Bab 1

Brak!

Pintu terbuka sedikit kencang. Disusul suara langkah kaki yang seperti sengaja di hentak-hentakan, membuatku yang sedang sholat dzuhur sedikit terganggu, berkurang rasa khusyu dalam beribadah.

Setelah uluk salam, segera kutemui si pemilik langkah kaki yang ternyata anakku, Adi. Dia duduk selonjoran di sofa dengan pandangan menerawang ke atas.

"Eh, pulang sekolah kok nggak ucap salam?" Kudekati dia dengan duduk di sebelahnya namun tak ada sahutan, bujangku itu hanya diam tak merespon. Bahkan menoleh pun tidak. Sepertinya tengah kesal, tapi karena apa, akupun tak tahu.

"Adi, ditanya kok nggak jawab?" tanyaku penasaran. Pikiranku jadi menerawang, mungkinkah dia ada sedikit masalah di sekolahnya. Atau ada hal yang membuatnya kesal hingga membawa masalahnya hingga ke rumah.

Dia mencebik kesal, sambil menoleh dengan muka marah.

"Bu, ibu kenapa sih nggak cerai aja dengan ayah?" Deg, apa maksudnya? kenapa tiba-tiba dia berkata demikian. Padahal dia baru kelas tiga sekolah dasar dan belum mengerti arti perceraian. Aneh.

"Loh, Di. Maksud kamu apa, kok ngomong gitu sama ibu? Nggak boleh lho, anak kecil bilang begitu. Memang kamu tahu artinya apa," ucapku saat wajahnya terlihat masam.

"Udah, ah. Percuma ngomong sama Ibu." Adi berjingkat pergi menuju kamarnya dan membanting pintu. Blug!

Ada apa dengan anak itu.

Tok tok tok!

Belum hilang keherananku, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk. Segera kubuka dengan penasaran.

"Bu, Bu Indira, maaf nih saya ganggu. Bu Indira sudah tahu kabar suaminya belum?" Rupanya Bu Dewi tetangga dekat mertuaku yang datang. Dilihat dari deru nafasnya, seperti habis berlari dan dikejar anjing galak. Entah ada apa sebenarnya.

"Tenang dulu, Bu Dewi, sini masuk dulu." Aku mengajaknya masuk dan menyuruhnya duduk, lalu ke dapur untuk mengambil air putih dan kembali lagi ke depan.

Segelas air putih ditandaskan dalam waktu sekejap saja. Setelah kulihat agak tenang, barulah aku mengajaknya bicara.

"Bu Dewi, kenapa? Coba ceritakan apa yang terjadi," pintaku cepat. Wanita paruh baya itu terlihat menarik nafas panjang.

"Bu Indira, kok Bu Indira tenang-tenang aja dirumah sih. Memang belum tahu kabar suaminya sekarang?" tanyanya seperti keheranan.

"Tahu apa, Bu?" Giliranku kini yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi dengan suamiku.

"Lho, emang Bu Indira nggak tahu kalau sekarang suami Bu Indira lagi di rumah ibunya, bawa perempuan muda, cantik, lagi hamil juga kayaknya," tutur Bu Dewi dengan tatapan penuh ke arahku yang melotot.

"Apa!?" tanyaku tak percaya.

"Iya, Bu, benar. Bahkan Adi juga tadi habis dari rumah neneknya. Emang dia belum cerita sama Bu Indira?" Bu Dewi bicara penuh penegasan dengan kening bertaut melihatku yang heran. Aku menggeleng cepat. Pantas saja tingkahnya terlihat beda.

"Apa maksud Bi Dewi, jangan bercanda deh, nggak lucu!" ucapku tak percaya.

Iya, Bu, bener. Masa saya bohong soal beginian. Bahkan Adi juga tadi habis dari rumah neneknya. Memang dia belum bercerita sama Bu Indira?" Raut wajah heran itu semakin kentara saat melihatku.

"Sebaiknya Bu Indira datang ke sana saja kalau nggak percaya."

Entah kenapa tiba-tiba seperti ada yang menonjok dalam dada.

Sakit, sangat sakit. Apakah benar yang dikatakan Bu Dewi ini, entahlah. Namun jika benar Mas Agung membawa perempuan lain ke rumah ibunya, kenapa tak ada satu orang pun kerabat dari mertua yang memberitahuku. Dan kalau itu benar, pantas saja Adi datang ke rumah dengan wajah yang ditekuk tidak seperti biasanya. Bahkan tadi sempat bilang 'cerai' segala.

'Ah rasanya sakit dan sulit dipercaya jika Mas Agung berkhianat.

"Bu Indira, Bu, kok malah bengong. Ya udah, Saya mau pulang dulu takut anak-anak nyariin." Bu Dewi keluar dari rumah setelah mengucap salam yang hanya kujawab dalam hati.

Aku harus pergi untuk memastikan.

Ya Tuhan. Kenapa rasanya sakit sekali, meski itu belum tentu benar.

Segera kusambar pashmina instan yang tergantung di belakang pintu kamar. Aku harus memastikan kabar yang baru saja kudengar, agar jangan sampai ada kesalahpahaman juga agar aku tidak berprasangka buruk, karena belum tentu benar adanya.

Setelah pamit pada Adi yang sama sekali tak menyahut ucapanku, segera kuhidupkan motor matic putih menuju kediaman mertuaku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku yang dibangun masih di tanah mertua. Hanya berjarak lima ratus meter saja.

Sengaja ku kendarai motor dengan kecepatan rendah, agar aku bisa menata hati dan tidak bertindak anarkis jika saja hal yang menimpa mas Agung benar adanya. Aku tak boleh gegabah dengan melakukan hal yang akan membuatku malu disana nantinya. Kebiasaan emosiku dari dulu memang sulit ditaklukkan.

Aku juga terbiasa bepergian sendiri karena Mas Agung sangat jarang mengantarku. Apalagi beberapa waktu ini, Mas Agung selalu tak ada waktu untukku dan Adi.

Sampai di depan rumah mertua, tampak Yanti, adik Mas Agung tengah memainkan ponselnya di teras. Seakan tahu aku yang datang, segera dia mengangkat satu kakinya dengan menumpangkan ke kaki lainnya. Sombong memang Yanti, tak berubah sikapnya padaku meski Ayah Mertua berulang kali menasehati. Padahal aku tak pernah mengusik atau menyulitkannya.

"Assalamualaikum, Yan. Apa Mas Agung ada di dalam?" tanyaku sopan, namun diabaikan salamku. Gadis itu seakan-akan budeg, bahkan sama sekali dia tak menoleh ke arahku.

Dasar anak ini!

Tak menunggu perintah, aku memasuki rumah. Tak ada siapa-siapa di ruang tamu, hanya ketika berjalan ke arah ruang keluarga, tampak Doni, yang juga adiknya suamiku tengah asyik menonton film kartun. Film yang biasanya ditonton anak kecil itu terlihat begitu dia nikmati. Doni tertawa seakan asik sekali menontonnya.

Aku berdehem pelan.

Doni menoleh sedikit kaget, namun tak lama kemudian dia kembali mengalihkan pandanganya ke layar 63 inci di depannya. Sama seperti Yanti, dia pun seakan tak peduli padaku yang mematung di sebelahnya.

"Eh, Indira, kamu datang, Nak?" Ibu Mertua melangkah keluar dari arah dapur. Mukanya tampak kusut, matanya sedikit memerah seperti bekas menangis. Entah kenapa perasaanku semakin tidak enak.

"Dimana Mas Agung, Bu?" Tanpa basa-basi aku menanyakan keberadaan suamiku. Rasa penasaran serasa membuat darahku naik, apalagi mendapati Doni dan Yanti tadi yang memang sengaja mengacuhkanku.

Menyebalkan sekali kedua orang itu.

"Duduk dulu, Nak," pinta Ibu sambil meraih tanganku, namun segera kulepaskan dengan tangan kiriku dan kugenggam balik dua tangannya.

"Aku kemari bukan untuk duduk, Bu. Tapi mencari Mas Agung yang sudah seminggu ini tidak pulang," ucapku penuh penegasan.

Ibu menatap lirih dan seperti berat untuk menjawab. Namun perhatianku justru tertuju ke pintu kamar tamu yang tertutup rapat, dan terdengar suara wanita cekikikan dari dalam.

Bukankah di rumah ini yang perempuan muda, hanya Yanti? Itu pun sedang duduk di luar sambil memainkan ponselnya.

Lalu suara siapa di sana?

Segera kulangkahkan kaki dan meninggalkan Ibu yang mulai terisak.

"Sabar, Nak, tahan emosimu," lirihnya sambil mencoba menahan langkahku. Namun tak menyurutkan niatku untuk menuju ke sumber suara.

"Lepaskan Indira, Bu. Biarkan Indi tahu semuanya," ucapku pelan tak kuasa sakit.

"Wah, kayaknya akan ada perang dunia nih." Terdengar perkataan Doni dari belakang disusul suara tawanya yang seakan mengejek. Namun aku tak peduli. Semuanya harus segera terungkap.

Dan akan kuhadapi apapun kenyataan yang sebenarnya.

Tunggu saja kalian yang di dalam, aku akan segera mengetahuinya.

Aku Indira, tidak akan diam saja.

Bab 2

Bab 2

Tak ingin menunda waktu, segera kutarik handle pintu yang rupanya tidak terkunci. Seketika pintu terbuka lebar menampilkan dua sosok insan berlainan Jenis kelamin tengah bercumbu mesra di dalam ruangan berdiameter 4x3 meter tersebut. Mataku terbelalak kaget, begitu pun mereka berdua yang seakan kaget dengan kedatanganku, apalagi dia, orang yang kukenal selama ini. Tega kamu, Mas.

Setengah mati kutahan gemuruh dalam dada yang tiba-tiba membuat amarah naik ke ubun-ubun. Kurang a*ar, lel4ki durj*na. Bahkan di tengah hari bolong keduanya asik berduaan di dalam Kamar. Entah apa hubungan mereka ini, yang jelas tentu saja aku tidak terima begitu saja. Keduanya harus menerima luapan amarahku.

"B******n, k****g a**r kalian!" Mati-matian kutahan, amarahku meledak begitu melihat suamiku sendiri tengah bercumbu mesra dengan wanita lain.

Dengan langkah cepat, kutarik dan kucengkeram kerah baju yang menempel di badan Mas Agung yang seketika membuat wajahnya panik. Begitu pun wanita yang terengah duduk di sebelahnya.

"Indira, hentikan!"

Kutatap nyalang dua orang itu

Plak! Plak!

Wajah kanan dan kiri Mas Agung menjadi sasaran tangan yang memanas menahan nafsu amarah membuat Mas Agung meringis kesakitan dan terhuyung ke samping tempat tidur. Begitu pun wanita di sampingnya, tak luput dari amarahku. Dia menganga melihatku takut.

"Inikah balasanmu setelah semua pengabdianku padamu, Mas!"

Plak!

"Wanita k*****g a**r, berani sekali kau berbuat senonoh di kamar bersama suamiku!" umpatku kasar.

Sekali lagi kucoba untuk menampar sisi wajahnya yang lain, tapi terhenti masih mau mengayun ke pipi sebelahnya, tiba-tiba kurasakan tangan besar menahan laju tanganku. Mas Agung menahan dari belakang.

"Cukup, Indira. Hentikan!" Tatapan tajam matanya menghunus tepat di jantungku membuat dadaku nyeri. Apa-apaan dia, berani sekali dia menatapku nyalang seperti itu dan tak berusaha membelaku.

Bukankah wajar jika aku marah besar melihat kelakuan bejatnya itu. Tapi entah kenapa aku kecewa melihatnya.

"Aku tidak akan berhenti sebelum aku menghajarmu dan ja***g ini!" tunjukku pada perempuan tak tahu malu yang mulai terisak, masih terduduk di sudut tempat tidur.

Dasar wanita lemah, begitu saja sudah kalah.

Bagaimana aku yang dikhianati Mas Agung. Pastinya jauh lebih sakit.

"Aku bilang, cukup! Apa kamu tidak dengar, hah?" Untuk kedua kalinya aku mendengar suara lantang milik Mas Agung. Lelaki tak tahu diri. Demi wanita yang entah kutahu dari mana asalnya, hingga berani-beraninya dia berkata agar aku menghentikan amukanku.

Dasar tidak tahu diri. Sia*an!

Aku tertegun di tempatku. Amarah dan rasa sakit kian menghunus di kalbu, perih dan sakit yang kurasa. Selama menikah sepuluh tahun dengannya, baru kali ini mas Agung bicara dengan nada tinggi di depanku.

Mas Agung melangkah memeluk perempuan itu tepat di depan mataku. Membuat air mata yang kutahan sejak tadi, lolos begitu saja melewati pipi. Sakit, teramat sakit. Sebegitu berhargakah wanita itu hingga dia memeluknya dan membuatku merasa tidak dihargai.

Tega kamu, Mas.

Beberapa orang di belakangku masuk ke dalam kamar, yang kutahu itu suara Ibu, Ayah Mertua, dan juga yang lain. Mereka tampak tidak percaya melihat keadaan kamar yang berantakan.

"Semuanya ikut ke ruang tamu, sekarang." Ayah berkata sambil berlalu disusul ibu mertua dan yang lainnya, termasuk Mas Agung yang berjalan masih bersama perempuan itu di pelukannya. Mengabaikanku yang menahan nyeri di hati.

****

Aku melangkah gontai paling akhir. Rasanya kakiku gemetar sulit sekali untuk melangkah, ditambah rasa sakit hati dan juga tangan yang terasa kebas bekas menampar Mas Agung dan perempuan itu.

Mereka Semua langsung duduk di ruang tengah. Mas Agung tampak menenangkan perempuan itu yang masih terisak sambil memeluknya.

Ibu Mertua menatapku dengan rona sedihnya. Sedangkan Ayah Mertua duduk di sofa single seolah sedang berpikir. Sementara Yanti, Doni dan tiga orang lainnya yang kuketahui sebagai tetangga ibu, nampak berdiri seakan menunggu pembicaraan apa kedepannya.

"Duduklah, Nak." Ibu bergeser memberi tempat di sebelahnya. Kalau saja ada tempat lain, mungkin aku tidak sudi duduk di sebelah Ibu yang menghadap tepat pada Mas Agung dan perempuan itu.

"Ayo, Nak, sini" pinta Ibu masih dengan suara khasnya. Lembut. Wanita yang sudah sepuluh tahun menjadi mertuaku itu, memang sangat baik dari dulu bahkan tidak pernah berubah. Meski kadang aku yang masih belum sempurna menjadi menantunya selama ini.

Oh, Ibu. Teganya anakmu menorehkan luka dihatiku. Bahkan setelah pengabdianku selama ini, tidak dihargai.

"Agung, coba sekarang jelaskan semuanya pada istrimu." Ayah Mertua berucap tegas. Diliriknya Mas Agung yang masih pada posisinya. Berpelukan seperti Difsi dan Tinky Winky.

"Baik, Yah." Sejenak dia menghela nafas kasar, lalu menatap ke arahku.

"Maafkan aku Indira, karena telah berbohong kepadamu. Sekarang aku akan jujur, bahwa aku telah menikahi Zahra. Dia istriku sekarang. Dan dia tengah hamil. Tapi …" Ucapannya terjeda sebentar, seakan ragu untuk berkata lagi.

"Katakan semuanya, Dan jangan pernah kamu sembunyikan semuanya, Mas," sergahku muak melihat wajah tak bersalahnya.

"Tapi …" Mas Agung kembali menghentikan ucapannya. Diusapnya wajah seakan berat untuk berkata.

Jangan tanyakan hatiku yang seperti tertusuk sembilu. Sakit. Kenyataan yang tak ingin kudengar. Semuanya terlalu tiba-tiba dan aku tak siap menerima semuanya.

"Katakan dengan jelas!" bentak Ayah Mertua. Seakan beliau juga jengah melihat anaknya yang sedikit bertele-tele.

"Namun anak yang dikandung itu bukan darah dagingku," lirik Mas Agung seperti cicitan. Aku terperangah mendengar tutur katanya, bukan hanya aku sepertinya, semua yang mendengar di ruangan ini pun merasa kaget dengan apa yang diucapkan oleh anak sulung mertuaku ini. Terlebih ibu, dia begitu syok dan dapat kulihat jika bibirnya sedikit bergetar.

"Ya, ampun. Agung, dimana jalan pikiranmu, kenapa kamu menikahi wanita yang jelas-jelas hamil anak orang lain!" bentak Ayah Mertua. Beliau murka dengan menunjuk muka anaknya.

"Tapi, yah. Aku punya alasan sendiri. Aku kasihan pada Zahra. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan Zahra melahirkan tanpa sosok suami di sisinya." Mas Agung memberikan pembelaan.

"Tapi seharusnya kamu pikirkan hati istri kamu, Gung, jangan gegabah dengan menikahi wanita ini begitu saja. Dasar kamu!"

Sejenak Mas Agung melirik ke arahku. Namun melihatku yang menatapnya dengan tatapan benci, dia menunduk. Seakan ciut nyalinya.

'Kamu harus menerima balasannya dariku, Mas. Tunggu saja!'

Bab 3

Bab 3

Aku melangkah gontai paling akhir. Rasanya kakiku gemetar dan sulit sekali untuk melangkah. Ditambah rasa sakit hati dan juga tangan yang terasa kebas, bekas menampar mas Agung dan perempuan itu. Sakit.

Mereka semua sudah duduk di ruang tengah. Mas Agung tampak menenangkan perempuan itu yang masih terisak sambil memeluk Mas Agung. Dasar tidak tahu diri.

Ibu mertua menatapku dengan rona sedihnya, Ayah Mertua duduk di sofa single seolah sedang berpikir. Sementara Yanti, Doni dan tiga orang lainnya yang kuketahui sebagai tetangga Ibu, tampak berdiri seakan menunggu pembicaraan Kedepannya yang akan diputuskan.

"Duduklah, Nak." Ibu bergeser memberi tempat di sebelahnya. Kalau saja ada tempat lain, mungkin aku tidak sudi duduk di sebelah Ibu yang menghadap tepat pada Mas Agung dan perempuan sia*an itu.

"Ayo, Nak, sini," pinta Ibu masih dengan suara khasnya. Lembut. Wanita yang sudah sepuluh tahun menjadi mertuaku itu, memang sangat baik dari dulu bahkan tidak pernah berubah. Meski kadang aku yang masih belum sempurna menjadi menantunya selama ini.

"Ah, Ibu. Teganya anakmu melukai hati dan perasaanku, setelah baktiku selama ini yang sama sekali tidak dihargai.

"Agung, coba sekarang jelaskan semuanya pada istrimu!" Ayah Mertua berucap tegas. Diliriknya Mas Agung yang masih pada posisinya. Berpelukan, tepat seperti Dipsy dan Tinky Winky.

"Baik, Yah." Sejenak dia menghela nafas kasar, lalu menatap tajam ke arahku.

"Maafkan aku Indira, aku telah berbohong di belakangmu. Sekarang aku akan jujur, bahwa aku telah menikahi Zahra. Dia istriku sekarang. Dan dia tengah hamil. Tapi …," Ucapannya terjeda sebentar, seakan ragu untuk meneruskan lagi. Diusapnya wajah, seakan berat untuk bercerita.

"Tapi apa? Katakan semuanya, dan jangan pernah kamu sembunyikan semuanya dariku, Mas." sergahku muak melihat wajah tak bersalahnya. Hatiku sakit mendengar pernyataannya itu. Kenyataan yang tak ingin kudengar. Semuanya terlalu tiba-tiba dan aku tidak siap dengan semua itu tentu saja.

"Tapi …," Mas Agung kembali menghentikan ucapannya sambil menoleh pada perempuan itu dan menggenggam tangannya.

"Katakan dengan jelas! Kamu laki-laki dan harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu!" bentak Ayah Mertua. Seakan beliau juga jengah melihat anaknya yang sedikit bertele-tele.

"Tapi anak yang dikandungnya itu bukan darah dagingku," lirih Mas Agung.

Aku terperangah mendengar tutur katanya, bukan hanya aku sepertinya, semua yang mendengar di ruangan ini pun merasa kaget dengan apa yang diucapkan oleh anak sulung mertuaku ini. Terlebih Ibu, beliau begitu syok, dapat kulihat jika bibirnya sedikit bergetar.

"Ya, ampun. Agung, dimana jalan pikiranmu, kenapa kamu menikahi wanita yang jelas-jelas hamil anak orang lain!" bentak Ayah Mertua. Beliau murka dengan menunjuk muka Mas Agung.

Aku tak tahu pasti, sepertinya beliau pun baru tahu jika Mas Agung membawa perempuan itu ke rumahnya. Sama sepertiku.

"Tapi, Yah. Aku punya alasan sendiri. Aku kasihan pada Zahra. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan Zahra melahirkan tanpa sosok suami di sisinya." Mas Agung memberikan pembelaan membuat Ayah Mertua kalap.

"Tapi seharusnya kamu pikirkan hati istri kamu, Gung. Jangan gegabah, dengan menikahi wanita ini begitu saja. Dasar kamu!"

Sejenak Mas Agung melirik ke arahku. Namun melihatku yang menatapnya dengan tatapan benci, dia menunduk. Seakan ciut nyalinya.

'Kamu harus menerima balasannya dariku, Mas. Tunggu saja!'

🍎🍎🍎🍎🍎

Mau tahu rasanya, saat orang yang sudah sepuluh tahun membersamai kita, tiba-tiba dia berbuat curang di belakang. Sangat sakit. Meski dia berdalih karena kasihan, tapi kenyataannya tetap saja membuat hatiku sangat sakit. Bagai tertusuk besi panas, tepat di jantung. Seperti itulah sakitnya.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Pernikahan kalian tidak sah. Bagaimanapun juga, wanita yang hamil apalagi tanpa suami tidak boleh dinikahi!" bentak Ayah dengan menatap tajam ke arah mas Agung.

"Aku tidak perduli, aku akan tetap mempertahankan Zahra, baik itu sah atau tidak!" Mas Agung berdiri, lalu meraih tangan Zahra dan berlalu begitu saja menuju ke arah kamar. Disusul suara pintu yang terbanting. Membuatku semakin merasa sakit. Bahkan lelaki itu tidak menghargai orang tuanya sendiri.

"Nak, sabar ya." Ibu berusaha menenangkanku yang mulai tersedu tak kuasa menahan rasa sakit atas penghianatan dan kelakuan Mas Agung.

Sementara Ayah ikut berdiri dan berkacak pinggang.

"Dasar anak tidak tahu diri!" Setelah berkata demikian, lalu pergi entah kemana, aku tidak tahu.

"Mungkin si Agung lagi khilaf, kamu yang sabar ya, Indira." Bi Wina tetangga Ibu ikut menenangkanku. Sementara dua orang lainnya hanya diam, begitu pun dengan Yanti Dan Doni yang memang tidak suka denganku, hanya tersenyum sinis. Seakan puas melihat kesakitanku.

"Maaf, Bu, apa nggak sebaiknya Bu Indira pulang saja dulu, biar hatinya tenang." Bu Wina memberi saran, dan kupikir itu lebih baik bagiku sekarang. Aku harus bisa berpikir dengan langkah selanjutnya. Tak mungkin aku hanya diam disini dan melihat tingkah laku Mas Agung dan perempuan itu. Bisa-bisa aku mati menahan rasa sakit.

*****

Sudah dua hari sejak kejadian itu, sama sekali aku tak mendengar lagi kabar mereka. Hatiku juga sudah lebih tenang dan lebih siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bagaimanapun juga aku tak akan memaafkan dan melupakan semua yang telah Mas Agung lakukan padaku.

Aku tengah fokus membuat adonan kue, hingga tak kusadari ada seseorang yang tengah berdiri di dekat pintu dan tengah memperhatikanku saat ini.

Dia, orang yang dua hari ini membuatku sangat muak dan benci.

Siapa lagi kalau bukan lelaki itu, Mas Agung.

"Indi, apa kabar kamu?" Huh, untuk apa dia berbasa-basi hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dia tahu bahwa aku tidak mungkin baik-baik saja.

"Untuk apa kamu kemari, Mas?" Aku melengos menatap kembali adonan kue yang tengah kuuleni.

"Apa salah jika aku pulang ke rumahku sendiri, hm?" Mas Agung perlahan mendekat. Dan duduk di kursi makan tidak jauh dari tempat dudukku.

"Kupikir kamu sudah lupa jalan pulang, Mas," balasku acuh.

"Aku ingin bicara denganmu, Indi. Jadi, tolong jangan acuhkan aku." Aku menghentikan kegiatanku dan beralih menatapnya tajam.

"Bukankah kamu memang sedang bicara, lantas kenapa kamu berpikir aku mengacuhkanmu?" tatapku tajam pada manik matanya.

"Sejak kapan kamu berani berkata 'kamu' padaku, Indi? Bukankah biasanya hanya kata 'Mas' yang selalu terlontar dari bibirmu, hm?" Mas Agung menatapku marah. Namun aku tidak peduli. Sejak dari rumah Ibu, segalanya telah berubah.

"Sejak kamu bawa perempuan ja***g itu ke rumah Ibumu."

"Diam kamu, Indi. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!" bentak Mas Agung dengan telunjuk yang mengarah tepat ke mukaku. Kenapa dia marah aku berkata yang sebenarnya. Heran.

"Oh, ya. Ternyata kamu banyak tahu tentang dia. Mungkin saja kamu juga tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung perempuan itu." Aku tersenyum sinis. Biarlah kamu murka padaku Mas, aku sudah tidak peduli lagi sekarang.

"Ka-kamu!" Tangannya berayun ke atas, seperti ingin menamparku. Namun dengan cepat aku bicara.

"Kenapa kamu berhenti, hm? Tampar, Mas. Ayo tampar aku," tantangku tanpa rasa takut. Namun dia menghempaskan tangannya kembali. Lelaki picik.

"Ahhh!!" Dia berlalu begitu saja. Meninggalkan luka yang kembali menganga. Sakit.

Sore Hatinya.

Pintu depan terdengar ada yang mengetuk. Aku yang masih terduduk di dapur, segera beranjak dan membukanya.

"Ibu." Ibu Mertua mendekat dan memelukku. Beliau tak datang sendiri. Di belakangnya sudah Ada Ayah Mertua, Doni, Pak RT dan tentu saja Mas Agung dan perempuan yang beberapa hari ini selalu menjadi duri untukku. Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Yang mengaku tengah hamil tapi bukan anak Mas Agung. Meski aku tidak percaya.

"Bisa kita bicara di dalam, Indira?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED