Sampul Novel Pernikahan Si Mungil

Pernikahan Si Mungil

7.9 / 10.0
Hiram, seorang CEO tampan yang dingin, bertekad menceraikan Rachel dalam waktu sebulan saja. Mereka terikat perjodohan kuno dari kakek mereka, padahal Hiram menganggap Rachel sebagai wanita kasar. Selain itu, Hiram memiliki masalah gairah dengan lawan jenis, sementara Rachel dicap pembawa sial bagi pria. Meski awalnya saling menolak karena perbedaan sifat, takdir justru menyatukan kedua insan unik ini dalam ikatan pernikahan tak terduga.

Pernikahan Si Mungil Bab 1

Rachel Rustadi menopang dagunya sambil memerhatikan Fannie Rustadi mengemasi setumpuk barang di meja. Rachel hanya bisa menghela napas tanpa bisa melakukan apa-apa.

Fannie bertanya, "Kenapa kamu menghela napas? Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu."

Dengan hati-hati, Fannie memasukkan dupa, lilin dan kertas bakar* yang telah dipersiapkannya ke dalam tas, kemudian tak lupa dia menoleh untuk menatap putrinya sebentar.

(*Ket: Kertas bakar adalah lembaran kertas yang biasanya dibakar sebagai persembahan dalam upacara keagamaan tradisional etnis Tionghoa. Contohnya: upacara pemujaan dewa atau penghormatan pada leluhur saat Festival Cheng beng. Kertas ini melambangkan mata uang di dunia akhirat.)

Melihat mamanya sudah hampir selesai membereskan barang-barang, dia baru menundukkan kepala, dengan berat hati dia memasukkan ponsel dan charger ke dalam tas cokelat kesayangannya. Perjalanan kembali ke kampung halaman kali ini, setidaknya mereka akan menginap selama dua hari. Walaupun sebenarnya Rachel tidak terlalu berniat untuk ikut mamanya pulang ke kampung halaman mereka, tapi Rachel tetap mengambil tas dari tangan mamanya sembari merangkul lengan wanita paruh baya itu.

Tak lama kemudian, kedua ibu dan anak itu pun menumpang bus pariwisata menuju ke kampung halaman mereka. Hujan yang turun kemarin malam membuat jalan desa itu terlihat basah dan licin.

Di dalam bus, Rachel memilih tempat duduk di sebelah jendela. Dia menatap pemandangan di luar jendela bus dengan tatapan melankolis, sedangkan mamanya terus mengoceh.

Fannie berkata, "Rachel, maafkan mama, nak! Mama juga tidak ada cara lain. Kamu sendiri juga tahu, baik itu perjodohan maupun kisah asmaramu di kampus, tidak ada satu pun yang berjalan lancar dan berakhir dengan normal. Kamu membuat mama kehilangan muka di depan tetangga dan keluarga kita di kampung halaman!"

Kelihatannya Fannie tidak berniat untuk berhenti berbicara. Setiap kali Fannie mengungkit kisah cinta putri semata wayangnya ini, dia selalu menghela napas panjang. Selalu ada orang yang bergosip di belakangnya, "Lihat, dia adalah ibu si pembawa sial itu!"

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Rachel telah menghadiri puluhan acara perjodohan.

Di antara para kandidat, ada beberapa pria yang terlihat tidak bermasalah, tapi setiap kali Rachel mencoba menjalin hubungan dengan pria-pria tersebut, mereka tiba-tiba mengalami hal buruk. Yang mengalami kecelakaan lalu lintas saja sudah ada dua orang, ada dua orang yang pupus di tengah jalan, dan dua orang lainnya terdiagnosa menderita penyakit mematikan saat pemeriksaan kesehatan menjelang pernikahan.

Walaupun di dunia ini ada banyak hal yang kebetulan terjadi, tapi persentase kejadian serupa tampaknya terlalu sering terjadi pada Rachel. Ini juga agak terlalu berlebihan, 'kan?

Sampai sekarang, sama sekali tidak ada pria yang berani mendekati Rachel, mereka takut malapetaka yang sama akan menimpa diri mereka!

Rachel berkata, "Ma, bisakah kamu berhenti mengatakannya lagi? Zaman sekarang, sudah berapa kali ikut acara perjodohan pun bukan masalah serius. Itu hal yang sangat sering terjadi. Apalagi, di dunia ini, setiap saat juga mungkin terjadi kecelakaan, juga ada orang yang bisa tiba-tiba sakit. Bagaimana itu bisa hanya menyalahkan aku sih?"

Namun, kejadian yang begitu kebetulan seperti ini di mata Rachel, bukan karena nasibnya yang kurang beruntung, melainkan berat jodoh, tapi bagaimanapun juga dia pasti bisa menemukan seseorang yang tepat nantinya.

Fannie hanya bisa mengelus dada setelah mendengarkan perkataan putrinya, dia merenggut tas dari tangan Rachel dan berkata, "Kamu ini memang keras kepala, jika kamu tidak cepat-cepat membuang sial, mungkin saja mama juga akan celaka, ketimpa nasib buruk!"

Setelah melewati tikungan, mereka bergegas menuju ke rumah mereka yang di kampung. Rachel mengangkat bahu, kemudian berjalan menyusul di belakang mamanya.

Saat di tikungan, dia mendengar suara mobil yang mengarah ke mereka. Tanpa berpikir panjang, Rachel menoleh dan melihat, sekilas sebuah mobil mewah Maybach berwarna hitam sedang melaju menuju ke arah rumah tua yang berada di barisan belakang.

Dia bergumam sambil melirik kakinya sendiri, 'Dasar orang kaya!, mengemudi mobil mewah ini ke tempat seperti ini, apakah dia tidak takut mobilnya itu terjebak di lumpur, tidak bisa keluar? Apa dia tidak takut mobilnya itu menjadi kotor!'

Sejak tadi sepatunya penuh dengan lumpur, kemudian dengan langkah santai dia berbalik badan dan berjalan menuju ke rumah mereka.

Desa Suka Maju adalah desa kuno yang memiliki sejarah lebih dari tiga ratus tahun lalu. Ada banyak bangunan tua peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh, terutama sebuah kuil tua.

Kuil tua itu adalah rumah ibadah etnis Tionghoa yang masih terpelihara dengan sangat baik sehingga banyak peziarah dari luar kota yang datang sembayang dan berdoa. Dupa yang ada di atas altar kuil, selalu dijaga agar tetap menyala setiap hari.

"Tuan Muda Hiram, mohon Anda dapat bergerak lebih cepat, Nyonya Besar sudah lama menunggu di luar. Beliau berpesan, waktu terbaik untuk mempersembahkan dupa adalah pukul 09.00 pagi." kata kepala pengurus rumah.

Di depan sebuah cermin tua berukuran setinggi badan, seorang pria merapikan kemejanya. Dengan kesal dia mengerutkan kening, menoleh ke belakang menatap kepala pengurus rumah dengan dingin.

Bola matanya yang gelap menyerupai langit malam penuh bintang dan aura penuh wibawa membuat orang di sekitarnya merasakan tekanan bagaikan tembok yang tak terlihat. Tatapan mematikan ini membuat kepala pengurus rumah langsung terdiam, tidak berani menguber-uber lagi.

"Aku tidak suka corak dasi ini. Berikan yang lain." Pria itu berkata dengan dingin, lalu melempar dasi yang ada di tangannya.

Sang kepala pengurus rumah bereaksi cepat, dengan secepat kilat dia mengulurkan tangan, membungkuk badannya untuk mengambil dasi itu. Kemudian sang pengurus rumah itu kembali dengan dasi lain untuk dipilih tuan muda Hiram.

"Model sabuk pinggang ini tidak cocok dengan pakaianku. Berikan aku sabuk pinggang yang lain." sambil berkata, Hiram menarik sabuk pinggang berwarna hitam dari pinggang dan melemparnya ke belakang.

Sang pengurus rumah bergegas mengulurkan tangannya untuk meraih sabuk pinggang itu. Kemudian dia kembali dengan sabuk pinggang yang lain untuk dipilih tuan muda Hiram.

Sang Tuan Muda ini, Hiram Setiawan, memiliki sebuah kebiasaan, bisa dibilang itu adalah hobinya. Dia suka melempar barang.

Semua yang tidak dia sukai, yang tidak nyaman di matanya, dia akan membuang semuanya tanpa berpikir dua kali. Semua sekretaris dan asistennya memiliki badan yang kuat dan gesit karena kebiasaan uniknya ini. Dengan kemampuan yang mereka miliki, bahkan jika ada lalat yang melintas di depan mata mereka sekali pun, mereka sanggup menangkapnya dengan tangan kosong!

Di balik pintu, terlihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan, raut mukanya menunjukkan rasa ketidaksabaran. Wanita ini adalah ibunya Hiram. Dia mengetuk pintu dengan tidak sabar dan mendesak putranya untuk segera keluar dari ruangan.

"Hiram, upacara penghormatan leluhur ini berkaitan dengan keberuntungan Keluarga Setiawan sepanjang tahun. Tolong kamu serius sedikit! Waktunya hampir tiba, cepatlah keluar."

Melihat bayangan dirinya di cermin perunggu, Hiram Setiawan mengangguk dengan puas. Hiram mengambil ponselnya dari meja antik yang dibuat dari kayu jati dan berjalan menuju ke arah pintu.

Sang pengurus rumah menghela napas lega dan bergegas membukakan pintu untuk Hiram. Joanna Firmanda, ibu Hiram, dengan tidak sabar menunggu putranya di luar.

Di sisi lain, Fannie dan Rachel melangkah keluar dari rumah mereka. Kebetulan rumah keluarga Rustadi terletak di depan rumah Keluarga Setiawan yang mewah. Ibu dan anak itu berjalan berdampingan menuju arah kuil tua.

Sepanjang perjalanan, Fannie memberitahu putrinya mengenai tata cara melakukan ritual dan peraturan di dalam kuil tua dekat rumah mereka. Fannie merasa sangat khawatir dengan Rachel, dia cemas Rachel mungkin akan melakukan kesalahan dan menyinggung para leluhur yang ada di kuil, sehingga dia tetap melajang sepanjang hidupnya.

Rachel merasa kesal dan membuang pandangannya, dia merasakan kesabarannya mulai menipis. Setiap kali mereka mendatangi kuil untuk berdoa, ibunya selalu mengocehi dirinya terus menerus di sepanjang perjalanan dengan hal yang sama.

"Fannie-ku tersayang, apakah tidak salah? Aku ini putrimu, bukan nenek yang sudah tua dan pikun. Aku sudah menghafal semua yang mama katakan!"

Fannie sudah terbiasa dengan kelakuan putrinya yang agak kurang ajar itu. Dia memandang putrinya sambil tersenyum, kemudian membantu Rachel merapikan pakaiannya sambil berkata, "Mama hanya mengingatkan saja, siapa tahu kamu sudah lupa."

Mereka berdua berjalan memasuki kuil tua dan langsung menuju ke aula yang terletak di bagian belakang kuil. Warga desa Suka Maju yang berkunjung ke kuil itu memiliki aturan khusus yang sedikit berbeda dengan daerah lain.

"Bawa lilin dan kertas bakar ini bersamamu, Sayang. Dengar kata Mama, setelah kamu memasuki ruangan, matamu jangan sembarangan melirik ke sekeliling. Ingat semua hal yang telah Mama beri tahukan padamu." Fannie menasihati Rachel sembari menyerahkan beberapa barang.

Ini adalah tradisi warga Desa Suka Maju. Orang-orang harus membawa persembahan dan lilin ke kuil itu dan berdoa dengan tulus, agar keinginan mereka dapat terwujud.

"Rachel mengerti, Ma! Jangan khawatir!" Setelah menerima barang-barang dari ibunya, Rachel bergegas berjalan menuju pintu Ruang Berdoa Buddhis. Begitu sampai di dalam ruangan itu, Rachel akhirnya bisa merasa sedikit lebih tenang, tanpa harus mendengar ceramah dari ibunya.

Di ruangan lain, di kuil yang sama ....

Keluarga Setiawan merupakan keluarga pertama yang berhasil menjadi keluarga kaya raya di Desa Suka Maju. Mereka juga banyak menyumbang uang dan materi untuk merenovasi dan meremajakan kuil tua itu. Hal ini membuat Keluarga Setiawan menikmati banyak perlakuan khusus di Desa Suka Maju.

Papan nama para leluhur Keluarga Setiawan ditempatkan dengan terhormat di aula yang terletak di sebelah Ruang Doa Buddhis. Papan-papan nama para leluhur tersebut mendapat limpahan berkah dari doa pada sang Buddha.

"Hiram, sekarang kamu adalah kepala Keluarga Setiawan. Kamu harus memimpin upacara secara langsung." kata Joanna Firmanda dengan lembut. Mata sang Ibu menatap putranya yang berprestasi besar itu dengan bangga.

Sejak kecil, hal yang paling tidak suka dilakukan Hiram adalah sembahyang di kuil.

Dia hanya memercayai kemampuan dirinya sendiri.

Meskipun tidak suka, Hiram tetap mengikuti nasihat ibunya. Pendidikan tata krama yang diterima Hiram sejak kecil tidak memungkinkan dia untuk menunjukkan rasa tidak puasnya di depan sang ibunda. Hiram mengambil keranjang dari ibunya, membalikkan badan dan berjalan menuju ke aula leluhur.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pernikahan Si Mungil

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Usai bercerai, sebuah ketidaksengajaan membuatnya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka melewati malam bersama. Tak disangka, pria itu adalah CEO baru di tempatnya bekerja. Sempat curiga telah dijebak, Ratih justru mulai jatuh cinta seiring kebersamaan mereka. Kini ia bimbang karena status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia menerima cinta baru ini atau kembali pada mantan suaminya?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima tega menguji ketulusanku lewat obsesi kejam mereka pada Sandra. Puncaknya, demi menyelamatkan perempuan itu dalam sebuah kecelakaan, mereka membiarkan tanganku hancur hingga karier musikku hancur total. Reaksi diamku saat liontin peninggalan ibu dihancurkan Sandra membuat mereka heran. Namun di rumah sakit ini, cintaku telah mati. Aku sadar ini hanyalah sangkar penyiksaan. Kini, aku bersiap untuk pergi dan membalas semua kepedihan ini.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal sudah menegaskan enggan memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras untuk menggugurkan kandungannya. Demi melindungi sang buah hati, ia pun terpaksa menyusun rencana rahasia untuk melarikan diri dan menyembunyikan kehamilan ini dari suaminya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED