana kau, anak pemalas? Cepat, siapkan sarapan untukku!”

Angelina menggigit bibir. Itu suara ayahnya. Apa dia bahkan mampu mengingat insiden yang terjadi tadi malam? Wanita itu kemudian tersenyum getir, dia tahu betul jawabannya. Rupert sangat mahir menyingkirkan segenap momen penting dari kepalanya yang kosong.

“Bangunlah, anak bodoh! Aku lapar!” teriak Rupert sambil menggedor-gedor pintu yang terbuat dari bahan kayu itu sampai bergetar dan langsung melonjakkan tubuh Angelina di tempatnya.

“Aku benci pria itu,” bisik Angelina yang menelungkupkan wajahnya ke lutut.

“Keluarlah, anak tidak berguna! Apa kau ingin tidur hingga sore, hah? Apa kau tuli?” hardik Rupert sekali lagi diiringi entakkan yang berulang pada kenop.

Angelina memang sedang menulikan telinganya sendiri. Dia berpura-pura tak mendengar dan enggan menanggapi sang ayah, wanita itu jenuh dengan situasi yang sama setiap harinya. Rupert selalu membentak dan memukulinya. Keadaan itu seperti siklus yang terangkai dan terputar secara teratur.

“Siapa kau?” tanya Rupert dari balik sana—pria itu tengah berbicara dengan seseorang.

Angelina kembali menajamkan alat pendengarannya. Dia bangkit dan menguping di belakang pintu. Suara maskulin yang terdiri dari sejumlah fonetik berbeda itu sedang bertanya pada Rupert tentang keberadaan putrinya; Angelina Wilson. Wanita itu sontak melebarkan sepasang mata indahnya yang mencolok.

“Keluarlah, Angelina. Aku tahu kau mendengarku sekarang.”

Suara itu berat dan dalam. Nada yang familier. Angelina seketika mengenalinya; Adam Ford. Mereka datang lebih awal. Apa yang pria itu pikirkan?

“Buka pintunya atau aku akan menghancurkannya sekarang juga.”

Ancaman Adam langsung membuat Angelina mundur. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merutuk, lantas bergegas mengemasi beberapa barang pribadinya ke dalam koper kulit tua koleksi mendiang ibunya. Belum selesai mengatur tiga set pakaiannya, bunyi keras yang memekakkan telinga itu mendadak menyeruak di belakang Angelina.

Adam berdiri di balik sana bersama sederet orang-orangnya yang mengenakan model jas dengan warna senada; hitam. Pintu yang semula utuh itu pun menjadi remuk di bagian tengah-tengah. Kini Angelina dapat menyaksikan pria itu mengurai senyum keji di sudut bibirnya lewat lubang yang dia ciptakan.

“Mengapa ka—”

“Merusaknya? Bukankah aku memintamu untuk membukanya?”

Angelina tergagap-gagap, “Y-ya, tetapi aku tengah mengepak seluruh barangku.”

Adam memberi kode pada para bawahan yang berbaris di sampingnya melalui sentakkan kecil di dagunya. Mereka refleks merangsek maju dan melepas kenop sampai akhirnya daun pintu itu terbuka dan memberi akses bagi Adam. Angelina mempercepat pekerjaannya, dia memasukkan dua set piama, dua pasang kaus kaki serta sejumlah pakaian dalam terbaik—tanpa bolong-bolong—yang dia punya.

“Apa yang kau lakukan?” sela Adam yang otomatis menghentikan kegiatan wanita itu.

Angelina spontan mendongak, “Memangnya kau pikir aku sedang apa? Mandi?”

Adam menggertakkan gigi menahan emosinya tumpah, “Kau berani sekali, Angelina.”

“Apa boleh buat? Kau menjemputku dua jam lebih awal. Jadi, berikan aku waktu sepuluh menit. Apa aku juga harus mengucapkan ‘selamat datang di rusun kecil kami’?”

Adam mendengus, “Ha. Aku suka tipe lawan jenis yang kurang ajar sepertimu. Kau membuatku tertantang untuk menaklukkanmu.”

Angelina balas melengos. Dia berusaha mengabaikan Adam, memfokuskan perhatiannya ke seperangkat pakaian lain yang masih menumpuk di depannya. Pria itu kemudian melangkah ke arahnya dan menyentak lengan kanan Angelina. Aktivitas wanita itu sontak terpotong.

“Kau menyakitiku,” keluh Angelina yang mengusap-usap lengannya.

“Dengar, Angelina. Kau tidak perlu mengangkut semua barang rongsokan itu. Aku akan menyediakan seluruh kebutuhan pokokmu termasuk pakaian.”

“Barang rongsokan?”

Adam menaikkan satu alisnya, “Apa itu masih layak pakai?”

“Kau... kau benar-benar kelewatan, Tuan Ford.”

“Ch! Bukankah aku pernah mengatakannya padamu? Aku benci drama. Tinggalkan koper butut itu di sana. Kau harus ikut aku sekarang.”

“Bagaimana dengan Ayahku?”

“Dia akan baik-baik saja.”

“Tung-tunggu, aku be—”

“Kau mempersulitku, Angelina. Aku tidak suka itu.”

Adam bergerak mengambil inisiatif. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Angelina dan mengangkat tubuh wanita itu ke salah satu pundaknya. Dia melakukannya dengan mudah, seolah-olah Angelina hanya terbuat dari kapas.

“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” jerit Angelina yang terkejut oleh aksi Adam.

“Kau harus belajar mengontrol mulutmu di hadapanku. You will pay for that in this life or the next.”

“Tidak! Lepaskan aku!” pekik Angelina lagi sambil meronta-ronta—mencoba untuk meloloskan diri, tetapi upayanya sia-sia.

“Aku bersumpah akan membuatmu menangis di bawah kendaliku.”

“Biadab! Pria kejam!”

“Biadab dan kejam adalah nama tengahku, Angelina. Senang kau mengetahuinya sekarang,” balas Adam yang diiringi kekehan pendek.

“Aku akan mematahkan hidungmu!”

“Kau membuatku takut,” seloroh Adam dengan intonasi yang dibuat-buat.

Mereka melintasi ruang tamu dan menemukan Rupert yang hanya mampu termangu-mangu menonton Angelina dibawa paksa sebab di lantai bermaterial parket itu ada jutaan dolar sebagai uang tutup mulut bagi ayahnya. Pria separuh abad itu lagi-lagi melirik—memandangi si anak yang masih merengek dengan tatapan senang—berpikir bahwa Angelina ternyata punya nilai jual yang tinggi; investasi yang sangat menguntungkan. Dia sempat berandai-andai mempunyai satu atau dua putri lain agar mendapatkan lebih banyak uang dari mereka.

“Ayah! Ayah!” racau Angelina dalam kondisi berantakan.

Sepasang mata biru yang sama seperti milik Angelina itu enggan mengalihkan sorotannya. Dia menjadi seorang jutawan dalam sekejap. Siapa sangka nasibnya seberuntung itu? Adam membiarkan tawanya pecah di udara sesaat sebelum mereka keluar dari tempat yang Angelina sewa dengan biaya murah per bulan tersebut, memberikan sedikit kesempatan untuk wanita yang ada dalam cengkeramannya agar melihat sikap tamak Rupert yang kini tengah menimang-nimang lembaran uang di pangkuannya seperti bayi.

“Money can make people happy, but money also can make people greedy. Kau sudah melihat wajah asli Rupert, bukan?”

***

Bab 3

Kediaman Adam sukses membuat mulut Angelina melongo lebar. Bibirnya terbuka sejak tadi, seolah-olah dia kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya secara tiba-tiba. Kawasan Bittersweet Valley merupakan area wastu yang megah—mansion—yang hanya pernah dia lihat di kolom tabloid properti. Desainnya mengusung tema klasik modern. Halamannya dilengkapi taman luas dengan aneka ragam pepohonan yang ditata simetris serta helipad dan kolam renang yang ukurannya empat kali lipat lebih besar daripada kolam renang umum yang biasa wanita itu kunjungi di libur musim panas sewaktu sekolah.

Angelina seketika disambut oleh sepuluh orang pelayan berseragam ala maid di depan gerbang. Mereka setengah membungkuk, lantas seseorang dari mereka menuntunnya masuk ke dalam dan menunjukkan kamar khusus padanya. Ruangan yang telah disiapkan Adam itu terletak di lantai empat. Angelina pun harus menaikinya melalui lift. Dia lagi-lagi berdecak kagum selepas empat orang pelayan menyambutnya dengan takzim.

“Tuan Ford akan segera kemari, Nona Wilson. Mohon, kesediaannya menunggu,” pinta seorang pelayan wanita yang mengantarnya.

“Ba-baiklah.”

Pelayan berkepang dua itu pamit setelah menyampaikan pesan agar memanggilnya jika membutuhkan sesuatu; jenis sajian yang ingin dia makan atau minyak esensial di bathub, apa saja. Angelina kembali mengangguk mengiyakan sebab kepalanya mulai pening. Dia belum tidur, apalagi sarapan. Wanita itu memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang king size yang sanggup diisi tiga hingga empat orang dewasa di sana dengan raut wajah kusut.

Ingatan tentang perilaku buruk Rupert menciptakan kabut yang makin lama makin mengembun di sudut matanya. Dia memaki sang ayah berulang kali sebelum akhirnya sosok rupawan yang sedang berdiri di dekat pintu itu hadir menertawakannya. Adam melipat kedua tangannya di dada, sementara sepasang matanya dinginnya memandangi Angelina dengan tatapan mencemooh. Sorot yang selalu dia berikan terhadap wanita itu.

“Apa kau akan terus-menerus meratapinya?”

Isak tangis Angelina spontan berhenti, “Ka-kau.”

“Apa kau suka kamar barumu?”

Angelina mengusap jejak air mata di kedua pipinya. Ada masalah lain yang jauh lebih besar daripada sekadar mengutuk Rupert yang tengah menantinya sekarang; Adam. Pria itu tak akan membiarkan hidupnya tenang sampai dua tahun berikutnya.

“Aku bertanya padamu, Angelina. Jawab aku. Apa kau suka kamar barumu?” sambungnya lagi.

“Kupikir agak berlebihan. Maksudku, suasananya memang nyaman, tetapi terlalu besar untuk ditinggali sendiri.”

“Kau hanya harus membiasakan diri. Kau tinggal di kamar yang kecil sebelumnya. Satu lagi, mengapa kau mengira kau akan sendiri?”

Angelina melihat kedua alis Adam yang tebal bertaut dan wanita itu pun menyahut, “A-apa kau juga tidur di kamar yang sama denganku, Tuan Ford?”

“Tentu saja. Apa kau pikir aku menyewamu sebagai piala untuk dipajang? Kita punya program bercinta hingga kau hamil.”

Jadwal terprogram itu akan membuat Adam mengoyak tubuh Angelina yang malang. Dia terperangah dan tetesan bening lagi-lagi merebak menuruni wajahnya. Rasanya sulit mengontrol diri di dekat pria itu.

“Aku mengerti wanita adalah makhluk emosional, tetapi kau selalu menjual air matamu.”

“Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Ford. Anggap saja aku memang seperti itu,” desis Angelina yang menahan rasa marahnya.

“Tidurlah dan berhenti berdebat denganku. Aku tahu kau belum tidur.”

Angelina menggigit bibir. Dia bingung dengan perubahan sikap Adam yang mendadak perhatian padanya. Wanita itu mendongak, tetapi yang dia temukan hanya ekspresi pongah di wajah aristokratnya.

Adam adalah tipe lawan jenis yang mudah dicintai. Sorot mata tajam, hidung runcing yang ideal, juga warna kulit cokelat memukau yang membungkus otot-otot biseps dan pecs di tubuhnya yang liat. Postur semampai serta rambut hitamnya yang selalu ditata ala pompadour menyumbangkan segenap nilai lebih sebagai penunjang penampilannya.

Figur yang berhasil mendominasi sekaligus memesona hidup Angelina sekarang. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang selalu merindukan sosok ibunya. Dia hanya punya tinggi badan rata-rata, iris terang yang menyerupai batu safir, serta rambut pirang panjang sepunggung yang mengombak setiap kali dia mengayunkan langkahnya.

“Ba-bagaimana kau tahu?”

“Itu bukan sesuatu yang sulit, kau tahu. Kantung matamu terlihat dua kali lipat lebih besar dari sejam lalu,” ejek Adam sambil melipat kedua tangannya di dada.

Angelina hanya mendengus, enggan mengacuhkan kalimat bernada hinaan itu karena dia letih berdebat dengan Adam. Pria itu tak pernah suka menerima kekalahan, meskipun dia salah. Jadi, apa gunanya dia membuang tenaga untuk sekadar menanggapi?

“Aku ingin tidur,” gumam Angelina yang menguap dan menutup mulutnya.

“Persiapkan dirimu pukul sembilan nanti malam.”

“Apa maksudmu?”

Adam mengetatkan rahang sampai bibirnya yang semula rapat menjadi berkedut-kedut, “Berhentilah berlagak idiot. Kita akan bercinta. Apa itu cukup jelas sekarang?”

Angelina menekuri sepasang kakinya sendiri, “Y-ya.”

“Ada beberapa peraturan yang kubuat dan salah satu kewajibanmu adalah mematuhinya. Pertama, kau hanya boleh sarapan di ruang makan bersamaku. Setiap pukul satu siang, orang-orangku akan datang kemari dan mengantarkan aneka sajian yang kau minta. Kau tidak diizinkan keluar dari kamarmu selain waktu makan pagi. Apa kau mengerti?”

Angelina memandang Adam dengan tatapan ngeri, “Kau memperlakukanku seperti tawanan.”

Sorot mata Adam yang terkunci pada ekspresi wajah Angelina pun sontak mengeras, “Aku punya hak atasmu, Angelina. Aku membelimu.”

Bibir Angelina bergetar menahan jutaan sesak yang menjejali dadanya, “Kau juga membuatku terdengar seperti jalang.”

“Itu fakta. Aku menyewa rahimmu, aku punya hak untuk memperlakukanmu sesuai dengan keinginanku.”

Angelina memejamkan matanya, “Baiklah, Tuan Ford.”

“Tidurlah. Kau boleh menikmati waktu istirahatmu.”

“Apa kau pikir aku masih ingin tidur selepas kau mencela harga diriku?” sahut Angelina yang jengkel.

Adam menyipitkan mata, “Kupikir aku harus menambahkan satu aturan baru.”

“Aturan baru?”

“Kau harus menjaga semua perilakumu di hadapanku, Angelina. Aku benci dibantah. Aku juga benci ditentang. Ingat itu.”

Angelina mengangguk tanpa mempertemukan tatapan mereka, “Bolehkah aku bertanya satu hal padamu, Tuan Ford?”

“Itu tergantung.”

“Lupakan saja,” desah Angelina yang putus asa.

“Apa yang ingin kau tahu?”

Angelina kembali mendongak, “Mengapa... mengapa kau memilihku? Kau seharusnya tidak perlu mencampuri urusan ayahku, bukan?”

“Pertanyaan yang menarik,” bisik Adam yang membalas tatapan sedih Angelina.

“Apa kau sengaja melakukannya?”

“Dengar, Angelina. Aku punya kekasih, dia seorang model yang memegang prinsip childfree dalam hubungan kami. Aku menghormati pilihannya, tetapi aku tetap membutuhkan seorang pewaris. Aku ingin darah dagingku sendiri. Anggaplah kau sedang dinaungi oleh Dewi Fortuna, aku melemparkan sasaran yang membidikmu malam itu.”

“Ke-kekasih? Apa dia tahu kau menyimpan wanita lain di belakangnya?”

Adam mengumbar tawanya, “Tentu saja. Ada apa? Apa kau menaruh minat pada aktivitas threesome atau sejenisnya?”

Kedua pipi Angelina terasa panas, “Tidak. Berhentilah berpikir bahwa aku akan menyetujui ide gila itu.”

“Sayang sekali,” komentar Adam yang menerbitkan seringai sinis di wajahnya.

“A-apa aku boleh istirahat sekarang, Tuan Ford?”

“Baiklah,” sahut Adam pendek, dia berbalik memunggungi Angelina keluar dari sana dan meninggalkan wanita itu dengan seluruh ketidakberdayaannya.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED