"Alvin!" Erick memanggil putranya yang baru berusia sepuluh tahun.
Dia sudah bersiap hendak berangkat ke kantor sekalian mengantarkan sang putra pergi ke sekolahnya. Erick memindai carport dan sekitarnya mencari keberadaan putra tunggalnya itu. Namun cukup lama bocah laki-laki itu tak menampakkan batang hidungnya.
"Hadew Alvin! Itu kucing siapa? Turunin, nanti baju seragam kamu kotor lho!" Teriakan Tania, istrinya, dari halaman samping rumahnya mengejutkan Erick.
Setengah berlari Erick mendatangi keduanya. Tampak Alvin tengah menggendong seekor kucing berbulu putih dan bermata biru dengan senang. Sementara Tania membujuknya untuk melepaskan kucing itu.
"Nggak kotor kok Mi. Kucing Tante Nana bersih semua kok." Protes Alvin dengan polosnya.
Mendengar jawaban putranya, Tania hampir saja meledak dalam kemarahan. Ditariknya kucing itu dari gendongan Alvin. Seketika kucing itu mengeong keras.
"Meow meow!" Kucing itu meronta hendak melepaskan diri dari dekapan Alvin, namun Alvin memegangnya erat-erat.
"Tania! Biarkan saja dulu!" Erick menegur istrinya, saat melihat Tania hendak menarik kucing itu lagi.
"Ih Papi! Lihat tuh, bulu-bulunya bikin kotor seragam Alvin." Sungut Tania kesal, namun tidak berani membantah ucapan Erick barusan.
Erick melirik Tania, dan seketika wanita itu terdiam. Lirikan tajam Erick mengisyaratkannya untuk tidak lagi berbicara.
"Alvin sudah siang lho! Nanti terlambat ke sekolah. Lepasin kucingnya ya." Erick berjongkok di depan putranya dan membujuknya dengan lembut.
"Kasihan Omil Pi." Alvin membelai kucing putih berjenis himalayan itu dengan hati-hati.
Erick dapat melihat keakraban putranya dengan kucing lucu itu. Selama beberapa hari ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga kurang memperhatikan perkembangan putra tunggalnya. Bahkan tidak tahu sejak kapan putranya menyukai hewan berbulu itu.
"Omil namanya? Alvin tahu siapa dan di mana rumah yang punya Omil?" Erick kembali menanyai putranya dengan lembut.
"Tahu Pi!" Sahutnya dengan mantap.
"Oke, karena sudah siang, kita antar Omil ke rumah yang punya sekalian berangkat sekolah." Erick menyentuh puncak kepala Alvin dengan lembut.
"Oke Papi!" Serunya dengan riang.
"Salam Mami dulu." Bisik Erick pelan.
"Mami, Alvin berangkat sekolah dulu ya." Dengan ragu Alvin mengulurkan tangannya.
Tania hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya yang segera di sambut tangan gemuk Alvin dan kemudian diciumnya dengan takzim. Namun Tania bersikap acuh tak acuh seakan tidak peduli.
"Berangkat dulu ya!" Erick mengecup kening Tania sebelum menggandeng Alvin ke carport.
Tania hanya mengangguk kaku dan melambaikan tangan dengan enggan. Kemudian dia segera masuk ke dalam rumah tanpa mengantarkan suami dan putranya setidaknya hingga pintu gerbang.
Erick menghela napas kasar dan menyugar rambutnya yang sudah tersisir rapi hingga berantakan lagi. Situasi seperti ini sudah menjadi santapan kesehariannya semenjak Erick memutuskan untuk menyekolahkan Alvin di sekolah umum tiga tahun lalu. Tania selalu bersikap acuh tak acuh kepadanya juga pada putra mereka, Alvin.
"Di mana rumah pemilik Omil Vin?" Erick membuka pintu mobil dan membiarkan Alvin duduk di kursi depan.
"Itu di sebelah rumah kita. Tante Nana yang punya Omil." Alvin menunjuk rumah di sebelah rumah mereka.
"Oke nanti kita mampir." Erick duduk di belakang kemudi siap untuk segera meluncur.
"Nana?" Gumamnya dalam hati.
Nama yang baru saja disebutkan putranya, menghadirkan debaran di hatinya. Sebuah nama yang sederhana dan pasaran namun pernah membuatnya begitu memuja. Bahkan hingga kini nama itu kerap membuat hatinya berbunga-bunga.
"Ah mungkin hanya kebetulan saja. Nggak mungkin dia." Masih gumamnya dalam hati.
Dengan hati-hati Erick mengemudikan mobilnya, keluar dari halaman rumah mereka. Perlahan-lahan mobil melaju dan berhenti di depan rumah di sebelah mereka.
"Ini rumahnya?" Erick menatap putranya memastikan mereka tidak salah alamat mengantarkan kucing Himalaya itu.
Alvin mengangguk mantap. Erick tersenyum membelai kepala putranya dengan sayang.
"Alvin berani kan mengantarkan Omil sendiri? Papi tunggu di sini."
"Oke Pi!" Alvin mengangguk dan segera turun dari mobil dan berlari menuju rumah mungil yang nampak asri.
Erick mengawasi putranya tanpa lengah sedikit pun. Nampak Alvin membuka pintu gerbang dan berbicara dengan seseorang. Kemudian putranya itu segera berlari kembali ke mobil.
"Sudah?" Erick tersenyum melihat putranya nampak bergembira.
"Iya Pi. Tapi bukan Tante Nana tadi, pembantunya." Sahut Alvin.
"Oh, nggak apa-apa. Yang penting Omil sudah pulang ke rumahnya." Erick bersiap kembali mengemudikan mobilnya.
Saat bersiap hendak berputar arah, nampak seorang wanita dari rumah pemilik Omil melambaikan tangan ke arah mereka. Erick menghentikan mobilnya, membiarkan wanita itu mendekat.
Wanita itu mengetuk kaca jendela mobil dan Alvin segera membukakan jendela untuknya. Erick seketika membeku saat melihat dengan jelas wanita berambut panjang itu. Sesosok yang sangat familiar baginya namun rasanya mustahil jika dia ada di hadapannya sekarang.
Begitu pun dengan wanita itu yang menatap Erick tak berkedip. Namun hanya sejenak, wanita cantik itu tersenyum dan beralih menatap Alvin. Namun Erick dapat menangkap kilatan keterkejutan dalam tatapannya barusan.
"Alvin terimakasih ya sudah anterin Omil. Ini ada kue untuk Alvin." Wanita itu mengulurkan sebuah kotak padanya.
Alvin menatap Erick seakan-akan bertanya apakah boleh menerima kue dari wanita itu. Erick menganggukkan kepalanya pertanda mengijinkannya.
"Terimakasih Tante!" Alvin menerima kotak kue itu dengan riang.
Bocah itu tersenyum dengan polos memamerkan gigi putihnya tanpa menyadari kedua orang dewasa di dekatnya tengah saling menatap dengan canggung.
"Kami berangkat dulu. Terimakasih!" Erick berpamitan dengan canggung setelah cukup lama bersitatap dengan wanita itu.
"Hati-hati!" Wanita itu bergumam lirih dan melambaikan tangannya saat Alvin menutup jendela mobil.
Erick melirik spion dan melihat wanita itu masih berdiri di tepi jalan menatap mobilnya yang semakin menjauh.
"Ya Lord, caramu bercanda sungguh di luar dugaan!" Kembali Erick bergumam dalam hati.
Dipertemukan dengan seseorang yang tak pernah diduganya. Bahkan bermimpi pun tidak pernah. Namun Erick yakin, yang barusan bukanlah halusinasinya saja. Itu benar-benar nyata.
Sementara Alvin memandangi kotak kue di pangkuannya dengan takjub. Perhatian Erick kembali teralihkan pada putranya itu. Alvin hampir tidak pernah membawa bekal dari rumah.
Tania hanya beberapa kali membuatkan bekal dan tidak lagi membuatkan bekal untuknya saat dokter keluarga memberikan daftar menu dan bahan-bahan makanan yang aman dikonsumsi Alvin.
"Ribet banget sih Pi!" Keluh Tania waktu itu.
Sebelumnya Alvin sekolah di sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tania tidak pernah repot dengan urusan bekal karena semua sudah difasilitasi pihak sekolah.
Erick memutuskan untuk memindahkan pendidikan putranya ke sekolah umum setelah Alvin memasuki usia pendidikan dasar. Tania sangat menentang keputusan Erick dengan alasan yang tidak jelas.
"Alvin mau bawa bekal ke sekolah?" Erick bertanya pada putranya yang masih terpaku menatap kotak kue di pangkuannya.
"Mau Pi. Semua teman Alvin membawa bekal." Alvin mendongak menatap Erick penuh harap.
Erick menghela napas pelan. Sungguh dia tidak mengerti dengan Tania, bagaimana dia bisa tidak menyiapkan bekal untuk putra mereka.
"Oke, mulai besok papi siapkan bekal untuk Alvin." Erick membelai kepala putranya dengan lembut.
"Are you serious Pi?" Alvin membulatkan mata menatap Erick tak percaya.
"Sure!" Erick tergelak melihat reaksi putranya.
Alvin tersenyum dan mengangkat tangannya mengajak sang ayah untuk ber-high five. Erick tertawa dan mengacungkan tinjunya di sambut kepalan tangan Alvin.
Erick kembali fokus mengemudikan mobilnya hingga sampai di sekolah Alvin. Bocah itu segera membuka pintu mobil dan setelah berpamitan padanya, berlari membaur dengan teman-teman sebayanya.
Erick memperhatikannya hingga putranya masuk ke halaman sekolah bersama teman-temannya. Setelah itu, Erick memutar mobilnya dan melanjutkan perjalanannya menuju tempatnya bekerja.
Nana menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu. Otaknya masih dipenuhi tanda tanya yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya.
"Tadi beneran Bang Erick kan? Kok bisa dia di sini? Bukannya dia di Papua?" Nana meletakkan telapak tangannya di atas dahinya.
"Apa aku chat Abang ya? Memastikan itu memang dia? Aduh kok aku jadi puyeng begini?" Nana kini memejamkan matanya masih dengan telapak tangan di dahinya.
"Eh Ibu kenapa kok lemas begitu?" Mbak Siti, asisten rumah tangganya terkejut melihatnya terduduk lemas di sofa.
Wanita setengah baya itu segera menghampirinya dengan sapu dan kemoceng di kedua tangannya.
"Ibu nggak kesurupan kan?" Mbak Siti menatapnya cemas.
"Hadew Mbak Siti! Ya nggaklah! Saya pusing, kepalaku cenat cenut rasanya," keluh Nana yang kini memijit dahinya.
"Kenapa lagi Bu? Disuruh nikah lagi sama Kanjeng Mami? Atau ada yang cemburu takut suaminya direbut Ibu?" Mbak Siti bertanya dengan santai sambil membersihkan kaca jendela-jendela ruang tamu dengan kemocengnya.
"Aih tambah cenat cenut kepalaku Mbak!" teriak Nana sambil melemparkan bantal kursi pada Mbak Siti yang menghindar dan tertawa terkekeh menggodanya.
"Mbak Siti kenal tetangga sebelah rumah nggak?" Nana menegakkan tubuhnya, memeluk bantal menatap asisten rumah tangganya yang masih sibuk membersihkan debu-debu di kursi dan meja di depannya setelah selesai membersihkan kaca-kaca jendela.
"Tetangga sebelah kanan apa kiri Bu?" Mbak Siti justru berbalik bertanya.
"Etdah! Tetangga baru kita lho mbak! Yang sebelah kanan, rumahnya Ibu Ruli kan! Hadew!" Nana kembali hendak melemparkan bantal pada wanita yang sudah bekerja padanya semenjak dia masih tinggal dengan orang tuanya.
"Eh Ibu! Jangan main lempar-lempar! Itu Ibu Tania, dia baru saja pindah ke sini sekitar enam bulan lalu. Suaminya namanya Pak Erick dan anaknya, Alvin. Tadi lho yang nganterin Omil ke sini." Mbak Siti menjelaskan panjang lebar.
"Erick? Beneran mbak, namanya Erick? Papanya Alvin?" Nana menatap Mbak Siti serius.
"Iya Bu. Sewaktu mereka pindah kemari, ibu masih di Singapura. Jadi wajar saja ibu baru-baru ini melihat mereka." Mbak Siti menata majalah-majalah dan beberapa buku yang bertumpuk di meja.
"Oh begitu. Kalau Alvin, saya sering lihat sih mbak. Dia kan sering main dengan kucing-kucing kita. Tapi baru tadi lho saya ketemu papanya." Nana menerawang, mengingat pria yang tadi bersama Alvin.
"Setahu saya Pak Erick jarang di rumah Bu. Kalau Bu Tania, istrinya, kadang ketemu saat arisan bulanan." Mbak Siti kembali menjelaskan.
"Kenapa Bu?" Mbak Siti kini berganti menatap Nana, mengerutkan kening.
Seingatnya, majikannya ini hampir tidak pernah mau tahu urusan tetangga sekitarnya selama tidak berhubungan dengannya. Bahkan, Nana tidak begitu akrab dengan penghuni villa di daerah mereka tinggal meski dia termasuk penghuni terlama. Selain sibuk dengan pekerjaannya, statusnya sebagai janda kerap membuatnya enggan untuk membaur karena menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya.
"Nggak apa-apa kok Mbak. Cuma tadi saya baru menyadari, saya tidak pernah melihat papanya Alvin sebelumnya, begitupun dengan mamanya." Nana beralasan demikian, meski alasan sebenarnya dia ingin tahu mengenai tetangga barunya adalah memastikan kebenaran dugaannya.
"Ibu kan memang jarang bertemu dengan tetangga di sekitar sini. Ibu sibuk banget sih." Mbak Siti kembali terkekeh.
"Iya juga Mbak. Makanya jadi nggak tahu kalau punya tetangga baru." Nana tersenyum kecut.
"Iya Bu. Tapi nggak apa-apa sih daripada jadi ibu-ibu tukang ghibah atau sosialita yang sibuk tidak jelas." Mbak Siti mengerucutkan bibirnya, sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Nggaklah Mbak. Saya nggak suka ghibah juga nggak suka keluyuran nggak jelas. Masih banyak yang harus saya kerjakan Mbak daripada untuk hal-hal seperti itu." Nana tersenyum manis.
"Mbak Siti masak apa buat sarapan?" Nana mengalihkan pembicaraan, melirik ke arah ruang makan.
"Saya belum masak apapun Bu. Biasanya Ibu kan nggak sarapan." Mbak Siti menatapnya heran.
Nana menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan pura-pura tidak tahu keheranan asisten rumah tangganya. Selama ini Nana memang jarang sarapan dan lebih memilih untuk menyeduh kopi dan menyantap camilan ringan sebagai gantinya.
"Ibu sepertinya benar-benar kesurupan deh." Mbak Siti bergumam sendiri sambil melirik Nana yang kini bangkit dari kursinya.
Meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Diliriknya Mbak Siti yang masih bergumam tak jelas.
"Saya nggak kesurupan Mbak! Cuma kepala cenat cenut doang!" Nana melemparkan bantal ke Mbak Siti dan segera melesat menuju dapur.
"Aduh! Gawat ini, Ibu cenat cenutnya sudah macam kesurupan saja." Mbak Siti mengomel sendiri sambil merapikan bantal-bantal yang tadi dilempar Nana.
Nana hanya tertawa dan melenggang ke dapur. Berencana untuk menyeduh kopi dan menyiapkan kue yang semalam dibawanya dari toko kuenya.
Dengan cekatan Nana menakar bubuk Kopi, susu full cream cair, krimer bubuk dan air. Begitu juga bahan untuk membuat sirupnya, gula aren dan air. Nana mencoba untuk membangkitkan kembali mood-nya di pagi yang dipenuhi kejutan dengan menikmati secangkir kopi gula aren panas.
Nana cukup ahli untuk membuat aneka resep kopi lezat dan juga kue-kue cantik yang nikmat. Tak heran jika coffe shop dan bakery-nya yang dirintisnya semenjak beberapa tahun lalu kini telah berkembang pesat, bahkan memiliki cabang di negeri Singa.
Bagi Nana menyeduh kopi adalah salah satu hal yang dapat membangkitkan hasrat dan gairah yang terpendam dalam hatinya. Aroma kopi yang khas selalu membuatnya bersemangat menjalani hari-harinya.
Tak lama secangkir kopi gula aren dan sepotong tiramisu serta donat kentang tersaji manis di atas meja makan. Biasanya Nana hanya menyajikan secangkir kopi dan sepotong kue saja. Itu sudah cukup baginya.
Namun entah mengapa pagi ini rasa lapar menyergap perutnya tanpa permisi. Pertemuan tak terduganya dengan Erick, si mpuss alias kucing garong yang gemar menggodanya di dunia maya.
"Aku chat si mpuss aja ya, biar nggak cenat-cenut kepalaku ini," gumam Nana setelah menyesap kopinya dan mencuil sesendok tiramisunya.
"Mbak Siti! Ambilkan ponsel saya dong!" Teriaknya pada asisten rumah tangganya yang kini tengah membersihkan kamarnya.
"Iya Bu!" Teriaknya, dan tak berapa lama membawakan dua buah ponselnya.
"Dari tadi bunyi kluntang-kluntung terus Bu." Adunya dengan wajah cemberut.
Nana tertawa dan mengambil ponselnya dari tangan wanita itu. Mbak Siti kerap heran dengan ponselnya yang tak berhenti berbunyi, dan Nana kerap mengabaikannya. Dia memiliki dua buah ponsel yang memiliki fungsi berbeda. Satu untuk alat komunikasi dan satunya lagi khusus untuk hiburan, seperti game online dan berbagai fitur entertainment yang lain.
"Terimakasih ya Mbak Siti. Oh iya di dapur ada kue dan donat kentang, nanti mbak makan dan juga bawa pulang untuk anak-anak." Nana tersenyum tipis.
"Iya Bu, terimakasih juga." Kemudian wanita itu kembali ke kamar Nana untuk melanjutkan pekerjaannya.
Nana menyentuh layar smartphone-nya yang biasa digunakannya untuk komunikasi sehari-hari. Ada banyak notifikasi pesan yang masuk. Dengan hati-hati diusapnya layar benda pipih itu dan mengecek satu persatu pesan yang masuk. Ada satu pesan yang membuatnya penasaran.
@Erick
[Nana imut]
Pesan dari Erick membuat Nana menahan napas sejenak. Teringat pria yang tadi bersama Alvin, yang merupakan tetangga sebelah rumahnya.
Nana sudah cukup lama mengenal Erick meski hanya di dunia maya. Bahkan dia pun mengenali Erick bukan sekadar dari foto semata, tapi mereka kerap bertatap muka melalui panggilan video.
Karenanya tadi pagi dia dapat mengenali Erick, begitu pun sebaliknya. Setidaknya itu yang Nana rasakan saat beradu pandang dengannya tadi.
@Nana
[Kepalaku cenat-cenut]
Nana membalas pesan Erick, namun tidak berharap untuk segera mendapatkan balasannya. Erick hampir tidak pernah mengirimi pesan atau menghubunginya di saat pagi seperti ini, kecuali saat akhir pekan.
@Erick
[Kenapa]
[Ikan pengenkah]
Nana tertawa sekaligus terkejut. Tak biasanya Erick secepat ini membalas pesannya di paginya yang pasti cukup sibuk.
@Nana
[Tadi keknya aku halu deh]
[Masa aku lihat Abang]
[Tetanggaan ma aku]
@Erick
[Maksudnya]
@Nana
[Apa cuma mirip Abang ya]
[Dia tadi nganterin anaknya ke sekolah]
[Kebetulan anaknya nemu kucingku]
[Dianterin ke rumahku]
[Aku kasih kue anaknya]
@Erick
[Astaga]
[Itu memang Abang, Markonah!]
@Nana
[Yang benar saja Bambang]
[Abang bukannya di Papua]
@Erick
[Abang pindah 6 bulan lalu]
[Waktu kamu kabur ke Singapura]
@Nana
[Bohong ah]
@Erick
[Abang vc]
Belum sempat Nana membalas pesan terakhirnya, smartphone-nya berdering. Pertanda ada panggilan video.
Nana ragu sejenak. Erick benar-benar meneleponnya. Mendadak degup jantungnya berdetak lebih kencang. Nana tidak dapat membayangkan reaksinya maupun Erick jika memang tadi pagi mereka telah bertemu muka secara langsung.
"Nana nyebelin!" Sapaan yang biasa dilontarkan Erick saat mereka bersua dalam panggilan video.
"Abang!" Nana seketika menepuk jidatnya saat melihat Erick tengah tertawa menggodanya.
Nana mengenali pakaian yang dikenakan Erick sama persis dengan yang dikenakan papanya Alvin. Begitu juga Erick mengenalinya sebagai pemilik kucing yang putranya temukan.
"Astaga! Kita benar-benar bertetangga!" Nana tidak tahu haruskah tertawa atau menangis.
Erick dan Nana tertawa sekaligus bingung. Bagaimana mereka akan menjalani hari-hari selanjutnya sebagai tetangga, sementara di dunia maya mereka adalah pasangan kekasih.
Nana masih termenung menatap smartphone-nya yang tergeletak di atas meja. Kopinya yang sudah mulai mendingin dan kue tiramisu yang sudah tidak lagi menggugah selera makannya, tak disentuhnya lagi. Lapar yang tadi sempat melilit perutnya kini menguap entah kemana.
Nana teringat saat pertama berkenalan dengan Erick. Pria yang dikenalnya dalam salah satu game online yang digemarinya. Pria yang kerap menggodanya dan membuatnya terbuai dalam sebuah angan yang membuatnya melayang, meski hanya di dunia maya saja.
Erick awalnya hanyalah teman diskusi yang menyenangkan. Dengan kepandaiannya dan wawasannya yang luas, dia tidak hanya menjadi teman berbincang seputaran game saja, namun juga dalam banyak hal.
@Erick
[Nana]
[Sudah menikah?]
Pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkannya setelah mereka asyik berdiskusi tips dan trik game serta ngobrol-ngobrol ringan saja. Awalnya Nana enggan untuk membalasnya. Berbicara mengenai statusnya kerap membuat dirinya merasa canggung.
Selama berkelana di dunia maya, Nana enggan mengumbar kehidupan pribadinya seperti status, pekerjaan atau pun usianya. Baginya itu bukanlah hal-hal yang dapat dijadikan sebagai konsumsi publik.
@Nana
[Pernah]
[Sekarang sendiri lagi]
Meski ragu, Nana kali ini menjawab pertanyaan seputar statusnya dengan jujur. Entah apa yang membuatnya berkeinginan untuk mengungkapkan dirinya apa adanya di depan pria yang kerap membuatnya merasa nyaman. Mungkin karena Erick pun selalu bersikap apa adanya.
Tidak bermaksud untuk menutupi statusnya, namun dia juga tidak ingin mengundang hal-hal negatif dengan statusnya yang memang kerap mendapatkan tanggapan sinis dari lingkungan sekitarnya sekali pun itu di dunia maya. Itulah alasan Nana enggan membicarakan statusnya pada siapapun.
Kini dia mencoba untuk bersikap apa adanya meski tak berharap Erick akan menanggapinya dengan positif. Nana hanya berusaha untuk menghadapi apapun resiko dari status dirinya baik di dunia nyata mau pun dunia Maya.
@Erick
[Maksudnya menjanda?]
[Begitukah]
@Nana
[Iya]
[Abang sendiri bagaimana]
[Bujangan]
[Duda]
[Atau laki orang]
@Erick
[Owh aman dong]
[Abang laki orang]
[Wkwkwkwkwk]
@Nana
[Aih]
[Bahaya ini]
[Nggak aman ah]
@Erick
[Aman kok]
[Asal nggak lebay aja]
@Nana
[Nggak ah]
[Nana tidak suka monster yang menyeramkan]
[Eh bini yang menyeramkan]
[Hahahaha]
@Erick
[Astaga]
[Siapa yang menyeramkan]
@Nana
[Bini kalau cemburu]
[Lebih serem dari setan lho]
[Ngeri]
@Erick
[Wkwkwkwkwk]
[Kalau nggak ketahuan]
[Amanlah]
@Nana
[Owh begitu]
[Jadi harus main cantik ya]
[Biar nggak ketahuan]
@Erick
[Iya]
[Kalau nggak alay]
[Nggak bakalan ketahuan]
[Dijamin aman]
@Nana
[Wkwkwkwkwk]
[Dasar Abang]
[Kang gombal]
@Erick
[Mana ada gombal]
[Cuma godain kamu aja kok]
@Nana
[Cuma godain doang ya]
[Nggak boleh baper]
[Nggak boleh bucin dong]
@Erick
[Tergantung kalau itu]
[Bagaimana komitmen awal aja]
@Nana
[Baiklah]
[Saling godain aja]
[No baper-baperan]
[Deal]
@Erick
[Deal]
[Mulai kapan]
@Nana
[Tahun depan Bang]
@Erick
[Astaga]
[Kelamaan Markonah]
@Nana
[Kapan dong Bambang]
@Erick
[Sekaranglah Markonah]
@Nana
[Etdah]
[Buru-buru amat Bang]
[Wkwkwkwkwk]
@Erick
[Harus]
[Nanti keburu dirimu diambil si Bambang]
[Wkwkwkwkwk]
@Nana
[Eh]
[Bambang siapa]
@Erick
[Itu]
[Si anu]
[Si kamvret]
@Nana
[Mana ada]
[Abang jangan ngadi-ngadi ya]
@Erick
[Wkwkwkwkwk]
@Nana
[Sudah ah]
[Nanti ketahuan bini]
[Abang dijewer]
@Erick
[Nggaklah]
[Aman kok]
[Ya sudah]
[Inget ya Markonah]
[Kita sudah deal]
@Erick
[Iya Bambang]
Berawal dari sendau gurau mereka di dunia maya dua tahun lalu, Nana dan Erick menjadi semakin dekat. Entah apa yang membuat Nana bisa menerima Erick setelah selama ini selalu menutup diri.
Erick bukanlah tipe pria yang menjadi idaman banyak wanita secara umum. Dia bukan tipe pria yang setia seratus persen, mengingat sepak terjangnya di dunia maya. Nana tahu benar bagaimana hubungan Erick dengan beberapa gamers wanita yang lain. Belum lagi fakta dia berstatus menikah dan memiliki istri di dunia nyata.
Namun meskipun begitu selama mengenal Erick, Nana tidak pernah sekali pun mendengarnya terlibat dalam skandal yang memalukan. Erick selalu menjaga privasi mereka, dan membuat Nana merasa nyaman berada di sekitarnya tanpa pernah takut ketahuan oleh siapapun.
"Ibu jangan melamun! Nanti beneran kesurupan lho!" Mbak Siti menepuk bahunya pelan.
Nana terkejut dan membuyarkan lamunannya ke masa dua tahun lalu. Mendesah pelan dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal dan lelah sejenak.
"Mbak Siti emang pernah kesurupan?" Nana mengulurkan cangkir kopinya pada wanita yang kini sibuk membersihkan meja makan.
"Belum sih Bu. Ini kopinya mau diapain?" Mbak Siti tersenyum lebar, sembari menerima cangkir kopinya.
"Yeay, kirain sudah pernah kesurupan. Dari tadi berisik mulu ngomong kesurupan!" Nana mencerucutkan bibir penuhnya dengan kesal.
"Kopinya panasin bentar Mbak di microwave. Sudah dingin jadi nggak enak lagi." Nana beranjak dari kursi, mengikat rambut panjangnya asal-asalan.
"Saya mau mandi dulu ya Mbak. Nanti kopinya baru dikeluarkan kalau saya sudah selesai mandi." Nana mendorong kursi pelan dan bergegas menuju ke kamarnya.
"Asiiiaapp Bu!" Mbak Siti mengacungkan jempolnya dan membawa cangkir kopinya ke dapur.
Nana segera ke kamar mandi dan bersiap untuk berendam dengan aroma terapi favoritnya. Biasanya dengan berendam dan memanjakan diri dengan perawatan paripurna, jiwa dan raganya bak mendapatkan asupan yang menyegarkan sekaligus memperbaiki moodnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berendam, Nana tidak lagi berendam lebih lama. Meski enggan namun aktivitas hariannya telah menunggu. Diraihnya handuk, mengeringkan tubuh dan rambutnya kemudian membungkus tubuh mungilnya dengan jubah mandi berwarna putih bersih.
Berdiri di depan meja riasnya, Nana meraih botol body lotion dan mulai mengolesi sekujur tubuhnya dengan cairan kental beraroma harum yang memberikan sensasi lembut dan sejuk di kulitnya. Setelah beres dengan lotion, kini dia duduk dan mulai memoleskan make up meski tipis dan natural namun memberikan kesegaran di wajah cantiknya.
Nana bukan perempuan penganut anti make up dan mendukung penampilan alami idaman emak-emak seantero negeri khatulistiwa ini. Bagi Nana, berdandan adalah hak prerogatif wanita yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun apalagi kaum Adam.
Berdandan dan merawat diri merupakan salah satu hal yang menyenangkan sekaligus menenangkan bagi Nana. Dengan gaya apa pun asal sesuai dengan waktu dan tempat, berdandan tentu saja suatu hal yang wajar.
Meski begitu ada kalanya Nana sama sekali tidak memoleskan make up dan hanya cukup mengulas kan pelembab secukupnya. Berpenampilan alami bukan berarti tidak berdandan sama sekali.
Smartphone-nya bergetar. Nana hanya meliriknya, tidak berniat untuk mencari tahu apa yang membuat benda pipih itu bergetar berkali-kali. Entah mungkin panggilan atau ada pesan, namun dia tidak berminat untuk segera meresponnya.
Setelah beberapa lama, getarannya berganti dengan bunyi-bunyian yang merupakan notifikasi adanya pesan masuk. Nana meraih benda canggih itu dan berhenti memulaskan bedak.
Dengan hati-hati disentuhnya layar smartphone-nya. Tampak ada beberapa panggilan video dan kesan dari Erick.
"Hadew, meow kenapa vc lagi sih?" Nana bergumam kesal.
Setelah tadi sempat melakukan panggilan video meski sekejap, sepertinya Erick masih ingin mengobrol dengannya. Bukan suatu hal yang biasa dilakukannya di jam kerjanya.
Smartphone-nya bergetar lagi, mau tidak mau Nana terpaksa menjawab panggilan video itu.
"Apa sih mpuss?" Nana mencerucutkan bibirnya menyambut wajah tampan si kucing garong yang muncul di layar smartphone-nya.
"Astaga, ikan asin! Baru selesai mandi?" Erick tersenyum tipis menggodanya saat melihat Nana masih terbungkus jubah mandi dan handuk di kepalanya.
"Iya gara-gara Abang ini." Gerutu Nana kesal.
"Salah Abang apa coba?" Erick terkekeh geli melihat Nana yang tengah kesal dan justru membuatnya semakin menggemaskan.
"Salah! Kenapa Abang jadi tetangga Nana sih!" Nana memberengut kesal, mencebikkan bibirnya.
"Lah Abang mana tahu kalau dirimu tinggal di sini juga." Erick masih tersenyum tipis.
"Abang balik gih ke Papua." Nana masih mencebikkan bibirnya dan merajuk.
"Beneran nggak mau dekat Abang? Oke, nanti Abang balik lagi ke Papua." Erick terdengar serius dengan ucapannya.
"Eh jangan!" Nana spontan berteriak.
"Hadew! Terus abang harus bagaimana?" Kini Erick yang mencebikkan bibirnya, merasa serba salah.
"Jangan pergi." Nana bergumam lirih, menatapnya dengan sendu.
"Tapi Nana juga takut, kalau terlalu dekat seperti ini." Lanjutnya masih dengan lirih.
"Nggaklah, Abang janji nggak akan ada monster yang menyeramkan yang akan mengganggu Nana-ku yang imut." Bujuk Erick meyakinkannya.
Nana hanya menganggukkan kepalanya. Meski belum pernah bersua sebelumnya, tapi Nana tidak pernah meragukan komitmen Erick terhadap hubungan mereka. Selama dua tahun ini semua berjalan baik-baik saja tanpa ada masalah menerpa mereka.
Apakah dengan kondisi mereka sekarang ini semua masih akan baik-baik saja atau meregangkan kedekatan mereka atau justru semakin menjadi. Entahlah, hanya Nana dan Erick yang tahu jawabannya.